[Oneshot] Friend in My Life

Friend in My Life

Casts:

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Keito Okamoto

Shougo Sakamoto

Hey! Say! JUMP Hikaru Yaotome

Hey! Say! JUMP Yuto Nakajima

And others members of HSJ

Genre: Friendship (?) may be, i don’t know.. just read and tell me what the genre.

Rated: can you tell me after read this fanfic?

Notes: argh!!!!!!!!!!!!! Saya tidak tahu apa genre dan rated FF ini. saya author bodoh yang nekat nulis ini FF tanpa tahu genre dan rated-nya. Ide FF ini muncul saat membaca sebuah FF di www.fanfiction.net.

Happy reading! ^o^

Chinen’s POV

Pagi datang dengan diiringi kicauan burung. Cahaya matahari menyeruak masuk tanpa izin dan langsung menusuk mataku. Memaksaku untuk bangun dari tidurku yang nyenyak. Aku bangun dari tidurku dengan malas. Menatap jendela kamarku yang bertirai biru polkadot. Aku bangkit dan berjalan menuju jendela, menyingkap tirai itu. Membuat kamarku yang bercat putih bersih dipenuhi cahaya. Aku menuju balkon, melihat langit kota Tokyo yang berwarna biru cerah itu. Menatap dengan rasa bosan.

Aku benci.

Benci semua yang terjadi pada hidupku. Kenapa aku tidak mati saja saat tidur tadi, agar aku tidak melihat pagi ini? Melewati hari yang penuh kesedihan, kemarahan, kekesalan, dan  kesakit-hatian. Rasa yang selalu aku rasakan dimana pun aku berada.

Alasan aku yang membuatku benci hari-hariku adalah karena semua orang juga membenciku. Ya, aku terlahir sebagai pemuda cacat nan lemah. Mataku tidak sempurna. Iris mataku berbeda warna. Yang kanan bewarna hitam­­—seperti mata orang-orang, dan yang kiri bewarna putih—seperti kucing. Tubuhku mungil seperti perempuan, unsur kejantanan tak ada pada diriku. Kenyataan itu yang membuatku dibenci. Mereka senang melihatku tertindas. Menindasku karena kecacatan yang kumiliki. Namun, aku tetap bersyukur karena Tuhan masih sayang padaku—menurutku.

Yang membuatku patah semangat hidup adalah cara mereka memperlakukanku seperti sampah. Meludahiku tanpa alasan yang jelas, menatapku seperti hantu, menyembunyikan barang-barangku entah dimana. Parahnya, bukan berhenti malah bertambah kejam. Mereka sering memukuliku, menciptakan warna merah dan biru legam pada kulitku. Dengan teganya menyayat kulitku dengan pisau yang sangat tajam. Membuat seni yang sakit pada tekstur kulitku.

Kutinggalkan rumahku yang menurutku nyaman itu dan pergi menuju sekolah dengan langkah yang berat. Saat sampai di depan pintu gerbang, mereka yang sudah menungguku di sana segera menarikku paksa menuju ke atap sekolah yang sepi. Aku hanya diam saja, tubuh lemah ini tidak sanggup untuk meronta. Mulutku terkunci, aku benar-benar tidak dapat berteriak. Berharap Tuhan menolongku sesegera mungkin dari penderiaan panjang ini.

Mereka menjambak rambut hitamku dan aku hanya meringis kesakitan saat mereka mulai menariknya sekeras mungkin. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipatnya. Membukanya dan mulai meletakkan mata pisau itu dikulitku. Tampak darah segar karena sudah sedikit tersayat. Dia hendak menyayat lebih dalam lagi.

“Hei, apa yang sedang kalian lakukan?” Aku mendengarkan seorang anak berteriak. Dengan segera tangan-tangan mereka yang menarik rambutku terlepas, aku membuka mataku. Aku melihat sosok anak laki-laki berkulit putih, rambutnya kecokelatan dan matanya yang hitam itu menatapku. Sementara, mereka telah kabur dari tempat itu. Mata pemuda itu seperti menyedotku untuk masuk ke dalam, merasakan kalau dia bukan orang yang jahat.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya seraya mendekatiku, “Sekarang hapus darahmu.” katanya sambil memberikan saputangan. Saputangan berwarna biru legam seperti bercak-bercak akibat dari pukulan di tanganku. Aku mengambil saputangan itu. Ku tatap saputangan yang polos itu. Termenung entah kenapa.

“Hei, ayo di hapus. Setelah itu, kita akan membersihkannya dan memberinya obat setelah sampai di ruang kesehatan nanti.” katanya sambil tersenyum lembut. Aku terperangah, tak bisa berkata-kata lagi. Dia seperti malaikat dari sudut pandangku. Dia menarik tanganku, membawaku turun dan menuju ke ruang kesehatan.

Namanya Yamada Ryosuke, merupakan wakil ketua OSIS di sekolahku. Dia sangat disegani dan kini aku berteman dengannya. Dan sejak itu, tidak ada lagi yang berani menganiayaku. Menurutku, dia adalah satu-satunya orang yang menerimaku, menganggapku ada, dan aku berjanji aku akan selalu melindunginya. Karena tanpanya, aku tidak dapat merasakan hidup seperti ini. Aku ingin terus bersama dengannya.

Bugh!

Suara itu menyadarkanku dari lamunanku. Kulihat seorang anak laki-laki bermata sipit yang sedang berlari terbirit-birit menabrak Yamada. Mereka tersungkur ke lantai, aku terkaget melihat Yamada jatuh.

Gomen.” kata Yamada. Aku terdiam.

“Tidak, ini bukan salahmu. Gomenasai, ini salahku.” maaf pemuda sipit bernama Okamoto Keito itu. Dia berdiri dan segera menunduk meminta maaf pada Yamada. Yamada pun ikut berdiri dan mengangkat badan Keito agar kembali berdiri tegap.

“Ya sudah. Tidak ada yang salah disini. Apa kau kesakitan?” tanya Yamada perhatian.

Keito menggeleng, “Kau sendiri?”

“Tidak ada yang sakit.” Yamada tersenyum lembut.

“Kalau begitu, aku duluan, ya!” Keito pergi meninggalkan kami. Yamada masih memasang senyum manisnya, tiba-tiba dia meringis. Menghilangkan senyum itu dari wajahnya.

Itai…” dia memegang siku kanannya.

“Yama-chan, kenapa?” tanyaku.

Dia menggeleng, “Tanganku tergores sedikit karena jatuh tadi.”

Aku hanya diam, tak bicara apapun lagi tentang peristiwa itu dan berpikir tentang sesuatu.


Aku lepas kontrol terhadap diriku lagi, untuk kesekian kalinya. Aku melakukannya lagi. Sudah dua orang yang kubuat mengeluarkan darah sia-sia. Pertama, Keito yang tak sengaja menabrak Yamada dan membuat tangannya luka tergores, dan sekarang anak bergigi gingsul, Shougo Sakamoto yang tidak sengaja melemparkan bola voli dan mengenai punggung Yamada. Aku sangat bersyukur, karena semua tindakanku tersebut tidak ada yang mengetahuinya dari gerak-gerikku. Aku memang mempunyai bakat untuk berakting didepan semua orang untuk menutupi hal ini, sepertinya.

Senyum kepuasan terlukis di bibirku, melihat cairan kental bewarna merah itu membasahi tubuh Shougo. Tubuhnya tergeletak di lantai toilet yang juga sudah terkotori dengan darahnya sendiri. Banyak dan berceceran. Aku menyuci pisau lipatku, melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku celanaku. Inilah ganjaran yang didapatkannya jika membuat Yamada kesakitan. Aku keluar toilet, meninggalkannya sendirian disana dalam keadaan kritis.

“Itu akibat dari tindakanmu yang menyakiti Yamada, temanku.” bisikku setelah menutup pintu toilet. Aku kembali mengembangkan senyumku sebelum beranjak dari sana.  Kulangkahkan kakiku menjauh dari ruang penuh darah itu dan bergegas pulang di tengah hujan yang deras. Pulang ke rumah yang nyaman dan tenang.

Aku tinggal bersama seorang pengasuh panti asuhan yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Orangtuaku menitipkanku di panti asuhan ketika aku berumur lima tahun. Alasannya, mereka takut dengan kecacatanku yang menurut mereka adalah kesialan. Di panti asuhan, tak ada yang mau mengasuhku. Ada yang mengatakan kalau aku ini keturunan iblis, terkena kutukan, setengah siluman dan lain sebagainya. Perkataan itu membuatku selalu menangis jika pengasuh panti menyuruh kami untuk bersiap-siap karena kedatangan tamu. Karena pengasuh merasa iba padaku, dia akhirnya mengangkatku sebagai adiknya.

Awalnya, aku mereka kesepiaan tanpa teman dan tidak terbiasa memanggil pengasuh dengan sebutan ‘Nee-chan’. Aku selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Senpai’—karena dia hanya berbeda sepuluh tahun denganku. Selama enam bulan tinggal dengannya, aku mulai terbiasa mandiri dan dapat memangilnya ‘Nee-chan’.

Setelah sampai di rumah, langsung saja aku membuka pintu dan berteriak, “Tadaima..” Sayup-sayup kudengar Nee-chan menjawab ‘Okaeri….’ Langsung saja aku menuju kamarku. Mengunci pintunya dari dalam, tanda bahwa aku tak ingin diganggu. Kakak selalu mengerti diriku tanpa harus menanyakan itu berulang-ulang padaku. Dialah orang yang perhatian padaku setelah Yamada.


Yamada Ryosuke. Nama itu selalu membuatku bisa tersenyum. Senyum lembut ala Chinen Yuuri. Mengingatkanku pada suatu pertanyaan dari Yamada.

Ne, Chinen-san, kenapa namamu seperti anak perempuan?” tanya Yamada. Sesaat aku terdiam, kulirik ke arahnya, dia berharap aku menjawabnya.

“Aku tidak tahu. Itu pemberian dari orangtuaku.”

“Tidakkah kau ingin tahu jawabannya? Mengapa tidak kau tanyakan pada orangtuamu?” tanya Yamada yang membuatku sedih.

“Orangtuaku membuangku ke panti asuhan karena kekuranganku ini. Sejak itu, aku tak pernah melihat orang tuaku lagi.” ucapku, “Sekarang aku tinggal di rumah seorang pengasuh yang mengangkatku sebagai adiknya.” Aku menundukkan kepala dalam-dalam.

Gomen ne…” Yamada meminta maaf, “Namun, kau  jangan sedih karena hal ini. Angkatlah kepalamu. Kau memiliki wajah yang tampan, perlihatkan itu pada mereka.”

Aku mengangkat kepalaku dan melihat Yamada. Dia tersenyum begitu lembut. Membuat ujung bibirku menaik menciptakan sebuah senyuman. Tangannya menarikku berdiri, mengikuti kemana pun Yamada pergi. Karena tangan begitu erat menggenggamku.


Aku bergegas mandi, menghilangkan penat yang ada dipikiranku. Membersihkanku dari semua pikiran yang menguras tenagaku, membersihkan bau darah dan berharap dapat membersihkan dosaku juga.

Setelah mandi, aku segera menyambar handphone-ku. Lalu, duduk di tepi tempat tidur. Mataku terasa panas, butiran-butiran airmata jatuh ke pipiku. Menangis, aku menangis setelah melakukan hal itu. Aku memang bodoh sekali. Untuk apa menyesal? Semua telah terjadi, tidak bisa diputar balikkan. Lagipula, mereka memang salah. Telah melukai Yamada.

Kugenggam handphone-ku, membukanya dan mulai mencari sebuah nomor. Nomor Yamada. Nama itu sangat istimewa bagiku, nama temanku yang harus kulindungi agar tidak terluka. Aku memencet tombol hijau—menelponnya.

Senyum terlukis di wajahku saat sambunganku tersambung dengannya, aku menunggu beberapa detik.

Moshi-moshi..” suaranya membuat senyumku semakin lebar.

Moshi-moshi, Yama-chan.”

“Nan desu ka?”

“Apakah besok ada tugas dari sensei?” pertanyaan yang sebenarnya bisa kujawab sendiri. Yamada terdiam sesaat, berpikir.

“Tidak ada tugas untuk besok tapi, untuk minggu depan ada.” Aku mengangguk, “Ada lagi yang ingin di tanyakan?”

“Tidak ada. Tapi, bisa tidak kau mengabulkan satu permintaanku?”

“Hm, apa itu?”

Aku tersenyum lagi, “Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

“Lagu?” Dia terdiam, “Baiklah, namun lagu apa?”

“Terserah kau saja.” Kubaringkan badanku di tempat tidur, menunggu Yamada menyanyi. Yamada menyanyi begitu merdu membuatku dapat melupakan pikiranku untuk sementara dan akhirnya aku tertidur dengan ditemani nyanyian dari Yamada.


Normal POV

Pagi ini matahari bersinar terang. Sama seperti hati seorang Chinen Yuuri yang bersinar. Dia tak henti-hentinya tersenyum bahagia pagi itu. Nyanyian Yamada kemarin masih dapat didengarnya dengan jelas. Nyanyian dari satu-satu orang yang mau berteman dengannya.

Saat melewati gerbang sekolah, Chinen yang terus tersenyum itu dipandang aneh oleh murid-murid yang sering menyiksanya. Mereka tak senang melihat seorang Chinen Yuuri yang cacat dan lemah itu terlihat bahagia. Mereka lebih suka melihat Chinen meringis kesakitan akibat dari kekejaman mereka. Chinen memasuki kelasnya yang ternyata sudah ada Yamada disana.

“Chinen-san, kau baru datang?” tanyanya ramah sambil tersenyum.

Chinen mengangguk, “Yama-chan, bisakah kau memanggilku dengan sebutan ‘Chii-kun’? bukannya aku sudah mengatakan itu sebelumnya?”

Yamada tersenyum, “Gomen, aku kebiasaan memanggil seseorang dengan sebutan formal. Apa kau tidak terbiasa? Kalau memang begitu, aku akan mencobanya.” Chinen mengangguk kegirangan, Yamada tertawa kecil melihat tingkah Chinen yang kekanak-kanakan itu.

“Ah, Chinen-san, eh, maksudku Chii­-kun, bisakah kau membantuku mempersiapkan peralatan di ruang klub sepak bola? Sebentar lagi kami akan ada pertandingan, jadi kami sangat sibuk akhir-akhir ini.”

“Tentu saja.” ucap Chinen girang. Mereka segera menuju ruang klub sepak bola. Di ruang itu berserakan berbagai benda. Botol air minum, bola dan kardus-kardus berisi segala perengkapan klub. Ruang klub terbuka, Yamada dan Chinen yang sibuk membereskan ruangan itu melihat ke arah pintu.

“Kau tahu tidak, Shougo Sakamoto sekarang sekarat di rumah sakit!” teriak seseorang yang membuka pintu klub tadi.

“Benarkah? Kenapa dia?” tanya lawan bicaranya, kaget.

Orang itu menggeleng, “Entahlah, Dai­-chan, aku juga tidak tahu. Kata orang-orang, dia ditemukan di toilet sekolah ini.”

DEG!!! Chinen terdiam sesaat dari aktivitasnya.

“Hei, hei.. Apa yang kalian ceritakan itu benar?” tanya Yamada penasaran sekaligus shock.

“Ya, sejak kapan Inoo Kei berbohong?” kata seorang pemuda yang bewajah cantik. Yamada membulatkan matanya.

“Kasihan sekali, Shougo-san. Ucap Yamada lirih.

Daiki memasang wajah sedih, “Ya, memang. Tetapi, bukan itu saatnya yang harus dipusingkan. Pertandingan kita sudah dekat.”

“Yama-chan, apa semua perlengkapan kita sudah memadai?” tanya seorang pemuda jangkung yang baru saja memasuki ruang klub. Nakajima Yuto, ketua klub sepak bola.

“Tenang, Yuto. Semua terkendali.” Yuto merupakan orang terdekat Yamada sejak kecil. Jadi, Yamada tidak lagi memanggil Yuto dengan formal. Chinen mebelalakkan mata mendengar panggilan Yuto dari Yamada. Yamada menyebut nama kecil Yuto. Dia merasa cemburu. Mengapa Yamada dengan mudahnya memanggil nama kecil Yuto sementara nama kecilku sulit sekali baginya? Pikir Chinen.

Chinen melirik tajam ke arah Yuto yang sedang menepuk pundak Yamada sambil tersenyum senang.

“Baguslah. Aku takut semuanya kacau balau.” kata Yuto lega. Dia terus saja menepuk pundak Yamada tanpa menghiraukan tatapan membunuh Chinen. Yuto mengedarkan pandangannya dan mendapatkan Chinen.

“Hei, kau yang membawanya ke sini, Yama-chan?” tanya Yuto yang terus melihat Chinen.

“Iya, karena pekerjaan ini terlalu melelahkan untuk kulakukan sendiri jadi, aku meminta bantuannya.” Yuto tidak melepaskan pandangannya dari Chinen. Berbagai ekspresi terpancar dari wajahnya. Ada kengerian, kesedihan dan keibaan melihat Chinen. Terutama mata Chinen yang cacat itu.

Yuto melepaskan pandangan dari Chinen, “Ya sudahlah kalau begitu. Aku pergi dulu ya.. ada yang ingin kuurus lagi untuk pertandingan kita ini.” dia menepuk pundak Yamada dengan keras, membuat Yamada sedikit meringis.

“Kau kebiasaan menepukku dengan keras!” Yamada memegang pundaknya, lalu mengelusnya. Chinen melihat Yuto sampai Yuto hilang dibalik pintu.


Hari sudah sore, para pemain sepak bola sudah selesai latihan. Mereka segera ke ruangan klub, mengganti pakaian dan bergegas pulang. Yamada kini menuju ruang OSIS, dia akan membaca semua arsip-arsip kegiatan yang akan diselengggarakan di sekolah. Dia telah berjanji pada ketua OSIS, Yabu Kota.

Sebenarnya dia ingin segera pulang, apalagi Chinen ada disana. Dia ingin segera mengantar Chinen pulang. Tetapi, semuanya batal karena janjinya dengan Yabu. Ketika Yamada menyuruh Chinen pulang, Chinen malah berkata ingin membersihkan ruang klub sampai tuntas. Yamada hanya bisa menuruti keinginan Chinen karena jarang sekali Chinen berkeinginan. Biasanya Chinen selalu mendengar keinginan Yamada.

Sementara Yuto dan Hikaru—wakil ketua klub sepak bola sibuk mengatur strategi dan taktik di ruang klub yang ikut-sertanya Chinen disana yang sedang merapikan ruangan itu. Tumpukan-tumpukan kertas hasil coretan Yuto dan Hikaru bertebaran dilantai. Dengan segera dibersihkan oleh Chinen. Hikaru menarik rambutnya, pusing.

“Argh! Pusing! Aku kelur sebentar. Aku mau menyegarkan kepala dulu baru kita susun kembali rencananya.” Hikaru meninggalkan ruangan tersebut. Menyambut angin malam yang menerpa wajahnya, merilekskan pikirannya.

Kini yang tertinggal hanya Yuto dan Chinen. Hening. Sesaat hanya terdengar suara goresan tinta pena di secarik kertas dan suara kertas yang diremukkan lalu dijatuhkan ke lantai.

“Nakajima-kun…” panggil Chinen.

“Ya? Kalau tidak penting, jangan ganggu aku. Aku sedang pusing.” Yuto memijit keningnya.

“Aku ingin kau merasakan sesuatu yang hebat.” Chinen menarik Yuto ke dinding dengan seluruh tenaganya. Lalu, dia mengeluarkan pisau lipatnya, membukanya dan meletakkan mata pisau di atas kulit Yuto.

“Kau ingin rasa sakit yang perlahan-lahan atau langsung?” Chinen tersenyum jahat pada Yuto. Sementara Yuto menatap Chinen, nanar.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” teriak Yuto. Chinen menyayat tangan Yuto. Yuto meringis kesakitan.

“ARGH!! Lepaskan aku! Psikopat!!” teriak Yuto makin keras. Chinen memperdalam luka yang dibuatnya. Membiarkan darah Yuto membuncah dari luka itu sederas-derasnya.

“Kenapa Yama-chan begitu mudah memanggil nama kecilmu dibanding dengan nama kecilku?” tanya Chinen disela-sela tindakannya yang terus melukai tangan Yuto diberbagai tempat. Lengan Yuto dipegang erat oleh Chinen. Membuatnya tak bisa bergerak. Kekuatan Chinen melebihi kekuataannya—kekuatan kebencian yang mendalam dihati Chinen.

Hikaru yang sudah merasa otaknya sudah dapat dibawa untuk berpikir lagi, kembali ke ruang klub. Dia membuka pintu ruang klub, namun tertahan.

“Lepaskan aku!!!!!!!” teriak Yuto menjadi-jadi. Merasakan kulit tangannya dirobek pisau lipat milik Chinen. Darah sudah membanjiri lantai ruang klub. Chine tak melepaskan senyum mengerikannya itu. Hikaru yang melihat itu hendak berteriak, namun tertahan mengingat Chinen membawa isau lipat yang sewaktu-waktu dapat dilemparkannya jika Hikaru berteriak.

Hikaru menutup pintu perlahan. Di luar, dia berpikir cara menyelamatkan Yuto. Terlintas sebuah nama dipikiran Hikaru, Yamada. Ya, Yamada-lah yang mampu menghentikan Chinen. Karena hanya Yamada yang mengenal Chinen secara mendalam. Hikaru ingat kalau Yamada sedang berada di ruang OSIS. Dengan cepat, Hikaru berlari menemui Yamada. Menceritakan kejadian yang sedang terjadi dengan Yuto dan Chinen.

“Yama-chan!!!” teriak Hikaru ketika membuka pintu. Yamada melihat ke arah pintu.

“Ada apa?” tanya Yamada yang melihat Hikaru panik.

“Yuto!! Yuto!!”

“Kenapa? Ada apa dengannya?” Yamada langsung menghampiri Hikaru yang masih didepan pintu.

“Cepat! Aku lihat saja sendiri!” Hikaru menarik tangan Yamada dan berlari. Yamada mengikuti Hikaru yang berlari menuju ruang klub.

ITAII!!!!!!” teriakan Yuto menggema dari ruang klub. Yamada langsung saja masuk setelah mendengar jeritan itu.

“Chinen!” teriak Yamada shock. Benar-benar shock. Dia tak menyangka bahwa Chinen akan berbuat demikian.

“Yama-chan, aku akan melindungimu.” ucap Chinen. Yamada masih shock, tak sanggup berkata-kata lagi. Hikaru langsung membantu Yuto berdiri dan membawanya ke rumah sakit dengan taksi.

“Yama-chan…. kau satu-satunya sahabatku.” Chinen terduduk dilantai. Dia menangis. Tak mampu menahan airmatanya lagi.

“Tapi, bukan begini cara melindungi sahabat.” Yamada mendekati Chinen. Mendekap Chinen yang penuh dengan darah. Membiarkan Chinen menangis sepuasnya di pelukannya, “Kau bisa dianggap gila jika melakukan ini.”


Pemuda mungil duduk diam di sebuah ruangan yang serba putih begitu juga denga tempt tidur yang merupakan satu-satunya benda yang ada disana. Pemuda itu menatap hampa ke dinding. Selimut putih menutupi sebagian tubuhnya. Tak ada yang menemani, tak ada yang berani mengganggu ketentramannya di ruangan itu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu terbuka. Dua orang masuk ke ruangan itu. Wajah mereka menunjukkan keprihatinan terhadap pemuda mungil itu.

Nee-chan­ mengantarkan temanmu yang terus saja ingin melihatmu.” Chinen sama sekali tidak mendengarkan itu. Dia sibuk dengan dunianya.

“Chii-kun, aku sudah bisa memanggil nama kecilmu.” Yamada tersenyum. Namun, Chinen tidak menghiraukannya, “Chii-kun, aku ada surat untukmu. Aku bacakan ya?” Chinen tetap diam. Yamada tidak memarahi Chinen karena pertanyaannya tidak dijawab. Dia tahu kalau Chinen mengalami gangguan jiwa sejak kecil dari kakak Chinen.

Yamada mengeluarkan surat itu dari amplopnya dan mulai membacakannya.

Untuk Chinen Yuuri, sahabatku.

Chinen Yuuri, saat pertama kali aku menolongmu, aku tahu kau ada orang yang baik. Itu terpancar jelas dari caramu memandang orang-orang. Kau bukanlah orang yang menyimpan dendam kepada seseorang.

Aku tahu itu.

Chii-kun, itu nama panggilanmu kan? Itu yang pernah katakan padaku saat kau tak nyaman aku memanggilmu ‘Chinen-san’.

Chii-kun, ingat tidak saat aku mengajakmu membeli strawberry? Asal kau tahu, matamu berbinar-binar melihat buah itu.

Aku tahu, kau memang cacat. Matamu yang mempunyai dua warna yang berbeda membuatmu merasa dikucilkan. Tetapi, menurutku matamu itu indah. Cahaya yang indah terpantul dari sana. Tidakkah kau tahu itu?

Aku tahu itu.

Meskipun kau melakukan sesuatu yang di luar kendalimu, aku tidak akan menjauhimu. Kau, orang yang sangat istimewa bagiku. Bukannya kau yang mengatakan kalau aku adalah satu-satu sahabatmu? Bersamamu itu sangat berbeda. Aku selalu dapat tersenyum tulus padamu, tersenyum bahagia. Aku tak perlu memaksakan senyumku keluar saat aku bersama denganmu.

Hari ini adalah 30 November. Tentu kau ingat hari apa itu,’ kan?Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku senang bisa mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Namun, aku sedih karena kita tidak bisa merayakannya bersama karena kau sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Kuharap kau segera sembuh dan kita bisa bersama lagi. Melakukan apapun bersama. Aku merindukan hal itu.

Chii-kun, otanjobi omedeto gozaimasu.

Yamada Ryosuke

Chinen menangis tanpa ekspresi. Dia sudah tidak bisa mengeluarkan ekspresi lagi. Dia hanya bisa diam. Menatap orang datang saja dia sudah tak mampu. Dia merasa malu dan takut. Yamada mendekati Chinen, memeluknya dan menangis bersama Chinen.

“Chii-kun….”

The End

sekali lagi, ff ini pernah di post di fb  saya. XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s