[Oneshot] Futarigake no Basho

Futarigake no Basho

Friendship/Romance

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

9nine Kawashima Umika

And another members of HSJ

Sepi, perasaan itulah yang dirasakan pemuda mungil ketika melihat lapangan sekolahnya. Tentu saja, sebab jam sekolah telah berakhir sekitar tiga puluh menit yang lalu. Yang tertinggal hanya dirinya dan seorang gadis berambut hitam sebahunya—sahabatnya. Duduk dibawah pohon dekat lapangan. Dua orang itu membisu layaknya patung sambil mengarahkan pandangan ke lapangan. Sekilas, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Sayang, itu hanya dugaan belaka.

Mereka berdua memang berharap dugaan itu menjadi nyata. Namun, rasa malu untuk mengutarakan perasaan itu lebih besar daripada keberanian mereka. Seakan rasa berani itu lenyap dalam diri mereka masing-masing. Mereka lebih baik bungkam dan merahasiakan hal itu semampu mereka menahan gejolaknya.

Seakan ingin menghilangkan keheningan yang menyelimuti mereka, pemuda mungil itu bersenandung kecil. Suaranya sama sekali tidak berat, melainkan seperti seorang anak kecil yang bernyanyi dengan ringan. Suaranya nyaring, tetapi merdu. Tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata kalau-kalau seseorang bertanya warna suara pemuda itu. Orang itu harus mendengarkannya sendiri secara langsung.

“Chii-kun, pernahkah kau berpikir tentang masa depan?”  tanya sang gadis—Kawashima Umika kepada Chii-kun alias Chinen Yuuri. Chinen menghentikan senandungnya, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Umika.

“Tentu saja! Dan kau pasti tahu masa depan seperti apa yang kuinginkan, bukan?” Chinen tersenyum, “Memangnya ada apa?”

Umika memandangi langit, seperti orang yang menerawang, “Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba memikirkan masa depanku.”

“Benarkah?” Chinen antusias, “Apa itu? Apa?”

Umika tertawa tertahan melihat reaksi Chinen yang layaknya anak kecil itu. Akibatnya, Chinen memajukan bibirnya, kesal. Ekspresi itu malah membuat Umika geli dan melepaskan tawa yang tertahan itu.

“Oke. Baiklah.” Umika menghentikan tawanya, “ Aku ingin pergi ke Inggris untuk kuliah di sana.”

Chinen tercekat. Tak menyangka bahwa teman baiknya akan meninggalkan dirinya, sendirian di Jepang. Chinen benar-benar tak habis akal dengan hal yang baru saja didengarnya itu.

“Tidak! Kau bercanda, bukan?” tanya Chinen yang beharap Umika menjawab ‘iya’. Dadanya terasa sesak. Menghirup oksigen begitu berat baginya. Kini, matanya mulai terasa panas. Entah apa yang terjadi pada dirinya, dia sendiri tak mengerti. Chinen terus menatap Umika yang diam sedari tadi.

Umika menggeleng. Jawaban yang tidak ingin Chinen terima. Jawaban itu berhasil membuat Chinen diam. Bahunya begetar, berusaha menahan air matanya yang sesaat lagi akan tumpah dan jatuh ke Bumi. Air matanya tak dapat diajak berkompromi, pertahanan itu hancur seketika dengan meluncurnya air mata itu ke pipi mulus Chinen. Begitu deras sampai-sampai Chinen sedikit terisak.

Chinen Yuuri, pemuda mungil nan imut. Dia begitu disenangi para gadis karena kemanisan wajahnya dan disayangi guru karena kepintarannya. Namun, kelebihan-kelebihannya dimilikinya tidak disenangi oleh teman-teman lelakinya, mereka iri dengan ‘kesempurnaan’ Chinen tersebut. Mereka sering mengucilkan Chinen dan juga menyiksanya. Alhasil, Chinen menjadi seorang yang cengeng dan kesepian. Chinen merasakan tekanan akan kelebihannya. Menjadikan Chinen seorang yang penakut akan kesendirian.

Keputusan Umika dianggapnya merupakan suatu bencana besar baginya. Siapa yang akan melindungiku dari siksaan Yamada? Siapa yang akan menemaniku ke sesuatu tempat? Siapa yang akan menenangkanku jika menangis? Pertanyaan itulah yang terus melintas dipikiran Chinen.

Chinen sadar kalau dia egois. Tetapi, tak ada yang bisa dilakukannya. Chinen tahu kalau dia seorang pengecut, seorang yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Dia sadar akan semua itu. Dia telah berkali-kali mencoba untuk berubah, namun hasilnya nihil. Selalu saja gagal.

Di saat seperti ini, Chinen tak dapat menghentikan tangisnya. Umika bingung hendak melakukan apa. Umika merasa bersalah telah membuat Chinen menangis. Baginya, Chinen hanya pantas bahagia, bukan menangis.

“Chii-kun, maaf.. aku tidak bermaksud…”

“Tak bermaksud meninggalkanku? Dimana janjimu?” nada suara Chinen meninggi.

“Bukan itu maksudku. Aku tetap akan melindungimu, Chii-kun..” Umika memegang pundak Chinen yang bergetar—berusaha menenangkan.

“Tidak mungkin! Kau ada di Inggris, sementara aku ada di Jepang. Bagaimana bisa kau melindungiku di jarak yang sangat jauh itu?” tetap terisak, Chinen mengalihkan pandangannya agar tidak beradu dengan mata Umika.

“Chii-kun, percayalah.” bujuk Umika. Umika mengapus airmata Chinen di pipi berkulit porselen bak putri kerajaan Inggris. Chinen melirik Umika yang membuat mata mereka beradu. Mata hitam milik Umika yang dapat membius Chinen beradu pandangan dengannya. Chinen meraih tangan Umika yang terus menghapus airmata Chinen dan yang ada dipundaknya, lalu menurunkannya dari sana.

“Maafkan aku, Umika-chan. Seharusnya aku yang melindungimu. Aku memang laki-laki yang payah. Tidak berguna.” Chinen meraih tasnya yang tergeletak di tanah, lalu berdiri.

“Chii-kun…”

“Pergilah dan wujudkan semua impianmu. Disini, aku akan berusaha dan mewujudkan mimpiku serta akan selalu menunggumu.” Chinen melangkahkan kaki meninggalkan Umika. Umika mengejarnya, menahan kaki Chinen untuk melanjutkan langkahnya.

“Apa maksudmu? Kalau memang kau tak ingin berpisah denganku, aku akan tetap berada di Jepang.”
“Tidak. Jangan bunuh mimpimu karena aku yang lemah dan pecundang ini. Pergilah, lalu aku akan berusaha menjadi laki-laki yang kuat.” Chinen mendekatkan bibirnya ke telinga Umika. Chinen menarik nafas dalam-dalam. Meyakinkan perasaannya, “ Daisuki..” bisiknya begitu pelan dan terdengar samar-samar.

Kata itu keluar begitu saja dari bibir kecil Chinen. Tanpa di sadarinya, Chinen sudah mendaratkan bibirnya tepat di bibir Umika. Tersadar karena perbuatannya, Chinen langsung melepaskan ciuman itu dan berlari menjauhi Umika. Wajah mereka memerah, apa karena malu atau menahan marah, entahlah.


Chinen’s POV

Chinen bodoh! pekikku dalam hati. Entah apa yang telah kulakukan tadi. Semua itu diluar kendaliku.  Apa sih yang kupikirkan sampai-sampai hal semacam tadi terjadi? Sungguh memalukan bagi seorang Chinen Yuuri!

Kulangkahkan kakiku menelusuri jalam menuju rumahku. Setelah sampai di rumah, dengan segera aku masuk ke kamar. Kuletakkan tasku di meja belajarku, lalu kuhempaskan tubuhku ke tempat tidurku. Kulihat langit-langit kamarku yang bewarna putih.

Apa yang harus kulakukan kalau bertemu dengan Umika besok? Pertanyaan itu yang terus mengganjal dalam hatiku. Apakah Umika marah karena tindakanku tadi? Kuharap dia tidak marah.

“Aku harus meminta maaf padanya besok!” tekadku. Karena tubuhku yang sudah lelah, aku pun tertidur.

Pagi yang cerah telah menyambutku dan membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Aku langsung bergegas mandi dan memakai seragamku. Kulihat pantulan diriku di cermin. Sudah rapi, batinku. Seutas senyum menghiasi wajahku.

Aku pun melangkahkan kakiku menuju dapur, disana sudah ada ayah, ibu dan juga kakakku. Ayah sibuk membaca koran, ibu menyiapkan makanan dan kakak membaca bukunya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mengambil tempat duduk di meja makan di depan kakak.

Ohayou, Yuuri.” sapa ibu.

Ohayou, Kaa-san.”  balasku. Ibu yang sudah selesai menyiapkan makanan, meletakkan makananku dihadapanku. Dengan segera aku memakannya, entah kerasukan apa aku makan seperti orang yang tidak pernah makan. Tiba-tiba sesuatu yang lembut menyentuh bibir bawahku.

“Kamu ini makannya berantakan sekali sih?” kata kakak sambil terus membersihkan bibirku. Dan tiba-tiba kejadian kemarin kembali terputar di otakku. Sentuhan bibir Umika.

Nee-chan, cukup. Aku bukan anak kecil lagi.” ucapku setelah sadar kembali dari alam bawah sadarku. Aku merasakan pipiku yang sudah memanas. Kakak terkikih mendengar ucapanku tadi.

“Iya. Nee-chan tahu kok. Tapi, kenapa wajahmu memerah begitu?” tanyanya. Aduh, apa yang harus kukatakan?

“Aku kan malu, Nee-chan.” Jawaban apa itu? Aduh, Chinen Yuuri! Kemana otak cerdasmu?

“Malu? Kenapa? Jangan-jangan kamu sudah…”

“Cukup, Nee-chan. Kalau kita berdebat terus, aku bisa terlambat.” potongku. Aku pun kembali memasukkan makanan itu ke dalam mulutku. Dan kakak hanya menatapku diam yang membuatku semakin tidak keruan.


Aku melangkahkan kakiku kedalam kelas. Kelas ini masih kosong. Sepertinya aku datang terlalu cepat. Tentu saja, karena aku pergi sendiri. Tanpa Umika. Biasanya aku akan menunggunya di stasiun kereta agar naik kereta bersama. Tetapi, dengan bodohnya aku langsung menaiki kereta tanpa menunggu Umika. Aku benar-benar bodoh.

Aku segera menuju tempat dudukku dan melihat ke arah jendela. Masih sangat sepi. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki yang masih jauh. Lama-kelamaan suara langkah itu mendekat. Dan… ternyata itu adalah langkah kaki Yamada! Bagaimana ini? Aku takut sekali.

“Oi…” panggilnya. Aku merasakan firasat buruk akan segera menimpaku. Aku menoleh.

“Hei, pinjamkan buku PR bahasa Jepang-mu padaku.” pintanya. Haruskah kuturuti?

“Oi, kau dengar tidak sih?” marahnya. Tubuh tak mau bergerak. Entah apa yang terjadi pada persendiaanku, badanku terasa kaku. Sangat kaku. Diam, itu yang terjadi pada tubuhku.

“Oi, baka!” Dihentakkannya mejaku, membuatku terlonjak kaget. Anehnya, aku hanya diam dan menatapnya. Dia mencengkram kerah bajuku, menariknya dengan paksa, membuatku harus berdiri mengikuti arah tangannya yang mencengkram kerah bajuku.

“Kau sudah tak takut lagi denganku, ya?” tanyanya sinis. Diam, itu yang kulakukan, “Jawab, BAKA!” Aku tetap diam. Bukannya aku tidak takut. Malahan aku sangat takut. Tanganku saja sudah terasa dingin.

“Cukup!” seseorang menghentikan tindakan Yamada tersebut, sementara aku terkaget melihat orang itu. Kawashima Umika… Ya, dia yang sekali lagi menyelamatkanku. Aku merasa lemah, sangat lemah. Terutama dihadapannya. Padahal, seharusnya aku yang menyelamatkannya jika dia diganggu.


Kawashima’s POV

“Cukup!” teriakku pada Yamada, lelaki gembul yang sedang memegang kerah baju milik Chinen. Yamada melihat kearahku, pandangan matanya berubah—melembut. Sementara Chinen sama sekali tidak melihat kearahku.

“Kawashima-chan, kenapa sih selalu menolong anak lemah ini?” tanya Yamada sambil melepaskan kerah baju Chinen dengan kasar. Membuat Chinen tersentak, jatuh. Melihat itu, aku langsung menolongnya. Namun, dia sama sekali tidak menghiraukanku. Dengan kesakitan, dia berdiri dan langsung duduk ke bangkunya. Tanpa memandangku sama sekali. Chii-kun, doshite? Batinku meringis.

Ne, Kawashima-san. Jawab aku. Kenapa kau selalu melindunginya?” tanya Yamada. Dia begitu penasaran.

Aku melihat ke arahnya, “Itu bukan urusanmu, Yamada-san.  Urus saja urusanmu sendiri.” jawabku agak ketus pada pemuda chubby itu. Aku pergi meninggalkan Yamada menuju bangkuku. Kulirik lagi ke arah Chinen, tetapi dia sama sekali tidak menganggapku ada. Aku seperti angin lalu baginya saat ini.

Chinen, apa maksud dari sikapmu sekarang ini? lalu, apa maksudmu mengatakan ‘daisuki’ dan menciumku kemarin? Apa kau tak mengingat hal itu?

Kepalaku kuletakkan ditumpukan tanganku dan melihat Chinen dengan sedih. Memandangnya dari jauh, berharap dia juga melihat ke arahku. Tingkah Chinen benar-benar membuatku bingung. Untuk apa dia melakukan hal yang seperti kemarin? Apa hanya untuk menyakitiku dan membuatku menjauhinya? Apa dia tidak tahu aku juga menyukainya? Mungkin rasa suka melebihi rasa sukanya padaku. Apa dia tidak dapat merasakan itu? Apa dia sedang mempermainkanku? Jika benar, haruskah aku mengikuti permainannya hingga waktunya?


Normal POV

Tanpa terasa, sudah sebulan Chinen menjaga jarak dengan Umika. Tanpa disadarinya, rasa rindu terhadap Umika mulai menyelimutinya. Rasa ingin dekat dengan Umika semakin besar. Sementara, Umika diam-diam selalu melirik Chinen. Umika selalu saja memikirkan Chinen, otaknya terisi dengan bayang-bayang Chinen. Dia bersyukur karena nilai yang diperolehnya tidak jatuh.

Mereka menjalani hari dengan rasa rindu satu sama lain. Menjalani hari-hari mereka yang berat karena akan menghadapi ujian kelulusan. Ya, tinggal menghitung hari saja. Mereka akan berpisah setelah upacara kelulusan dilaksanakan. Beruntungnya, mereka tetap bisa berkonsentrasi dalam belajar. Hari-hari ujian mereka lewati tanpa hambatan. Dengan rasa yakin yang tinggi, mereka percaya bahwa dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Namun, disisi lain, Chinen dan Umika merasakan sesuatu yang ganjil dalam hati mereka. Bertanya-tanya bagaimana cara agar dapat menyatukan kembali hubungan pertemanan mereka yang retak itu.


3 years later….

Umika’s POV

Sudah tiga tahun sejak perginya aku ke Inggris. Dan juga tanpa kehadiran Chinen dalam hari-hariku. Aku sedih karena dia sama sekali tidak melihatku dibandara. Jangankan itu, dia sama sekali tidak menanyakan kabarku selama tiga tahun ini. Apa dia sudah lupa denganku? Apa dia membenciku karena keputusanku ini? Kuharap itu hanya asumsiku belaka.

Kulangkahkan kakiku di bandara. Aku ingin kembali ke Jepang untuk menemui orangtuaku dan merayakan natal bersama yang sudah kulewati selama tiga tahun tnapa mereka. Aku sangat rindu akan hal itu. Rindu dengan mereka, orang-orang yang kusayangi. Tak terkecuali dengan Chinen. Aku rindu dengan suaranya, tingkahnya, senyumnya, dan semua yang ada pada dirinya. Namun, semua kerinduanku itu terobati karena rasa senang. Senang karena Chinen sudah berhasil mencapai cita-citanya sebagai seorang penyanyi. Penyanyi yang sudah dapat terkenal sampai ke Inggris. Chinen adalah salah satu anggota penyanyi di sebuah boyband. Chinen ternyata berusaha sangat keras.

Sesampainya di Jepang, aku langsung disambut oleh keluargaku. Mereka sangat senang karena kepulanganku. Tentu saja, bukan hanya mereka yang senang, aku juga sangat senang. Dapat berkumpul bersama kembali dengan keluargaku. Walau hanya sampai masa liburku usai, setidaknya aku bisa menghabiskan waktu dengan mereka.

Aku bangun dari tidurku. Matahari sudah bersinar terang. Burung-burung berkicau saling sahut menyahut. Aku membuka gordyn dan melihat ke arah kalender—kebiasaanku. Sekarang tanggal 30 November. Ulang tahun Chinen. Sampai sekarang aku masih mengingat hari ulang tahunnya. Apa dia juga mengingat hari ulang tahunku sama sepertiku?

Ingin sekali aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tetapi, aku tak tahu bagaimana caranya. Aku yakin, jika aku ke rumahnya, dia tidak akan ada dirumah. Chinen yang sekaarang sangat berbeda dengan Chinen yang dulu. Chinen yang dulu akan selalu berada di rumah. Sekarang, Chinen adalah idola. Dia pasti sangat sibuk mempersiapkan ini-itu, latihan dan segala macamnya. Akhirnya, aku memutuskan tidak melakukan apa-apa.

Aku membereskan kamarku yang sudah tiga tahun tidak kusentuh sama sekali.  Menyentuh semua yang ada dikamarku. Mulai dari tempat tidur, lemari, cermin, meja belajar dan terakhir adalah bingkai foto. Di dalam bingkai itu terdapat fotoku bersama teman-teman yang diambil di depan sekolah kami. Foto ini bembuatku rindu akan sekolahku dulu. Aku harus melihat sekolah itu, harus. Apakah sekolah itu sudah berubah atau belum?


Normal POV

Umika melangkahkan kakinya menuju SMA-nya dulu. Dengan riang, dijejakkannya kakinya di jalan raya itu. Sebelum menuju sekolah yang dirindukannya itu, dia menaiki kereta agar sampai di daerah dengan sekolah itu. Umika sangat rindu dengan saat-saat seperti ini. mengingatkan kenangan semasa SMA-nya, mengingatkan bangunan sekolah itu, teman-temannya, bahkan guru-guru yang mengajar disana. Dan juga tak terkecuali Chinen. Umika rindu ketika dia bercanda gurau dengan Chinen, menaiki kereta bersama, belajar bersama dan segala kejadian yang dilaluinya bersama Chinen. Semua yang dirindukannya ingin sekali diulanginya. Namun, apa daya. Waktu tak dapat diputar balik ke masa itu. Waktu hanya bisa bergulir ke depan. Masa lalu hanya dapat diingat dan dikenangan selama masing-masing orang inginkan.

Umika sampai di depan SMA-nya. Matanya melihat lekat-lekat pada bangunan yang tepat berada didepannya. Dia berjalan, memasuki sekolah itu. Pandangannya diedarkannya ke segala sudut. Mengamati sekolah yang sudah lama ditinggalkannya. Tidak ada yang berubah dari sekolah itu. Tetap sama seperti ketika dia masih menjadi murid di sekolah itu.

Umika beranjak menuju lapangan sekolah itu. Ia mencari tempat favoritnya dulu bersama Chinen untuk menghabiskan waktu sepulang sekolah.  Pohon dekat lapangan, itulah yang dicarinya. Pohon itu masih tumbuh dengan kokoh disana, tidak habis dimakan waktu. Umika menyentuh pohon itu, pohon yang menjadi saksi bisu kebersamaan Umika dan Chinen. Umika tersenyum senang melihat pohon itu masih ada di sana, dia pun duduk di bawah pohon yang masih rindang itu.


Minna, aku pergi sebentar ya!” teriak seorang lelaki mungil kepada teman-temannya.

“Hei, pesta belum berakhir. Masa yang berulang tahun malah pergi dan meninggalkan tamu?” tanya salah satu temannya—Daiki Arioka.

Gomen ne, sebentar saja, ya? Ada hal yang harus aku sampaikan..” mohonnya.

“Ya sudahlah, Chinen. Kami akan menunggumu sampai kau kembali.”  Ucap Daiki lagi. Chinen tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dia segera berlari menuju suatu tempat yang akan ditujunya.

Tak berapa lama, Chinen pun sampai di tujuannya. Dia masuk ke sebuah bangunan yang merupakan SMA-nya dulu. Dia ingin menuju pohon yang ada di dekat lapangan. Mencurahkan semua kejadian yang dia alami hari itu dan menunggu seseorang yaitu, Umika. Chinen masih ingat dengan Umika. Tidak, malah sangat ingat dengan gadis itu. Gadis yang selama ini menemaninya, menolongnya dan menunggunya. Gadis yang merupakan titisan dewi menurut Chinen. Chinen menunggu Umika karena dia ingin membuktikan kalau sekarang dia adalah seorang Chinen Yuuri yang pemberani, bukan seorang pengecut lagi. Dia ingin membuktikan seorang Chinen Yuuri bukanlah orang yang mudah putus asa.

Terbukti dengan kesuksesan Chinen sekarang. Sekarang dia adalah idola. Dan itu merupakan hasil dari kerja keras. Itu semua dapat dicapainya karena janjinya dengan Umika. Sekarang, hanya tinggal membuktikannya kepada gadis yang disukainya.

Belum sampai di dekat pohon tersebut, Chinen melihat seseorang duduk dibawah pohon itu. Chinen tahu kalau tidak pernah ada orang yang akan duduk disana jika tidak ada pertandingan di lapangan. Lapangan itu kosong. Chinen bingung siapakah orang itu. Apakah Umika atau tidak, Chinen tidak tahu. Chinen langsung saja menuju pohon itu, ingin mengetahui siapa orang itu, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

“Umika…” ucap Chinen terkejut.  Sang empunya nama langsung membalikkan badannya menuju asal suara.

“Chinen…” katanya setelah tahu si pemilik suara itu. Airmata Umika mengalir begitu saat melihat Chinen. Rasanya rindunya terhadap lelaki ini meluap di dadanya. Dadanya terasa begitu sesak sampai-sampai sulit untuk bernapas.

Chinen terkejut dengan kehadiran Umika yang menurutnya sangat tiba-tiba. Chinen juga begitu rindu dengan gadis yang sedang menangis didepannya. Ingin dipeluknya Umika, namun dia takut. Untuk diam pun dia tak sanggup, keinginannya terlalu kuat. Akhirnya Chinen pun mendekap Umika. Membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Tangisan Umika akhirnya pecah. Hal ini yang sangat di tunggunya. Rasa rindunya pun terobati karena ini. Dekapannya Chinen membuatnya nyaman dan membuat tangisannya sedikit demi sedikit mereda.

“Umika-chan, gomenasai.” Ucap Chinen yang semakin mengeratkan dekapannya. Tidak memperbolehkan Umika melepaskan pelukannya, “Maafkan aku karena aku menjauhimu, maafkan aku yang tidak menghiraukanmu, maafkan aku karena tidak menunggumu menjemputku, maafka…”

Permohonan maaf Chinen terputus karena Umika memeluknya. Seperti seorang anak yang takut kehilangan ibunya lagi. Umika mengangkat wajahnya, melihat Chinen. Mengadu mata mereka berdua.

“Chii­-kun­, aku telah memaafkanmu. Apapun yang terjadi, aku telah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf. Namun, maafkan aku yang meninggalkanmu sendirian disini. Maafkan aku yang baru bisa sekarang mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Kau terus berusaha sampai seperti ini. Kau sudah menggapi cita-citamu, aku senang. Kau tahu, hidup tanpamu sama seperti terjadi musim dingin sepanjang masa.” Umika kembali meneteskan airmata, “Aku… aku tak bisa hidup tanpamu, Chii-kun. Aku… ak…”

Chinen mencium lembut bibir Umika. Tidak membiarkan Umika berbicara panjang lebar. Chinen tahu, Chinen mengerti perasaan Umika. Umika menyukainya, dia tahu. Chinen tahu dari semua perkataan Umika tadi. Sementara Umika yang terkejut akibat perlakuan Chinen, perlahan membalas ciuman Chinen. Ciuman yang penuh perasaan yang menggebu-gebu didalam hati masing-masing. Chinen melepakan ciumannya. Memandang Umika yang secara tidak langsung sudah menjadi miliknya. Inilah hadiah ulang tahun paling berharga dalam hidupnya. Sementara, wajah Umika memerah menahan malu. Tanpa dia sadari dan dia ketahui, dia sudah menjadi hadiah untuk Chinen. Hadiah terindah yang akan selalu dijaga.

Di tempat ini, tempat favorit mereka, mereka dipertemukan kembali yang sempat terpisah di tempat ini juga. Tempat ini merupakan saksi bisu kisah mereka. Tempat yang bertabur kenangan diantara mereka. Tempat ini yang akan terus menyimpan kenangan-kenangan mereka.

 

the end

merasa pernah baca? *pede* udah pernah di post di fb XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s