[Oneshot] Special Happiness

Title        : Special Happiness

Type          : Oneshot

Author    : Dinchan

Genre        : Romance

Ratting    : PG-13

Fandom    : JE, HSJ

Starring    : Takaki Yuya (HSJ),Yaotome Hikaru (HSJ), Hidyoshi Sora (OC)

Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora. Takaki Yuya dan Yaotome Hikaru under Johnny’s Jimusho. I just own the plot!!! COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

SPECIAL HAPPINESS

“Menikah, yuk!”

Sepersekian detik Sora terpaku pada kopi yang sedang ia buat dan mendengus kesal ke arah sahabat laki-lakinya yang kini terbaring di lantai apartemennya.

“Jangan bercanda, tuan Takaki,” ucap Sora sambil turun ke tempatnya berbaring.

“Aku tidak bercanda, nona Hideyoshi. Ibuku ribut sekali ingin segera punya menantu. Tapi kau kan tahu aku sedang tidak punya pacar, aku hanya punya kau,”

Sora memaki-maki dalam hati. Memangnya salah dia jika sekarang Takaki Yuya tidak punya pacar?

“Itu bukan alasan bagus untuk menikah, Yuya…” keluh Sora yang menyadari bahwa sahabatnya itu memang masih saja bocah walaupun kini sudah bekerja.

Yuya segera duduk ketika Sora menyimpan sekotak pizza di meja, ia mengambil sepotong dan matanya menatap Sora dengan penuh harapan.

“Aku kan sahabatmu, bukan pacarmu!” tolak Sora lagi.

“Bukannya menikah dengan sahabat itu lebih menyenangkan? Aku bisa berbagi apa saja kan denganmu?” ucap Yuya sambil tanpa henti mengunyah pizza.

Sora kembali menggeleng frustasi, “Gak mau!!” sejak kecil, Takaki Yuya dan Hideyoshi Sora memang sahabat dekat. Selain kenyataan bahwa rumah mereka hanya berjarak beberapa meter saja, semasa sekolah mereka selalu pergi sekolah bersama karena bersekolah di tempat yang sama.

Selama masa sekolah Yuya adalah pria yang populer. Tak terhitung banyaknya gadis yang menyukainya dan beberapa kali Yuya memacari mereka. Keberadaan Sora kadang-kadang dianggap sebagai ‘pusat informasi’ atau ‘ancaman’. Jika Sora dianggap ‘pusat informasi’ maka gadis-gadis itu akan bertanya segala macam hal dari Sora mengenai Yuya. Namun jika dianggap sebagai ‘ancaman’ maka Sora tidak jarang akan ditindas oleh gadis-gadis itu. Namun hubungan Yuya dengan gadis-gadis pengejarnya itu tidak pernah bertahan lama.

“Ayolah… Sora-chaaannn…” Yuya menarik-narik tangan Sora seperti balita ingin makan.

“Yuya.. kau tinggal pilih gadis mana saja yang ingin kau nikahi. Kenapa harus aku, sih?” ungkap Sora mulai kesal.

“Tapi…” Yuya menatap Sora, “Aku kan gak kenal mereka. Aku ingin menikahi gadis yang sudah kukenal lama,” lalu ia terkekeh seperti orang bodoh.

Sora menggeleng, “Please, Takaki Yuya. Kau pikir aku mau menikah dengan pria yang seumur hidup telah bersamaku? Sama sekali tidak menyenangkan, tidak membuat jantungku berdetak dua kali lipat. Aku terlalu biasa berada di dekatmu,” Sora mengemukakan alasan yang mungkin tidak bisa dibantah oleh Yuya.

Tiba-tiba saja Yuya duduk di sebelah Sora, punggungnya bersandar pada sofa dan menunduk, “Ibuku sudah tua, ia ingin cepat menimang cucu,”

“Yuya… kenapa harus aku, sih?” protes Sora lagi, tak terima Yuya memaksanya untuk urusan macam ini. Sora tidak pernah mengeluh jika Yuya memintanya mengambilkan dompetnya yang tertinggal di apartemen, atau menonton konser band yang bahkan namanya belum pernah Sora dengar. Tapi ini masalah pernikahan, sesuatu yang tidak bisa dianggap main-main.

“Bagaimana jika… paling tidak kau berpura-pura akan menikah denganku?”

“HAH?” alis Sora bertautan satu sama lain, bingung.

“Ibu memintaku pulang bersama calon istriku di natal kali ini, kumohon… Sora-chan..”

Yuya dan Sora memang merantau ke Tokyo setelah lulus SMA. Mereka kuliah di universitas berbeda, namun tinggal berdekatan.

Sora menghela nafas berat, “Baiklah… kebetulan aku juga ingin pulang tahun ini,”

Yuya berjalan dibawah salju yang terus turun setelah keluar dari apartemen Sora. Memikirkan kembali apa yang telah ia katakan pada Sora malam ini sebenarnya sudah ingin ia katakan sejak dulu.

Alasannya tidak pernah serius berpacaran.

Alasannya pindah ke Tokyo.

Alasannya selalu tidak nyaman ketika Sora berpacaran dengan pria lain.

Ia cemburu. Ia jatuh cinta pada Sora. Walaupun Yuya tidak tahu kapan ia mulai mencintai gadis itu tapi seiring berjalannya waktu Yuya selalu melihat Sora lebih dari sekedar teman dekatnya. Yuya tahu Sora tidak pernah melihatnya seperti itu. Bagi Sora dirinya hanyalah seorang teman. Tapi mencoba untuk mendapatkan gadis itu bukanlah hal yang baru, kali ini Yuya serius.

=============================

Kota ini tidak berubah jauh sejak Sora tinggalkan lima tahun lalu. Sora memang baru pulang lagi setelah lima tahun. Ia tidak sering pulang karena bekerja sambil kuliah telah menghabiskan waktunya. Sering kali Sora hanya menitipkan apa yang ingin ia berikan pada keluarganya pada Yuya karena dia pulang setiap tahun.

Sungai di dekat sekolah masih saja sepi ketika musim dingin, namun dulu Yuya sering sekali berada di sana hingga Sora harus menyeretnya pulang sebelum pemuda itu jatuh sakit.

“Kenapa melamun?” tanya Yuya, membuyarkan lamunan Sora, “Sudah sampai nih,”

“Tidak ada apa-apa,” ucap Sora lalu mendahului Yuya masuk ke rumah, “Ojamashimasu…”

Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah, “Araaa… Sora-chan!! Papa… Sora-chan dataaanngg!!” serunya heboh lalu memeluk gadis itu.

“Sudah lama sekali kau tidak pulang, nak…” Mama Yuya memang sudah sepetri ibu Sora sendiri karena gadis itu sering main ke rumah Yuya hingga SMA.

“Ayo masuk…” ajak Papa kemudian.

“Sudah lama sekali tidak melihat Sora-chan…” ucap Mama dengan wajah sangat bahagia.

Sora hanya menunduk kikuk, “Iya Ma, baru pulang setelah lima tahun,” ucapnya.

“Oh iya, Yuya… mana calon istrimu? Katanya kau mau membawa calon istrimu kemari. Kenapa malah bersama Sora-chan?” tanya Papa pada Yuya.

Yuya duduk di sebelah Sora setelah membuka mantelnya, “Ini calon istriku, Pa. Aku akan menikah dengan Sora,”

Sesaat kemudian ruangan terasa lebih dingin dari biasanya. Papa dan Mama hanya menatap Yuya dan Sora dengan tidak percaya.

“Benarkah?” tanya Mama meyakinkan lalu dijawab anggukan oleh Yuya, “Ya ampun!! Papa… impian kita terwujud. Pasti Sasaki dan Rie juga senang sekali kita bisa benar-benar menikahkan Yuya dan Sora!”

Selanjutnya Sora refleks menoleh pada Yuya yang malah terlihat tenang-tenang saja. Sora menyenggol pelan bahu Yuya sehingga pemuda itu menatapnya.

“Apa?” bisik Yuya.

“Ini tidak sesuai rencana! Kenapa Ayah dan Ibuku harus dilibatkan segala?!” balas Sora.

“Aku juga tidak tahu kenapa jadi begini,” bisiknya, “Anou… Mama… aku dan Sora belum menentukkan kapan kami akan menikah,”

“Ya tidak apa-apa. Direncanakan pelan-pelan saja,” ucap Mama dengan wajah masih berseri-seri. Membuat Sora tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya walaupun kata-kata itu sudah ada di tenggorokannya.

“Oh ya… Ibu dan Ayahmu sudah bilang belum kalau kita akan ke onsen besok pagi?”

“Onsen?” Yuya dan Sora bertanya bersamaan. Seingat Sora Ayah dan Ibunya sama sekali tidak mengatakan apapun saat ia menelepon kemarin atau tadi saat ia pulang ke rumah.

=====================

“Aduh iya… Ibu lupa,” Sora mencibir pada Ibunya yang masih saja suka melupakan hal-hal kecil seperti ini.

“Kemarin kami merencanakannya. Aku lupa bilang kau akan pulang,” ucap Ibunya lagi yang masih sibuk di dapur, “Mana kami hanya menyewa tiga kamar saja seperti biasa, ya sudahlah kau sekamar dengan Yuya saja ya?”

“Hah?! Kok gitu sih?”

“Lagipula kalian kan sudah tunangan,” Ibunya terkikik pelan dan Sora langsung tahu kalau Mama nya Yuya sudah memberitahukan soal aku dan Yuya akan menikah. Musthail sekali gosip ini akan hanya bertahan di rumah Yuya. Bahkan Sora curiga lingkungan sekitar sini sudah tahu akan pertunangan ini.

Hari selanjutnya ketika mereka pergi ke onsen dengan mobil keluarga Takaki bahkan Yuya dan Sora harus duduk berdampingan sepanjang perjalanan ke onsen.

“Gak usah cemberut terus, Sora.. aku minta maaf, oke?” ucap Yuya ketika akhirnya mereka berhenti dan istirahat sejenak di sebuah komplek pertokoan kecil. Sejak berangkat Sora memang sama sekali tidak tersenyum, dia kesal sekali tiba-tiba saja terjebak di suasana macam ini apalagi orang tua mereka terus membicarakan rencana pernikahan yang sebenarnya tidak pernah Sora inginkan.

Sora tidak menjawab dan hanya terus meminum teh panas yang memang dibawakan Yuya untuknya.

“Ayolah….”

“Jangan bicara padaku dulu, ya. Aku sedang kesal denganmu!” jawab Sora ketus lalu masuk kembali ke dalam mobil membuat Yuya menhela nafas berat.

Seberat itukah pernikahan ini menurut Sora? Ini adalah pernikahan yang Yuya inginkan. Walaupun kesannya memang memaksakan diri tapi Yuya juga tidak bisa membayangkan jika Sora bersama orang lain. Ia tidak ingin itu terjadi. Tapi jika Sora merasa tidak bahagia, bagaimana ia bisa memaksakan kehendak seperti ini?

Sesampainya di onsen Yuya dan Sora akhirnya diberikan kamar yang sama. Sora tidak bisa membantah karena memang di akhir tahun seperti ini jika tidak menyewa terlebih dahulu pasti tidak akan dapat kamar.

“Aku duluan,” Sora mengambil pakaiannya dan berjalan keluar dari kamar langsung menuju onsen karena buatnya hari ini sudah terlalu berat. Ia ingin segera berendam di dalam air panas dan melupakan semua kejadian ini.

Bukannya Sora membenci Yuya hingga tak ingin menikah dengan sahabatnya itu. Tapi mereka adalah sahabat. Hanya sahabat. Sora sudah bersama Yuya nyaris sepanjang hidupnya hingga kini berumur dua puluh tiga. Apa harus juga ia bersama Yuya hingga maut memisahkan? Iya kalau maut yang memisahkan, bagaimana jika ia bercerai dengan Yuya? Lalu apa yang tersisa dari hubungan baik mereka selama dua puluh tiga tahun ini? Mereka akan jadi musuh, lalu berebut hak asuh anak jika nanti mereka punya anak. Sora tidak siap kehilangan Yuya dengan cara seperti itu. Biarlah seumur hidup mereka hanya menjadi sahabat dan Sora tidak perlu kehilangan Yuya sama sekali.

“Kau mencari sesuatu?” suara itu membuyarkan lamunan Sora, seorang pria berdiri tepat di hadapannya. Sepertinya ia kenal dengan pria ini, tapi Sora tidak bisa mengingat siapa.

“Hideyoshi, ya?” ucapnya lagi dengan wajah sumringah.

“Ya ampun! Yaotome!!” seakan benar-benar sudah sadar ia ingat bahwa pria itu adalah Yaotome Hikaru. Mereka satu kelas waktu kelas 3. Sebenarnya pria ini adalah salah satu mantannya Sora ketika SMA.

“Apa kabar?” tanya Sora sambil tersenyum.

“Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya kau tidak baik, ya?” tuduh Hikaru.

“Hah?”

“Ini onsen pria, kau berjalan menuju arah yang salah, lagi mikirin apa sih?”

Sadarlah Sora kalau dirinya sedang berdiri di depan pintu masuk ke onsen pria.

“Aduh… maaf…” ucap Sora gelagapan.

Hikaru menyentuh kening Sora dengan telapak tangannya, “Jangan melamun,” lalu ia terkekeh pelan.

“Lagi ngapain?” itu suara Yuya. Sora tidak perlu menoleh untuk memastikannya.

“Eh! Kau juga ada disini?! Kebetulan sekali!!” seru Hikaru menyambut Yuya yang baru datang ke tempat onsen.

“Aduh.. aku cuma salah jalan… hmmm…” Sora segera berbalik dan menunduk sekilas ke arah Hikaru.

========================

“Jadi kalian juga kerja di Tokyo, ya?” akhirnya Yuya dan Hikaru masuk onsen bersama.

Yuya hanya mengangguk, “Begitulah…”

“Kalian masih dekat saja ya… apa jangan-jangan kalian pacaran sekarang?” tuduh Hikaru.

‘Yeah, I wish so…’ tentu saja itu hanya pernyataan dalam hati Yuya.

“Tidak. Kami hanya teman,” mengucapkannya saja terasa menyakitkan.

“Bagus dong… aku ada kesempatan mengejarnya lagi,” ungkap Hikaru sambil terkekeh, membuat keinginan Yuya untuk menenggelamkan pria itu di dalam onsen semakin kuat.

“Memangnya… kau masih suka padanya?” tanya Yuya sedikit menginterogasi. Yuya masih ingat Sora memang sempat benar-benar suka pada Hikaru dan membicarakannya setiap hari hingga mereka putus karena terpisah jarak karena Hikaru saat itu harus ikut pindah bersama orang tuanya ke Tokyo.

Jangan-jangan Sora juga masih menyukai Hikaru? Dan kenapa sekarang Hikaru malah tidak menjawab Yuya. Pria itu hanya tertawa-tawa kecil dan mengisyaratkan bahwa dia memang masih menyukai Sora.

Mood Yuya benar-benar sudah berantakan sekarang. Bahkan sajian sushi mahal yang ada di hadapannya kini tidak lagi membangkitkan selera makannya. Alasannya karena Sora tiba-tiba saja membicarakan Hikaru.

“Neee… dia tanya-tanya soal aku gak?”

Yuya tidak menjawab dan hanya mengunyah terus menerus untuk menutupi rasa kesalnya.

“Nee.. Yuya… jawab dong,” Sora heran kenapa Yuya tiba-tiba bertampang galak bak macan sepulangnya dari tempat berendam. Padahal Sora sudah mengumpulkan moodnya yang membaik setelah penyegaran dengan air panas barusan.

Yuya tidak menjawab dan segera minum sake yang sudah disediakan, selanjutnya Yuya beranjak ke kamar tanpa menghiraukan panggilan orang tuanya.

“Aduh maaf… biar aku yang bicara dengan Yuya…” ucap Sora sambil membungkuk meminta maaf dan mengejar Yuya ke kamar.

“Gak usah pake kabur segala! Ada apa sih?” tanya Sora kesal karena Yuya tidak juga menggubrisnya sedari tadi.

Entah karena pengaruh alkohol, entah karena memang hasrat ini sudah Yuya pendam sejak lama. Alih-alih menjawab Yuya menarik Sora dan mencium gadis itu tepat di bibir. Ia tak sempat berfikir dan hanya terus menyerah pada instingnya yang sangat takut kehilangan Sora. Gadis itu masih pada pertahannya, tidak memberi ruang pada Yuya untuk melakukan lebih namun Yuya masih memaksa, mendorong tubuh Sora hingga terjatuh di lantai kayu, menimbulkan suara yang cukup keras.

“Sakit….” ucap Sora yang jatuh dengan tubuh Yuya tepat berada di atasnya.

Seakan tersadar dengan suara Sora, Yuya buru-buru melepaskan gadis itu, “Kau… baik-baik saja?” tanya Yuya kini khawatir Sora terluka.

“Kau…. tidur di luar sanaaaaa!!” Sora berteriak ganas.

======================

Sejak hari itu Sora selalu berpura-pura sibuk hingga kepulangan mereka ke Tokyo. Sialnya bagi Sora karena tiketnya sudah dibeli jauh-jauh hari dan tentu saja tempat duduknya berada tepat di sebelah Yuya. Memikirkan soal ciuman malam itu membuat Sora jadi salah tingkah. Kenapa Yuya begitu tega membuat persahabatan mereka menjadi canggung seperti ini?

“Yo!”

Sora memutar bola matanya, ia belum berencana memaafkan Yuya.

“Aku bilang saja pada Mama dan Papa kau sedikit sakit dan tak enak badan sehingga belum sempat pamit pada mereka,”

“Aku akan menelepon mereka nanti,” ucap Sora masih belum mau menoleh ke Yuya yang duduk tepat di sebelahnya di ruang tunggu keberangkatan pesawat.

“Let’s forget about that night,” kini suara Yuya terdengar serius, “Mungkin gara-gara sake,”

Bagi Sora adalah mimpi buruk di cium oleh sahabatnya yang bahkan mungkin tidak mengingat jelas apa benar mereka ciuman atau tidak. Tapi Sora tidak mau bertengkar dengan Yuya terlalu lama. Sora pernah ngambek pada Yuya sebulan penuh dan selama itu pula Sora merasa hidupnya kosong sekali tanpa adanya Yuya yang menghiburnya. Ia tidak mau itu terjadi lagi.

“Sudah makan siang?” tanya Sora mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aku bawa onigiri buatan Mama… kau juga suka, kan?” Yuya mengeluarkan kotak bento bergambar panda milik Sora. Seingat Sora kotak bento itu sudah hilang.

“Ini kotak bento ku!”

“Oh ya?”

“Kok bisa ada di kamu? Seingatku ini hilang waktu kita SMP?! Kenap…” belum sempat Sora melanjutkan, Yuya menyumpal mulut Sora dengan onigiri.

“Haaaiii!! Diskusinya dilanjut nanti saja,”

Sora megap-megap ingin protes namun melihat wajah Yuya yang seakan tak berdosa, Sora mengurungkan niatnya. Ia selalu kalah dari pemuda itu, tak terkecuali sekarang.

Yuya menatap cara makan Sora yang terkesan berhati-hati dan mengunyahnya dengan seksama. Sora memang selalu menggemaskan menurut Yuya. Caranya berpakaian dengan rok selutut warna biru dan sweater senada. Caranya makan dengan hati-hati karena takut belepotan. Caranya mengerlikan mata pada Yuya seperti sekarang ini. Kalau saja Yuya bisa benar-benar membuat Sora menjadi istrinya, dia pasti sangat bahagia. Lebih bahagia dari siapapun di dunia ini. Bolehkah Yuya jadi egois untuk sekarang?

“Kamu kenapa?” tanya Sora sedikit risi karena sejak tadi Yuya memperhatikannya.

“Tidak apa-apa,” ‘Will you really marry me, Hideyoshi Sora?’ ucap Yuya menambahkan dalam hati.

“Orang aneh,” sahut Sora yang disambut cubitan keras di pipi Sora oleh Yuya.

“SAKIIITT!!!” protes Sora sambil mengusap pipinya yang kini terasa bengkak.

“Kau itu menggemaskan, tau!” ucap Yuya lalu berdiri menenteng tas miliknya dan milik Sora, “Ayo masuk pesawat!”

‘Menggemaskan’? Sora sedikit terpana menatap punggung Yuya yang menjauh. Sejak kapan Sora jadi menggemaskan? Dia tidak pernah dikatakan menggemaskan sebelumnya.

“Bodoh! Sampai kapan mau melamun?” seru Yuya memanggil Sora dari kejauhan.

==========================

E-mail itu tiba-tiba saja datang di suatu sore saat Sora sudah sangat capek di depan komputernya. Sebuah pesan masuk dari e-mail yang tidak ia ketahui pemiliknya.

From : hikkapika@mail

Subject : [no subject]

Ini Hideyoshi Sora? Aku Yaotome Hikaru. Masih ingat padaku?

Dari mana Hikaru mendapatkan alamat e-mailnya ya? Sora segera mengetik balasannya. Ternyata Hikaru sempat menanyakannya pada Yuya tempo hari saat mereka bertemu. Selanjutnya Hikaru mengajaknya untuk makan malam yang tentu saja tidak bisa ditolak Sora mengingat dirinya juga tidak ada acara malam ini.

“Hisashiburi, Sora-chan…”

Sora hanya tersenyum menanggapi panggilan Hikaru yang tiba-tiba sedekat itu. Mereka memang bertahun-tahun lalu pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dan mungkin bagi Sora memang yang paling berkesan.

Hanya dalam sepuluh menit saja Sora sudah tau kalau ia akan merasa nyaman dengan Hikaru. Seperti dulu ia mulai menyukai pria itu. Hikaru selalu bisa membuat suasana menjadi tidak membosankan, ada saja yang bisa mereka bicarakan.

“Jadi… ketemu lagi hari sabtu, ya?” kata Hikaru sesaat sebelum mengantar Sora ke depan apartemen. Sora mengangguk dan melambaikan tangan ketika mobil Hikaru sudah berlalu.

“Sama siapa?” Sora hampir saja kena serangan jantung ketika ia menyalakan lampu apartemennya dan mendapati Yuya berdiri di depannya, tangannya terlipat di dada.

“Bukan urusan Yuya…”

“Jadi urusanku dong!”

“Bukan! Aduh… lagian kamu ngapain malam-malam ada di apartemenku?!” protes Sora.

Yuya menoleh pada tumpukan kardus dan koper di dekat sofa.

“Maksudnya?” Sora mengerenyitkan dahi tak mengerti.

“I’m moving in.. Aku pindah kesini,”

“Baka! Mana bisa?”

“Bisa saja. Kita tunangan dan aku tidak punya tempat tinggal sekarang!” elak Yuya.

Mulut Sora ternganga, “Ha? Maksudnya?”

“Aku sudah keluar dari apartemenku jadi sekarang aku tinggal disini bersama tunanganku….”

“Kita bukan tunangan,”

“Tidak begitu kata orang tua kita…”

“Tapi aku tidak mau tunang….” Yuya membekap mulut Sora dengan tangannya,

“Sekarang jawab pertanyaanku tadi, dengan siapa kau tadi pulang?” Yuya kembali bersidekap dan menatap Sora lurus-lurus.

“Hikaru…”

“Jangan dekat-dekat sama dia… Hikaru itu playboy,” ujar Yuya asal. Tentu saja dia tidak tahu apakah Hikaru itu playboy atau tidak.

“Berisik!! Sekarang bagaimana ini? Masa kita tinggal berdua? Disini kan hanya ada satu kamar….” Sora tak mau kalah dan tak mau mengalihkan pembicaraan.

“Ya kita tidur sekamar lah…” jawab Yuya enteng, sukses membuat Sora melemparkan pandangan siap membunuh pada Yuya.

“Bercanda… aku tidur di sini,” Yuya menepuk-nepuk sofa kecil yang tentu saja akan membuat Yuya sakit badan semalaman.

Tapi malam itu Yuya berhasil membujuk Sora untuk tidur sekamar. Tapi ia tidur di bawah, sedangkan Sora di atas kasur. Sebenarnya selain karena Sora kasihan melihatnya tidur di atas sofa kecil itu, malam ini hujan salju dan pasti tidur di ruang tengah bukanlah hal yang baik. Dia bisa kena flu.

“Sora…”

“Hmmm?”

“Mama bilang minggu depan dia dan Papa akan kesini, makanya aku pindah kesini. Mencurigakan kan kalau tiba-tiba kita tinggal terpisah?”

“Kita harus bilang soal kita tidak benar-benar tunangan, Yuya…”

“Kau tega membuat Mama terkena serangan jantung?” kali ini Sora tak bisa menjawab dan tentu saja jawabannya akan tidak. Ia tidak bisa melihat Mama nya Yuya terkena serangan jantung.

“Baiklah…” sesaat setelah jawaban itu terlontar dari mulut Sora, tiba-tiba gadis itu merasakan tangan Yuya menggenggam erat tangannya, dan alih-alih menepis tangan Yuya, Sora hanya diam membiarkannya.

“Tanganmu dingin,” ucap Sora.

“Iya… tidak apa-apa. Sora… ingat tidak dulu waktu kecil kita sering tidur siang bersama, hahaha..”

“Tidak berarti kita bisa tidur bersama lagi, bodoh!” Sora rasa dirinya kini sudah salah tingkah.

“Baiklah…” dan Yuya menolak melepaskan genggaman tangannya hingga mereka terbangun keesokan paginya.

========================================

Kedatangan Ayah dan Ibu Yuya tepat sehari setelah Yuya ‘pindah’ ke apartemen Sora. Mereka bilang ada pertemuan di Tokyo, jadi sekalian menjenguk anak dan calon menantunya.

“Maaf apartemennya berantakan,” ucap Sora ketika melihat Mama memperhatikan sekeliling apartemennya.

“Tidak apa-apa, pasti Yuya kan yang bikin berantakan?”

Sora hanya bisa tersenyum mengiyakan pernyataan dari Mama.

“Anak itu masih saja suka bikin berantakan, ngomong-ngomong Yuya tidak merepotkanmu kan, selama tinggal bersamamu?” Tanya Mama sambil masih memperhatikan keadaan sekitar.

Sora hanya bisa tersenyum, “Tidak, Ma, Yuya selalu membantuku mengerjakan pekerjaan rumah,”

Yuya hanya bisa menatap Sora dengan pandangan yang Sora tidak bisa artikan, namun Yuya ikut mengangguk.

“Sudah kubilang dari dulu, hanya Sora yang bisa membuat anak laki-lakiku ini jadi menurut, ingat kan sejak SD memang hanya Sora-chan yang bisa membuat Yuya berhenti mengompol, lalu aku juga ingat waktu SMP Sora-chan lah yang mengajari Yuya sehingga nilai matematika nya naik drastis, aku sangat senang karena akhirnya kalian berdua akan segera menikah,” Mama memandang Yuya dan Sora bergantian, membuat Sora salah tingkah dan hanya bisa mengangguk pasrah.

“Memang hanya Sora yang selama ini aku suka, Ma… aku tidak pernah jatuh cinta pada gadis lain,” jelas Yuya.

Sora terpana.

Yuya terlihat begitu natural saat mengatakannya, bahkan tidak ada gugup sama sekali. Tapi, itu bohong kan? Mana mungkin Yuya tidak pernah jatuh cinta pada gadis lain? Bagaimana dengan Yuka? Pacar Yuya saat SMA yang mati-matian dia pertahankan? Atau Akiko? Gadis apartemen sebelah Yuya yang sempat tinggal serumah dengannya? Pikiran Sora melayang-layang dan tiba-tiba saja ia merasa kesal. Masa Yuya harus berbohong hingga seperti ini agar Mama nya percaya? Lagipula mengapa harus berbohong sejauh ini?

“Pintar sekali berbohongnya,” ucap Sora sambil merengut ketika Mama dan Papa sudah pulang ke hotel, rencananya esok hari mereka akan makan bersama diluar.

Yuya diam, hanya menatap Sora, “Aku tidak bohong,” jawabnya.

Mata Sora terbelalak, “Kamu itu kenapa sih? Akhir-akhir ini aneh banget, tiba-tiba menciumku, tiba-tiba bilang lupakan saja, tiba-tiba ingin menikahi aku, tiba-tiba bilang kau jatuh cinta padaku, padahal semuanya bohong kan?!!” Sora menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar air matanya tidak keluar.

Yuya bergerak cepat menghampiri Sora, menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Bodoh. Butuh berapa lama lagi sampai kau sadar bahwa aku jatuh cinta padamu?” bisik Yuya tepat di telinga Sora.

Tubuh Sora rasanya kaku, ia hanya bisa mengerjapkan matanya, membiarkan Yuya memeluknya semakin erat.

“Tapi…kita…hanya teman,” bisik Sora ketika sudah berhasil menguasai dirinya sendiri.

Yuya melepaskan pelukannya, menyentuh bahu Sora, menundukkan kepalanya dengan frustasi.

“Wakatta… aku mengerti, kalau begitu… baiklah..” Yuya melepaskan Sora, mengambil mantelnya dan keluar dari apartemen milik Sora, meninggalkan Sora yang hanya bisa terduduk lemas setelah kepergian Yuya.

==========================

Tidak ada kabar dari Yuya, tapi ia sudah berjanji pada Mama dan Papa. Biarlah ia akan berbohong kalau Yuya telat sedang meeting jika ia datang duluan, dan ia akan berbohong bahwa ia telat karena meeting kalau Yuya sudah ada disana. Yang penting Sora harus tetap datang ke restoran tempat mereka sudah janjian untuk makan malam.

Sora merias dirinya agar terlihat lebih formal dari biasanya. Karena jika sudah bicara soal makan malam, orang tua Yuya yang memang pengusaha itu pasti mengajaknya makan di restoran yang kelasnya mewah, bukan family resto biasa. Setlah siap Sora mencoba menghubungi ponsel Yuya, tapi hasilnya nihil. Yuya sama sekali tidak mengangkat teleponnya, membuat Sora menjadi khawatir karena tidak ada kabar apapun dari Yuya sejak malam kemarin ketika Yuya meninggalkannya di apartemen.

Akhirnya Sora memutuskan untuk berangkat sendiri menggunakan taksi, sesampainya di restoran, hanya ada Mama dan Papa, Sora berasumsi bahwa Yuya belum datang.

“Maaf Ma, Pa… Aku terlambat,” kata Sora yang menyadari bahwa ia datang terlalu mepet dengan waktu janjiannya.

Mama dan Papa hanya tersenyum, Sora segera duduk dihadapan kedua paruh baya itu.

“Yuya mungkin sedikit terlambat, dia ada meeting di kantor,”

“Yuya tidak terlambat sayang,” ucap Mama dengan lembut.

Sora terdiam, menatap kedua orang tua itu dengan bingung.

“Yuya sudah datang kesini dan sudah menjelaskan semuanya. Soal kebohongan kalian,” Papa meneruskan, “Maafkan Yuya yang begitu egois hingga membuatmu berbohong pada kami. Ia sudah Papa hukum, mulai sekarang kau tidak perlu berbohong lagi pada kami,”

“Tapi…. Kenapa?” tanpa sadar air mata Sora mengalir di pipi.

“Tadi ia meminta kami untuk memajukan waktu janjian, ternyata ia datang sendirian dan menjelaskan semuanya. Sekarang Yuya sudah Papa suruh pulang untuk membereskan barangnya dan pindah kembali ke apartemen miliknya. Papa dan Mama sangat senang jika kalian memang ingin menikah demi kami, tapi jika ternyata ini hanya kebohongan dan Sora-chan tidak bahagia, maka kami akan merasa berdosa kepada kedua orang tuamu,”

Sora tak mampu menjawab, dalam otaknya muncul berbagai pertanyaan. Mengapa Yuya memutuskan hal ini sendirian? Kenapa harus begini jadinya? Sekarang Sora merasa sangat berdosa kepada kedua orangtuanya dan orang tua Yuya.

“Biarlah kami yang akan menjelaskan kepada orang tuamu, ya…”

======================

Sora tak ingat bagaimana caranya ia pulang, tiba-tiba saja ia sadar kalau ia ada di depan pintu apartemennya dengan hidung meler dan mata sembab karena terus-terusan menangis saat di perjalanan pulang bersama orang tua Yuya tadi. Bahkan Sora tidak sanggup untuk makan padahal ia tidak makan sejak pagi.

Dengan sedikit bingung Sora hendak membuka pintu apartemennya ketika tiba-tiba pintu itu terbuka, Yuya berdiri di hadapannya, sama-sama kaget.

“Yu… ya?” tampaknya Yuya kerepotan dengan barang-barang berat yang ia bawa di salah satu tangannya, sementara di belakangnya masih ada satu tas besar lagi.

Secara otomatis Yuya menaruh bawaannya, menyentuh pipi Sora yang basah karena air mata, “Kenapa sampai menangis segala?” wajah Yuya terlihat benar-benar khawatir, Sora berhenti menangis, bingung mengapa Yuya masih bisa setenang ini setelah apa yang ia lakukan tadi.

“Sora… kok malah bengong?” tanya Yuya mendekatkan wajahnya ke wajah Sora, masih dengan kedua telapaknya merangkum wajah Sora.

“Yuya… bodoh! Kenapa mengaku pada Mama dan Papa?” sekuat mungkin Sora berusaha menahan air matanya.

Yuya menundukkan kepalanya, “Maaf. Aku sadar aku ini egois sekali, tapi kemarin saat kau bilang kita memang hanya teman, saat itu aku sadar, tidak seharusnya membuatmu menderita begini, bahkan berbohong pada Mama dan Papa, bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan kita, padahal….” Yuya kembali menatap Sora, “Yang terpenting adalah kebahagiaanmu, dan aku tidak memikirkan itu karena sibuk memikirkan kebahagiaanku sendiri, aku lupa bertanya apakah kau bahagia dengan sandiwara kemarin atau tidak. Setelah berfikir, akhirnya aku memutuskan untuk mengakui semuanya, karena memang semua ini murni kesalahanku,”

Sora tak mampu menjawab, tiba-tiba ia ingin memeluk sahabatnya itu maka tanpa pikir panjang Sora melingkarkan tangannya di tubuh Yuya, merebahkan kepalanya di dada pemuda itu, menangis lagi tanpa alasan yang jelas, ia hanya sedih tapi campur dengan perasaan senang.

“Gomen…” bisikan pelan dari mulut Yuya sukses membuat Sora tenang.

Saat Sora membuka mata keesokan paginya, matanya terasa sangat berat karena semalaman lebih banyak menangis. Sora sedikit kaget karena mendapati Yuya masih memeluknya, bahkan masih memandanginya, kelihatannya Yuya juga baru saja bangun.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yuya dengan lembut.

Entah mengapa Sora merasa malu dan tiba-tiba saja ia merasa jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya, akhirnya Sora hanya sanggup menggeleng pelan.

“Mau sarapan?” Tanya Yuya lagi, masih dengan tone suara yang menghanyutkan bagi Sora, lembut dan begitu perhatian.

Kini Sora hanya mampu mengangguk.

“Ya sudah, lepaskan sebentar ya, aku hanya akan menelepon,” kata Yuya masih tenang, bahkan malah tersenyum pada Sora.

Sadarlah gadis itu bahwa sejak tadi ia memeluk Yuya dengan erat.

“Gomen,” Sora rasa kini pipinya sudah berubah warna menjadi merah muda, segera melepaskan pelukannya.

Yuya mengambil ponselnya dan menelepon restoran siap saji untuk mengantarkan makanan mereka. Kebetulan di dekat apartemen Sora memang ada restoran siap saji. Sora hanya bisa mematung, menatap Yuya seakan pemuda itu sosok alien dari luar angkasa.

“Hari ini lebih baik kau tidak usah ke kantor ya, matamu itu mengerikan,” kata Yuya selesai menelepon Yuya mengambilkan handuk dingin untuk mengompres mata Sora yang bengkak, “Aku juga sudah izin hari ini,”

Sora lagi-lagi hanya mengangguk, sambil tangannya masih megompres matanya yang sudah mulai terasa membaik setelah terkena air dingin.

Gadis itu masih memejamkan matanya saat ia merasa Yuya menarik kepalanya dan mencium dahinya dengan lembut, “Gomen, Sora, aku memang sudah tidak bisa lagi berbohong soal perasaanku, menurutmu aku harus bagaimana?”

Gerakan Sora berhenti dan melepaskan diri dari sentuhan Yuya dan menatap si pemuda dengan sedih, “Ini akan menghancurkan persahabatan kita?” rasanya ia sudah siap untuk menangis lagi.

Yuya menggeleng frustasi, “Aku tidak tahu, Sora, aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan, aku tidak tahu apakah aku bisa menerima jika kau bersama pria lain,”

Sora menatap wajah Yuya, menyentuhnya dengan tak kalah frustasi. Sora tidak bisa bereaksi lebih, ia tidak yakin apakah mereka bisa menjalani kehidupan sebagai kekasih. Berbeda tentunya dengan saat mereka masih hanya sekedar sahabat.

“Gomen,” ungkap Sora dengan nada menyesal.

Menjaga apa yang mereka punya saat ini harusnya lebih penting kan? Paling tidak begitu menurut Sora.

====================

Sora menunduk menatap jam ketika sore itu ia berjanji dengan Hikaru untuk makan malam. Hikaru sudah telat tiga puluh menit tanpa pemberithauan sebelumnya. Sora mengeluh, jika ia berjanji dengan Yuya, pemuda itu tidak pernah telat barang semenit, bahkan biasanya Yuya yang akan menunggu Sora. Yuya tidak pernah membuatnya menunggu tanpa kabar.

Sudah berkali-kali ia menatap jam tangannya dan sosok Hikaru belom juga muncul. Ini sudah gelas lemon tea nya yang kedua.

“Sora-chan,” nada suara yang begitu khas dari seorang Hikaru.

“Kau telat tiga puluh tiga menit, Hikaru-san,” ucap Sora dengan nada kesal dan ia tak repot-repot untuk menutupi ketidak sukaannya.

“Gomen ne, aku tertahan di kantor tadi,”

“Kau kan bisa memberi tahuku sebelumnya,”

“Sudah-sudah. Kita kan sedang kencan, kenapa marah-marah sih,” Hikaru membelai pelan rambut Sora, tapi suasana hati Sora sudah rusak sepenuhnya.

Sepanjang makan malam Sora hanya menanggapi Hikaru seperlunya. Bebrapa kali bahkan Sora sengaja tidak memerhatikan Hikaru.

“Sudah makannya?” tanya Hikaru yang tampaknya sudah sedikit kesal karena sikap Sora.

“Sudah. Sekarang antar aku pulang,” kata Sora lagi.

“Hanya karena aku telat sekarang kau begini? Ya sudah ayo pulang!” ucap Hikaru sambil beranjak mengambil jas nya.

Sora mulai kesal lagi. Yuya tidak pernah membuatnya kesal seperti ini dan jika pun iya, Yuya selalu tau bagaimana membuat Sora kembali baik-baik saja. Yuya akan berbuat konyol, danmembuat Sora tertawa. Singkatnya memang hanya Yuya yang benar mengerti kemauan Sora.

Dengan tergesa-gesa Sora berjalan ke depan restoran, dan menoleh kepada Hikaru.

“Tak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri!” ucap Sora dengan nada kesal.

“Ah sou… tidak secepat itu,” Hikaru menarik tangan Sora dan seketika mencium bibir Sora dengan paksa. Sora mencoba mendorong bahu Hikaru, namun sia-sia karena tenaga Hikaru terlalu kuat. Hikaru masih memaksa dan mempererat cengkramannya di pergelangan tangan Sora, mebuat gadis itu kesakitan.

Ketika dirasa Hikaru lengah, Sora mendorong Hikaru sekuat tenaga dan menamparnya dengan keras.

PLAK!

“Baka!” Mata Hikaru terlihat marah, Hikaru berusaha mendekati Sora lagi, dan gadis itu segera berlari menjauh, berlari sekencang yang ia bisa sampai tak terdengar lagi suara jejak Hikaru dibelakangnya. Sora berlari sambil menangis, ia begitu ketakutan dan tak pernah selama hidupnya ia merasa dilecehkan seperti ini sebelumnya.

Sora terus berlari sampai kakinya tak kuat lagi.

============================

Waktu berjalan sangat lambat bagi Yuya, sejak Sora menolaknya, ia terkadang merasa seluruh dunia memusuhinya. Oke, ini berlebihan. Tapi jika kau belum pernah merasakan rasanya ditolak oleh orang yang tidak mungkin kau hindari, jangan bilang kau mengerti perasaan Yuya.

Beberapa minggu ini yang bisa Yuya lakukan hanya menghindari kontak terlalu banyak dengan Sora. Yuya memilih untuk tidak menghubungi Sora duluan, Yuya yang biasanya makan malam di apartemen Sora kini memilih untuk makan bersama teman sekantornya, atau bahkan sendiri. Menambah kontak dengan Sora sama saja menyakiti dirinya sendiri, begitu menurut Yuya.

“Moshi-moshi?” Yuya mengangkat telepon, yang memang dari Sora.

“Yuya… ada waktu malam ini?”

“Uhmm.. aku lembur sih,” lagi-lagi Yuya berusaha menghindar dari Sora.

Terdengar desahan dari seberang sana, pasti Sora sedang kesal, “Tidak apa-apa, aku akan menunggumu di apartemenmu, ya?”

Seperti hal nya Yuya, Sora juga memegang kunci cadangan apartemen Yuya sejak pemuda itu pernah sakit dan membuat Sora khawatir.

“Tapi…”

Belum sempat Yuya protes, Sora kembali menjawab, “Pokoknya aku akan menunggumu,” klik. Telepon ditutup.

Seharian setelah Sora menelepon, Yuya masih belum menentukkan apakah ia akan pulang cepat, atau lembur seperti biasa. Apa dia sudah siap menemui Sora? Dan apakah ia bisa bersikap biasa saja? Tiba-tiba saja bel pulang kantor menggema, sementara Yuya masih belum memutuskan.

“Anou, Takaki-kun gomen, ada berkas yang ingin aku kerjakan sekarang, bisa bantu aku?” atasannya yang memang biasa meminta bantuannya itu terlihat kerepotan, sehingga Yuya tidak bisa menolak.

“Baiklah,” kata Yuya mengalah. Pasti Sora tidak akan menunggunya, Sora cepat bosan, Yuya sering ditinggal pergi ke sekolah jika ia terlambat, atau jika Yuya terlambat datang ke restoran tempay mereka janjian, Sora pasti tidak akan menunggunya. Seperti sekarang, Sora pasti tidak akan menunggunya.

Yuya tidak ingat waktu, sampai tiba-tiba atasannya menghampirinya, “Sudah hampir jam sepuluh, Takaki-kun, sudah selesai kan?”

Yuya mengangguk dan memberikan hasil kerjanya kepada si atasan.

“Baiklah, kau boleh pulang, terima kasih banyak,”

Dengan gerakan cepat Yuya membereskan barang-barangnya, tak sampai 15 menit Yuya sudah sampai di stasiun shinkansen, menunggu kereta untuk pulang. Inilah alasan Yuya lebih senang pulang ke apartemen Sora, karena jaraknya lebih dekat, cukup naik bis saja, tidak perlu pakai shinkansen.

Yuya berniat menelepon Sora, namun ponsel si gadis menunjukkan nada sibuk. Pasti ponselnya mati lagi dan Sora yang malas punya banyak barang itu tidak bawa charger. Yuya mendumel sepanjang jalan ke apartemen, ketika dilihatnya Sora duduk di pinggir pintu apartemennya, tampaknya si gadis ketiduran.

“Sora!! Sora!!” Yuya panik dan segera berlari menghampiri Sora, mengguncang bahu gadis itu sedikit kencang.

Sora mengerjapkan matanya, seakan terganggu, “Sudah pulang?” lalu Sora menguap, membuat Yuya tambah gemas, bisa-bisanya gadis itu ketiduran diluar begini.

“Baka! Kau bisa masuk angin,” ucap Yuya sambil memapah tubuh Sora yang memang sudah kedinginan. Cuaca menjelang musim gugur memang tidak sedingin musim dingin, tapi tetap saja.

“Hatchi!” benar saja Sora sudah bersin-bersin.

“Kenapa gak nunggu di dalam? Kau punya kunci apartemenku kan?!” Yuya segera memberikan selimut dan sibuk membuatkan coklat panas untuk Sora.

Sora menatap Yuya dengan pandangan bingung, “Aku lupa,” katanya polos.

Setelah matang, Yuya membawakan coklat panas itu ke hadapan Sora, pipi gadis itu terlihat merona karena kedinginan, Yuya menyentuhkan kedua telapaknya di pipi Sora, hal yang dulu selalu Sora lakukan jika Yuya kedinginan, dan malas membawa syal karena menurutnya merepotkan.

“Lihat pipimu sampai merah begini,” nada suara Yuya masih saja khawatir.

Sora hanya bisa menatap Yuya, ia tak mengerti apa yang terjadi pada jantungnya. Kenapa rasanya aneh sekali berdebar-debar untuk sahabatmu sendiri. Orang yang sudah ada disampingnya selama hidupnya.

“Tanganmu kenapa?” Yuya menarik tangan Sora yang dibalut perban. Sora kira Yuya tidak memperhatikan.

Sora menggeleng, tak ingin mengingatnya.

“Benar tidak apa-apa? Aku ganti perbannya sebentar ya, kebasahan karena kau semalaman diluar,” kata Yuya dengan nada kesal.

Aneh kan rasanya kini Sora ingin menangis karena perlakuan Yuya yang sangat lembut.

“Ayo cerita, ini kenapa?” kata Yuya sambil mengganti perban di tangan Sora.

Pelan-pelan Sora menceritakan tentang Hikaru dan kejadian malam itu. Ia berusaha menahan tangisnya karena masih terasa menakutkan hanya untuk menceritakannya kembali.

Tiba-tiba Yuya terlihat marah, “Kenapa kau tidak memanggilku malam itu? Pasti sudah kuhajar dia kalau tahu ia membuatmu begini?! Kan sudah kubilang jangan dekati Hikaru!” Yuya bisa membayangkan bagaimana ketakutannya Sora malam itu, dan itu membuatnya sedih hanya dengan membayangkannya,”Ya sudah jangan diingat-ingat lagi ya. Anggaplah itu hanya mimpi buruk,” Yuya merengkuh kembali wajah Sora dan membelainya dengan lembut.

Tiba-tiba air mata Sora meleleh, Yuya jadi kebingungan, “Kok malah nangis?” tanya Yuya.

“Kenapa Yuya begitu baik padaku?” ucap Sora terbata-bata.

Yuya menghela nafas, “Aku memang selalu begini kan? Memangnya ada yang berubah?” tanya Yuya masih menyentuh pipi Sora.

Memang Yuya itu menyebalkan menurut Sora. Kekanakan, tapi Sora tidak bisa menyangkal bahwa memang perlakuan Yuya padanya selalu membuat Sora tenang. Sora menggeleng, air matanya tidak bisa kompromi dan terus mengalir.

“Berhenti menangis, Hideyoshi Sora,” ucap Yuya tambah bingung kenapa Sora malah menangis semakin keras.

Sora tiba-tiba menghambur ke pelukan Yuya, “Takaki Yuya, nikahi aku,” walaupun pelan Yuya bisa mendengarnya dengan jelas.

“Sora, jangan bercanda ah, sudah lepaskan aku,” kata Yuya yang sebenarnya dadanya sudah bergemuruh karena mendengar pernyataan Sora tadi. Tapi Yuya sudah belajar untuk tidak terlalu berharap banyak. Bahwa bisa saja ini semua hanya emosi sesaat dari Sora.

Sora enggan melepaskan pelukannya, menggeleng cepat, “Aku tidak mau orang lain selain Yuya,”

Seandainya dia bisa membuat waktu berhenti, biarkan kali ini dan detik ini waktu bisa berhenti, dan semuanya ini bukan mimpi.

“Kau… tidak akan menyesal?” tanya Yuya pada akhirnya setelah kesunyian yang cukup membuat keduanya canggung.

Sora kembali menggeleng. Baru kali ini selama hidupnya ia yakin akan keputusannya.

Tanpa Sora sadari, Takaki Yuya kini tersenyum sumringah, hanya bisa memeluk gadis yang tak lama lagi mungkin akan menjadi istrinya.

“Jadi, Hideyoshi Sora, maukah kau menikah denganku?”

Dengan cepat Sora mengangguk.

“Walaupun kita hanya sahabat, dan kita berdua sudah kenal sejak kita lahir?”

Sora kembali mengangguk.

“Kau bersedia menghabiskan hidupmu dengan…” belum selesai Yuya bicara Sora menutup mulut Yuya dengan gemas.

“Tuan Takaki, shut up and kiss me!” seru Sora gemas.

Yuya terkekeh pelan dan mencium Sora tanpa ragu.

Bagi Sora tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Her bestfriend is beside me, and she fallen for him, and she’s totally happy. Tidak pernah Sora merasa setenang ini sebelumnya.

=================

Yeah, gaje gaje.

Setelah hiatus lamaaaa

Terus dateng-dateng bawa ginian bukan yang serial

Hahaha

Still COMMENTS ARE LOVE ^^)b

DON’T BE A SILENT READER PLEASE ^^)/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s