[Oneshot] Early Birthday Gift

Early Birthday Gift

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

Sato Miharu

By: Shield Via Yoichi

Song: You – Matsushita Yuya

Fanfic ini dipersembahkan untuk Inoo Kei yang sedang berulang tahun. Happy b’day my beloved idol, Inoo Kei~ dan fanfic ini dibuat saat saya sedang stress menghadapi UAS. :’) happy reading~

 

Miharu menulis dengan setengah mengantuk. Sesekali tangannya menutup mulutnya hendak menguap. Dia benar-benar tidak tertarik dengan mata kuliah ini. Beberapa menit kemudian seseorang masuk ke kelasnya, Miharu meliriknya. Tiba-tiba mata kembali segar melihat sosok yang sedang meminta maaf pada dosen karena dia terlambat.

“Ya sudah. Duduklah, Inoo-kun.”

“Terima kasih, sensei!” Inoo menunduk dalam. Dia tegak kembali dan tersenyum senang lalu mencari tempat untuk duduk. Miharu yang tidak fokus lagi dengan kegiatan menulisnya melihat Inoo dan menggeleng, seulas senyum tergambar dari bibirnya.

Siapa yang tidak kenal dengan pemuda tadi. Inoo Kei, salah satu anggota grup idola bernama Hey! Say! JUMP yang saat ini sedang naik daun. Walau grupnya saat ini sedang sibuk-sibuknya, Inoo akan selalu datang kuliah kecuali jadwal kerjanya memang mengharuskannya untuk cuti kuliah beberapa hari.

Miharu masih melihat pemuda itu. Siapa sangka dia bisa satu kelas dengannya, Miharu tidak pernah membayangkannya sampai sejauh ini. Dia berkuliah satu universitas dengan Inoo saja sudah membuatnya senang. Miharu menopang dagunya, tangannya memainkan pena. Matanya tak lepas dari sosok Inoo.

“Sato Miharu-san.” Dosen memanggilnya, namun Miharu masih dalam pikiran-pikiran tak jelasnya.

“Sato Miharu-san!” Miharu masih senantiasa dengan kegiatannya.

Teman Miharu menyenggol gadis itu, “Miharu-chan, kau dipanggil sensei.” bisiknya.

Mata Miharu melihatnya temannya kaget lalu melihat ke arah dosen, “Iya, sensei! Ada apa?”

“Sato-san, kenapa?” tanya dosen itu agak terkejut karena Miharu sedikit berteriak, “Saya sedang mengabsen.” Seisi kelas menertawakan Miharu. Miharu melihat sekelilingnya sambil menahan malu. Dia melihat Inoo yang juga ikut tertawa kecil. Miharu langsung melihat temannya yang juga tertawa.

Kumiko-chan!!, teriaknya dalam hati setelah menyembunyikan wajahnya di tumpukan tangannya.


“Kau jahat, Kumiko-chan!” Miharu mengendus napasnya kesal. Tak menyangka temannya akan mempermalukannya seperti itu.

Kumiko tertawa saat mengingat kejadian tadi, “Maaf, habis kau melihat Inoo-kun terus sih. Aku jadi jahil.”

“Huh. Aku pasti membalasnya! Memalukan sekali, Inoo-kun juga tertawa.” kata Miharu lemas sambil menutup wajahnya.

“Haha, maaf deh. Maaf.” Kumiko masih tertawa, “Kurasa aku juga akan menjadi fans Inoo-kun.”

“Hah? Hahahaha…” Sekarang Miharu yang tertawa dengan nada mengejek, “Dulu siapa yang tertawa ketika aku bilang aku fans-nya?”

“Tidak usah diungkit!” Kumiko memanyunkan bibirnya lalu ikut tertawa dengan Miharu.

Miharu menatap arlojinya, “Ah, aku ada kelas lagi. Sampai jumpa, Kumiko-chan!” Miharu berlari kecil dan melambaikan tangannya, Kumiko membalas lambaian tangan itu sambil terus melihat Miharu yang semakin jauh dan hilang dari pandangannya.


Inoo merenggangkan badannya, rasa lelah menghampirinya setelah seharian mengerjakan tugas. Entah angin apa yang membuatnya teringat dengan Miharu, teman sekelasnya yang aneh itu. Gadis itu selalu bertingkah aneh setiap di kelas, Inoo bertanya-tanya apakah di kelas lain dia juga seperti itu? Mengingat gadis konyol itu membuat pikirannya sedikit rileks.

Inoo pun teringat saat pernah kali bertemu dengan gadis itu tanpa sengaja. Ya, Inoo dengan tak sengaja menabrak Miharu hingga barang bawaan gadis itu jatuh berantakan. Satu hal yang membuat Inoo teringat adalah saat Miharu dengan cepat membereskan buku-bukunya sambil menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sudah dilihat oleh Inoo dan tersenyum ganjil saat gadis itu berdiri kembali.

Saat itu Inoo bisa menyimpulkan bahwa Miharu adalah fansnya. Terlalu percaya diri memang, namun gadis mana yang akan menyimpan fotonya selain fans? Mungkin saja Miharu menyukainya sebagai laki-laki, bukan sebagai idola. Namun pilihan kedua tampaknya kurang tepat untuk menjawab rasa penasarannya itu.

“Hei, Inoo-chan! Ada apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?” Inoo langsung melihat orang yang memanggilnya.

“Ah, tugasku selesai membuatku senang~” Inoo tersenyum semakin lebar.

“Haha, baguslah. Nah, sekarang waktunya kau latihan. Nanti aku ajari kalau kau kesulitan.”

“Baik~!”


Miharu membuka matanya perlahan saat mendengar alarm, tangannya meraih jam weker itu lalu mematikannya. Sejenak matanya yang masih mengantuk itu melihat ke arah kalender. Kemudian mengangguk-angguk tidak jelas dan berjalan menuju kamar mandi.

“Masih satu bulan lagi~” ucapnya setelah mencuci wajahnya, “Apa yang harus aku lakukan tahun ini ya?”

Miharu terus berpikir dan tidak fokus mengerjakan apapun. Bahkan ketika sarapan ibu Miharu terus saja memperingatkannya bahwa gadis itu akan terlambat dan Miharu hanya menjawab dengan gumaman.

Miharu meninggalkan rumah dan berjalan dengan pelan menuju stasiun. Dia tidak takut terlambat masuk kuliah karena jadwal kuliahnya jam sepuluh, namun karena terlalu memikirkan ulang tahun idolanya itu membuatnya tidak tenang untuk bersantai di rumah. Miharu menghela napas panjang, “Hah, bingung!! Tenang, masih ada satu bulan lagi!”


Inoo melirik gadis yang terlihat sedang sangat malas itu. Melihat Miharu yang sedang menopang kepalanya dan satu tangannya sedang menulis. Memandang raut wajah gadis itu yang semakin kusut setelah kertas yang ditulisnya tadi telah dikoyaknya, dia terlihat begitu frustasi. Beberapa saat kemudian Miharu melihat ke arah Inoo yang sedang meliriknya, mereka saling beradu pandang. Seketika Miharu memasang ekspresi sedih dan terlihat terpuruk. Eh, ada apa?, tanya Inoo dalam hatinya.

Tiga minggu lagi adalah ulang tahun Inoo. Inoo berasumsi Miharu ingin memberikan kado padanya makin gadis itu tidak tahu harus memberi apa. Entah sejak kapan Inoo jadi suka berasumsi tidak jelas seperti ini, mungkin semenjak Miharu dalam ke hidupnya. Tingkah gadis itu membuatnya semakin penasaran dengan kado yang akan dia terima dari Miharu.

Inoo kembali melirik Miharu. Miharu sudah tidur dengan tumpukan tangan sebagai bantal. Apa aku terlalu percaya diri?, gumam Inoo dalam hati. Dia menggeleng lalu kembali sibuk dengan bukunya.


Lima belas hari menuju ulang tahun idolanya, namun Miharu sama sekali tidak tahu harus bagaimana merayakannya.

“Kenapa kau begitu repot? Dia kan hanya idolamu.” tanya Kumiko yang terlihat tidak tahan melihat temannya yang hampir gila itu.

“Karena dia idolaku, makanya aku se-frustasi ini, Kumiko-chan!” Miharu mengacak rambutnya sendiri lalu melemparkan tubuhnya ke kasur.

Kumiko memandang Miharu, “Dia bukan pacarmu. Dia masih memiliki fans lain selain dirimu.”

“Aku menganggapnya sebagai pacarku walau dia hanya menganggapku fans.” Wajah Miharu murung, “Aku telah jatuh cinta pada idolaku sendiri, apa ini salah?”

“Sebenarnya sih… memang salah.” Kumiko memandang sendu Miharu. Miharu menghela napas panjang.

“Perasaan ini harus berhenti setelah aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya.” Miharu meraba dadanya yang terasa sakit saat dia mengucapkan itu. Dia jatuh terlalu dalam di dunia yang dia buat sendiri.


Inoo menatap layar handphone-nya, seminggu lagi adalah ulang tahunnya. Entah kenapa tahun ini dia begitu menunggu hari ulang tahunnya itu, jantungnya berdegup kencang setiap kali matanya melirik ke arah kalender. Dia tidak sedang menunggu kejutan atau pun hadiah dari teman-temannya. Tanpa dia tunggu pun mereka pasti akan menyiapkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia hanya menunggu kado dari Sato Miharu.

“Inoo-chan~ sibuk?” tanya Daiki yang baru saja menghampirinya.

Inoo menggeleng, “Tidak, kenapa?”

“Aku kira kau sibuk karena terus melihat kalender dengan begitu serius. Makan bareng yuk!” ajak Daiki.

“Ayo! Memang kau mau makan apa?”

“Kau kan tahu restoran yang makanannya enak-enak, ke sana saja~” Daiki menepuk pundak Inoo, “Aku traktir.”

“Heh~ tumben sekali!”

“Sudahlah, ayo!”


Lima hari menjelang, Inoo semakin sering melirik telepon genggamnya untuk melihat jam dan tanggal. Dia cukup bersyukur tidak sekelas dengan gadis itu di semua mata kuliah, bisa-bisa dia sama sekali tidak fokus dengan penjelasan dosen. Tanpa dia sadari dia telah menaruh perhatian lebih pada Miharu yang membuatnya bertingkah seperti ini.

Di kelas lain, Miharu juga sibuk melihat handphone-nya yang sedang menampilkan resep kue. Dia mengikuti saran Kumiko untuk memberi kue kecil pada idolanya sebagai kado ulang tahun dari teman sekelas. Miharu tidak punya pilihan lain karena tahun lalu dia tidak pernah seribet ini. Dulu dia hanya menyusun kue kesukaannya secantik mungkin dan memfotonya dengan goodies Inoo lalu menyebarkannya melalui jejaring sosial. Sekarang dia punya satu kelas yang sama dengan kelas Inoo, dia hanya berharap hadiahnya tidak ditolak maupun dibuang.

Tiga hari lagi, Miharu sudah lumayan tenang daripada sebulan lalu. Dia juga sudah mulai fokus dengan segala yang dikerjakannya. Begitu juga dengan percobaan membuat kue. Ini pertama kalinya Miharu membuat kue sendiri dan ini percobaannya yang ketiga sejak dia menemukan resepnya.

Miharu membuka oven dan mengeluarkan kuenya. Tangannya terlihat gemetar karena gugup dan takut masakannya gagal lagi.

“Tenang, Miharu. Aku yakin yang ini tidak akan gagal lagi.” Kumiko tersenyum.

Miharu ikut tersenyum, “Aku juga berharap begitu.”

Kumiko memotong kue itu sedikit dan memakannya, “Ukh!! Ini enak!”

“Eh? Benar kah?” Miharu juga mencicipi, “Ah, kau benar!”

“Akhirnya kau berhasil, Miharu!” Kumiko memeluk Miharu senang. Miharu mengangguk, tak menyangka dia akan berhasil. Padahal dia sudah sangat pesimis.


Miharu membungkus kue buatannya dengan rapi. Hari ini dia akan sekelas dengan Inoo. Walau ulang tahun idolanya dua hari lagi, Miharu akan memberikannya hari ini. Dia takut tidak bisa bertemu Inoo karena perbedaan kelas di mata kuliah yang lain dan halangan lainnya.

Saat itu, Miharu masuk ke kelas terlalu cepat. Kelas masih sepi dan hanya ada dia seorang diri. Dia sengaja mencari tempat duduk agak di depan. Gadis itu menatap lurus ke depan sambil memegang dadanya, sedari tadi jantungnya berdegup sangat kencang.

“Tenang, Miharu. Tenang…” katanya pada diri sendiri. Lalu menghela napas panjang, begitu terus beberapa kali.

Tiba-tiba Miharu melirik ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki yang terus mendekat dan dia sedikit terkejut saat melihat sosok yang datang ke kelas.

“Hai.” katanya, “Sepertinya kita datang terlalu cepat ya, Sato-san.” Dia menggaruk kepalanya tidak gatal dan berjalan mendekati kursi Miharu. Dia pun duduk di samping Miharu.

“Eh?” Tak sengaja Miharu mengeluarkan rasa kagetnya.

“Boleh kan aku duduk di sampingmu?”

Miharu salah tingkah lalu mengangguk, “I-iya. Boleh kok, Inoo-kun.” Kemudian mereka hening. Mereka terlalu bingung harus berbicara apa.

“Sato-san..”

“I-iya..”

“Kenapa…” Inoo menarik napasnya dalam-dalam, “Kau terlihat tidak semangat akhir-akhir ini?”

“K-kenapa bertanya seperti ini?”

“Hm.. ya…” Inoo memegang lehernya bingung, “Karena biasanya kau selalu bertingkah aneh di mata kuliah ini, haha..”

Miharu melirik Inoo dan tersenyum, “Aku hanya sedang ada pikiran saat itu.” Inoo mengangguk mengerti. Suasana hening kembali melingkupi mereka, padahal beberapa orang dari kelas tersebut sudah datang dan sedikit gaduh.

“A-ano, Inoo-kun.”

“Ya?”

“Nanti… setelah mata kuliah ini selesai, aku bisa minta waktumu?” Inoo menatapnya sedikit heran, “Sebentar saja.”

“Baiklah.”

Kelas hari ini berakhir dengan tawa karena Miharu yang lagi-lagi tanpa sengaja membuat dirinya sendiri dipermalukan. Miharu meletakkan dagunya di atas meja dan menghela napas panjang.

“Sato-san, kau mau bicara apa padaku?” tanya Inoo saat kelas hanya berisi mereka berdua. Jantungnya berdetak sangat kencang. Apa yang akan disampaikannya? Apa dia meminta maaf karena tidak bisa memberiku kado?, pikir Inoo.

Miharu tersadar dan segera bangkit dari tempat duduknya, “A-aku…” Dia memegang tasnya erat-erat.

Inoo menelan ludah, “Apa?” Dia sangat penasaran, berharap semua yang dia bayangkan terhadap Miharu bukan hanya sekedar khayalan.

Miharu menatap Inoo sebentar lalu dia menunduk lagi. Tangannya dimasukkan ke dalam tas, dia menggeleng kemudian dia menganggung. Membuat Inoo semakin heran dengan gadis itu, “I-ini..”

Akhirnya Miharu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi kue yang sudah susah payah dia buat sendiri, Inoo menerimanya lalu melihat ke arah Miharu yang masih menunduk. Miharu mengangkat kepala dan mengalihkan pandangannya dari Inoo, “Ini hadiah ulang tahun dariku untuk teman sekelasku.”

“Eh?” Inoo memiringkan kepalanya, “Bukan karena kau fans-ku?” tanya Inoo keceplosan.

Miharu tercekat, “K-kenapa kau bilang begitu?”

“Karena… waktu itu aku melihat fotoku ketika tidak sengaja menabrakmu dan kau mencoba menyembunyikannya kan?” Miharu terdiam, dia tampak sangat bingung harus bagaimana.

“A-aku..” Gadis itu kembali terdiam, “A-aku..”

“Aku senang kau memberiku hadiah.” Inoo tersenyum lembut, “Walau ini terlalu cepat.” Miharu melihat Inoo dan tersenyum, kadonya tidak ditolak membuatnya sangat lega, “Bahkan aku menunggu kado darimu.” lanjut Inoo.

Mata Miharu membelalak, “Apa? Kau bilang apa, Inoo-kun?”

“Aku bilang…” Inoo mendekati Miharu dan mensejajarkan wajahnya dengan telinga Miharu, “Aku menantikan kado dari fans spesialku ini.”

“E-eh? K-kau sedang tidak bercanda kan? Seperti di majalah-majalah…”

“Aku disini dan di majalah itu berbeda.” Inoo memegang pipi Miharu.

“I-inoo-kun…”

“Panggil aku Kei kalau kita hanya berdua saja.” Inoo menatap Miharu dengan senyum, sementara gadis itu berhenti bernapas sejenak karena kata-kata idolanya yang tampaknya tidak bisa dia cerna dengan cepat. Inoo bergerak mencium pipi Miharu, “Hari ini di pipi dulu ya.” bisiknya.

Inoo berjalan menjauhi Miharu, Miharu menatap punggungnya sambil mengelus pipinya. Mencoba menyakinkan ini bukan mimpi, “Oh, sampai bertemu di konser ya.”

“Eh?” Miharu terkejut. Inoo menggeleng pelan sambil tersenyum, lalu dia memberi isyarat pada Miharu untuk melihat tangannya. Miharu semakin kaget dengan hari itu. Berasa seperti sedang di dunia mimpi baginya.

“Terima kasih untuk kado ulang tahun yang terlalu cepat ini, Miharu.” Inoo melangkah keluar kelas meninggalkan Miharu yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Sama-sama, Kei.” katanya sambil tersenyum setelah menyadari perasaannya terhadap Inoo tidak akan pernah berakhir. Di luar kelas Inoo tersenyum mendengar jawaban Miharu kemudian pemuda itu berjalan pergi dari sana dengan senyum yang menggambarkan perasaannya saat ini.

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s