[Oneshot] Pada Rembulan

Bertahanlah wahai waktu
Demi Rembulanku

.

.

Pada Rembulan
Ada sebuah senyuman
Yang harus tiba
Tepat waktunya
Untuk dia
Yang terjaga

.

`Pada Rembulan
.
By Yuichi
.
Hey Say Jump © Johnny Ent

Pairing : SLASH-CRACK!BROKEN-PAST

Rat : M

Warn : M for SARA, Implisit-eksplisit lime, bahasa, miss typo, OOC, Etc.

Didedikasikan untuk cast-cast yang gw pairing seenak muka cakepnya keiton *disambit

Holllaaaaa ini os atu ~ miow akhirnya :3 karena tak mau posting yang berat – berat mending ini aja ya ……. nyan ~ semoga bisa dinikmati ^.^

PADA REMBULAN

“Malam ini gunakan gaun Prada yang dihadiahkan HSJ copr saat ulang tahunmu kemarin,” perintah itu bermakna absolut, titah itu pasti dan Alba tidak akan berfikir dua kali untuk membangkangnya.

Alexsandria Nakajima.

Itulah dua baris kata yang biasa melabeli sosoknya. Gadis yang dibesarkan dibawah nama besar Nakajima. Wanita yang dipersiapkan untuk menjadi pendamping yang pewaris tahta.

Nakajima dan segala keagungannya.

Dan laki-laki yang ada didepannya adalah yang pemilik kuasa atas segala yang ada pada dirinya. Dia yang tak memiliki apa-apa untuk dikenang dan banggakan tanpa sematan marga keluarga angkat dibelakang namanya

Nakajima dan segala kemulyaanya.

Hingga ketika sepasang bola mata itu mulai metanapnya sayu, dia yang tahu diri akan mengundurkan diri. Memberi penghormatan pada yang berbaikhati menampungnya hingga kini.

Nakajima Yuto dengan segala kebaikannya.

Dia.

Berbeda dengan dirinya.

.

.

Kaki perkulit kecoklatan itu melangkah anggun, mengayunkan tungkai kecilnya angkung disepanjang karpet merah sementara para netizen menghujaninya dengan cahaya blizz. Membimbing dirinya pada masuk pada ruangan yang lebih besar.
Dunia yang ia anggap kesalahan terbesarnya, disini berasama

–para sosialita gila harta.

Dan ia salah satunya.

Berbaur dengan para gadis yang mengenakan pakaian kurang bahan. Menebar senyum sok manis pada setiap lelaki bersetelan mahal yang ada disekitarmu. Memasang topeng terbaik yang kau miliki. Sempurna, itu bodoh.

Alba mengendus sebal.

Kudapan-kudapan buatan para koki bintang lima dikanan kirimu dan Champagne digelasmu adalah pelengkapnya.

Alba benci pesta kelas atas yang terlalu elit seperti ini. Ia benci keadaan ini. Keadaan yang membuatnya harus berdiri anggun dengan gaun Prada strapless selutut berwana gelap dan jangan lupakan stiletto 12 cm yang dipakaikan paksa oleh Fuma membalut kakinya kini. Hell! Kento benar-benar musuh dalam selimut. Padahal seingatnya HSJ corp tidak pernah memberinya gaun semacam ini.

Tapi sepertinya mau tak mau egonya memang harus benar-benar diturunkan kali ini. Pertemuan ini akan membahas tentang kelanjutan kerjasama antar perusahaan besar multi nasional. Dan perusahaan mereka masih termasuk anak bawang untuk urusan semacam ini. Reputasi mereka dipertaruhkan disini –masa depannya juga.

“Saham Blok HeiSei mengalami penurunan akhir-akhir ini. Meski saat ini tidak menunjukan imbas yang berarti, tapi keadaan pasar tidak mungkin selalu berpihak pada kita,” Alba yang sedang memandang keluar jendela menoleh saat suara Kento terdengar disampingnya. Diperhatikannya Kento yang sedang menunjukan wajah serius memperhatikan sesuatu kini.

“Aku mengerti,”

Alba mengikuti arah pandang Kento. Disana ada Shori dan Marius –Adiknya yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang lelaki muda.Kento mulai mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Alba membuat pembicaraan mereka menjadi lebih privasi lagi. “Aku mengandalkanmu, Kita butuh tender itu.” Bisiknya sebelum berlalu pergi disela kecupan lembut yang ia berikan dipipi chubby adik angkatnya itu. Menyisakan Alba yang hanya menghela nafas pasrah.

Kento bukan orang yang akan main-main dengan ucapannya Alba tahu itu,sungguh. Dari luar dia akan terlihat sebagai seorang pengusaha muda yang handal dan kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya tapi dibalik itu semua dia adalah sosok yang akan mengunakan segala cara yang ‘mungkin’ berhasil untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan. Seperti sekarang tender ini, SZ corp membutuhnya untuk menguatkan posisi di pasar saham global. Dan Alba tahu kakaknya itu juga tidak main-main ketika bicara tentang semua itu.
Alba menenggak champagne dalam gelasnya habis.

-Pada Rembulan-

“Nakajima-san?” sapa seorang wanita yang terlihat sudah berumur membuat gadis manis berdarah asia itu menoleh pelan merasa nama ‘marga’-nya dipanggil. Wanita didepannya tersenyum tipis. “Shitsurei desu ga . . . ” Ucapnya dengan nada sedikit canggung.

“Ahh maaf, Sebelumnya saya adalah perwakilan dari HSJ Corp. Chinen-san sepertinya akan datang terlambat. Karena itu beliau berpesan bila anda tidak keberatan, minggu depan beliau akan membicarakan masalah tender ini lagi dengan anda. Sekali lagi maaf telah membuat anda membuang waktu dengan menunggu,”

Alba termenung menatap kosong lawan bicaranya. Dia tahu dengan pasti arti dari kata terlambat dan membicarakan masalah tender ini lain waktu. Itu sama saja kembali berusaha dari awal lagi. Dia harus cepat bergerak sebelum ada orang lain yang berhasil mendapatkannya. Jadwal yang sudah diatur harus segera diubah kembali. Membuat janji dengan orang HSJ bukanlah perkara mudah. Itu artinya ia harus membuat proposal baru untuk meyakinkan para elite sok sibuk itu (baginya)mau kembali bertemu dengannya meski hanya disebuah pesta semacam ini. Menambah daftar pekerjaan rumah –paper perusahaannya.

“Soo desu ka . . . “ Alba tersenyum kaku. Sementara wanita tadi langsung melangkah pergi setelah berbasa basi sejenak dengannya.

Jadi? Sepertinya ‘niat’ baik membantu sang kakak sudah selesai ya? Pertemuan malam ini bahkan hancur sebelum dimulai. Gadis berperawakan munggil itupun melenggang pergi masa bodoh dengan tatapan bertanya dari Fuma dan Sou ketika dia berjalan melewati mereka acuh.

“Alba,” tapi sepertinya perjalannya keluar dari neraka harus terhenti sebentar. Shori. “Tugasku sudah selesai,kan? Aku hanya ingin pulang dan mengatur ulang jadwal-jadwal kita,” tukas Alba sekenanya. Shori mengeryit mendengar kata-kata adiknya barusan.”Apa maksudmu?” ujarnya bingung.

“Orang HSJ itu tidak datang. Ini tidak seperti tendermu yang meski belum memiliki kesepakatan pasti tapi punya harapan. Jadi, jya …”

Shori tersenyum simpul. Alba terlihat acuh dan masabodoh dengan apa yang terjadi tapi sebenarnya ia adalah gadis yang akan berusaha sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk mereka. Shori kakaknya dan ia tahu pasti, dia masih tersenyum menatap gadis berambut sebahu itu hingga punggungnya menghilang dibalik gelas-gelas kristal yang disusun membentuk piramida tinggi dan botol champagne dalam wadah berisi es yang berjajar. Adiknya sudah mulai dewasa.

.

.

Dibesarkan dalam kalangan keluarga jenset sebenarnya tidak terlalu buruk. Alba menyadarinya. Meski bukan putri kandung keluarga Nakajima ia sadar ia memiliki kehidupan yang sangat baik. Dua puluh lima dan mengawasi keuangan cabang-cabang perusahaan di jerman adalah sesuatu yang keren –harus ia akui. Meskipun menjadi seorang socialite diantara socialite lainnya itu sama saja dengan orang biasa diantara orang biasa lainnya. Tidak ada yang istimewa.

Uang bulannya terlewat cukup kalau hanya untuk shopping brand brand ternama.Atau justru membuat pesta eksklusif diapartemen mewahnya dieropa sana. Menghabiskan malam di bar bar mahal dan berkumpul dengan teman-teman smanya. Tapi sepertinya malam dijepang bisa sedikit berbeda. Tokyo, kota ini seperti tidak tidur. Terlihat menyenangka dengan lampu-lampu gemerlapnya disana sini. House party disetiap sudut dan remaja-remaja yang mungkin seusianya berdandan nyentrik lalu lalang.Lalu Jangan lupakan makananya yang menurutnya seperti makanan penjara.

Tentu saja ditambah music-musik yang berdentum dan gadis-gadis dengan pakaian kesempitannya yang menari-nari seperti kesetanan. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Setiap Negara didunia ini tahu, itu hal biasa, meski kau berada didaerah asia dengan budaya kesopannya.

Alba menengguk tequilanya lagi. Mengedarkan pandangannya kesetiap sudut bar. Mereka adalah jiwa-jiwa yang mencari pelarian dari masalah hidupnya. Bersenang senang saling mengobral surga dunia. Tapi itulah intinya, ini bar, tak ada yang peduli dengan apa yang akan kau lakukan disini. Sepertinya kini. Kembali menyesap liquid didalam gelas kristal yang ia pegang.

Memutuskan pulang lebih dulu itu berarti harus mencari taxi sendiri. Tapi siapa sangka langkah kakinya justru membawa dirinya masuk kedalam sebuah café elegan yang ternyat terhubung langsung dengan sebuah bar yang terlihat ramai dari luar ,Di shibuya ini.

Ternyata terlalu sibuk berfikir tentang prospek keberhasilan proyek membuat moodnya semakin buruk. “Aghh. . .” Alba meletakkan gelasnya kasar keatas meja. Tidak peduli dengan percikan tequilanya yang bukan hanya membasahi meja tapi juga lengan jas orang yang duduk tepat di stool sampingnya. Semakin larut tempat ini semakin ramai. Banyak orang membuat otaknya semakin malas untuk berfikir. “Shit. . .”

Alba kembali meraih gelasnya ketika ia merasa seseorang disampingnya sedang mengamatinya. Alba menatapnya balik.Seorang pemuda jepang berwajah imut. Bishonen –pikirnya.

Tapi bila dilihat dari setelan yang ia apakai orang ini seorang orang kaya. Armani. Dilihat dari wajahnya ia terlihat jauh lebih tua darinya. Dari model rambutnya apalagi. “Ada yang salah, sir?” tanyanya sangsi. Masih cukup terbaca diantara suara dentuman music yang ada.

“Lie,” jawabnya cepat. Alba bisa merasakan aroma alcohol yang menguar jelas dari mulut pria itu. Tapi suara itu. Ia merasa pernah mendegarnya. Namun sudahlah itu tidak penting. Ia juga tidak peduli sebenarnya.

“Name wa?” Tanya orang itu

“Not your business,” sergah Alba cepat ia sedang tidak tertarik sama sekali. Entah itu laki-laki atau perempuan ia sedang suntuk sekarang.
Si laki-laki cantik memutar gelasnya dimeja. “Sepertinya kita pernah bertemu, hanya itu.” Sahutnya.

Alba memutar matanya malas. Oh baiklah. Ini bukan bar seperti yang biasa ia datangi dengan Fuma atau Kento. Dan lagi dia sedang berada dijepang bukan jerman. Bukan juga Belanda atau Kanada. Menanyakan nama tidak selalu berarti mengajak bercumbu bodoh.

“Benarkah?” diliriknya laki-laki wajah cukup tirus itu. “Mungkin hanya perasa. . . “

“Namamu,” Baik, ternyata pria tampan ini pemaksa.

“Alba,” Dengusnya. Hanya sedikit yang tahu akan nama itu. Biasanya ia akan memperkenalkan diri dengan nama keluarga Nakajima tapi ia cukup waras untuk sadar dimana ia sekarang.

“Alba?” Ulangnya dengan pelafalan yang terdengar err.. asing. “ Bukannya Nakajima? Alexsandria Nakajima?” Dan kini namanya terdengar benar benar aneh. Bahasa inggris ala jepang.

But, “ Yeah, Alexsandria Nakajima, Alba itu nama kecilku.” Jelas Alba sebal.

“Mister . . “

“Yuri, Chinen Yuri,” sahut orang itu datar.

Wait, siapa tadi katanya? Chinen?

“Chinen Yuri?” Balas Alba lambat. Ayolah ia sedang tidak berhalusinasi karena kebanyakan minumkan? “Business Maneger H!S!Jump!? juga satu dari 3 ceo NYC?” Jelasnya tegang. Jadi orang ini yang membuatnya beberapa hari ini kurang tidur memikirkan proposal-proposal bodoh itu. Orang yang akan menentukan nasibnya minggu depan.

Chinen tersenyum tipis. Menganggukan kepalanya sekilas membalas wajah terkejut gadis berkulit sawo matang disebelahnya. “Yeah,Jadi apa yang dilakukan seorang nona muda Nakajiama disini? Bukankah kita seharusnya bertemu di hotel tadi?”. Chinen yakin kalau gadis berkacamata ini sedang meneriakkan berbagai sumpah serapah dalam hatinya.

Dan Alba, ia tahu harga dirinya sudah hancur. Bahkan kesempatannya sudah tamat. Bisa-bisanya dia lupa wajah ‘calon’ rekan kerjanya sendiri. Shit!.
Gadis beriris coklat itu mendengus pasrah. Baik lebih sekalian tidak perlu memasang topeng sok manisnya . Terlambat! Benar benar terlambat. Perduli setan dengan jilat-menjilat yang selama ini diajarkan padanya. Sudah terlambat. Dihelanya nafas sebal.

“Chinen-san, Kau tidak sedang menyalahkanku kan? Sekertarismu bilang kau akan datang terlambat dan ia bilang tender ini akan dibuka lagi minggu depan. “

Chinen cukup terkejut dengan nada bicara gadis muda ini. Tidak seperti putri-putri lain yang akan langsung meminta maaf bila ia mulai berkomentar. Laki-laki berkulit porselen itu menyeringai sejenak. “Tidak bermaksud menyalahkanmu, Nakajima-san,” Ditatapnya gadis berambut hitam arang itu lekat. “Pastikan saja kau sendiri yang datang. Mungkin itu bisa sedikit mendorong nilai jual hasil kerjamu,”

Alba menoleh cepat. Membuat poni tebalnya sedikit berantakan. Chinen terkikik dalam hati melihat raut keterkejutan itu. “ Jadi aku masih punya kesempatan?” sahutnya dengan mata berbinar. Chinen tidak menjawab, hanya kembali menengguk minumannya. Gadis bermata coklat ini ternyata tetap remaja polos. Bahkan kalau tidak salah gadis ini masih seusia dengannya dulu ketika mulai masuk kedunia bussnise. Sembilan belas tahun.

“Tenyata kau orang yang baik ya, Chinen-san” celetuk Alba sambil melempar senyumnya. Gadis keturunan Indonesia ini sepertinya sudah benar-benar masa bodoh dengan apa yang terjadi seminggu lagi. Dia masih punya kesempatan, dan itu cukup.

Ia sedikit beringsut semakin mendekat kearah laki-laki berambut coklat gelap itu. Mengamati wajah yang ternyata terlihat sangat mulus. Manis –batinnya.
“Jangat mengambil kesimpulan terlalu cepat,” Chinen memandang Alba yang kini hanya berjarak beberapa senti saja. “Aku biasa ‘bermain’ disini, tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” Chinen menyentuhkan hidung mereka pelan memberi penjelasan sekaligus sindiran pada Alba. Lembut tapi telak. Membuat Alba memutar matanya sebal.

Dia memang tak tahu banyak tentang tempat tempat di Jepang. Tapi dia sudah tahu sedikit hal tertang eksistensi didepannya dari sang kakak. Sebuah rahasia kecil yang sempat ia lupakan. Alba tersenyum sok polos.

“Bar ini?” Kata Alba sembari menarik sedikit kepalanya kesamping. Membuat pipi chubby-nya bergesekan dengan hidung bangir Chinen. Membuat si pria menutup matanya sejenak. “ Benarkah? Padahal semuanya terlihat normal-normal saja?” Chinen menarik tubuhnya sedikit. Sedikit Syok. Apa gadis ini mengerti maksud kata-katanya?

“Gezz, Aku juga punya kakak laki-laki. Aku tahu. Dan sudah terbiasa dengan semua itu,” Ujar gadis berponi sedikit tebal itu ketika mengangkap pandangan syok yang dilemparkan padanya, meski sebentar. Chinen tersenyum kecil. Melirik Alba dengan tatapan menimbang. Gadis ini tidak sedang memasang topengnya mungkin tak apa bila iya sedikit jujur kali ini. Menyangga dagunya dengan tangan, menatap Alba lebih dalam.

Sedangkan Alba sendiri, ia memang sama sekali tidak peduli. Kehidupan pribadi ‘rekankerjanya’ sama sekali bukan urusannya. Entah mereka normal atau tidak. Berada dijalan yang lurus atau seorang pendosa. Bukan urusannya.
Tapi Alba cukup kagum dengan sikap tenang laki-laki disampingnya kini. Dan lihat sekarang Chinen bahkan sudah menyesap rokoknya. “ini jepang, Alba. Tapi disitulah poinnya,” ujar Chinen sambil mengeluarkan rokok kedua dari saku kemejanya.

Yeah ini memang jepang, peraturan disini ‘sedikit’ lebih ketat dari pada di eropa sana. Dan peraturan dibuat untuk dilanggar. Alba jadi ingin tahu berapa usia orang ini sebenarnya.“So, Chinen-sa…”

“Yuri,”

“ehh?”

“Panggil saja Yuri. Atau Chii. Kita sedang tidak berbisnis,” dengus Chinen pelan.

Alba memperhatikan Chii yang sedang memainkan lighternya sambil mengernyit. Apa maksud dari keramah tamahan yang tiba-tiba ini? Memintanya menanggil dengan nama kecil. Apakah orang ini benar-benar Chinen Yuri? Ceo handal itu? Sulit dipercaya.

HSJ. Hey!Say!JUMP! Corp, mereka dikenal sebagai orang-orang yang ‘cukup’ menyebalkan. Meski memiliki reputasi yang baik mereka tetaplah pebisnis yang mengutamakan keuntungan perusahaannya. Bermain dengan sangat baik dengan atau tidak adanya ‘peraturan’ yang berlaku. Selalu memiliki tawaran yang menggiurkan tapi juga timbal balik yang sering kali mencengangkan. Kau harus berhati-hati bila tidak ingin ditusuk dari belakang. Seperti Yakuza.

“Baiklah tapi kalau ini tempatmu biasa bermain kenapa kau masih duduk disini?” Tanya Alba basa basi.

“Apa itu perlu dijawab?” sahut Chii berbalik Tanya. Membuat Alba menggembungkan pipinya kesal. “Aku yang seharusnya bertanya. Kau mungkin terbiasa dengan suasana bar tapi kau sendiri disini Nakajima-san, dimana kakak-kakakmu itu?”Lanjut Chii lagi.

Lagi-lagi pria berpostur tegap itu membuat Alba menautkan alisnya terkejut. Untuk apa seorang business manager perusahaan kelas mafia sepertinya bertanya seperti itu. Terlalu baik. Alba menyeringai kecil ketika menjawab, Sepertinya ini menarik. “Nothing,” ia menengguk tequilanya lagi.

“Hari buruk?”

“Begitulah, Heii, Kenapa kau jadi seperti memperhatikanku? Ingin menemaniku kah? Chinen Yuri-san?” Diliriknya Chii yang sedang menghisap rokoknya.

“Tidak? Baik. . . Bagaimana kalau aku saja yang menemanimu?” ujarnya kemudian menengguk abis liquid dalam gelasnya lalu tersenyum geli. Alba yakin orang ini tahu berapa usianya yang sebenarnya.

“Kita tidak sedang berbisnis sekarang Alexsandria Nakajima-san.” Chinen kembali menghembuskan asap rokoknya, Kemudian melanjutkan. “Apa tender itu sangat berarti untukmu? Asal kau tahu Yamada-san memperhitungkan tawaranmu karena kau adik Kento, Nakajima-san,” . Gadis yang ambisius –pikirnya
Chinen membuang puntung rokoknya. “Tapi jangan terlalu berharap. Sekedar informasi, Kau punya saingan yang berada diatasmu untuk saat ini. Tapi kurasa kau masih punya sedikit kesempatan kalau kau bisa meyakinkanku.Kurasa,” pria ‘tampan’ itu melanjutkan.

Alba mengendus sebal. Apa ia begitu mudah ditebak? “Huhh. . . Okey kita tidak sedang berbisnis,” gerutunya membuang muka.

Dan dalam hati Alba bersumpah akan mendapkannya. Dengan segala cara. Apa-apan itu? Jadi dia diperhitungkan karena kakaknya?Baik, jangan kira dia tidak bisa berbuat curang. Lihat saja nanti, Bishounen sialan.

“Ikut aku,” Alba hanya meyerngit bingung ketika Chinen mulai berdiri dan beranjak. Meski masih kesal ia memilih menuruti pria berjas hitam itu. Mereka berjalan kesisi lain bar. Sebuah ruangan yang berada dilaintai bawah tanah.

.

.

Keadaan disana terlihat sama saja dengan diatas tadi. Meja bartender disalah satu sisi yang lebih tinggi dengan penerangan yang sedikit lebih banyak. Dan di sisi yang lebih rendah suara music berdentum lebih keras. Dance floor. Penuh dengan orang yang menari mengikuti hentakan music dibawah lampu warna-warni itu. Bau alcohol, rokok, juga berbagai macam parfum tercium jelas. Alba merasa sedikit pusing.

“Hei, darl!” sapa chinen pada sesosok gadis yang sedang berbincang dengan seorang pemuda didepan meja bartender. Merengkuh bahunya dan mencium pipi gadis itu mesra.

“ehh . . . Aniki? Kenapa tidak bilang kalau kemari? Aku kira kau ada acara?. . . hmm kau bawa teman?” Gadis berambut sebahu tanpa poni itu mengalihkan perhatiannya pada Alba yang hanya tersenyum kaku. Mendudukan diri disamping Chinen.

“Yeah,” sahut chinen singkat. “Hanya mau memastikan kau sudah pulang atau belum,” kekehnya pelan sembari mengacak rambut sang gadis. Mengabaikan Alba yang mulai cemberut. Ia dilupakan.

“Jadi, Bisa kau antar anak ini pulang sekarang Akatsuki-kun?” Tanya Chinen pada seorang pemuda yang hanya tersenyum simpul memperhatikan mereka sedari tadi. “hai,” jawabnya sopan sembari mengulum bibir. “Iya-iya sampai bertemu dirumah aniki,” merekapun segera beranjak pergi setelah sejenak melempar
senyum pada Alba. Senyum yang tidak dibalasnya.

Chinen masih tersenyum kecil ketika mendapati Alba menatap adik dan temannya tajam. “Dia adikku,” celetuk Chinen pelan.”Bukan urusanku,” sahut Alba cepat dengan agak mencebilkan bibirnya. Melaimbaikan tangannya kearah bartender tidak memperdulikan Chinen yang masih menatap kearahnya.

Sebenarnya ia masih bisa merasakan rasa minuman yang sebelumnya tapi sudahlah. “Sherry untukku dan tequila untuk gadis ini,” Chinen menjawab cepat, membuat Alba semakin merengut. Menggerutu kesal. Bartender tadi sudah pergi menganbil gelas untuk mereka.

Alba sedikit membenarkan letak kacamatanya, berusaha sabar. “Jadi Chii san, Mau melanjudkan yang tadi atau kita cari topic lain?”Mulai diletakkannya sikunya dimeja bar.

“Bisnis?” Chinen mengangkat alisnya jengah. Dan Alba justru mengangguk dengan mata berbinar. “Semuanya adalah hasil keputusan bersama. Meski aku yang bertanggung jawab tapi persetujuan Yabu-san tetap mutlak.”

“W-Why?” tangan Alba terkejut.

“Dia presdirnya,”

“Begitu ya?” Ujar alba lambat. Tidak semudah yang ia kira ternyata.

Bartender tadi sudah kembali kehadapan mereka membawa pesanan tadi. Chinen menghabiskan hampir tiga perempat gelas dalam sekali teguk. Alba sedikit kaget melihatnya.

Alba mengalihkan pandangannya ke lantai dansa. Irama music yang terdengar semakin berisik. Orang-orang itu bergerak seperti kesetanan. “Kesana saja kalau kau mau,” Chinen berkata tenang kepada Alba yang sepertinya menikmati irama music yang tercipta.

“Dengan gaun strapless?” Alba melirik sengit. Menyeruput tequilanya pelan.Sedikit berfikir. “Baiklah kalau kau tidak keberatan menunggu,”sahutnya sambil menyeringai.

Seolah sengaja gadis remaja yang hanya menggunakan gaun strapless itu melepaskan kacamatanya. Menaruhnya ditas yang terduduk manis distool sampingnya. Mengambil sebuah ikat rambut bewarna hitam. Mengucir rambut sewarna arangnya sambil melangkah menuju lantai dansa.

‘Baiklah kalau kau tidak keberatan menunggu,’ Chinen mulai mengerang kesal. Tidak keberatan menunggu katanya? Sekarang ia benar-benar keberatan. Ekor matanya mengikuti gerak Alba yang terlihat cuek padahal ada beberapa laki-laki yang sudah mulai terlihat tertarik padanya. Dan ketika Alba mulai menghilang diantara kerumunan orang itu ia sudah benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.

.

.

Entahlah, Chinen sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba dia peduli pada seorang gadis. Selama ini gadis yang benar-benar ia perhatikan hanyalah anak gadis Yamada yang selalu memanggilnya aniki itu. Yeah, karena mereka sudah seperti keluarga sendiri. Tapi gadis ini? Dia bahkan hanya ‘calon’ rekan kerjanya.
Dicarinya gadis itu diantara kerumunan orang yang ada ditengang dance floor itu. Dapat. Ditariknya pinggang ramping itu merapat padanya dari belakang. Membalikkan tubuh mungil itu sedikit kasar.

Alba meringis geli. “ Hn, Berubah pikiran tuan?”

“Dandananmu terlalu menarik perhatian. Tidak semua orang disini menyimpang nona,”

Alba merapatkan tubuhnya kearah Chinen. Ia menyeringai tipis. Sedang Chinen sendiri merasa gadis ini sudah mulai mabuk. Dia terlalu berani untuk seorang pendatang berusia Sembilan belas tahun. Jadi jangan salahkan ia yang mulai kembali merengkung Alba kedekapannya.

Gaun strapless yang mengekspos bahu dan leher jenjangnya. Ditambah rambut sebahu yang diikat asal itu. Terlalu dewasa. Kulit sawo matangnya mulai berkeringat karena suasana disini semakin panas, terlalu banyak orang. Entah Alba sadar atau tidak tapi Chinen bisa merasakan tubuh mungil itu semakin merapat padanya. Ia bisa mencium bau vanilla samar. Dan entah pengaruh alcohol atau bukan Chinen menangkup pipi chubby itu dengan tangannya. Menempelkan bibirnya ke bibir Alba. Memangutnya mesra.

Tautan itu semakin memanas. Mengacuhkan puluhan orang lain yang ada disekitar mereka –tidak ada yang peduli. Menyesap perpaduan antara tequila dan sherry. Berbagi saliva. Beradu lidah.Chinen menuntut semakin liar. Menjengkeram tengkuk itu semakin keras.

Tempat itu terasa semakin panas. Dan Alba bisa merasakan Chinen mulai membimbing langkahnya keluar kerumunan. Mendorong tubuhnya untuk merapat kedinding. Melepas sejenak tautan mereka dengan nafas terengah. Chinen mulai mencondongkan tubuhnya menghembuskan nafas beratnya disamping telinga kanan Alba.

“it don’t mean I meant it,” Alba bisa merasakan kecupan-kecupan kecil yang mulai Chinen berikan pada lehernya. “But, you made a fool out of me” dan bibir tipis yang kembali membungkamnya dalam sebuah ciuman panas.

. -Pada Rembulan-.

Ketukan-ketukan ringan ringan tanpa irama yang mulai terdengar dari flat shoes baby blue yang sengaja Alba hentaktan ternyata sama sekali tidak menarik perhatian dari dua eksistensi didepannya itu. Sudah hanpir tiga puluh menit dan dia sudah benar-benar bosan. Tapi tetap saja dua pemuda dihadannya kini masih tetap tidak bicara apa-apa. Yang satu hanya membolak balik laporan hasil terder yang berhasil ia ‘menangkan’ kemarin. Yang satunya sibuk dengan laptopnya sendiri. Ini sudah yang keempat kalinya Shori membaca laporan itu dalam tiga puluh menit terakhir ini. Huh berniat menghapal?! Dengus Alba sebal.

”Good Job”. Gadis berparas ayu itu hanya tersenyun sinis. Menunggu lebih dari setengah jam hanya untuk mendengar dua kata itu? Miris sekali.Fuma menyebalkan. Dibenahinya topi baseball-nya agar lebih memperlihatkan wajahnya. Alba bisa lihat Shori yang hanya terpaut beberapa tahun darinya itu menghembuskan nafas sedikit –lelah.

Shori menarik tangannya dari atas meja, kemudian melonggarkan dasi merah marunnya. “Jangan terlalu bertindak terang-terangan,” Fuma mulai menatap Alba dengan pandangan sedikit khawatir. Mengamati gadis yang duduk didepannya kini balik mentapnya tidak mengerti.

“Kau dan CEO NYC itu, siapa namanya? Chinen? Yah itu dia. Kalau kau mamang jalan dengan pria itu hanya karena bisnis jangan terlalu tunjukan ketertarikanmu kalau kau memang tertarik. Kento sudah memberitahumu tentang siapa pria itu yang sebenarnya, Jadi aku harap jangan sampai kau menaruh hati padanya,” ucap Fuma pelan sedang Shori mulai menggenggam lembut tangan Alba diatas meja.

Alba membalas genggaman itu erat dan tersenyum lembut. Mereka memang menyebalkan sama seperti dirinya tapi justru karena itu mereka bisa dekat dengan cara yang unik. “Aku tahu, tenanglah aku sudah siap dicampakan,” cengir Alba sedikit mendramatisir suasana mencoba menenangkan ‘kakak’ didepannya ini. “ Lagi pula dia juga terlihat sangat menyayangi reputasinya itu, tidak mungkin dia meninggalkan perusahaan sekelas H!S!J!,” sambungnya. Fuma tersenyum kecil melihat mereka.

Shori hanya tersenyum kecut, ditariknya tanggan tan yang masih berada digenggamannya membuat tubuh Alba semakin mendekat kearahnya. “Arigatou,” bisik Shori lembut sembari mencium sayang pelipis Alba lekat. Alba hanya bisa membalasnya dengan sebuah kecupan singkat dipipi pemuda dengan senyum menawan itu.

Alba tahu apa yang telah ia lakukan. Ia sadar akan semua konsekuensinya ketika ia memilih memenangkan tender besar ini dengan sedikit ‘bermain’ dan ia sangat sadar dengan siapa dia bermain.

Ketika dia terbangun disebuah kamar hotel mewah sendirian dengan selembar cek dan kartu nama. Bukankah dia terlihat sama dengan gadis-gadis lain? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang kau butuhkan. Dan kau harus membuang jauh-jauh kenangan itu ketika semuanya sudah selesai.
Terutama kalau ini untuk bisnis.

Iya kan? Yuri.

-Pada Rembulan-

“Kemana?”

Alba mulai menatap lurus kedepan kosong. Kali ini dirinya dan sang CEO kaya sedang berada di Mercendes-Benz SLR McLaren Yuto. Di parkiran salah satu restoran perancis ternama. Menghadiri sebuah pesta pelelangan perhiasan. Yuto, Yuto Nakajima tunangannya.

“Alba?”

“nope”

“Kalau begitu kita pulang,”

Nakajima adalah nama yang disandingnya. Nama yang harus ia harumkan. Banggakan. Tapi tidak bisa ia cintai. Alba tak tertarik tentang eloknya nama itu meski ia telah dihadapkan dengan keindahannya, Yuto.
Karena ia tahu, Itu bukan namanya.

Itu nama calon suaminya.

“Kau baik-baik saja?”

Tanya Yuto membuyarkan lamunannya. Suara yang lebih lembut dari bisikan. Remasan yang lebih hangat dari dekapan. Yuto, ia tampan,usianya bahkan belum ada tiga puluh. Masih sangat muda dan berkharisma.

Alba hanya membalasnya dengan senyum tipis.

Rembulan mulai terlihat ketika ponsel Yuto berdering. Panggilan luar negeri. Alba mendongak menatap rembulan ketika Yuto menjauh mengangkat telpon.

Pada rembulan

Rembulan cantik dalam kungkuhan langit malam.

Hitam.

Gelap.

Sekelam mata yang pernah menjeratnya dulu.

Kalau lama-lama dipikir habis waktu tuk menduga duga

Hehmm

Mati gelisah atau beranikan diri bertanya

Jika ia ini irama, bolehkah ia ajak rembulan dirinya berdansa

Begitu dekat sehingga hati tak lagi berjarak

Ini untuk dirinya

…duhai rembulan

Redupkan sinar

Hingga batas punggung

Tubuh ini miliknya

…wahai rembulan

Atas nama cinta

Nikmatilah rindu

Bisik pun merayu

Sepintas seperti janji surga

takpeduli tak mampu hentikan nyanyinya

Pada Rembulan.

.

Langit terlihat lebih cerah pagi ini. Meski tidak ada suara kicauan burung. Hanya orang-orang yang berlalu lalang dan sesekali kendaraan-kendaraan bermesin diluar sana. Pagi yang tenang. Dalam sebuah kamar apartemen mewah dideretan jalan utama kota Tokyo itu, Alba sama sekali tidak bisa mengacuhkan rasa sakit disekujur tubuhnya untuk sejenak menikmati ketenangan pagi.

Ditariknya selimut tebal yang hangat untuk menutupi tubuhnya ketika merasakan gerakan seseorang dibelakangnya. Merasakan tangan kekar yang melingkar dipinggangnya. Menarik tubuh ramping itu untuk semakin mendekat.

Hembusan napas berat yang menyapu tengkuknya membuat Alba memejamkan mata. Mengutuk pesta jenset yang diadakan semalam. Bisa-bisanya dirinya kembali harus terbangun di kamar yang bukan miliknya bersama orang yang sama –lagi. Sial.Alba mengendus sebal.

Alba sendiri juga tidak tahu kenapa bisa-bisanya dia tetap mau menerima ajakan dari pria dibelakangnya kini. Padahal dia sudah cukup tahu kalau pria anti-comitnen macam Chinen hanyalah orang yang mengurusi kepentingannya sendiri diatas apapun. Meski itu untuk orang yang menghabiskan malam denganmu. – memikirkannya hanya membuat kepala sekin pusing ,Alba butuh tidur.

“Tidak tidur?” Tanya pria beriris onix itu pelan. Menyadari Alba yang bergerak tidak nyaman dalam selimutnya. “Hm,” gumam Alba malas menjawab menutup kembali matanya berusaha tidur.

Chinen membalikan tubuh mungil itu untuk menghadap kearahnya. Sesaat merasakan nafasnya tercekat. Seorang gadis yang jauh lebih muda darinya. Manis dengan rambut sewarna arang sebahunya yang yang masih acak-acakan. Hidung bangir dengan Bibir mungilnya yang memerah. Meski dengan mata terpejam gadis dehadapannya kini masih terlihat manis. Dikecupnya singkat pelipis Alba sayang.

Sedang Alba mulai membuka matanya ketika tangan kekar Chinen mulai kembali mengelus punggung telanjangnya.Dengan tersenyum kecil Alba menyentuh pipi yang memerah karena udara dingin itu dan merasakan anak janggut di sepanjang dagu “Kau harus cukur,” bisiknya dengan suara yang masih serak.

Pria dengan gigi kelinci itu tidak membalas omongan Alba yang lebih terdengar sebagai pengusiran untuknya itu. Diciumnya bibir mungil itu sedikit lama. Tangannya kembali meraba dibalik selimut yang menutupi kedua tubuh berbeda warna itu. Alba mulai menggumam tidak jelas. Mencoba melepaskan diri dari lumatan yang mulai terasa sedikit kasar itu.

Sekilas melirik pada keadaan kamar mencari letak jam. Menguatkan dorongannya pada dada bidang Chinen. Memasah wajah kesal yang justru membuat Chinen terkikik geli melepaskan ciuman mereka dan memilih duduk bersandar pada kepala ranjang. Chinen hanya bisa tersenyum dalam hati ketika melihat gadis didepannya itu menatapnya dengan pandangan kesal.

Alba bangkit, berusaha duduk meski sebenarnya dia masih ingin tidur. Ditatapnya iris kelam CEO tampan dihadapannya itu lekat-lekat.” Aku mau pulang,” Sahut Alba beranjak perlahan dari king size milik Chinen.

“Jaga dirimu,”

Alba –yang masih berdiri telanjang dan baru memungut gaunnya berbalik menatap Chinen dengan ekspresi heran. “ne?”tanyanya bingung.
Chinen terhenyak.

Apa yang ia katakana? Apa ia tengah bersikap baik pada gadis muda dihadapannya ini? Tatapan Chinen beralih dari sepasang pualam coklat itu ketubuh polos Alba yang kembali penuh dengan kissmark dan sedikit memar darinya semalam. Chinen sadar dirinya bukan orang mau berkomitmen, mempunyai hubungan khusus selain rekan kerja. Apa lagi dengan seorang wanita. Mereka berisik dan banyak maunya. Tapi gadis didepannya ini sedikit berbeda. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Alba benar-benar melupakannya ketika gadis bertubuh mungil itu menikah dengan tunangannya.

“Jaga dirimu. Nakajima-san sepertinya laki-laki yang baik,”

Chinen beranjak dari tempat tidurnya sambil mengenakan celana panjangnya. Menyulut rokok mahalnya dan kembali menatap Alba dalam. Mata yang seolah melampiaskan berbagai macam emosi. Kecewa? Kesal? Atau sedikit ketidak relaan?

Alba hanya diam dan kembali memasang pakaiannya. Melangkah pelan menuju Chinen sembari tersenyum simpul dan menyecup pipi yang terlihat semakin tirus itu. “Arigato Yuri,”

Ini untuk dirinya

…duhai rembulan

Redupkan sinar

Hingga batas punggung

Tubuh ini miliknya

…wahai rembulan

Atas nama cinta

Nikmatilah rindu

“Malam ini gunakan gaun Prada yang dihadiahkan HSJ copr saat ulang tahunmu kemarin,” perintah itu bermakna absolut, titah itu pasti dan Alba tidak akan berfikir dua kali untuk membangkangnya.

Alexsandria Nakajima.

Itulah dua baris kata yang biasa melabeli sosoknya. Gadis yang dibesarkan dibawah nama besar Nakajima. Wanita yang dipersiapkan untuk menjadi pendamping yang pewaris tahta.

Nakajima dan segala keagungannya.

Dan laki-laki yang ada didepannya adalah yang pemilik kuasa atas segala yang ada pada dirinya. Dia yang tak memiliki apa-apa untuk dikenang dan banggakan tanpa sematan marga keluarga angkat dibelakang namanya
Nakajima dan segala kemulyaanya.

Hingga ketika sepasang bola mata itu mulai metanapnya sayu, dia yang tahu diri akan mengundurkan diri. Memberi penghormatan pada yang berbaikhati menampungnya hingga kini.

Nakajima Yuto dengan segala kebaikannya.

Dia.

Suamiku.

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Pada Rembulan

  1. Shela

    Wah.. Chii tak bisa bayangkan dirimu seperti itu….
    Ffny keren itu mmbuat q sulit ngebayangin karakter chii di sini yg gak suka menjalin hubungan lebih dari rekan kerja

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s