[Oneshot] Goodbye

Cerita cinta kita mungkin sekilas seperti cerita cinta di Titanic yang tidak berakhir bahagia. Tapi, mengenalmu dan jatuh cinta padamu saja sudah membuat hidupku bahagia dan penuh warna.

Goodbye
Cast:
Morimoto Ryuutaro
Shirakawa Akira (OC)
Sato Miharu as Morimoto Miharu (OC)
Hey! Say! JUMP Inoo Kei

“Ryuu…”

Orang yang dipanggil merasakan sesak di dadanya menghilang. Dia mencoba mencari pemilik suara itu.

“Ryuu, aku disini.” Gadis itu tersenyum saat sepasang bola mata yang menurutnya begitu indah menatapnya dengan sayang kemudian tangan pemuda itu merengkuhnya, memeluk dengan erat. Air mata pemuda itu mengalir.

Niichan…” seseorang mengguncang tubuh Ryuutaro yang sedang tidur sambil menangis, “Niichan, bangun. Kau menangis.” katanya lagi, tangannya bergerak menuju wajah Ryuutaro lalu menghapus air mata pemuda itu. Pemuda itu perlahan membuka matanya yang sembab, melihat sekeliling kamarnya sambil memperbaiki posisinya menjadi duduk.

“Miharu…” dia memeluk gadis yang membangunkannya tadi. Air mata semakin deras mengalir.

Miharu membalas pelukan kembarannya yang lebih tua itu, “Doushite, Niichan?” tidak jawaban dari Ryuu, “Akira-chan?” Hening, hanya isak tangis yang terdengar. Ryuutaro memeluk adiknya lebih erat lagi saat semua kenangan yang menyesakkan dadanya berputar diotaknya.


“Morimoto-kun, kau ribut sekali! Seharusnya kau yang menenangkan murid yang ribut, kau kan ketua kelas!” marah seorang gadis berambut pendek pada Ryuutaro. Pemuda itu menatapnya tanpa berdosa.

“Tenang saja, atau kau mau ikut?” tanyanya sambl tersenyum, dia tidak melihat wajah gadis tomboy itu sudah sangat kusut saking emosinya.

Dia menggebrak meja, “Kau!”

“Akira-chan, bantu aku mengerjakan ini…” teman Akira menarik baju gadis itu, “Ryuuchan, jangan ribut. Sana belajar, niichan no baka.” Miharu menarik Akira ke tempat duduknya, meninggalkan Ryuutaro yang menatap mereka sambil menggaruk kepala karena bingung.

“Hei, kau bisa kan menyuruh saudara kembarmu untuk tidak ribut? Aku tidak suka keributan.” Akira mendumel di tempat duduknya.

Miharu tertawa, “Kau seperti tidak tahu anak-anak seumuran kita saja. Ini yang namanya masa puber.”

“Tapi kan…”

“Aduh, nanti saja dibahas. Bantu aku dulu mengerjakan tugas ini, onegai.” Miharu memohon, Akira membuang napasnya berat lalu melihat buku catatan Miharu dan membantunya.

“Ah! Kenapa saudaramu itu tidak sepertimu sih?” Akira tampak begitu kesal melihat Ryuutaro yang terlalu senang membuat kelas gaduh bersama teman-temannya.

“Tentu saja berbeda, kau pikir anak kembar harus sama?” Akira memanyunkan bibirnya. Ryuutaro terlihat begitu kekanak-kanakan dibanding Miharu yang bicara seadanya, lebih suka mengerjakan tugasnya sampai paham dan berbuat gaduh di waktu yang tepat. Sementara Ryuutaro? Dia berisik, malas dan hal-hal yang jelek ada padanya, seratus depalan puluh derajat berbeda.

“Geez, maksudku, kenapa kalian beda banget secara sifat? Cuma wajah saja yang mirip, sifat kalian beda jauh.”

Miharu memutar bola matanya, “Terus, kenapa gender kami berbeda juga? Kenapa tidak sama saja..” Akira melihat Miharu tidak suka, Miharu menyeringai karena Akira sudah kalah darinya.

“Ah, aku pusing melihat kalian berdua!!”

“Ya sudah, tidak usah dilihat. Kami bukan pemandangan kok.”

“MIHARU!!!” Miharu tertawa senang melihat Akira terlalu kesal.


“Akira-chan, boleh aku panggil begitu?” tanya Ryuutaro saat gadis itu sedang sibuk berkutat dengan tugasnya, dia mengangguk, “Ah, boleh aku pinjam bukumu? Sebentar saja kok, Miharu tidak mau meminjamkan catatannya.”

Akira melihat pemuda yang sedang tersenyum tak bersalah itu, “Boleh, tapi tunggu kalau tugasku selesai.”

Ryuutaro tersenyum semakin lebar, “Terima kasih.”

“Iya.”

Dari percakapan singkat hari itu, Akira dan Ryuutaro semakin dekat. Bukan hanya meminjamkan buku saja, terkadang Akira menanyakan pemuda itu apakah dia bisa mengerjakan tugasnya atau tidak. Akira baru sadar kalau Ryuutaro ternyata lebih pintar dari Miharu, bahkan lebih pintar dari dirinya sendiri. Terkejut? Akira sampai terpanah dengan sosok yang dia anggap mengganggu itu. Ryuutaro terlihat begitu berbeda saat dia mencatat tugasnya, melihatnya agak kesusahan menjawab pertanyaan menjadi kelucuan tersendiri bagi Akira.

“Ternyata kau hebat juga ya.” puji Akira saat melihat nilai ulangan Ryuutaro yang sempurna itu.

Ryuutaro tertawa, “Aku begini agar Miharu termotivasi untuk belajar dan…. aku ingin mengejar impianku.”

“Impian? Apa impianmu?” tanya Akira penasaran.

“Melihat adikku bahagia.” Hening. Akira tidak bisa membalas omongan Ryuutaro, apa laki-laki ini sedang membuat lelucon? Bahkan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran, “Ahahaha… aku tahu ini aneh dan kau pasti menganggapku kakak yang over protective, tapi Miharu satu-satunya yang mengerti aku.”

Akira mengangguk. Jadi selama ini, Ryuutaro hanya mencari cara alternatif untuk menghilangkan kesendiriannya di kelas, “Kalau begitu, aku mau mencoba untuk mengerti, bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Ya, kita berteman. Semua kita ceritakan bersama. Pengalaman, rasa sedih, senang, susah kita bagi bersama.” Akira mengembangkan senyumnya.

Ryuutaro terdiam sejenak kemudian mengangguk, “Arigatou.”

“Un!” kata Akira yang kemudian menyerngit heran pada dirinya sendiri. Apa yang baru saja dilakukan? Bahkan Akira sendiri tidak mengerti jalan pikirannya saat ini. Dia hanya ingin terus berbicara dengan Ryuutaro.

Miharu tersenyum di depan kelas sambil melihat kakaknya dan Akira, “Baka..” bisiknya dan tetap tersenyum.

“Eh? Kau bicara sesuatu?” Miharu membelalakkan matanya saat mendengar suara yang cukup familier di telinganya. Tanpa disengaja, jantungnya berdegup sangat kencang.

“Ehehe.. tidak ada, Inoo-san.” Miharu tersenyum canggung, “Aku mau ke kelas sebelah dulu..” Dengan secepat mungkin Miharu berjalan namun langkahnya dihentikan oleh Inoo.

“Tunggu!”

“Ada apa?” tanya Miharu yang sekuat tenaga menutupi rasa gugupnya.

“Ini.” Inoo memberi sebuah surat, “Berikan ini pada Shirakawa-san ya. Onegaishimasu!” Inoo membungkukkan badannya di depan Miharu, sementara gadis itu mati-matian menahan tangisnya.

“Un, aku pergi dulu.” Inoo mengangkat badannya namun Miharu sudah tidak ada dihadapannya, sudah lari entah kemana. Miharu berlari menuju toilet dan mengunci sebuah kamar disana. Dadanya terasa sakit, ingin sekali menangis, tetapi air matanya tak kunjung keluar. Miharu menatap nanar surat itu, membukanya dan mencoba membaca surat itu.


“Akira-chan, kau pulang dengan niichan ya? Aku ada urusan, gomen ne.”

“Urusan apa?” tanya Akira yang sudah selesai dengan lokernya.

“Yah.. begitulah. Ayo, niichan pasti sudah menunggu di depan sekolah.” Miharu menarik Akira dan menemukan Ryuutaro yang sudah sibuk melihat jam tangannya.

“Kau lama sekali sih, Miharu.”

“Gomen ne, Ryuuchan.. Aku ada keperluan, kau pulang dengan Akira saja ya? Jyaa ne!” Miharu segera melesat sebelum Ryuutaro benar-benar menyeretnya pulang.

“Miharu, tunggu!!” Ryuutaro mencoba mengejar tetapi Akira menariknya.

“Mau sampai kapan kau berlaku seperti ayahnya? Sudahlah, mungkin dia mau menemui kekasihnya.”

“Apa? Kekasih? Tidak! Tidak mungkin!”

“Sepertinya sifatmu yang protektif dan cerewet tidak bisa diubah ya. Sudahlah, ayo pulang, baka!”

“Hei, siapa yang kau panggil baka, cowok jadi-jadian?”

“Kau! Awas, lihat nanti ya!” Akira mengejar Ryuutaro yang sudah berlari meninggalkannya sambil terus mengejek Akira yang semakin marah.


“Shiraka– eh, Morimoto-san?” Inoo tampak terkejut melihat sosok Miharu di hadapannya.

Gomen ne, Inoo-san. Tidak seperti yang kau harapkan ya?” Miharu menggigit bibir bawahnya, “Tapi aku tidak bisa memberikan surat ini pada Akira-chan.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin melihat senyum Ryuutaro-niichan selamanya. Dia terlihat bahagia bersama Akira-chan.” Miharu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, “Gomen. Hontou ni gomenasai.”

“T-tapi…” belum selesai Inoo bicara, Miharu langsung saja memotong ucapannya.

Gomen, tapi kumohon berhentilah menyukai Akira-chan.”

“Eh? Tampaknya kau salah paham.” Inoo menggaruk kepalanya tidak gatal dan tersenyum bingung.

Miharu langsung menatap Inoo heran, “A-apa? A-aku…” Oh, tidak. Bagaimana ini?, tanyanya dalam hati. Miharu merasa bodoh karena terhanyut dalam rasa cemburunya, “Jadi surat itu untuk apa?”

“Sebenarnya ada seseorang yang ingin kutanyakan pada Shirakawa-san. Tapi sepertinya aku harus bertanya pada orangnya langsung.”

“S-seseorang?” Oh, Miharu sungguh bodoh!!, teriaknya dalam hati.


“Miharu lama sekali..” gumam Ryuutaro yang baru bangun tidur, dia meregangkan tangannya sambil melirik jam dinding di kamarnya lalu melihat tempat tidur Miharu yang masih rapi, “Sudah malam dan dia belum pulang?” Ryuutaro mencari handphone-nya, kemudian menelepon Miharu namun tiada jawaban. Dia terus mencoba berulang kali tapi tetap nihil. Bahkan sekarang nomor Miharu tidak bisa dihubungi.

Baka, kemana dia?” Ryuutaro berpikir keras, wajahnya terlihat sangat khawatir.

Sejam kemudian, pintu rumah terbuka, “Tadaima.” Mendengar itu Ryuutaro langsung berlari menemui orang yang baru datang itu.

“Kau kemana saja, Miharu?” Nada khawatir terselip disana.

“Hn? Aku baru saja dari rumah temanku. Ayah dan ibu sudah pulang?”

“Belum.” jawab Ryuutaro seadanya. Miharu mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Refleks, Ryuutaro memeluknya dari belakang.

Niichan, hanase yo!” Miharu meronta, “Hanase!”

“Katakan padaku. Jujur saja, aku tidak akan marah. Kau darimana? Bau tubuhmu berbeda.” Ryuutaro melepaskan pelukannya dan menatap Miharu dalam-dalam.

Niichan, kita sudah SMA, haruskah aku melaporkan semua yang telah aku lakukan padamu? Tidakkah itu tidak masuk akal? Kau merusak mood baik saja.” Miharu membalikkan badannya, “Oyasumi.” Lalu melangkah menjauh dari Ryuutaro. Ryuutaro hanya bisa menatap punggung adiknya sedih. Semenjak SMA, dia dan adiknya mulai tidak akrab. Miharu selalu memandang salah semua tindakannya bahkan gadis itu tidak menganggapnya ada jika berada di kelas. Begitu menurut Ryuutaro.

…. mungkin dia mau menemui kekasihnya.”

Tiba-tiba Ryuutaro mengingat kata-kata Akira. Benarkah Miharu memiliki kekasih? Penasaran, Ryuutaro masuk ke kamarnya, melihat Miharu yang sudah tertidur. Ryuutaro tersenyum kecil kemudian mengusap kepala Miharu sayang dan mencium keningnya. Sedetik kemudian matanya sibuk mencari barang yang paling berharga bagi Miharu. Dengan cepat dia menemukannya kemudian menatap telepon genggam itu sebentar lalu membukanya.

Mata Ryuutaro membesar saat baru melihat wallpaper handphone kembarannya itu. Foto adiknya bersama seorang siswa yang cukup terkenal karena kepintarannya–Ryuutaro lupa dengan nama laki-laki itu. Terlihat mesra dan lucu.

“Jadi dia pacar Miharu…” kata Ryuutaro dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan marah.

Niichan, bisakah kau tidak terlalu penasaran dengan kehidupan pribadiku?”

Ryuutaro tersentak kaget, “Miharu, ini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku–”

“Jangan banyak alasan, Niichan. Aku sudah muak.”  Ryuutaro seperti merasakan sesuatu sedang menghantam dadanya, begitu sakit, “Urusi saja hatimu. Kau suka dengan Akira-chan kan?”

“Miharu.. cukup, kau..”

“Kau laki-laki kan? Jadilah berani, jangan hanya di depanku kau berani. Aku mau lihat seberapa peka kah niichan terhadap perasaan seorang gadis.”

“Ini bukan–”

“Mulai besok dan seterusnya, aku tidak ingin niichan mengatur hidupku. Kita urus kehidupan kita masing-masing. Oyasuminasai, niichan.” Miharu langsung menggelung bersama bantalnya. Dia sama sekali tidak ingin mendengar alasan kakaknya. Ryuutaro tak berkutik, baru kali ini Miharu semarah ini padanya.

Ryuutaro beranjak menuju tempat tidurnya, berbaring sambil menatap punggung Miharu dengan tatapan bersalah sampai akhirnya dia benar-benar tertidur karena lelah berpikir.

Miharu membuka matanya saat mendengar dengkuran Ryuutaro kemudian tertawa kecil, “Gomen, niichan.. Aku tetap sayang niichan kok, hehe..”


“Miharu!” Akira berlari menuju gerbang rumah Morimoto. Begitu terkejutnya ia saat yang ditemukannya adalah Ryuutaro, “Eh? Mana Miharu?”

“Dia sudah pergi duluan.”

“Tumben, tidak biasanya. Ada apa?” Ryuutaro hanya diam dan terus berjalan menuju sekolah. Akira yang enggan bertanya juga memilih diam daripada ada yang tersinggung.

Di kelas, keadaan Morimoto bersaudara juga terlihat jelas ada dinding pemisahnya. Miharu yang terlihat begitu ceria, sementara Ryuutaro yang sibuk melamun tidak seperti biasanya. Akira melihat saudara kembar itu heran. Apa sebenarnya yang terjadi?

“Miharu, ada apa dengan kakakmu?” tanya Akira hati-hati. Miharu langsung memasang wajah dingin. Tidak ada ekspresi.

“Tanya saja padanya jika ingin tahu.” lalu Miharu melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.

Akira menghela napas. Memang ada yang tidak beres dengan mereka. Masih penuh tanda tanya, Akira memberanikan diri untuk bertanya pada Ryuutaro, “Err…”

“Kau mau bertanya? Aku juga tidak mengerti kenapa dia begitu marah padaku.”

“Eh? Memangnya apa yang terjadi?” Ryuutaro menceritakan apa yang terjadi kemarin. Akira sesekali mengangguk. Dia menatap mata Ryuutaro yang terlihat sayu, “Menurutku, dia hanya tidak ingin kau terlalu mencampuri urusannya. Mengertilah.”

“Aku cuma mau melindungi Miharu.”

“Ya mungkin bukan seperti itu. Nanti aku coba tanyakan pada Miharu ya?” Ryuutaro tersenyum, kemudian mengangguk, “Seharusnya kau tersenyum seperti ini.”

“Maaf membuatmu repot.”

Akira tertawa, “Repot demi teman itu tidak masalah bagiku. Asal mereka bisa tersenyum aku juga jadi senang.” Ryuutaro menatap mata Akira yang melihatnya tulus.

“.… Kau suka dengan Akira-chan kan?”

Suara Miharu terlintas dipikirannya, membuat berdebar begitu kencang seperti sedang berlari sprint di lapangan. Menatap Akira juga membuat rasa sedihnya hilang seketika. Inikah yang dirasakan Miharu saat melihat pacarnya itu?, Ryuutaro bertanya-tanya.


Waktu terus berlalu, namun Miharu tetap pada ego-nya. Terlihat begitu keras kepala. Padahal, dalam hatinya dia ingin sekali tertawa sekaligus merasa bersalah pada Ryuutaro. Tapi apa boleh buat, dia ingin Ryuutaro lebih mengenal dunia luar. Dia mau Ryuutaro punya alasan yang lebih istimewa dalam hidupnya. Bukan hanya selalu bilang ‘demi adikku’, ‘semua demi Miharu’. Tidakkah mereka sudah remaja?

Sekitar sebulan semenjak kejadian itu, Ryuutaro kembali kekanak-kanakan. Dia tidak peduli kalau apa yang dia lakukan itu mengganggu orang lain atau tidak. Yang dia peduli hanya ingin menghilangkan semua rasa kesendiriannya.  Dia juga mulai menjaga jarak dengan Akira. Bisa-bisa jantungnya meledak selalu dekat dengan Akira. Berlebihan memang, tapi begitulah perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Tapi Ryuutaro bersyukur, karena otaknya tetap cerdas dalam hal pelajaran.

Akira yang diam-diam selalu melihat Ryuutaro mulai tidak tenang. Dia selalu ingin dekat dengan Ryuutaro tapi pemuda itu malah menjauh darinya. Awalnya dia bingung, tapi lama kelamaan Akira hanya bisa melihat Ryuutaro dari tempat duduknya. Dalam hatinya dia bertanya, ‘Apa Ryuutaro membenciku? Apa ada hal yang salah? Apa dia tidak tahu kalau aku menyukainya?’ Setahun berlalu, semakin jauh jarak mereka sampai untuk saling beradu tatap juga tidak bisa.

“Andai saja waktu bisa diulang.” Akira dan Ryuutaro saling beradu pandang karena kaget. Terkejut karena mengatakan hal yang sama dengan suara yang cukup besar.

“Kau… bilang sesuatu?” tanya Ryuutaro canggung. Lidahnya begitu kelu berbicara dengan orang yang disukainya.

Akira menggeleng, “Tidak, kau sendiri?”

“Tidak.” Selesai, tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Sementara Miharu yang melihat mereka dari jauh bersama Inoo, menghela napas kecewa. Terlalu kecewa dengan sikap bodoh kakaknya.


“Kukira kau bisa peka dengan perasaan Akira-chan.” kata Miharu saat memasuki kamar mereka–yang sampai saat ini masih sekamar– dan melihat Ryuutaro yang sibuk dengan komiknya.

Ryuutaro melihat Miharu malas, “Maksudmu apa, Miharu? Mengganggu saja.”

“Heee, niichan. Kau mau tahu alasanku saat setahun yang lalu?”

“Apa? Ceritakan saja.”


“Sebenarnya ada seseorang yang ingin kutanyakan pada Shirakawa-san. Tapi sepertinya aku harus bertanya pada orangnya langsung.”

“S-seseorang?” Oh, Miharu sungguh bodoh!!, teriaknya dalam hati.

Suki desu.”

Miharu terdiam tak bergeming, wajahnya memerah. Di satu sisi dia senang rasa sukanya terbalas. Di satu sisi, dia bingung apa yang akan dilakukan oleh Ryuutaro. Dengan cepat Miharu mencari ide, “Inoo-san, ada satu permintaanku sebelum kau benar-benar menjadi pacarku. Tidak sulit kok.”

“Hn? Apa kira-kira?”

“Apa kau bawa T-shirt dan parfum?”

Inoo mencoba mengingat, “Ya, ada di loker. Kenapa?”

“Oke, misi dimulai!” Miharu menarik tangan Inoo menuju loker kemudian menyuruh Inoo membawa T-shirt dan parfum ke hadapannya, “Nah, kau pakai T-shirt-mu ini sekarang.”

Inoo langsung membuka kemeja tapi terhenti karena teriakan Miharu, “Kyaaa… kau mau ngapain?” Miharu menutup matanya. Seumur hidup dia hanya melihat Ryuutaro bertelanjang dada. Bahkan ketika pengambilan nilai renang dia lebih memilih berbohong bahwa dia sakit daripada harus melihat murid laki-laki tanpa atasan.

“Aku mau ganti baju. Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak macam-macam kok.” Inoo kembali membuka kemejanya, “Nanti kalau sudah selesai, aku beritahu.” Miharu mengangguk.

Inoo tersenyum kecil melihat Miharu yang menutup mata dan tangannya menutup wajahnya. Sepertinya wajahnya sudah memerah, “Apa yang kau bayangkan? Wajahmu begitu merah.”

“E-eh? T-tidak apa-apa. Apa sudah selesai?”

“Sudah sejak aku bertanya padamu.” Miharu membuka matanya perlahan. Inoo tersenyum, Miharu membalas senyum itu canggung, “Terus, apalagi selanjutnya?”

“Ah!” Miharu menjentikkan jarinya, “Ayo kita ke bioskop!” Inoo menatap Miharu heran. Apa sebenarnya yang dipikirkan gadis ini.

“Ayo, Inoo-san. Pilih judul film-nya.” Miharu menatap semua poster film dengan antusias.

“Bisakah kau hanya memanggil namaku?” Inoo berharap. Miharu melihat Inoo kaget. Jantungnya berdetak melebihi kecepatan yang biasanya, “Belum saatnya ya?”

“Hehe.. Ah, kita menonton film apa? Horor? Aku yakin kau tidak suka film bertema roman picisan.”

“Kau suka roman picisan? Ya sudah kita menonton itu saja.”

Miharu mengangguk kemudian menyeringai, “Wah, kau takut hantu ya?”

“T-tidak!”

“Bohong! Iya kan?”

“Kita jadi menonton tidak sih?”

“Eh, jangan marah.” Miharu menarik tangan Inoo untuk mendekat, “Sebelum menonton, ayo kita berfoto bersama.” Miharu mengeluarkan handphone-nya. Tapi Inoo malah menyuruh Miharu menyimpan handphone-nya dan mengambil foto dengan handphone Inoo. Dia beralasan, agar bisa mendapat email Miharu dan mengirim foto-foto mereka.

Setelah selesai berfoto dengan berbagai pose –yang bahkan bisa membuat mereka tertawa melihat hasil potretnya– mereka pun membeli tiket dan masuk studio untuk menonton.

Waktu terus berlalu. Film yang cukup membuat Miharu tertawa itu pun usai, waktunya bagi Inoo dan Miharu kembali ke rumah masing-masing. Inoo yang bahkan tidak menonton–karena sibuk menatap gadis yang antusias menonton film itu sambil memakan popcorn–hanya bisa menggeleng saat hendak keluar dari bioskop. Mereka keluar dari gedung bioskop itu dan berjalan bersama dalam rasa canggung yang masih ada. Mereka akan berpisah di perempatan jalan karena beda arah.

“Tunggu!” seru Miharu. Inoo yang sudah membalikkan badannya membelakangi Miharu kembali melihat gadis itu, “Bisakah kau…” Miharu mengeluarkan parfum milik Inoo dari tasnya.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau semprotkan saja di seluruh badanku.”

Inoo menaikkan alisnya, “Eh? Apa kau tidak malu? Ini di muka umum.”

“Sudahlah, tidak apa-apa.” Miharu menunjuk punggungnya sambil tersenyum. Inoo pun mengikuti perintahnya.

“Sudah semua.” kata Inoo setelah menutup parfum miliknya.

Miharu menyengir, “Ehehehe…. Arigatou untuk hari ini ya, Kei!” Miharu bergerak cepat mencium pipi Inoo dan kemudian lari meninggalkan laki-laki yang terdiam itu yang terus melihat Miharu sampai benar-benar hilang dari pandangannya.


“J-jadi selama ini kau….. Ah, jahat sekali!” Ryuutaro melemparkan bantalnya ke arah Miharu, “Aku kakakmu, ingat?”

“Heeeh.. karena itu makanya aku mengodamu sedikit dengan cara lain tapi tidak berhasil.” Miharu memasang muka sedih, “Kau tahu, Akira-chan suka padamu. Pekalah sedikit..” Miharu menjewer Ryuutaro geram.

Ryuutaro memegang telinganya yang masih dijewer Miharu, “Akh.. sakit.. iya, iya.. aku tahu tanpa kau beritahu.”

“Eh? Hontou?” Miharu membesarkan matanya, “Tapi kenapa terlihat tidak ada respon?”

“Err… itu..” Ryuutaro menggaruk kepalanya tidak gatal, “Karena setiap dekat dengannya pernapasanku jadi sesak. Lagipula dia sudah menjauh dariku.”

Miharu langsung memukul kepala Ryuutaro, “Kau tidak ingat kalau Akira-chan benci keributan? Kau kan sudah menjadi asal keributan kelas! Ryuuchan no baka!”

“Kenapa selalu aku yang salah?”

“Karena kau memang salah, huh!”


Akira merenggangkan badannya setelah pekerjaan rumahnya telah selesai dia kerjakan. Matanya menatap ke luar jendela yang tampak sedang memperlihatkan pemandangan langit malam yang indah. Bulan penuh bersinar terang dan bintang-bintang yang terus saja berkelap-kelip. Akira tersenyum kecil namun air mukanya berubah saat otaknya menampilkan bayangan Ryuutaro. Seketika matanya yang berbinar berubah redup. Menatap hampa langit itu dan melihat kearah bukunya. Buku catatan yang paling sering Ryuutaro pinjam.

“Mungkin lebih baik perasaan ini aku buang jauh-jauh.” Akira memegang buku catatannya erat dan masih menatap lekat sampul buku itu, “Ryuutaro sudah berubah, aku membenci perubahannya.”

Akira tahu, rasa sukanya hilang tidak akan semudah mengucapkan kata-kata tadi. Tapi dia yakin, dia bisa memendam perasaan itu dan menghempaskan rasa itu sekuat tenaganya sesuai keinginannya. Akira beranjak menuju lemarinya. Mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan membukanya, “Sayonara.”

Setelah Miharu menasihati Ryuutaro –lebih tepatnya memarahinya–, pemuda itu kembali berusaha mendekati Akira, meminjam buku gadis itu. Tapi respon yang didapat hanya ekspresi datar Akira. Ryuutaro mengutuk dirinya sendiri. Kalau begini, dia tidak akan menjauh dari Akira sejak awal. Kelihatan jelas perbedaan Akira saat dia mengajaknya berbicara dengan Akira yang diajak berbicara dengan tenang bersama yang lain. Ryuutaro memang pintar dalam pelajaran, tapi dia bodoh dalam urusan hati seperti ini.

Minnasan, karena sekolah kita sebentar lagi berulang tahun, kita akan mengadakan pentas seni. Dan kita ditunjuk untuk memainkan sebuah teater. Aku harap kita bisa bekerjasama.” Ryuutaro menjelaskan pengumuman yang dia dengar dari gurunya.

Seorang murid mengangkat tangan, “Ano… teater seperti apa? Adakah tema yang diberikan guru?”

“Tidak ada tema, tidak ada pembatasan ide untuk pentas seni ini. Karena ini hanya untuk kesenangan semua pihak sekolah ini.” kata Ryuutaro. Semua murid gaduh, banyak yang memberi pendapat, pertanyaan bahkan saran. Tetapi tidak untuk Akira. Dia memasang headset dan mendengar lagu sambil menatap kelas yang sedang kacau itu.

Ryuutaro sendiri sedang bingung. Dia tidak begitu paham tentang teater dan segala macamnya, “Tenang semua, tenang! Aku akan membuat polling. Aku beri kalian waktu setengah jam untuk berunding dan berikan hasil pendapat kalian padaku.

Ryuutaro kembali ke tempat duduknya lalu meremas rambutnya, kelas gaduh membuatnya pusing. Semuanya begitu heboh mencari ide terbaik buat pementasan mereka. Hanya satu orang yang bahkan tidak ambil pusing tentang ini, Akira Shirakawa. Dia sibuk dengan headset dan bukunya. Ryuutaro membuang napasnya, dia masih menyalahkan dirinya yang begitu bodoh.

Setengah jam kemudian, Ryuutaro menerima secarik kertas berisi ide dari teman sekelasnya. Dia membacanya sekilas dan mengangkat alisnya bingung. Cinderella? Snow White? Bahkan ada yang menuliskan Titanic dan pertunjukan Kabuki.

“Err…” Ryuutaro menggaruk kepalanya tidak gatal, “Kita lakukan polling dengan judul-ju—”

“Tunggu, ketua! Aku bisa memandu teater ini.”

“Miharu…” Ryuutaro melihat Miharu tidak percaya. Gadis itu melangkah ke depan kelas.

“Kita akan menggarap Titanic, karena aku suka ceritanya.”

“Bagaimana kalau kita membuat sendiri? Atau seperti menceritakan cerita di komik?”

Miharu mengembangkan senyumnya, “Kau kreatif, Yamada-san! Kau buat naskahnya, nanti berikan padaku agar aku bisa mencari pemerannya. Semuanya, kalau ingin menyumbang ide, silakan. Teater kita harus jadi teater yang paling bagus!”

Iya, betul sekali! Kau hebat, Morimoto-chan! Kelas kita terhebat!, semua teriakan itu merupakan semangat dari kelas mereka. Yamada menampung semua ide dan kemudian menyatukan semua ide itu menjadi naskah yang bagus dan diterima Miharu dengan cepat. Miharu tidak heran lagi dengan kehebatan imajinasi Yamada membuat karya tulis. Sekarang dia hanya mencari tokoh yang cocok dengan kemampuan batinnya.


“Akira-chan, aku begini karena ingin penampilan kita sukses.” Ryuutaro merapikan jubah yang dia kenakan.

“Aku tau.” kata Akira tanpa melihat pemuda itu, “Aku tidak ingin perjuangan kelas kita selama sebulan ini sia-sia.”

“Para pemain, ayo semuanya berkumpul. Sebentar lagi kita akan tampil!” seru Miharu sang sutradara,  Yamada mengikuti disampingnya.

Hai!”

Mereka segera berkumpul mengelilingi Miharu dan Yamada. Sutradara dan asistennya itu memberi pengarahan dan semangat kepada semua. Banyak yang terlihat gugup, tapi mau tak mau rasa itu harus dibuang. Teater dimulai, Miharu melihat semuanya dari belakang panggung, dia bahkan merasa lebih gugup jika Yamada tidak ada disampingnya. Dia gugup melihat pemeran utamanya yang sedang tidak akur itu –Ryuutaro dan Akira–, apa daya hanya mereka yang cocok melakukannya mengingat latihannya yang cukup singkat itu.

Tiap adegan berjalan sesuai skrip. Tidak ada kesalahan satu pun, Miharu agak lega, saatnya adegan penutup dimana Ryuutaro dan Akira harus mengakhiri teater ini.

“Yamada-kun, aku tidak bisa melihatnya.” Miharu menghadap Yamada sambil menutup matanya.

“Tidak, kau harus melihatnya, Morimoto-chan.” Yamada memegang bahu Miharu, “Pasti sukses kok.” Miharu membuka matanya melihat Yamada kemudian melihat Ryuutaro dan Akira. Jantungnya hampir lepas saking takutnya. Didalam hatinya dia selalu berkata sukses tapi tetap ragu.

Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu. Tirai panggung sudah menutup. Tapi kedua pemeran utama masih berada di panggung sambil berpelukan.

“Ehem.” kata Akira, “Sampai kapan kau mau memelukku?”

“Aku tidak mau melepaskannya.”

“Hah? Apa kau gila?”

Suki..” kata itu membuat Akira terdiam, “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

Akira mencoba melepas pelukan itu, “Apa maksudmu, heh? Jangan seenaknya!”

“Aku tahu kau suka padaku juga. Debaran jantungmu terasa tidak beraturan.” Ryuutaro semakin mempererat pelukannya.

“Lepaskan. Nanti dilihat banyak orang.”

“Aku tidak peduli.”

Akira menghela napas. Dia memang selalu tidak bisa melawan Ryuutaro, “Oke, oke, baiklah.”

“Jadi kau menyukaiku juga?” Ryuutaro melepaskan pelukannya dan melihat Akira yang sudah memerah sejak tadi.

“Seperti yang kau tahu, Ryuu.”

“Kei, lihat! Mereka mesra sekali~” kata Miharu yang diam-diam mengikuti Ryuutaro dan Akira berkencan, “Lihat itu, lihat. Niichan ternyata romantis.”

“Jadi maksudmu aku tidak romantis?” tanya Inoo.

Miharu langsung melihat Inoo agak takut, “Bukan begitu, Kei. Seperti apapun Kei tetap aku suka kok. Kalau Kei tidak romantis, waktu itu pasti tidak…” Miharu tidak melanjutkan perkataannya saat rasa panas mengumpul di pipinya. Dia menunduk menutupi wajahnya. Inoo juga begitu.


“Akira-chan~”

“Iya, Ryuu?”

“Sebentar lagi kelulusan kita tiba, apa rencanamu?” tanya Ryuutaro menyenderkan kepalanya ke pundak Akira.

“Hm.. Aku akan kuliah di Inggris. Kalau Ryuu?”

Ryuutaro membelalakkan matanya, “Inggris? Jauh sekali.”

“Kenapa, Ryuu? Kau tidak mau aku kuliah di sana? Ya sudah, aku batalkan saja.”

“B-bukan begitu. Aku hanya kaget angan-anganmu besar begitu.”

“Ahahaha… Aku kira kau akan melarangku.”

Ryuutaro tersenyum lembut, “Tidak, aku tidak berhak menghentikan impian orang yang kusukai.”

“Oh, Ryuu romantis~” Akira mencubit pipi Ryuutaro, “Arigatou na.” Ryuutaro mengangguk.

Miharu yang melihat itu ikut tersenyum, “Oh ya, Kei. Apa rencanamu setelah lulus?”

“Aku mau kuliah di Perancis atau di Australia.” kata Inoo main-main dengan wajah serius. Dia melihat wajah Miharu yang terlihat kaget sekaligus sedih, “Bercanda kok, haha…” Miharu memutar bola matanya, lalu berdiri kemudian berjalan menjauhi Inoo, “Heh? Mau kemana?”

“Aku capek melihat mereka…. dan aku lapar.” Gadis itu melanjutkan langkahnya sementara Inoo mengejar pacarnya itu.

“Akira-chan, jangan lupa denganku ya!” kata Miharu memeluk temannya itu. Akira mengangguk, matanya melihat Ryuutaro yang terlihat tidak tenang. Dia melepaskan pelukan Miharu sambil tersenyum dan berjalan kearah Ryuutaro.

“Ryuu..”

“Ah, gomen ne, Akira. Bukannya aku tidak mau kau mengejar cita-citamu, tapi..”

“Kau takut aku melihat cowok lain?” Ryuutaro terdiam, “Aku janji hanya Ryuu yang aku cintai.” Ryuu tersenyum walau dia merasa tidak enak dihatinya. Apa mau dikata, dia tidak berhak mengatur masa depan Akira.

Akira tersenyum sambil melambai-lambai pada keluarga dan temannya yang mengantarkannya lalu berjalan menuju pesawat. Sementara Ryuu membelakangi kepergian gadis itu.


Baka! Baka! Baka!” Ryuutaro memukul tanah dengan sekuat tenaga, tangannya pun mulai tergores. Miharu memeluknya dari belakang, dia tidak kuat melihat kembarannya seperti orang gila.

“Cukup, niichan. Semua sudah terjadi.”

“Andai aku tahu kalau akan seperti ini, aku akan melarangnya pergi!! Aku tidak mengerti semua ini!!”

Niichan!!” Miharu membentak Ryuutaro, “Sudah berapa kali kau bilang begitu? Memangnya dengan bilang begitu, Akira akan hidup lagi?”

“M-miha–”

“Cukup, nii.. dia sudah tenang disana, itu bukan karena salahmu.”

“Tapi, Miharu…” airmata Ryuu mulai menumpuk di pelupuk matanya.

“Kita sama-sama kehilangan Akira, aku mengerti perasaanmu, nii.” Miharu mengusap airmata Ryuu yang turun ke pipinya, “Pembunuhnya sudah ditangkap, kau tidak perlu khawatir. Yang aku ingin tahu, apa dia mengirim email atau apapun yang terasa ganjil padamu?”

Ryuu berpikir sejenak lalu mengangguk cepat dan memperlihatkan email dari Akira.

From: Akira-chan

Ryuu, mengenalmu dan jatuh cinta padamu sudah membuat hidupku bahagia dan penuh warna. ♡

Miharu menghela napas panjang menahan tangis melihat email itu lalu melihat Ryuutaro yang memeluk batu nisan Akira dan kemudian melampiaskan kekesalannya ke tanah berkali-kali.

Sayonara….. Akira-chan.”

The End~

Fic ini ditujukan untuk @miruberunyan! Maaf ya lama, dek. ;____________;

dan maaf kalo abal. ;~;

~ Shield Via Yoichi~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s