[Multichapter] LOVE CHAINS (chapter 9)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 9
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~

COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

 LOVE CHAINS

CHAPTER 9

cover bunda 9

^Tokyo’s hospital…. current time : 07.30 AM^

 

“Ohayou gozaimasu…” Keito masuk ke ruang pertemuan pagi itu dengan sedikit mengantuk, cangkir kopinya hampir-hampir tumpah jika tidak di tahan oleh Yamada yang kebetulan berdiri tepat di sampingnya.

Ruang pertemuan lebih sunyi dari biasanya. Seakan-akan pertemuan dan rapat kemarin membuat semuanya canggung satu sama lain. Yuya terlihat lebih letih, ia tidak tidur semalaman. Asuka berlindung dibalik tubuh Yamada, tidak ingin terlihat oleh siapapun saat ini.

“Trainee Hideyoshi-san tidak bisa hadir hari ini,” Yabu memulai pengumumannya, Yuya sontak menatap Yabu, “Jadi, trainee lain akan bergantian menggantikan tugas Hideyoshi,” tambah Yabu.

Mendokuse…” suara gumaman itu tentu saja keluar dari mulut seorang Inoo Kei.

Keito menatap Inoo dan kalau saja ini bukan pertemuan resmi ia pasti sudah menghajar Inoo. Sementara itu Yamada menatap Keito dengan pandangan jangan-macam-macam sehingga Keito kembali fokus pada pertemuan itu.

“Suster Nishikawa, ada yang mencarimu…” ucap seorang suster ketika Miu kembali dari ruang pertemuan.

“Siapa?” tanya Miu memastikan, tak biasanya ia ada yang mencari di pagi buta begini.

“Seorang wanita, katanya ia tak mau namanya disebutkan..”

Miu mengangguk sekilas dan beranjak ke luar ruangan suster. Seorang wanita dengan dandanan sederhana dan rambut hitam sepunggung menatapnya. Wajahnya terlihat sedih dan sedikit marah.

“Mencari saya?”

“Anda Nishikawa Miu?” tanya wanita itu, terdengar sedikit gusar.

Miu mengangguk ramah, “Ada yang bisa saya bantu?”

Wanita itu mengulurkan tangannya, “Perkenalkan, Yaotome Emi, istri Yaotome Hikaru…”

Miu mengangguk kaget, “Ada urusan apa ya?” Miu ingat dia mabuk-mabukan dengan Hikaru, bahkan sampai mencium Hikaru malam itu, masa sih istrinya tahu tentang hal itu?

Emi duduk dengan gusar di kursi dekat ruang suster itu, menatap Miu dengan kesal dan marah, “Aku heran, beberapa hari ini suamiku bertindak aneh sekali. Ia gugup dan sering terlihat bingung, ketika kudesak akhirnya dia mengaku… jadi ini selingkuhan suamiku?” Emi menatap Miu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

Miu yang sejak tadi mencoba menahan emosi tidak terima dengan ucapan Emi yang sangat merendahkan, “Yaotome-san, suami anda sendiri yang mencari saya dan mengajak saya ke bar malam itu. Perlu anda ketahui, kami tidak berselingkuh!”

“Tapi kau mencium suamiku kan?!” Emi kembali berdiri mensejajarkan diri dengan Miu.

“Itu hanya kecelakaan…” nada suara Miu menjadi pelan dan ia menghindari tatapan Emi.

“Aku tidak peduli… Tolong jauhi suami saya!” dengan sekali hentakan Emi berbalik dan berjalan menjauhi Miu yang masih kesal dengan serangan tiba-tiba tadi.

====================

 

^Tokyo’s Police Station… current time : 08.20 AM^

 

“Ohayou!!” sapa Hikaru ketika Daiki masuk ke kantor.

“Ohayou… maaf terlambat. Mesin pembuat kopiku macet, lalu aku terpaksa beli kopi di starbuck. Kau tahu kan jam segini pasti penuh?” keluhnya panjang lebar.

Hikaru hanya mengangguk.

“Senpai? Kau baik-baik saja?” Daiki melihat Hikaru yang tampak lesu dan bingung.

“Yabai kore…” Hikaru menatap layar ponselnya, “Istriku mendatangi suster Nishikawa…”

“Are? Ada apa memangnya?”

Hikaru akhirnya menceritakan semua permasalahannya dan bagaimana ia tidak bisa berbohong pada istrinya sehingga ia memberitaukan soal ia dan Miu yang berciuman.

“Lebih baik kau minta maaf pada Nishikawa-san. Lagipula itu bukan salah dia, kan?” ujar Daiki lalu menepuk pelan bahu Hikaru.

“Mou…” Hikaru memejamkan matanya, menengadah frustasi.

“Yaotome Hikaru… aku harus bicara denganmu!” pintu kantor terbuka dan wajah Nishikawa Miu muncul tiba-tiba. Hikaru yang kaget pun terjatuh dari kursinya.

“Ganbare!” ucap Daiki menepuk bahu Hikaru.

Miu menumpahkan segala kekesalannya kepada Hikaru. Mulai dari menginterogasinya soal Hikaru yang mengadu pada Emi, hingga berkata bahwa ia tidak ada maksud apa-apa saat mencium Hikaru, bahwa ia hanya sedang mabuk.

“Aku tahu Nishikawa-san… gomen.. hontouni… gomennasai…” Hikaru menundukkan kepalanya, merasa sangat menyesal karena sudah membuat semua ini menjadi rumit.

“Kau tahu?! Sekarang semua suster membicarakan soal aku dilabrak istrimu! Semua orang pasti menganggap aku benar-benar selingkuh… bagaimana jika Yabu mendengarnya?!” seru Miu kini ikut menunduk, ikut frustasi dan kesal.

“Chotto… tunanganmu… Yabu-san?” Hikaru seakan menyadari sesuatu.

Miu mengangguk, “Iya.. kenapa?”

“Yabai!! Kore Yabai!!”

“Kenapa? Hah?”

“Kemarin… cincinmu tertinggal di taksi. Aku bermaksud mengembalikannya, namun aku bertemu Yabu-san jadi aku menitipkan cincin itu padanya…”

Miu tahu sekarang mengapa tunangannya itu menanyakan soal cincin itu. Ia pasti berpikiran macam-macam soal dirinya dan Hikaru.

Tiba-tiba saja Miu mengayunkan tasnya pada Hikaru, memukul keras lengan Hikaru, “BAKA! Bagaimana ini?!” sepersekian detik kemudian Miu menangis, dan Hikaru tak tahu harus berbuat apa.

==================

 

^Tokyo High School, current time : 11.30 PM^

 

Miki berjalan di koridor dekat perpustakaan dengan tenang dan berhati-hati. Ia memastikan tidak ada yang melihatnya berjalan ke arah perpustakaan. Tadi sih d kelas Miki pamit akan ke toilet, sebenarnya dia ingin ke perpustakaan.

“Mitsuketa..(Ini dia! << ungkapan ketika menemukan sesuatu)” ucap Miki pelan ketika melihat Yuto berbaring di antara rak buku.

Yuto menggeliat, tampaknya menyadari kehadiran Miki di tempat itu.

“Go.. gomen…” bisik Miki ketika Yuto benar-benar membuka matanya dan menatap Miki yang sedang berlutut di sampingnya.

“I..ini… aku hanya mau menyerahkan ini…” tangan Miki terulur dengan sebuah payung dan kotak bento pada Yuto.

Yuto mengambilnya lalu tersenyum, “Arigatou…”

“Bento ini…hanya rasa terima kasihku karena kemarin… hmmm…”

“Arigatou… Miki-chan..” Yuto bersila duduk di hadapan Miki lalu menepuk pelan kepala gadis itu, “Daisuki da yo.. Miki-chan no koto…”

Kalimat terakhir Yuto berhasil membuat mata Miki terbelalak dan menatap Yuto dengan bingung, “Eh? Itu… itu?”

Yuto mengangguk dengan mantap, “Un! Suki da yo…”

Dengan gerakan cepat Miki beranjak dan berlari dari perpustakaan. Rasanya jantungnya akan meledak sebentar lagi karena berdetak terlalu cepat. Miki segera masuk ke dalam toliet perempuan dan menatap dirinya di cermin.

“Aduh Miki… bodoh… kau sudah punya Chinen-senpai…” keluh Miki karena merasa senang dengan pernyataan cinta Yuto.

Sementara itu Yuto membuka kotak bento yang tadi diserahkan oleh Miki, “Waaa… terlihat enak…” ucap Yuto sumringah melihat kotak bento yang terisi makanan yang telah di susun dan dibentuk lucu-lucu oleh Miki.

“Kau bertindak terlalu jauh…” sebuah suara membuat Yuto berbalik dan mendapati Chinen ada di situ, berdiri menatapnya.

“Apanya yang terlalu jauh?”

“Aku memintamu untuk menjaga Miki… bukan…”

“Aku tidak pernah berjanji tidak akan jatuh cinta padanya kan? Jadi kau yang rugi karena menyia-nyiakan gadis semanis Miki…” Yuto kembali menutup kotak bento itu, lalu berdiri di hadapan Chinen, “Maaf Chinen.. aku memang akan menjaganya… dengan caraku sendiri,” Yuto berlalu dari hadapan Chinen.

====================

 

^Tokyo’s Hospital… current time : 03.24 PM^

 

Saifu duduk sambil menengadah menatap ke segala penjuru taman Rumah Sakit. Beberapa orang tampak lalu lalang, banyak juga dokter yang sengaja berhenti dan tersenyum kepadanya ketika lewat. Saifu tidak mengenal semua orang itu, tapi mungkin saja itu kolega kakaknya. Mengingat Takaki Yuya adalah seorang dokter di Rumah Sakit ini.

“Yo!” sebuah boneka beruang muncul tepat di hadapannya. Saifu menoleh, ternyata sudah ada Daiki di situ.

“Dai-chan…arigatou!!” seru Saifu senang, segera mendekap boneka beruang itu.

Daiki mengacak pelan rambut Saifu, “Apa kabarmu?”

Saifu terlihat berfikir, mungkin mencari jawaban yang pas untuk keadaannya sekarang.

“Tidak buruk, terapi masih terus dilakukan walaupun sebenarnya aku sudah bosan. Lagipula ingatanku pun tidak pulih dan hanya menghabiskan uang saja di sini. Takaki-san masih terus menjengukku sekali setiap hari,” jelasnya panjang lebar.

“Kau senang kakakmu menjengukmu?”

“Hmmm… senang sih. Sepertinya dia khawatir sekali, wajahnya lucu sekali kalau mendapati aku tidak ada di kamar saat dia membesukku, hehe. Dia akan bilang begini, Saifu! Kau tidak boleh terlalu lama diluar! Nanti kamu flu, nanti sakit lagi!” ujarnya lagi, mencoba meniru wajah Yuya.

Daiki terus memperhatikan wajah Saifu yang berubah-ubah saat membicarakan Yuya. Saifu yang dulu setengah mati membuatnya sebal kini malah terlihat manis dan membuat Daiki ingin sekali menciumnya. Tanpa sadar Daiki bergerak mendekat ke wajah Saifu, membuat gadis itu berhenti bicara, tinggal beberapa sentimenter dan bibir Daiki sudah pasti akan menempel pada bibir Saifu ketika dirasa kemejanya tertarik ke belakang. Daiki menoleh marah, namun ekspresinya berubah drastis ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya.

“Anda siapa?” suara dingin Yuya dan tatapan marah di wajah pria itu membuat Daiki terdiam sesaat. Yuya mengenali Daiki adalah polisi yang kemarin hadir di pertemuan, polisi yang selama ini mendatanginya bersama Yaotome Hikaru.

Belum sempat Daiki menjawab, Yuya beralih kepada Saifu, “Kembali ke kamarmu sekarang, Takaki Saifu!” sukses membuat Saifu segera beranjak dan berlari meninggalkan keduanya.

“Arioka Daiki… kau tahu kan?” ucap Daiki melepaskan diri dari Yuya yang sejak tadi masih mencengkram bagian belakang kemejanya.

“Lalu apa urusanmu dengan adikku? Asal kau tahu, dia sudah lupa ingatan. Kau tidak bisa bertanya apapun padanya…”

Daiki mencibir, “Cih! Bukan urusanmu aku ada urusan apa dengan adikmu!” tentu saja Daiki kesal setengah mati setelah tidak jadi mencium Saifu, diganggu gugat oleh Yuya.

“Tentu saja jadi urusanku!!”

“Takaki-sensei, urusan saya dengan adik anda hanyalah urusan pribadi dan saya tahu bahwa adik anda sudah hilang ingatan,” tambah Daiki.

“Adikku tidak akan pacaran hingga lulus kuliah!” bersamaan dengan mengatakan hal itu Yuya berlalu dari hadapan Daiki, membuat polisi itu mencibir sebal.

Yuya segera menuju ke ruang inap Saifu, gadis itu sudah kembali berada di atas ranjang inapnya, menatap Yuya dengan pandangan ingin tahu apa yang terjadi diantara Daiki dan Yuya.

“Kau mengenalnya?” tanya Yuya to-the-point.

Saifu mengangguk takut-takut, “Itu… dia ada di ranjang sebelah waktu aku sadar…” ucapnya polos.

“Baiklah… jangan terlibat terlalu jauh dengannya. Mengerti?”

“Kenapa?”

Yuya heran, kenapa walaupun sudah hilang ingatan adiknya itu tetap saja keras kepala.

“Karena dia tidak baik untukmu…” ucap Yuya asal.

Saifu memajukan bibirnya, “Tapi… Nii-san kan belum kenal dia…”

Dari belasan kali ia mendatangi Saifu, akhirnya hari ini adik perempuan satu-satunya itu memanggilnya dengan sebutan ‘nii-san’. Tentu saja Yuya merasa senang, berarti keberadaannya sudah diterima oleh Saifu.

“Mou ikkai itte… (bilang sekali lagi..)” ucap Yuya tiba-tiba sumringah.

Saifu menatap Yuya dengan bingung, “Bagian mana?”

“Nii-san… mou ikkai itte?”

Dengan wajah polos Saifu menyebutnya lagi, “Onii-san?”

Yuya beranjak dan memeluk adiknya itu, “Yokatta naaa…”

“Anou.. Nii-san…”

Yuya melepaskan pelukannya, “Ya?”

“Aku rasa… aku sudah bisa pulang…” Yuya hendak bereaksi namun Saifu melanjutkan, “Aku memang belum ingat apapun… tapi, ada kemungkinan aku memang tidak bisa mengingat lagi kan? Aku merasa sudah sehat, dan obat-obat syaraf itu bisa aku minum di rumah kan? Dan aku bisa datang ke tempat ini secara berkala jadi tidak perlu menginap terus di Rumah Sakit…” jelas Saifu.

“Kau bosan ya? Ingin sekolah lagi?” tanya Yuya lembut.

Saifu mengangguk, “Aku akan mulai dari awal… aku sudah banyak belajar di sini. Jadi aku bisa memulai langsung di SMA, onegai ne… Nii-san…”

Yuya mengangguk mengerti, “Wakatta.. aku akan usahakan selalu pulang cepat selama aku tidak ada ER…”

“Hontou?! Arigatou Nii-san!!” seru Saifu bahagia. Akhirnya dia akan kembali melihat dunia luar, ia ingin sekali cepat kembali dan memulai kembali hidupnya. Walaupun harus dari nol lagi.

“Tapi jangan kencan dengan polisi tadi ya…”

Saifu hanya terkekeh, di dalam hatinya ia berkata, “Gomen Nii-san.. yang satu itu aku gak bisa janji…”

======================

^current time : 10.30 PM^

 

Ruangan itu memang selalu sepi seperti biasanya. Hanya ada beberapa orang yang datang dan akan pulang tanpa menungguinya. Morimoto Ryutaro memang selalu sendiri pada malam hari, hanya Miyako yang menemaninya. Alasan keluarganya adalah karena Ryutaro tidak juga siuman, jadi menunggui orang dalam keadaan koma tidak akan mengubah apapun.

Yabu sudah bicara pada Miyako, bahwa Ryutaro kemungkinan besar akan di operasi dalam waktu dekat. Donor kali ini cocok, Miyako tidak mengetahui detailnya tapi membuatnya cukup bahagia. Harapan agar Ryutaro bisa kembali semakin terbuka lebar.

“Kau tahu… Yabu-sensei bilang donor ini cocok. Kau akan sembuh, Ryuu…” ucap Miyako sambil mengelus tangan pemuda itu.

Tidak ada reaksi dari Ryutaro, hanya bunyi bip bip pelan dari beberapa alat di ruangan itu.

“Nanti aku janji, kita akan makan bento di luar lagi, terus aku tidak akan mengeluh lagi karena harus menjagamu… jadi, kau harus segera sadar…” kali ini Miyako sudah tidak bisa membendung air matanya.

“Suster Nakashima…” Miyako segera menghapus air matanya dan melihat Miu yang ternyata sudah ada di depan pintu.

“Kembali ke ruang kerja… kau bukan hanya milik satu pasien saja…”

Miu segera mengangguk. Malam ini memang gilirannya jaga ER, namun ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Ryutaro terlebih dahulu. Setelah Miu berlalu dari hadapannya, Miyako hendak berpamitan pada Ryutaro ketika dirasanya tangan Ryutaro bergerak meremas pelan tangannya, memberikan respon pada Miyako.

Ryutaro tahu dia disitu. Miyako kembali menangis, “Aku akan kembali setelah pekerjaanku selesai…” ucapnya lirih.

========================

“Otsukaresama…” ucap Asuka masuk ke ruangan dokter trainee ketika melihat Yamada juga ada di ruangan itu, sedang sibuk dengan data pasiennya.

“Otsukaresama..” balas Yamada.

Sejak hari persidangan kemarin Asuka memang belum bicara sepatah kata pun dengannya. Asuka memang terlihat lebih murung dari biasanya, namun Yamada tidak berani bertanya pada gadis itu.

Asuka duduk di sebelah Yamada, membuka laptopnya dan mulai mengerjakan laporan yang harus ia serahkan besok pagi. Selama pergerakan itu mata Yamada sama sekali tak lepas dari Asuka. Membuat gadis itu sedikit risih.

“Yamada-kun.. anou… yamete yo…”

Dengan wajah bodoh Yamada masih juga menatap Asuka, “Aku baik-baik saja kalau kau mau bertanya hal itu…” tambah Asuka.

Yamada menopang dagunya, “Asuka-chan… aku berfikir… apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan bebanmu?”

Seketika gerakan tangan Asuka di atas keyboard pun berhenti, “Hmmm? Kau…” ucapan Asuka berhenti karena dekapan Yamada yang tiba-tiba, “Yamada-kun?”

“Kenapa Asuka-chan tidak menangis? Sejak kemarin aku melihatmu sangat tertekan, tapi sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Bukankah lebih sakit jika terus dipendam?”

Satu isakan

Dua isakan

Dan selanjutnya Asuka sudah berurai air mata di dalam dekapan Yamada. Asuka terus menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Segala sakit yang Asuka rasakan sejak kemarin ketika kembali mendengar peristiwa meninggalnya Ryuta, apa saja yang ia tidak ketahui tentang meninggalnya Ryuta, merasa tak berdaya karena tak bisa berbuat apa-apa, rasa bersalah soal malam itu.

Pada malam Ryuta meninggal, Ryuta dalam perjalanan bertemu Asuka. Malam itu walaupun setelah begadang dan masuk ruang operasi, Ryuta memaksakan diri untuk menyetir. Asuka memintanya. Malam itu adalah perayaan hari jadi mereka yang kedua tahun. Ryuta menyetir dalam keadaan mengantuk, lalu terjadilah kecelakaan malam itu.

“Kalau saja… kalau saja aku bertanya Ryuta capek atau tidak?!” Asuka masih terus menangis, “Kalau saja aku tidak memaksa Ryuta cepat pulang…. huwaaaa…”

Yamada hanya bisa terus membelai pelan rambut Asuka, mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.

“Sensei…”

Opi menahan seorang suster yang hendak memanggil Yamada dan Asuka.

“Ada apa?” tanya Opi sedikit berbisik.

“Ada pasien ER… tapi…yang bertugas…” Malam ini ynag bertugas ER memang Yamada dan Asuka, tidak ada dokter senior namun Opi memang kebetulan ada pekerjaan lebih sehingga harus lembur.

“Biar saya yang tangani…” ucap Opi lalu mendahului suster itu.

==========================

 

^Nishikawa’s place… current time… 10.50 PM^

 

Setelah membereskan segalanya Miu pun pulang malam itu diantar oleh Yabu. Memang siang itu Yabu memintanya pulang bersama. Miu tahu cepat atau lambat Yabu akan memberi tahu hal yang sebenarnya, bahwa ia menerima cincin dari Hikaru, pasti Yabu akan menanyakan hal itu padanya secara langsung.

“Sudah sampai, Miu-chan…” ucapan Yabu membuyarkan lamunan Miu.

“Hai… arigatou, Yabu-kun…” Miu turun dari mobil, berjalan perlahan ke arah rumahnya, namun beberapa saat kemudia terdengar langkah Yabu mendekatinya.

“Miu-chan…” ada keheningan diantara keduanya yang menurut Miu terasa menyesakkan, “Yaotome-san memberikan cincin ini kemarin. Padaku…” Yabu memperlihatkan cincin pertunangan mereka, nada kecewa terdengar jelas dari suara Yabu.

“Aku…”

“Wakatta ne. Kau memang belum siap menikah denganku kan? Aku memikirkan ini berkali-kali. Kenapa Miu-chan seperti ini mungkin memang salahku juga, aku yang memaksamu untuk menikah cepat, aku yang menginginkan ini semua. Tapi, kau belum ingin menikah, deshou?”

Miu mengakui beberapa saat setelah menerima lamaran Yabu, ia memang masih bingung dengan semua ini. Di satu sisi ia pasti akan bangga dengan menikah dengan Yabu, tapi di sisi lain Miu masih mencari-cari apakah dia mau menikah secepat ini.

“Jadi, aku akan menyimpan cincin ini… aku tidak tahu kau butuh berapa lama untuk siap menjadi istriku. Tapi, aku akan menunggu. Sampai Miu-chan sendiri yang mendatangi aku dan berkata bahwa kau siap,”

“Yabu-kun….”

“Dan jika Miu-chan menemukan orang lain, katakan yang jelas padaku. Ne?” tanpa menunggu Miu menjawab Yabu menarik tubuh Miu dan memeluknya sekejap. Setelah itu Yabu kembali masuk ke mobil dan pergi meninggalkan Miu yang termanggu di depan rumahnya.

“Watashi… hontou baka da na…Aku benar-benar bodoh…” Miu tersungkur, menutup mukanya dan mulai menangis tersedu-sedu.

===================

 

^Sora, Riisa, Asuka’s place… current time : 10.40 PM^

 

“Gomen… aku baru datang jam segini,” ucap Keito ketika masuk ke kamar Sora.

Gadis itu terlihat sedang membaca buku di atas kasurnya.

“Sibuk sekali ya disana?” tanya Sora yang kemudian menutup bukunya.

“Maa na…” Keito tak ingin berbicara soal Rumah Sakit dengan Sora. Keito lalu duduk di sebelah Sora, menyentuh pelan dahi Sora, “Jadi, kau sudah baikan?”

Sora mengangguk.

“Sudah makan malam? Tidak lupa makan obat?”

Sora kembali mengangguk berkali-kali.

“Sekarang waktunya tidur.. ya kan?”

Kali ini Sora menggeleng, “Tidak mau…”

“Kenapa?” tanya Keito heran.

“Aku selalu bermimpi buruk setiap kali tertidur,” ucap Sora lirih.

Keito mafhum. Sora pasti masih dalam keadaan shock dan karena itulah ia mendapatkan mimpi buruk dari apa yang baru saja ia alami.

“Jya… kita tidak usah tidur malam ini!” seru Keito.

“Benarkah? Tapi Keito-kun kan capek baru saja kerja…”

“Hmmm… kita main monopoli!” seru Keito sambil mencari papan monopoli di sekitar kamar Sora.

“Baka! Mana punya aku papan monopoli. Kalaupun punya pasti ada di kampung halamanku!” seru Sora sambil tertawa geli.

Keito ikut tertawa, ia sedikit lega karena Sora sudah bisa tersenyum kembali.

“Kalau gitu kita main apa dong?” tanya Keito bingung, kembali duduk disebelah Sora.

“Nonton film aja yuk! Film komedi, jadi kita gak akan bosan dan tertawa semalaman!” ucap Sora begitu yakin bahwa itu adalah ide paling cemerlang.

Namun kenyataannya baru saja film diputar lima belas menit Sora sudah tertidur di pangkuan Keito.

“Baka…” bisik Keito melihat nafas Sora yang sudah teratur dan tenang. Tandanya gadis itu sudah tertidur pulas.

Keito menyelimuti Sora dan membiarkan gadis itu tertidur dengan posisi kepala berada di pangkuan Keito, “Semoga kau tidak mimpi buruk lagi,” ucap Keito tulus sambil membelai rambut Sora. Lama kelamaan Keito yang memang lelah pun tertidur.

=======================

 

^Tokyo High School, current time : 08.00 AM^

 

“Ohayou gozaimasu!!” sapa Yuto ketika Miki datang lebih pagi, seperti biasanya. Kali ini ia sudah menunggu gadis itu.

“Nakajima-kun…” Miki seakan tak percaya ada Yuto di hadapannya.

“Hai! Ohayou!!” seru Yuto lalu berjalan beriringan ke kelas Miki.

“Anou… Nakajima-kun… ada apa ya?” tanya Miki dengan wajah bingung.

“Ini,” Yuto menyerahkan kotak bento pada Miki, tentu saja kotak bento miliknya yang kemarin diberikan pada Yuto.

Tapi Miki merasa heran karena kotak bento itu sepertinya tidak kosong.

“Sampai ketemu nanti istirahat! Kau sudah sampai depan kelas, tuan putri.” Ucap Yuto sambil meneruskan langkahnya menuju ke kelasnya sendiri.

Miki segera masuk ke kelas, tentu saja di kelas masih kosong, hanya ada dirinya seorang diri. Miki pun segera membuka kotak bento itu, ternyata ada dua buah sandwich dan sebuah surat kecil.

 

Jangan lupa sarapan,

-Yuto-

 

“Nani kore?” Miki merasa pipinya tiba-tiba terasa hangat, seperti sinar matahari yang baru saja muncul di sela-sela jendela kelasnya. Beberapa saat kemudian Miki merasa ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

 

From : Chinen-kun

Subject : Ohayou

Ohayou, Miki-chan…

Hari ini aku ujian… doakan aku ya..

Miki-chan juga harus bersemangat hari ini..

GANBATTE!

 

“Eeehh?” entah kenapa Miki tiba-tiba merasa bingung sendiri. Kenapa tiba-tiba dua pemuda ini memberikan perhatian lebih padanya? Walaupun Chinen memang kekasihnya, tapi Chinen tidak pernah semanis ini sebelumnya.

====================

 

^Canteen at Tokyo Hospital… current time : 10.00 AM^

 

“Tolong apron ku!” seru Meru pada Fujigaya yang kebetulan berada di dekat apron miliknya.

Alih-alih melemparkannya seperti yang biasa ia lakukan, Fujigaya berjalan mendekati Meru dan memasangkan apron itu pada Meru.

“Taisuke… apa-apaan sih?” Meru kaget dan menjauh dari Fujigaya, lalu masuk ke gudang penyimpanan.

“Nae.. Meru..” panggil Fujigaya ketika Meru sudah kembali dengan sekotak besar wortel.

“Hmm?”

“Kalau dia datang lagi, kau tak usah keluar ya… biar aku yang memberikan pesanannya,” tanpa menatap Meru, Fujigaya ikut mengupas wortel, berdiri di sebelah Meru.

“Nani sore? Kau kenapa sih?”

“Aku tidak ingin kau bertemu lagi dengannya… dengan pasien itu, Kato-san…”

Meru menatap Fujigaya dengan aneh, “Kau salah makan apa sih?”

“Dakara…”

“Anou, Meru!!” panggil seseorang dari luar dapur, ternyata kakaknya, Miu, yang memanggilnya.

“Sebentar ya…” ucap Meru pada Fujigaya dan langsung menghampiri kakaknya, “Nee-chan? Ada apa?” Meru lihat kakaknya tidak sendiri, namun datang dengan dua orang pria yang tidak dia kenali, namun sepertinya Meru pernah melihatnya.

“Ini officer Arioka dan Yaotome…” kata Miu memperkenalkan dua pria itu.

Meru hanya mengangguk sekilas, “Ada apa ini nee-chan?” tanya Meru sekali lagi pada Miu.

“Kita lebih baik duduk dulu,” kata Daiki lalu duduk di salah satu meja yang paling dekat.

“Ini… mengenai kasus ibu kalian,”

Miu hanya diam dan tampak tak peduli, Daiki dan Hikaru menjelaskan bahwa beberapa bukti kuat sudah dikumpulkan, kemungkinan besar bisa diperkarakan kepada pihak Rumah Sakit. Walaupun ini adalah permintaan ayahnya ketika masih hidup, namun baru sekarang bukti-bukti kuat sudah bisa dikumpulkan.

“Tuhan sudah menghukumnya, aku tidak mau menghukumnya lagi…” ucap Miu ketus, Meru kaget dan menatap kakaknya yang kini melipat tangannya di dada.

“Tapi ini permintaan Ayah kalian, untuk…”

“Sudah kubilang! Kato Shigeaki sudah di hukum Tuhan. Memang aku juga baru tahu kalau dokter yang berjaga saat itu, yang mengoperasi Ibu adalah dia. Tapi, selama ini aku sudah melihat penderitaannya. Aku yang menjadi susternya selama ini… kita kehilangan. Aku, adik-adikku memang kehilangan ibu kami, bahkan ayah kami. Tapi Kato sudah kehilangan dirinya sendiri sejak saat itu. Aku tidak mau memperkarakan apapun…”

“Nee-chan…” Meru hanya bisa menatap Miu, dan memang semua yang diucapkan Miu ada benarnya.

“Pak polisi…” Miu berkata begitu lalu berdiri dari kursinya, “Asal kau tahu, dokter hanyalah manusia biasa… kita tidak bisa mengharapkan keberhasilan 100 persen dari setiap operasi. Lagipula, kematian Ibu sudah menjadi jalannya, aku sudah menerimanya.” Seraya berkata demikian Miu meninggalkan meja itu, “Saya sibuk. Banyak pasien yang harus saya urusi,”

Setelah meminta maaf pada kedua polisi itu, Meru kembali ke dapur.

“Meru.. kau baik-baik saja?”

Meru mengangguk pelan, semua ucapan kakaknya seakan bergaung di dalam telinganya, “Dia sudah di hukum Tuhan!”

======================

 

^Tokyo Hospital, current time : 11.35 AM^

 

Yabu duduk di sekitaran ruang ER, hari ini ia yang bertugas. Ketika melihat Sora berjalan masuk ke ruang ER juga.

“Hideyoshi-san, kau sudah kembali bekerja?” tanya Yabu sedikit kaget melihat Sora ada di tempat itu.

Sora mengangguk, “Un Yabu-sensei!” walaupun masih sedih, mengorbankan waktu prakteknya bukanlah hal yang benar. Maka tadi pagi Sora bersikeras untuk ikut ke Rumah Sakit.

“Aku angkat jempol untuk keberanianmu. Tapi, aku tidak menginginkan ada kesalahan. Kau harus konsentrasi, mengerti?”

Sora mengangguk, “Iya Yabu-sensei!”

Setelah itu Sora masuk ke ruang ER, dilihatnya Miu dan Yuya juga berada di dalam, bahkan Miu sedang menerima telepon darurat. Yuya menatap Sora dengan salah tingkah, begitu pula dengan Sora menatap Yuya canggung.

Sora hendak keluar lagi dari ruangan, namun bahunya ditangkap oleh Yabu dari belakang, “Konsentrasi, profesional. Kita tidak bisa memilih pasien kita, begitu juga dengan partner kita…” Yabu mengatakan hal itu sambil melirik Miu.

“Biar aku yang disini, Hideyoshi-san masih belum pulih, kau ke ruang pasca operasi saja,” kata Opi menyahut.

Yabu hanya mencibir, Yuya hari itu sebenarnya tidak bertugas di ER. Kebetulan saja Yuya memang ada keperluan di situ.

“Kau tidak perlu menyelamatkan aku,” ucap Yuya kesal pada Opi dan berlalu dari tempat itu.

“Ada korban kecelakaan!” seru Miu menyadarkan Opi dan Yabu. Miu menjelaskan kondisi korban pada kedua dokter itu lalu Yabu menyanggupi bahwa pasien bisa dibawa kesini.

“Mana dokter trainee?” seru Opi menyadari bahwa yang bertugas hanya dirinya dan Yabu.

“Hari ini harusnya Keito dan Yamada,” ucap Yabu menatap jadwal yang di tempel di sekitar situ.

Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh dan Keito muncul menggendong seorang pria berlumuran darah.

“Kami menemukannya di tangga saat menuju kesini!” seru Yamada menjelaskan kronologisnya.

“Cepat baringkan dia!” seru Opi.

Alangkah kagetnya Opi ketika dilihatnya itu adalah pria yang ia kenal.

Yabu serta merta berdiri dari tempatnya, “Sho!” serunya tak kalah kaget.

===========================

TBC!

Oh NOOOOO *satoshi*

Ternyata gak bisa beres di chapter ini.. *harakiri*

Sabar yaaaa…

Semoga bisa lebih cepet updatenya.. ^^

COMMENTS ARE LOVE…

PLEASE DON’T BE A SILENT READER!! ^^

YOUR COMMENTS MEANS A LOT TO ME…

Thank youuuu~

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s