[Oneshot] As Long As You Love Me

As Long As You Love Me

Keito Okamoto

Drama/Romance

Lyric: As Long As You Love Me – Backstreet Boys

by: Shield Via Yoichi

Kau membuka matamu yang silau terkena sinar matahari dari tirai di dekat tempat tidurmu, lalu beranjak duduk di tepi tempat tidurmu. Rasa kantuk masih menghinggapimu. Sambil merenggangkan tubuhmu, kau melirik jam dinding dengan setengah kesadaran.

“Argh… Telat! Inoo-sensei akan marah besar padaku!” teriakmu saat melirik jam dinding yang ada di kamar besar itu. Jarum jam kini menunjukkan pukul empat sore. Dengan segera kau berganti pakaian, memasukkan buku-buku ke dalam tas jinjingmu dan membawanya lalu keluar dari kamarmu yang sangat nyaman bagimu. Kau menuruni tangga rumah dengan tergesa-gesa, kemudian segera ke arah pintu rumah. Memakai sepatu dan mengunci pintu setelah keluar dari sana.

Tak ada lagi yang dipikirkan olehmu selain berlari dan berlari menuju tempat les. Tempat les piano. Tempat yang kau tuju saat ini. Sebenarnya tidak masalah kalau saja kau tidak datang untuk les. Namun, hari ini yang mengajar adalah Inoo-sensei. Guru yang terkenal galak terhadap murid yang terlambat maupun tidak datang di hari dia mengajar.

Kau terus berlari tanpa melihat keramaian. Dengan seluruh tenaga, kau menerobos keramaian pejalan kaki. Sekali, dua kali kau lolos menoros gerombolan pejalan kaki itu. Dewi Fortuna masih bersama denganmu. Tempat les yang ada di persimpangan jalan sudah mulai terlihat. Senyummu terkembang di wajah. Kau mempercepat larinya.

BUGH!

“Argh…” kau terjatuh. Matamu tertutup rapat—refleks yang biasa terjadi. Tetapi, kau tidak merasakan sakit sama sekali. Perlahan, kau membuka mata. Melihat apa yang kau timpa. Kau tercekat melihat apa yang kautindih. Seorang pria.

Terdiam. Itu yang terjadi terhadapmu. Terbius akan mata sosok pria yang kautimpa. Semua persendianmu terasa kaku, tak dapat digerakkan. Matamu terus tertuju pada mata pria itu. Tenggelam dalam duniamu sendiri.

“Err—” Imajinasimu buyar seketika mendengar suara bariton itu.

Ne, Keito-kun! Apa yang—” Orang yang bersama pria asing itu terkaget melihat kalian.

“Chii-kun!” kata orang asing yang masih kautindih.

Go— Gomenasai!” Dengan muka yang sudah memerah, kau bangkit dari jatuhmu dan kembali berlari. Memalukan, batinmu. Kau berlari begitu cepat, tanpa peduli dengan dua orang asing tadi. Tak kau hiraukan pula pengguna trotoar yang kau tabrak dan memaki-makimu, tak terima kautabrak.

Saat kau sampai di tempat tujuanmu, kau melangkah menelusuri ruang itu. Kini pikiranmu begitu kosong, yang teringat olehmu hanya kejadian yang baru saja terjadi beberapa waktu berselang. Wajahmu masih memerah walau tak begitu kentara seperti tadi. Kejadian memalukan itu terus saja berputar dipikiranmu. Walau dengan sekuat apapun kau berusaha menghilangkan ingatan itu, tetap saja terbayang olehmu.

Dan lagi, kau menabrak seseorang. Bukan seseorang yang asing bagimu, terlebih lagi seseorang yang sangat kau kenal dan kau takuti. Kau menelan ludah, tanda tak baik dapat kau rasakan. Orang itu berparas cantik, namun dia bukanlah wanita. Melainkan lelaki. Bagi orang yang belum mengenalnya mungkin akan mengiranya seorang gadis. Ditambah lagi dengan tangannya yang lentik akibat latihan kerasnya bermain piano sejak kecil. Sifatnya yang cerewet juga menambah daftar kesalahpahaman terhadap gender-nya. Orang-orang akan berdebat  panjang lebar hanya karena bingung apa gender pria itu.

Pria itu mendekatimu dan bertanya mengapa kau datang terlambat. Gugup, kau menjawab, “Ano..  Saya ketiduran, sensei,” Begitu jujurnya jawabanmu membuat dia tertawa. Melihat gurumu tertawa, pikiran-pikiran anehmu berkeliaran. Sudah dapat kau bayangkan hukuman apa yang akan kau terima setelah ini. Gurumu tertawa begitu lepas, ini pertama kali kau melihatnya tertawa seperti itu. Tiba-tiba saja, gurumu itu terdiam. Membuatmu agak tercekat.

“Cepatlah masuk. Pelajaran baru saja akan dimulai.” Kau membulatkan matamu, tak percaya dengan perkataan guru galakmu itu. Dengan segera, kau melesat ke dalam kelasmu. Takut kalau-kalau gurumu berubah pikiran.

Kau duduk di bangku paling sudut belakang. Bayang itu kembali melayang bebas dipikiranmu. Tatapan mata pria itu membuatmu tak sadar, masuk ke dalam dunia fantasimu. Sorot matanya  begitu menarik hatimu. Hatimu berkata, kalau orang itu pria yang baik hanya dengan melihat matanya. Mata lelaki itu tersembunyi di kelopak matanya yang sipit. Menambah keindahan mata itu untuk memancarkan cahayanya.

Suaranya yang bariton itu pun dapat kau dengar sekarang. Kau seperti terkena sihir atau hipnotis. Kau tak menyadari keadaan sekitarmu. Yang kau pedulikan hanya pikiranmu yang menerawang jauh, yang membuatmu merasa senang, yang membuatmu tersenyum bahagia.

Although loneliness has always been a friend of mine

 

Hari demi hari berlalu begitu saja. Kau menjalani hari dengan kesepian. Ya, kesepian tanpa kekasih. Namun, kau melewatinya dengan girang sama seperti teman-temanmu yang melalui hari dengan senangnya bersama kekasih mereka.

I’m leaving my life in your hands

 

Mereka bertanya, mengapa kau dapat melalui hari dengan senang yang sebanding dengan mereka. Dengan enteng, kau menjawab kalau seseorang yang tak kau ketahui sedang menyemangatimu. Dan kau melanjutkan, hidupmu telah kau letakkan padanya.

People say I’m crazy and that I am blind

Mereka memandang rendah dirimu. Menggelengkan kepalanya dan berkata kalau kau itu gila, kalau kau itu buta dan kalau kau itu bodoh. Tetapi, mereka tak mengerti perasaanmu. Andai saja mereka merasakannya, mungkin mereka akan lebih aneh daripada tindakanmu saat ini.

 

Risking it all in a glance

Lalu, teman dekatmu bilang kau itu terlalu cepat mengambil segala sesuatu. Kau menjelaskan bagaimana perasaan yang bergejolak dalam hatimu. Tapi, dia tak dapat mengerti. Dia terus menerus menekan perasaanmu. Kau diam, tak membantah apa yang dia katakan. Kau berpikir kalau hatimu lah yang paling benar untukmu.

 

And how you got me blind is still a mystery

I can’t get you out of my head

Kau sekarang berpikir, bagaimana bisa hanya dengan tatapan dan suara yang baru pertama kalinya kau dengar dapat membuatmu menjadi seperti ini? Seseuatu yang benar-benar diluar pemkiran logika. Sampai saat ini pun kau tak dapat melupakan itu.

 

Don’t care what is written in your history

As long as you’re here with me

Tiba-tiba kau teringat nama pemuda itu. Keito. Itu yang kau dengar dari teman pemuda itu saat melihat kalian terjatuh. Tetapi, kau tak tahu marga pemuda itu. Pastilah banyak nama Keito jika ingin mencarinya. Walaupun begitu, kau tetap tak peduli. Kau terlanjur menaruh hati padanya.

 

I don’t care who you are

Where you’re from

What you did

As long as you love me

Who you are

Where you’re from

Don’t care what you did

As long as you love me

Kakimu kau langkahkan ke jalanan. Kau hendak berjalan-jalan melepas kebosanan yang menyelimutimu dengan rapat. Sambil menimang-nimang handphone kau berjalan tanpa arah. Sayangnya, di keramaian pejalan kaki, kau di tabrak salah satu pejalan kaki. Menyebabkan handphone-mu terlepas dari tanganmu dan terinjak orang. Kau menatap miris handphone kesayanganmu yang rusak terbelah menjadi dua itu.

Gomenasai.” Suara bariton yang kau kenal meminta maaf padamu. Dengan segera, kau memalingkan wajah ke arah asal suara. Orang itu, ya orang itu. Dia membungkuk dalam-dalam. Menandakan penyesalan atas tindakan tadi. Dia melanjutkan perkataannya, “Handphone-mu akan kuganti.”

Kau membulatkan mata seakan mengatakan “Yang benar saja?” Dia meraih tanganmu dan mengajakmu ke toko handphone. Dia menyuruhmu untuk memilih handphone yang kau inginkan. Tetapi, karena masih kaget, kau hanya terdiam. Akhirnya, dia membelikanmu handphone yang sama persis dengan miliknya. Dia juga mengantarkanmu pulang. Kau menolaknya berkali-kali, tetapi dia tetap memaksamu.

Di perjalanan pulang, dia mengajakmu berbicara. Berawal dari perkenalan. Dan sekarang kau tahu nama lengkapnya. Keito Okamoto, bersekolah di International School setingkat denganmu. Terkadang dia membuat lelucon yang membuatmu tertawa.

Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Kalian telah sampai di depan rumahmu. Sebelum kau masuk ke dalam rumah, Keito memberika e-mail dan nomor teleponnya kepadamu. Kau begitu senang, namun tak dapat kau berteriak saat itu juga. Keito meninggalkanmu di sana, di depan rumahmu, kau berteriak. Melepaskan perasaan senang yang tertahan itu. Begitu senangnya sampai-sampai kau melompat kegirangan. Entah mimpi apa kau malam tadi, membuatmu beruntung berkali-kali seperti ini. Kau mengirikan e-mail padanya dan dia membalasnya. Hatimu menjerit kesenangan, membuatmu tersenyum malu sendiri.

 

Every little thing that you have said and done

Feels like it’s deep within me

Doesn’t really matter if you’re on the run

It seems like we’re meant to be

Setiap e-mail yang kau kirim, dia selalu membalasnya. Terkadang, balasannya membuatmu ingin melakukan apa yang dilakukan saat itu, terkadang juga kau ingin dia mengirimkan isi balasan itu berulang-ulang kali dan berharap hanya tertuju pada dirimu sendiri. Dia pernah mengirimi e-mail padamu kalau hanya kau yang dapat mengusir rasanya bosannya. Kau berharap itu benar dan tertuju padamu saja.

 

I don’t care who you are

Where you’re from

What you did

As long as you love me

Who you are

Where you’re from

Don’t care what you did

As long as you love me

Kau tak peduli dimana dia tinggal, tidak peduli dia memang orang baik atau bukan, tidak peduli apa kemauannya berkenalan denganmu, asalkan dia menyukaimu saja kau sudah cukup percaya. Karena menurutmu, perasaan bukanlah permainan.

Suatu saat, dia mengirimimu e-mail yang membuatmu terkejut. Isinya, “I like you.”

Bukan hanya itu, dia datang ke sekolahmu ketika pulang sekolah. Dimana murid-murid masih ada di sekolah, dia meneriakkan namamu dan menyatakan rasa sukanya padamu di lapangan sekolahmu. Semua siswa-siswi langsung mengelilingi lapangan, termasuk kau. Wajahmu terasa panas, kau merasa malu dan senang secara bersamaan. Dia mencarimu di kerumunan itu, menarikmu ke tengah lapangan dan berlutut di depanmu. Dia terus saja mengulangi perkataannya tadi. Kau melihat wajahnya, sama sepertimu, memerah menahan malu.

I’ve tried to hide it so that no one knows

But I guess it shows

When you look into my eyes

What you did and where you are comin’ from

I don’t care, as long as you love me, baby

Kau hanya bisa diam dan mencoba menyembunyikan wajah dan perasaanmu karena malu yang sangat besar itu. Tetapi, kau tak dapat melakukannya. Tatapan mata Keito menggagalkan niatmu itu. Keito mengadu tatapannya dengan tatapanmu yang membuatmu semakin tak dapat melakukan niatmu. Dan tak kau pikir ulang, tanpa peduli dengan rasa malumu, kau menarik tangan Keito untuk berdiri dan berbisik di telinganya, “I like you, too.”

Setelah mendengar jawabanmu, lalu Keito mengecup bibirmu sesaat saat. Kemudian menatap wajahmu yang mungkin kelewat merah. Kemudian, kalian tertawa gembira.

I don’t care who you are

Where you’re from

What you did

As long as you love me

Who you are

Where you’re from

Don’t care what you did

As long as you love me

 

Selama kau menyukainya atau selama dia menyukaimu, tidak peduli siapa kau atau dia, darimana kau atau dia berasal, apa yang kau atau dia inginkan, kau tidak akan peduli semua itu asalkan rasa antara kau dan dia bisa menyatu.

As long as you love me, Keito-kun..”

As long as you love me, too..”

Kata-kata itulah yang menggambarkan selama apa rasa yang kau dan dia miliki.

the end

dulu ada yang bilang gak boleh pake lirik aslinya tapi harus translate-an nya. berhubung saya bingung mau translate gimana karena udah bahasa Inggris, saya langsung pake lirik lagu aslinya saja. dan ini udah pernah di post di fb XDD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s