[Ficlet] Conversation

 

 mayo

|| Ariesy Perdana Putri | Marius Yo | Ficlet ||

Juga di-posting di orchidrienne

.

.

.

 

Marius menggaruk belakang tengkuknya. Kedua telapak tangannya saling menempelkan keringat dingin. Bibir merah anak tiga belas tahun itu mendesis-desis, seakan dengan cara itu semua kegugupannya sejak beberapa menit yang lalu bisa lenyap. Tapi ia tidak akan pernah tidak gugup jika berhadapan dengan Liesl. Tidak pernah.

“Kau sakit? Karena kita bisa menunda tugas kelompok ini sampai besok,” anak perempuan itu mengamati Marius, yang justru berharap Liesl mengalihkan kedua manik hijau jamrudnya dari anak laki-laki itu agar ia dapat sedikit lebih santai.

Marius menggeleng.

“Oke,” Liesl tersenyum. Ia mengambil pensil dengan kepala Doraemon dari kotak pensilnya, yang kembali membuat Marius terkesiap.

“Kau menyimpannya?” tanyanya. Liesl memandangnya bingung. “Oleh-oleh dariku sepulang dari liburan ke Jepang, kau masih menyimpannya?”

Liesl memandang pensil Doraemonnya. Ia mengangguk dan tersenyum.

“Aku suka, Doraemonnya lucu dan warna biru,”

Dalam hati Marius berterima kasih pada Fujiko F. Fujio yang menggambarkan Doraemon dengan wana biru. Anak perempuan di hadapannya ini pecinta warna biru, memang, meskipun bukan itu alasannya kenapa Marius membelikannya pensil Doraemon ketika ia liburan ke Jepang.

“Jadi,” Liesl kembali pada tugas kelompok mereka. “Percakapan Bahasa Inggris dengan tema apakah yang akan kita pentaskan di depan kelas nanti?”

Marius tersenyum. Ia membuka buku catatan Bahasa Inggrisnya dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Beberapa menit kemudian, ia menyodorkan buku itu ke hadapan Liesl. Anak perempuan itu membacanya, mengernyitkan dahinya dalam-dalam, kemudian tersenyum geli. Ia mengembalikan buku catatan Marius pada pemiliknya.

“Aku yakin sekali besok kita akan dapat sorakan yang heboh jika menampilkan itu di depan kelas. Jadi, ayo buat percakapan yang normal-normal saja,” Liesl tampak berusaha untuk tidak tersipu malu.

Marius tertawa. Melihat Liesl tersipu seperti itu membuatnya lebih rileks.

“Percakapan ini memang bukan untuk ditampilkan di depan kelas. Percakapan itu untukmu seorang saja,” ujarnya. Kemudian Marius menyobek kertas berisi percakapan itu dan memberikannya pada Liesl. “Untuk kau ingat saja, ini sungguh-sungguh,”

Kali ini Liesl tidak bisa menyembunyikan rona merah wajahnya. Ia memandang kertas itu lagi dan melahap kalimat demi kalimat yang ada di sana, sekali lagi.

ENGLISH ASSIGNMENT: CONVERSATION

Title: A Little Confession

Marius: I’m going to tell you something.

Liesl: Carry on.

Marius: But I’m shy. Promise you won’t laugh?

Liesl: I promise.

Marius: Okay. I’m still very, very young and I can’t recognize this feeling towards you. But everytime my friends are talking about who will be the one who ask you for a Saturday date, I want to immediately flip a table and tell them that I will be the one who do that Saturday stuff. Not them.

 

fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s