[Oneshot] Sweet 14

Title : Sweet 14
Genre : Romance
Rating : G
Author : Koizumi Arina
Backsound : KAT-TUN – Faraway (saran saya bacanya sambil dengerin lagunya,,, berasa sweet pastinya … fufufufufufufu 😀 meski artinya gak sweet, tapi sad,,, tapi endingnya dijamin happy ending kok ^^b)

Cast :
• Yamada Ryosuke
• Koizumi Asuka (OC)
• Hey!Say!JUMP no minna
• Kyomoto Mai (OC)
• Saito Miharu (OC)

Desclaimer : Yamada Ryosuke sampai sekarang masih milik orang tuanya,,, tapi bentar lagi dia bakal jadi milik saya.. ufufuffufufufufufu 😀 😀 nama Kyomoto Mai juga milik temen saya si Indah, suaminya Taiga.. dan Saito Miharu milik temen saya juga, istrinya bang Taipi, abang kesayangan saya yang paling sekseh sejagad raya,,, wkwkwkwkwkwk… tapi sebagai author nan sarap, mereka semua bakal jadi korban dari ide cerita saya… hahahahhahahaha 😀 Happy reading… ^^b

———————————————————

Aku melangkahkan kaki ku untuk turun dari mobil milik bos ku. Aku memandang gedung di depanku dalam diam. Sebuah kantor menejemen besar yang ada di Jepang saat ini. Berbagai hal datang dalam pikiranku saat melihat gedung ini sampai aku sendiri bingung. Masuk ke gedung ini, tidak menutup kemungkinan aku akan bertemu dengannya. Sahabat lama ku. Dia sudah menjadi bintang besar. Entah bagaimana aku harus bersikap di depannya nanti. Baju kaos hitam berlengan pendek dan sebuah rok jins beberapa centi diatas lutut, stoking berwarna hitam dan sepatu putih boot lima belas centi diatas mata kaki, syal jaring berwarna orange, rambut yang ku gerai dan topi berwarna coklat, semua yang ku kenakan saat ini, aku tidak yakin dia akan mengenaliku.

Menjadi seorang asisten perancang busana, membuatku harus berdandan habis – habisan.

“Koizumi san? Sedang apa? Ayo masuk…” panggil seorang pria berdandangan trendi di belakang ku. Bos ku, Tachibana Kazuma, seorang perancang busana yang cukup terkenal di Jepang saat ini.

“Hai, sumimasen Tachibana san..” kataku sambil mengikuti pria itu dari belakang.

Yah.. sejak beberapa tahun yang lalu, aku bekerja di studionya, dan beberapa bulan belakangan ini aku ditunjuk langsung sebagai asistennya menggantikan Nona Hitomi, asisten Tachibana san yang lama.

Tak lama kemudian aku dan Tachibana san sudah berada di dalam sebuah ruangan. Aku menggantung baju – baju yang dibawa

Tachibana san di tempat yang sudah disediakan diruangan tersebut.

“Lama sekali para idola itu,,,” keluh Tachibana san. Aku hanya tersenyum. Yah.. untuknya waktu adalah segalanya.
Tiba – tiba pintu ruangan ini terbuka, dan tampak beberapa pria masuk. “Sumimasen deshita…” kata mereka.
Tachibana san kemudian berdiri menyambut mereka. Ketika orang terakhir masuk keruangan, aku langsung memperbaiki letak topi yang sedang ku kenakan. Berusaha agar wajahku tertutup, atau setidaknya tidak dikenali. Bertemu dengannya sekarang? aku belum siap.

Setelah sedikit berbincang dengan seorang yang sepertinya paling tua diantara mereka, Tachibana san kemudian memandangku, juga bersama beberapa pasang mata lainnya.

“Koizumi san, berikan kostum baru itu pada mereka untuk di fitting..” kata Tachibana san.

“Baik sensei…” kataku kemudian ganti memandang orang – orang itu dan membungkuk sedikit. “Hajimemashite, Koizumi desu, silahkan ikut saya ke fitting room..” kataku sopan.

***

** Yamada POV**

Aku duduk di kursi yang ada di ruang latihan sambil berfikir. Gadis tadi, gadis yang membantunya fitting kostum baru. Aku merasa mengenal gadis itu. Namun aku masih berusaha mengingatnya, kira – kira dimana aku pernah bertemu dengannya. Tapi, meskipun ragu, aku ntah kenapa aku merasakan rasa rindu yang mendalam terhadap gadis itu.

Namanya Koizumi, apakah dia Koizumi yang itu?

“Ryosuke? Kau tidak pulang?” tegur seseorang yang membuyarkan lamunanku.

Ku lihat itu Daiki, yang berbicara padaku di dekat pintu. Dan aku baru menyadari, ruang latihan sudah kosong. Pasti semua sudah ke ruang ganti. Aku tersenyum padanya kemudian bangkit berdiri. “Tentu saja pulang…” kataku sambil berlari menyusulnya.

Sampai diruang ganti, kulihat member lain sedang berganti pakaian latihan tadi dengan pakaian yang lebih bersih dan memasukkannya kedalam tas.

“Setelah ini mau kemana?” tanya Chinen sambil memasang sepatunya namun memandang member yang lain satu persatu.

“Aku langsung pulang… aku ingin segera tidur. Badanku pegal semua, seperti mau lepas dari sendi…” kata Hikka sambil melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya.

“Aku juga,,, tugas kuliahku semakin banyak saja,, dan minggu depan semuanya harus selesai..” kata Inoo dengan tampang sedikit frustasi.

“Ganbatte ne, Inoo chan…” kata Keito sambil menepuk pundak pria itu.

Selanjutnya aku tidak mendengar lagi yang mereka bicarakan. Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri. Rasa penasaran ini membuatku frustasi.

“Ryosuke? Kau ikut?” tanya Yuto yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Eh? Apa?” tanyaku balik dengan bingung kepada mereka.

“Daichan mengajak menginap dirumahnya,, kau ikut?” jelas Keito.

Aku lalu memasang wajah menyesal kepada yang lain sambil menyandang tasku. “Gomen na,, aku ada urusan. Mungkin lain kali… aku duluan yah…” kataku lalu meninggalkan mereka dan segera keluar dari ruangan itu.

Samar – samar, aku mendengar mereka memanggilku. Gomen ne minna san. Tapi rasa penasaran ini harus ku jawab. Aku pun segera berlari menuju lift untuk turun. Aku harus kesana dan memastikan sendiri.

**Yamada POV end**

**Author POV**

Asuka tampak duduk melamun di meja kerjanya. Mata gadis tampak tidak fokus pada gambar di depannya dan masih sibuk memainkan pensil sketsanya.

“DOR!!” kejut seseorang dari belakang gadis itu yang langsung membuat lamunannya buyar. “Mikir apa sih? Serius gitu…” kata gadis itu, yang tak lain adalah Saito Miharu, rekan kerja Asuka, sekaligus teman dekatnya.

“Kau ini bikin kaget saja…” kata Asuka sambil memperbaiki posisi duduknya dan membereskan beberapa sketsa desain diatas mejanya.

Miharu kemudian duduk diatas meja Asuka sambil menyilangkan tangannya acuh. “Sore – sore kau melamun seperti itu, tidak takut kerasukan apa?” tanya gadis itu.

“Kalau aku kerasukan, kau yang pertama aku ganggu..” kata Asuka sedikit kesal. Namun hanya dijawab dengan tawa ringan dari Miharu yang memang ceria itu.

“Sepertinya sejak kau pulang dari pergi bersama Tachibana san kau mulai aneh.. ada kejadian apa? Cerita dong…” rengek gadis itu pada Asuka.

Asuka menggeleng sambil melihat ke jam yang melingkar di tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima lewat. Sudah saatnya dia pulang. “Tidak ada apa – apa… kau tidak pulang?” kata gadis itu.

Miharu melihat jam tangannya sejenak. “Sedang menunggu jemputan…” katanya singkat.

Asuka mengangguk mengerti sambil menyandang tasnya dan memakai mantel dan topinya. “Pacarmu belum datang… selamat menunggu kalau begitu..” kata gadis itu dan dijawab anggukan oleh Miharu.

“Aku pulang duluan yah,, aku mau belanja untuk makan malam dulu..” kata Asuka kembali sambil melihat jam tangannya.

“Jya,,, ki otsukete..(sudah ya.. hati – hati)” kata Miharu sambil melambai sejenak kemudian kembali ke meja kerjanya.

Asuka berjalan cepat menuju pintu keluar dari studio besar milih Tachibana sensei itu. Jika dia mengejar bus sekarang, masih sempat untuknya belanja di mini market dekat stasiun, dan pukul enam nanti dia sudah tiba di apartemennya. Namun…

“Koizumi…” panggil seseorang yang membuat Asuka berhenti berlari. Gadis itu kemudian berbalik mencari sosok yang memanggilnya.

Sesosok pria dengan jaket dan topi tiba – tiba berdiri tegak dari posisinya yang menyandar di tembok gedung tempat gadis itu baru saja keluar. Ketika melihat jelas sosok yang memanggilnya, seketika tubuh gadis itu membeku ditempat.

“Ya..mada kun?” desis gadis itu dalam diam.

Pria itu tersenyum dan mengangkat tangannya. “Yappari da na… ano hito wa omae da (sudah ku duga,,, orang itu memang kau)” kata pria itu

Asuka hanya terdiam sambil tetap memandang sosok pria yang kini sedang berjalan mendekat kearahnya. Kini jarak pria itu dengannya tidak sampai satu meter. Gadis itu benar – benar canggung saat itu. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus berkata ‘hai’ atau semacamnya?

“Hisashiburi da na… sudah enam tahun sejak kau pergi…” kata Yamada tiba – tiba.

Asuka mengangguk dengan canggung dan tersenyum sopan kepada pria itu. “Sou… desu ne…” kata gadis itu.

Yamada memberikan senyuman terbaiknya dan menepuk pundak gadis itu. “Kau kenapa? Bukan seperti kau saja…” kata pria itu. Hanya tersenyum menanggapi tingkah pria di depannya itu.

“Sebaiknya kita jangan bicara disini… tidak enak dilihat orang…” kata Asuka sambil tersenyum sopan. Yamada hanya mengangguk dan kembali membalas senyum gadis itu.

“Ya, terserah kau saja..”

***

Asuka kini berada di pantai Okinawa. Tak jauh darinya Tachibana san tampak sedang memberikan pengarahan terhadap beberapa petugas dress up dan makeup artist lainnya dan gadis itu tampak sedang memeriksa pakaian yang akan dipakai untuk pemotretan hari ini.

“Baiklah,,, semua kembali ketempat masing – masing…” akhir Tachibana san pada para gadis itu.

“Yo..” kata seseorang yang tiba – tiba mengejutkan Asuka dari belakang.

Asuka sedikit terperanjat dan seketika berbalik kebelakang. Tampak olehnya Yamada dan rekan – rekan lainnya datang kesana. Ya ini adalah pemotretan untuk mereka dan Tachibana san kembali dijadikan desainer untuk kostum mereka.

“Oh kalian sudah datang… segera berganti pakaian, setengah jam lagi kita mulai pemotretan..” kata sang juru kamera.

“Setelah ini aku ingin berbicara dengan mu..” bisik pria itu pada Asuka sebelum akhirnya dia berjalan bersama rekan-rekannya yang lain untuk bersiap.

Asuka hanya memandang diam punggung pria itu. Setelah dirasanya pria itu berada jauh dari tempatnya sekarang, dia baru menghela napas yang sedari tadi ditahannya. Gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah memutuskan untuk tidak ingin terlibat begitu dalam dengan pria itu. Meski mereka adalah teman masa kecil.
Tapi seakan tubuhnya berkata sebaliknya. Semakin dia menjauh dari pria itu, semakin dia ditarik mendekat.

“Ada apa dengan ku..” desis gadis itu.

“Koizumi san, kau sudah boleh istirahat. Setelah pemotretan selesai, baru kau bisa membantu lagi disini..” kata Tachibana san pada Asuka.

Mendengar panggilan bosnya, lamunan gadis itu seketika buyar, namun dia segera membungkuk dan berterima kasih pada bosnya kemudian segera pergi dari sana. Setidaknya dia bisa relaks sejenak.

Asuka duduk di pasir pantai sambil melihat hasil jepretannya sejak tadi menggunakan kamera berjenis SLR miliknya.

Pemandangan pantai Okinawa memang bagus. Benar – benar pantai yang sangat indah. Dan gadis itu merasakan ketenangan sejenak. Tidak jauh dari tempatnya, bisa dilihatnya pemotretan yang lainnya masih berlangsung. Gadis itu tidak mengambil resiko berjalan terlalu jauh dari tempat bosnya dan diceramahi panjang lebar hingga mereka tiba kembali di kantor, jika dia terlambat sedikit saja kembali ketempat bosnya.

“Terlihat menikmati nona,,,” sapa sebuah suara yang membuat Asuka mendongak keatas melihat orang yang menyapanya. Yamada.

“Hei…” sapa gadis itu singkat. Yamada mengambil tempat kemudian duduk disamping gadis itu. “Kenapa kesini? Kau kan masih pemotretan…” kata gadis itu.

Yamada memandang kearah tempat pemotretan sambil menggeleng. “Tidak… bagian ku sudah selesai. Tinggal menunggu mereka saja…” kata pria itu, kemudian dia beralih memandang gadis disampingnya itu yang sedang memegang sebuah kamera.

“Kau juga memotret? Boleh ku lihat?” tanya pria itu.

Asuka mengangguk sambil menyerahkan kameranya kepada pria itu. Yamada tampak tersenyum sambil melihat foto di kamera tersebut sebelum akhirnya menyerahkan kembali kamera tersebut pada gadis itu.

“Angle pengambilan gambarmu bagus… kau cukup berbakat menjadi fotografer..” kata pria itu.

Asuka tertawa mendengar penuturan pria itu sambil mengibaskan tangannya kemudian mematikan kameranya kembali. “Jangan bercanda.. aku tidak sebagus itu…” kata gadis itu.

Namun seperti sadar akan sesuatu, gadis itu memandang kembali kearah Yamada yang ternyata sedang memandangnya. “Doushite?” tanya gadis itu.

Yamada seperti tersadar kemudian menggeleng dan tersenyum. “Tidak… hanya saja, ini pertama kalinya aku melihat kau tertawa setelah sekian lama..” kata pria itu.

Keduanya kini hanya menatap sambil terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing – masing. Detak jantung keduanya berdetak tidak beraturan. Namun pandangan mereka seperti tidak mau lepas, sibuk menyelam lebih dalam kedalam mata masing – masing, seperti mencari jawaban.

“Ryosuke… sudah mau shoot terakhir. Ayo cepat!” panggil Daiki dari tempat pemotretan.

“Koizumi san! Ayo bersiap!” panggil Tachibana san dari tempat dressing.

Kedua suara yang memanggil tersebut, membawa kembali keduanya ke alam kesadaran. Keduanya langsung berdiri sambil salah tingkah. Yamada berpamitan sebentar pada Asuka sebelum akhirnya berlari kembali ketempat pemotretan.
Sedangkan Asuka, gadis itu segera membereskan kameranya dan berlari ketempat Tachibana san.

***

**Asuka POV**
Aku kembali duduk melamun di meja kerjaku sambil melihat beberapa sketsa diatas meja. Tiba – tiba sebuah mug dengan asap cukup mengepul yang keluar darinya, diletakkan di hadapanku oleh seseorang. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang meletakkan mug itu, dan aku tersenyum setelah mengetahui itu siapa. Saito Miharu.

“Arigatou…” kataku sambil meraih mug itu dan menyesap sedikit isinya.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum sambil kembali duduk di mejanya. “Kau tidak makan siang? Bukannya setelah ini kau akan pergi menemani Tachibana san rapat hingga sore? Kau butuh energy untuk itu..” kata gadis itu yang mulai cerewet menasehatinya.

Aku hanya tersenyum dan menggeleng sambil kembali menyesap minumanku itu. “Nanti saja, waktu makan siang masih ada sejam lagi..” kataku.

“Kenapa? Ada masalah apa? Kenapa kau tidak mau cerita sih padaku…” protes gadis itu.

Aku hanya menanggapinya sambil tersenyum dan menggeleng. “Kapan – kapan saja aku cerita..” elakku.
Namun,, tiba – tiba OB kantor datang menghampiriku sambil meletakkan sebuah bungkusan dan aku hanya memandangnya dengan tatapan bertanya.

“Seorang pria menyuruhku memberikan ini pada Nona, dan aku tidak tau siapa..” kata OB tersebut yang kemudian setelah berpamitan langsung pergi dari sana.

“Apa itu?” tanya Miharu sambil mendekatiku.

Aku hanya mengangkat bahuku kemudian melihat bungkusan itu. Aku semakin menyerit bingung karena isinya adalah makanan dan air mineral. Namun ada secarik kertas didalamnya, gadis itu segera mengambilnya dan membacanya.

Sekarang sudah jam makan siang, dan aku yakin kau pasti belum makan..
Sebagai sahabatmu, dan aku sedang berbaik hati, jadi aku membantumu membeli makan siang mu, sebelum kau turun dari tempat kerjamu dan berkeliling mencari makanan.
Jangan lupa, harus dihabiskan.. sebelum kau menjadi kurus seperti penderita anoreksia..

Teman terbaikmu, YR

P.S : nanti ku jemput sepulang kau kerja dan jangan coba – coba untuk kabur.

Aku hanya tertegun membaca pesan itu. Namun belum sempat aku berpikir lebih jauh, Miharu sudah mengambil kertas ditanganku itu dan membacanya. Tiba – tiba saja, ponselku berbunyi saat aku ingin mengambil kertas itu kembali.
Aku melihat ke display ponselku dan menyadari nomor itu sama sekali tidak ku kenal, namun aku segera mengangkatnya, takut bahwa itu adalah salah satu dari konsumen Tachibana san yang memang panggilan dari konsumen harus melaluiku terlebih dahulu. Ketika ku tanya kenapa, Tachibana san hanya berkata singkat bahwa itu memang salah satu tugasku sebagai asistennya.

“Moshimoshi..” kataku sopan.

“Moshimoshi.. kau sudah terima delivery dariku?” tanya suara diseberang sana.

“Sumimasen,, ini siapa?” tanyaku menyerit karena bingung.

“Ini Teman terbaikmu, Koizumi san..” jawab suara diseberang sana lagi. Aku seketika terkesiap ketika mengetahui bahwa panggilan itu dari pria itu.

“Kau? Darimana kau dapat nomorku?” tanyaku.

“Gampang,,, aku hanya perlu berkata bahwa aku salah seorang konsumen yang mengeluh, dan pekerja disana segera memberikan nomormu padaku..” kata pria itu.

Aku menghela napas dengan pelan dan memutuskan untuk tidak menanggapi kenekatan pria itu. “Ada apa menelponku?” tanyaku akhirnya.

“Hanya ingin tau kau pulang jam berapa.. seperti yang ku katakan, aku akan menjemputmu..” kata pria itu dengan nada santai.

Aku kembali menghela napas. “Kau tidak perlu repot – repot.. lagi pula siang ini aku ada rapat hingga sore nanti..” kataku.

“Dan seorang gadis tidak baik untuk pulang malam sendirian, deshou? Sudahlah,, lagi pula aku yang mau..” kata pria itu masih tetap memaksa.

Aku menyerah dengan tingkah pria ini. “Baiklah,, jam lima kalau begitu..” kataku akhirnya.

“Baiklah,,, sampai jumpa sore nanti.. jangan lupa, makanannya dimakan. Jya..” kata pria itu dengan nada yang terdengar sangat riang sebelum akhirnya sambungan itu terputus.

Aku kembali menghela napasku panjang. Benarkah keputusan ku ini? Bukankah aku tidak ingin terlibat lebih dalam dengan dia? Ntahlah.. tangan ku bergerak ke dadaku. Entah kenapa disana terasa sakit dan sesak.

“Kenapa? Siapa yang menelpon?” tanya Miharu lagi membuyarkan kembali lamunanku.

Aku tersenyum sambil memandangnya dan menggeleng. “Teman..” kataku singkat kemudian beralih pada makanan diatas mejaku.

Terlalu sayang untuk di buang. Tidak salahnya aku makan makanan tersebut. Pikirku akhirnya. Dan aku pun membuka penutup makanan tersebut dan menyumpitnya ke mulutku. Lumayan juga..

**Asuka POV end**

**Author POV**

Sejak hari itu Asuka dan Yamada sering bertemu. Dan dengan sendirinya keduanya semakin menjadi dekat satu sama lain. Asuka tidak lagi merasa risih ketika dia keluar dari kantornya dan menemukan sosok pria itu berada dalam mobilnya, tersenyum padanya, dan mengantarnya pulang. Atau mereka menghabiskan waktu bersama untuk beberapa saat.

Seperti saat ini, pria itu mengajak Asuka ke sebuah tempat yang bisa melihat pemadangangan kota Tokyo dan sepi. Keduanya duduk diatas mobil pria itu sambil menikmati makan malam mereka yang tadi sempat dibeli gadis itu dijalan menuju tempat itu.

“Kenapa makanan ini harus ada tomatnya sih?” protes pria itu sambil melihat potongan tomat yang mengiasi makanannya.

Asuka menyodorkan makanannya ke dekat pria itu sambil tersenyum lebar. “Berikan padaku..” kata gadis itu.

Tanpa pikir panjang, Yamada memindahkan tomat di makanannya ke milik Asuka yang langsung melahapnya. “Oishii..” gumam gadis itu dengan riang.

“Benarkah? Syukurlah..” kata Yamada sambil memandang gadis itu menggelengkan kepalanya kemudian menikmati makanannya sendiri.

“Ne, libur natal nanti kau ada kesibukan?” tanya Yamada masih sambil memperhatikan makanannya sendiri.

Asuka tampak mengingat – ingat kemudian menggeleng dan kembali menyumpit makanannya, “Tidak ada acara khusus. Lagi pula kantor libur saat itu, kalau aku memutuskan mengunjungi orang tuaku ke Indonesia, sepertinya percuma
karena seminggu setelahnya aku harus kembali bekerja… Tachibana san akan mengadakan pameran busana pertengahan
bulan depan, aku pasti akan sangat sibuk dibuatnya..” kata gadis itu.

“Kau sepertinya sedikit tidak menyukai atasanmu itu, ne?” tanya Yamada.

Asuka hanya tersenyum dan menggeleng. “Entahlah,, hanya saja harus berdandan atau memakai pakaian yang modis setiap harinya di depan bos ku itu, membuatku capek.. kau lihat? Rok, warna – warna pastel,, aku merasa ini bukan aku… tapi selain itu, aku senang dengan caranya menghargai kerjaku..” kata gadis itu dengan tatapan menerawang.

“Kenapa kau tidak berhenti saja? Aku serius,, termasuk dengan kata-kataku saat di Okinawa, kau memang lebih cocok menekuni bidang fotografer..” kata pria itu lagi.

Asuka hanya mengangkat bahunya acuh, “Entahlah,, aku tidak memikirkan kearah sana..” kata gadis itu.

Yamada hanya mengangguk mendengarnya, kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya kemudian memberikan pada gadis itu. Asuka meletakkan makanannya sejenak sambil memperhatikan kertas yang diberikan Yamada padanya kemudian beralih memandang pria itu.

“Malam natal aku dan Hey!Say!JUMP akan mengisi acara di stasiun TV. Setelah acara, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.. dan tidak bisa hari lain, karena besoknya kami akan berangkat untuk konser memulai tur musim ini.. jadi bagaimana?” tanya pria itu hati – hati sambil memandang Asuka.

Gadis itu diam sambil memandang tiket ditangannya. Apakah ini sebuah ajakan kencan? Apakah baru saja pria itu mengajaknya untuk kencan? Asuka tidak bisa berpikir lebih jauh, yang dia rasakan saat ini hanya degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Tidak perlu kau jawab sekarang.. kau juga harus mencocokkannya dengan jadwalmu kan? Tapi aku mengharapkan kedatanganmu..” kata pria itu sambil tersenyum dan memandangnya dengan tulus.

Asuka hanya bisa memandang pria itu dalam diam. Jantungnya kembali melompat lebih kencang dari biasanya hanya dengan senyuman dari pria itu. Ini pasti ada yang salah, dan sebaiknya dia membuat janji segera dengan dokter spesialis jantung untuk memeriksakan dirinya.

***

*Christmas Eve*

Asuka duduk di ruang tengah apartemennya. Di atas meja ada secarik tiket yang diberikan Yamada beberapa hari lalu padanya. Sejam lagi acara tersebut akan mulai, namun gadis itu masih duduk diam disana dan hanya memandang tiket itu dalam diam. Dirinya masih bimbang dengan keputusan akan pergi atau tidak. Sejak awal dia sudah merasa bahwa semuanya salah. Seorang Yamada Ryosuke bukan lagi sosok tetangganya sekaligus sahabatnya yang dia kenal beberapa tahun lalu. Pria itu sudah tumbuh matang dan menjadi sesosok bintang yang bersinar. Sedangkan dirinya? Masih sosok gadis enam tahun yang lalu. Yang bukan siapa – siapa, hanya seorang gadis biasa. Kini jarak antara keduanya sudah jauh, bagaikan planet Venus dan Mars yang dibatasi oleh Bumi.

Gadis itu sibuk berdebat dengan batinnya. Disatu sisi dia ingin pergi, dan mengabaikan semuanya. Toh mereka selama ini hanya bersahabat, tidak ada salahnya menerima undangan dari seorang sahabat bukan? Namun disisi lain gadis itu merasa takut. Dia merasa takut akan hubungan persahabatan mereka akan membawa bencana.. akan hubungan persahabatan mereka yang mungkin akan membuat pria itu susah jika salah duga oleh wartawan. Gadis itu benar – benar takut.

Tiba – tiba perdebatan batin gadis itu terusik oleh bunyi ponselnya. Gadis itu membaca nama yang tertulis di display ponsel itu, dan itu adalah nama pria itu. Ragu dirinya untuk mengangkat panggilan tersebut. Dia tidak ingin membuat pria itu kecewa karena ketidak hadirannya, namun dia juga tidak ingin membuat pria itu terluka nantinya. Ponsel itu terus berbunyi hingga akhirnya mati dengan sendirinya. Asuka menghembuskan napasnya panjang sambil menatap layar ponselnya itu kemudian meletakkan lagi diatas meja. Gadis itu kini duduk tatami apartemennya sambil memeluk lututnya sendiri. Perlahan bulir air mata itu jatuh dari pelupuk matanya. Namun gadis itu selalu berbisik dalam hatinya, semoga keputusannya tidak salah.

Gadis itu mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama di kontaknya. Tak lama kemudian dirinya sudah menempelkan ponsel tersebut ditelinganya.

“Moshimoshi..” sapa suara diseberang.

“Moshimoshi.. Miharu chan? Ini Asuka,, Besok kau sibuk? Ada yang ingin ku ceritakan padamu..” kata gadis itu.

“Sepertinya tidak… datang saja ke apartemenku..” kata suara diseberang sana.

Asuka memejamkan matanya. “Un.. baiklah.. sampai jumpa besok..” kata gadis itu sebelum mengakhiri panggilan itu.
Asuka kemudian menggenggam erat ponsel itu dan menenggelamkan wajahnya di lututnya. Gadis itu menangis terisak.

Mune ni himeta ketsui ni yorikakatta atarashii kimi
When the brand new you decided to follow the determination deep inside your heart
Boku wa nani mo shiranaide soba ni iru you de inakute..
I unaware of anything didn’t know how to stay by your side…

Ushinatta ato de kizuku nante osoi yo
Only when I lost sight of you did I realized far too late
Kioku no Kanata e to kimi o tebanashita
Somewhere distant in my memory I never let go of your hand

Hanaretemo yoake wa hikari o tsurete kuru kara
Even if we separated, the dawn comes carring light
Namida wo tokashite omoi tsutawaru made
I let my tears melt away, until my feelinfs are conveyed
Iki isogu koto sae kimi no tame da to omotteta
I used to live my life in a rush, thinking that everything was for your sake
Moshi sekai no ura hanaretemo todaenai kizuna kanjite
Even if we come to live on two different sides of the world, hold on to this eternal bond between us

Tokei no hari modoshite hi ga ochiru ano heya no naka
If only I could turn the hands of time back to the sunset that day, back to that room
Kuchibiru kara koboredasu kotoba kono te de tomeri made
To the moment when I could stop the words that fell from your lips

Kokoro wa shitteta kimi ga tabidatsu hi wo
My heart remembered the day when you set out on your journey
Todokanai basho e to boku wa miokuru
To a place where I can’t reach and I come to bid you farewell

***

Dalam sebuah mini bus berwarna putih, tampak beberapa sosok pria di dalamnya yang sibuk dengan masing – masing. Ada yang saling bercanda, menjahili satu sama lain, atau ada yang sekedar membaca buku sambil menikmati perjalan mereka.

“Aku setuju…” kata Chinen bersemangat yang saat itu sedang ngobrol dengan Daiki, Yuto, Keito, dan Hikaru.

“Ryosuke kau bagaimana?” tanya Hikaru pada Yamada yang sedang duduk dengan telinga dipasangi earphone paling sudut belakang, meski begitu pria itu mengatur volume musiknya dengan rendah.

Ryosuke memandang sekilas teman – temannya. “Apa?” tanya pria itu dingin.
“Kebetulan kita akan ke Yokohama… bagaimana kalau setelah konser, kita makan takoyaki?” kata Chinen menjelaskan kembali cerita mereka tadi.

Ryosuke mengalihkan pandangannya dengan dingin ke luar jendela. “Aku langsung kembali ke hotel saja…” kata pria itu kemudian mengeraskan volume musiknya dan memejamkan matanya.

Teman – temannya yang lain hanya saling berpandangan dengan bingung.

“Ada apa dengan dia akhir-akhir ini?” tanya Keito pada yang lain.

“Entahlah,,, dia tidak bercerita padaku..” jawab Yuto sambil mengangkat bahunya.

Daiki juga ikutan mengangguk. “Ore mo,,, dia sama sekali tidak mau cerita apa-apa padaku..” kata pria itu.

Akhirnya mereka hanya menghela napas dan menggeleng pasrah karena tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan pria itu. Yamada yang sedang pura – pura tertidur itu hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sudah hampir sebulan dia tidak bisa menghubungi gadis itu. Dan entah mengapa hal itu membuatnya uring – uringan. Ketika di telpon selalu tidak aktif, di email, tidak ada balasan. Ini tidak bisa dibiarkan, dia harus menemui gadis itu segera.

Diwaktu yang sama, di lain tempat, disuatu tempat di kota Tokyo. Seorang gadis dengan stelan kaos hitam celana jins selutut. Boot coklat setinggi betis. Jaket kulit berwarna coklat dan syal jaring berwarna putih, juga topi fedora berwarna coklat dengan rambut panjang sebahu yang digerainya. Berjalan memasuki gedung tempatnya bekerja selama ini sambil membawa sebuah kardus berukuran cukup besar. Sambil menyapa singkat karyawan yang ditemuinya, gadis itu tetap berjalan naik lantai dua, tempat ruang kerjanya, juga tempat kerja bosnya.

“Ohayou Miharu chan…” sapaku pada Saito Miharu yang sedang duduk ditempatnya sambil mengetik sesuatu dengan laptopnya.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Asuka sedang tersenyum padanya dan meletakkan kardus yang dibawanya diatas meja kerja gadis itu.

“Asuka chan… kau mau mengambil barang – barangmu ne?” tanya Miharu.

Asuka tersenyum dan mengangguk kemudian sibuk dengan pekerjaannya. Gadis itu memasukkan barang – barang miliknya yang ada diatas meja kedalam kardus itu dengan hati – hati.

“Ne,, kau yakin mau berhenti?” tanya Miharu yang mendekati gadis itu dan mengambil sebuah buku dan menyerahkannya pada gadis itu.

Asuka mengalihkan pandangannya memandang gadis itu. “Ehm? Doushita?” tanya gadis itu balik.

Miharu menggeleng. “Tidak… aku hanya merasa kau tidak seharusnya seperti ini. Kau terkesan melarikan diri dari hal ini..” kata gadis itu. Yaaahh,,, hari itu, Asuka itu menceritakan semua tentang sahabatnya itu pada Miharu.

Asuka hanya tersenyum tipis masih melanjutkan pekerjaannya. “Aku tidak melarikan diri… hanya melakukan hal yang sejak dulu seharusnya aku lakukan.. setelah ini aku akan belajar broadcast.. aku ingin serius.. itu saja..” kata Asuka.

“Kalau itu sudah menjadi keputusanmu,, aku bisa bilang apa?” kata Miharu menyerah.

Asuka hanya tersenyum kemudian memeluk sahabatnya itu. Setelah melepasnya, gadis itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Miharu. Gadis itu menerimanya dengan bingung.

“Ini apa?” tanyanya.

“Jika dia datang kesini mencariku.. berikan ini padanya..” kata Asuka lagi. Miharu kemudian mengangguk mengerti.
Asuka kemudian mengangkat kardus yang tadi dibawanya dan sudah terisi dengan seluruh barang miliknya. “Jya.. aku pergi dulu.. sisa disini ku serahkan padamu..” kata gadis itu lagi.

Miharu tersenyum dan mengangguk. “Hati – hati.. kalau ada apa-apa, kau bisa mengandalkan aku, kau tau..” kata gadis itu.

Asuka pun mengangguk. “Un.. akan ku ingat itu. Arigatou na..” kata gadis itu lagi sebelum berbalik dan berjalan keluar dari sana.

**Yamada POV**

Aku duduk di dalam mobilku, jam sudah menunjukkan pukul lima lewat. Namun belum ada tanda – tanda gadis itu keluar dari kantor tempat dia bekerja. Tiba – tiba aku melihat sosok gadis yang sepertinya teman kerja gadis itu. Dia sempat melihat gadis dengannya bersama beberapa kali. Sebaiknya aku bertanya padanya.

Aku lalu keluar dari mobilku dan menghampiri gadis itu.

“Sumimasen… anoo sa..” kataku pada gadis itu.

Gadis itu tampak mengalihkan pandangannya kepadaku dan sedikit terkejut melihat kehadiranku.

“Yamada Ryosuke san?” tanya gadis itu masih dengan ekspresi kagetnya.

“Ah,,, Hai.. anoo.. apakah Koizumi Asuka tidak masuk hari ini?” tanya ku padanya.

“Dia sudah berhenti seminggu yang lalu..” jawab gadis itu.

Aku kaget mendengar jawabannya. Berhenti? Tapi kenapa? Apakah…

“Ah.. dia menitipkan ini padaku.. jikalau kau datang untuk mencarinya…” kata gadis itu lagi sambil mengulurkan sebuah amplop surat berwarna biru dari dalam tasnya.

Aku menerimanya dengan ragu.

“Maaf, kalau sudah tidak ada lagi, aku permisi pulang… aku sudah dijemput..” kata gadis itu membuat aku tersadar dari pikiranku.

“Ah .. Hai.. arigatou gozaimasu..” kataku sopan. Gadis itu membungkuk sedikit lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh tanda tanya.

Aku segera masuk kembali kedalam mobil dan melajukannya di jalan raya. Hingga aku berhenti disebuah tempat dimana aku dan gadis itu pernah menghabiskan waktu bersama memandang pemandangan Tokyo. Aku kemudian membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat didalamnya. Dalam diam aku membacanya.

Untuk sahabatku yang paling baik, Yamada Ryosuke..

Yamada kun, bagaimana keadaanmu? Ku harap kau sehat-sehat saja..
Ketika kau baca surat ini, mungkin kita belum bisa bertemu lagi untuk beberapa saat. Aku hanya membutuhkan waktu untuk aku bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasakan perasaan yang lebih besar dibanding persahabatan untukmu… namun aku tidak tau, apakah perasaan ini benar atau salah… karena kau bukan lagi Yamada Ryosuke, tetangga ku yang dulu. Kau adalah Venus yang bersinar terang di langit sana…
Karena itu, aku membutuhkan waktu untuk menata kembali perasaanku padamu. Ku harap kita bisa bertemu kembali segera…
14 Februari tahun ini, jam 4 sore… aku menunggumu di tempat kenangan kita waktu kecil.. semoga kau masih ingat tempat itu. Karena seperti yang kau tau, aku sangat menyukai tempat itu..
Jika tahun ini tidak bisa bertemu, aku masih akan menunggumu 14 Februari berikutnya,,, aku akan menunggumu..

Sahabatmu,,

Aku menghela napas dengan panjang kemudian melipat kembali surat itu. Tiga hari lagi 14 Februari. Dia hanya harus bersabar untuk tiga hari. Namun,,, tempat kenangannya dimasa kecil? Dimana? Apakah di dekat rumah? Dimana tempat masa kecil kami yang paling disuka gadis itu? …………… disanakah?

**Yamada POV end**

**Asuka POV**

Aku memandang kearah kalender diatas mejaku. Tiga hari lagi 14 Februari, aku tersenyum memandangnya. MP3 yang ku sambungkan ke speaker dalam kamarku, mengalun sebuah lagu dari Hey!Say!JUMP.. tanpa sadar aku bersenandung sambil mengepak baju – bajuku kembali kedalam koperku.

Tiba – tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk.

“Masuklah…” kataku masih sibuk dengan pekerjaanku.

Sesosok gadis masuk kedalam kamarku. Gadis itu langung duduk ditempat tidurku sambil memandang pekejerjaanku.
“Kenapa?” tanyaku padanya.

“Ah.. cepat kali kau akan pulang lagi ke Jepang… kau baru seminggu di Indonesia, dan besok kau akan kembali…” kata gadis itu. Kyomoto Mai, sepupuku.

Aku tersenyum sambil melemparkan bantal ke arahnya. “Kenapa? Takut akan rindu padaku?” tanyaku padanya.

Gadis itu menjulurkan lidahnya dan melemparku kembali dengan bantal itu. “Enak saja… aku hanya kesal karena mulai besok aku akan kembali menjadi pembantu tanpa gaji karena kau tidak ada… padahal aku merasa bebas karena ada kau..” kata gadis itu.

“Dasar kau…” kataku padanya.

Sudah seminggu aku berada di Indonesia. Rencana semula untuk berdiskusi dengan ibuku mengenai keputusanku untuk berhenti bekerja dan melanjutkan sekolah lagi, juga mengenai jurusan yang akan ku pilih itu. Di Indonesia, ibu tinggal dirumah nenek ku, dan otomatis memang ada pamanku dan keluarganya yang memang tinggal disini.

“Eh? Tiga hari lagi valentine kan? Kau sudah punya orang yang ditaksir belum?” tanya gadis itu.

Aku memandangnya dengan tatapan bertanya. “Kenapa memangnya, bukan urusanmu kan?” jawabku santai.

“Ah.. kau tidak asik.. ayolaaah. Sepertinya sudah ada kan? Iya kan?” tanya gadis itu lagi.

Aku hanya tersenyum. Dan ketika dia bertanya tadi, aku memikirkan seseorang di Jepang sana.

“Hei, Asuka! Katakan padaku.. seperti apa orangnya…” kata gadis itu lagi.

Aku meraih ponselku dan memperlihatkan sebuah foto padanya. “Ini, yang ini..” kataku padanya sambil menunjuk salah seorang dari mereka.

Gadis itu yang tadi melihat dengan antusias tampak manyun ketika aku menunjukkan foto Hey!Say! JUMP padanya.

“Yeee… kalau itu aku juga ada dong.. Itu, si Daiki.. dia pacarku itu!” kata gadis itu.

Aku tertawa mendengar kata – kata gadis itu. Sudah ku duga dia tidak akan mempercayainya. Aku hanya tersenyum sambil memandang foto itu kembali sebelum meletakkan kembali ponselku di tempat tidur.

“Mai, tolong buatkan teh untuk ayahmu, mama sedang sibuk..” teriak seseorang dari luar yang pasti adalah ibunya Mai.

“Iya ma, sebentar..” kata gadis itu. “Kau lihat kan,, kau baru akan pulang besok, tapi aku sudah kembali disuruh-
suruh.. sudahlah, aku keluar dulu..” sungut gadis itu sambil berjalan keluar.

Aku hanya tertawa kecil mendengar gadis itu dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Hingga satu pakaian terakhir dan aku langsung menarik resleting tas itu hingga tertutup. Aku kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil memandang kembali ponsel ku itu. Sebentar lagi… apakah dia masih ingat tempat itu? Jika pria itu mengingatnya, maka aku akan memastikan perasaanku ini benar adanya… namun jika dia tidak datang? Beranikh dirinya berharap?

**Asuka POV end**

**Author POV**

14 Februari, pukul 3.50 JST sore…

Sesosok gadis berjalan selangkah demi selangkah sambil memandang pemandangan sekitarnya. Gadis itu tersenyum melihat banyak anak – anak berseragam dan topi kuning berjalan bersama, bahkan ada yang sambil bergandengan atau pun berkejar – kejaran. Gadis itu hanya tersenyum sambil tetap terus berjalan.

Cuaca saat itu cukup dingin, gadis itu merapatkan sedikit mantelnya dan tangannya di masukkan ke saku mantel itu agar mendapat sedikit kehangatan. Hingga tiba saatnya gadis itu berhenti tepat dibawah sebuah pohon yang usianya sudah sangat tua. Gadis itu tersenyum sambil menyentuh pohon tersebut dan memejamkan matanya, menikmati angin yang menghembus wajahnya.

“Percuma saja kau begitu, pohon itu tidak akan hidup lalu memelukmu…” kata sebuah suara yang muncul tiba – tiba bersamaan dengan pemilknya dari balik pohon itu.

Gadis itu tempak kaget lalu segera membuka matanya. Sosok yang menyapanya tampak tersenyum sambil memandangnya sambil bersender di pohon yang tadi di pegang oleh gadis itu.

“Hisashiburi da na… kau ini benar – benar yah. Tidak ada kerjaan lain selain pergi tanpa pamit atau menghilang tiba-tiba…” celetuk pria itu namun gadis itu masih diam sambil memandangnya.

“Banyak tempat bagus di Tokyo ini,,, tapi kau memilih tempat ini sebagai tempat favoritmu. Apa kau begitu suka dengan SD ini?” tanya pria itu lagi.

Gadis itu masih memandang pria di depannya ini dalam diam. Namun Ia segera menguasai dirinya sendiri dan berdehem pelan. “Kau datang…” katanya pelan.

“Kenapa? Kau berharap aku tidak datang?” tanya pria itu dengan nada jahilnya.

Namun gadis itu hanya menjawabnya dengan tersenyum. Gadis itu lalu berjalan mendekati pohon itu kembali dan menyentuhnya pelan.

“Kau ingat? Beberapa tahun yang lalu… ditempat ini kau menemukan aku sedang menangis setelah dijahili oleh teman-teman yang lain… sejak saat itu kita banyak menghabiskan waktu bersama di tempat ini. Untuk ku, ini adalah tempat yang penuh kenangan, karena aku menemukan sahabat baikku ditempat ini.” Kata gadis itu.

Kemudian dia berbalik dan memandang pria dibelakangnya yang juga sedang memandanganya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian gadis itu berkata lagi. “Aku masih ingat kau pernah berkata sesuatu di tempat ini kepadaku… sebuah janji. Waktu itu kita masih sangat kecil dan aku tidak menganggapnya serius untuk saat ini. Dan aku yakin kau pasti sudah lupa… aku sangat menyayangi tempat ini..” kata gadis itu lagi.

Pria itu menghela napas kemudian mendekati gadis itu dan meraih tangannya perlahan dengan satu tangannya dengan tangan lain masih tersimpan dalam saku celananya.. Gadis itu terkesiap, namun dia tidak berani untuk menarik tangannya dari genggaman pria itu. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling menatap satu sama lain.

“Anak perempuan yang dulu kutemui ditempat ini, anak perempuan yang sedang menangis tersedu dengan baju yang kotor karena dijahili teman-temannya, anak perempuan yang cukup rapuh dan aku tau dia butuh perlindungan…sejak saat itu, aku ingin selalu menjaganya dan menjadi tempatnya untuk bersandar dan mengucap sebuah janji padanya… namun sepertinya saat ini sosok itu sudah menghilang dan berganti menjadi sosok yang kuat dan tegar..” kata pria itu.

Gadis itu hanya bisa menunduk dengan tangannya masih tergenggam erat oleh pria itu. Pria itu kemudian menampilkan smirk jahilnya sambil melihat sosok gadis di depannya masih menunduk.

“Selain itu, sepertinya gadis itu juga berubah menjadi sosok gadis yang cukup nakal. Dia selalu pergi sesuka hatinya dan menghilang entah kemana, kemudian dia akan muncul kembali dengan wajahnya yang polos dan tanpa rasa bersalah…” kata pria itu yang cukup membuat gadis di depannya itu mengangkat kepalanya dan menatapnya. Senyuman di bibir pria itu semakin lebar melihat itu semua dan akhirnya dia mengulurkan tangan yang sejak tadi tersimpan ke tangan yang sedang digenggamnya dengan erat itu. “Karena itu… aku ingin mengikat gadis itu agar dia tidak bisa pergi seenaknya dari sisiku lagi…” kata pria itu.

Jantung gadis itu berdegup dengan sangat kencang dan semakin kencang saat dia melihat sebuah benda manis sudah melingkar di jarinya. Sebuah cincin.

“Ku mohon… tetaplah berada disisiku. Setidaknya tetaplah berada ditempat dimana aku bisa melihatmu… kau tau, selama kau menghilang aku benar-benar frustasi? Sepertinya semua yang ku lakukan tidak ada yang benar.. karena itu. Aku tidak ingin lagi melepas tangan ini sampai kapanpun…” kata pria itu sambil menatap gadis di depannya dengan tatapan memohon.

Bulir air mata itu pun mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Bukan air mata kesedihan,, namun sebuah air mata kebahagiaan. Kini dia yakin, perasaannya tidak salah. Dan dia yakin keputusannya memang tidak salah karena jawaban itu kini jelas di hadapannya.

“Kalau begitu, jangan lepaskan…” kata gadis itu. Segera gadis itu memeluk pria di depannya ini.

Pria itu menyambut pelukan gadis itu dan membalas pelukannya dengan erat. Dia yakin berada dengan keputusan yang tepat. Dan gadis itu memang gadis yang tepat untuknya.

“Ne, Asuka…” panggil pria itu.

“Euhmm?” jawab gadis itu.

“Kimi no koto ga daisuki… kore kara zutto isshou ni ii yo…” kata pria itu.

Dalam pelukannya, gadis itu tersenyum dan mengeratkan pelukan itu sambil mengangguk. “Un un.. Ryo-kun mo koto ga daisuki… soba ni itte kureta, arigatou..” kata gadis itu.

Mendengar itu pria itu semakin tersenyum dengan perasaan semakin lega. Begitu juga dengan gadis itu yang tersenyum dalam pelukan pria itu.

Wasuretemo doko ka ni aishiatta nukumori aru
Even if we forget, somewhere along the road, the warmth of having met and fell in love with each other still exists
Nando mo omokage futoshita sono shunkan ni
When we have traveled far and wide

Honogurai hate ni wa kibou no kagi ga aru kara
There will come moments when we suddenly encounter those traces
Tadoritsuita sono haruka saki
The key to hope lies at the end of darkness
Tada asu dake o shinjiteru
So I simply place my trust in tomorrow

Omoide wa yowasa mo tsuyosa mo keshiki mo nurikaete yuku yo
I keep painting my memory afresh with weaknesses, strength, and scenery that I see

Hanaretemo yoake wa hikari wo tsurete kuru kara
Even if we are separated, the dawn comes carring light
Namida o tokashite omoi tsutawaru made
I let my tears melt away, until my feelings are conveyed
Iki isogu koto sae kimi no tame da to omotteta
I used to live my life in a rush, thinking that everything was for your sake
Moshi sekai no ura hanaretemo todaenai kizuna kanjite
Even if we come to live on two different sides of the world, hold on to this eternal bond between us

Tada asu dake o shinjiteru
I simply place my trust in tomorrow

***

**Epilog**

Sesosok anak laki-laki sedang duduk dibawah sebuah pohon sambil menatap bekal makanannya. Tatapan anak laki-laki itu tampak berbinar melihat isi bekal makanannya. Namun belum sempat dia akan mencicipi makanannya, anak itu mendengar suara tangisan. Anak laki-laki itu lalu menutup kembali bekal makanannya dan mencari sumber suara tangisan tersebut. Ternyata suara tangisan itu berasal dari balik pohon tempatnya berada. Disana tampak sesosok anak perempuan sedang menangis tersedu dengan bajunya yang kotor dan penuh lumpur.

“Kimi,,, daijobu ka?” tanya anak laki-laki tersebut sambil menghampiri anak perempuan yang sedang menangis itu.

Anak perempuan itu masih tetap menangis sambil memeluk tas sekolahnya dan hanya memandang anak laki-laki itu sekilas.

“Daijobu ka? Doushite? Nande nakuchatta yo? Apa kau terjatuh? Ada yang sakit?” tanya anak laki-laki itu sambil menunduk dan mendekatkan wajahnya pada anak perempuan itu.

“Hiks… Takeru menjahiliku. Dia mendorongku jatuh ke genangan lumpur… hiks..” jawab anak perempuan itu sambil menangis.

“Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?” tanya anak laki-laki itu lagi.

Anak perempuan itu hanya menggeleng dengan pelan. “Tapi bajuku kotor…” jawabnya.

Anak laki-laki itu melepaskan blazer seragam sekolahnya, kemudian menyampirkan di atas kemeja yang sedang dikenakan anak perempuan itu. “Sekarang sudah tidak apa-apa kan? Nanti kau kutemani bertemu guru dan mengganti bajumu, bagaimana?” kata anak laki-laki itu.

Anak perempuan itu berhenti menangis dan mengangguk pada anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu kemudian mengambil barang-barangnya dan meletakkannya disamping anak perempuan itu dan duduk disebelahnya.

“Aku Yamada Ryosuke, kelas 1-A yoroshiku.. namamu siapa?” tanya anak laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.

“A…aku Koizumi Asuka, kelas 1-B yoroshiku..” jawab anak perempuan itu sambil menyambut tangan anak laki-laki itu dan ikut tersenyum.

“Mulai sekarang, kau tidak usah takut lagi. Aku akan selalu menjagamu. Karena mulai sekarang, aku akan menjadi pahlawanmu, ne Asuka-chan..” kata anak laki-laki itu.

“Hontou? Yakusoku?” tanya anak perempuan itu.

“Yakusoku desu..” jawab anak laki-laki itu sambil menyodorkan kelingkingnya dan disambut oleh anak perempuan itu.
Keduanya lalu tertawa bersama.

“Asuka chan, mou tabebta? isshou ni tabeyou.. Hari ini kaasan memasakkan makanan kesukaanku…”

“Eh? Ii no?”

“Mochiron,,, ini ambil lah..”

“Arigatou… oishii desu…”

***

END
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s