[OneShot/SA] When I Was Your Man

Title             : When I Was Your Man
Type             : Oneshot, SongFic
Song             : When I Was Your Man by. Bruno Mars
Author          : Dinchan Tegoshi
Genre           : Romance, Shounen Ai agak Yaoi *my first warning!!*
Ratting         : PG-15 nyerempet NC
Fandom         : JE, HSJ
Starring        : Yabu Kota, Inoo Kei (HSJ)
Disclaimer       : I don’t own all character here. All HSJ members are belong to JE. I just own the plot!!! Pure Shounen Ai dan Yaoi *my second warning!!* COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^ Don’t Like, Don’t Read…

Please Don’t Be A Silent Reader… 🙂

WHEN I WAS YOUR MAN

Malam di akhir bulan September. Aku menyesap cappucinno sambil menatap lurus ke arah ribuan kerlip lampu kota yang sedikit menyilaukan. Aku tidak pernah suka pemandangan seperti ini. Tapi dia suka.

Dia.

Seakan mengingatkan, aku berjalan gontai, menutup jendela itu dan berbaring menatap tembok putih apartemen ini. Kini terasa lebih lapang tanpa dia bergelung menatapku atau sekedar memelukku dari pinggir. Aku kadang tak suka meresponnya dengan cepat. Aku hanya membiarkan dia menggodaku hingga ia kesal lalu aku akan menggodanya balik. But he likes it. He did.

 
Same bed, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don’t sound the same

Lagu Bruno Mars yang terdengar dari laptopku terasa menohok batin ku sendiri. Aku tak suka merasa seperti ini. Tidak. Aku bukan laki-laki cengeng dan bukan juga laki-laki tak berperasaan, tapi aku tidak suka menangis.

“Kou-chan…”

“Kou-chan…”

Aku terhenyak saat tiba-tiba terdengar suara itu di dalam kepalaku. Atau aku pikir aku mendengarnya.

Jika saja ia benar ada di sini, aku akan segera menjawabnya, “Ne, Kei-chan?”

===========================

Pertemuanku dengan Inoo Kei bisa disebut pertemuan biasa saja. Dia adalah arsitek yang baru saja lulus, sementara aku sudah bekerja setahun di konsultan ini. Dia hanya laki-laki kurus-tidak percaya diri-dengan wajah cantiknya, berdiri di hadapanku sebagai seorang magang.

Setelah menjelaskan beberapa peraturan kecil seperti tidak boleh terlambat, tidak boleh berhenti bekerja sebelum jam kerja habis, dan tetek bengek soal dimana mesin fotokopi atau toilet berada, ia mengangguk dan berteriak dengan keras bahwa ia meminta bantuanku sebagai senpai. Aku hanya mengangguk seakan aku memang atasannya, padahal kami punya jabatan yang sama, hanya saja dalam beberapa bulan aku akan jadi pegawai tetap.

Pada hari pertama, Inoo Kei hanya mengikuti kemanapun aku pergi, berusaha mengerti pekerjaan apa yang harus ia lakukan dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dalam waktu singkat keberadaan Inoo Kei menjadi buah bibir di kantor. Ia tampan, begitu kata pekerja wanita yang tentu saja sangat berdasar, mengingat ia memang punya wajah tampan. Selain itu Inoo juga sangat ramah, ia tersenyum pada setiap pekerja dan beberapa kali membantu pekerja wanita yang meminta bantuannya.

He’s such a playboy.

“Inoo Kei populer ya sekarang, maita na…” saat itu aku sedang membuat kopi di pantry ketika Yuya Takaki, salah satu playboy kelas kakap di kantor ini. Dia senpai ku di kantor ini dan sudah jadi pegawai tetap sekarang.

“Kenapa? Kau merasa tersaingi?” ucapku sarkastik. Setengah dari pegawai di sini sudah tahu track record Yuya, dan mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang mau dengannya.

“Kau bercanda? Wahahaha..” Yuya tertawa seakan aku sedang membuat lelucon dan memakai baju warna warni layaknya badut.

“Dia gak suka cewek kali…” ucapnya kemudian, lalu menghilang setelah mengambil gelas kopi yang baru ku tuangkan, “Makasih kopinya!”

Alih-alih kesal karena Yuya mengambil gelas kopiku, kata-kata terakhir Yuya sedikit menggelitikku. Inoo Kei gay? Pasti itu hanya bualan Yuya karena merasa tersaingi oleh Inoo. Lagipula kenapa pula aku memikirkannya?

Beberapa minggu setelahnya Inoo tidak pernah lagi mengikutiku. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Beberapa kali juga ia membantuku menyelesaikan pekerjaan.

Hari itu pun datang.

Akhir bulan September. Cuaca mulai dingin dan aku bersiap dengan jaketku setelah pekerjaan selesai. Hari ini aku lembur dan tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.

“Baru pulang? Yabu-san?”

Aku menoleh dan melihat Inoo berdiri di sebelahku, tersenyum seolah ia senang telah melihatku, atau mungkin karena ia memang selalu ramah pada semua orang. Dan setelahnya aku hanya mengiyakan pertanyaannya dengan anggukan kecil.

Aku tidak pernah merasa se canggung ini dengan seorang pria. Mungkin ini gara-gara ucapan Yuya soal Inoo yang tidak biasa, bahwa ia tidak suka wanita. Apa aku merasa terancam dengan statement itu? Entahlah. Yang jelas sekarang aku hanya diam, mendengarkan Inoo berceloteh soal hari ini dan entah kenapa aku malah memperhatikan wajah Inoo, beralih ke bibirnya. Satu kata yang terlintas setelah memandangnya, Cantik. Inoo Kei seorang pria, ia tidak berlaku seperti wanita atau apapun itu, but he’s really pretty.

Malam itu akhirnya kami minum di bar, aku hanya mengikutinya dan duduk di salah satu sudut mengahadap langsung ke bartender yang menyiapkan minuman kami.

Ini kali pertama ada seseorang yang begitu jujur mengenai dirinya sendiri. Inoo berbicara dengan nada biasa tak menutup-nutupi ketika aku secara hati-hati bertanya.

“Kau tahu ada rumor soal kau….” aku sengaja berhenti sejenak, dulu aku tidak pernah ikut pusing soal gosip murahan apapun di kantor, namun kali ini ia sekedar ingin tahu.

“Aku tidak suka wanita?” lalu Inoo terkekeh, tertawa renyah membuatku sedikit terpana melihatnya, “Aku bukannya tidak suka mereka. Lihat…” Inoo menunjuk ke sekumpulan wanita berbaju minim yang sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dan minum alkohol, “Mereka mengagumkan, cantik, berbeda… aku sangat menghargai mereka, hanya saja… aku tidak bisa melihat mereka secara romatis,” jelasnya.

Dia mengakuinya, dan bahkan ia tidak malu sama sekali.

======================

Sudah lima bulan sejak Inoo meninggalkan aku. Ketika menatap bar ini lagi, rasanya sangat asing dan aku tak ingin kembali ke dalam tanpa Inoo disisiku. Tapi hari ini aku ingin kesini, aku ingin sekedar menyapa orang-orang di dalam.

Aku masuk ke bar ketika tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Yabu-san? Yabu-san, kan?”

Aku menoleh dan mendapati temanku, bukan, teman Inoo yang kini juga menjadi temanku mengangguk sekilas. Namanya Daiki. Aku bertemu dengannya beberapa bulan sejak aku dan Inoo lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Daiki salah seorang teman Inoo yang menyadari perasaan Inoo padaku, bahkan lebih cepat daripada aku menyadarinya.

“Apa kabar?” ujarnya ramah ketika aku kini duduk di sebelahnya.

“Maa.. maa…” jawabku canggung.

Daiki memandang minuman yang aku pesan, lalu tersenyum simpul, “Minuman itu… Kei-chan paling suka, kan?”

When our friends talk about you all that it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
And it all just sound like uh, uh, uh

Lalu kenapa nama itu terasa…..

Terlalu sulit untuk aku ucapkan, namun ketika aku mendengarnya lagi…..

Aku ingin bertemu lagi denganmu, Kei-chan…

==================

“Aku gak mau minuman itu…” ucapku gusar karena Inoo menukar minuman kami. Ini sudah kelima kalinya aku duduk di tempat yang sama, di bar kesukaannya.

“Coba dulu… baru boleh komentar!” katanya, masih tersenyum walaupun aku sudah gusar setengah mati.

“Inoo-kun…”

“Yabu-kun….”

DA*N! What’s with those smile already bothered me for…. these couples week.

Akhirnya aku meminumnya juga setelah Inoo meminum habis apa yang aku pesan sebelumnya.

“Bagaimana?” tanyanya, kali ini dengan mata berbinar. Dear Mr. Inoo Kei, can you stop looking at me with those puppy eyes. I surely want to squeeze you right here, right now.

Tanpa tersenyum sama sekali aku hanya mengangguk, berkata bahwa minuman itu lumayan juga.

“Tuh kan!” ucapnya penuh kemenangan.

“Kei-chan… yamete moraimasu?” ucapku pura-pura gusar.

“Berhenti apa?” tanyanya dengan wajah polos dan tanpa berkedip menatapku, mengisyaratkan ia benar-benar tidak mengerti.

“Sudahlah, tidak penting!” ungkapku kemudian, terlalu malu jika harus mengungkapkan bahwa hatiku berdesir saat Inoo Kei menatap langsung ke dalam mataku seperti ini.

Inoo hanya terkekeh sesaat sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya di bahuku, “Yabu-kun… aku suka loh pada Yabu-kun…”

Dan sekarang aku malah megap-megap tak bisa menjawab pernyataan cinta Inoo yang terlalu dadakan, tanpa perencanaan sehingga membuatku sangat shock.

“Kau tak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu Yabu-kun…”

Hmmm too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she’s dancing with another man.

Lalu malam itu datang. Malam itu kami minum-minum untuk merayakan beberapa pegawai yang baru saja bekerja di kantor kami. Seminggu setelah pernyataan cinta dari Inoo Kei. Selama seminggu pula aku hampir tidak bisa menatap mata Inoo. Dia benar-benar membuatku salah tingkah, namun Inoo sendiri bersikap solah-olah tidak ada yang terjadi.

Kami tidak begitu mabuk malam itu, aku masih mengingat jelas bagaimana Inoo berjalan di sebelahku sambil menceritakan bahwa taman yang kami lewati adalah tempat ia bermain waktu kecil. Aku juga ingat Inoo mengatakan soal kebiasaannya lari pagi di sekitar apartemennya.

“Sudah sampai?” tanyaku ketika Inoo tiba-tiba saja berhenti di sebuah bangunan apartemen tua.

Inoo berbalik menatapku dan mengangguk, “Kau ini seperti pacar saja mengantarkan aku sampai depan apartemen. Atau kau berencana untuk bermalam di apartemenku?”

Deg!

Inoo Kei selalu berhasil membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Ia pintar sekali membungkamku dengan celotehannya.

“Baka… aku pikir kau mabuk, itu saja,” aku merasakan jeda waktu saat Inoo terkikik pelan dan membuatku tambah salah tingkah, “Aku pulang dulu!” ucapku cepat.

Not so fast, Yabu-kun,” lalu detik selanjutnya bibir Inoo sudah berada di bibirku.

=======================

“Harus ya weekend gini kita masih kerja?” tanya Inoo yang kini bergelung di atas kasurku. Entah sejak kapan Inoo menjadi penghuni tetap apartemenku. Ya, sejak peristiwa ciuman itu, secara tidak resmi Inoo adalah kekasihku. Aku tidak pernah mengungkapkannya secara langsung walaupun Inoo sering sekali mengungkapkan perasaannya.

“Deadline nya hari selasa, Kei…” dan sejak saat itu pula Inoo berhenti memanggilku Yabu dan aku berhenti memanggilnya Inoo.

“Berarti sabtu harusnya kita gak kerja, kan? Iya kan?” ungkapnya masih saja keras kepala.

“Neee.. Kou… nonton film dulu, ya? Satu saja… setelah itu kita kerja lagi. Bagaimana?”

Aku menggeleng, “Bukannya rancanganmu itu masih harus ada yang diperbaiki?”

“Membosankan,” ia kembali bergelung, “Hanya nonton, lalu makan siang,”

“Baiklah,” aku menutup laptopku dan menghampirinya. Inoo tidak akan berhenti merayuku soal menonton film sampai keinginannya terpenuhi, “Ayo!”

“Kou-chan saikou!!” Inoo loncat ke pelukanku hampir-hampir membuatku terjatuh.

Aku selalu bersikap seolah-olah kami hanyalah teman. Aku tidak suka memamerkan kemesraanku dengan Inoo di tempat publik. Selain kenyataan bahwa kami memang tidak seperti pasangan biasanya, aku tidak nyaman jika harus berpegangan tangan atau melakukan aktifitas pasangan di area publik. Namun sepertinya Inoo berpendapat lain.

“Kei… tidak usah pegangan begini,” bisikku ketika sekelompok wanita menatap kami, mungkin bergosip.

“Kenapa?”

Dear God, kenapa Inoo sangat pintar di bidang akademis tapi tidak secara sosial? Apa aku harus menjelaskannya secara panjang lebar sekarang?

“Memangnya ada yang salah, ya?” matanya mengerjap-ngerjap membuatku gemas. Aku memutuskan untuk tidak meresponnya dan melipat tanganku di dada sehingga Inoo tidak bisa berpegangan lagi padaku.

“Ya sudah aku beli tiket dulu,” ungkap Inoo kemudian.

“Sekarang sudah boleh pegangan?” beberapa menit yang lalu kami sudah berada di dalam bioskop, keadaan ruangan pun sudah gelap sepenuhnya.

“Hmm?” tapi aku tak perlu menjawab karena Inoo memang biasanya tidak pernah menunggu jawabanku seperti peristiwa ia menciumku, kini jari kami bertautan dan Inoo tidak mau melepaskannya hingga film selesai.

“Kou… besok bisa antar aku ke rumah orang tuaku?”

Hah? Aku tidak salah dengar? Ke rumah orang tuanya? Mengajakku?

“Hah? Uhmmm.. memangnya ada apa?” tanyaku tanpa menoleh dari layar laptopku.

Setelah menonton dan makan Inoo akhirnya setuju untuk langsung pulang.

“Besok ulang tahun pernikahan orang tuaku,”

“Tidak bisa pergi sendiri? Aku benar-benar harus menyelesaikan ini,” jawabku.

“Oh… baiklah,”

========================

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong man like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes

“Hey! Berkas yang kemarin sudah aku selesaikan!” seru Yuya saat berpapasan denganku, aku pun mengangguk.

Aku berjalan melewati kubikel milik Inoo Kei yang kini sudah kosong tanpa pemilik. Beberapa hari lagi akan terisi oleh orang lain. Inoo Kei sudah tidak lagi bekerja disini, sudah tidak lagi mengangguku saat istirahat atau mengirimkan teks yang membuatku salah tingkah sepanjang waktu bekerja.

Masih teringat jelas olehku, bulan itu setelah perayaan lima bulan hubunganku dengan Inoo. Seorang gadis muncul dan datang ke kantor dan seperti biasa aku lah yang ditugasi untuk “mengawasinya” saat masa percobaan. Otomatis waktuku di kantor kuhabiskan bersama Mizuki, nama gadis itu.

“Mizuki! Ini harus kau fotokopi!” seruku. Kebetulan kubikel Mizuki tepat berada di sebelah kubikel Inoo.

Mizuki berdiri dan berlari ke arahku, sepertinya Mizuki adalah gadis yang ceroboh. Beberapa kali ia hampir terjatuh dengan sepatu yang haknya tidak lebih dari lima senti. Dan hari itu pun Mizuki hampir-hampir jatuh sehingga aku terpaksa mencegahnya untuk jatuh. Baru kali ini aku melihat pandangan tak suka dari seorang Inoo Kei.

“Suruh dia tidak dekat-dekat denganmu lagi dong, Kou!”

Lagi-lagi keluhan itu terdengar di malam hari. Tepat sudah dua bulan Mizuki bekerja tapi masih saja ceroboh, masih saja selalu mengikuti kemanapun aku pergi.

“Dia masih sangat ceroboh. Bagaimana jika kerjaannya tidak beres?” ungkapku sambil menatap Inoo yang kini tidur di pangkuanku.

“Mou… kalau begitu bilang padanya kau sudah punya pacar!” tuntutnya lagi.

“Buat apa? Memangnya dia suka padaku?”

“Dia suka padamu, Kou!” tiba-tiba saja Inoo duduk, “Dia suka padamu! Masa gak ngerasa sih?”

“Tapi aku kan gak suka sama dia. Sudahlah! Kenapa kita harus jadi berantem lagi gara-gara Mizuki?!” seruku sambil beranjak dari sofa dan mengambil mantelku.

Lama-lama aku kesal juga pada Inoo yang selalu saja cemburu, ia selalu saja membuatku tak nyaman dengan menerorku soal pengakuan bahwa dia adalah pacarku.

Terlebih sebulan terakhir ini.

“Kenapa melarikan diri lagi?!” seru Inoo ketika aku menutup pintu dan berjalan ke bar langgananku.

Dan malam itu pun tiba. Malam itu kami diajak minum oleh teman sekantor. Merayakan keberhasilan proyek yang lumayan besar. Kami mabuk-mabukan, karaoke sampai suara hampir habis. Ketika itulah Mizuki memintaku untuk mengantarnya mencari taksi. Aku tidak berfikir panjang dan hanya menuruti kemauan Mizuki saat itu.

“Yabu-san, ikut pulang denganku, yuk!” ucap Mizuki yang tentu saja sama mabuknya denganku saat itu.

“Aku tidak bisa,” tolakku namun tidak mengelak saat tangan Mizuki melingkar di leherku dan detik berikutnya, Mizuki menciumku.

“Senang-senang dengan Mizuki?”

Aku kaget ketika aku pulang setelah mengantar Mizuki malam itu, Inoo sudah berada di apartemen.

“Jangan mulai, Kei. Aku pusing sekali harus tidur sekarang juga,” aku mengelak dan langsung merebahkan diri di kasur.

“Setelah ciuman, masuk taksi lalu kalian kemana? Love Hotel?” suara Inoo masih sedingin es. Bagaimana dia bisa tahu Mizuki menciumku?

“Pertama, Mizuki yang menciumku tapi aku tidak membalasnya!” kepalaku yang sudah pusing karena alkohol ini makin pusing karena Inoo, “Aku tidak mau membicarakan hal ini lagi!” seruku menutupi diri dengan selimut.

“Baiklah. Kita tidak usah bicara lagi saja,” pelan, namun aku bisa mendengar desahan panjang Inoo yang bergerak menjauhi tempat tidur.

Itulah terakhir kalinya Inoo Kei berada di apartemenku.

Setelah kejadian malam itu, Inoo masih bersikap biasa di kantor, namun lebih dingin dari biasanya. Inoo sudah kembali pindah ke apartemen pribadinya dan secara tidak langsung memutuskan hubungannya denganku.

Aku sangat ingin bicara dengannya, meluruskan semua ini. Inoo adalah bagian penting dalam hidupku dan sejujurnya aku tidak ingin kehilangan dirinya.

“Ambil kopi juga?” tanyaku ketika melihat Inoo menuangkan secangkir kopi di pantry.

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya dingin.

“Dengar Kei… semuanya salah paham, jangan ngambek terus dong,”

Inoo membuang nafas berat, “Kau tahu, aku sangat mencintaimu,” kuharap saat itu Inoo berhenti sampai disitu dan aku akan membawanya kembali ke dalam hidupku, “Tapi… kita tidak bisa begini terus. Kau tidak ingin hubungan kita diketahui oleh siapapun, tapi aku ingin kita mengumumkannya pada dunia, kita tidak bisa bersama…”

“Tapi Kei… kau bisa bayangkan apa yang akan keluarga kita katakan jika…”

“Orang tuaku tahu akan diriku dan mereka menerimanya dengan baik. Tapi masalahnya disini, kau sendiri yang tidak bisa menerima keadaanmu, gomen…” saat itulah Inoo Kei berbalik meninggalkanku dan tidak pernah menerimaku kembali dalam hidupnya.

Lebih buruk lagi. Aku tidak mampu memperjuangkan dirinya.

Dua bulan setelahnya Inoo mengumumkan pengunduran dirinya. Alasannya karena dirinya melanjutkan studi masternya.

==========================

Awal bulan Oktober dan aku masih belum bisa melupakan Inoo Kei. Beberapa kali aku berniat meneleponnya namun disaat bersamaan aku tidak bisa, kalah dengan gengsiku sendiri.

Aku berjalan melewati pertokoan yang dulu sempat kukunjungi bersama Inoo. Dia cerewet sekali soal penampilanku ke kantor dan beberapa kali mengajakku berbelanja pakaian.

“Yabu-kun!”

Suara itu.

Apa aku berhalusinasi lagi? Bodoh sekali selalu mendengar suara Inoo di kepalaku seperti ini. Lama-lama aku bisa gila.

“Yabu-kun, kan?”

Kini aku menoleh.

Inoo Kei berdiri di hadapanku dengan wajah sumringah. Penampilannya benar-benar mahasiswa, berbeda dari yang sering Yabu lihat.

Tapi ada satu perbedaan yang mencolok. Tangan Inoo Kei bertautan dengan seorang pria yang sepertinya seumuran dengannya.

“Ini, Yaotome Hikaru….” kata Inoo.

Aku masih sedikit shock namun menyambut uluran tangan pemuda itu.

“Yaotome desu. Pacarnya Kei,”

Although it hurts I’ll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I’m probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he buys you flowers, I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done when I was your man!
Do all the things I should have done when I was your man!

==============================
OWARIIIIII ^^
COMMENTS ARE LOVE…
I APRRECIATE ANY KIND OF COMMENTS… THANK YOU SO MUCH

Save

Advertisements

One thought on “[OneShot/SA] When I Was Your Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s