[Oneshot] Sayonara Daisuki na Hito

Sayonara Daisuki na Hito

Kanagawa Miki (OC)

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Song: Sayonara Daisuki na Hito – Kiroro

By: Shield Via Yoichi

Miki mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak mengerti harus melakukan apa sekarang. Dilihatnya hasil pemeriksaan dari dokter yang membuatnya pusing tak terkira. Dia hamil, dan sekarang apa? Chinen bagai hilang dari bumi seminggu terakhir ini, Miki sudah mencoba menghubunginya tapi nihil. Dia juga sudah pergi ke apartemen laki-laki itu tapi tidak ada seorang pun yang membukakan pintu. Haruskah dia mengugurkan kandungannya? Tidak, Miki yakin Chinen bukan pria brengsek yang hanya ingin menikmati tubuhnya dan pergi begitu saja. Kalau memang begitu, untuk apa mereka memadu cinta selama 5 tahun ini?

Miki menghela napas, apa yang harus dia katakan pada ayah dan ibunya? Tersirat kembali ide untuk menggugurkan bayinya dengan Chinen itu. Kenapa harus dia yang tertimpa masalah seperti ini? Miki menatap handphone-nya dan kembali menelpon kekasihnya itu tapi masih seperti sejam yang lalu. Emosi, Miki membanting handphone itu ke lantai dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.

“Miki, apa itu?” teriak ibunya.

“Bukan apa-apa.” Miki segera mengambil handphone dan mencari tempat untuk menyembunyikan surat yang dia genggam. Sayangnya, dia kurang cepat bergerak, ibunya sudah berada di kamarnya.

“Eh? Kau menyembunyikan apa, Miki?”

Miki menelan ludah, “Bukan apa-apa, bu. Bukan hal yang penting.” Miki terlihat tidak nyaman saat ibu memandangnya menyelidik.

Uso da. Biar ibu lihat.” Ibu meraih tempat itu dan mengambil surat itu.

“JANGAN!” Miki berteriak. Tersadar, dia langsung menutup mulutnya.

“Apa-apaan kau, Miki. Jangan ada rahasia dalam keluarga, ingat?” Miki menatap ibunya sambil menggigit bibirnya, kemudian mengangguk.

Ibunya membuka surat itu dan membacanya perlahan. Sementara jantung Miki sudah berdegup begitu kencang. Dia membuka handphone-nya, sepertinya dia harus memberi tahu seseorang agar Chinen bisa segera ditemukan.

“Miki…”

“I-iya, ibu.” Miki menunduk. Dia tidak berani melihat raut wajah ibunya.

PLAK! Pipi Miki memanas seketika akibat tamparan ibu, “INI APA? JAWAB! KAU HAMIL?”

Miki menangis, “Maaf, bu. Maafkan aku…”

“HEH, AKU MELAHIRKANMU BUKAN UNTUK JADI SEPERTI INI! INGAT ITU! SIAPA, SIAPA YANG MENGHAMILIMU?”

Miki terisak, dia tidak bisa menjawab. Apa yang harus dia lakukan? Teriakan ibu tadi membuat ayah Miki terbangun dari tidur siangnya dan langsung menuju asal suara, “Ibu, ada apa? Kenapa teriak-teriak?”

“LIHAT, LIHAT ANAK KEBANGGAANMU INI. DIA HAMIL, APA YANG MAU KAU BANGGAKAN DARINYA SEKARANG HEH?” ibu melemparkan surat itu pada ayah, membiarkan pria itu membaca yang tertulis di sana.

Setelah membaca, dia menatap Miki nanar, “Kau hamil, Miki?” Miki mengangguk pelan, “Gugurkan.. gugurkan sekarang juga. Ayo, biar ayah antarkan.”

“Tidak! Tidak, ayah. Aku tidak mau…” Miki melepas tangan ayahnya yang mencoba mengangkatnya berdiri dan berjalan menuju mobil.

“Ayo, gugurkan. Jangan buat ayah dan ibu malu.”

“Tidak, ayah. Tidak… kami melakukannya karena cinta..”

“Cinta? Kalau begitu, dimana pria itu, hah? DIMANA?” Ayah menjambak Miki kemudian mendorongnya hingga terjatuh. Miki diam, dia tidak bisa melawan karena ini memang salahnya. Bukan, salahnya dan Chinen Yuuri, “Kau bukan anakku.”

“A-ayah…” Miki langsung menatap ayahnya yang sedang melihat jijik kearahnya.

Tingtong~ suara bel menghentikan pertengkaran itu. Ibu dengan segera membuka pintu dan mengajak tamu itu masuk.

“Miki…” suara yang cukup familier itu membuat Miki terkejut.

“Yamada…” Miki menatap pemuda itu heran. Bukannya dia menyuruh Yamada untuk mengatakan pada Chinen agar datang ke rumahnya segera mungkin? Kenapa Yamada yang datang?

“Kau tidak apa-apa?” Yamada membantu Miki berdiri.

“Siapa kau, nak?” tanya ayah Miki dengan nada tidak suka.

“Aku Yamada Ryosuke dan aku kekasih Miki.” Yamada menunduk, “Maafkan aku, paman. Tapi aku akan segera menikahi Miki. Ini bentuk dari tanggung jawabku.”

Miki membelalak, “Hei, apa yang kau katakan?” bisiknya. Yamada hanya menatapnya seakan bilang ‘Diamlah dan dengar.’

.


.

“Hei, apa kau serius, Yamada?”

“Jangan panggil aku Yamada lagi. Kita akan segera menikah 120 menit lagi.”

“Oke, oke, Yama-chan.”

“Bukan Yama-chan, Ryo.”

“Cerewet.”

“Haha…. aku serius. Kalau tidak, aku tidak akan berpura-pura menghamilimu.”

“Tapi, kalau Yuuri…”

“Ssst, diamlah. Ah, kita sudahi telepon ini. Berdandanlah yang cantik ya?”

“Terimakasih, Ryo.”

“Hn.” Yamada mengakhiri percakapan itu. Ditatapnya handphone itu lalu tersenyum sedih, “Berterimakasihlah pada Chii.”

.


.

Miki menatap cincin yang ada di jari manisnya. Entah harus senang atau sedih, dia tidak tahu. Ayah dan ibu juga tidak marah lagi. Seharusnya dia senang, tapi dia masih merasa ganjil. Kemana perginya ayah dari anak yang dia kandung?

“Miki, daijoubu ka?”

“Un, daijoubu.”

“Kau masih memikirkan Chii?” Yamada duduk di samping Miki. Miki mengangguk pelan, “Tak apa kau masih mengingatnya, kau tahu, dia–”

“Dia… brengsek ya? Setelah menghamiliku, dia pergi begitu saja. Tapi….. aku sayang anak ini.” Miki mengelus perutnya, “A-aku juga sayang Yuuri, tapi kenapa?” Miki terisak. Yamada memeluknya, mencoba menenangkan.

“Aku tahu cintamu pada Chinen begitu dalam, aku tahu. Aku juga tidak memaksamu untuk cinta padaku walau kita sudah menikah.”

“Eh?” Miki menatap Yamada intens.

“Suatu hari akan kuceritakan semuanya. Tidak untuk saat ini ya?”

“Kenapa?”

“Karena yang terpenting itu kesehatanmu dan bayimu.” Yamada tersenyum, Miki kembali menangis, kenapa ada orang sebaik Yamada yang mau berkorban menjadi ayah dari anaknya?

.


.

“Hei, sadarlah, Chii. Ini sudah terlalu lama.” kata Yamada melihat temannya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan alat-alat yang menyokong hidupnya.

“Hei.. lihat Miki. Dia makin cantik kan? Dia sedang hamil anakmu.” Tak ada jawaban. Yamada meremas rambutnya kasar, “Aku sudah capek, Chii. Bangunlah kemudian menikah dengan Miki. Dia begitu merindukanmu.”

“Dasar bodoh. Kenapa kau tidak jujur padanya kalau kau sakit parah? Kau takut membuatnya menangis? Bahkan sekarang kau sudah membuatnya menangis.” Yamada mengoceh panjang lebar memarahi Chinen. Tiba-tiba sebuah pergerakan muncul dari tangan Chinen, “C-Chinen… Dokter, dia bergerak!!”

.


.

“Bagaimana keadaannya, dok?”

“Hebat, dia ada kemajuan. Baru kali ini aku melihat pasien kritis yang sudah divonis tidak ada sadar lagi malah mengalami kemajuan pesat. Bisa saja dia sadar kalau terus diberi semangat hidup.”

Yamada tersenyum senang, “Semangat hidup seperti apa, dok?”

“Bisa saja kau menceritakan orang yang dia sayangi. Ingat, dia tidak sadar bukan berarti tidak bisa mendengar.”

“Begitukah? Terimakasih banyak, Suzuki-sensei.”

“Semoga pasien bisa sembuh.” Yamada mengangguk mengiyakan.

.


Rutinitas Yamada cukup membuatnya lelah, tapi dia cukup senang bisa merawat teman-temannya yang seharusnya sudah menjadi suami istri ini. Dia juga sudah berjanji akan merawat Miki jika Chinen sakit ataupun meninggal dunia. Dalam hati kecilnya dia ingin menangis, Chinen yang selama ini dia kenal adalah orang hiperaktif kini terbaring tidak berdaya dibilik rumah sakit. Sementara Miki yang sudah hamil besar juga mulai susah untuk ditinggalkan. Terkadang dia merasa bingung, apa dia harus jujur sekarang pada Miki atau tidak? Ataukah dia menunggu Chinen sadar? Setidaknya Chinen pasti akan menyampaikan beberapa hal penting menyangkut Miki.

Yamada tetap melakukan kesibukannya sampai akhirnya membuahkan hasil. Sang pangeran Miki sudah sadar walau masih susah untuk berbicara lama dengannya.

“Yama-chan, arigatou na…” kata Chinen tersengal.

Iie.. sudahlah, sudah berapa kali kau mengucapkan itu padaku? Istirahat dan segera sembuh.”

“Aku membuatmu menanggung semua ini, maafkan aku..” Chinen menarik napasnya dalam, “Kalau aku sudah tidak ada, jaga Miki dan anakku ya…”

“Kau bicara apa, Chii..”

“Nanti kalau Miki melahirkan, beri nama Mamoru kalau laki-laki dan Lisa untuk perempuan.”

“Lisa? Itu nama yang berat..”

Sou ka… kalau begitu beri dia nama Aiko.”

“Baiklah, akan aku lakukan. Mau lihat perkembangan Miki akhir-akhir ini?” Yamada memperlihatkan foto Miki yang baru saja dia ambil pagi ini, “Dia gemuk ya? Ahahaha…”

Chinen menatap lekat foto itu. Dia begitu rindu dengan sosok yang ada di dalam foto itu. Andai saja penyakit ini tidak menggerogoti tubuhnya, dia mungkin sudah sangat bahagia menikahi Miki. Melihat wanita itu tersenyum setiap hari padanya, semakin membesarnya bayi yang dikandung Miki. Sayangnya, itu hanya sebuah angan-angan.

.


.

“R-Ryo… Ryosuke!!!!” Miki berteriak memanggil suaminya yang sedang menghabiskan makan malamnya. Miki terkulai lemas di kamar mandi dan merasa kesakitan, “RYO!!!”

“I-iya…” Yamada segera melesat menuju asal suara. Dilihatnya Miki yang lemas sambil memegang perut buncitnya kemudian mendekat, “Kenapa, Miki?”

“S-sakit.. sakit..” Miki meremas genggaman tangan Yamada. Panik, tapi segera mungkin Yamada menenangkan diri. Dia langsung menelepon ambulans sementara Miki terus mengeluh kesakitan, “Ryo.. sakit, Ryo..” peluh mengalir dengan deras di tubuh Miki.

“Iya, sabar. Ambulans akan segera kemari.”

“Sudah waktunya kah?” Miki menutup matanya menahan sakit, napasnya tersengal dan sesak.

“Sepertinya begitu. Bertahanlah, dokter pasti menganganimu.” Yamada memeluk wanita itu. Sejujurnya dia bingung harus bagaimana. Andai dia yang merasakan sakit itu, tidak masalah.

“Ini terlalu sakit. Aku tidak kuat, Ryo…”

“Miki harus kuat! Demi Chinen dan bayimu.”

“Demi Chinen ya….”


“Ayo, nyonya.. dorong.. dorong..” Yamada menelan ludahnya mendengar kata-kata dokter itu. Yamada hanya bisa menggenggam tangan Miki dan mengelus kepalanya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, “Tuan, coba beri semangat pada istri anda. Kepalanya belum terlihat, dia terlalu lemah mendorong.”

“B-baiklah..” Yamada menarik napasnya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Miki, “Miki, ayo dorong yang kencang, sayang. Chinen pasti senang kalau kau dan bayimu selamat.”

“Ayo, Miki. Dorong lagi! Sedikit lagi..”

“Aaaargh!! Yuuri sialaaaaaaan!!!!” teriak Miki saat mendorong dengan begitu kencangnya. Suara bayi terdengar, Miki tersenyum lega.

“Bagus, Miki. Bagus, kau hebat.” Yamada mencium kening Miki sayang.

.


.

“Dokter, pasien bernama Chinen tiba-tiba kritis!”

“Apa? Tidak mungkin!” Suzuki-sensei berlari menuju ruang rawat Chinen dan mendapati pemuda itu tidak kenapa-napa, “Sial, aku ditipu?”

“Maaf dok, tapi aku butuh bantuanmu.”

“Apa itu?”

“Aku ingin bertemu Yamada.”

.


.

“Yamada, cepat sekali kau kesini…”

“Anakmu baru saja lahir, kau mau lihat?”

“Bolehkah?” Yamada mengangguk dan segera membawa Chinen yang duduk di kursi roda ke tempat Miki.

“Anakmu laki-laki, Chii.” kata Yamada saat mereka melihat Miki berusaha menggendong bayi mungilnya.

“Mamoru….” Miki membulatkan matanya saat suara yang dirindukannya memanggil nama anaknya, “Yuuri….”

“Halo, Miki. Aitakatta ne…” Chinen tersenyum. Airmata Miki terbendung saat melihat sosok yang dia maki selama ini terlihat begitu rapuh. Badannya yang dulu berisi kini hanya kulit penutup tulang, rambutnya yang dulu tebal sekarang sudah setengah botak. Apa yang terjadi?

“K-kau kemana saja, Yuuri?”

“Aku tidak kemana-mana. Aku disini.”

“L-lalu kau sakit apa?”

“Itu tidak penting, Miki. Sekarang kau sudah hidup bahagia kan? Itu sudah cukup.”

“T-tapi, Yuuri… jangan bilang kau tahu hal ini, Ryo..”

Gomen, tapi aku sudah berjanji pada Chii.”

Miki menangis, ternyata dia begitu bodoh, “Ne, Miki. Jangan menangis, kau tahu kan aku benci melihatmu menangis?”

Miki menatap Chinen sejenak kemudian menghapus airmatanya, “Kalau begitu, boleh aku memelukmu?”

“Tidak, Miki. Aku penuh dengan penyakit berbahaya. Aku tahu kau merindukanku, karena aku juga merasakan yang sama, tapi aku tidak mau menularkan penyakit ke orang yang aku sayang.”

“Beri tahu aku kau dirawat dimana.”

“Tidak perlu, mungkin beberapa hari atau beberapa jam lagi aku sudah tidak disini lagi.”

“Jangan bilang begitu, Chii. Kau pasti sembuh!”

“Jangan pikirkan aku, Yama-chan. Kalian sudah menikah kan? Yang harmonis lah, aku mendoakan kalian. Mamoru pasti bahagia punya ayah sepertimu, Yama-chan.”

Baka, ayahnya itu kau. Chinen Mamoru, lebih cocok kan?”

“Terimakasih, Yama-chan.. sudah waktunya aku kembali. Selamat tinggal, Miki. Aku selalu mencintaimu.”

“Tidak, jangan pergi. Aku juga selalu mencintaimu, Yuuri. Chotto matte!”

Sayonara, Miki…” Miki melihat Chinen tersenyum untuk yang terakhir kalinya hari itu.

Omake:

“Ibu!!” Seorang anak laki-laki berlari kedalam pelukan ibunya, “Ibu, boleh aku bertanya?”

“Eh? Apa itu?”

“Aku bermimpi teman-temanku bertanya kenapa namaku Chinen Mamoru, bukan Yamada Mamoru? Kenapa, bu?”

“Mamoru mau tahu?” Anak itu mengangguk cepat, ” Tunggu sebentar ya…” Miki dengan cepat mencari sebuah kotak kemudian menyerahkan pada Mamoru.

“Ini apa, bu?”

“Coba buka.” Mamoru membuka kotak itu segera dan melihat foto Chinen dan Miki.

“Ini…. aku bukan, bu? Tapi kan ini ibu, berarti….”

“Berarti apa?”

“Jadi papa bukan ayah Mamoru dong?”

“Ahaha.. Mamoru, sekarang kamu terlalu kecil untuk tahu lebih lanjut. Setidaknya Mamoru sudah tahu muka ayah kan? Kalau temanmu bertanya lagi, bilang saja ayahmu ada dua, Chinen Yuuri dan Yamada Ryosuke. Ahaha…” Miki memeluk Mamoru erat. Sepertinya Chinen menjelma menjadi Mamoru dan terus menemani Miki.

Tadaima.”

“Papa pulang!!” Mamoru segera berlari melihat ayahnya yang baru pulang jogging. Sementara Miki merasa begitu mual.

“Miki, daijoubu?” Yamada menghampiri Miki yang memasang wajah tidak enak. Miki menutup mulutnya kemudian menggeleng lalu berlari menuju kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.

“Miki, doushita?”

“Mungkin aku hamil lagi…”

“Eh?”

Owari

Ole(?)! saya kembali~~~~ oke, maaf ya telat ngepostnya.. T____T

saya sibuk ama urusan kuliah dan komunitas yang asdfgasdfghjkl lelahnya. ;;A;; *curcol*

oke, happy bday, @miki_nadia1! maaf ya,  ff-nya kayak cerita sinetron. XD

langgeng yo ama Chinen~

~Shield Via Yoichi~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s