[Oneshot] Care

Title: Care
Type: OneShot
Genre: Romance, angst
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Soundtrack: Just For You (Hey! Say! 7)
Fandom: HSJ
Starring: Chinen Yuri (HSJ), Kanagawa Miki (OC) dan selentingan orang lewat :p
Desclaimer: maafkan aku yang udah req, yang ada chap nya T^T sebabnya aku belum ada ide sama sekali, dan muncul idea bal ini hiks maaf tapi nnti lain kali aku lunasin /gataukapan//dor/ skali lagi maaf yah, tapi ttp coment /dor//kabur

CARE

=====

25 December 2013

Salju mulai turun, menghiasi halaman rumah ku dengan Kristal-kristal putih, tapi kini berbeda dari tahun sebelumnya, yang biasanya ada seorang anak gadis cerewet yang seumuran dengan ku ia pasti akan heboh dengan sendirinya, langsung keluar rumah ku dan menikmati salju-salju yang turun.

“Chii-kun! Ayo kita main!” serunya saat itu, tapi aku hanya diam, dan memasuki kamar ku untuk menikmati kasur yang empuk.

Sekarang tidak ada lagi, semua itu tinggalah kenangan saja, aku menyesal sudah jahat kepadanya. Aku yang selalu tidak menghiraukan kehadirannya, walau ia selalu mengharapkan aku ada di sampingnya.

24 April 2012

“Miki-chan otanjoubi omedetou” seru Yuto kepada Miki yang saat itu sedang memakan ramen nya di kantin sekolah, hari ini gadis itu memang sedang berulang tahun.

“Aligatou Yuto-kun” ucap Miki sambil memakan ramennya.

“Hey, kunyah dulu makanan mu baru bicara”

“H-hai hai… mana kadonya?” tanya Miki kepada Yuto.

“Ini… dia mau jadi pacar kamu hahaha” Yuto menunjuk diri ku yang berdiri di sebelahnya, ia tahu kalau Miki mempunyai perasaan terhadap ku tapi aku mengabaikan itu.

Aku lihat dia menatap ku seperti mengharapkan sesuatu “Hontou?” tanyanya.

“Muri, Yuto hanya bercanda” setelah itu aku pergi meninggalkan mereka berdua, aku tidak perduli sama sekali perempuan itu akan sakit hati atau tidak. Tapi aku mendengar satu kalimat dari Miki kepada Yuto.

“Yuto-kun,,kapan aku di anggap sama Chii-kun?” suara itu, sangat lirih kedengarannya. Tapi tetap, aku tidak memperdulikan itu.

*

“Chii, tadi Miki nanya kamu tuh kenapa tadi kamu tidak sekolah?” tanya Yamada kepada ku yang sedang asik membersihkan semua miniatur Tom and Jerry ku, walau seperti ini tapi aku menyukai kartun kucing dan tikus itu.

“Aku sibuk” jawab ku singkat.

“Souka… lalu, apa sesibuk itu harus bolos sekolah?” tanya Yamada lagi, merasa risih aku pun menyudahi kegiatan ku untuk bergegas mandi. Ooh dari tadi pagi aku belum mandi rupanya.

“Besok aku sekolah” ucap ku lalu masuk ke dalam kamar mandi.

30 November 2012

Hari ulang tahun ku pun tiba, aku tidak mengharapkan kado, ataupun ucapan yang banyak dari teman-teman, aku hanya mengharapkan di umur ku yang sekarang semuanya baik-baik saja.

Walau begitu, tapi aku tetap memeriksa handphone ku. yaah siapa tahu saja ada yang mengucapkan ulang tahun ku hehe… #author: kamu plin plan Chii -.-“

Satu inbox, yah lumayanlah tapi ketika aku melihat display name nya.

By: Kanagawa Miki

Subject: Otanjoubi Omedetou~

Selamat ulang tahun Chinen-kun ^^ aku mengharapkan semua yang terbaik untuk mu

-Miki-

Mulai hari itu, dada ku berdetak saat melihat pesannya, tapi… aku masih bingung perasaan apa ini. Gadis itu, sebenarnya mau apa sih dia?

Kanagawa Miki, aku mengenalnya karena dia satu sekolah dengan ku, dia akrab dengan teman-teman ku, contoh nya Yamada, Yuto, dan Hitomi. Ehem Hitomi itu adalah kekasihnya Yamada.

Miki adalah sosok yang sangat ceria, pada awalnya ia juga tidak terlalu memperhatikan ku, ia malah sering bermain dengan Hitomi karena mereka sama-sama menyukai anime. Tapi ada satu kesalah pahaman, yang akhirnya membuat Miki mulai bertingkah laku aneh, menurut ku.

Waktu itu ada satu tugas yang harus berkelompok, kebetulan aku dan teman-teman ku lah yang menjadi satu kelompok tetapi Miki juga ikut kelompok kami, well aku tak perduli yang peting aku mendapatkan nilai.

“Sou, hari ini kita ke rumah Chii-kun untuk mengerjakan tugas?” tanya Miki di tengah perjalanan pulang, ke rumah ku tapi.

“Iya” jawab Yuto.

“Kenapa tidak ke rumah Yuto-kun saja?” tanya Miki dengan nada manja nya terhadap Yuto.

“Karena rumah Chinen lebih besar, Miki-chan..” jawab Yuto yang kedengarannya dengan penuh kesabaran, entah itu perasaan ku saja atau bukan.

“Souka…” kedengarannya ia kecewa, aku sedikit melirik ke arahnya, tapi tunggu ternyata dia sedang melihat kearah ku.

“Chi—Chinen Yuri, nama mu itu ya? Ah aku belum pernah bicara dengan mu!”

“Jangan heran, Chinen memang jarang ngomong Miki-chan” jawab Hitomi menanggapi kata-kata Miki barusan.

“Souka, kalau begitu perkenalkan nama ku Kanagawa Miki” ucapnya sambil mengulurkan tangannya kearah ku, tapi aku hanya melihatnya. Tidak menyambut tangan mungil yang sia-sia saja ia ulurkan terhadap ku.

“Sudah tahu” aku menyimpan kedua tangan ku di saku celana ku. Berjalan duluan meninggalkan mereka.

“Chinen, tega sekali kau!” seru Yuto.

“Setidaknya kau ajak bicara Chii” itu suara Yamada. Kenapa? Kenapa aku harus menghiraukan gadis itu si? Menyebalkan.

*

“Tom and Jerry?” seru Miki saat melihat koleksi miniatur di setiap sudut rumah ku “Aku juga suka ini!”

“Iya.. iya memang banyak yang suka Tom and Jerry” jawab ku seadanya. Yamada, Hitomi dan Yuto mereka belum masuk ke rumah karena masih ada yang mau mereka beli, tapi mereka menitip Miki karena takut nanti Miki nyasar karena tidak tahu jalan.

“Lihat! Jerry nya lucu sekali” serunya lagi, ia mengambil salah satu miniatur Jerry yang baru saja aku beli satu minggu yang lalu.

“Jangan, nanti rusak” akupun mencoba mengambilnya dari tangan Miki, tapi ia malah naik ke atas sofa, lalu menaikan tangannya yang sedang memegang miniatur Jerry.

“Ambil kalau bisa week” anak ini benar-benar, semakin lama aku semakin sebal dengannya. Karena merasa kesal, akupun menarik kaki nya agar ia turun, tapi aku salah Miki malah kaget dan langsung jatuh ke atas tubuh ku.

Entah apa yang ada di dalam pikiran ku, tapi aku hanya menatap matanya, tubuhnya tidak terlalu berat saat ia menindih ku, di mata itu, aku tahu ada ketakutan.

“Ah, gomen” Miki berdiri dari posisinya, lalu menyerahkan kembali boneka Jerry kepada ku. “Aku akan pulang” ucapnya sambil menunduk lalu mengambil tasnya, aku sama sekali tidak menghalangi kepergiannya.

Tapi saat Miki akan keluar dari rumah, Yamada dan yang lain melarang Miki untuk pulang ke rumah sebelum tugas kami selesai.

Dan mulai dari situ, Miki sering datang ke rumah ku karena di ajak mereka.

====

25 December 2012

Salju, dan hari ini adalah hari natal, kami memang sengaja mengadakan sebuah acara kecil-kecilan di rumah ku, sebenarnya sih ini bukan ide ku, ini adalah ide nya Yuto. Sebal? Yah mau bagaimana lagi mereka kan sahabat-sahabat ku, kecuali Miki.

Kimi no inai hibi ga sugiteku keredo

Anyday, anytime itsumademo

You’re my love

Aku yang saat ini sedang duduk di kotatsu (meja penghangat) merasa sedikit terganggu karena ada sebuah lagu dari handphone seseorang, saat aku melihat ternyata itu adalah handphone milik Miki.

Hokori kabuta kabegiwa no gitaa

Yuki de hajikeba omoidasu no sa ima mo

My better days, better days with you

Suara itu sangat indah saat ku dengar, lama kelamaan aku tidak merasa terganggu lagi oleh lagu itu. Tapi sebentar, kemana si Miki? Pemilik handphone ini.

Merasa khawatir, akupun mencoba melihat di halaman rumah ku. Ternyata dia ada, ia sedang bermain dengan salju yang turun menyentuhnya. Bersama dengan Yuto yang sedang bermain gitar, menemani nya bernyanyi.

Everyday I smile for you

Kimi ga tonari ni ita hibi

Every night I cry for you

Ima mo kie wa shinai

Everyday I try for you

Nidoto furerarenai soredemo

Every night I shine for you

Subete wa for you

Ternyata itu, itu adalah suara Miki, sangat santai dan tidak terlihat manja nya saat ia menyanyikan itu. Merasa penasaran, akupun akhirnya melihat ke handphone Miki.

Rupanya Yuto menelpon ke handphone Miki, lalu ia speaker. Maksudnya apa ini?

Aku kembali melihat mereka berdua. Yuto sepertinya ikut bernyanyi.

(Girl) kimi to ita hibi modorenai to wakatte te mo

I don’t wanna let you go

Ano hi no egao ga mada kiezu ni

Hitori fumidashita New Step

Furikaereba don’t know why

Osana sugita ne me and you

I wanna be with you

You know I wanna be with you

Lagu itu, sukses membuat ku mematung dan tidak mengedipkan mata ku, aku sangat menikmatinya. Entah kenapa lagu itu sangat menyentuh untukku.

“Chii-kun! Ayo kita main!” seru Miki yang menyadari keberadaan ku. Masih mencoba tidak menghiraukannya. Aku masuk ke dalam kamar ku untuk tidur. Tapi… handphone Miki masih di genggaman ku.

Dan di dalam tidur ku, aku kembali mendengar kan mereka bernyanyi.

Everyday I smile for you

Boku wa otona ni natta kedo

Every night I cry for you

Kimi wa koko ni inai

Aku mendengar, Miki menangis saat menyanyikan lirik itu.

Everyday I try for you

Imasara todokenai soredemo

Every night I shine for you

Subete wa for you

Tanpa aku sadari, air mata ku menetes karena lagu itu. Padahal itu lagu untuk masa lalu seseorang. Tetapi aku merasa lagu ini sangat menusuk dada ku.

Tidak ingin menangis lagi, akupun mematikan sambungan telepon Yuto dan mencoba tidur.

*

“Chinen!! Bangun!! Miki pingsan!! Chinen!!” tubuh ku terasa di guncangkan oleh seseorang, saat aku membuka mata ku ternyata itu adalah Yamada.

Sontak aku langsung terbangun “Miki? Nande?”

“Dia pingsan saat sedang bernyanyi dengan Yuto tadi” jelas Yamada kepada ku “Hidungnya mengeluarkan darah, dan dia sekarang sedang di bawa ke rumah sakit oleh Yuto”

“Hontou? Antar aku ke sana” desakku, entah kenapa perasaan gelisah kini ada di benakku. Apa benar kini aku sudah mempunyai rasa sayang terhadapnya? Tapi kenapa baru sekarang? Aah nanti dulu memikirkan itu, yang penting sekarang bisa datang ke rumah sakit!

Saat aku dan Yamada datang ke rumah sakit, ternyata Yuto dan Hitomi masih duduk di ruang tunggu. Gadis itu, dia masuk ke ruang ICU.

“Yuto? Bagaimana keadaan Miki sekarang?” tanya ku kepada Yuto yang nampaknya sangat khawatir. Tapi dia tidak meghiraukan ku sama sekali. “Hey! Jawab aku bodoh!” kesalku.

“Kenapa kau baru sekarang memperdulikannya?” tanya Yuto, nampaknya ia marah “kenapa di saat Miki sedang sakit kau baru peduli padanya? Kau tahu? dia sudah lama memendam perasaan terhadap mu!! Harusnya kau menyadari itu!”

BUGH!!

Dan satu pukulan dari Yuto mampir ke wajah ku hingga membuat ku jatuh, tapi aku tidak membalasnya, karena aku tahu aku yang salah. Setelah itu Yuto kembali menarik kerah baju ku.

“Bahkan aku yang menyukainya, ia menolakku untuk mu, semuanya untukmu Chinen!! Tapi apa? Apa yang kau beri kepadanya? Tidak ada!! Kau hanya memberikan luka untuk Miki!! Sialan kau!!” aku melihat kepalan tangan Yuto akan kembali melayang kearah wajah ku, tapi kemudian Yamada menahannya.

“Yuto, ini lagi di rumah sakit tolong tenang” ucap Yamada mencoba meleraikan. Perlahan tangan Yuto yang mengenggam kerah baju ku kini lepas.

“Miki masih di tangani oleh dokter, aku belum tahu keadaannya untuk saat ini” jawab Yuto yang kini sudah mulai tenang, tapi dia membuang wajah dari hadapan ku.

“Aku ingin minta maaf kepadanya” … “Aku janji akan menjaganya kalau ia masih membutuhkan ku, aku menyesal sudah tidak menghiraukannya… dan aku harap ia sehat. Aku ingin menjaganya, sungguh” ucap ku lirih, dan tanpa sadar aku menunduk dan megeluarkan air mata ku, rasa sesal yang dalam terhadap Miki kini ada di benakku.

Satu tepukan di pundakku mampir dari tangan Yuto “maafkan aku Chii, tadi hanya emosi sesaat..” Yuto diam sebentar untuk menarik nafasnya “buatlah Miki untuk semangat hidup lagi” ucapnya sambil tersenyum.

Aku memiringkan kepala ku “semangat hidup lagi?” tanya ku bingung.

“Ya, dia pernah bercerita, kalau hidupnya saat itu tinggallah tiga bulan lagi”

“Tidak mungkin” jawab ku sambil menggelengkan kepala ku tidak percaya.

“Yuto, kau bohongkan?” tanya Hitomi yang ternyata tidak mempercayai juga kata-kata Yuto.

“Aku tidak bohong, dia mempunyai penyakit leukimia dan akhir-akhir ini Miki memang sering megeluarkan darah dari hidungnya”

“Bohong” aku masih tak percaya.

“Chinen!! Kalau kamu tidak percaya, coba tanya langsung ke Miki” ucap Yamada meyakinkan ku.

“Tapi aku lihat dia ceria tadi sambil bernyanyi dengan mu Yuto!” tidak ada yang merespon pembicaraan ku, semuanya hanya diam menatap ku seperti aku-ini-sudah-gila tapi aku tak memperdulikannya, akan ku buktikan kalau yang di katakan Yuto semuanya hanyalah bohong.

**

“Yuri-nyan, aku mau jalan-jalan ke taman dong” sudah tiga minggu belakangan ini aku menemani Miki di rumah sakit, Yamada, Yuto dan Hitomi membiarkan aku yang menjaga Miki, karena mereka tahu kalau akulah yang dia butuhkan sekarang.

“Iya, tapi di habiskan dulu makanannya, aaaa~” aku menyodorkan sendok yang berisi bubur kearah mulut Miki, tapi dia malah menutup rapat mulutnya itu. “ayo dong~ gimana mau sembuhnya nih?”

“Aku kenyang Yuri-nyan…” entah sejak kapan panggilan itu sudah nyaman di telinga ku.

“Baru tiga sendok sudah kenyang? Setengah aja belum” omel ku, dan kembali menyuapinya dengan mengurangi porsi di dalam sendoknya.

Miki kembali menggeleng “Ke taman!” tegas Miki, huft baiklah gadis ini memang keras kepala, kalau mau A tetap saja ia akan memilih A.

“Yasudah tapi sebentar saja ya” ucap ku sambil menggedongnya untuk duduk di kursi roda.

“Iya, asal dengan Yuri-nyan aku sudah bahagia” ucapnya sambil tersenyum, ia sudah sering mengatakan itu sehingga aku tidak heran lagi dan tidak canggung lagi.

“Iya, aku tahu Miki” dan itulah jawaban ku, agar dia senang.

Saat sedang berjalan di area taman rumah sakit ini, biasanya Miki akan senang dan bernyanyi gembira seakan penyakit mengerikan itu tidak ada di dalam tubuhnya, tapi kini Miki hanya diam, dia hanya memandangi setiap sudut di taman ini.

“Chinen-kun” panggilnya, aku merasa heran, kenapa dia memanggil marga ku lagi? Aku berhenti mendorong kursi rodanya. Dan berjongkok untuk duduk sejajar dengannya.

“Ada apa Miki?” tanya ku.

“Besok apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan macam apa itu?

“Besok? Hmm merawat mu seperti biasanya” jawab ku asal, eh tapi memang sih aku akan merawatnya sampai ia benar-benar sembuh.

“Bukan~ tapi kalau aku sudah tidak ada?” mendengar pertanyaan aneh itu aku hanya bisa menggeleng.

“Dame! Kau ini bicara apa sih?” aku mengacak rambutnya singkat.

“Aku serius!” ucap Miki menegaskan, ia menatap ku dengan wajah serius dan sepertinya tidak main-main. Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak ingin kehilangannya. Aku ingin membalas perasannya terhadap ku yang ia pendam selama ini.

Tanpa sadar tubuh ku bergerak sendiri untuk mencium bibirnya yang sudah mulai terasa dingin, aku tak peduli dan aku akan memberikan kehangatan kepada tubuhnya. Aku memeluk Miki dan masih mencium bibir dinginnya ini. Aku tak merasa ada penolakan dari Miki. Yang aku rasakan hanya tubuhnya yang pasrah di dalam pelukan ku.

Saat aku melepas ciuman ku, aku melihat tatapan Miki yang sendu, matanya sudah sangat pucat seperti kekurangan darah. Dan sebuah tangan dingin menempel di pipi ku.

“Yuri-nyan,,, daisuki” dan tepat saat itu Miki semakin melemah dan terjatuh di dekapan ku, ia hanya pingsan Miki belum pergi. Aku memeriksa nafasnya dan Miki belum pergi, dia hanya pingsan. Tanpa perduli apapun lagi akupun menggendong Miki kearah kamar rawatnya.

=====

Aku kembali datang ke rumah sakit tempat Miki di rawat, namun kali ini aku tak bisa melihat keceriaannya, yang biasanya dia tersenyum senang melihat kedatangan ku, menyambut boneka Rillakumma yang sengaja aku belikan untuknya.

Tapi sekarang tak ada lagi, aku hanya melihat Miki terbaring lemah di atas ranjang dengan oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.

Setelah kejadian di taman itu, Miki mengalami koma dan sudah dua hari ini dia belum juga siuman. Dan aku masih berharap kalau Miki akan sembuh, ia pasti sembuh.

“Chinen, Miki tahu kok, kalau kamu di sini terus untuk dia” ucap Yamada mencoba menenangkan ku, semakin lama aku semakin mengenggam erat tangannya yang dingin ini.

“Miki bangun…” hanya kata-kata itu yang kini bisa aku ucapkan, aku harap kamu bangun Miki. Senyuman mu, aku rindu dengan senyuman manis mu.

“Kan sudah ku bilang, penyesalan itu di akhir setelah perbuatan” ucapan Yuto seperti menusukku, memang benar sekarang aku menyesal. Aku menyesal sudah tidak memperdulikannya dulu. “Sekarang lihat? Miki sakit, dia lemah dan hidupnya sudah tidak lama lagi”

“Jaga kata-kata mu Yuto!” bentakku “Aku yakin Miki akan sembuh” elakku dan kembali melihat kearah Miki yang masih terlelap di alam mimpinya.

Aku kembali mengenggam erat tangannya “Daisuki” bisikku.

*

24 April 2013

Hari ini adalah hari ulang tahun Miki, aku tahu kalau Miki belum siuman dan tidak bisa mengembangkan senyumannya untuk ulang tahunnya hari ini. Tapi aku masih membeli kue untuk merayakan ulang tahun Miki karena aku tahu di sana Miki pasti senang melihatnya.

“Miki-chan… otan—jou… loh Miki?” aku terkejut saat melihat Miki tidak ada di atas kasurnya, tapi ternyata dia ada di teras kamarnya melihat kearah jalan yang ramai dengan mobil yang lalu lalang di jalan raya dari atas.

Perlahan aku medekatinya “Hey, Otanjoubi Omedetou~ Miki-chan….” Ucap ku pelan dan langsung di sambut dengan pelukannya, syukurlah tubuh Miki tidak terasa dingin lagi.

“Yuri-nyan!! Kau datang!! Aku tadi takut, saat aku bangun di sebelah ku tidak ada siapa-siapa hiks” aku membalas pelukannya sambil perlahan meletakkan kue ulang tahunnya di atas meja.

“Aku disini Miki, aku di sini..” ucapku menenangkan.

“Jangan pergi lagi…aku mohon” aku merasakan Miki mempererat pelukannya terhadap ku.

“Iya, aku tidak akan pergi lagi…”

“Janji?”

“Iya, Miki-chan..” jawab ku, perlahan Miki melepaskan pelukannya terhadap ku, dan menatap ku dengan bahagia.

“Kau datang membawa kue? Hari ini ulang tahun ku ya?” tanyanya dengan ceria, astaga aku sangat merindukan suara lucunya itu.

“Nah, iya selamat ulang tahun, ayo kita makan kuenya” aku mengambil sebuah pisau yang khusus untuk memotong kue, lalu menyerahkannya kepada Miki.

Miki mengambil pisau itu dari tangan ku, dan mulai memotong kuenya untukku “aaa~” dia menyuapkan sepotong kue kearah ku.

“Kau juga makan” kata ku setelah kue yang Miki beri sudah ku telan, tapi Miki malah menggeleng.

“Aku tidak mau makan lagi” ucapnya yang membuat ku terkejut.

“Hey, jangan begitu”

“Tidak ada gunanya lagi. Karena habis ini aku akan pergi jaaaauuuhhhhh sekali” ucap Miki sambil mengepalkan tangannya di udara “makanya, aku mau minta izin, ah bukan tapi aku mau memohon agar Yuri-nyan rela aku pergi” kata Miki dengan penuh mohon kepada ku, tubuh ku mematung. Nada bicara nya sudah sangat berbeda, bahkan semakin lama tubuh Miki semakin tak nyata. Bisa di katakan ini seperti metamorfosa.

”Haha… Kau pasti bercanda kan?”

”Aku tidak becanda, aku mohon Yuri-nyan,, di sana aku akan bahagia jadi kau jangan khawatir” ucap Miki kepada ku, kedua tangannya meraih tangan ku.

”Kau bicara seolah kamu akan lenyap dari dunia ini” komentar ku asal.

Aku melihat, Miki menundukan kepalanya ”kalau memang iya, bagaimana?”

”Sudah ku bilang, jangan bercanda!!”

”Aku tidak bercanda!!”

”Lalu kenapa? Kenapa di saat aku telah menyukai mu, kamu malah mau pergi? Oke, aku minta maaf dengan sifat ku dulu, aku akui aku ini jahat, tapi jangan pernah….”

”Aku memang akan pergi, tapi jiwa ku akan selalu ada di sini” Miki menyentuh dada ku ”aku akan selalu ada di hati mu, Yuri-nyan”

”Tidak… Aku ingin raga mu juga, aku sudah janji kan? Aku akan selalu bersamamu, aku tidak akan meninggalkan mu lagi” ucap ku mulai kalut, bagaimanapun juga aku tak mau Miki pergi.

”Terima kasih Yuri-nyan, sudah mau berjanji kepada ku, tapi maaf… Aku tidak bisa” ucapnya pelan.

“Apa maksud mu?” Tanya ku mulai bergetar, dan tanpa izin air mata ku mulai keluar, tangan Miki menyentuh pipi ku dan sekilas ia mencium bibir ku. Nyata, sentuhan itu sangat nyata ku rasakan.

“Sayonara..”

Tepat saat itu handphone ku bergetar tanda ada yang menelpon ku, saat aku melihat ternyata itu adalah Yamada.

“Moshi-moshi Yamada?”

“Kau dimana sekarang? Bisa ke rumah sakit? Lalu kau ke kamar mayat?” tanya Yamada yang kedengarannya sangat terburu-buru.

“Aku di kamar Miki, kamar mayat? Untuk apa ke sana?” tanya ku sambil tertawa tenang.

“Bodoh!! Miki tidak ada di situ kan? Chinen, Miki sudah meninggal tengah malam tadi, tepat saat dia ulang tahun. Miki sudah pergi, Chinen” jelas Yamada yang menurut ku ini gila. Aku sama sekali tidak percaya dengan kata-katanya barusan. Miki, dia ada di sini tadi. Merayakan ulang tahunnya bersama ku.

“Kau bohong!!!”

“Kalau tidak percaya, kau ke kamar mayat sekarang juga” seketika aku melihat ke sekelilingku, Miki tak ada, dia menghilang. Tak perduli lagi akupun memutuskan sambungan ku dengan Yamada.

….

”Chi—Chinen Yuri, nama mu itu ya? Ah aku belum pernah bicara dengan mu!”

”Souka, kalau begitu perkenalkan nama ku Kanagawa Miki”

”Sudah tahu”

”Yuto-kun,,kapan aku akan di anggap sama Chii-kun?”

”Chinen-kun! Ayo kita main!”

”Yuri-nyan,, daisuki”

”Yuri-nyan!! Kau datang!! Aku tadi takut, saat aku bangun di sebelah ku tidak ada siapa-siapa hiks”

”Aku disini Miki, aku di sini..”

”Tidak… Aku ingin raga mu juga, aku sudah janji kan? Aku akan selalu bersamamu, aku tidak akan meninggalkan mu lagi”

”Terima kasih Yuri-nyan, sudah mau berjanji kepada ku, tapi maaf… Aku tidak bisa”

”Apa maksud mu?”

”Sayonara..”

….

Aku sudah mencarinya ke mana-mana, hingga membuat ku hampir gila.

Di kamar ini aku tidak menemukan Miki sama sekali, kini aku sadar kalau apa yang di katakan Yamada itu benar, Miki sudah pergi, karena merasa lemas akupun terduduk di atas sofa yang memang di sediakan untuk menunggu pasien.

Tapi tanpa sengaja aku melihat ada selembar surat dia atas meja.

Just For You

Jangan-jangan? Ah aku akan melihat isi nya saat natal nanti. Aku tahu, kini Miki sudah pergi, dia sudah tenang di sana. Tapi walau pun begitu aku sudah lumayan lega karena aku sudah membalas perasannya terhadap ku.

Aku rela kau pergi, Miki.

=====

Kini natal kembali datang, aku masih sangat ingat kejadian dulu, yang betapa bodohnya aku telah mengabaikan perasaan Miki terhadap ku.

Mengingat sesuatu, akupun merogoh saku celana ku untuk mengambil selembar surat, yang di depannya tertulis kata-kata  Just For You.

“Ah, itu lagu yang aku nyanyikan tahun kemarin bersama Miki” ucap Yuto yang melihat aku mengeluarkan surat ini.

“Aku tahu, karena aku mendengarnya.” Jawab ku.

“Tapi kau belum mendengar kan satu lirik ya?” tanya Yuto dan sesaat ia berpikir.

“Apa itu?” tanya ku, Yuto mengambil surat yang ada di tangan ku, dan mulai membukanya.

“Nah yang ini dengarkan aku..

Once again kimi ni

Mata aeru nara

I’ll give you all my love for you”

Translate: skali lagi jika kita, di pertemukan lagi aku akan memberikan seluruh cinta ku untuk mu.

Seketika aku tersenyum mendengarkan lirik yang Yuto nyanyikan “iya, aku pasti akan seperti yang ada di lirik itu” ucap ku yakin.

“Yokatta, Miki pasti tersenyum senang di alam sana, Chinen” kata Yuto sambil tersenyum.

“Hai, Miki-chan aishiteru yo” ucap ku sambil memandang ke langit-langit. Haha sepertinya aku melihat awan yang membentuk wajah Miki dengan senyumannya.

Enything I do for you, Everything it’s just for you.. Enything I do for you, everything it’s..

Just For You.

*******

Owari~ maafkan kalo ini gagal hiks KOMEN ARE LOVE MINNA!!! XD

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Care

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s