[Multichapter] Story Of Life (chapter 2)

Title: Story of Life
Type: Chapter  2
Genre: Romance, Family, Friendship
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Soundtrack: Perfect Life (Hey Say JUMP) *bisa jadi(?)*
Fandom: JE

Starring: Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Chinen Yuri (HSJ) Inoo Kei (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Tegoshi Yuya (NEWS), Daitoh Shunsuke (Aktor), Suzuki Saifu (OC), Hideyoshi Sora (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakamoto Hitomi (OC), Sato Miharu (OC) dan selentingan orang lewat :p

Desclaimer: hay minna~ kali ini aku bakal ngebuat cerita yg bercampur-campur ceritanya, siapapun nama yang aku pake aku sudah minta izin semua…. Dan di jamin mereka pinjemin :p gatau bakal bagus apa ngga, liat aja yah douzo~

*****

 STORY OF LIFE

Chapter 2

“Maaf, tapi saya tidak bisa mengizinkan kalian masuk ke tempat ini”

“Aku mohon, di dalam sana ada kakak ku.”

“Sekali lagi maafkan saya” dengan perasaan kecewa, Chinen pun hanya bisa berjalan menjauh dari pintu masuk bar, di mana tempat itu banyak orang-orang mabuk berkumpul di sana. Miki yang melihat raut kecewa Chinen hanya bisa mengelus punggung senpai nya.

“Sudahlah senpai, nanti kalau dia pulang, bisa di tanya dengan baik-baik kan?” ucap Miki mencoba menenangkan. Setelah menerima e-mail dari Chinen untuk datang ke sebuah bar akhirnya Miki pun menurut. Kata Chinen, ia ingin melihat kakak nya yang selama ini selalu diam-diam pergi tengah malam setelah Chinen sedang tertidur, malam ini Chinen tak sengaja memergoki kakak nya itu masuk ke dalam bar. Entah apa yang di lakukan kakak nya itu. Maka dari itu Chinen ingin sekali melihatnya. Tetapi hasil nya malah mereka dilarang masuk ke sana karena masih di bawah umur.

“Tapi,, aku khawatir Miki-chan…”

“Lebih mengkhawatirkan lagi kalau kita terus-terusan di sini” kata Miki sambil bergidik karena malam itu sangat dingin dan ia lupa memakai jaket karena terburu-buru. Melihat itu, Chinen pun hanya bisa tersenyum memperhatikan Miki lalu melepas jaketnya.

“Eh?” Miki kaget karena tiba-tiba saja Chinen menautkan jaketnya di tubuh gadis itu.

“Nanti kau sakit, terima kasih sudah mau menemani ku. Dan maaf kalau aku merepotkan” ucap Chinen pelan rasa sesal kini ada di benaknya.

Miki mempererat jaket yang di pakaikan Chinen tadi “Daijoubu, hmm aku mau pulang!”

“Baiklah, aku antar kau pulang” mereka pun berjalan kearah parkiran untuk bergegas pulang.

*****

Saifu dan Miharu sudah berkeliling di sekitar gedung apartement tempat mereka tinggal, tetapi malah tidak ada hasil, mereka tidak menemukan Miki.

“Dasar anak nakal” gumam Saifu kesal namun matanya masih berkeliaran ke mana-mana, siapa tahu saja Miki tiba-tiba ada di hadapan mereka karena beralasan membeli cemilan atau apa, tapi tetap saja sosok adiknya itu tidak terlihat.

Miharu sudah mencoba berkali-kali menghubungi handphone Miki, tapi tidak aktif. “kemana si dia?”

Sedang pusing-pusingnya memikirkan Miki di lobby apartement itu, tiba-tiba saja terlihat di luar sana ada seorang pria sedang menggendong seorang gadis yang memakai jaket tebal, sang gadis terlihat begitu lelap tidur di gendongan pria itu. Saifu tanpa sengaja memperhatikannya, sampai pria itu benar-benar masuk ke dalam loby Saifu masih memperhatikannya.

“Miki…” tanpa aba-aba lagi Saifu langsung mengehampiri pria itu.

“Berhenti!”

“Ada apa nona?” tanya nya sambil membenarkan gendongannya.

“Itu siapa yang kamu gendong?” tanya Miharu, melanjutkan.

“Teman ku, namanya Kanagawa Miki hmmm apa kalian kenal keluarga nya?” tanya pria itu dengan tampang polos, ternyata pria itu adalah Chinen.

“Hey, dia adikku!!” seru Saifu, lalu ia pun menyuruh Chinen untuk mengantarkan Miki sampai ke kamarnya.

——————————

Paginya Saifu sudah bangun terlebih dahulu. Sebenarnya ia jarang sekali bangun pagi, tapi karena Miharu pamit pulang pagi-pagi sekali, Saifu pun tidak bisa tertidur lagi karena kantuknya hilang.

Sekarag, ia hanya bisa duduk di sofa sambil membaca tugas-tugas yang di berikan dosennya sebelum ia mengerjakan tugas itu.

“Ohayou….”

“Semalam kemana?” tanya Saifu to the point masih membaca buku tebalnya itu.

Mencoba tenang, Miki pun duduk di samping Saifu. “A-aku…”

“Bersama seorang pria, ke sebuah bar dengan alasan ingin melihat kakak nya yang diam-diam selalu datang ke bar itu? huh alasan yang cukup masuk akal” cibir Saifu sinis, bukan berarti ia benci dengan Miki, tapi sikapnya itu karena ia sayang dengan adiknya.

“Gomen..” ucap Miki pelan, ia menunduk.

“Maaf? Itu tidak cukup Miki sayang… kau harus ku hukum” kata Saifu serius, mendengar itu Miki pun langsung melihat kakak nya dengan wajah bingung.

“Nani?”

“Jauhi pria yang mengajak mu pergi ke bar semalam”

“De-demo neechan” Saifu menutup buku tebalnya itu lalu menatap kearah Miki “Tidak ada alasan, atau kamu pulang ke Osaka?” pertanyaan Saifu membuat Miki terpukul, menjauh dari senpaiya? Itu sangat sulit untuknya. Tapi Miki juga tidak ingin pulang ke Osaka.

*****

“Minggu…” gumam Hitomi lesu. Lalu tanpa sengaja ia mengehela nafas. Sepertinya gadis itu sedang banyak masalah.

“Hoy!!” Yamada menepuk punggung Hitomi, sehingga gadis itu agak sedikit tersedak.

“Uhuk!! Dasar, untung aku lagi nggak minum”

“Lagi pula kamu dari tadi bilang ‘Minggu..’ lalu mengehela nafas, come on Saka-chan… ini masih pagi..” hibur Yamada kepada teman sepekerjanya itu, pengunjung perpustakaan hari ini sedang sepi, semua buku-buku sudah mereka bereskan. Mungkin karena masih pagi hari, jadi belum begitu banyak pegunjung yang beradatangan

Namun itu membuat Hitomi bosan. “Minggu ini, Minggu ini aku di ajak seseorang makan cupcake” ucap Hitomi menyampaikan perasaannya kepada Yamada, ia lalu melirik pria manis namun sedikit tampan itu dengan ekspresi malas, ia tahu kalau Yamada sedang menahan tawa saat itu.

“Dare? Onna? Otoko? (siapa? Perempuan? Laki-laki?)” tanya Yamada sedikit tertawa.

“Otoko..” jawabnya. Mendengar itu Yamada pun akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Hontou?? Akhirnya kamu menyukai seseorang juga, ahahahaa aku senang mendengarnya Saka-chan” masih dengan raut kekesalan, Hitomi berdiri dari tempat duduk nya, lalu mengambil sebuah buku fisika untuk menghilangkan kekesalannya itu.

“Baka!” umpat Hitomi.

“Nani? Kau mengatakan apa tadi?”

“Nande monai” jawab Hitomi singkat, lalu ia mulai membaca buku itu, ternyata ia salah, Hitomi malah membaca buku persoalan cinta. Hah? Sialan! Umpatnya dalam hati.

Unrequited Love

Melihat judul itu, Hitomi pun mulai tertarik untuk membacanya. Karena ia sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan saat ini.

‘Cinta itu tak harus memiliki’

 

‘Jika cinta mu tak tercapai juga, cobalah mencari yang lain’

 

‘Masih ada harapan untuk melupakannya, dan mencoba dengan yang baru’

 

‘Say asal dia bahagia, akupun akan bahagia walau dia bukan millikku’

 

“Hah? Kalau itu sih terlalu bodoh” gumam Hitomi setelah membaca kata-kata yang terakhir, terlalu munafik menurut nya perkataan itu.

“Ooh, sedang galau memikirkan masalah cinta….” Gumam Yamada yang ternyata berada di belakang Hitomi sedari tadi, ikut mambaca apa yang gadis itu baca.

Dengan segera Hitomi menutup buku itu. “Bukan urusan mu”

“Hontou?”

“Aaaa pergi-pergi sana, nanti kalau ada yang lihat gimana?”

“Hahaha…”

“Sakamoto-chan…” Daito yang saat itu baru saja masuk ke dalam perpustakaan, tanpa segaja melihat Hitomi yang sedang berdekatan dengan seorang pria yang tak ia kenal, terlihat begitu asik mereka bercandanya membuat Daito cemburu.

“Sakamoto-chan” baru sadar ada yang memanggil, Yamada pun segera menjauh dari Hitomi.

“Shunsuke-san?” kaget Hitomi.

*****

“Tadaima…” Inoo masuk ke dalam apartementnya, hari ini dia sedang tidak ada pekerjaan, jadi untuk hari ini Inoo pulang lebih cepat dari sebelumnya.

Karena merasa lelah, Inoo pun langsung duduk di sofa, lalu mengendorkan dasinya. “hufft…” Inoo menengadahkan kepalanya untuk menghilangkan pusing.

Miharu tahu, kalau suaminya itu sudah pulang tapi ia tidak mengatakan apapun, menyambut Inoo pulangpun tidak. Ia sudah kesal kepada Inoo karena pria itu hanya mementingkan pekerjaan dari pada istrinya sendiri. “Miicchan?” akhirnya Miharu mendengar kalau Inoo memanggil dirinya.

Miharu memang sangat merindukan Inoo, bohong kalau tidak tapi karena kekesalan itu, perasaan rindupun tertutupi. “ Tumben kau sudah pulang?”

Miharu menghampiri Inoo yang sedang duduk di sofa itu, lalu membantu Inoo melepaskan sepatunya. “Kenapa? Bukankah seharusnya kau senang?” tanya Inoo.

“Tidak”

“Maksud mu?”

“Walaupun kau pulang cepat. Kau pasti nanti nya tidur, lalu bangun untuk makan, ke ruang kerja dan aku masih kau abaikan” ujar Miharu yang tahu betul kebiasaan Inoo ketika pulang cepat masih saja dirinya itu di abaikan. “Aku tidak yakin kalau di luar sana kau benar-benar bekerja” tambahnya lagi.

“Kau bicara apa? Aku benar-benar bekerja, ini semua untuk mu!!”

“Untukku? Atau untuk wanita lain?” Miharu mulai tak tahan, sebenarnya ia khawatir kalau Inoo mempunyai pengganti dirinya di luar sana.

Mendengar itu, Inoo tak tahan, ia pun menarik Miharu yang sedang membukakan sepatunya untuk menghadap dirinya. “Aku tidak pernah seperti itu!! Sato Miharu!!”

“Oh ya? Lalu kenapa selalu pulang tengah malam? Bukankah itu karena kau meladeni wanita-wanita di luar sana?!”

Inoo berdiri dan tangannya pun berhasil mendaratkan sebuah tamparan di pipi Miharu.

“Lihat? Kau bahkan bisa menyakiti ku!!”

“Kenapa kamu sangat kekanak-kanakkan? Aku tidak pernah berfikir seperti itu sebelumnya, asal kau tahu itu. dan aku bekerja agar kamu bahagia”

“Bahagia? Aku tidak butuh uang, harta, aku tidak butuh kedudukan mu yang tinggi, tapi aku hanya butuh..” Miharu mulai tak tahan untuk menahan tangisnya, terlalu berat baginya untuk jauh-jauh dari Inoo.

“Butuh?”

“Aku hanya butuh kamu selalu di samping ku!! Tidak perduli apapun itu” Inoo terhenyak mendengar kata-kata Miharu barusan, ia baru sadar kalau waktunya bersama Miharu akhir-akhir ini sangat sedikit. Tak tahan melihat istrinya menangis, Inoo pun memeluk tubuh Miharu erat.

“Kita ke kamar ya, maafkan aku, tapi izinkan aku untuk pulang malam, satu minggu lagi saja..”

“Untuk apa?” tanya Miharu yang mulai manja walau masih dalam keadaan menangis.

“Membahagiakan mu, ini lebih dari uang ataupun harta, tapi ini untuk kita” seakan tak perduli, Miharu hanya mengangguk pasrah di pelukan Inoo, yang ia inginkan sekarang adalah di manjakan oleh suaminya itu, ia sangat merindukannya.

*****

Chinen kembali datang ke toko cupcake, ia kembali mendapatkan titipan dari kakaknya, tapi kali ini dia tidak di suruh, lebih tepatnya ia yang mengajukan diri untuk datang ke toko cupcake.

“Cake capucino nya dua” pesan Chinen kepada penjaga kasir, namun kali ini bukan Miki yang berjaga. Sadar akan hal itu, mata Chinen melihat seisi ruangan toko cupcake itu, dan sosok Miki tidak ada.

“Maaf, pelayan yang namanya Miki kemana ya?” tanya Chinen.

“Hari ini Miki sedang izin, karena kurang enak badan katanya”

“Sou ka…” aku belum bertemu sama sekali dengannya hari ini. Tambah Chinen di dalam hati.

“Daiki-nii” panggil Chinen kepada kakaknya itu yang sedang bersandar di cup sebuah mobil sport milik mereka berdua.

Daiki mengambil plastik yang berisi cake capucino dari tangan Chinen “Arigatou, kamu memang adik sepupu ku yang sangat baik” ujar Daiki sambil tersenyum.

“Tapi…itu untuk siapa?”

“Untuk calon pacar ku, sudah yaa. Kamu tunggu saja di mobil” setelah itu Daiki pun berlalu dan menuju ke dalam sebuah apartement, dalam diam Chinen memperhatikan tempat apartement yang ada di hadapannya.

“Ooh, jadi calon pacar Daiki-nii satu apartement dengan Miki…” gumamnya mengerti. “Kira-kira siapa ya?”

******

Daiki kembali melangkahkan kaki nya di atas karpet apartement itu, mencari kamar 213 untuk menemukan seseorang. Hari ini, ia akan menyampaikan perasaannya terhadap Saifu.

Pemuda itu menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya kembali “yosh!!”

TENG TONG.

Tak lama kemudian, pintu kamar itu di buka oleh Saifu, dengan keadaan yang sedikit berantakan Saifu masih menunduk membuka pintunya, mungkin gadis itu sedang belajar.

“Siapa?” sesaat Saifu melihat siapa yang membunyikan bel kamarnya cepat-cepat Saifu menutup pintu, namun Daiki menahan pintu itu.

“Fuu-chan ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu marah?” heran Daiki.

“Pergi!! Aku tidak mau menerima tamu yang pembohong!” gadis itu masih berusaha untuk menutup pintunya.

“Aku bohong apa?”

“Pokoknya pergi!!!” namun tetap, Saifu adalah perempuan jadi tenaganya pun kalah dengan Daiki. Alhasil pemuda itu bisa masuk ke dalam ruangan Saifu. Daiki melihat Saifu menangis, ia ingin menghapus air mata gadis itu, tapi tangannya keburu di hempaskan oleh Saifu.

“Jelaskan pada ku, apa yang sudah aku sembunyikan?” tak ada jawaban, Saifu masih saja menangis.

“Suzuki Saifu!!” kali ini Daiki mengguncang pundak Saifu, tapi lagi-lagi Saifu menepisnya.

“Kau..” gadis itu mulai bersuara, Daiki diam. Menunggu kelanjutan dari kata-kata Saifu “bekerja di bar? Benarkan?”

DEG!

Bagaikan di pukul dengan palu, dada Daiki sangat sakit mendengarkan itu, dari mana dia tahu? apakah ada yang memberitahu akan hal Daiki bekerja di bar?

“Kau..tahu dari mana?” tanya Daiki hati-hati.

“Cih, tak perlu kau tahu dari mana, yang penting sekarang ini aku sudah tahu bagaimana kamu sebenarnya, pembohong. Kau pembohong!!” sambil berkata seperti itu, Saifu mendorong Daiki untuk keluar dari kamar apartement nya. Tapi entah kenapa Daiki tak bisa menolak.

“Pergi kau!!”

“Tapi kamu tahu itu dari mana Fuu-chan??”

“Pergi!!”

BLAM

Pintu itu pun tertutup dengan kuat karena Saifu membantingnya. Kesal, pemuda itu pun hanya bisa menendang pintu yang ada di depannya, lalu dengan sendirinya ia menangis. Menangis karena betapa bodoh dirinya sudah tidak hati-hati untuk menjaga diri agar orang-orang tidak tahu kalau ia bekerja di tempat keji itu.

“Baka!! Daiki no baka!!” lirihnya sambil menjenggut rambutnya sendiri.

*****

Pagi itu, seperti biasa sekolah mulai ramai karena murid-murid yang baru saja datang dan cepat-cepat bergegas ke dalam kelasnya, tidak mau sampai-sampai mereka nanti terlambat.

Sedangkan Sora yang berada di ruang guru masih sibuk dengan buku-buku nya, dan melihat jadwal di kelas mana nanti ia akan mengajar.

“Ohayou, Sora sensei” sapa Yuya, yang memang selalu mencoba untuk akrab dengan tunangannya itu, walau ia tahu kalau Sora tidak pernah menganggap pertungan itu ada.

“Oha. Yuya sensei” balas Sora tersenyum. Yuya terkejut, karena baru kali ini Sora berbaik hati dengannya. Bahkan baru kali ini juga Sora memanggil nama kecilnya.

“Haha…tumben sekali”

“Salah? Lalu aku harus bagaimana lagi?” tanya Sora bingung, ia segaja bersikap seperti itu. Karena sedang ada Tegoshi di antara mereka. Sora ingin menjauhi Tegoshi agar pemuda itu tidak menyukainya lagi.

“Tidak..tidak.. tapi aku senang mendengarnya, Sora-chan”

Di dalam hati Tegoshi, sebenarnya sangat sakit melihat adegan itu, tapi ia mencoba sabar. Ia tetap ingin menjaga wibawanya sebagai guru selama masih di dalam gedung sekolah. “Ehem, tolong bunyikan bel ini sudah jam 08.30” ujar Tegoshi cuek sambil melihat jam tangannya.

————-

“Sensei…” panggil seorang murid, sepertinya ia masih kelas dua. Dengan langkah kecilnya murid itu berlari kearah Sora dan Tegoshi yang kebetulan akan mengajar di ruang multimedia.

“Nande Yuka-chan?” tanya Sora kepada murid yang bernama Yuka itu.

“Ini…” tangannya terulur, memberikan sebuah kotak kecil, terlihat seperti kado. Tapi murid itu memberikannya kepada Sora dan Tegoshi.

“Untuk sensei Sora dan sensei Tegoshi, siapa tahu bisa kalian pakai. Ini oleh-oleh dari ibu ku yang kemarin bekerja ke Korea, katanya itu cocok untuk kalian, jadi ibu ku memberikan itu.” celotehnya sambil tersenyum malu.

Sora dan Tegoshi sesaat saling berpandangan. “Ini apa isinya?” tanya Tegoshi.

“Entah, ibu memberikannya ketika sudah di bungkus dengan kado”

“Hmm souka, sampaikan kepada ibu mu terima kasih untuk oleh-olehnya ya, kami sangat senang” ucap Sora kepada Yuka sambil tersenyum.

“Hai!! Doitashimashite” lalu Yuka meniggalkan Sora dan Tegoshi, keadaan hening sebentar karena mereka berdua masih diam dalam pikiran masing-masing.

“Kalau begitu, ayo kita ke ruang multimedia?” ajak Tegoshi, masih mencoba profesional sebagai guru.

“H-hai” jujur saja sebenarnya Sora masih sangat menyukai Tegoshi. Tapi perjanjiannya dengan keluarga nya itu yang membuat Sora tidak bisa menerima Tegoshi.

Yuya yang tanpa segaja melihat Sora dan Tegoshi di beri kado oleh seorang murid, hanya bisa tersenyum tipis. “Aku tahu perasaan mu, Sora-chan” gumamnya.

*****

Hari ini, Chinen masih bisa melihat Miki di dalam ruang multimedia, karena mereka memang sama-sama mengikuti ekskul menyanyi.

Tapi hari ini berbeda, Miki seperti menghindar darinya, tidak ingin mendekat dengannya. Berbeda dari Miki yang ia kenal sebelum hari ini.

“Chinen!” panggil sensei Tegoshi, karena melihat anak muridnya itu tidak memperhatikannya dari tadi. “Ngapain kamu melihat kearah Miki terus?” tanya sensei Tegoshi sukses membuat seisi ruangan di multimedia itu tertawa.

“Ha? Go-gomen sensei” jawabnya gelagapan, salah tingkah karena di lihat oleh Miki.

“Yasudah, jangan di ulangi lagi. Nah anak-anak sebelum saya meyuruh kalian bernyanyi kalian harus mengenal not-notnya dulu…” sembari sensei di depan sana menerangkan, Chinen kembali melihat kearah Miki, tapi yang ia lihat gadis itu kini sedang memperhatikan materi dari guru yang ada di depan.

Merasa sebal Chinen hanya bisa menggerutu kecil, lalu mencoba berkonsentrasi juga memperhatikan gurunya itu. Takut nanti di marahi lagi.

*****

“Selamat datang di cupcake house” sapa sang waitress kepada Daito dan Hitomi, setelah kemarin ada insiden kecil di dalam perpustakaan, karena Hitomi menolak untuk di ajak pergi kemanapun oleh Daito.

Tapi hari ini Hitomi terpaksa menurut kepada Daito karena pria itu terus menagihnya, agar Hitomi mau jalan-jalan dengannya.

“Cake chocolate nya dua ya” pesan Daito, setelah mereka berdua mendapatkan bangku yang cocok.

Hitomi melihat-lihat keadaan di dalam toko cupcake itu, sangat menyejukkan. Banyak sekali gambar-gambar lucu yang ada di dinding sekitar ruangan itu. Membuat Hitomi tersenyum sendiri melihatnya, aksennya begitu melankolis namun tak begitu membuat suasana di dalam itu sangat romantis.

Bila bisa di gambarkan, tempat ini bisa untuk pengujung segala umur, tidak hanya sepasang kekasih, tetapi bagi keluarga yang masih mempunyai anak-anak kecil pun bisa menikmati suasana tenang nan damai di dalam toko cupcake ini.

“Bagaimana?” tanya Daito, ia sedari tadi memperhatikan tingkah Hitomi yang melihat-lihat di sekitarnya.

“Tempatnya enak sekali, hehe…maaf ya sudah menolak ajakan mu kemarin” kata Hitomi karena merasa tak enak hati, pemuda itu hanya sedikit tertawa.

“Daijoubu, yang penting sekarang kita bisa makan bersama”

“Hmm memang untuk apa kau mengajak ku makan bersama?” jujur saja Hitomi bingung kenapa pemuda yang bernama Daito di hadapannya ini ingin sekali mendekatinya, padahal mereka baru kenal.

“Tidak ada, aku hanya ingin dekat dengan mu” jawabnya masih memasang senyuman di wajah tampannya itu.

“Lalu kenapa harus aku?”

“Karena kepribadian mu yang membuat ku tertarik”

“Tertarik?”

“Ya, aku ingin tahu bagaimana kamu sebenarnya, kau begitu membuat ku penasaran, Hitomi-chan” tepat saat Daito menyebut nama kecilnya. Wajah Hitomi memerah, karena ia malu di panggil seperti itu.

“Cake chocolate nya dua” suara itu membuat Hitomi tersadar dari lamunannya. Tapi seketika ia ingat sesuatu.

“Oh yah cake strawberry nya ada?” tanya Hitomi kepada pelayan yang mengantar pesanan mereka.

“Ada”

“Pesan satu ya, di bawa pulang”

“Baiklah, pesanan akan segera datang” kemudian pelayan itupun meninggalkan Daito dan Hitomi lagi.

“Strawberry? Kamu suka?” tanya Daito, ia mulai bertanya-tanya soal diri Hitomi.

“Bukan, tapi Yamada. Habis pulang kuliah ini dia akan datang ke perpustakaan siapa tahu dia suka” jawab Hitomi dengan antusias, terlihat dari sorot matanya gadis itu sangat senang saat meceritakan tentang kesukaan Yamada.

Daito mengepalkan tangannya “Souka…kau menyukainya?” tanya pria itu penasaran.

“Hmm soal itu… iya, aku menyukainya hehe..” Hitomi kembali tersenyum dan mulai memakan cake yang di pesannya dan Daito, tidak ada lagi jawaban dari pria itu. Ia hanya diam.

————-

Saat sedang dalam perjalan pulang, mereka berdua hanya diam, tidak terlalu diam sih sebabnya Hitomi sedikit bersenandung menikmati angin musim dingin yang menerpa wajahnya.

Daito tidak tahan dengan keadaan seperti itu, ia tidak ingin terus berdiam diri sejak di dalam toko tadi. Dengan inisiatifnya ia pun mengeggam tangan Hitomi.

“Eh?” gadis itu kaget karena Daito tiba-tiba saja menarik tubuhnya agar mendekat, sedetik kemudian bibir Daito sudah mendarat di bibir Hitomi.

*****

Daiki keluar dari kelasnya, hari ini jadwal kuliahnya sedikit padat jadi dirinya pun harus pulang agak sore. “huwaaah capek sekali~~” serunya sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Lelah, malam ini kamu kan harus bekerja di bar” mendengar suara itu, membuat Daiki menoleh dan heran, dari mana orang itu tahu? Pikirnya.

“Yamada? Kau…”

“Saifu sudah memarahi mu masalah perkerjaan mu itu?” tanya Yamada dengan nada mengejek, dan melihat Daiki dengan jijik.

“Sialan, jadi ini ulahmu?!” berang Daiki, kemudian ia pun mencengkram kerah baju Yamada.

“Haha… jangan takut, asal kau relakan Saifu untukku” jawab Yamada enteng.

“Tidak akan!!” teriak Daiki tepat di wajah Yamada.

“Oh..” Yamada melepaskan cengkraman Daiki itu di kerah bajunya “Kalau begitu, aku akan menghancurkan mu pelan-pelan, Arioka Daiki”

To Be Continued…

 

Masih ada lanjutannya, don’t forget komennya teman ^^

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Story Of Life (chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s