[Oneshot] We Called It Love

Title                : We Called It Love
Author            : Dinchan Tegoshi
Type               : Oneshot #Boong
Genre              : Romance *Oh? Again? Okay…*
Ratting            : PG-13
Fandom          : JE
Starring          : Takaki Yuya, Arioka Daiki, YamadaRyosuke, Inoo Kei (Hey!Say!JUMP); Sakurai Sho, Ninomiya Kazunari (Arashi); Hideyoshi Sora, Yamashita Opi, Suzuki Saifu, Takahashi Nu (OC);
Disclaimer      : I don’t own all character here. All Hey!Say!JUMP and Arashi members are belongs to Johnnys & Association. All OC are belongs to theirselves. Ini adalah cerita valentine yang ketelatan, dan akhirnya saya meminjam OC dari beberapa orang.  It’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… COMMENTS ARE LOVE Thanks.. ^^
Sangat terinspirasi dari film ‘He’s Just Not That Into You’ beberapa adegan sama, tapi settingnya pindah ke Jepang semua. That’s why this is a fanfic… DON’T LIKE, DON’T READ AND FLAME ME…
WARNING!! SAYA NULIS INI LEBIH DARI 9000 KATA… MAU DIBIKIN DUA CHAPTER TAPI RASANYA RIBET BANGET… GOMEN NA…

WE CALLED IT LOVE

“Jadi intinya dia gak nelpon balik setelah pertemuan terakhir kita,” ucap Opi kesal, gadis itu mengacak rambut pendeknya sambil menatap ponselnya seakan jika saja ia mengalihkan pandangannya maka ponsel itu akan hilang.

“Gak usah dipelototin terus!” seru Saifu dengan nada sarkastik, “Berarti dia gak tertarik sama kamu. Simple.” ucap Saifu yang disambut delikan marah dari Sora yang duduk tepat di sebelah Opi.

“Mungkin dia sibuk, jadi belum sempat telepon kamu?” ungkap Sora lembut, menenangkan Opi.

“Atau mungkin nomor teleponnya ilang? Atau jangan-jangan dia kecelakaan?” tambah Saifu masih sinis.

Daiki masuk ke ruangan dengan empat gelas coklat panas dan menyimpannya di atas meja.

“Jangan dengerin Fu-chan deh, pasti bakalan ngaco. Kayak pernah pacaran aja!” sambar Daiki sambil mengacak rambut Saifu yang panjangnya sebahu itu, selanjutnya membuat gadis itu marah. Dia tidak pernah suka diganggu Daiki walaupun faktanya mereka berempat sudah berteman sejak awal masuk kuliah sampai kini sudah bekerja.

“Aku punya pacar!” seru Saifu protes.

“Oh… laki-laki playboy itu ya?” balas Daiki dengan nada sarkastik membuat Saifu kesal setengah mati. Walaupun faktanya memang Yamada adalah playboy sebelum pacaran dengannya, tapi Daiki tidak berhak berkomentar soal ini.

Daiki mengalihkan perhatiannya pada Opi, “Memangnya cowok yang namanya Toma ini spesial, ya?” tanya Daiki sambil menyesap coklat panasnya, duduk di sebelah Saifu yang masih dongkol dengan kelakuan Daiki.

Opi menatap Daiki, “Kayaknya sih gitu. Dia menyenangkan, dia tampan, dia mapan… hmmm… dia juga bilang kalau pertemuan denganku kemarin sangat menyenangkan,”

“Semua cowok juga bakal bilang gitu!” seru Saifu lalu mengambil segelas coklat panas juga.

“Fu!!” hardik Sora pelan, “Sudahlah… Ikuta Toma tidak akan keluar dari layar ponselmu,” ucap Sora mengambil ponsel Opi dan menyerahkan segelas coklat panas pada gadis itu, “Minum dulu sebelum dingin…”

Opi menyerah dan meminum coklat panas itu.

“Jangan telpon dia duluan!” seru Saifu ketika melihat Opi sudah menjulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya kembali.

“Sejak kapan kita gak boleh nelpon cowok duluan?!” seru Opi sewot, apalagi melihat ponselnya kini sudah ada di tangan Saifu.

“Aku sudah menghapus nomor Toma, jangan jadi stalker, sayang… kita itu diciptakan buat menunggu…” ucap Saifu sambil tertawa puas sementara Opi merasa sudah siap mencekik Saifu kalau saja Sora tidak memeganginya.

====================

Sora membuka pintu apartemennya. Tidak seperti ketiga temannya yang tinggal di satu atap sejak kuliah, Sora tinggal dengan Takaki Yuya, kekasihnya. Sejak tiga tahun lalu.

“Masalah Opi sudah selesai?” suara itu datang dari dapur. Sora menghampiri Yuya setelah melepaskan jaketnya.

“Masak apa?” tanya Sora melihat Yuya sibuk dengan berbagai peralatan masak.

“Hanya spageti… aku hanya bisa buat spageti,” sambung Yuya, “Ganti baju sana…”

Sora mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengganti baju kerjanya, “Ngomong-ngomong Opichi sudah agak tenang,” teriak Sora untuk menjawab pertanyaan Yuya sejak tadi.

Sora kembali beberapa menit kemudian dengan pakaian tidurnya, duduk menunggu Yuya membawa dua piring spageti.

“Jadi, bagaimana harimu?” tanya Yuya setelah mereka memulai acara makan malam yang bisa dibilang agak telat karena sudah hampir tengah malam.

“Lumayan… tidak ada drama di telepon lagi soal novel yang harus ku edit, atasanku hari ini moodnya baik, teman-temanku juga baik, dan…. ibu meneleponku,”

“Oh ya? Apa kabar dengan keluargamu?” Yuya sudah kenal dengan keluarga Sora, tentu saja karena ia sudah berpacaran dengan Yuya sejak enam tahun lalu, awal sekali mereka masuk kuliah.

“Mereka baik-baik saja. Ibu menelepon karena adikku akan menikah…”

“Oh ya? Bagus dong….” Sora bersumpah dia bisa melihat ketidak nyamanan dari ekspresi Yuya.

“Kau pikir… menikah itu bagus?” Sora menurunkan sedikit nada bicaranya agar Yuya tidak tersinggung.

“Yaaa… adikmu ingin menikah… itu bagus…” Yuya sama sekali tidak tersinggung dan meneruskan suapannya.

“Kau pikir bagus untuk mereka menikah… tapi…” Sora menyimpan garpu dan sendoknya terlebih dahulu, “Kau tak pernah berfikir bahwa kita juga seharusnya… kau tahu…”

Yuya tersenyum simpul, ia menyingkirkan piring spagetinya, meraih kedua tangan Sora, “Kau sudah tahu jawabannya, Sora-chan. Aku tidak percaya pada pernikahan… mereka yang menikah karena mereka tidak percaya bahwa mereka bisa bersama-sama jika tanpa ikatan legal,”

Sora menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Yuya akan menjawabnya seperti ini, dan tetap saja Sora ingin memastikannya.

“Misalnya saja kau dan teman-temanmu… kalian selalu ada satu sama lain tapi kalian tidak butuh negara untuk melegalkan hubungan kalian, bahwa kalian sahabat. Iya kan?”

Sora mengangguk, membuat rambut panjang ikalnya itu bergoyang-goyang, Yuya mencubit gemas pipi Sora, sementara gadis itu menatap Yuya dengan pandangan takjub.

“Begitu pun dengan kita. Aku mencintaimu… kau mencintaiku… aku berkomitmen denganmu. Lalu kita butuh apa lagi?” Yuya mengecup kedua tangan Sora yang akhirnya hanya bisa tertawa pelan.

“Iya… aku mengerti…” Sora melanjutkan makannya, terkadang ia memang merasa Yuya ada benarnya. Tapi sebagai wanita normal, ia ingin Yuya melamarnya, ia ingin ada pernikahan, gaun yang indah, semua keluarganya merasa bahagia.

Memang Sora tidak pernah merasa Yuya tidak mencintainya. Yuya akan mengingatkan hal itu setiap saat jika Sora lupa. Bahwa selama enam tahun ini tidak ada satu hari pun Yuya tidak mengungkapkan rasa cinta padanya. Tapi sekali lagi, ia juga hanya wanita biasa yang terkadang menjadi normal adalah impiannya.

==================

Malam ini Daiki berencana menyelinap keluar dari apartemen mereka. Ketika ia melihat Saifu di dapur dengan semangkuk besar es krim.

“Nanti tambah gendut, loh!” komentar Daiki.

“Aku memang ingin gendut,” jawab Saifu sewot, “Ngomong-ngomong mau kemana kau? Ke rumah pacarmu itu lagi, ya? Siapa namanya… Nu… Nu…”

“Takahashi Nu,” jawab Daiki, “Iya dong, memangnya kenapa?”

Saifu mengangkat bahu tak peduli. Daiki kembali mengacak rambut Saifu dan mengambil kunci mobil milik Saifu, “Pinjem dulu ya… mobilku lagi sering ngadat…”

“Hey!!” sebelum bisa protes, Daiki sudah berlari keluar.

Daiki berkaca di spion sebelum menjalankan mobil milik Saifu.

“Ih… cewek banget,” keluh Daiki melihat pernak pernik di dalam mobil Saifu yang dominan warna ungu. Daiki langsung mengurungkan niatnya untuk mengajak Nu jalan-jalan. Mungkin pilihan untuk diam di rumah lebih menarik.

Sejam kemudian Daiki sudah berada di depan gedung apartemen kekasihnya. Ia turun dan segera menuju ke lantai lima.

“Sori, agak lama…” ujar Daiki ketika Nu muncul dari dalam.

“Ini sudah pagi,” ucap Nu sambil menarik tangan Daiki, “Ada masalah lagi?”

“Biasa… cewek-cewek pada curhat ya lama jadinya,” ungkap Daiki, “Nuchan sih tidak mengizinkan aku tinggal disini… jadi lebih praktis kan? Toh hampir setiap malam juga aku ke sini,”

Nu tidak menjawab sampai membawa dua gelas teh ke meja tamu, “Tidak, belum saatnya,”

“Sudah dua tahun loh, Nuchan… aku ini serius denganmu,”

“Aku tahu. Tetap saja belum saatnya,” kata Nu keras kepala.

Daiki menghela nafas berat, ia menarik Nu kedalam pelukannya, membuat gadis itu bersandar padanya, “Terserah Nuchan saja deh,” lagi-lagi Daiki akhirnya hanya bisa menyerah pada keadaan seperti ini.

Sebenarnya masih seperti mimpi bagi Daiki bisa berpacaran dengan Nu. Jika mengingat bagaimana keras kepalanya Nu tidak mau menerimanya saat itu. Tapi akhirnya Nu luluh juga pada Daiki. Dan sekarang setelah dua tahun berpacaran, menurut Daiki sudah saatnya mereka ke hubungan yang lebih serius. Ia sudah yakin ingin bersama dengan Nu, tapi gadisnya sepertinya belum memberikan sinyal itu.

======================

Saifu mendengar suara gaduh. Rasanya baru beberapa menit saja ia tidur tapi suasana di sekitarnya sangat ribut.

“Aduh… kamu ngapain sih?” kata Saifu dengan mata menyipit. Ia melihat Opi hilir mudik di dapur memakai jas labnya.

“Aku telaaaatttt,” keluh Opi lalu menyambar dua tangkup roti dan sekotak susu, “Aku duluaaann!!” Opi memakai sepatunya sambil menggigit roti, beberapa detik kemudian ia memakai helmnya dan berlalu dari hadapan Saifu.

Opi satu-satunya di antara keempat orang itu yang tidak mau memakai mobil. Bukannya ia tidak sanggup membeli mobil, tapi menurut Opi tidak efisien dan tidak menyenangkan.

Saifu hanya geleng-geleng kepala dan menatap jam dinding, “Baru jam setengah delapan, kok… ya kan?” Saifu menyipitkan matanya ke arah jendela yang dipenuhi cahaya pagi hari. Ia baru tidur jam 5 subuh. Itu artinya ia baru tidur dua jam setengah.

“Aku ingin tidur lagiiii…” keluh Saifu ketika mendengar suara ponsel berdering. Karena tidak ada siapapun disana, itu pasti miliknya, “Halo?” angkatnya tanpa repot melihat siapa yang menelepon.

“Suzuki-san, saya minta rancanganmu pagi ini di meja ya,”ada jeda sebentar, “Jam 10, oke?” klik.

Saifu langsung kelimpungan. Memang rancangan itu sudah setengahnya selesai, tapi belum rampung sepenuhnya. Sialnya lagi dia meninggalkan semua bahannya di kantor. Sehingga mau tak mau ia harus segera ke kantor kalau tidak mau telat memberikan rancangan itu. Saifu memang masih kuliah, tapi ia sekarang ikut magang di salah satu perusahaan design ternama.

Setelah selesai siap-siap, Saifu sadar mobilnya dipakai Daiki tadi malam. Ia tak punya pilihan lain, ia harus menelepon Daiki, yang kemungkinan besar masih tertidur, atau Yamada.

“Halo? Ryo-chan? Dimana?” tanya Saifu campuran tersedak susu dan panik memakai maskara.

“Di depan apartemenmu, mau sarapan bareng?”

“Kyaaaa!! I love youuuu…” Saifu segera berlari ke lift dan turun ke lobby. Ia mendapati Yamada sedang menunggunya.

“Antar ke kantor… ya? Ya??” Saifu berkata sambil menarik tangan Yamada.

Yamada terkekeh, “Oke.. oke… sebentar, jangan panik…”

Kadang-kadang Saifu heran kenapa Yamada sepertinya bisa membaca pikirannya. Saat ia butuh Yamada sering tiba-tiba muncul dihadapannya.

“Pertama-tama, kau harus ganti sepatumu itu…” kata Yamada tenang.

Saifu menunduk dan melihat ia masih memakai sendal rumahnya. Sambil mengomel akhirnya Saifu kembali ke apartemen untuk mengambil sepatunya.

=======================

Malam hampir tiba ketika Opi keluar dari laboratorium itu. Ia meregangkan otot-ototnya yang rasanya kaku setelah bekerja seharian. Ia bekerja di sebuah perusahaan obat sebagai salah satu peneliti baru.

Opi duduk di atas motornya, menatap layar ponselnya yang masih saja tidak mendatangkan nama yang sangat ingin ia lihat, ‘Ikuta Toma’. Kalau saja Sora tidak memberikan nomor ponselnya pada Toma dan mereka tidak pernah kencan, mungkin Opi tidak akan merasa seperti ini. Tidak diperhatikan, atau bahkan dilupakan.

Akhirnya Opi berinisiatif untuk menelepon Sora, “Halo? Sora… dimana?”

“Aku? Di apartemen, lah… kenapa?” sepertinya Sora sedang sibuk di dapur.

“Aku ingin bertanya soal Toma, kira-kira… dia sering nongkrong dimana ya?”

“Opichi… jangan bilang kau mau kesana?” Opi sudah mendapatkan perhatian Sora sepenuhnya karena sepertinya Sora berhenti bekerja.

“Tidak… aku hanya ingin bertanya…” tentu saja Opi bohong.

Sora berdehem, “Kau benar-benar hanya bertanya, kan?”

“Tentu saja, mana mungkin aku kesana…”

Setengah jam kemudian Opi sudah sampai di bar yang menurut Sora adalah tempat Toma sering nongkrong. Ikuta Toma adalah senior Yuya di kantor. Sehingga tidak heran Sora mengetahui dimana tempat Toma sering menghabiskan waktunya, apalagi tempat itu juga sering didatangi Yuya.

Opi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bar yang belum terlalu ramai. Ia tak menemukan sosok Toma yang ia cari.

“Ada yang bisa saya bantu?” Opi menoleh dan mendapati seorang pria menegurnya dari balik konter minuman.

“Tidak…maksudku… aku hanya menunggu seseorang,”

“Oh… kau ada kencan malam ini?” pria itu terlihat sangat ramah, tentu saja karena dia kemungkinan besar adalah pelayan di bar itu.

“Hmmm… tidak bisa disebut kencan juga sih, aku hanya menunggu Ikuta-san di sini,” ucap Opi lebih pelan, namun sepertinya pria itu mendengarnya.

“Ikuta Toma? Dia tidak akan datang kesini malam ini,” pria itu mendekati Opi, “Apa dia lupa kalau ia harus bertemu denganmu malam ini?” tanya Pria itu lagi.

Opi segera menggeleng, “Tidak.. aku hanya… uhm…” Opi mengeluarkan sebuah pulpen dari tasnya, “Aku mau mengembalikan ini, miliknya… tertinggal kemarin…”

Pria itu mengambil pulpen bertuliskan ‘Yamashita’ sambil menatap Opi, “Kau kesini hanya untuk mengembalikan pulpen milik Toma?” pandangan pria itu sudah penuh kecurigaan.

Opi menghela nafas, “Namaku Yamashita Opi, seminggu lalu aku makan malam dengan Ikuta-san, jadi… kau tahu… aku fikir jika aku bisa bertemu dengannya disini….”

Pria itu tersenyum, “Tunggu sebentar,”

Setelah bicara ke beberapa pegawai disana pria itu mengajak Opi ke salah satu sudut bar, “Perkenalkan, aku Sakurai Sho, temannya Toma,”

Opi menyambut jabatan tangan itu, “Hello…” jawabnya gugup.

“Toma tidak akan meneleponmu,”

Tiba-tiba Opi merasakan kemarahan yang menurutnya tidak pantas Sho menilai Toma seperti itu, “Dari mana kau tahu? Ikuta-san bilang dia senang bertemu denganku, dia bilang….”

“Jika dia tidak berusaha menghubungimu lebih dari seminggu, percayalah… dia tidak tertarik padamu,”

Tiba-tiba Opi terdiam, menatap Sho seakan pria itu hantu, “Kenapa?”

“Karena aku juga laki-laki, itulah yang dilakukan laki-laki,”

“Jadi dia tidak akan meneleponku? Sama sekali?” tanya Opi lagi meyakinkan.

“Sama sekali. Jika seorang pria ingin bersamamu, yakinlah.. dia akan membuatnya terjadi, bukan menelantarkanmu seperti ini,”

Opi terdiam, menatap Sho dengan pandangan takjub, “Terima kasih,”

Malam itu juga Opi pulang ke apartemen miliknya, Daiki dan Saifu dengan sedikit tergesa-gesa. Ia melihat ketiga temannya masih terbangun, menonton film, kebiasaan malam jum’at mereka.

“Hey… sorry lama…” kata Opi ketika masuk, mengecup pipi teman-temannya dengan tidak sabaran.

“Kau terlihat lebih ceria dari biasanya, Yamashita-san,” ungkap Sora ketika Opi duduk di sebelahnya.

Opi hanya mengangkat bahu. Jujur saja Sho sedikit membuatnya lega dan membuka matanya.

“Mau popcorn?” tanya Sora sambil memberikan sekotak pop corn pada Opi.

Beberapa menit kemudian film selesai dengan adegan terakhirnya merupakan adegan pernikahan kedua tokoh utamanya.

“Kenapa menurutmu mereka menikah?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Daiki yang sudah setengah tertidur karena cewek-cewek ini bersikeras menonton film romantis.

“Karena mereka saling mencintai, idiot!” seru Saifu pada Daiki, “Itu yang dilakukan dua orang yang saling mencintai, mereka menikah!”

Seketika ruangan terasa dingin. Daiki menoyor kepala Saifu yang sepertinya tidak menyadari bahwa Sora juga ada di sana.

Opi berdehem dan menggeleng, “Tapi ada juga yang saling mencintai dan memutuskan untuk tidak menikah, iya kan?” tanya Opi kepada kedua temannya yang melihat ekspresi Sora sudah terlihat sedih.

“Iya! Tentu saja, mereka bahagia walaupun tidak menikah,” kata Saifu mencoba membenarkan apa yang Opi ucapkan.

Sora menggeleng, “Aku pulang dulu, ya…” beberapa detik kemudian Sora sudah keluar dari apartemen itu. Sementara Daiki sibuk memarahi Saifu.

=======================

Ketika pulang malam itu Sora mendapati Yuya sedang berkutat dengan televisi baru di ruang tengah. Itu televisi yang Sora inginkan sebulan yang lalu.

“Hey cantik… lihat aku punya kejutan,” kata Yuya yang masih bingung dengan beberapa kabel. Yuya tidak pernah pintar urusan elektronik.

Sora hanya mengangguk, ia tidak sedang ingin diberi kejutan sebuah televisi. Ia ingin cincin perkawinan, atau pertunangan.

“Bagus sekali…” ucap Sora dingin.

Yuya menyadari gadisnya sedang dalam mood yang tidak baik, maka ia berhenti dan menatap Sora, “Ada apa? Kau capek?” Yuya menyentuh bahu Sora lalu mengecup pelan dahi Sora.

Sora menggeleng, “Sekarang kau bisa berhenti…”

Yuya menatap Sora dengan heran, “Berhenti?”

“Berhenti bersikap manis padaku, kecuali kau akan menikahiku…”

Sepersekian detik Yuya menggeleng, ia menyilangkan tangannya di dada, “Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” tanya Yuya yang tak mengerti kenapa Sora tiba-tiba jadi aneh begini. Mungkin karena Sora sedang capek, makanya Yuya lalu terkekeh pelan.

“Kau fikir ini lucu?” jelas sekali Sora sedang tidak bercanda, “Kau fikir ini lucu? Hah?”

Yuya berhenti tertawa dan menggeleng, “Aku tahu ini tidak lucu…”

“Kau tidak bisa terus berpura-pura bersikap baik padaku, kita sudah bersama selama enam tahun… kau sudah tahu sekali bagaimana diriku. Jadi sekarang, kau akan menikahiku atau tidak?” Sora sudah tidak bisa menahan lagi pertanyaan ini. Pertanyaan yang sudah ia simpan sejak tiga tahun lalu.

Yuya menghela nafas berat, “Kau juga tahu diriku… dan saat aku bilang aku tidak percaya pada pernikahan…”

Sora mengangkat tangannya, meminta Yuya berhenti bicara, “Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku sudah bersembunyi dari ini semua sejak tiga tahun lalu… dan…” Sora menggeleng, “Aku tidak bisa bersamamu lagi… maaf… aku akan pindah besok pagi,”

Yuya hanya bisa menatap punggung Sora yang masuk ke kamar dan merasa tidak bisa melakukan apa-apa.

Keesokan paginya, bel apartemen rumah itu sudah berbunyi padahal masih terlalu pagi untuk tamu datang. Daiki yang yang baru saja bangun segera membuka pintu.

“Sora?”

Mata Sora sembab, ia membawa dua koper besar, “Aku…tidak bisa disana lagi…” ucap Sora menahan tangis.

“Ya ampun…” Daiki menarik Sora ke dalam pelukannya, “Tidak apa-apa… kami ada disini,” Daiki mengajak Sora masuk.

Beberapa menit kemudian semua penghuni apartemen sudah terbangun karena suara gaduh di depan.

“Jadi kau putus dengan Yuya?” Opi bertanya ketika memberikan segelas coklat panas kepada Sora.

Sora mengangguk, “Aku tidak bisa berpura-pura terus bahagia dengan keadaan seperti ini,”

Saifu merasa tidak enak karena kemungkinan besar Sora putus karena ucapannya semalam, “Sora-chan… soal semalam…”

“Tidak apa-apa… itu hanya membuka mataku, mungkin Yuya tidak mencintaiku seperti yang aku harapkan,”

Saifu memeluk Sora, “Bilang padaku jika kau butuh sesuatu ya…?”

“Mungkin pendamping… karena dalam tiga hari aku harus pulang ke Osaka untuk pernikahan adikku,” Sora tertawa miris. Pulang ke Osaka tanpa Yuya tentu saja akan membuat seluruh keluarganya bertanya-tanya.

======================

Daiki masuk ke toko kue miliknya sambil bersiul pelan. Hari ini ia sudah punya rencana paling spektakuler yang mungkin tidak akan disangka oleh Nu.

“Ohayou,” sapa Daiki pada salah satu pegawainya.

“Kau ceria sekali, bos! Ada yang menyenangkan?” tanya si pegawai.

“Setiap hari memang selalu menyenangkan,” jawab Daiki terkekeh pelan. Ia melihat tokonya sudah agak ramai walaupun masih pagi.

Ia melihat meja pelayanan masih kosong, atau mungkin pegawainya sedang mengambilkan pesanan di dalam. Maka Daiki menuju meja pelayanan pesan antar dan menyambut seorang pelanggannya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Daiki sambil mengambil catatan untuk pesan antar. Ia sudah biasa menjadi pelayan karena dulu toko ini ia rintis sendirian.

“Aku mau dua cake. Dua duanya di kirim, ke alamat yang berbeda…” ucap pemuda itu, “Satu cake coklat, yang satu tiramisu,” lalu menyerahkan dua kertas tulisan alamat. Daiki membaca kedua kertas itu dan menyadari salah satunya adalah alamatnya.

“Yamada-san, Jadi ini yang pertama untuk…” Daiki membaca alamatnya dengan pandangan heran, “Suzuki Saifu….”

“Pacarku…” jawab pemuda itu.

“Dan yang satu lagi….”

“Tunanganku,” jawab Yamada santai, ia menatap Daiki yang heran, “Kau tahu… yang satu pacarku, yang satu tunanganku… begitu saja… kuharap kau mengerti posisiku disini,” Yamada memberi kode bahwa ia tidak ingin membahas ini.

Daiki memang belum pernah bertemu dengan Yamada sebelumnya. Karena memang Saifu belum lama berpacaran dengan Yamada, baru sekitar tiga bulan saja.

“Oke… kau boleh menulis pesannya di sini…” Daiki menyerahkan dua kartu ucapan sebelum menyingkir dari tempat itu sebelum Yamada mencurigainya.

Ia harus mengatakannya pada Saifu? Atau membiarkan Saifu mengetahuinya sendiri? Padahal selama periode tiga bulan ini Saifu terlihat sangat bahagia dan Daiki tidak tega untuk menghancurkan kebahagiaan itu.

“Bos… ada telepon…” ucap seorang pegawainya.

“Oke… tolong selesaikan pesanan itu,” kata Daiki lalu menuju ke ruangan kerjanya.

“Halo?”

“Kau mengantarkan kue ke kantorku?” suara Nu seakan kebingungan karena menerima sekotak kue di kantornya.

“Ya… kau suka?” tanya Daiki sambil menahan senyumnya.

“Hmmm… tapi ada kotak lain disini, dan…”

“Kau bisa menjawabnya nanti malam karena aku sudah memesan tempat di sebuah restoran, bagaimana menurutmu?”

“Oke… baiklah…”

Malam ini Daiki akan melamar Nu. Melamar memang bukan kata yang mudah diucapkan. Tapi Daiki tahu ia sudah menemukan ‘the one’ nya. Dan cerita Sora tadi pagi soal ia ingin Yuya menikahinya dan karena pemuda itu tidak juga menikahinya, Sora menjadi ragu. Daiki tidak ingin itu terjadi pada Nu.

========================

“Hey… sudah pulang?” tanya Daiki ketika mendapati Saifu sedang bersila di depan TV dengan sekotak cake.

Saifu mengangguk, “Aku tidak ada kerjaan karena designku yang kemarin baru rampung,” ungkapnya santai.

Daiki mengangguk dengan perasaan berat karena tidak bisa menceritakan bagaimana proses kue yang Saifu makan di kirim tadi pagi.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Saifu heran dengan pandangan Daiki yang terlihat sepertinya iba.

Dengan cepat Daiki menggeleng, “Kue di tokoku selalu paling enak, kan?” ucapnya lalu duduk di sebelah Saifu.

“Well, yeah. Aku bahkan kaget dia memesannya darimu. Kau bertemu dia pagi ini? Kata Ryo-chan dia memesan kue ini tadi pagi,”

Daiki menggeleng lagi, “Tidak. Aku tidak bertemu dengan pacarmu,”

Saifu menyipitkan mata tak percaya namun Daiki tetap memasang tampang pura-pura inoccent nya.

“Bukankah pacarku manis sekali. Dia mengirimiku kue padahal bukan ulang tahunku,” kata Saifu dengan wajah sumringah, “Katanya dia akan sibuk seminggu ini, jadi dia mengirimiku kue,”

“Sou da ne… sibuk apa dia?” tanya Daiki dengan curiga.

“Sibuk dengan pekerjaannya. Kau tahu kan dia itu pewaris tunggal dari perusahaan Ayahnya, akhir minggu ini dia ada kerjaan di Hokkaido,”

Daiki mengangguk, “Baiklah,” ia harus memberi tahu Saifu, bagaimanapun caranya.

======================

Siang ini Saifu menyempatkan diri makan siang di dekat kantor Opi. Tidak ada yang spesial, Saifu yang sedang tidak ada pekerjaan ingin merasakan suasana makan siang yang lain.

“Kau menemukan pasangan buat Sora?” tanya Opi di sela-sela makan siang itu.

Saifu menggeleng, “Memangnya kayak beli payung? Susah lah… padahal bawa Daiki saja, urusan selesai,” omongannya tak jelas karena belepotan sambal.

Opi menggeleng, “Sora itu butuh calon suami, bukan sahabat dekat,”

Saifu manyun, walaupun merasa bersalah tapi bukan berarti semudah itu mendapatkan pria yang mau menemani Sora menemui keluarga besar Sora yang mereka tahu sedikit kolot. Yuya menggolongkan mereka sebagai ‘merepotkan’ ketika berbicara soal ini dengan Opi tempo hari.

“Meja ini kosong?” Opi dan Saifu menoleh ketika melihat seorang pria bersetelan jas mendekati mereka. Ternyata kafe ini memang cukup terkenal sehingga tempat duduk saat makan siang sudah tidak tersedia lagi.

“Tentu saja,” jawab Saifu cepat.

Pria itu segera duduk setelah menyimpan nampan berisikan makanan dan membuka jasnya.

“Namaku Ninomiya Kazunari,” setelahnya Opi tahu bahwa pria itu bekerja di gedung sebelah, sebagai akunting sebuah perusahaan.

Jam makan siang hampir berakhir, percakapan mereka yang singkat itu menyenangkan, terutama bagi Opi.

“Boleh aku minta nomer teleponmu?” tanya Ninomiya saat mereka menyadari jam makan siang sudah hampir berakhir.

Opi segera mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Ninomiya, tak lama Ninomiya pun memberikan kartu namanya.

“Kapan-kapan telepon aku. Senang bertemu denganmu, Yamashita-san… Suzuki-san,”

Setelah Ninomiya berlalu, Opi hanya senyum-senyum melihat kartu nama Ninomiya.

“Jangan jadi stalker lagi ya,” ejek Saifu smabil terkekeh melihat sumringahnya Opi saat itu.

Tiba-tiba saja Opi merobek kartu nama itu, “Aku tidak akan meneleponnya. Jika ia menyukaiku, ia akan meneleponku,”

“Waaw.. kemajuan nih. Karena Sakurai-san ya?”

Opi mengangguk, “Mungkin..”

=======================

Sambil berlari-lari kecil Daiki mengayunkan sebuket bunga mawar berbagai warna yang sengaja ia beli sebelum ke apartemen Nu. Ia sudah mempersiapkan semuanya, termasuk kata-kata untuk melamar kekasihnya.

Beberapa kali di bel, tidak juga ada tanda-tanda akan dibuka apartemen itu. Daiki mulai curiga, saat ia memutar kenop pintu ternyata tidak dikunci, terlihat beberapa kardus, ruangan itu terlihat agak berantakan.

“Nuchan…”

Nu terlihat kaget dan segera berdiri menatap Daiki yang terheran-heran menatap ruangan itu.

“Gomen…aku…”

“Ini ada apa?” tanya Daiki lagi.

“Aku mendapatkan tawaran pekerjaan ini sejak sebulan lalu. Aku hanya belum memberi tahumu,” ungkap Nu masih tidak bisa menatap langsung ke mata Daiki.

“Kemana?” suara Daiki terdengar sedikit marah.

“Hokkaido,”

“Sejauh itu dan sepenting itu, kau tidak merasa harus mendiskusikannya dulu denganku?!” kini Daiki sudah benar-benar marah.

“Dai-chan… aku…” Nu mengeluarkan kotak merah yang isinya memang cincin dari Daiki, “Aku tidak siap, aku tidak pernah siap denganmu…maksudku…”

Daiki hanya bisa menatap Nu yang terlihat serba salah, “Selama ini aku tidak pernah menganggap bahwa hubungan kita sejauh ini. Bahwa kau merasa aku adalah calon istrimu. Tidak sekarang, dan tidak denganmu… ini terlalu cepat. Maafkan aku,”

Pemuda berwajah manis itu tidak bisa berargumen, ia tak mau berdebat lagi. Sudah jelas Nu tidak mencintainya seperti dia mencintai gadis itu. Daiki menarik kotak kecil yang ada di tangan Nu, sebelum akhirnya pergi, Daiki memeluk Nu.

“Aku harap kau menemukan orang yang lebih baik untukmu,” ucapan Nu bagaikan sebuah pisau belati yang menancap ke ulu hatinya tanpa ampun.

Kota Tokyo yang biasanya sumringah bagi Daiki kini rasanya kelam, ia tak mau pulang tapi tak mau juga menghabiskan waktu di bar. Daiki tak ingat bagaimana ia bisa sampai di depan gedung apartemennya ketika ponselnya bergetar beberapa kali tanda telepon masuk. Dari nomor apartemen, pasti sahabat-sahabatnya yang menelepon.

“Halo?”

“Bagaimana? Dia bilang iya? Kapan nikahannya?” suara cerewet Saifu di ujung sana malah membuatnya kesal.

“Bawa bir yang banyak. Aku di rooftop,”

Daiki berbaring sambil menatap cincin dari emas putih itu. Cincin yang harusnya sekarang ada di jari manis Nu sebagai tanda Nu sudah menjadi miliknya. Ia bisa membayangkan pernikahannya dengan Nu, mungkin setelahnya mereka akan tinggal bersama, menjalani hidup bersama.

“Dingin tau… ngapan disini sih?” itu suara Sora, Saifu menyusul di belakangnya dengan sekotak besar bir.

Daiki menyerahkan cincin tunangannya ke tangan Sora, “Ia tidak mau menikahiku,”

“Ya ampun, Dai-chan,” Sora menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tak percaya Daiki juga mengalami patah hati.

Saifu menyodorkan sekaleng bir pada Daiki, “Cheers!! Lupakan patah hatiiiiii”

Daiki menerima kaleng itu, “Sankyu na…”

=======================

Malam itu Opi lembur hingga jauh malam. Ia mendengar berita soal Daiki, tapi tidak bisa pulang cepat karena harus merampungkan laporan.

Diam-diam Opi menatap sobekan kertas yang berisikan kartu nama milik Ninomiya Kazunari. Kartu nama yang tadi siang ia sobek itu perlahan-lahan ia rangkai menjadi utuh kembali. Opi sedikit bingung dengan kata-kata pria itu. Akhirnya Opi memutuskan untuk menelepon Sho, meminta saran dari ahlinya bukan hal yang buruk.

“Halo?”

“Sakurai-san, ini Yamashita Opi,”

“Ah ya, ada apa?” dibelakang Sho terdengar suara wanita yang jelas sekali berada dekat dengan Sho saat itu.

“Siapa sih?” Opi bersumpah bisa mendengar suara manja itu tepat di ponselnya, berarti siapapun wanita itu sedang berada dekat dengan Sho.

“Anou, Sakurai-san, apa aku mengganggu?” Opi tidak mau membayangkan apa yang sedang terjadi di seberang sana.

“Sebentar,” Sho terdengar menjauhkan ponselnya, “Sebentar aku ada telepon penting,” beberapa menit kemudian terdengar pintu ditutup, “Oke… ada apa?”

Opi menceritakan soal Ninomiya yang meminta nomor teleponnya, lalu memberikan kartu nama padanya.

“Dia tidak tertarik, dia hanya merasa itu harus. Sebagai sopan santun,” ungkap Sho.

“Memangnya kau tahu dia tidak meneleponku?”

“Dia meneleponmu?”

Opi berdehem, percuma berbohong, “Tidak sih,”

“Dengar Opi-chan, ingat kata-kata ku soal pria akan memperjuangkannya jika memang dia ingin, kan? Jadi berhenti bertanya-tanya apakah Ninomiya ini akan meneleponmu atau tidak. Buang nomor teleponnya, lupakan. Jika ia menelepon, baru kau bisa mengambil langkah selanjutnya,”

Opi mengiyakan anjuran Sho, setelahnya Opi membuang kartu nama itu ke tong sampah. Ia bersumpah tidak akan mencari-cari lagi kartu nama itu.

=======================

“Tadaima…” Sora melangkah masuk ke rumahnya lebih cepat dari yang ia rencanakan. Menurut Aoi, adiknya, Ayahnya pingsan karena kelelahan bekerja.

“Okaeri!!” Aoi menyambut Sora di depan pintu.

“Bagaimana keadaan Ayah?” Sora benar-benar khawatir karena Ayahnya itu sudah tidak muda lagi, sekarang malah mendapat serangan jantung ringan.

Aoi terlihat sedih, “Ia baik-baik saja. Masih lemah…”

Sora segera masuk ke kamar Ayahnya. Terlihat Ibunya setia menunggui Ayahnya.

“Bu, Sora pulang…” Sora memeluk Ibunya yang terlihat lelah. Mungkin sudah beberapa hari ini Ibu susah tidur.

Sora menatap wajah renta Ayahnya yang masih saja ingin bekerja di ladang padahal sudah tua. Walaupun kini mereka sudah punya pegawai, Ayah tetap ingin membantu mengerjakan ini itu.

“Ayah sudah baikan?” tanya Sora sambil meremas lembut tangan Ayahnya.

“Tentu saja. Ibu dan adikmu ini terlalu khawatir berlebihan,” ucap Ayahnya.

“Mereka khawatir karena Ayah tetap keras kepala dengan bekerja di ladang seharian,”

Ayah terkekeh pelan, “Kalau tidak bekerja rasanya badan ini tidak enak,” sejak pensiun Ayah memang merintis sebuah ladang sayur mayur yang hasilnya dijual ke beberapa kota.

“Ayah harus cepat sembuh. Sebentar lagi kan pernikahan Aoi. Jadi aku disini untuk memastikan Ayah tidak bekerja sampai pernikahan Aoi dilaksanakan,” kata Sora.

“Ya ampun… baiklah,” Ayah kembali tersenyum melihat putri kesayangannya akhirnya pulang karena ia jatuh sakit.

Sora memang bukan anak sulung. Ia punya kakak perempuan yang kini bermukim di negara tetangga dan kemungkinan hanyabisa datang pada saat pernikahan Aoi. Sementara itu Aoi sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan yang tinggal beberapa hari.

Sehingga urusan menunggui Ayahnya diserahkan sepenuhnya kepada Sora.

=========================

Saifu mengetuk-ngetuk meja ruang tengah dengan sedikit gusar. Yamada susah sekali dihubungi, dan hal itu membuat Saifu kesal. Sekali lagi Saifu mencoba menghubungi Yamada namun hasilnya tetap nihil.

“Ngapain?” tanya Daiki yang muncul dari kamarnya dengan rambut masih berantakan dan muka bangun tidurnya. Padahal ini sudah tengah hari.

“Betsu ni,” jawab Saifu asal lalu menyalakan televisi untuk mengalihkan perhatiannya.

Daiki menguap sambil duduk di sebelah Saifu setelah mengambil segelas kopi.

“Jorok! Mandi sana!! Bau alkohol!” protes Saifu.

Dengan cueknya pemuda itu malah berbaring dan menyandarkan kepalanya ke paha Saifu.

“Memangnya kau sudah mandi?” tanya Daiki.

“Ya… belum sih, tapi aku gak bau alkohol kayak kamu!”

“Hmmm…” Daiki malas berdebat dan berniat melanjutkan tidurnya di tempat itu.

“Dai-chan,” panggil Saifu pelan.

“Apa?” balas Daiki masih dengan mata tertutup.

“Menurutmu, kalau pria tidak mengangkat teleponnya, apa pasti dia sibuk?” tanya Saifu.

Daiki mengangguk, “Sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk dengan cewek lain,” setelahnya Daiki menyesali apa yang sudah ia katakan.

“Ryo-chan gak gitu…”

“Iya ini kan hanya…. prediksi,” Daiki segera bangun dan mneyesap kopinya karena salah tingkah.

“Ah lagian kenapa aku malah minta pendapat sama kamu, kan kamu juga baru putus cinta,” ucap Saifu dengan cueknya.

Daiki menoleh menatap Saifu, “Gak usah diungkit-ungkit dong,”

Saifu mengangkat bahu seakan tak peduli.

“Ngomong lagi nanti aku cium loh,” seru Daiki. Pemuda itu memang senang menggunakan ancaman seperti itu terhadap ketiga temannya.

Kalau dipikir-pikir, Daiki juga tidak mengerti kenapa bisa terjerat ke lingkaran ketiga orang cewek itu. Saat kuliah bukannya dia tidak punya teman cowok, tapi ketiga temannya ini terus menempel padanya setelah mereka berada di satu klub jurnalistik saat itu.

“Ancaman basi, Dai. Cari anceman lain gitu yang agak menyeramkan,” cibir Saifu.

Daiki tiba-tiba mendekat ke Saifu, bahkan kepala mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, “Ini gak main-main,” bisik Daiki.

Saifu menahan nafasnya karena tiba-tiba saja jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya, “Coba kalau berani!” serunya menantang Daiki.

Dan menantang seorang cowok sama saja menyulut kemarahan dan itu membuat Daiki benar-benar mencium Saifu. Di bibir.

Detik selanjutnya agak kabur bagi Saifu. Saifu merasakan bibir Daiki menyerangnya dengan ganas. Satu tangannya sudah meremas rambut Saifu agar pemuda itu punya akses lebih lebih mudah. Tangannya yang satu lagi masih diletakkan pada lengan sofa untuk menopang tubuhnya agar bisa membungkuk di depan Saifu.

“Dai…”

Seakan menyadari perbuatannya, Daiki segera melepaskan diri dari Saifu.

“Sial!!” dada Daiki naik turun karena menahan emosi. Ia beranjak meninggalkan Saifu yang masih dalam keadaan kaget karena tiba-tiba diserang oleh Daiki.

========================

Rasanya sudah berhari-hari Opi berada di depan komputernya, dan sekarang ia merasa sangat jenuh dengan pekerjaan ini. Beberapa hari ini Opi pergi pagi dan pulang hampir tengah malam karena membantu profesornya menemukan formula obat baru.

Seperti dugaan Sho, Ninomiya juga tidak menghubunginya. Padahal sedikit hiburan dari seorang pemuda mungkin bisa membuatnya lebih bersemangat dalam bekerja.

Baru sedetik Opi mengalihkan perhatian kembali ke layar komputernya saat ponselnya berbunyi karena telepon masuk.

‘Sakurai Sho’

“Halo?” angkat Opi cepat.

“Opi-chan… sedang sibuk?” tanya suara di seberang sana.

“Tidak juga. Ada apa?”

“Besok-besok kau free, tidak?”

Sakurai Sho mengajaknya kencan? Sebagian diri Opi sudah siap bersorak.

“Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu. Dia mungkin bisa memenuhi kriteriamu. Namanya Inoo Kei, ia arsitektur yang aku kenal saat membangun rumahku. Bagaimana?”

Ternyata Sakurai Sho mau menjodohkannya dengan pria lain.

“Oke, kapan?” dan bagi Opi tidak ada salahnya bertemu dengan orang baru.

“Kamis ini. Oke, sampai jumpa!” klik.

Maka kamis ini Opi sudah datang ke restoran yang di beri tahukan pada Opi hari sebelumnya. Beruntung malam ini memang tidak ada pekerjaan yang menuntut Opi harus lembur. Sudah hampir setengah jam tapi Inoo Kei yang wujudnya saja belum pernah ia lihat tidak muncul-muncul juga. Ini sudah gelas kedua lemon tea nya.

“Maaf lama,” yang muncul malah Sakurai Sho, “Aku baru memberitahunya tadi pagi tapi ternyata Kei tidak bisa kesini. Jadi kita makan berdua saja ya,”

Opi hanya tertawa pelan, “Bahkan sebelum bertemu aku sudah ditolak?”

“Bukan begitu. Ini kesalahanku yang salah menyebutkan hari pada saat perjanjian pertama dengannya. Hari ini ia harus lembur, begitu…”

“Baiklah,” Opi akhirnya hanya bisa meminum lemon tea nya dengan sedikit dongkol.

“Jadi kau bekerja di perusahaan obat terkenal itu, ya? Aku melihat pulpen yang waktu itu kau akan kembalikan pada Toma,”

Opi tertawa canggung, “Iya, begitulah. Kau sendiri?”

“Bar yang kemarin kau datangi itu milikku, ya begitulah, mengelola bisnis keluarga,” jawab Sho yang sekarang sudah asyik dengan sandwich yang ia pesan sebelumnya.

“Oh, jadi kau pemiliknya,” Opi mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja Sho bisa seenaknya mengajak ngobrol pelanggan saat jam kerja.

Sho mengangguk, “Ngomong-ngomong, ada pesta di bar ku besok. Datang ya?” lalu menghadiahi Opi dengan senyuman Sho yang pastinya membuat Opi jadi salah tingkah.

“Jadi aku terjebak denganmu sementara mungkin gadis itu sedang bertemu belahan jiwanya?” Opi menatap dua orang yang sedang berbicara di meja lain.

Sho ikut melihat, “Pria itu tidak tertarik,”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Percayalah Opi-chan, aku melihat ekspresi seperti itu setiap malam di bar ku,” kata Sho menambahkan, “Lihatlah, gadis itu berbicara banyak sementara si pria hanya mendengarkan tanpa menimpalinya sama sekali, bahkan sekarang ia melihat ke arah lain. Itu artinya si pria sudah bosan,” beberapa detik kemudian pria itu terlihat pamit kepada si wanita.

“Lihat kan? Padahal si gadis yakin sekali mereka mendapatkan chemistry saat berbicara tadi,”

“Tapi itu penting kan? Maksudku kita bisa merasakan jika kita punya chemistry dengan seseorang,” kata Opi menjelaskan apa yang biasanya ia rasakan dengan orang yang cocok dengannya.

“Pria itu lebih simple. Kalau aku menyukai seorang gadis, aku akan mengejarnya. Jika ia tidak suka maka akan banyak gadis lain yang mungkin lebih cantik dan lebih sexy,”

Opi tertawa pelan, “Kenapa kau memberi tahuku semua ini?”

Sho mengangkat bahu, “Entahlah.. aku menyukaimu..”

“Kau menyukaiku?”

“Karena kau menyenangkan. Teman yang menyenangkan,” ungkap Sho. Opi hanya bisa tersenyum, “Sepertinya kau butuh bantuan dan aku ingin membantumu. Itu saja,”

“Ah.. yeah…” sisa malam itu dihabiskan dengan percakapan mereka tentang banyak hal.

Malam itu setelah makan malam, Sho mengantarkan Opi ke apartemen.

“Sampai jumpa besok!” seru Sho sebelum meninggalkan Opi di depan gedung apartemennya.

“Ya ampun… ya ampuunn…” Opi segera berlari masuk ke apartemen dan menggedor kamar Saifu.

Pintu terbuka dengan wajah Saifu yang terlihat bingung, “Ada apa Opi-chan?”

“He likes me…” ucap Opi langsung.

“Dia? Siapa?”

“Sakurai Sho. Siapa lagi?”

“Oh ya? Dia mengatakannya padamu?!” seru Saifu ikut bahagia.

“Well, gak gitu juga sih. Tapi banyak tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa dia menyukaiku,”

Saifu menunggu Opi menjelaskan.

“Dia repot-repot memberi tahuku kalau Toma tidak akan datang pada malam aku mencari Toma di bar, selanjutnya ia juga meyakinkan aku bahwa Ninomiya tidak akan menyukaiku,” Opi menarik nafas sebentar karena terlalu bersemangat, “Ia membuat kebohongan soal dia ingin mengenalkan aku pada temannya, yang kemungkinan besar hanya karangannya agar aku dan dia bisa hang out bareng malam ini,”

“Waw! Dia pasti menyukaimu!!” seru Saifu sumringah.

“Dan…dia mengangkat teleponku padahal dia sedang bersama wanita lain,”

“Kyaaa!! Opi-chan omedetou!!” Saifu memeluk Opi.

========================

Suasana pernikahan yang sakral memang selalu Sora dambakan. Ia selalu suka dekorasi pernikahan yang biasanya bernuansa putih. Ia selalu suka ekspresi bahagia di semua orang. Walaupun ini hari bahagia sebenarnya Sora sedikit khawatir terhadap kesehatan Ayahnya. Seperti biasa Ayahnya tidak pernah mengaku jika ia sakit dan itu membuatnya khawatir Ayahnya akan terkena serangan jantung lagi jika terlalu capek.

“Nee-chan, suamimu bisa membantuku membawa Ayah ke tempat resepsi? Aku harus membereskan beberapa hal dulu,” Sora menempelkan ponselnya di telinga sambil membereskan cucian piring yang sudah menggunung

“Gomen… suamiku sudah berangkat denganku. Ia tidak mau kembali ke rumah lagi,” ucap Yura di seberang sana.

Rasanya Sora sudah ingin menangis saja. Aoi dan Ibu sudah pergi sejak pagi, Yura seharusnya membantunya membawa Ayah ke gedung resepsi, tapi ternyata sudah pergi duluan. Semua sepupunya juga sudah berangkat. Sora menghela nafas panjang, ia belum selesai membersihkan rumah dan ia harus siap-siap dulu. Bagaimana jika Ayah terlambat? Tidak apa-apa jika Sora yang terlambat, tapi jangan Ayahnya. Ini pernikahan putri bungsunya.

Sora berlari ke kamar Ayahnya bermaksud untuk mengantar Ayahnya terlebih dahulu, biarlah ia akan kembali ke rumah dan bersiap-siap kemudian.

Alangkah kagetnya Sora ketika mendapati Yuya sedang menuntun Ayah menuju ke ruang depan.

“Yu…ya?”

“Kau siap-siap dulu saja. Biar aku yang mengantar Ayah. Nanti aku jemput lagi ya,” ucap Yuya seakan-akan memang seharusnya ia ada di tempat itu. Seakan tersihir Sora mengikuti langkah Yuya ke mobil yang sudah terparkir di depan.

“Jangan bengong,” tegur Yuya, “Cucian baju akan ku laundry setelah resepsi selesai. Sekarang kau masuk dan siap-siap, oke? Aku kembali setengah jam lagi,”

Sora tiba-tiba saja ingin memeluk Yuya. Tanpa alasan Yuya tiba-tiba saja ada di sini, bahkan membantunya padahal Sora sudah membuatnya sakit hati tempo hari.

“Arigatou,” ucap Sora tulus.

Yuya mengangguk dan segera berangkat ke tempat resepsi sementara Sora bersiap-siap. Benar saja belum setengah jam Yuya sudah muncul untuk menjemputnya.

“Yuya…” panggil Sora ketika keduanya sudah di dalam mobil, menuju ke tempat resepsi yang kemungkinan sudah dimulai.

“Ya?”

“Kenapa kau ada di sini?” tentu saja mengherankan bagi Sora. Mereka baru saja putus, harusnya Yuya patah hati dan tidak mau bertemu dengannya.

“Karena ini pernikahan adikmu, karena aku fikir aku harus mendampingimu. Setidaknya saat penting seperti ini. Dan benar saja, Ayahmu sakit lagi ya?”

Sora sudah siap mencium Yuya dan memeluk pemuda itu dengan erat namun ia sadar bahwa sekarang mereka sedang ada di dalam mobil dan Yuya sedang menyetir. Selain itu status mereka sekarang hanya mantan, Sora tidak mau membuat ini semua salah paham.

Ketika sampai di tempat resepsi Sora baru menyadari bahwa Yuya tidak memakai pakaian resmi dan ketika Sora turun, Yuya tidak ikut turun.

“Kau tidak ikut turun?”

Yuya menggeleng, “Aku akan membereskan beberapa hal di rumahmu. Jika sempat aku akan kesini. Kalau tidak, aku langsung pulang ya… have fun!!”

======================

Sepertinya bar itu sudah penuh dengan mobil-mobil terparkir ketika Opi datang dan memarkirkan sepeda motornya. Beberapa orang keluar masuk bar dan sepertinya sudah sangat ramai di dalam sana.

Baru saja ia masuk, kebisingan menyambutnya. Opi tersenyum ke beberapa orang yang menyambutnya. Ia melihat Sho di balik konter, berbicara kepada beberapa gadis yang jelas-jelas mengagguminya.

“Sho-san!” panggil Opi. Beberapa waktu lalu mereka setuju memanggil satu sama lain dengan nama depan karena begitulah yang Sho lakukan di hari pertama mereka bertemu.

“Opi-chan!! Selamat datang. Mau minum apa?” tanya Sho ramah.

“Apa saja boleh. Tapi aku tidak mau mabuk malam ini,” seru Opi agak sedikit berteriak karena kebisingan di sekitar mereka.

“Oke!” Sho berbalik untuk mengambilkan minuman Opi.

Pesta itu ternyata diselenggarakan sebagai syukuran karena Sho membuka cabang baru di kota lain. Terlihat beberapa orang yang datang kesana ternyata orang yang cukup terkenal. Opi hanya tahu beberapa dari mereka adalah model.

Beberapa kali Sho terlihat kerepotan melayani tamu-tamunya. Padahal sudah banyak pegawai yang membantunya.

“Anou.. Sho-san, mau kubantu?” Opi juga merasa tidak bisa berbaur dengan orang-orang disana. Jadi lebih baik ia membantu Sho di dapur, bukankah itu bisa membuatnya lebih dekat dengan Sho?

Sho tersenyum sumringah, “Kau keberatan?”

Opi menggeleng dan segera masuk ke konter untuk membantu Sho.

Rasanya sudah berjam-jam Opi berdiri dan mengambilkan berbagai makanan serta minuman kepada tamu-tamu Sho, hingga rasanya kakinya sangat sakit. Tamu terakhir yang mabuk parah pun sudah pulang dengan taksi. Beberapa pegawai sibuk membereskan ruangan.

“Arigatou ne, Opi-chan,” ucap Sho sambil memberikan segelas orang juice di hadapan Opi.

“Tidak masalah,” jawab Opi sambil tersenyum, dan selanjutnya meminum jus itu.

“Sayangnya Kei lagi-lagi sibuk di kantornya. Aku akan memberikan nomor teleponmu padanya,” kata Sho sambil merangkul Opi.

Opi terkekeh, “Sudahlah Sho-san. Berhenti membual soal Kei atau siapapun itu,”

Sho menatap Opi dengan aneh, “Aku tidak membual,”

Opi menyenggol pelan bahu Sho, “Tidak lucu,”

Sho tiba-tiba berdiri, “Oh tidak! Kau pikir aku menyukaimu sehingga aku membual soal Kei?”

Ekspresi wajah Opi tiba-tiba berubah panik, “Eh…”

“Ya ampun!!”

Opi tiba-tiba merasa tersinggung dan Opi membeberkan semua tanda-tanda yang sudah iarasakan sejak pertama kali bertemu Sho.

Terdengar Sho bersumpah serapah setelah Opi selesai bicara, “Itu hanya perasaanmu saja! Aku tidak… Ya ampun… Kenapa semua cewek harus menyimpulkan sendiri tanda-tanda yang sebenarnya hanya trik pikiranmu saja!!”

Opi terdiam, kalau saja ia bisa berlari tapi rasanya ia terlalu lemas untuk melakukannya.

“Kau ingat apa yang aku katakan padamu?! Jika seorang pria ingin bersamamu, dia akan membuatnya terjadi. Aku akan mengajakmu kencan! Apaaku mengajakmu kencan?” tanya Sho dengan wajah penuh penyesalan.

Seakan tertohok Opi menunduk, “Tidak…”

“Ya ampun ini gila!!” seru Sho sambil beranjak dari sebelah Opi.

“Aku mungkin melakukan banyak hal bodoh. Mungkin aku juga gila, tapi… aku tidak mau sepertimu yang selalu berfikiran soal negatif tentang cinta,” Opi beranjak dan mengambil jaket serta tasnya, “Terima kasih soal malam ini. Dan… lupakan apa yang kukatakan padamu,”

======================

Sudah beberapa hari ini Saifu menghindari bertatap muka dengan Daiki. Peristiwa Daiki menciumnya memang menjadi alasan utama. Sepertinya Daiki melakukan hal yang sama karena sudah beberapa hari ini waktu Daiki lebih banyak dihabiskan di toko kuenya hingga larut malam.

“Kenapa melamun?” suara Yamada yang saat ini sedang menemaninya makan siang membuyarkan lamunan Saifu.

Saifu menggeleng, “Tidak apa-apa. Bisnismu lancar?”

Yamada mengangguk, “Sangat lancar. Tapi sayang, sepertinya aku harus meninggalkanmu ke luar kota besok,”

“Eh? Kenapa?” Padahal besok hari valentine, harusnya mereka menghabiskannya berdua.

“Masih ada yang harus ku selesaikan di Hokkaido,” ungkap Yamada.

“Tapi ini valentine pertama kita. Bagaimana kalau aku ikut ke sana?!” Saifu yakin sekali kalau ini adalah ide brilian.

Yamada tiba-tiba terbatuk, “Tidak bisa… maksudku, ini pertemuan resmi antar perusahaan. Aku janji hari setelah valentine kita akan kencan, seharian… oke?”

Saifu tidak bisa lagi mengelak dan hanya mengangguk pasrah.

========================

Sepulangnya dari Osaka, Sora menyempatkan diri untuk ke toko kue milik Daiki. Sepertinya sudah lama sekali dia tidak kesana. Dulu tempat itu adalah markas tidak resmi milik klub jurnalistik saat Daiki merintis usahanya selama kuliah.

“Dai-chan… tadaima…” Sora membuka pintu toko dan langsung menghambur ke pelukan Daiki.

“Kau baik-baik saja? Pernikahannya lancar?” tanya Daiki, “Ayahmu sehat?”

Sora melepaskan pelukannya, “Semuanya baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Ayahku sudah lebih sehat,”

“Yokatta… sebentar kuambilkan kue kesukaanmu,” Daiki masuk ke konter mengambilkan kue vanilla yang selalu jadi favorite Sora.

“Arigatou,”

Daiki duduk di sebelah Sora, membiarkan gadis itu menikmati kue vanilla kesukaannya.

“Coba dekor sedikit dong ruangan ini. Masa sejak dulu belum ada perubahan?” kritik Sora yang sedang mengamati dekorasi toko itu.

“Nanti lah… aku belum mood melakukannya,” Daiki menyeruput kopinya.

“Kau kan bisa minta tolong Fu-chan,”

Daiki terbatuk karena mendengar nama Saifu disebut. Sejak ciuman mereka tempo hari rasanya Daiki sudah tidak bisa lagi memandang mata Saifu. Beberapa hari ini mereka berdua mati-matian menyembunyikan kecanggungan mereka di depan Opi.

“Kau kenapa sih?”

Daiki menggeleng canggung, “Betsu ni,”

Ketika Sora bermaksud untuk membalas Daiki, ia sempat menoleh ke arah pintu toko yang terbuat dari kaca sehingga memberikan akses penglihatan ke luar. Ia menangkap sosok Yuya yang sepertinya akan ke sini.

“Ada Yuya!!” Sora kelimpungan, Daiki segera menunjuk ke arah dapur dan Sora segera menyambar tasnya, bersembunyi di balik pintu dapur.

Tepat saat itu Yuya membuka pintu toko, “Hey Dai! Aku tidak menyangka kau akan ada disini,” seru Yuya lalu bersalaman dengan Daiki.

“Yeah, ini toko ku,”

“Bukan begitu, aku tidak pernah menemukanmu berada di toko pada saat siang hari,” jelas Yuya.

Daiki mengangguk, “Jadi, ada apa nih?”

“Aku pelanggan loh, tentu saja mau beli kue,” Yuya melirik ke arah konter, “Vanilla Cake, antarkan pada Sora,” Yuya mengeluarkan dompetnya untuk membayar kue yang baru saja ia beli.

“Bukannya kalian….”

“Tapi besok valentine. Sora tidak pernah melewatkan valentine tanpa vanilla cake selama lima tahun ini,” jelas Yuya, “Yah, sayangnya aku tidak bisa memberikannya secara langsung tahun ini,”

Daiki menuliskan pesanan Yuya, “Aku dengar kau tidak mau menikahinya? Kenapa repot memberikan kue segala?” kali ini Daiki gagal menutupi rasa kesalnya pada Yuya. Bagaimanapun Sora dalah sahabatnya dan Daiki tidak bisa terima Sora diperlakukan seperti itu.

Yuya terkekeh pelan, “Menurutmu kenapa orang mau menikah?”

Daiki menaikan alisnya sebelah, “Entahlah. Karena mereka saling mencintai? Kau mencintai Sora tidak? Atau jangan-jangan kau punya wanita lain?” Daiki mengutuk dirinya sendiri. Terlalu sering bersama cewek-cewek membuatnya berfikiran seperti cewek.

Yuya kembali terkekeh, “Aku tidak mau wanita lain. Aku hanya mau Sora, tapi sepertinya sahabatmu itu masih tidak percaya akan hal itu,”

Daiki selesai menuliskan pesanan dan memberikan kartu pada Yuya untuk menuliskan pesan, “Baiklah, ini…”

Yuya menggeleng, “Tidak perlu. Katakan saja pada Sora ini dariku,” setelahnya Yuya membayar pesanannya dan segera meninggalkan toko.

Sora yang mendengar semua percakapan itu tiba-tiba mematung dibalik pintu. Betapa kagetnya Sora ketika Daiki tiba-tiba membuka pintu itu.

“Hideyoshi Sora. Kau buta atau tuli? Takaki Yuya jelas-jelas mencintaimu,”

Sedetik kemudian tangis Sora meledak.

==========================

Valentine datang. Saat coklat-coklat dikirimkan kepada orang yang kau kasihi. Saat semua pasangan memesan tempat di restoran yang romantis untuk merayakannya berdua saja. Saat semua orang dalam mood romantis. Ketiga cewek yang duduk di depan televisi itu sama sekali tidak merasakan kegembiraan valentine.

“Kau tidak mau mencoba menghubungi Yuya?” tanya Opi sambil menyomot kue vanila yang sedang Sora makan.

“Entahlah… aku takut,” Sora mengela nafas berat.

“Aku juga tidak merasa valentine ini gembira…” keluh Saifu yang ikut-ikutan menyomot kue vanila itu.

Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi nyaring. Opi sadar itu ponselnya, tapi ia tidak mengenal nomor yang meneleponnya.

“Halo?”

“Moshi-moshi. Ini… Yamashita Opi-san?” tanya suara yang ia tidak kenal.

“Yeah. Siapa ini?”

“Oh! Aku Inoo Kei, temannya Sakurai-san. Kau ingat kita harusnya berkencan tapi aku sedang sibuk,” kata orang itu.

“Ah! Jadi kau benar-benar ada…” gumam Opi.

“Maaf?”

“Tidak apa-apa. Jadi, ada apa kau repot-repot meneleponku?”

“Kalau kau mau, kita bisa benar-benar berkencan. Bagaimana kalau malam ini?”

Opi mengiyakan ajakan Inoo setelah diberitahu tempat dan jamnya,

“Ya ampun Opi-chan punya kencan malam ini… menyedihkannya diriku…” seru Saifu setengah kesal karena sama sekali tidak bisa menghubungi Yamada seharian ini.

“Kenapa kau tidak ke Hokkaido saja? Bukankah kau tahu dimana Yamada menginap?” usul Sora memang suka asal dan spontan.

“Kau yakin? Ini katanya rapat penting,” keluh Saifu.

“Tapi ini valentine. Siapa yang tidak suka mendapat kejutan saat valentine?!” Opi ikut memanas-manasi.

“Oke!! Aku berangkat!!” tanpa pikir panjang Saifu berlari ke kamar dan mengambil barang-barangnya.

“Aku akan booking tiket pesawatnya,” Sora berteriak dari luar kamar.

“Arigatou Sora-chan!!”

“Sekarang kau juga harus ke tempat Yuya. Siapa yang tidak suka kejutan saat valentine?” kata Opi mengulangi kata-katanya. Tapi kali ini ditujukan pada Sora.

Sora hanya tersenyum dan memeluk sahabatnya itu, “Thanks…”

======================

Beberapa kali Sora mengetuk pintu apartemen itu hingga pintunya terbuka. Sora meninggalkan kunci duplikatnya ketika ia meninggalkan apartemen ini.

“Sora…” gumam Yuya sedikit kaget melihat Sora ada di depan pintu.

“Aku mengganggumu?” tanya Sora.

Yuya menggeleng, “Tentu saja tidak, ayo masuk!”

Sora menatap sekilas sama sekali tidak ada perubahan di ruangan itu. Hanya sedikit lebih berantakan. Sora duduk di sofa sambil menunggu Yuya mengambilkan minuman.

“Ada barang yang tertinggal?” tanya Yuya ketika menyimpan sekaleng minuman soda di hadapan Sora.

Yuya tidak mau berharap Sora kesini karena ingin kembali padanya. Ia masih berharap, tapi ia takut terlalu berharap.

Sora menggeleng, “Aku kesini… hanya mau berterima kasih,”

“Soal apa?” Yuya tidak merasa melakukan sesuatu untuk Sora.

“Untuk datang pada saat pernikahan adikku. Bahkan membantu Ayahku, lalu…”

“Dengar Sora… aku masih orang yang sama. Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku hanya…” Yuya menunduk, “Tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan,”

“Aku menginginkanmu,” Yuya seketika menatap Sora dengan pandangan kaget, “Aku hanya menginginkanmu. Betapa bodohnya aku merasa kau tidak mencintaiku dan selanjutnya aku menemukanmu sellau ada untukku. Maafkan aku karena telah meragukanmu,” Sora memeluk Yuya yang tentunya masih shock.

“Kita tidak perlu menikah?” tanya Yuya.

Sora mengangguk-angguk, “Tidak perlu. Aku hanya butuh dirimu,”

Yuya mengeratkan pelukannya, sesaat kemudian Yuya sudah mencium Sora. Ia begitu merindukan gadisnya.

“Kau akan pindah kesini lagi?” ucap Yuya setelah puas melumat bibir Sora.

Sora mengangguk, “Barang-barangku ada di mobil,”

“Oke… nanti kuambil,” Yuya tidak rela melepaskan Sora sekarang.

========================

Daiki menatap cake yang baru saja ia buat. Kenapa malah ia memikirkan Saifu? Padahal beberapa saat yang lalu ia berencana untuk memberikannya pada Nu. Mengirimkannya mungkin. Saifu sudah mengacau balaukan pikirannya sejak hari itu. Bahkan karena ingin menghindar dari saifu, Daiki sengaja bermalam di tokonya.

Daiki mengeluarkan ponselnya, menatap fotonya bersama ketiga temannya. Kenapa Saifu? Padahal sejak dulu ia sering sekali bertengkar dengan gadis yang lebih muda dari mereka semua. Daiki melihat kontak ponselnya dan segera menghubungi Saifu. Ia harus mengatakannya pada Saifu.

“Halo?” angkat Saifu di seberang sana.

“Dimana kau? Kita harus bertemu,” ucap Daiki cepat.

“Di bandara,”

“Bandara? Kau mau kemana?”

“Ke Hokkaido!! Aku mau memberikan kejutan pada Ryo-chan,” Saifu tampaknya benar-benar senang.

“Baka!! Jangan kesana!!” seru Daiki.

Sepertinya Saifu terdiam karena tiba-tiba saja hening, Saifu tidak menjawabnya.

“Kubilang jangan kesana!!” seru Daiki lagi, “Fu-chan!! Kau dengar tidaaaakkk??!”

“Gomen aku harus boarding,”

Klik. Suara telepon di tutup.

Tanpa pikir panjang Daiki menyambar jaketnya dan berlari ke parkiran. Ia harus segera menyusul Saifu ke bandara.

Daiki sampai di bandara sekitar setengah jam kemudian. Itu punsetelah ugal-ugalan di jalan dan hampir menabrak beberapa mobil. Daiki segera turun dan melemparkan kunci pada petugas vallet.

“Aku butuh tiket ke Hokkaido, sekarang!” seru Daiki di tempat pembelian tiket.

Masih berusaha menghubungi Saifu yang hasilnya nihil karena kemungkinan besar ponselnya sudah dimatikan. Daiki merutuk kesal karena ternyata tiket untuk ke Hokkaido ada lagi kemudian malam hari. Ia berjalan lunglai meninggalkan tempat penjualan tiket, menatap papan pengumuman digital yang menunjukkan bahwa pesawat ke Hokkaido siap take off.

Bukan hanya karena Daiki ingin mengutarakan perasaannya, tapi lebih karena takut Saifu akan kecewa apabila tidak menemukan Yamada di Hokkaido. Lebih parah jika Yamada ternyata bersama tunangannya di Hokkaido.

========================

Opi mengakui bahwa kencannya bersama Inoo Kei malam ini cukup menyenangkan. Ternyata Inoo adalah orang yang pintar dan enak diajak ngobrol.

“Nanti aku telepon, dah!” Inoo mengantarnya sampai ke depan pintu apartemen.

Opi mengangguk dan berbalik masuk ke apartemennya. Ia sudah bertekad untuk melupakan Sho. Memulai hubungan dengan Inoo Kei. Jelas-jelas pemuda itu tertarik padanya.

“Dai-chan?” Opi kaget karena di kegelapan Daiki sepertinya sedang berbaring di sofa.

“Hey,” sapa Daiki malas.

“Kenapa kau?” Opi membuka mantelnya dan menggeser Daiki secara paksa sehingga pemuda itu terpaksa duduk.

“Siapa yang kasih ide Saifu ke Hokkaido segala?” ungkapnya tampak sedih.

“Aku dan Sora, kenapa sih? Cemburu?” Opi heran karena Daiki tidak biasanya melankolis begini.

Tanpa Opi sangka Daiki mengangguk.

“Uso! Kau menyukai Fu-chan?”

Daiki menyipitkan matanya menatap Opi, “Iyalah… kalau gak ngapain aku se depresi ini?”

Bukannya merasa kasihan Opi malah menertawakan Daiki, “Baka!”

“Aku tahu, betapa baka nya diriku,”

=========================

Setibanya Saifu di Hokkaido, dirinya segera mencari taksi menuju ke hotel tempat menginap Yamada. Dengan harap-harap cemas Saifu sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada Yamada.

Saifu menyalakan ponselnya dan menemukan puluhan voice mail serta pesan dari Daiki. Seakan tidak puas Daiki juga mengirimkan banyak sekali pesan ke hampir semua layanan chatting milik Saifu. Akhirnya Saifu memutuskan untuk menelepon Daiki saja.

“Kau dimanaaa?” itulah kata pertama yang terdengar setelah telepon diangkat, sukses membuat Saifu menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Berisik!! Aku sudah sampai di Hokkaido, ada apa sih?”

“Pulang sekarang!! Sekarang juga Suzuki Saifu!” seru Daiki lagi.

Saifu mencibir tak sabar, “Aku belum bertemu Ryo-chan, jadi kemungkinan besar aku pulang besok,”

“Yamada itu… Yamada itu berselingkuh. Maksudku ia menjadikanmu selingkuhan. Aduh…” Daiki tampaknya bingung bagaimana menjelaskannya pada Saifu sementara gadis itu berada jauh dan mereka tidak bertatapan langsung, “Pokoknya intinya gitu…”

Saifu terdiam. Ia tak mau percaya pada Daiki. Walaupun Daiki adalah sahabatnya, yang kebetulan kemarin menciumnya, tetap saja ia harus lebih percaya pada Yamada yang sekarang adalah kekasihnya.

“Kau hanya cemburu. Karena aku punya pacar sementara kau tidak!!”

“Baka!”

Klik.

Saifu menutup sambungannya, dengan malas ia pun segera mengeluarkan baterai ponselnya agar Daiki tidak bisa menghubunginya untuk sementara.

“Sudah sampai, nona,” kata supir taksi.

Saifu segera membayar dan turun dari taksi. Hotelnya sangat mewah, tentu saja karena menurut cerita Yamada yang akan datang pada rapat ini adalah orang-orang penting di Jepang. Mengingat keluarga Yamada memang dari kalangan elit.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis ketika Saifu menghampiri meja depan, namun perhatiannya teralihkan kepada banyaknya rangkaian bunga yang mengucapkan selamat kepada Yamada Ryosuke dan nama lain yang tidak ia kenal.

“Anou… ini ada acara Yamada Ryosuke?”

“Anda tamu keluarga Yamada juga?” tanya si resepsionis ramah.

Saifu segera mengangguk agar tidak terlihat mencurigakan.

“Mari saya antar,”

Sebenarnya Saifu tidak mengerti apa yang terjadi namun ia tetap mengikuti langkah si resepsionis yang mengantarkannya ke aula hotel yang dipenuhi orang dengan setelan jas dan gaun indah.

“Silahkan,” resepsionis itu menghilang dari pandangan.

Barulah Saifu sadar acara macam apa itu ketika melihat foto Yamada dengan seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya. Yamada Ryosuke sedang melaksanakan pesta pertunangannya. Seakan-akan bermimpi Saifu segera berbalik dan keluar dari ruangan. Dengan langkah serampangan Saifu masuk ke kamar mandi, menangis sejadinya karena ternyata apa yang dikatakan Daiki terbukti semuanya. Entah sudah berapa lama Saifu disana, ia menyeka air matanya dan keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya Saifu ketika melihat Yamada dengan gadis tunangannya yang sepertinya akan kembali ke aula.

Yamada berhenti sebentar, menatap Saifu seperti hantu.

“Ada apa Yamada-kun?” tanya gadis itu manja, “Kau mengenalnya?” tanya gadis itu.

Saifu hanya bisa mematung memandang keduanya dan pandangan salah tingkah terlihat jelas dari Yamada.

“Tidak. Aku tidak mengenalnya,” Yamada pun masuk ke ruangan kembali.

Dalam beberapa detik, kesedihan Saifu sudah berubah menjadi kemarahan. Ia segera menyusul Yamada dan gadis tunangannya itu.

“Maaf. Yamada-san?”

Yamada hampir tersedak karena Saifu tiba-tiba ada di hadapannya.

“Saya ada kiriman, dari Suzuki Saifu,” Saifu mengeluarkan coklat yang memang ia siapkan awalnya untuk memberikan kejutan pada Yamada. Saifu menyerahkannya dengan kasar, Yamada menerimanya masih dengan pandangan takut, “Pesan darinya. Semoga kau cepat masuk neraka,”

Saifu berbalik dan berlari meninggalkan aula itu tanpa menoleh sama sekali.

========================

“Bos, pesanan meja lima sudah beres? Maaf tadi katanya mereka memesan padamu,”

Sho seakan tersadar dan segera mengangguk, “Maaf. Bisa kau cover bagianku?” pegawai itu hanya mengangguk sementara Sho menuju ke meja depan.

“Ada telepon untukku?” tanyanya pada si penerima tamu.

Pegawai itu menggeleng, “Tidak bos. Dan kau baru menanyakannya padaku sepuluh menit yang lalu,”

Sho menghela nafas dan mengaktifkan ponselnya, kalau-kalau ada e-mail atau telepon masuk. Tapi hasilnya nihil.

“Siapa wanita itu?” tanya si pegawai seakan tahu apa yang Sho tunggu.

“Wanita apa?” tanya Sho bingung.

“Kau tidak konsentrasi sama sekali beberapa hari ini, bos. Setiap detik kau menatap ponselmu, aku lihat kau coba menelepon tapi memutuskan sambungannya beberapa detik kemudian. Jadi, aku pikir ada seseorang yang membuatmu kacau begini,”

Sho hanya menggeleng lemah. Ia kembali ke ruangannya, menatap e-mail terakhir dari Opi. Setelah malam itu kenapa Sho malah terus memikirkan Opi? Lebih parah lagi ia merindukan Opi, merindukan suara gadis itu yang sedang bersemangat menceritakan kisah cintanya, atau bercerita soal teman-temannya.

Entah apa yang merasukinya, Sho segera beranjak dan mengambil mantel serta kunci mobilnya. Ia harus segera bertemu dengan Opi.

Saat Sho tiba di pelataran parkir, Sho melihat Opi turun dari mobil Inoo dan kemudian pamit pada Inoo, bersiap masuk ke gedung apartemennya.

“Opi-chan!!” Sho turun, Opi menatapnyadengan bingung.

“Sho-san?Ada apa?”

Sho menghela nafas, “Kau baru pulang? Dengan Kei?”

Opi mengangguk, “Iya, kami sekarang sering jalan bareng,” Sho terlihat salah tingkah sehingga Opi kembali bertanya, “Ada urusan apa?”

Sho mengeluarkan sebuah pulpen, “Aku mampir kesini karena kau ketinggalan pulpenmu. Di bar ku,”

Rasanya Opi ingin tertawa, “Kau repot-repot ke apartemenku jam dua belas malam seperti ini karena ingin mengembalikan pulpenku?” Opi menatap pulpen itu dengan seksama, “Lagipula ini bukan pulpenku,”

“Oke. Ada masalah denganku. Aku terus memikirkanmu, aku meneleponmu tapi detik berikutnya aku mematikan sambungannya. Ini membuatku gila,”

Opi hanya diam menunggu kata-kata Sho selanjutnya.

“Aku rasa aku jatuh cinta padamu,”

“Tapi kau bilang, jika seorang pria menginginkanku, ia akan membuatnya terjadi, tapi kau….”

Sho menarik Opi dan menghadiahi Opi sebuah kecupan di bibir, “Aku akan membuatnya terjadi. Walaupun aku harus meyakinkanmu bertahun-tahun lamanya,” Sho kembali mencium Opi.

“Aku juga mencintaimu,” bisik Opi setelahnya.

========================

Pagi ini ketika Saifu tiba kembali di Narita rasanya matanya sudah sebesar bola tenis. Ia bahkan merasa tidak bisa menangis lagi karena terlalu banyak menangis saat di perjalanan pulang dan saat menunggu pesawat tadi malam.

Dengan langkah lemas Saifu keluar dari gerbang bandara, berniat untuk naik taksi. Ketika ia mendapati Daiki sudah ada di sana, melambaikan tangan menyambutnya.

“Dai-chan? Ngapain?”

Daiki tidak menjawab dan mengambil tas besar yang dibawa Saifu, “Menjemputmu tentu saja,”

Saifu sudah malas berdebat, ia hanya mengikuti langkah Daiki ke parkiran, selanjutnya masuk ke mobil.

“Semalam berita soal Yamada sudah tersebar di internet, kau tahu?” ujar Daiki.

“Souka…”

“Maaf aku harusnya memberi tahumu lebih cepat. Pagi itu saat ia memesan kue untukmu, ia memesannya juga untuk tunangannya,” jelas Daiki.

“Souka…”

Daiki menghentikan mobilnya di tepi, menatap Saifu yang sepertinya sudah siap menangis lagi.

“Fu-chan,” panggil Daiki. Saifu menoleh karena Daiki memanggilnya berkali-kali, tepat saat Saifu menoleh, Daiki mengecup bibir Saifu.

“Kau…”

“Entah sejak kapan ternyata aku menganggapmu lebih dari sekedar sahabatku. Sepertinya aku telat menyadarinya,” ucap Daiki.

“Bukan berarti kaubisa menciumku seenaknya,” protes Saifu yang sebenarnya dadanya pun berdebar-debar tak karuan sekarang.

“Gomen na,”

Diam-diam Saifu tersenyum sambil menatap salju yang masih turun.

========================

Malam itu seperti biasa Sora sedang membereskan kamarnya sebelum tidur. Kebiasaan Sora yang tidka bisa dihilangkan. Saat membereskan tas kerja milik Yuya, Sora menemukan sebuah surat keterangan cuti milik Yuya yang sudah di tanda tangani oleh atasan Yuya. Sora menatap kertas itu dengan sedikit mengerenyit, ia bingung kenapa Yuya harus cuti selama hampir tiga minggu di bulan april.

“Sayang, ini apa? Kenapa kau butuh cuti selama ini?” Sora membawa kertas keterangan dari kantor itu kehadapan Yuya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Aku membutuhkan cuti tentu saja,” kata Yuya cuek.

Sora duduk di sebelah Yuya, dengan gerakan cepat mematikan televisi, “Tapi tiga minggu itu terlalu lama. Kau mau pergi kemana?” tanya Sora heran.

“Pertama-tama ke Osaka, selanjutnya kau yang menentukan,”

“Hah? Osaka? Ada perlu apa?”

Yuya menatap Sora yang terlihat bingung, lalu mengambil tangan kiri Sora, “Karena aku akan menikahimu,” Yuya menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Sora.

“Menikahiku?” Sora memandang cincin itu dengan takjub, “Kenapa?”

Sambil terkekeh Yuya mencubit pelan pipi Sora, “Karena aku sangat mencintaimu. Aku banyak berfikir saat kau meninggalkanku. Aku harus memberikan apa yang kau inginkan karena aku sangat mencintaimu,”

Secara spontan Sora menghambur ke pelukan Yuya, “Kita benar-benar akan menikah?! Kyaaaa!!”

Yuya menyentuh bahu Sora, menatap mata gadisnya, “Hideyoshi Sora. Maukah kau menikah denganku?”

Sora mengangguk cepat sekali, “Yes!! Yes I do!!”

Terkadang cinta harus mengalami cobaan sebelum akhirnya kembali utuh. Terkadang kita tidak menyadari jika cinta itu sudah datang, kita memilih untuk tidak menyakiti diri sendiri dengan menutup diri pada cinta, padahal cinta itu datang untuk menyembuhkanmu. Terkadang cinta datang karena terbiasa, kita hanya perlu mengakui kalau itu adalah cinta. Terkadang kita sangat fokus untuk mencari akhir bahagia kita sehingga kita lupa membaca tanda-tandanya. Bagaimana melihat siapa yang menginginkan kita dan siapa yang tidak? Siapa yang akan bersama kita dan siapa yang malah akan meninggalkan kita. Mungkin happy ending hanyalah kata lain dari… move on.

========================

Terima kasih sudah membaca Oneshot yang superpanjang ini

Maaf kalo banyak typo karena saya rada males beresinnya…

COMMENTS ARE LOVE

PLEASE COMMENTS… ❤

Save

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] We Called It Love

  1. Fenyo21

    Kyaaaaa!!!
    Ngena banget ceritanya!
    Sugoii!! Walaupun simple tapi entah kenapa doki doki sendiri bacanya xD berwarna loh ceritanya 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s