[Multichapter] LOVE CHAINS (Chapter 8)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 8
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~

COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
CHECK CHAPTER SEBELOMNA KALO LUPA YAAAA~ SOALNYA INI DAH PENDING 4 BULAN..LOL

LOVE CHAINS
~Chapter 8~
cover bunda 7

^Tokyo’s Park…. current time : 04.00 PM^

“Sudah menunggu lama?” tanya Yuya ketika ia sampai di tempat janjiannya dengan Sora. Gadis itu tampak sudah menunggunya.

Sora menggeleng, “Aku baru saja datang, kok, sensei…” sapanya canggung.

“Jangan panggil Sensei disini… kita disini…” Yuya terkekeh pelan, “pasangan, kan?”

Seketika wajah Sora merona merah, lalu mengangguk malu-malu.

Sore itu rencananya Yuya mengajak Sora menonton film di bioskop. Sudah lama sekali kegiatan ini tidak pernah ia lakukan. Sepertinya sudah berabad-abad lamanya ia tak pergi bermain. Seluruh waktunya tersita di Rumah Sakit, dan bila libur tiba, Yuya memilih untuk bermalasan seharian di rumah.

Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dirinya punya pacar. Ia masih ingat siapa mantannya, tapi tak ingat waktunya. Sepertinya kerja keras sudah menyita waktunya selama ini, sehingga ia lupa rasanya jatuh cinta. Tapi dengan Sora, entah kenapa timbul kembali rasa hangat ketika melihat seseorang, atau walaupun tak ingin Yuya selalu memikirkan gadis itu.

‘Aneh juga rasanya jatuh cinta..’ gumam Yuya dalam hati.

“Takaki-san…” panggil Sora.

Yuya menoleh, “Ya?”

“Ayah dan Ibuku bilang ingin bertemu denganmu, nanti.” Ucap Sora sambil tersenyum.

Yuya mengangguk-angguk, “Baiklah jika aku tak sibuk, ya?”

Sora tersenyum, “Mereka datang hari ini tiba-tiba… mungkin ada kabar soal kakakku…” gumam Sora, namun Yuya bisa mendengarnya.

“Ada apa dengan kakakmu?”

Sora menggeleng pelan, “Tidak kenapa-kenapa, kok..” ucap gadis itu lalu melangkah menuju tempat pembelian popcorn dan snack ringan serta minuman sebelum masuk ke teater.

Yuya menahan lengan Sora, “Ngomong-ngomong… jangan panggil aku Takaki-san…”

Sora menoleh menatap si pria yang jauh lebih tua darinya itu, “Lalu?”

“Karena aku panggil kau Sora…” Yuya menggantung kalimatnya.

“Ehm… Yu—ya?”

Yuya mengangguk puas, sedangkan wajah Sora berubah menjadi merah merona karena malu dan canggung. Hubungan mereka tampaknya berjalan cukup cepat dibandingkan dengan apa yang dibayangkan oleh Sora.

Sepanjang film berlangsung Sora akui dirinya tidak bisa konsentrasi sepenuhnya pada apa yang ada di layar. Yuya menggenggam tangannya, merapatkan tubuhnya dengan Sora hingga nafas Yuya terasa di telinganya, membuat dadanya berdebar tak keruan.

“Sehabis ini, kita mau kemana?” tanya Sora ketika film sudah selesai dan mereka berada di luar gedung bioskop.

“Kita makan malam, ya? Sudah jam delapan…” katanya sambil melihat ke jam tangannya.

Sora hanya mengangguk dan berjalan mengimbangi langkah Yuya yang terkesan terburu-buru.

“Eh, gomen.. hahaha…” Yuya tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Sora berhenti ketika Yuya juga berhenti, “Ada apa Yuya-kun?” tanya gadis itu bingung.

Yuya tiba-tiba meraih tangan Sora dan menggenggamnya, “Aku kebiasaan berjalan cepat di Rumah Sakit…” katanya masih terkekeh karena kebodohannya.

Sora jadi ikut terkekeh, “Tidak apa-apa kok,”

Yuya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa hari ini ia sangat canggung, apa karena sudah lama ia tidak berkencan?

Ketika baru sampai di restoran, mereka pun mengambil tempat di dekat jendela, beberapa saat kemudian ponsel Yuya berdering.

“Sora… anou…” wajah Yuya tampak menyesal.

“Ada apa?”

“Pasien gawat… aku harus ke Rumah Sakit…” ucapnya takut-takut.

Namun Sora tersenyum, “Pergilah… cepaattt!!” serunya sambil berjalan ke arah Yuya dan menarik tangannya.

Yuya serta merta berdiri dan meminta maaf sebelum akhirnya berlari keluar, meninggalkan Sora sendirian di meja makan itu.

“Mau pesan?” tanya si pelayan sesaat setelah Yuya pergi.

Sora tersenyum dan memesan banyak makanan malam itu, untuk melupakan kenyataan bahwa kini ia sendiri, di kencan pertama mereka.
===================
^Sora, Riisa, Asuka’s Apartement…. Current time : 09.56 PM^

“Tadaima~” Asuka masuk ke apartemen dengan sedikit bingung, Sora sudah bilang akan berkencan, dan setahunya malam ini Riisa ada ER, tapi pintu tidak terkunci.

“Okaeri… Asuka-chan…”

Mata Asuka tak percaya, akhirnya ia bertemu lagi dengan Ikuta-san, Ibu dari Sora dan Ryuta.

“Okaa-san…” ucap Asuka lirih, disambut pelukan hangat dari perempuan paruh baya itu.

“Apa kabarmu, nak?” kali ini Ayah yang bicara, muncul dari ruangan dalam.

“Otou-san…” sambut Asuka, “Aku baik-baik saja…” jawab Asuka sumringah.

Ketiganya pun melepas kangen, memang Asuka sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri karena hubungannya dengan Ryuta cukup serius, Asuka beberapa kali bahkan menginap di rumah Ryuta kala itu.

“Kenapa tidak mengabari aku kalian akan kesini?!” seru Asuka, ia belum sempat membeli apapun untuk mereka.

Ibu tersenyum, “Sudahlah tak usah repot-repot… lagipula kita kemari dadakan sekali kok, Sora saja tidak tahu…”

“Iya…kami dipanggil pihak Rumah Sakit…”

Setelah mendengar kata-kata itu seketika ruangan menjadi hening. Asuka tahu apa yang sedang mereka bicarakan karena tidak mungkin mengenai hal lain. Atmosfer terasa aneh dan Asuka pun hanya menatap kedua orang tua itu dengan pandangan bingung.

“Besok kau juga harus datang… kita ungkap kasus ini…ne?”

Asuka hanya bisa mengangguk.

======================

^Tokyo Hospital… current time : 09.00 AM^

Opi turun dari mobilnya dan bergerak masuk ke lobby Rumah Sakit. Ia baru saja dari Rumah Sakit lain setelah ada panggilan darurat dari sana. Sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah semalaman menjalankan operasi, ia berjalan melambat karena merasa menangkap bayangan seseorang.

Seseorang yang sudah ia hindari hampir tiga tahun ini kini malah ada di hadapannya.

Untuk apa ia kesini lagi? Pikiran Opi kalut, ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang itu. Bukan karena Opi sudah benci, lebih karena perasaan bersalah setelah meninggalkannya, menjauh dan merasa terbebani. Ketika ia membutuhkan seseorang lebih dari apapun, Opi meninggalkannya karena keegoisan dirinya.

“Opi-chan!” Opi tersentak seketika. Ia berbalik dan menemukan seorang ibu paruh baya menyapanya.

“Sa-sakurai-san…” ucap Opi kelu, rasanya badannya lemas seketika.

“Apa kabarmu, nak?” tanya Ibu itu ramah, seperi bertemu teman lama saja.

Opi mengangguk pelan, ia menjawab dengan suara sepelan mungkin, mencoba menghilangkan nada cemas.

Setelah itu pertemuan itu pun benar-benar terjadi.

“Ada apa sih, bu? Ribut-ribut?” Sebuah kursi roda menghampiri mereka, seorang Sakurai Sho ada di atasnya, memandangi Opi.

“Jadi, apa kabarmu?” tanya Sho ketika Ibunya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Walaupun keduanya enggan, namun ia bisa melihat kerinduan yang mungkin gengsi untuk mereka akui.

“Baik,” jawab Opi singkat, tak berani menatap Sho.

“Yokatta ne~ baguslah kau baik-baik saja,” tambah Sho.

Lalu keheningan itu muncul. Tak ada yang berani berbicara, keduanya hanya saling berpandangan tanpa sanggup mengungkapkan apa yang ada di otak mereka berdua.

“Kau…apa kabar?” tanya Opi takut-takut.

Sho tersenyum, sukses membuat Opi mengingat kembali sosok Sho empat tahun lalu, yang memberikan cincin tunangan untuknya.

“Baik, seperti yang bisa kau lihat, aku tidak berhasil berjalan kembali…” Sho masih tersenyum, menatap Opi yang duduk di hadapannya.

Nada suara Sho yang sebenarnya biasa-biasa saja diartikan lain oleh Opi, rasanya pernyataan itu menyalahkan dirinya.

“Souka…”

Keheningan itu kembali membuat suasana di tempat itu tidak nyaman, terutama bagi Opi. Ia ingin sekali segera kabur dari tempat itu, namun ia juga tidak menemukan alasan untuk meninggalkan Sho di taman itu sendirian.

Baru saja Sho akan berbicara, tiba-tiba suara ponsel Opi memecah keheningan itu, segera Opi mengangkatnya karena tahu itu dari ruang ER.

“Gomen Sho… aku harus pergi…” ucap Opi tampak buru-buru.

Sho kembali menyunggingkan senyumnya, “Douzo… aku tahu kau sibuk…”

Tanpa pikir panjang Opi segera berlari masuk, meninggalkan Sho yang memandangi punggung wanita itu dari kejauhan.
===============

^current time: 12.00 PM^

“Operasi mendadak…” keluh Sora sambil duduk di meja makan tempat Riisa juga sedang makan.

“Yo!” sapa Riisa cuek.

Sora duduk lalu menyomot sebuah potongan apel yang ada di piring makan itu.

“Jadi semalam kencan dengan siapa? Kenapa Asuka-chan tidak mau memberitahuku?” keluh Riisa kesal karena semalam Asuka main rahasia-rahasiaan dengan dirinya.

Sora terkekeh pelan, “Rahasiaaa~” ucapnya sambil memeletkan lidahnya.

TUK!

Sora merasa pukulan halus mendarat di kepalanya, ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang datang, Keito sudah duduk di sebelah Riisa.

“Ini makan siangmu…” ucap Keito sambil menyimpan satu nampan berisi makan siang untuk Sora, Keito pun membawa satu nampan lagi untuk dirinya.

“Terima kasih dokter Keito!!” seru gadis itu riang.

Keito hanya mencibir dan mulai makan.

“Lihat tuh wajahnya jelek sekali kalau mencibir seperti itu…” kata Sora mengadu pada Riisa.

Riisa hanya terkekeh.

“Hideyoshi Sora-san… makan siang hampir habis.. kau ada pertemuan kan setelah ini? Cepat makan!!” kata Keito tegas.

Sora manyun tapi akhirnya menurut juga dengan kata-kata Keito.

“Kau seperti ayahnya Sora saja, ya…” goda Riisa membuat Keito tiba-tiba tersedak, “Uhuk!”

Riisa segera memberikan segelas air mineral sementara Sora terbahak-bahak melihat wajah Keito, “BAKA!!” umpat Sora keras.

“Sepertinya seru sekali…” sebuah suara membuat Sora serta merta terdiam, sosok yang bicara itu kini duduk di sebelahnya.

“Takaki-sensei!!” Sora dan Riisa berteriak bersamaan.

Yuya terkekeh melihat wajah Sora yang merah padam karena ketahuan terbahak keras tadi, ia menyetuh pelan kepala Sora, “Ketemu nanti sore ya… aku sudah selesai makan… ngomong-ngomong suara tertawamu lucu…”

Sukses membuat wajah Sora merah padam sementara Riisa menatap keduanya dengan pandangan aneh.

“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Riisa dengan nada datar.

Keito tak bisa mencegah Sora berkata setelahnya.

“Kau mau tahu aku kencan dengan siapa, kan? Yuya-kun sudah jadi pacarku!! Hehe…”

Kali ini walaupun Sora terkekeh, Riisa merasa hal itu sama sekali tak lucu.

=================
^Canteen at Tokyo Hospital… current time : 01.00 PM^

“Meru..kau sudah baik-baik saja?” Fujigaya ada di dapur dengan seorang staff yang terpaksa ia cari ketika Meru tidak masuk selama beberapa hari ini.

Meru mengangguk dan mengambil apron merah miliknya, menatap ke arah meja yang selalu dipakai oleh Shige, pria itu, pria yang membunuh ibunya.

“Kalau ia datang, aku akan langsung panggil suster untuk menjemputnya,” ucap Fujigaya seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Meru.

Meru menoleh ke arah Fujigaya, lalu menggeleng, “Sudahlah… aku tidak apa-apa kok, dia juga tamu jadi jangan usir dia…” jawab Meru lalu kembali ke tempatnya memasak.

Fujigaya terus memandangi Meru yang masih terlihat agak murung, tidak seperti Meru yang selama ini ia kenal. Biasanya gadis itu berisik sekali memarahinya, memintanya mengambil ini-itu, mengomelinya jika masakannya kurang pas. Ia ingin mengembalikan senyum Meru, walaupun itu berarti harus merelakannya bersama Shige, jika itu bisa membuatnya tersenyum kembali.

“Anou… Fujigaya-kun…” panggil seseorang, Fujigaya bergegas ke pintu untuk melihat siapa yang datang, ternyata Miki membawa sebuah kertas pesanan.

“Miki-chan, maaf aku melamun,” Fujigaya mengambil kertas yang ada di tangan Miki, “French Fries dan milk shake rasa strawberry,” gumamnya, ia segera menoleh dan melihat Shige duduk disana, masih di meja yang sama, memandnag ke arah luar jendela.

Meru sadar apa yang Fujigaya gumamkan, ia segera menghampiri Fujigaya, dan melihat orang itu, ia melihat Shigeaki Kato duduk di antara para pengunjung, masih di tempat yang sama.

“Biar aku…” Fujigaya hendak menawarkan diri ketika Meru mengambil pesanan yang sudah dipersiapkan oleh asisten baru di tempat itu.

Seketika tangan Fujigaya menahan lengan Meru, “Tidak… jangan, Meru-chan…”

Meru tersenyum ke arah Fujigaya, “Aku harus kesana… harus…”

Fujigaya menyerah, ia membiarkan Meru menghampiri Shige. Punggungnya semakin lama semakin menjauh dari Fujigaya, lalu berhenti di depan meja Shige.

“Kato-kun…ini pesananmu..” ucap Meru dengan nada sedikit bergetar.

Shige memandangnya lama, lalu mengangguk, “Arigatou, Meru-chan,” lalu ia tersenyum seakan sudah lupa dengan kejadian yang menimpa mereka tempo hari.

Meru hanya bisa diam, ikut tersenyum pada lelaki pembunuh itu. Sudah berapa hari ia tak bertemu? Kenapa rasanya ia malah rindu padanya?

====================
^Tokyo’s Hospital… Current time : 03.30 PM^

“Hospital Hall”

Ruangan untuk konferensi itu terlihat sibuk sejak tadi. Lalu lalang orang-orang keluar masuk sepertinya akan ada acara di dalam ruangan tersebut. Beberapa perawat masuk membawa beberapa dokumen dan kudapan, mungkin ada rapat atau semacamnya.

Yuya melangkah masuk ke ruangan, melihat sekilas ke arah kursi-kursi kosong, ruangan ini kosong, tapi entah mengapa ia merasa sesak. Semua orang kali ini akan menghakiminya, pikir Yuya.

“Dokter Takaki, silahkan tunggu dulu di ruangan sana,” ucap Miu menghampiri Yuya yang sejak tadi terlihat melamun saja.

“Miu-chan, kau mengagetkan aku…” balas Yuya, lalu mereka berjalan pelan beriringan.

“Kau harus tenang Yuya, aku ada disana.. aku melihat semuanya…” ucap Miu menguatkan sambil menggenggam tanagn Yuya sekilas.

Yuya mengangguk, ia tidak sendirian, pikirnya. Sambil duduk, ia melihat banyak dokter masuk kemudian. Yabu ikut duduk di sebelah Yuya dan berdehem pelan, membuat Yuya menoleh.

“Jangan katakan yang aneh-aneh…” bisiknya.

Yuya tak menjawab dan membiarkan dirinya berkonsentrasi pada pertemuan saja daripada mendengar ocehan Yabu.

Setelah semua dokter dan staff senior masuk, pintu kembali terbuka, dua orang paruh baya masuk dan duduk di hadapannya, walaupun jaraknya cukup jauh, ia bisa merasakan kedua orang tua itu tak suka padanya.

“Terima kasih sudah jauh-jauh datang, Hideyoshi-san…” ucap salah seorang dokter senior yang ditugaskan sebagai moderator.

Kedua orang tua itu mengangguk.

“Baiklah…”

Belum dimulai, tiba-tiba pintu kembali terbuka, dua orang dokter trainee yang tak asing bagi Yuya masuk ke ruangan. Yuya heran, bukankah ini hanya dihadiri oleh dokter dan staff senior saja?

“Maaf.. kami terlambat,” suara itu keluar dari Asuka.

Tiba-tiba Yuya merasa canggung, Sora menatap Yuya yang duduk di kursi pesakitan, matanya terbelalak dan wajahnya terlihat sangat bingung.

“Kami putuskan bahwa adik dan pacarnya Ryuta juga akan menghadiri rapat ini,” ucap Ayah Sora mantap.

Hideyoshi Sora.

Namanya Hideyoshi, pikir Yuya mulai mengerti kenapa Sora ada disitu.

Pertemuan dimulai, dan Sora masih saja terlihat bingung. Beberapa kali dirinya mencuri pandang pada Yuya yang duduk di tengah-tengah ruangan itu.

“Baiklah Takaki sensei, bisa anda ceritakan bagaimana kronologisnya saat Hideyoshi Ryuta-san masuk ke emergency room karena kecelakaan? Anda yang bertugas malam itu, kan?”

Sora merasa pandangannya kabur karena air mata yang menggenang. Ia mencintai orang yang sudah membunuh kakaknya.

================
Yuya mengatakan Ryuta sudah sangat parah keadaannya.

Ia menggunakan semua cara untuk menolongnya, walaupun ia tahu itu tidak sesuai dengan prosedur, ia melakukannya demi menolong pasien.

Sora tak bisa membendung lagi tangisnya. Pertemuan sudah usai, dan ia kembali ke ruangan dokter trainee. Ia hanya duduk menelungkupkan mukanya, menangis tersedu-sedu karena tak bisa menerima ini semua.

“Sora… aku sudah dengar…” suara Keito. Sora menoleh dan meraih tangan Keito yang terulur padanya.

“Semua akan baik-baik saja.. oke?” Keito merengkuh tubuh Sora dalam pelukannya, membiarkan Sora terisak hebat.

Tak ada kata-kata lagi yang bisa menyelamatkan Sora hari itu, bahkan Sora diminta untuk pulang saja, Keito pun mengantar Sora hingga ke rumah karena orang tua Sora sudah pulang terlebih dahulu.

“Terima kasih, nak… sudah mengantar Sora,” ucap ibu dengan nada khawatir melihat Sora yang bergelung di pelukan Keito, dalam gendongan Keito dibawa ke kamarnya.

Keito hanya menunduk dan mengikuti Ibu hingga kamar Sora, merebahkan Sora di kasurnya, namun Sora tak mau melepaskan tangan Keito sehingga pemuda itu akhirnya duduk di sebelah Sora dan memeluknya lagi.

“Jangan pergi dulu…” ucapnya sambil masih terisak hebat.

Walaupun hanya bisa memeluknya dan tak bisa menghiburnya, Sora tak ingin Keito menghilang sekarang. Ia masih butuh sahabatnya itu.

===============
^Tokyo’s Hospital… 9.00 PM^

“Kau baik-baik saja?” tanya Miu sambil menyerahkan segelas kopi pada Yuya yang masih diam sejak pertemuan hingga kini.

Yuya mengambil gelas kopi itu dan menyimpannya di atas meja.

“Buruk… aku baru tahu Sora ternyata adik Ryuta-san…” Yuya menghembuskan nafas berat, pikirannya kalut dan galau.

Miu tak menjawab, hanya duduk di sebelah Yuya, menepuk pelan punggung pria itu.

“Kau dengar soal kasus ini tetap akan dibawa ke pengadilan? Proses musyawarah tadi tidak berhasil…” Miu mengucapkannya sangat pelan, seperti berbisik pada Yuya.

Yuya mengangguk lemah, “Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, mereka keluarga korban, aku yang membuat nyawa anak mereka lenyap, maka aku harus bertanggung jawab…”

Miu tak menjawab. Ia duduk di sebelah Yuya, menepuk-nepuk punggung Yuya pelan, “Kau bisa menceritakan semuanya… tapi kau tidak melakukannya kan?” ucap Miu, lebih terdengar menyesali apa yang Yuya lakukan.

Yuya menghela nafasnya dengan berat, “Ini tetap kesalahanku, Miu…”

Miu tahu sudah tidak bisa lagi ia membujuk Yuya. Ia pun beranjak, membiarkan Yuya seorang diri. Sedetik kemudian pikiran Yuya melayang pada wajah Sora sore tadi. Wajahnya yang terlihat tertekan dan sedih, air matanya yang mengalir deras dan bahkan Yuya tak mampu menggapainya untuk menghibur gadis itu.

Cintanya yang baru saja ia mulai sudah kandas hanya dalam hitungan hari.

“Sensei…” sebuah suara lain membuyarkan lamunan Yuya.

“Ya.. Ada apa?” jawab Yuya cepat ketika melihat Riisa berada di depan pintu.

“Maaf mengganggu… tapi… kami butuh dokter senior..”

Yuya mengangguk dan segera berlari ke Emergency Room bersama Riisa. Ternyata memang Sora tidak ada di sana, hanya ada Yamada dan Inoo yang membantunya. Dokter trainee yang tersisa di ruangan itu. Sementara tanpa Yuya harus bertanya, pasti gosip ini sudah menyebar diantara para suster dan dokter, karena semuanya terlihat menghakimi dirinya. Setidaknya begitulah yang ia rasakan.

=================

^Sora, Riisa, Asuka’s place, current time : 01.00 AM^

Riisa masuk ke rumah dan melihat lampu kamar Sora yang masih menyala. Dengan perlahan ia berjalan masuk dan mendapati Keito yang masih memeluk Sora di atas kasur dengan Sora yang sudah tertidur pulas sementara Keito hanya bergumam sambil mengelus pelan punggung gadis itu.

“Maaf…” ucap Riisa setengah berbisik.

Keito tersenyum, “Lebih baik kau ke kamar Asuka. Mungkin dia membutuhkanmu…” ucap pemuda itu sambil menunjukkan bahwa ia tidak bisa kemana-mana karena Sora memeluknya sangat erat.

Riisa mengangguk dan menutup kembali pintu kamar Sora lalu berjalan ke arah kamar Asuka yang terletak tepat di seberang kamar miliknya, ia pun mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Tak butuh waktu lama sampai pemilik kamar menunjukkan dirinya.

Asuka tampak kacau dengan mata sembab dan wajah lesu. Tak salah lagi berita soal Yuya, Ryuta dan rapat memang benar adanya. Riisa memang tidak diundang ke rapat tersebut, tapi di Rumah Sakit biasanya berita tersebar cukup cepat. Riisa yang kebetulan tidak ada waktu lembur ingin pulang dan memastikan kebenarannya pada kedua sahabatnya yang kebetulan bersinggungan langsung dengan kasus yang katanya cukup berat ini.

“Asuka.. kau… baik-baik saja?” tanya Riisa hati-hati.

Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan lemah yang tidak meyakinkan, walaupun sudah tidak menangis, namun sisa-sisa air mata masih membekas di mata dan pipi Asuka.

“Kau mau… aku menemanimu?” Riisa tidak yakin, siapa tahu Asuka memang ingin sendirian.

Namun Asuka mengangguk dan membiarkan Riisa masuk ke dalam kamarnya. Sepanjang malam itu Riisa dan Asuka membicarakan hal-hal lain selain soal Rumah Sakit dan Ryuta atau bahkan Sora.

====================

Pagi itu tiba dengan sangat perlahan ketika Sora merasakan kepalanya terasa berat dan pusing. Mungkin efek terlalu banyak menangis kemarin. Ia mencium aroma khas Keito setelah dirinya sadar berada di pelukan pemuda itu. Sora tak berusaha beranjak ketika Keito membuka matanya juga, terlihat sama lelahnya dengan dirinya namun berusaha tersenyum memandangi Sora yang hanya mengerjapkan matanya menatap Keito dengan takzim.

“Ohayou…” sapa Keito, masih lembut seperti biasanya.

“Gomen,” hanya kata itu yang berhasil Sora ucapkan, namun Keito terkekeh geli karena Sora terlihat lucu ketika bengong menatapnya seperti itu.

Keito menarik dirinya dari Sora lalu menyampirkan selimut yang tersibak dari tubuh gadis itu, “Aku ambilkan sarapan ya… Cuma sebentar…” katanya menambahkan ketika melihat sorot mata Sora yang tak rela ditinggal Keito.

Beberapa menit kemudian ketika Sora masih bergelung dibawah selimutnya, Ayah dan Ibunya masuk ke kamar itu, menemui putrinya yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian kemarin.

“Sora…” panggil Ayah dengan lembut, sementara Ibu mendekati Sora dan membelai pelan rambut putri semata wayangnya itu.

Sora menggeliat dan menatap wajah kedua orang tuanya. Bagaimana jika mereka tahu kalau ia mengencani pria yang sudah membunuh kakaknya sendiri? Walaupun memang Sora tidak pernah tahu dan kemungkinan Yuya juga tidak mengetahui hal tersebut karena ekspresi Yuya saat itu sama-sama kaget.

“Apa pria itu yang Sora bilang ingin dikenalkan pada Ayah dan Ibu?” tanya Ibu nya dengan suara yang sangat lembut. Tidak ada nada menuduh sama sekali.

Sora mengangguk lemah, “Gomen…”

Ayah tersenyum, “Tidak apa-apa. Sora mungkin memang tidak mengenal dia sebelumnya karena Ayah dan Ibu tidak pernah memberi tahumu soal siapa yang bertanggung jawab saat itu. Tapi, Ayah dan Ibu tidak akan memaksamu untuk meninggalkan pria itu. Lagipula belum ada sangkaan apapun kan?”

Sora hanya kembali menangis tersedu-sedu.

Ia mencintai Yuya, sungguh. Tapi kakaknya? Benarkah Yuya membunuh kakaknya?

===================
TBC Lagiiii~
Gak akan lama kok… janji… hahaha
PLEASE LEAVE SOME COMMENTS.. ^^
COMMENTS ARE LOVE..
DON’T BE A SILENT READER…

Advertisements

One thought on “[Multichapter] LOVE CHAINS (Chapter 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s