[Oneshot] My First Aid Hero

 

 reia

|| Ariesy Perdana Putri | Johnny’s Jr | Vignette ||

Juga di-post di orchidrienne.wordpress.com

 .

.

.

Mia Konno tengah berada di medan perang.

Setidaknya, medan perangnya. Anak perempuan itu tengah men-dribble bola, berusaha berada sejauh mungkin dari tim lawan sembari tetap fokus pada ke mana ia akan memberikan benda oranye itu. Kedua manik Mia mengawasi. Sisi kiri ada Ayana, tapi mustahil. Ayana tidak bertubuh lebih tinggi dari beberapa penghadangnya. Jadi Mia mengeliminasi Ayana dari titik fokusnya. Masih men-dribble, Mia beralih ke yang lain. Sedikit jauh darinya ada Madoka. Tidak, tidak, Madoka bertubuh tinggi tapi tak terlalu gesit mengambil kesempatan. Mia tidak bisa memberikan bola ini pada Madoka.

Tapi tunggu. Madoka toh pandai mengecoh.

Jadi Mia kembali men-dribble, dan bergerak mendekati Madoka. Ia memutuskan untuk mengambil resiko. Diberikannya bola pada Madoka dan gadis tinggi itu menyambutnya. Madoka men-dribble bola, dan sementara tim lawan terfokus pada Madoka, Mia berlari ke sisi lain, dan mengerling pada Madoka. Gadis itu menangkap kodenya, dan mengembalikan bola pada Mia yang sudah berada di dekat ring lewat lemparan kilatnya.

Mia tersenyum gembira. Tanpa membuang waktu, ia membawa bola mendekati ring, melompat, dan jatuh.

Benar, Mia terjatuh. Bola menggelinding dari kedua tangannya, sementara gadis itu jatuh tersungkur dengan lutut dan dagu tergesek lantai beton. Semua gadis menjerit dan mendekatinya.

“Ya Tuhan. Konno, kau baik-baik saja?!”

“Konno!”

“Konno, kau bisa berdiri?!”

Seorang gadis menyeruak mendekati Mia. Wajahnya tampak cemas dan merasa bersalah. Chinatsu langsung membungkuk meminta maaf. Ia dari tim lawan, dan dari tadi hanya tadi hanya terfokus pada bola tanpa memperhatikan bahwa kakinya menjegal langkah Mia.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf, Konno. Aku tidak sengaja!” ujar Chinatsu berkali-kali. Yang yang menepuk-nepuk bahu gadis itu. Mia tersenyum dan mengibaskan telapak tangannya.

“Sudahlah, aku juga tidak hati-hati, sih.” ujarnya ringan. Chinatsu menawarkan diri untuk memapah Mia ke klinik sekolah sementara yang lain istirahat. Ekstrakurikuler basket putri kali ini terpaksa berlangsung tanpa MVP-nya. Mia Konno sudah dapat gelar itu sejak pertama kali masuk ke tim. Bermain tanpa Mia tentu bisa melatih mereka untuk meningkatkan kualitas permainan. Tapi basket tanpa Mia memang terasa sedikit aneh.

Chinatsu memapah Mia hingga ke depan pintu klinik dan mengetuknya. Seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah muncul dari balik ruangan. Dahi Mia berkerut.

“Reia Nakamura?”

Pemuda itu tidak menyahut. Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat luka-luka di dagu dan lutut gadis itu.

“Kau mau kutemani atau bagaimana?” tanya Chinatsu, masih merasa tidak enak. Namun Mia menggeleng. “Kau kembalilah ke lapangan, Hayakawa. Aku baik-baik saja,”

Chinatsu mengatakan sesuatu seperti ‘aku titip temanku’ pada Reia dan melambaikan tangannya.

Perhatian Mia teralih pada Reia. Pemuda itu sibuk mengambil peralatan P3K dan menuangkan air ke dalam mangkuk stainless lebar berbibir rendah. Citranya sungguh berbeda. Reia Nakamura yang Mia kenal adalah biang dari semua biang ribut di sekolah ini. Ia suka bicara keras-keras, tertawa keras-keras, dan apa pun yang meluncur dari mulutnya dapat didaftarkan sebagai kalimat-kalimat anak remaja paling tidak sopan di Jepang. Ia berteman dengan semua anak nakal baik di dalam mau pun di luar sekolah. Guru-guru sudah sering memberinya peringatan. Persahabatan ayahnya dan pemilik yayasan sekolah inilah yang mempertahankan eksistensi Reia di sini.

“Kau anggota klub PMR?” Mia tidak tahan untuk bertanya. Ia tidak pernah punya masalah apa pun dengan Reia, karena gadis itu selalu menjaga jaraknya pada anak laki-laki itu untuk menghindari masalah.

“Cuma menjalani detensi,” sahut Reia. “Sini, kubersihkan lukamu,” ia mendekatkan bangkunya hingga lutut Mia terjangkau olehnya. Pemuda itu membasahi kapas dengan air bersih dan perlahan menangkupnya menutupi luka di lutut gadis itu. Rasa dingin dan perih menjalari Mia. Gadis itu meringis sebentar kemudian melanjutkan pertanyaannya.

“Sekolah memberimu hukuman…menjaga klinik sekolah?”

“Mungkin mereka pikir dengan memberiku skorsing berhari-hari tidak akan membuatku jera. Jadi mereka memikirkan cara lain. Dan di sinilah aku,”

Reia mengambil selapis kapas baru, mencelupkannya ke dalam mangkuk stainless, dan berdiri dengan setengah membungkuk. Jemarinya dengan lembut mengangkat wajah Mia, kemudian menangkup kapas basah itu pada luka di dagunya. Mia meringis lagi, kali ini lebih keras.

“Cengeng sekali, sih!”

“Tapi yang di situ memang sakit!”

“Oke, maaf,” Reia menyentuhkan kapas basahnya dengan lebih hati-hati.

Untuk beberapa menit Mia disergap sensasi yang aneh. Gadis itu menahan napas. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak cepat dan tak karuan karena wajah Reia kini begitu dekat dengannya. Mia menyadari bahwa di balik kelopak yang sipit dan tajam itu, Reia punya sepasang manik jernih yang tampak mengamati pekerjaan membersihkan luka itu dengan teliti. Mia bahkan bisa menghitung jumlah kedipannya. Dan ngomong-ngomong, Reia Nakamura beraroma apel dan wanginya segar sekali.

Tiba-tiba Mia merasa harus menjauh dari Reia. Karena jika tidak, sebentar lagi pemuda itu pasti bisa mendengar detak jantungnya.

Maka Mia tidak menahan diri untuk menghela napas lega begitu Reia selesai membersihkan luka di dagunya dan bergerak mundur, kembali ke kotak P3K-nya.

“Kau benar-benar bisa mengurus ini?” Mia memandangnya sangsi. Ia sedang membiarkan seorang anak nakal di sekolahnya bermain-main dengan obat-obat P3K dan luka-luka di lutut dan wajahnya.

Reia menarik sudut bibir kanannya ke atas.

“Yang tidak sekolah pahami ketika mereka memberiku hukuman ini,” Reia membuka tutup botol berisi entah cairan apa, menuangkannya perlahan di atas kapas baru, dan duduk lagi di bangkunya sembari menyentuhkan kapas tersebut ke lutut Mia dengan perlahan, “…adalah  bahwa aku ahli soal ini,”

“Ahli soal apa?” tanya Mia.

“Soal memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan,”

“Begitu?”

Reia membuang kapas itu ke sebuah kantung plastik tempat kapas-kapas yang lain turut dibuang.

“Aku ikut anggota PMR bersertifikat waktu masih di SMP. Luka seperti ini belum seberapa, Konno,”

“Menurutmu aku bisa jatuh lagi dengan lebih heboh dan mendapatkan luka yang harus dijahit agar bisa membuktikan bahwa kau sepandai itu?” Mia tidak tahu dari mana datangnya kalimat sarkastis itu, tapi ia menyesal telah mengatakannya.

Reia mengangkat alis, tidak tampak tersinggung. Pemuda itu menuangkan lagi cairan dari dalam botol ke atas kapas baru, dan menyodorkan kapas itu pada Mia.

“Kau mau menaruh ini di dagumu sendiri?” tanyanya.

“Aku kan, bukan petugas di sini,” sahut Mia.

“Entahlah. Kau tampak tidak nyaman ketika aku yang melakukannya tadi,”

Wajah Mia memerah, merasa dipergoki. Pemuda ini ternyata pandai membaca reaksi orang lain.

Reia berdiri, tampak tidak mau mengulur waktu. Jemarinya menyentuh rahang Mia dan mengangkat wajah gadis itu dengan lembut. Mia memutuskan untuk pasrah saja jika Reia bisa mendengar detak keras dari jantungnya. Ini sudah di luar kendali gadis itu. Ia tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa Reia Nakamura yang ini terlihat jauh lebih menyenangkan, menenangkan, sekaligus mendebarkan.

“Kalau sakit, bilang,”

Mia tak lagi meringis. Dengan jarak antar wajah sedekat ini dengan Reia, ia tidak merasakan perih apa pun pada lecet di dagunya.

“Suka sekali main basket, ya?” akhirnya Reia melontarkan topik lain. Topik yang Mia sukai, meskipun mungkin topik itulah yang Reia punya untuk mengisi jeda menyebalkan ini.

“Sebenarnya tidak suka,” sahut Mia. “Sebelum aku tahu aku berbakat,”

“Sialan,” umpat Reia, tapi ia tersenyum. Dan Mia bersumpah ia tidak akan keberatan kalau Reia menunjukkan senyum imut itu sekali lagi.

“Kau sendiri?” Mia bertanya.

“Aku? Aku tidak suka basket,” sahut Reia.

“Tidak suka atau tidak bisa?”

“Karena tidak bisa makanya tidak suka,”

“Kau sukanya apa?” Mia mengikuti gerak-gerik Reia yang sedang mempersiapkan perban dan plester. Tampaknya Mia tidak perlu mempertanyakan lagi soal keaslian sertifikat anggota PMR Reia di SMP. Pemuda itu tampaknya memang berpengalaman soal P3K.

“Coba tebak,” Reia tersenyum penuh teka-teki.

“Entahlah,” ujar Mia. “Kau suka bikin onar, sih. Tapi ternyata kau anak PMR. Jangan-jangan sebentar lagi aku akan berhadapan pada kenyataan bahwa kau bisa menari balet,”

Reia tertawa terkekeh-kekeh. Dan pemuda itu kembali membuat Mia membatu dengan menunjuk ke arah gadis itu, kemudian mengatakan, “Aku suka,”

Mia terdiam, tapi tersadar kemudian ketika Reia menutup luka di dagu gadis itu dengan perban dan menahannya dengan plester.

“Oh…, maksudmu kau suka mengobati orang lain? Kukira…”

“Kau kira apa?” Reia menyelesaikan pekerjaannya dan menutup kotak perlengkapan P3K-nya. Ia mendongak karena Mia tidak menjawab.

“Kau kira aku suka pada…”

“Tidak, kok! Makanya telunjukmu jangan sembarangan melayang kemana-mana, Nakamura!” Mia menukas, lebih karena ia ingin menutupi semua kesalahtingkahannya yang justru membuat Reia semakin menertawakannya.

“Ha. Ha. Ha. Kau pikir itu lucu sekali, bukan?” Mia tertawa sinis dan datar. Reia mengembalikan kotak P3K itu ke dalam rak gantung.

“Memang lucu, kok. Kukira kau tidak cukup lucu makanya menjauhiku,”

“Aku tidak menjauhimu. Aku cuma menghindari masalah denganmu. Aku kan, punya reputasi, memangnya kau,”

Lagi-lagi Mia heran. Reia seolah tidak pernah merasa tersinggung seumur hidupnya. Padahal kalimat tadi seharusnya sudah bisa memberinya tamparan halus.

Reia tersenyum. Dan Mia mengartikan senyuman itu sebagai “Pekerjaanku sudah selesai. Kau bisa kembali ke klub tapi jangan main basket dulu,”—senyuman yang mempersilakan Mia pergi.

Gadis itu bangkit dan menapakkan kedua kakinya di lantai. Ia meringis. Kakinya kaku dan dagunya perih lagi. Reia segera menghampirinya dan tiba-tiba saja tangannya sudah melingkar menyeberangi kedua tangan Mia, merengkuh gadis itu seolah Mia itu rangkaian menara dari kartu yang baru saja direkatkan dengan lem.

“Hati-hati, Konno. Lagipula kau mau kemana sih, buru-buru sekali?” Reia menukas sembari melepaskan rangkulannya.

“Kukira kau sudah selesai, jadi kupikir aku harus keluar sekarang,”

“Aku memang sudah selesai, tapi kan tidak ada yang menyuruhmu keluar,” Reia terkekeh lagi. Sungguh, dibandingkan dengan Reia Nakamura versi biang keladi di sekolah, Reia yang ini jauh lebih mempesona.

“Jadi aku duduk lagi, nih?” Mia memastikan. Reia terbahak.

“Ya Tuhan, Konno. Kau lucu sekali,”

Kali ini Mia memilih ikut tertawa bersama Reia. Menertawakan kebodohannya sendiri. Mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya Reia mempersilakan Mia minta jemput ke rumah, melalui ponselnya.

“Ada pamanku di rumah. Ia akan menjemputku. Dan, em…” Mia menggosokkan kedua telapak tangannya. “Kau baik sekali. Semoga kita bisa berteman baik,”. Mia pikir ia sudah mengatakan hal yang formal sekali pada Reia. Tapi pemuda itu mengangguk. Ia berdiri dan meraih kunci klinik. Suara-suara ramai dari klub basket mengindikasikan bahwa tampaknya klub sudah mulai bubar dan Reia menarik kesimpulan bahwa tidak akan ada yang cedera lagi. Pemuda itu meraih ranselnya dan menggamit lengan Mia dan membantunya berjalan.

“Ketika aku bilang kita bisa berteman, maksudku, kita benar-benar bisa berteman,” ujar Mia. Reia tersenyum.

“Aku tahu,” sahutnya.

“Maksudku…” Mia menggigit bibirnya. “Berteman berarti kita bisa makan siang bersama di kantin,”

“Aku tahu,” lagi-lagi Reia menyahut dengan frase yang sama.

“Atau membuat PR bersama,”

“Aku tahu,”

“Atau pergi kencan,” Mia melemparkan pernyataan terakhirnya.

Reia mengangkat wajahnya dan tersenyum penuh arti, seolah sudah menduga Mia akan bicara apa.

 “Tunggu lukamu sembuh ya, Konno,” ujar Reia, membuat Mia memandangnya sekali lagi dengan tatapan tak percaya.

“Kau sungguh-sungguh?”

Reia hanya tersenyum dan mengangguk. Semoga saja Mia tidak akan pernah tahu bahwa ia mati-matian menahan diri untuk tidak melompat-lompat kegirangan di depan gadis itu. Karena Reia tidak tahu sampai kapan ia bisa bersikap tenang seperti sekarang ini.

 

.fin

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] My First Aid Hero

  1. Lacrymosa

    Jadi sebenernya Reia juga suka yah ama cewe bernama Konno itu..?
    Omg manis bgt ceritanya
    BTW Ffnya ringan, dan enak dibaca awalnya karna liat covernya yg lucu yg tertarik buat baca ternyata pas dibaca ffnya emang keren..!

    Reply
  2. namtaegenic

    Hai, Lacrymosa! Ehehe Reia suka Mia juga nggak yaaa…keliatan gimana nih (lah malah balik nanya)
    Makasih sudah datang ya! Display name-mu bagus! Terus dukung blog ini ya! ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s