[Oneshot] Fever!

Fever!
Fujiwara Kumiko
Hey! Say! JUMP Inoo Kei
Song: Something Right – Westlife
By: Shield Via Yoichi

saya kembali dengan karya saya yang amburegul asemsuyu(?) untuk Erica yang katanya sih seme-nya Inoo :v

Kumiko berjalan memasuki ruang kerja suaminya. Di sana dia melihat seorang pria sedang sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, Kumiko menghampirinya.

“Kei, sudah malam. Ayo tidur.” seru sambil memijit pundak pria yang dipanggil Kei itu.

“Kumi-chan duluan saja, perkerjaanku belum selesai.” sahut pria itu tanpa melihat istrinya yang sudah memasang wajah sedih. Kumiko menghela napas panjang.

“Tapi jangan tidur terlalu malam ya, Kei. Nanti kamu sakit.”

“Hm..” jawabnya sambil mengangguk. Kumiko pun beranjak meninggalkan Inoo dengan kertas-kertasnya yang Kumiko sendiri bingung itu kertas apa saja.

Kumiko duduk di pinggir tempat tidurnya sambil melihat ke arah sisi tempat tidur yang biasanya Inoo tidur di sana. Lagi-lagi dia menghela napas. Sudah satu bulan dia tidak tidur dengan Inoo. Pria itu tidak pernah tergeletak di sampingnya, selalu tertidur di meja kerjanya. Sebenarnya Kumiko tidak mau mengambil pusing masalah ini namun bukan hanya tidak tidur bersama, mereka pun tidak makan di satu meja yang sama. Kumiko selalu mengantar makanan dan minuman ke meja kerja Inoo karena pria itu sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Kumiko lelah, dia juga butuh kehangatan dari Inoo seperti dulu.

Mata Kumiko melirik jam dinding, sudah hampir jam duabelas tetapi tak ada tanda Inoo sudah selesai dengan pekerjaannya. Kumiko menyerah untuk menunggu, entah mengapa dia merasa tubuhnya aneh. Merasa dingin di musim panas seperti ini. Dia bergerak mengambil remote AC dan mengecilnya suhu AC agak terasa sedikit hangat baginya lalu menarik selimut dan tidur.


Inoo merenggangkan tubuhnya, dia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya itu. Dia tersenyum puas, akhirnya dia bisa tidur di tempat tidurnya yang empuk, bukan lagi di meja yang keras itu.

Inoo melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Tidak heran kalau dia sedari tadi mati-matian menahan kantuk karena Kumiko tidak membuatkan secangkir kopi untuknya, sepertinya wanita itu lupa. Inoo pun membereskan mejanya dengan tidak sabaran, ingin secepat mungkin melepas kangen pada tempat tidurnya dan juga istrinya.

Inoo berjalan menuju kamarnya dengan Kumiko, membuka pintunya dan terdiam sesaat setelah memasuki kamarnya, “Kenapa panas begini?” katanya heran. Dia mencari remote pendingin ruangan dan meningkatkan suhu dinginnya setelah menemukan remote-nya.

Dia melirik Kumiko yang sudah terlelap dengan penuh keringat. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya dan menyeka keringat Kumiko. Dia sedikit terkejut saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Kumiko yang panas. Tapi dia pikir karena memang hari itu udara sangat panas. Dia mencium kening istrinya, menggenggam tangannya dan tertidur di sampingnya.


Pagi menjelang, Kumiko mencoba membuka matanya. Namun rasa pusing membuatnya sulit untuk melakukan itu. Setelah merasa sedikit baikan, dia melihat ke arah samping kemudian dia tersenyum saat matanya mendapati sesosok yang dia rindukan sedang tertidur dengan nyenyak. Guratan wajahnya menunjukkan dia sedang sangat lelah. Kumiko mengelus rambut Inoo sayang. Inoo yang merasa terganggu membuka matanya perlahan.

“Eh? Maaf membuatmu terganggu.” kata Kumiko merasa bersalah telah mengganggu tidur Inoo.

Inoo menatapnya dalam diam lalu memegang tangan Kumiko, “Telapak tanganmu panas sekali, itu yang membuatku bangun. Kamu tidak apa-apa kan?”

“U-un, aku tidak apa-apa kok.” Kumiko bangkit dari tidurnya, matanya menyipit menahan pusing. Seketika dia mengubah ekspresi dengan senyum, “Kei tidur saja lagi, aku akan menyiapkan makanan dan air panas. Nanti aku bangunkan kalau semuanya sudah siap.”

Inoo masih setia menatap istrinya yang terlihat pucat itu. Kumiko berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Namun sebelum sampai tangannya meraih kenop pintu dia terjatuh, tak sanggup lagi menahan rasa pusing yang dideranya.

“KUMI-CHAN!” teriak Inoo yang kemudian menghampiri istrinya yang masih mencoba membuka matanya sambil menahan sakit. Tanpa menunggu jawaban, Inoo langsung menggendongnya ke mobil dan langsung tancap gas ke rumah sakit–setelah berganti pakaian dan membawa dompetnya yang tertinggal di meja kerjanya.


“Sudah, Kei. Aku bisa jalan sendiri.” kata Kumiko yang dibopong Inoo untuk masuk ke kamar. Inoo tidak mendengarnya, dia terus saja membopong istrinya sampai Kumiko duduk di pinggir tempat tidur, “Aku cuma demam kok. Tidak parah.”

“Apanya yang tidak parah? Demammu tinggi sekali.”

“Nanti bakal sembuh kok.” Kumiko tersenyum. Dia merasa sedikit senang karena suaminya khawatir.

“Dokter bilang kamu kekurangan asupan gizi, tekanan darahmu juga rendah. Apa kamu jarang makan?” Inoo duduk di samping Kumiko lalu merapikan anak rambut wanita itu.

“Ahahaha… maaf, Kei. Semenjak kita tidak makan bersama, aku jadi malas untuk makan.” katanya jujur.

Inoo menatap wajah Kumiko sendu. Dia merasa bersalah telah menelantarkan istrinya hanya karena pekerjaan, “Sekarang istirahat, aku akan menjagamu.”

“Eh? Pekerjaanmu? Kantor bagaimana?”

Inoo tersenyum lembut sambil mengelus rambut Kumiko, “Jangan khawatir. Tugasku sudah selesai, nanti siang aku akan bertemu klien sebentar. Jadi tidak usah pikirkan aku.”

Kumiko memandang Inoo kemudian mengangguk, dia merebahkan diri dan menarik selimut. Inoo dengan gerak cepat membawa baskom kecil berisi air dan handuk kecil untuk mengkompres Kumiko. Dia merawat istrinya dengan sayang.


Semenjak saat itu, Inoo sangat memperhatikan istrinya. Dia pun berusaha untuk memasak dan menyuruh Kumiko untuk istirahat agar penyakitnya cepat sembuh. Kumiko yang selalu disuruh Inoo untuk duduk di meja makan hanya bisa tertawa kecil melihat suaminya susah payah memotong sayur atau mendumel saat sedang menggoreng.

“Ini, makanannya sudah jadi.” kaya Inoo meletakkan masakannya yang sudah ada di tempatnya ke atas meja. Kumiko meliriknya lemas.

“Sayur lagi?”

“Iya, kamu harus banyak makan sayur biar cepat sembuh.” Inoo mengacak rambut Kumiko, “Sampai kamu sembuh saja kok. Dimakan ya?”

“Aku pasti makan masakan Kei.” jawab Kumiko manja membuat Inoo semakin gemas.

“Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu ya.” Inoo mencium kening Kumiko, “Ittekimasu.”

Itterasshai!”


Seminggu berlalu, Kumiko sudah sehat sekarang. Namun, tampaknya Inoo sangat asyik dengan kegiatan barunya–memasak membuatnya selalu ingin memasak untuk istrinya.

“Kei mau kemana?” tanya Kumiko yang baru bangun saat melihat Inoo sudah beranjak dari tempat tidur.

“Membuat sarapan dan menyiapkan air hangat.”

“Itu kan tugasku, Kei tidur saja lagi.” kata Kumiko yang bangkit dari tempat tidur, mendekati Inoo dan mendorongnya ke tempat tidur.

“Tapi kan–”

“Aku sudah sembuh, Kei~”


Tadaima.”

Okaeri!” sambut Kumiko. Dia mendekati Inoo, mengambil tas kerjanya dan membuka jasnya, “Pasti lelah ya..”

“Lelahku sudah hilang saat melihatmu.” kata Inoo tersenyum.

Kumiko tertawa, “Dasar gombal! Ah, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Mandi dulu ya, baru kita makan bersama.”

“Baik!” Inoo mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar mandi.

Sementara Kumiko menuju dapur, menyiapkan makanan ke atas meja makan lalu menunggu Inoo selesai mandi.

Inoo keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit basah. Kumiko yang melihatnya hanya bisa mencoba bernapas normal karena jantungnya berdegup sangat kencang. Kenapa deg-degan begini?, tanyanya dalam hati.

Inoo duduk di depannya, “Kumi-chan kenapa?” Dia melihat Kumiko yang terus saja menggeleng sambil memegang dadanya.

“A-ah, tidak..” Kumiko menatap Inoo. Dia menelan ludah, “I-ini, ayo dimakan.”

Hai~ Itadakimasu!” teriak Inoo semangat sambil memegang sumpit. Dia menyuapkan makanan itu ke mulutnya dan mengunyahnya, “Ah, enak~”

Kumiko tersenyum. Dia terus melihat Inoo yang lahap memakan makanannya, “Ne, Kei..”

“Hm?” tanyanya dengan mulut penuh makanan.

“Aku bersyukur pernah demam tinggi. Hehe..”

“Kamu bicara apa? Itu membuatku sangat khawatir.”

“Ya, karena itu. Aku senang Kei khawatir padaku.” Inoo melihatnya, tangan menjulur ke depan dan mencubit hidung Kumiko, “Aduh, sakit!”

Kumiko mengelus hidungnya, Inoo tertawa pelan. Lalu mengarahkan tangannya ke kepala Kumiko, “Maaf aku sudah menelantarkanmu. Maaf sudah jadi suami yang tidak berguna.”

“Kei, sudahlah. Itu sudah berlalu. Sekarang aku senang bisa makan bersamamu lagi.” Kumiko menarik tangan Inoo yang diatas kepalanya dan menggenggamnya, “Kei tahu tidak? Dari tadi jantungku berdegup kencang.”

“Kenapa? Kamu sakit lagi?” panik Inoo.

Kumiko tertawa keras, “Ini semua karena Kei! Rasanya sama seperti pertama kali tinggal bersama Kei. Haha..”

Inoo ikut tertawa, “Aku merindukan suara tawamu.”

“Jangan gombal lagi deh.”

“Aku sedang tidak gombal. Ini benar-benar dari lubuk hatiku. Aku… merindukanmu.” Inoo mendekati wajahnya ke wajah Kumiko dan mencium bibirnya sekilas. Kumiko mengalungkan tangannya dan menarik Inoo untuk menciumnya lagi.

“Lain kali, kalau Kei punya tugas lagi aku mau demam tinggi lagi ah!” kata Kumiko setelah melepas ciumannya.

Inoo menyipitkan matanya tidak suka, “Tidak akan aku biarkan itu terjadi!” Dia menggelitik Kumiko.

“Ahahaha… Kei.. sudah, sudah.. ampun.” Kumiko menjauhkan tangan Inoo, “Ayo lanjut makan lagi~”

“Tapi kamu yang belum makan kan?”

“Kei makan lagi yang banyak! Biar aku tidak makan sendiri lagi.” Inoo tertawa, begitu juga Kumiko.

Inoo mencium pipi Kumiko, “Dasar.”

the end~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s