[Multichapter] Treasure Hunting (chapter 6)

Title        : Treasure Hunting
Type          : Multichapter
Chapter     : 6
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-15 *naek rating* 😛
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~

TREASURE HUNTING

CHAPTER 6

“Ryuu-chan…” air mata Miyako mengalir menatap saudara kembarnya yang mulai pucat dan mengeluarkan keringat banyak sekali, Miyako hanya bisa menggenggam tangan Ryutaro tanpa berkata apapun.

“Masih bisa… masih…” ucap Miki lirih, mengambil beberapa tanaman obat yang bisa mengurangi rasa sakit Ryutaro saat ini. Kaki Ryutaro yang koyak dan terlihat tulangnya sudah dibebat oleh kain, tapi tampaknya darah masih saja mengalir dan merembes keluar dari kain tersebut.

Langit mendung mulai menjadi hujan, malam lebih cepat datang kali ini. Miki, Chinen, Ryutaro dan Miyako berlindung di sebuah gua yang sepertinya pernah dihuni seseorang diantara peserta, melihat abu yang masih terlihat baru.

“Chinen-kun… bagaimana ini?” Miki menatap Chinen lirih, sementara pemuda itu tak bereaksi, ia tak punya kata penghiburan yang tepat, dan tak yakin bisa membantu Ryutaro tanpa penanganan medis yang memadai.

Miyako menatap Chinen dan Miki bergantian, “Kalian pergilah… aku akan tetap disini menjaga Ryu… aku tak bisa menjadi penghalang kalian…” Miyako mengambil dua peta miliknya dan Ryutaro dan menyerahkannya kepada Chinen, “Kalian pasti bisa menang…”

Dalam kegelapan sekalipun, Chinen bisa melihat Miki tak ingin beranjak dari sana, ia ingin bisa menyembuhkan Ryutaro, namun Chinen menarik tangan Miki, “Ayo kita harus pergi…” ucapnya tenang, namun Miki meronta ingin melepaskan diri.

Chinen masih menarik Miki hingga keluar gua, sementara itu Miki mulai menangis, tak ingin meninggalkan kembar itu di gua berdua saja, apalagi mengingat kondisi Ryutaro.

“Chinen-kun… aku bisa menghentikan pendarahan.. aku bis…”

PLAK!

Chinen menampar Miki dengan keras, mencoba membuat gadis itu sadar. Chinen menyentuh bahu Miki dengan lembut, “Dengarkan aku! Kita tidak bisa menolong semua orang! Kau harus sadar hal itu!! Kau mau kita selamat kan? Kita harus tetap bergerak!!!”

Miki mulai menangis, namun Chinen menuntunnya kembali masuk hutan, ia tak bisa menyalahkan jika Miki memang keras kepala, tapi untuk pertama kalinya Chinen berfikir mungkin mereka bisa keluar arena ini bersama-sama, tapi ia tidak bisa membantu semua orang lalu mengorbankan diri mereka sendiri.

Sepeninggal Miki dan Chinen, Miyako hanya bisa menatap Ryutaro yang mulai menginggau tak jelas, pupil matanya bergerak liar dan tak fokus.

“Miya… makan malam sudah siap?” tanya nya, “Ibu mana?”

Miyako mengusap air matanya, “Sebentar lagi, Ryuu… Ibu bilang kita akan makan spagetti malam ini, kesukaan Ryuu…” ucapnya lirih.

Miyako menggenggam tangan Ryutaro, pemuda itu pasti kehilangan banyak darah dan saat ini dalam kondisi kritis.

“Tapi Miya selalu tidak habis kalau makan spagetti,” nafas Ryutaro mulai tersengal, seperti habis lari, “Nanti aku yang harus menghabiskannya…” ucap Ryutaro lagi.

“Kau kan suka mengambil jatahku, bahkan bertanya apa aku sudah kenyang atau belum?” Miyako terbatuk karena menahan tangisnya.

Ryutaro terkekeh, mencoba membuat dirinya nyaman namun tidak berhasil, ia merasa seluruh tubuhnya mulai tak terasa, mulai dari kakinya, kini lututnya dan hingga perutnya terasa tak nyata.

“Miya tahu… aku sayang Miya dan Ibu… kita bisa selalu bersama kan ya?”

Miyako mengangguk dan kini tangisnya semakin keras, ia menangis sesenggukan dan tak mampu menjawab Ryutaro.

“Aku ngantuk, bilang Ibu aku akan kesana sebentar lagi…” ucap Ryutaro, dan beberapa menit setelahnya pemuda itu berhenti bernafas selamanya.

======================

Cuaca di arena benar-benar mendung. Riisa, Keito dan Natsuki berjalan dalam diam setelah Yuto memilih untuk berpisah dengan mereka.

“Sebentar lagi hujan..” ucap Riisa mencoba membuka percakapan, namun keduanya hanya diam sementara Keito tetap menggenggam tangan Natsuki dan berjalan tanpa ekspresi yang berarti.

Natsuki berjalan mendahului keduanya, melepaskan genggaman Keito.

“Natsuki!” Keito gusar dan meraih kembali tangan Natsuki, namun segera ditepis oleh gadis itu.

Sejam setelahnya Natsuki menolak berjalan bersebelahan dengan Keito, ia malah berjalan beriringan dengan Riisa. Menurut Natsuki, Keito tidak perlu sampai bertengkar dengan Yuto. Apalagi sebenarnya Yuto sudah banyak membantunya, saat Keito tidak ada di sisinya.

Riisa sudah lelah dan tak mau berdebat lagi, ia hanya terus berjalan tak tentu arah, mengikuti kemana saja Keito berjalan, bersandingan dengan Natsuki. Perjalanan setengah hari yang dirasa Riisa semakin membosankan, ia mencoba mengingat beberapa lagu yang bisa menyenangkan hatinya, dan mulai berceloteh ringan.

“Sudah tengah hari… kita harus istirahat…” ucap Riisa, menghentikan langkah Keito yang berjalan di depan mereka.

“Kau bisa tidur, Keito.. biar aku yang jaga..” kata Riisa, melihat wajah Keito yang semakin lama semakin pucat, mungkin karena ia benar-benar belum tidur hampir dua hari lamanya.

Keito menggeleng, namun beberapa menit kemudian Keito tertidur pulas. Riisa berdiri meregangkan otot-ototnya, ketika dilihatnya Natsuki berdiri.

“Riisa-chan, aku mau kesana sebentar ya…” Natsuki menunjuk sebuah arah yang sepertinya sungai.

Riisa hanya mengangguk, membiarkan gadis itu berlalu dari hadapannya. Sesaat Riisa menatap Keito yang tertidur pulas. Ternyata cowok macam Keito yang terlihat angkuh bisa juga jadi lemah dan terlihat rapuh begini. Nafasnya yang naik turun teratur, wajahnya yang biasanya serius kini terlihat melembut dan tenang, seperti bocah saja.

Entah berapa lama Riisa memperhatikan Keito, ketika dirasanya Natsuki tak juga kembali ke tempatnya dan Keito menunggu.

Natsuki berjalan cepat menembus hutan. Bagaimanapun juga ia harus menemukan Yuto dan meminta maaf kepada pemuda itu. Ia tak suka cara Keito mengusir Yuto dan hingga kini ia merasa bersalah.

Semakin lama ia berjalan, semakin sadarlah Natsuki kalau keputusannya melarikan diri dari Keito dan Riisa adalah salah besar. Ia tak bawa apa-apa, ia sendirian dan malam sebentar lagi datang. Ditambah lagi ia juga tak tahu dimana Yuto berada.

================

“Bisa gak?” tanya Inoo sambil masih membidik senapannya tepat di kepala Natsuru, sementara GPS nya sudah berpindah tangan di Yuya.

Pengalaman Yuya bekerja di perusahaan IT selama dua tahun ternyata tidak membuatnya cepat belajar dengan alat elektronik macam itu. Jujur saja dulu dia hanya bagian personalia, ia hanya bohong kalau ia pintar dengan alat elektronik.

“Sebentar dong!” keluh Yuya tak terima dibentak oleh Inoo.

Jemari Yuya sibuk mengenali apa yang ada di GPS itu, ia mencoba beberapa kali sentuhan, ketika melihat titik-titik berwarna merah dan satu titik berwarna biru ada di layar.

“Bravo!!” seru Yuya sumringah, seperti mendapatkan medali emas di olimpiade saja.

Natsuru mulai tak tenang, seperti janji Inoo, jika Yuya bisa membukanya sendiri, maka ia akan dibunuh. Beberapa kali Natsuru mencoba melirik wajah Inoo yang tampak dingin dan sekilas melihat jemari Inoo yang tepat berada di pelatuk itu hampir menekan si pelatuk, ketika Yuya berteriak.

“Nyerah deh! Gak ngerti…”

Karena menahan nafas, oksigen masuk begitu cepat membuat Natsuru terbatuk. Campuran antara takut dan senang tiba-tiba membuatnya pusing dan mual. Yuya berjalan ke arahnya, menyerahkan GPS itu.

“Kita masih butuh dia, Inoo…” sahut Yuya pada Inoo yang kini mencibir sebal dan menurunkan senapannya dengan enggan.

Inoo mencibir lalu menurunkan senapannya, “Kalau kau pikir aku tidak bisa membunuhmu, kau salah besar.. aku sudah membunuh satu orang jadi membunuhmu bukan hal yang sulit…” ucapannya terdengar sedingin es.

Natsuru hanya mengangguk takut-takut lalu menjelaskan maksud yang ada di GPS itu pada Yuya dan Inoo.

“Terlalu banyak yang bergerak berdua…” ucap Yuya berbisik pelan pada Inoo.

Inoo membuka semua peta yang sudah ia kumpulkan. Sejauh ini ada enam buah. Jumlahnya lumayan juga dan mungkin bisa membantu.

“Jadi bagaimana?” tanya Yuya bingung.

Inoo tampak berfikir, “Aku pikir sih Sora tidak mungkin berjalan terlalu jauh. Ia pasti menunggu kita,”

“Kenapa kau sangat yakin?” tanya Yuya lagi.

“Karena itulah yang biasa Sora lakukan jika tersesat di hutan saat berburu bersamaku. Ia akan diam hingga aku menemukannya,”

“Kenapa seprti itu?”

“Karena kalau Sora bergerak bersamaan denganku, kita akan sama-sama tersesat. Itu yang selalu Sora katakan padaku,” jelas Inoo lagi.

Yuya menatap peta yang dibentangkan oleh Inoo dan mengerenyitkan dahi karena sama sekali tidak mengerti apa yang ada di peta itu. Peta nya tidak lengkap dan sangat random, tentu saja akan sulit dibaca. Inoo meminta GPS yang masih dipegang oleh Natsuru dan mencocokannya dengan peta.

“Sudah hampir malam,” kata Natsuru tiba-tiba ketika melihat langit diluar semakin gelap, bahkan rintik hujan pun terdengar.

“Cuaca dan waktu di arena di tentukan oleh pembuat permainan ini. Kita tidak akan pernah tahu kapan siang atau malam akan datang,” ucap Inoo tanpa melirik ke arah Natsuru. Gadis itu pun segera diam dan tak ingin berdebat lagi dengan Inoo.

“Kalau begitu kita lebih baik berhenti dulu disini, Inoo…” kata Yuya menatap langit yang hampir gelap.

“Tidak, kita akan berhenti ketika benar-benar gelap. Kita bergerak kesini,” ucap Inoo sambil menunjuk sebuah tempat di peta yang Yuya pikir sama saja semuanya namun akhirnya mengangguk.

Inoo berdiri dan mengambil sebuah tali dan mengikat tangan Natsuru, “Ayo jalan!”

Sepanjang perjalanan itu mereka tidak menemukan siapapun, hari benar-benar sudah mendung tapi belum juga malam. Natsuru mulai kelelahan namun tidak berani protes kepada Inoo maupun Yuya. Tapi beberapa kali Yuya memberinya minum ketika sedang berjalan sementara Inoo sama sekali tidak peduli.

Setelah beberapa jam tanpa berhenti tiba-tiba Inoo berhenti dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Yuya dan Natsuru berhenti juga. Inoo mendengar ada orang yang bergerak ke arah mereka. Dengan gerakan cepat Inoo bersembunyi di balik pepohonan, mengintai. Sementara Yuya menarik Natsuru ke balik batu besar yang berada di sekitar situ.

Terdengar dua orang yang sedang berbicara satu sama lain, Inoo tahu jaraknya belum terlalu dekat tapi terdengar jelas mereka bukan dua orang wanita, berarti bukan Opi dan Sora.

“Yoko!” seru Natsuru ketika Yoko dan Yamada terlihat berjalan berdampingan.

Yuya tak sempat membekap mulut Natsuru, sementara itu Yoko dan Yamada sadar mereka diintai oleh Yuya dan Inoo.

“Kau!! Mana Yabu?!!” seru Yoko ketika Inoo menampakkan diri sambil mengacungkan senjata apinya.

Yamada mundur beberapa langkah dari Yoko yang terus maju ke depan, sepertinya hendak menyerang Inoo.

“Yabu siapa?” tanya Inoo, ia tak punya waktu untuk mengingat semua nama peserta dan siapapun Yabu itu dia tidak pernah bertemu dengannya.

“Waaaa!” Yoko kalap dan berlari ke arah Inoo, sesaat setelah Yoko menghantam tubuh Inoo terdengar tembakan yang tertahan, Inoo berlumuran darah dari tubuh Yoko.

Natsuru menahan teriakannya, tenggorokannya macet dan nafasnya naik turun karena shock. Sahabatnya mati di depan matanya dan ia tak bisa berbuat apapun. Natsuru lemas dan terduduk di sebelah Yuya sementara pemuda itu menunduk melihat Inoo melepaskan diri dari jasad Yoko.

Beberapa saat kemudian Natsuru merasakan amarah yang sampai di ubun-ubun kepalanya. Ia berlari dengan tangan terikat, mengambil sebongkah batu yang ada didekatnya lalu memukul kepala Inoo dari belakang, Inoo kelimpungan dan senapannya terjatuh namun tidak berhasil membuat Inoo pingsan. Natsuru mengambil senapan itu dan membidiknya ke arah Inoo.

“Mati kau!! Mati kaaauuu!!” seru Natsuru namun tak juga menarik pelatuknya, tangannya bergetar hebat.

Yuya berdiri dan menatap Inoo yang berada beberapa meter di hadapan Natsuru dan tentu saja jika Natsuru menarik pelatuk itu otomatis nyawa Inoo akan melayang. Sepersekian detik Yuya berfikir apa yang harus ia lakukan namun ia merasakan trisula nya terambil dan detik berikutnya ia melihat trisula itu melayang cepat dan terdengar suara tembakan. Trisula itu menancap tepat di kepala Natsuru, Yuya menoleh dan melihat Inoo menunduk tepat saat peluru hampir mengenainya.

“Gadis bodoh!” seru Inoo melihat Natsuru yang kini sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba Yuya merasa lemas dan tersungkur di tanah sementara itu Inoo yang masih memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut karena dihantam oleh Natsuru oleh batu namun bergerak mencabut trisula itu dan mengambil senapan di tangan gadis itu. Tapi ia tak bisa menangkap bayangan Yamada yang sepertinya sudah melarikan diri.

===================

Yamada berlarian tanpa arah yang jelas. Di matanya masih terbayang tubuh Yoko dan Natsuru yang mati di tangan Inoo. Ia lihat lagi darah itu, darah manusia yang berceceran, bau amis yang tiba-tiba saja ia sadari masih ada di bajunya. Darah Kento yang saat itu juga mati di hadapannya.

Pemuda itu mulai muntah lagi tak karuan. Kenapa rasanya ia terus berlari dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa tujuan dan saat ini tanpa persediaan makanan dan tanpa senjata ia memang hanya bisa bergantung pada kakinya ini. Ia juga tidak pandai berkelahi dan ia yakin jika saja ia masih disana, Inoo juga sudah menghabisinya.

Seharian ini Yamada hanya makan biskuit instan, ia belum makan sama sekali sejak dua hari yang lalu dan kini ia merasa sudah tidak berdaya lagi. Jikapun ia harus mati ia tidak ingin mati dibunuh, ia akan bunuh diri saja. Yamada kembali berdiri dan berlari ke arah pegunungan, disana mungkin ia bisa melompat dan tak akan kembali lagi.

“Yamada!!”

Yamada terkesiap dan mencari arah suara yang memanggilnya. Tapi dia tidak menemukan seorang pun disana.

“Yamada, kan?”

Ia ingat pemuda jangkung itu ada di tempat latihan, tapi tak ingat namanya.

“Eh?”

“Nakajima Yuto, kalau kau tak ingat namaku,” kata si pemuda pelan namun Yamada masih bisa mendengarnya.

“Ah! Iya… tapi… aku tidak punya peta, aku tidak punya apa-apa. Kalaupun kau membunuhku kau tidak akan dapat apa-apa,” seru Yamada menjelaskan keadaannya dengan cepat, niatnya masih bulat, ia tak mau dibunuh.

Tiba-tiba saja pemuda jangkung itu tertawa terbahak-bahak, “Jadi kita seri dong. Aku juga tidak punya apa-apa, cuma punya sebotol air minum. Mau?”

Masih dalam keadaan bingung Yamada menerima botol air minum itu dan meneguknya sedikit. Sekarang terasa lebih baik setelah tadi dia muntah cukup banyak.

“Aku menyerahkan petaku pada orang lain, jadi saat menemukanmu… aku hanya ingin teman jalan saja,” ungkap Yuto lalu duduk di salah satu batang pohon.

Masih sedikit bingung namun akhirnya Yamada ikut duduk juga.

“Kita harus menemukan gua atau apapun untuk berlindung malam ini, sebentar lagi gelap,” tambah Yuto, “Atau disini saja? Kita jaga bergantian?”

Yamada akhirnya mengangguk walaupun tak yakin. Kenapa Yuto bersikap sangat santai seperti ini?

Malam datang, suasana malam di arena memang selalu gelap gulita. Apalagi di kedalaman hutan yang bahkan sinar bulan tidak sampai. Yuto menyalakan api dengan cara tradisional yang ia pelajari di tempat latihan, cukup membuat keduanya hangat sambil menunggu pengumuman. Empat kembang api meluncur di angkasa.

“Selamat malam peserta Treasure Hunting!!” lagi-lagi suara Shingo yang memuakan, “Empat peserta gugur malam ini. Morimoto Ryutaro dan Miyako, Sakamoto Yoko, Sakura Natsuru…”

Yamada hanya bisa menunduk ketika nama Yoko dan Natsuru disebutkan. Ia masih tidak bisa percaya apa yang dia lihat ketika Inoo melemparkan trisula itu dan menancap langsung di kepala Natsuru.

“Mulai besok kalian akan mendapatkan kejutan baru!! Selamat malam!!”

Yuto terdengar mencibir, “Kejutan apa lagi? Seperti tidak cukup saja kita dilempar ke arena begini, di tonton seluruh masyarakat Nipon?”

================

Saifu mendengar pengumuman itu dengan seksama lalu mencoret-coret di tanah, “Sisa 15 orang,” katanya pada Daiki yang sibuk mengompres kaki Saifu yang masih bengkak.

“Oh ya?” Seharian ini mereka tidak bergerak karena akan sulit untuk Saifu dengan keadaan kaki bengkak parah seperti itu.

“Sora, Nu, Inoo masih bertahan,” gumam Saifu lagi.

Daiki mengangguk-angguk, “Makanan kita menipis, tapi kita bisa menghemat setidaknya sampai dua hari, dan kita benar-benar butuh obat…” ucap Daiki melihat kaki Saifu yang tampak mengerikan.

“Bagaimana kalau Dai-chan bergerak sendirian saja? Lebih efisien kan? Aku akan tinggal disini dan mungkin mati disini,” Saifu menatap kakinya dan menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut.

Daiki mengehela nafas berat, “Tidak. Kalaupun aku harus menggendongmu akan aku lakukan,” ujarnya tulus sambil membelai tangan Saifu, ia menatap tangan kurus itu dan seakan menyadari sesuatu, “Pelacak ini…”

“Ehm?” tanya Saifu bingung.

“Pelacak ini ditanam dibawah tangan kita kan?”

Saifu mengangguk.

“Kita harus cari cara untuk mengeluarkannya dari tubuh kita!”

“Bukannya itu tidak mungkin? Bagaimana kalau kita mati saat mencoba mengeluarkannya?” tanya Saifu lagi.

“Pasti ada caranya! Sekarang kau tidur saja, ya?” Saifu akhirnya mengangguk. Walaupun tidak kemana-mana tetap saja tubuhnya lelah, ditambah nyeri di kakinya belum juga membaik malah semakin terasa sakit.

Sementara Daiki sibuk menatap tangannya, ia tak bisa menentukan bagaimana caranya mengeluarkan pelacak ini tanpa diketahui. Kamera tersebar di seluruh arena, namun bukan berarti tidak pernah ada celah. Pasti bisa. Tidak ada sistem yang tidak ada lemahnya. Ia akan mencari kelemahan dari sistem Akanishi ini.

“Daiki…” terdengar suara lemah Saifu memanggilnya, “Aku kedinginan..”

“Iya.. sebentar…” tapi untuk malam ini, biarlah ia memeluk Saifu dulu, masih ada esok hari untuk memikirkan apa yang selanjutnya harus ia lakukan.

===============

Kegelapan bukanlah hal yang menakutkan bagi Sora. Ia tidak pernah takut akan gelap karena separuh hidupnya dihabiskan di ruang bawah tanah pengap setiap malamnya, berbagi dengan ratusan anak lainnya yang juga tak beruntung seperti dirinya. Hingga ia dewasa dan Inoo mencarikan sebuah gubuk untuknya bertempat tinggal, setiap malam Sora tidur di dalam ruang bawah tanah itu. Paginya Sora akan bekerja di tambang yang juga tak kalah gelapnya, hanya ketika sore tiba dan ia pergi berburu dengan Inoo saatnya Sora melihat cahaya. Seperti malam ini di arena, Sora berjaga sendirian di gelapnya malam. Opi sebenarnya tidak benar-benar tidur, namun ia masih membiarkan Sora berjaga sendirian.

“Boleh aku ikut berjaga?” tanya Yabu mendekati Sora yang sedang melamun.

Sora menoleh, “Kau tidak bisa membantu banyak, lebih baik kau tidur saja,” ungkapnya dingin.

“Tapi… aku sudah tidur seharian,” ucap Yabu, ia masih ngeri ketika mendengar nama Yoko disebutkan. Siapa yang membunuh Yoko? Kenapa gadis itu tiba-tiba saja tidak terselamatkan? Jika saja ia tidak menyuruh Yoko untuk meninggalkannya saat ia terluka, jika saja Yoko masih bersamanya, pasti gadis itu selamat.

“Aku tetap tidak akan tidur,” ucap Sora keras kepala.

Yabu hanya menggeleng dan berjalan ke sedikit menjauh dari Sora dan Opi. Dia ingin sendirian tanpa siapapun yang mengganggunya. Ia sakit karena Yoko kini telah meninggalkannya. Bukan hanya masalah mendapatkan sponsor, tapi ia sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu sehingga kehilangan Yoko terasa seperti menusuk ulu hatinya. Perlahan air mata Yabu turun, tak ingin membuat keributan ia pun menutup mukanya, menangis sejadinya sambil berusaha menahan suaranya. Cintanya telah pergi dan tak akan kembali lagi tanpa sempat ia perjuangkan.

Pagi datang terasa begitu cepat. Sora hampir saja tertidur ketika mendengar suara dari kejauhan. Ia menyipitkan mata karena walaupun sudah pagi tapi hutan itu masih berkabut sehingga membatasi jarak pandangnya. Perlahan Sora mempersiapkan katananya, berjaga-jaga jika yang muncul bukanlah orang yang ia harapkan. Suara itu semakin mendekat, begitu hati-hati dan Sora pun menghitung dalam hati berapa langkah orang itu. Sora tahu ini saatnya ia membangunkan Opi dan Yabu.

“Opi-chan,” bisik Sora yang juga dalam posisi berbaring di sebelah Opi.

Opi menggeliat dan sebelum gadis itu sempat bertanya Sora membekap mulut Opi, “Kita kedatangan tamu, tapi aku yakin itu bukan Kei-chan atau Yuya,” bisiknya lagi.

Opi tampak kaget namun akhirnya mengerti dan mengangguk lalu perlahan membangunkan Yabu yang berbaring tidak jauh darinya.

“Saat kuberi aba-aba, kau harus segera melarikan diri dengan Yabu, mengerti?” bisik Sora.

“Hah? Lalu…”

“Jangan banyak tanya!” hardik Sora lagi.

Akhirnya gadis itu mengangguk dan menarik Yabu yang kini sudah setengah sadar dari tidurnya.

“SEKARANG!” teriak Sora bersamaan dengan ayunan katana sora yang menangkis sebuah panah ke arah mereka.

Opi menarik tangan Yabu dan berlari ke dalam hutan sementara Sora berdiri dengan sigap dengan katana teracung pada musuh di depannya.

“Akhirnya aku menemukanmu,” ujar si empunya suara, mencibir di hadapan Sora dengan panah siap luncur.

Sora tidak menjawab dan bergerak pelan berusaha mendekati.

“Apa kita harus saling berkenalan terlebih dahulu, Hideyoshi Sora?” ucapnya lagi, masih sedingin es dan membuat Sora muak mendengarnya.

Sekali lagi Sora tidak mau menanggapi, ia tidak mau lengah mengingat musuhnya sekarang adalah Takahashi Nu. Bukan lawan yang mudah.

Kesulitan bagi Sora yang sekarang hanya bersenjatakan katana sementara Nu memakai panah yang berarti gerakan Nu akan lebih efisien daripada dirinya. Sora masih mencoba mendekat pada Nu karena itu satu-satunya cara ia bisa melukai Nu.

“Gadis yang sangat sombong!” seru Nu sambil melepaskan beberapa panah pada Sora.

Sora segera menghindar. Ia berlari cepat ke arah Nu, mengayunkan katananya namun Nu cukup cepat sehingga ia berhasil menghindar juga. Nu terkekeh mengejek.

“Tidak cukup cepat ya?” ucap Nu mengejek. Namun ia menyadari Sora melempar katana ke arahnya, ia menghindar namun beberapa detik kemudia Sora sudah tidak ada di hadapannya.

Sora memukul keras Nu dari belakang, ia menarik panah dan merebut busur dari Nu yang masih shock. Nu berlutut kesakitan, mengambil katana Sora dan berbalik dengan sangat marah.

Sora membidik Nu tepat di tubuhnya namun Nu sempat menghindar dan panah itu tertancap di kaki Nu sebelum akhirnya gadis itu terjatuh ke jurang dengan membawa katana milik Sora.

=======================

TBC~

Yeah yeah.. ternyata gak bisa banyak disini…

Next chapter yaaaa…

Gak akan lama kok… hehehe

COMMENTS ARE LOVE

PLEASE DON’T BE A SILENT READER.. ^^

Save

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Treasure Hunting (chapter 6)

  1. Na Chan

    waa kak aku udah baca, hiks sedih yoko ama yabu gk bisa bersatu padahal waktu tau yabu masih idup aku berharap mereka bisa bersama, trus miyako meninggal kenapa ya? dikira cm ryuu
    lanjutin dong mau tauk kelanjutannya 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s