[Oneshot] Fallin’ For You

Fallin’ for you

Dapatkah aku melihat senyummu yang membuatku terpesona itu kembali? Bisakah aku mendengar suaramu kembali?
Ya, kau bisa. Karena kau akan selalu bersamaku. Bersama, kini dan selamanya.

Hey! Say! JUMP Yaotome Hikaru
Nakamura Yumi
By: Shield Via Yoichi
Lyrics: Fallin’ For You – F.T Island. (Thanks to some blog for the translate of this lyrics)

Yumi mengerjapkan mata yang masih berat itu. Lagi, dia tertidur saat mata kuliah berlangsung. Mahasiswi ini merasakan lelah dalam dirinya. Membuatnya selalu mengantuk dan akhirnya menghabiskan jam kuliahnya dengan terlelap. Yumi merenggangkan ototnya sambil menatap hampa ruang kelasnya yang sudah kosong. Kemudian dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone-nya. Dia mendapati sebuah pesan disana.

From: Miharu
Hei, tukang tidur! Aku sudah membangunkanmu berkali-kali, tapi tetap saja…….
Maaf meninggalkanmu sendirian. Aku ada les piano selepas jam kuliah. Maaf ya? (^_-)

Yumi tertawa kecil, “Les atau pacaran, Miharu?”

Yumi mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kampus, pulang ke rumahnya. Baru saja Yumi melangkahkan kakinya, anjing miliknya sudah menghampirinya.

“Kiky….” Yumi menggendong anjingnya itu dan mengelus lembut bulunya, “Kemana ayah dan ibu, Kiky?” Anjing itu hanya menggelung dipelukannya. Yumi melepaskan anjing itu lalu mengelus kepalanya.

“Ayo kita jalan-jalan, Kiky.” Yumi tersenyum dan dengan cepat menaruh tasnya di kamar lalu menghampiri anjing kesayangannya itu. Menggendong anjing itu dan melangkah keluar rumah. Yumi terus mengelus bulu Kiky yang halus itu sambil melihat suasana hari itu.

In a moment, all of me, was fascinated
That innocent smile makes me crazy for you

Yumi menuju taman kota dan tetap menggendong anjing yang tampak bosan itu. Kiky terus menggeliat di pelukan Yumi hingga akhirnya dia dapat lepas dari pelukan gadis itu. Kiky berjalan dengan cepat seraya berlari meninggalkan Yumi.

“Kiky! Matte!” teriak Yumi sambil mengejar anjingnya. Anjingnya yang cukup gesit itu tidak menghiraukan Yumi dan terus pergi.

“Kiky, kau dimana? Kiky!” panggil Yumi sambil mengelilingi taman yang luas itu. Yumi terus saja mencari dan meneriakkan nama anjingnya sampai akhirnya dia lelah dan sesak napasnya.

“Hei, anjing manis. Dari mana asalmu, sayang?” suara bariton terdengar oleh Yumi dan dengan gerakan cepat Yumi mencari asal suara. Dia yakin lelaki itu sedang berbicara dengan anjingnya.

“Kau suka susu atau makanan anjing dan semacamnya?” suara itu terdengar lagi.

“Kiky!” teriak Yumi membuat lelaki itu mendongak melihat ke arahnya. Lelaki itu tersenyum pada Yumi. Memperlihatkan deretan giginya yang tidak rapi namun cukup manis. Seakan menghipnotis Yumi dalam sekejap.

Yumi terdiam. Dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada waktu dia mencari Kiky. Yumi menyerngit, apa ini?, bisiknya dalam hati.

“Ini anjingmu, err…..”

“Yumi. Nakamura Yumi desu.”

“Yumi-chan..” lelaki itu tersenyum kembali.

Yumi merasa sesak saat melihat lelaki itu tersenyum. Jantungnya berdegup keras dan seperti akan lepas. Yumi menarik napasnya, melegakan dadanya yang tiba-tiba sesak itu.

My thought has no idea what to do to you
No idea

“Ah, ya. Aku belum memperkenalkan diri. Yaotome Hikaru desu.”

“Y-yoroshiku, Yaotome-san.” ucap Yumi gugup. Apa? Kenapa aku gugup?, tanya Yumi dibenaknya.

Hikaru tertawa, “Kau tidak perlu memanggilku dengan marga.”

“T-tapi itu tidak sopan memanggil orang yang baru dikenal dengan namanya.” Hikaru semakin tertawa dan mengangguk. Dia merasa agak geli dengan jawaban gadis ini. Biasanya, gadis lain akan memanggil namanya jika dia sudah meminta untuk tidak memanggilnya dengan marga.

“Lalu, nama anjing ini—” Pertanyaan Hikaru terpotong saat Yumi mendapatkan sebuah telepon. Yumi meraih handphone-nya dan menjawabnya.

Moshi-moshi. Ada apa, Miharu?” Yumi mendengar jawaban dari telepon genggamnya, “Ah, aku sedang di taman kota.”

“Aku bersama Kiky. Ya, sudah. Jaa…”

Yumi menutup teleponnya dan kembali menyimpan handphone-nya di saku celana, “Siapa?” tanya Hikaru agak penasaran.

“Sahabatku. Katanya dia akan kesini karena khawatir padaku.”

“Kalau begitu, kita tunggu saja.” Hikaru tersenyum. Senyuman Hikaru selalu membuat Yumi salah tingkah. Yumi membalas senyuman itu dengan senyuman canggung. Hikaru sibuk bermain dengan Kiky sementara Yumi melihat Hikaru dan anjingnya. Yumi masih heran kenapa senyuman Hikaru membuatnya gugup. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat senyum seseorang. Apa ini cinta?, Yumi langsung menggeleng dengan keras.

Tidak, tidak. Aku tidak jatuh cinta. Hanya saja senyuman itu…, Yumi kembali menggeleng mengelak kata hatinya. Hikaru berhenti bermain sejenak dan menatap Yumi.

“Kau baik-baik saja, Yumi-chan?” Yumi berhenti menggeleng dan menelan ludah saking bingungnya.

Whenever I do anything your voice is always repeating over and over
Will I see you ever again?
I spend most of the time thinking about such thing

Yumi mengangguk cepat, “D-daijoubu.”

Hontou ni?” Yumi kembali mengangguk dengan cepat. Hikaru mengalihkan perhatiannya pada anjing milik Yumi.
Yumi menelusuri pria itu. Pria tinggi menggunakan celana panjang jeans biru tua dan jaket abu-abu yang tidak di kancing memperlihatkan T-shirt biru tosca yang dikenakannya. Rambutnya yang berwarna cokelat sangat cocok dengan wajahnya. Dia terlihat seperti seorang pangeran, atau mungkin dia seorang malaikat. Sinar dari pria itu membuat Yumi tidak bisa mengalihkan pandangannya. Senyumnya, suaranya seakan membuat Yumi melayang. Oh, tidak! Yumi sedang jatuh cinta.

“Yumi!” teriak seorang gadis yang menghampiri Yumi sambil melambai padanya membuyarkan lamunan Yumi. Gadis itu berhenti tepat di depan Yumi kemudian membelalakkan matanya, “Hikaru! Ah, maksudku Hikarunii-chan.”

“Kau kenal padanya, Miharu?” Miharu mengangguk cepat. Matanya masih membesar–kaget. Dia seperti tidak percaya melihat Hikaru di sana. Miharu mengerjapkan matanya berkali-kali, menggosok mata saking tidak percaya, “Kau kenapa, Miharu?”

Miharu menggeleng, “A-ah.. Iie..”

“Halo, Miharu-chan. Long time no see. Ah, kau semakin cantik saja.” Hikaru mengacak rambut Miharu gemas. Miharu tersentak, ini nyata atau mimpi?, tanyanya dalam hati.

“N-nii-chan… Kau kemana saja? Kok baru datang?” Dengan tangan bergetar Miharu memegang tangan Hikaru. Ini nyata!, pekiknya.

Hikaru tersenyum, “Dari tempat yang indah. Aku sedang mencari seseorang dan tampaknya aku sudah menemukan orang itu.”

Miharu menatap Hikaru. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Menelusuri tubuh pemuda itu dengan detail. Kemudian menatap Yumi yang sedari tadi melihat mereka sambil menggendong anjing kecilnya itu. Miharu menghampiri Yumi.

“Kau sudah makan?” Yumi menggeleng, “Ayo kita beli makanan dan ajak HikaruniiNii-chan!!” Miharu dan Yumi menoleh ke arah Hikaru berdiri tetapi pemuda itu tidak ada di sana lagi.

“Eh? Yaotome-san kemana?” Yumi melihat sekeliling taman. Miharu terdiam, dia tampak sedang berpikir. Yaotome Hikaru itu…….. kenapa dia masih ada di dunia ini?

“Miharu! Miharu!” Yumi mengguncangkan tubuh sahabatnya yang termenung, “Miharu-chaaaaaan!!”

“A-ah… Gomen, gomen. Ayo kita makan!” kata Miharu yang sudah menarik tangan Yumi untuk ikut dengannya.

“Eh? Chotto matte!! Bagaimana dengan Yaotome-san?”

Miharu masih menarik tangan Yumi, “Ah… aku mau makan tiga mangkuk ramen… Yumi, hayaku!” Dia tidak akan membahas pria bernama Yaotome Hikaru alias sepupunya yang sudah……. meninggal dua tahun lalu.

“Miharu.. kau kenal Yaotome-san?” tanya Yumi pada gadis yang sedang berbaring di tempat tidur. Hari ini Miharu sedang menginap di rumah Yumi. Miharu hanya mengangguk, “Oh… dia kenalanmu atau temanmu atau–”

“Dia sepupuku.” Miharu menarik selimut menutupi badannya, “Hoam… Aku mengantuk, oyasumi.”

Oyasumi..” kata Yumi yang sudah duduk di tempat tidurnya. Dia masih melihat Miharu, berharap Miharu bercerita lebih tentang malaikat itu.

“Heh, cepat tidur! Jangan sampai besok kau tidur di kelas lagi!” Miharu membuka matanya dan menatap tajam Yumi. Yumi salah tingkah, dia langsung merebahkan diri, menarik selimut dan menutup matanya.

Oyasuminasai…”

But when I see you face to face I become speechless
Because when I see you eye to eye you take my breath away

Ohayou, Yumi.” sapa Miharu, “Kita sarapan apa hari ini?”

Miharu mendekati Yumi yang sedang memasak. Melihat tangan terampil itu menari-nari diatas bahan masakan itu, “Seandainya tanganku seperti tanganmu, Inoo-sensei mungkin akan suka padaku.”

Yumi tertawa, “Kau ini… Bakat kita berbeda-beda. Aku bisa memasak, kau bisa bermain piano. Aku bisa melukis, kau bisa membuat karya tulis. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.”

Miharu mengangguk membenarkan. Kalau semua kelebihan dan kekurangannya dengan Yumi sama, mereka tidak akan bisa bersama. Tuhan sudah menuliskan semuanya. Ah, apa jalan hidup Hikarunii-chan juga begitu? Apa dia diutus Tuhan kembali untuk menemui orang yang dia cari? Miharu tidak mengerti.

“Ngomong-ngomong, kemarin kau mengucapkan ‘oyasuminasai‘ ya waktu aku tidur?” tanya Yumi namun masih sibuk dengan masakannya.

Miharu menyerngitkan alisnya dan menggeleng, “Tidak.”

“Oh…” Yumi mengangguk, “Berarti aku salah dengar ya?”

“Mungkin…” Apa itu suara Hikarunii-chan?


Ohayou gozaimasu, Yumi-chan.” Yumi menoleh dan mendapati Hikaru sudah ada di sampingnya. Dia tersenyum cerah.

“Ah, o-ohayou, Yaotome-san.” kata Yumi gugup. Lagi-lagi perasaan ini. Melihat Hikaru di pagi hari sudah membuatnya berolahraga jantung, “K-kenapa kau ada disini? Kau kuliah disini juga, Yaotome-san?”

Hikaru masih tersenyum, “Tidak. Aku tidak kuliah disini.”

“Eh? Jadi?” Yumi mengangkat alis matanya sebelah bingung. Seingatnya bukan sembarang orang bisa masuk kampusnya apalagi masuk ke perpustakaan seperti sekarang.

“Aku hanya ingin melihatmu. Kau cantik pagi ini, Yumi-chan.” Hikaru tersenyum lebar. Menatap Yumi penuh arti. Yumi merasa jantungnya seperti berhenti. Laki-laki itu memang suka melihatnya sulit bernapas seperti ini. Wajahnya juga memanas, dia yakin mukanya sudah memerah akibat gombalan Hikaru. Pena yang tadi dia gunakan terjatuh, tangannya tiba-tiba lemah tidak bisa memegang apapun saking kagetnya.

“Yumi-chan, kalau pegang alat tulis yang benar! Masa penamu sampai jatuh?” marah Miharu yang sudah duduk di depan Yumi sambil membawa buku-buku yang cukup tebal.

“Miharu?” Yumi tersadar dari khayalannya, “Eh? Yaotome-san mana?”

“Hah? Hikarunii-chan? Kau pasti terlalu banyak pikiran, sampai mengigau begitu.” kata Miharu yang sudah sibuk mencatat di buku catatan. Matanya bergerak melihat tiap halaman buku tebal itu dan sesekali melihat ke arah buku catatannya.

Uso… Tadi dia duduk di sampingku, Miharu.” Yumi mencoba mencari keberadaan Hikaru. Matanya menyapu seluruh ruang perpustakaan dan tiada hasil. Dia tidak mendapatkan bayangan dari pemuda itu, “Tidak mungkin. Itu terlalu nyata. Hei, Miharu! Dengarkan aku!”

“Hm… Aku mendengarmu. Suaramu bahkan terdengar oleh orang-orang. Lihat, mereka pasti sedang melihat ke arah sini. Bukan, ke arahmu.” Miharu mengoceh tanpa melihat Yumi yang sudah kelabakan di lihat semua pengunjung perpustakaan. Yumi memegang alat tulisnya dan berpura-pura sedang mencatat.

I’m so embarrassingly coward that
I hate myself being awkward I guess you think
I am such an unfriendly and a weird guy
How can I tell this feeling to you obediently?

Yumi meregangkan badannya. Dia baru saja bangun. Dia melirik jam dindingnya. Dia bersyukur hari ini kuliahnya masuk siang jadi dia punya waktu buat bermalas-malasan.

“Yumi-chan, cepat bangun!” Ibu Yumi mengedor pintu kamar Yumi, “Ada tamu, katanya dia temanmu. Cepat, jangan buat dia lama menunggu.”

“Teman?” Yang pasti bukan Miharu. Ibunya tidak akan heboh kalau Miharu yang datang. Gadis itu sudah datang berkali-kali ke rumah ini dan mungkin ibu bosan melihat Miharu yang selalu datang ke rumahnya. Yumi keluar kamarnya dan melihat tamunya. Kemudian dia hanya bisa berdiri diam melihat orang itu.

Ohayou, Yumi-chan. Apa kau sibuk pagi ini?” tanya orang itu yang adalah Hikaru. Dia tersenyum ramah.

Yumi tersentak, “A-ah, iya. Ah, maksudku tidak. A-aku…” Yumi menatap dirinya sendiri, “Tunggu sebentar. Aku segera kembali.” Yumi melesat ke kamarnya dan segera mandi. Hikaru tertawa melihat reaksi gadis itu.

“Jadi kita mau kemana, Yaotome-san?” Yumi bertanya saat dia dan Hikaru sudah di perkotaan. Hikaru menggenggam tangan Yumi. Yumi menelan ludahnya sambil melihat tangan Hikaru yang menggenggamnya.

Hikaru membalikkan badannya dan melihat Yumi, “Aku hanya ingin menghabiskan pagiku denganmu. Apa tidak boleh?”

“Eh?”

“Kenapa?”

“B-bukan, tidak apa-apa. Tapi….” Yumi memegang perutnya, kelaparan. Dia belum sarapan dan hanya minum segelas air mineral.

Hikaru tersenyum geli, “Seharusnya kau bilang dari tadi. Ayo!” Hikaru berjalan lebih dulu dan masih memegang tangan Yumi.

“Eh? Kemana?” Yumi mengikuti Hikaru susah payah, “Yaotome-san, pelan-pelan…” Hikaru tidak menggubris Yumi dan masih menarik gadis itu.

“Ah, akhirnya kenyang juga..” Yumi menegak air minumnya. Mangkuk ramen yang cukup besar ada di depannya dan dalam keadaan kosong.

“Bagaimana? Enak kan?” tanya Hikaru yang sedari tadi hanya melihat Yumi makan.

Yumi mengangguk, “Un! Tapi kenapa Yaotome-san tidak makan juga?”

“Yumi!”  Yumi menoleh ke asal suara yang sangat familier memanggilnya.

“Ah, Miharu! Kau baru pulang kuliah?”

Miharu mendekati Yumi, “Ah, iya. Tapi dosen tidak bisa datang. Jadi kelas dibubarkan.” Yumi mengangguk, “Kau kenapa bisa disini? Sendirian pula.”

“Eh? Aku baru selesai makan ramen bersama…. Are? Yaotome-san?” Yumi segera mencari bayangan Hikaru tapi tidak dia temukan. Lagi-lagi seperti ini. Kemana kah Yaotome Hikaru menghilang?

Miharu menyerngit, dia yakin Yumi tidak mengigau mengingat temannya ini selalu serius. Tidak mungkin Yumi selalu membayangkan Hikaru ada disampingnya. Hikaruniichan, apa yang kau cari sebenarnya?

Fallin’
Fallin’ for you
I’m addicted to you

Yumi menggoreskan tinta penanya di sebuah kertas putih yang berakhir penuh dengan coretan yang membentuk suatu gambar. Sebuah gambar wajah yang berkali-kali dia lihat dan membuat jantungnya tidak normal.

“Yaotome-san..” ucapnya. Lalu melanjutkan gambarnya dan memberikan warna yang membuat gambar ini lebih hidup.

Tanpa dia sadari, nama yang dipanggil sedang melihat di belakangnya. Tersenyum lembut kemudian menghilang.

Beberapa hari terakhir ini, Yumi begitu aktif menggambar. Menceritakan kembali pertemuannya dengan Hikaru melalui gambar-gambaran buatannya. Sementara Miharu hanya bisa terheran melihat temannya yang tidak begitu sering menggambar ini berubah. Miharu juga sudah lelah memikirkan kenapa sepupunya itu bisa kembali ke dunia.

“Miharu, bagaimana gambarku?” tanya Yumi disela kesibukannya. Miharu menatap satu per satu gambar tanpa warna itu.

“Seperti biasa, selalu bagus dan….”

“Dan?”

Miharu tersenyum, “Mirip. Aku selalu suka gambar-gambarmu.”

Arigatou.” Yumi tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya, “Ah, Yaotome-san dimana ya? Aku mau menunjukkan gambar ini padanya. Aku ingin tahu pendapatnya.”

Miharu hanya tersenyum miris. Otaknya sulit mencerna kenyataan beberapa minggu ini. Semenjak Yaotome Hikaru menunjukkan dirinya.

“Aku harap dia menyukainya.” kata Yumi lagi. Miharu hanya mengangguk mengiyakan.

“Sebaiknya beri warna dulu baru tunjukkan padanya.” saran Miharu. Yumi mengangguk cepat, entah kenapa perasaannya begitu senang. Apalagi kalau mengingat Hikaru.

Sementara Hikaru sedang menatap kedua gadis itu dari kejauhan.


Miharu merenggangkan tangannya. Dia lelah setelah seharian berkutat dengan kertas bercoretan tertata dan pensil warna. Dengan seenaknya Yumi menyuruhnya untuk mewarnai gambarnya. Apa daya, Miharu yang tidak bakat dalam seni menggambar hanya bisa membantu memberi warna pada gambar-gambar polos itu.

Miharu menatap keluar jendela kamarnya. Malam itu hujan turun begitu deras, jalanan juga tampak sepi. Hanya beberapa payung yang terlihat menulusuri jalanan. Miharu beralih menatap langit, gelap yang bisa ditangkap oleh retina matanya.

“Kebiasaanmu melihat langit malam tidak berubah ya…” Miharu membulatkan matanya lalu berbalik melihat yang bicara padanya.

“H-hikaru….”

Pria itu tertawa kecil, “Bahkan saat berdua denganku kau memanggil namaku saja.”

“A-apa yang sebenarnya kau cari? Kau itu sudah…”

Hikaru mengangguk, “Aku hanya merasa kesepian di ‘sana’, jadi aku meminta kepada Tuhan untuk kembali ke bumi dan membawa’nya’.”

Miharu menyerngit, dia bingung apa yang dikatakan Hikaru, “Di sana? Membawanya? Jangan-jangan….” Miharu berpikir sejenak lalu menggeleng kuat setelah tahu jawabannya, “Tidak, Hikaru. Jangan bawa Yumi.. tidak!!”

Miharu menangis dalam diam, dia masih sibuk melihat pemuda yang semakin dekat jaraknya dan memeluknya erat, “Tenanglah, Miharu.. Dia akan bahagia bersamaku, di ‘sana’ sungguh indah, dia pasti menyukainya. Dan kau tidak perlu khawatir, ya?”

“Bagaikan bisa aku tidak khawatir kalau aku mengetahui bahwa sahabatku akan mati karena kau membawanya pergi?” Dia masih terisak dan memaki dirinya karena begitu bodoh.

“Sudah kubilang, aku sudah meminta izin pada Tuhan dan kau juga…”

Miharu menatap Hikaru dengan mata berkaca-kaca, “Aku kenapa? Lupa padanya seperti cerita-cerita tragedi?”

Hikaru hanya diam, dia mengembangkan senyumnya, “Kau lihat saja nanti, Miharu. Tidak akan menyenangkan jika kau tahu apa yang akan terjadi di masa depan.” Hikaru mengelus rambut Miharu, “Sekarang tidurlah, bayangkan orang kau cintai untuk melupakan percakapan kita malam ini.” Dia kembali memeluk Miharu. Miharu yang menangis mulai kelelahan dan tertidur.

“Mimpimu yang indah itu akan kubuat jadi kenyataan. Kau akan bahagia sama seperti aku dan Yumi di ‘sana’ nanti.”

If you are beside me
I feel like I can prove it

Yumi menatap hasil pewarnaan Miharu pada gambarnya. Selalu bagus dan rapi. Tidak salah Yumi menyuruh Miharu yang memang terlalu detail melihat gambarnya dan memilih warna yang tepat untuk digoreskan di sana. Dan mungkin Yumi bisa sedikit berangan-angan sebagai mangaka dan Miharu asistennya.

“Wah, gambarnya bagus sekali!” Pujian seseorang membuat Yumi melihat orang itu, “Halo, Yumi-chan~” Yumi menaikkan alisnya, agak terkejut. Bagaimana tidak, Hikaru sudah ada di depannya sambil melihat gambar buatannya.

“Hikaru…”

“Eh? Kau sudah memanggil nama kecilku. Baguslah, berarti kita sudah dekat.” Hikaru tersenyum senang. Yumi hanya diam, “Boleh aku lihat semua gambarmu?”

Terdiam, Yumi masih melihat pemuda yang membuatnya terkejut untuk kesekian kalinya. Kemudian dia mengangguk cepat, “Hai. Maaf kalau tidak bagus.”

“Ya ampun.. Gambarmu mirip seperti aslinya.”

“Eh?”

“Ini aku kan? Mirip sekali.” kata Hikaru dengan percaya diri yang tinggi sambil mengangguk, “Aku juga bisa menggambar.”

“Coba, coba.” tantang Yumi penasaran.

Hikaru menadahkan tangannya, “Berikan aku kertas dan alat tulis.” Yumi langsung menuruti perintah Hikaru, “Kau tidak boleh melihat kesini sebelum aku bilang selesai, oke?”

“Oke!”

Yumi membelakangi Hikaru, menunggu pemuda itu menyelesaikan gambarnya. Belum ada lima menit dalam posisi seperti itu, Hikaru sudah berteriak, “Selesai!” katanya bangga.

“Oh… Hayai na.. coba aku lihat.”

“Ini.” Hikaru memberikan hasil coretannya dalam lima menit itu. Yumi melihat gambar Hikaru, kemudian tertawa kecil, “Eh? Selucu itukah gambarku?”

Yumi mengangguk. Dia masih tertawa, “Ini aku? Lucu sekali.”

“Iya! Itu Yumi chara buatan Yaotome Hikaru~” kata Hikaru dengan pose seperti pelukis profesional. Yumi semakin tertawa, “Gambarmu…. aku suka sekali, sangat bagus.”

Yumi langsung terdiam. Dia segera tersenyum senang mendengar pujian Hikaru, “Arigatou na, Hikaru.”

“Apa kau bercita-cita jadi pembuat komik?”

Yumi mengangguk cepat, “Iya, dan Miharu akan jadi asistenku. Hikaru juga bisa ikut kok.” Yumi membuat pose berpikir, “Mungkin Hikaru bisa membuat rubik lucu di komik nanti.”

Hikaru tertawa senang, “Souka..”

“Un!”

Hikaru menatap Yumi. Menelusuri wajah gadis itu yang tadinya berekspresi begitu riang berubah menjadi bingung. Semakin lama jadi mereka semakin dekat dan mereka bisa merasakan sesuatu yang lembut. Ya, tanpa diduga Hikaru memberi ciuman manis yang singkat. Mereka masih dalam posisi mereka, saling menatap dan tersadar beberapa detik kemudian.

Gomen.” sesal Hikaru, “Tapi aku memang menyukaimu.”

Yumi yang menunduk memberanikan diri untuk melihat kearah pemuda itu. Dia bisa melihat rona kemerahan di pipi Hikaru. Bahkan dia juga merasakan detak jantung mereka yang seirama. Yumi tidak mengerti dengan situasi ini, begitu aneh tapi menyenangkan. Dia hanya bisa memeluk pemuda itu erat, seakan menjawab pernyataan Hikaru. Mereka begitu hanyut dalam situasi mereka sendiri.

Even for me, it’s possible to love and to be loved by someone
it’s possible to smile as good as yours
I can put a smile on my face

“Miharu~ hehehe…” panggil Yumi pada sahabatnya yang sibuk menatap layar handphone-nya. Miharu menyerngit, heran melihat Yumi yang aneh.

“Hei, kau kenapa? Kau senang sekali kelihatannya.”

Yumi mengangguk berkali-kali, “Hatiku senaaaaaaaaaaaaaang, Miharu! Kau tahu, Hikaru suka dengan gambarku dan…” Yumi mengantungkan perkataannya.

“Dan?”

“Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, Miharu. Ya ampun, jadi seperti ini perasaan yang selama ini kau pendam untuk Inoo-san? Aneh tapi menyenangkan~”

Miharu mengangkat alisnya antara kaget dan agak tersinggung karena Yumi menyebut nama guru piano tercintanya itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena tahu tentang tujuan Hikaru yang masih menyakiti pikirannya.

Ne, Miharu. Ayo kita makan, aku traktir!”

“Eh? Kau bilang kau sedang susah dalam keuangan.”

Yumi menggeleng, “Aku masin punya sedikit uang. Ayolah.” Gadis itu langsung menarik Miharu dengan semangat.

Di perjalanan, Yumi melakukan siaran ulang kejadian menyenangkan baginya itu pada Miharu. Respon Miharu hanya mengangguk dan tertawa saat dirasanya ada yang lucu. Untungnya jalanan saat itu tidak ramai dan tidak juga sepi jadi mereka tidak perlu berdesakan dan Yumi dapat bercerita dengan puas. Yumi juga sesekali melihat kearah jalan dan melihat sekeliling.

“Yumi-chan!” teriakan Hikaru bergema di telinga Yumi memanggil namanya.

“Hikaru?”

“Eh?” Miharu melihat Yumi tanpa ekspresi yang berarti.

“Hm.. Tunggu disini sebentar ya, Miharu.”

“Kau mau kemana?”

“Mau ke seberang jalan.” Yumi menunjuk kearah yang ingin dia tuju, “Lihat, Hikaru sedang memanggilku. Sepertinya ada perlu. Sebentar ya.”

Miharu hanya mengangguk lalu mencoba mencari Hikaru di seberang jalan itu, tapi tidak ada tampak pemuda itu.

“Yumi-chan, ayo cepat kesini. Tidak apa-apa.” Yumi terus mendengar teriakan Hikaru itu. Dia sama sekali tidak menghiraukan orang lain, “Cepatlah, aku disini membutuhkanmu.” Yumi mengangguk. Dia terus melangkahkan kakinya dengan pasti tanpa melihat apapun dan siapapun selain Hikaru yang sedang melambaikan tangannya dan melebarkan tangannya seakan-akan menyambut Yumi kepelukannya.

Sementara Miharu tersadar, Hikaru sedang melancarkan aksinya. Dengan segera Miharu berlari mengejar Yumi yang sudah di tengah jalan menatap lurus, mengabaikan yang lain.

“Yumi, berhenti. Yumi, tidak! TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!”


Miharu menatap sebuah batu nisan lalu meletakkan karangan bunga yang tadi dia bawa kemudian berdoa. Setelah berdoa, dia kembali menatap batu nisan itu, “Yumi…” lirihnya. Bahunya bergetar, tapi segera berhenti karena seseorang memegang bahunya.

“Sudahlah, Miharu. Kau tidak usah menangis, dia pasti tidak suka melihat airmatamu itu.” Miharu melihat orang yang menenangkannya, jari orang itu menghapus airmata Miharu.

“Aku hanya rindu padanya, Kei. Andai kebakaran itu tidak terjadi, andai bukan Yumi yang menolongmu, andai saja itu aku, tidak akan ada yang kehilangan seperti ini.”

“Miharu.” Kei memeluk gadis itu erat, “Tidak ada gunanya selalu berandai-andai, semua sudah terjadi. Yumi pasti bahagia di sana bersama kekasihnya, Hikaru.” Miharu mengangguk, dia masih menangis. Masih belum bisa menerima kepergian Yumi.

Sementara Hikaru tersenyum melihat mereka dari kejauhan. Rencananya berhasil, rencananya untuk mengambil Yumi ke sisinya, rencananya mengubah sedikit ingatan Miharu. Setidaknya Miharu tidak shock menerima kenyataan bahwa Yumi meninggal karena bujuk rayu Hikaru. Hikaru juga sudah menepati janjinya pada Miharu. Mimpi Miharu menikah dengan Inoo Kei sebentar lagi akan terwujud. Bukankah semua pihak menjadi senang? Itulah menurut Hikaru. Terdengar jahat memang, alasannya cuma satu: cinta. Cinta membutakan segalanya, deshou?

Ne, Hikaru..”

Nani?”

“Aku pernah berpikir begini, ‘Dapatkah aku melihat senyummu yang membuatku terpesona itu kembali? Bisakah aku mendengar suaramu kembali?’ saat kau tidak ada di hadapanku.”

“Dan biarkan aku menjawabnya sekarang. Ya, kau bisa. Karena kau akan selalu bersamaku. Bersama, kini dan selamanya.” Hikaru mencium puncak kepala Yumi, sementara Yumi membalas dengan pelukan. Rona kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Rona yang akan selalu terpancar dari mereka.

End~

Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Satu tahun saya bikin ini fiction. ;;A;; Gomen ne, @hikarunokanojo~ Bukan apa-apa sih, tapi emang susah dalam pengerjaan karena waktu dan gak dapet feel berkali-kali. Itu rasanya……. lelah banget. ;;~;; sekarang syudah selesai fiction-nya~ mungkin saya bakal bikin fiction satu lagi buat menebus dosa(?) saya. Happy birthday my beloved friend, @hikarunokanojo. ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s