[Oneshot] Life

31 Januari, tanggal terakhir di bulan itu. Tanggal itu merupakan tanggal kebahagian bagi keluarga Yabu. Istrinya baru saja melahirkan seorang bayi, yang lebih membuat keluarga ini senang adalah karena bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki. Penerus keluarga Yabu. Sang ayah langsung mengambil bayi yang masih merah itu dari tangan suster dan menggendongnya. Memandang sayang anaknya yang baru saja melihat dunia. Suara tangis masih menggema dari bibir kecil bayi itu, memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Tetapi, mendengar tangis itu, senyum ayahnya terkembang. Anak pertama dan satu-satunya kini telah terlahir ke dunia. Menghapus semua lelah akibat penantian panjang, menunggu kedatangan si bayi.

Sang ayah memberikan si bayi kedalam pelukan ibunya. Ibunya yang lelah hanya bisa tersenyum lemah kepada anaknya. Tangis sang bayi itu mulai mereda—kelelahan. Akhirnya, bayi itu tertidur pulas di pelukan ibunya.

“Namamu adalah Kota. Kota Yabu.” kata si ibu saat melihat malaikat kecilnya sudah masuk kealam bawah sadarnya—tidur.

Life

A Hey! Say! JUMP’s Fanfiction

Hey! Say! JUMP Kota Yabu

Hey! Say! JUMP Kei Inoo

By: Shield Via Yoichi

Okaa-chan!!” teriak seorang anak kecil sambil berlari menghampiri ibunya. Anak itu baru saja pulang dari bermain bersama teman-temannya. Dia berlari menuju ke tempat ibunya berada, teras rumah. Namun, sebelum dia dapat meraih tangan ibunya, dia terjatuh.

BRUK!!

“Hiks… hiks… Huuee~~~~” tangis sang anak. Si ibu langsung menghampirinya dengan panik.

“Kou-chan, daijoubu?” tanya ibunya. Namun, yang dipanggil Kou-chan tetap saja menangis. Merasakan kesakitan pada badannya. Ibunya langsung memeluk anaknya.

“Sudah, jangan menangis. Anak keluarga Yabu tidak boleh menangis. Apalagi kamu kan laki-laki. Kota Yabu harus kuat. Ya?” tangisan Kota pun mereda mendengar perkataan ibunya. Ibunya mengangkat kepala Kota, menghapus airmatanya.

“Janji, ya?” ibunya mengacungkan jari kelingkingnya tetap di depan wajah Kota.

“Hn, janji.” sahut Kota sambil mengangguk dan mengikatkan jari kelingkingnya di jari kelingking ibunya. Ibunya tersenyum dan kembali memeluk Kota.

Okaa-chan, lihat nilaiku!” teriak Kota saat tiba dirumah. Dia langsung mencari ibunya.

“Ada apa, Kou-chan?”

“Lihat, Kaa-chan! Nilai ulanganku seratus!” kata Kota senang. Ini adalah ulangan yang pertamanya, membuat dirinya senang karena nilai yang diperolehnya adalah nilai sempurna.

“Wah, baguslah kalau begitu. Tapi, Kaa-san berharap Kou-chan mendapat nilai sempurna saat penerimaan raport di semester nanti.” harap ibunya. Kota hanya tersenyum dan mengangguk.

“Ah, nanti Kou beri tahu Otou-chan.. Kou mau dengar Otou-chan bilang apa. Terus, Kou harap Otou-chan kasih Kou mainan.” Ibunya mengacak-acak sayang rambut anaknya.

“Kamu ini. Kecil-kecil sudah bicara seperti itu.” Kota hanya tertawa kecil menanggapi perkataan ibunya.

Otou-chan, lihat. Kou dapat nilai seratus saat ulangan tadi.” pamer Kota sesaat setelah ayahnya pulang bekerja.

Ayahnya mengacak rambut Kota, “Itu baru anak Tou-san. Tou-san mau Kou dapat nilai seperti itu di raport semester nanti.”

Kota cemberut. Lagi-lagi orangtuanya mengatakan hal yang sama, “Kok Otou-chan dan Okaa-chan bicaranya sama?”Ayah dan ibunya saling beradu pandangan, “Kou kan mau Otou-chan kasih hadiah untuk Kou karena dapat nilai seratus.”

Karena permintaan orangtuanya itu, Kota berjuang agar mendapat nilai yang diinginkan oleh orangtuanya. Nilai sempurna. Dengan seluruh kemampuannya, akhirnya dia mendapatkan apa yang orangtuanya inginkan. Sudah sepuluh semester dilalui Kota di sekolah dasar dan dia selalu mendapat peringkat pertama dikelasnya. Membuat orangtuanya bangga. Semester kesebelasnya baru saja dijalaninya, sekitar dua bulan lamanya. Awalnya, terasa biasa saja bagi Kota karena dia tahu pasti orangtuanya tetap menginginkan nilai sempurna dari Kota. Namun, semua terasa berat bagi Kota karena satu kejadian.

“Kou-chan, lihat!” teriak ibunya yang sedang asyik menonton televisi. Kota yang sibuk belajar di kamarnya langsung menghampiri ibunya.

Doshite, Kaa-san?” tanyanya lalu melihat televisi yang ditonton ibunya, “Onii-chan!” teriaknya setelah melihat siapa yang ada di dalam acara televisi itu. Kakak yang dimaksud Kota bukanlah kakak kandungnya. Yang dia maksud adalah Jin Akanishi, sepupunya. Jin adalah anak yang pintar. Dia selalu menang jika mengikuti olimpiade. Ya, seperti saat ini. Dia diliput salah stasiun televisi karena kepintarannya.

“Dia hebat ya, Kou-chan. Kaa-san ingin kamu seperti itu juga. Dia baik dan cerdas. Kaa-san pasti senang kalau kamu juga seperti dia.”

Demo, Kaa-san…” kata Kota sedikit menunduk. Dia merasa agak kecewa pada ibunya dan juga dirinya sendiri. Padahal dia sudah berusaha membuat orangtuanya senang, namun kenapa orangtuanya tidak pernah puas dengan hasil yang dia dapati?

Doushite, Kou-chan? Kalau kamu tidak mau, Kaa-san tidak memaksa kok. Hanya saja, Kaa-san dan Tou-san sangat senang dan bangga jika Kou-chan sama seperti Jin.” jelas ibunya setelah melihat wajah Kota yang murung. Kota hanya mengangguk, wajahnya tetap saja muram. Dia langsung menuju kamarnya. Di lihatnya buku pelajaran yang beberapa saat lalu dibacanya, diraihnya kemudian buku itu diremasnya.


Kehidupan Kota yang cukup santai berubah drastis. Dia mengikuti olimpiade, sesuai dengan permintaan ibunya. Walau berat rasa hatinya, dia tetap ingin membuat ibunya bangga ppadanya. Membuat ibunya tersenyum bahagia karena keberhasilannya. Hidup Kota menjadi begitu sibuk. Kota terus dan terus belajar, memantapkan ingatannya akan pelajaran yang akan diperlombakan itu. Ibunya? Sangat senang saat menerima kabar kalau anak tercinta dan semata wayang itu mengikuti olimpiade.

Kini Kota sudah menjadi siswa SMA dan tentu saja masih mengikuti keinginan orang tuanya terutama, ibunya. Namun, Kota tidak lagi dekat dengan ibunya seperti dulu. Jarak antara dirinya dan ibunya semakin lama semakin merenggang. Perasaannya terhadap ibunya semakin lama semakin habis. Kota jarang sekali mengobrol dengan ibunya, malah Kota dengan sengaja menghindar untuk berbicara dengan ibunya. Dia malas untuk berbicara dengan ibunya. Dia malas mendengar kata-kata pujian yang keluar dengan bibir ibunya untuk orang lain dan kata-kata harapan ibunya terhadap masa depan dirinya. Kota juga bosan untuk terus menerus mengikuti harapan tersebut. Dia bukanlah robot yang harus terus menerus diarahkan demi perjalanannya kelak. Menurut Kota, hidupnya terasa membosankan, sama sekali tidak bewarna seperti remaja lainnya. Kota terus menerus harus belajar keras demi mengikuti berbagai olimpiade. Namun, hari-hari seperti itu agaknya berubah, sedikit bewarna. Ya, karena satu orang, seorang pemuda yang entah kenapa terasa menarik bagi Kota. Seorang pemuda yang satu sekolah bahkan satu kelas dengannya. Pemuda itu bernama Kei Inoo. Pemuda berwajah manis—mungkin cantik mewarnai hari-harinya sampai dia tamat SMA. Sayangnya, Kota mendaftar ke Universitas Waseda sementara Kei ke Universitas Meiji.

Kota mencintai Inoo, Kota tahu perasaannya itu. Namun, Kota benar-benar takut untuk memberi tahu Inoo. Dia takut, pertemanannya dengan Inoo hancur karena itu dan Inoo menjauhi dirinya. Meninggalkan dirinya di dunia yang keras dan kejam bagi Kota. Dunia yang tidak pernah mendengar keinginannya, dunia yang mengekang hidupnya dan yang membuatya seakan-akan hanya alat peraih layaknya robot. Belum lagi penyakit ganas tengah menggerogoti tubuhnya.

Kota meremas rambutnya, frustasi. Keadaanya kini hampir sama seperti orang sakaw. Namun, yang membedakannya adalah Yabu begitu rindu dengan Inoo. Ingin melihat wajahnya walau hanya sekali. Setidaknya, rasa kangennya terobati. Yabu terduduk dilantai, merapatkan kedua kakinya didepan dada. Kedua tangannya tetap meremas rambutnya yang sudah tipis akibat penyakit yang dideritanya. Otaknya sulit untuk berpikir. Yang hanya ingin dilakukannya adalah melihat Inoo. Dia tak ingin lagi akan kuliahnya yang sudah mulai sedari tadi dan dia tak menghiraukan lagi teriakan ibunya agar Kota segera pergi kuliah.

Kota meraih tas selempangnya yang ada di atas meja. Lalu, melangkahkan kakinya keluar rumah. Tujuan satu-satunya ada Inoo. Tidak ada yang lain. Dirogohnya saku celana, mengambil handphone-nya dari sana. Jarinya dengan lincah menari-nari di tombol-tombol handphone tersebut. Kemudian, dia menyimpannya kembali.

Kota bukan pergi ke Waseda, bukan juga ke Meiji. Melainkan ke sebuah café. Dia baru saja membuat janji dengan seseorang disana. Kota gelisah, dia takut orang itu mengingkari janji. Dengan sabar, Kota menunggu orang itu. Sekitar 15 menit, seseorang memanggilnya.

“Yabu-chan!” panggilnya. Yabu tersenyum. Dia senang orang itu menepati janjinya.

“Ada apa kau memanggilku?” tanya orang itu.

“Aku hanya ingin melihatmu, Inoo-chan.” kata Yabu. Inoo tertawa.

“Kau menyuruhku untuk meninggalkan jam kuliahku hanya karena kau ingin melihatku? Terus terang saja, ada apa sebenarnya?”

“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”

“Apa itu?”

“Hidupku.”

“Sepertinya menarik.”

“Kau tahu, hidupku berbeda dengan anak biasa?” Inoo mengangguk, “Aku merasa hidupku sangat berat.”

“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Inoo penasaran. Kota pun mulai menceritakan kisah hidupnya dari kecil hingga sekarang. Inoo dengan setia mendengarkannya. Menurutnya, kehidupan Kota sungguh menarik. Karen, kehidupan Kota-lah yang menurutnya misterius. Kota tidak pernah mengeluh tentang hidupnya. Padahal teman-temannya akan mengeluh karena orangtua, uang, pacar atau apapun yang menurut mereka menghalangi jalan mereka. Kota berbeda, dia tidak pernah mengeluh. Dia tampak selalu bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Dan sekarang, Inoo mendengarkan berbagai keluhan dari mulut Kota. Dari dalam lubuk hatinya yang selama ini disimpannya.

“Ternyata, hidupmu susah juga ya?” kata Inoo. Kota mengangguk. Mereka keluar dari café tersebut. Berjalan menuju sebuah taman yang tak jauh dari situ. Lalu, duduk di sebuah kursi yang ada di taman itu.

“Dan ada yang membuatku bingung selama ini.”

“Bingung? Memangnya apa itu?”

“Aku… aku…” Kota terbata-bata. Dia tidak bisa mengatakan kebenaran.

“Aku mengidam penyakit. Tepatnya, kanker otak.” Mendengar Inoo, benar-benar terkejut.

“Kau bohong kan?” Inoo memastikan. Kota menggeleng. Inoo menjatuhkn airmatanya. Dia terharu dengan kehidupan Kota.

“Hei, kau jangan menangis.” kata Yabu menghapus airmata Inoo, Inoo hanya bisa diam.

“Satu lagi rahasiaku yang perlu kau tahu.” Kota mendekatkan bibirnya ke telinga Inoo, “ Daisuki.” Kota mencium bibir Inoo sekilas. Kemudian, pergi meninggalkan Inoo yang masih diam mematung di taman itu.


Sebulan Inoo tak mendapat kabar dari Kota. Biasanya, dalam sebulan mereka akan saling memberi kabar atau setidaknya bertemu. Tetapi, ini sama sekali tidak ada. Inoo mulai merasa hidupnya hampa tanpa Kota. Terutama sejak kejadian Kota menyatakan perasaannya dan mencium Inoo. Dari kejadian itu, entah kenapa Inoo merasa rindu yang begitu dalam.

Suatu hari dibulan yang sama, Inoo mendapatkan sebuah panggilan telepon. Dari Kota. Namun, telepon itu bukannya membuatnya senang malah membuat dia khawatir. Ibu Kota yang menelepon dari handphone Kota. Memberi tahukan bahwa Kota ingin sekali bertemu dengannya.

Inoo berlari dengan kencang. Takut terjadi sesuatu dengan Kota. Takut jika terlambat akan membuatnya tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Inoo terus berlari menuju rumah milik keluarga Yabu.

Inoo segera masuk setelah ibu Kota mempersilakannya. Dia langsung menuju kamar Kota. Inoo sudah begitu hapal dengan rumah itu. Karena Kota sering mengajaknya bermain ke sana. Inoo membuka pintu kamar Kota. Tampak seorang pria terbaring lemah di ranjangnya dengan berbagai alat disambungkan ditubuhnya. Inoo benar-benar sedih melihatnya.

“Yabu-chan…” panggil Inoo. Inoo mendekati Kota. Dia sudah sanagt kurus dan mulai botak. Penyakit benar-benar menguasainya. Perlahan, Kota melihat kearah Inoo.

“Kau… datang, Inoo-chan.” kata Kota susah payah. Sepertinya wajah Kota mulai mati rasa karena penyakitnya itu. Inoo menangis. Miris melihat teman yang mungkin malah orang yang disukainya itu menderita seperti ini.

“Yabu-chan, istirahatlah dan cepat sembuh. Aku merindukanmu selama sebulan ini.” Inoo semakin menangis mengingat ketika dia bermain dengan Kota. Kota tampak sehat dan kuat ketika itu. Kota mencoba tersenyum dengan susah payah.

“Jangan… menangis…” Kota berusaha menenangkan, “Karena kau… aku.. tidak membenci… hidupku lagi… Karena kau… aku berusaha… hidup sampai… hari ini.” Airmata Inoo semakin deras membasahi wajahnya.

“Setidaknya…. aku akan…. tenang jika aku… pergi…” Inoo menggeleng kencang.

“Tidak, Yabu-chan. Bertahanlah. Aku ada disampingmu.”

“Ti-dak— Aku.. sudah tidak… kuat lagi. Aku senang kau… menjengukku.”

“Yabu-chan, daisuki. Jangan tinggalkan aku sendiri.” Inoo menggenggam erat tangan Kota yang kurus.

Arigato. Sepertinya… aku… sampai disini. Inoo­-chan, selamat tinggal. Kaa-san, aku… akan menyampaikan… salammu pada Tou-san.” Kota menutup matanya dan tersenyum damai. Tangan Kota yang digenggam Inoo pun melemah dan mulai mendingin. Kota Yabu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Di tanggal ulang tahunnya, 31 Januari. Inoo menguatkan genggamannya pada tangan dingin dan kaku Kota. Dia masih belum dapat merelakan kepergiannya.

Sementara, ibu Yabu meraung. Dia tak percaya anaknya meninggalkan dirinya sendirian. Dia sadar selama ini dia terlalu memaksakan kehendaknya terhadap Kota, tidak mendengar keluh-kesah anak satu-satunya itu. Dia menyesal telah berbuat seperti itu. Sampai-sampai, dia tidak tahu kalau anaknya mengidap penyakit mematikan sejak awal. Penyesalan selalu dapat terakhir. Kini, Kota Yabu telah beristirahat dengan damai tanpa ada satu beban. Senyum Kota membuktikan hal itu. Senyuman terakhirnya untuk Inoo, ibunya dan untuk dunia fana yang ditinggalkannya.

“Yabu-chan, otanjoobi omedeto. Sayonara..” Inoo menangis sejadi-jadinya.

the end

Fanfic ini sudah pernah dipublish di facebook saya sebelumnya. ^^

mau ada perubahan, tapi saya tidak sempat merubah banyak. hehe

Shield Via Yoichi deshita~!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s