[Multichapter] Story of Life (Chapter 1)

Title: Story of Life
Type: Multichapter
Chapter : 1
Genre: Romance, Family, Friendship
Author: Nadia Sholahiyah Utami (Miki)
Soundtrack: Perfect Life (Hey Say JUMP) *bisa jadi(?)*
Fandom: JE
Starring: Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Chinen Yuri (HSJ) Inoo Kei (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Tegoshi Yuya (NEWS), Daitoh Shunsuke (Aktor), Suzuki Saifu (OC), Hideyoshi Sora (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakamoto Hitomi (OC), Sato Miharu(OC) dan selentingan orang lewat :p
Desclaimer: hay minna~ kali ini aku bakal ngebuat cerita yg bercampur-campur ceritanya, siapapun nama yang aku pake aku sudah minta izin semua…. Dan di jamin mereka pinjemin :p gatau bakal bagus apa ngga, liat aja yah douzo~

 Story Of Life
~Chapter 1~

Kamar yang indah, dengan cat yang berwarna putih susu itu seketika terang karena efek dari cahaya matahari yang masuk begitu saja tanpa izin oleh sang pemilik kamar, membuat penghuni kamar itu menggeliat sebentar di balik selimut tebalnya, namun entah karena masih mengantuk atau apa, ia pun kembali terlelap di dalam tidurnya. Tanpa perduli cahaya seterang apapun yang menganggunya.
Melihat itu, sebuah tangan kecil mulai menggapai makhluk tidur itu dan mulai mengguncang tubuhnya “Fuu-nee~~ bangun dong, kuliah jam berapa hari ini?” tanya nya dengan pelan, seragam sekolah SMU telah membaluti tubuhnya, bertanda sebentar lagi ia akan pergi ke sekolah.

“Siang Miki, jam 2, kamu pergi sendiri tidak apa-apa kan?” tanya si makhluk tidur yang di panggil ‘Fuu’ tadi sambil menarik selimutnya yang mulai terbuka.

“Yasudah, aku pamit, jaa ittekimasu!”

“Un” hanya jawaban itu yang di dengar oleh Miki dari sang kakak nya, merasa tidak ada perlu lagi dari kamar itu, Miki pun bergegas ke ruang tamu lalu mengambil tas sekolahnya. Sebelumnya ia menyiapkan sarapan untuk kakaknya, Suzuki Saifu.

“Ohayou Miki-chan” sapa seseorang saat Miki hendak keluar dari ruang kamarnya. Ia dan Saifu tinggal di sebuah apartement.

Mendengar itu, Miki sontak melihat ke sumber suara, ternyata sensei yang mengajar di sekolahnya yang menyapa Miki.

“Ohayou Sora-sensei” balas Miki.

“Mau pergi sekolah? Barengan aja yuk” tawar sensei itu kepada Miki.

“Iie, nanti ngerepotin.”

“Ngga kok, kan sama sensei Tegoshi”

“Souka….hmm kalian, pacaran ya?” tanya Miki kepada sensei Sora, gadis itu tahu kalau senseinya itu belum menikah, dan juga Miki seringkali melihat kedua gurunya itu sangat akrab di sekolah.

Seketika senyum kecut terpancar dari wajah Sora “hanya,, teman kok”

*****

Jika kalian sering berkunjung ke perpustakaan, apa yang kalian lihat disana? Tentunya buku-buku yang sangat banyak yang berjejer dengan rapi di rak buku bukan? Bagaimana suasana nya? Pastinya sangat sunyi dan tenang bukan?

Tapi siapa yang menyusun buku-buku itu sebenarnya? Tentunya pustakawati dan pustawan yang bekerja di sana, meski  Ia seorang perempuan, tapi ia selalu sabar menghadapi pengunjung perpustakaan yang selalu datang, mengambil buku lalu membawanya ke meja baca, setelah itu ia hanya meletakkan buku itu sehabis membaca tanpa mengembalikannya lagi ke rak. Hal itu lah yang membuat repot seorang pustakawati.

Seperti sekarang, ada seorang pengunjung laki-laki yang sedang asik membaca, namun sambil tertawa keras, sehingga membuat pengunjung yang lain merasa terganggu.

“Maaf tuan, kalau mau bacanya sambil tertawa, lebih baik anda pinjam. Dan membawa buku itu pulang” usul sang pustakawati itu kepada pengunjungnya.

Merasa terganggu, ia pun mulai berdiri dari duduknya, lalu melihat petugas itu. Namun sebelum ia mulai berbicara, pria itu melihat pin nama yang digunakan oleh pustawati itu yang bernotaben perempuan. Sakamoto Hitomi, itulah yang tertulis di sana.

“Oh maaf Sakamoto-chan, kalau aku menganggu mu” katanya.

“Bukan hanya mengangggu ku tuan, tapi pengunjung yang di sini juga, dan saya tanya sekali lagi, mau membacanya dengan tenang? Atau pinjam buku itu dan kembalikan dengan tepat waktu?” tanya Hitomi, kepada pria itu.

Sempat ada keheningan sebentar di antara mereka, pria tinggi itu masih saja memperhatikan Hitomi seperti sedang mengintrogasi “Oh, baiklah, aku akan kembalikan ini. Terima kasih” setelah itu, pria itu pun keluar dari perpustakaan, Hitomi memperhatikan pria itu dari jauh, entah ada perasaan apa di dalam dirinya, tetapi Hitomi ingin sekali melihat pria itu lagi esok hari.

“Ih, aneh” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Nande Saka-chan?” tanya temannya karena melihat keanehan Hitomi.

“Iie, daijoubu Yama-san” namun jawaban itu belum sepenuhnya di percayai oleh teman Hitomi.

*****

Sudah yang kesekian kalinya Miharu mencoba menghubungi suaminya itu, Inoo Kei. Tapi tetap saja handphone nya tidak aktif, jika di tanya. Kemana suaminya itu? tentu saja pasti jawabannya ada pekerjaan.

“Baka!” umpat Miharu kesal kepada handphone nya sendiri. Namun tak lama kemudian sebuah e-mail masuk ke dalam inbox nya, Inoo. Dengan cepat Miharu membuka e-mail itu.

By: Inoo Kei
Subject: gomen
Gomenna , aku tidak mengangkat telpon mu tadi, karena aku ada meeting, nnti malam aku belikan makanan yah?
 
Selalu saja alasannya itu. Cibir Miharu malas.

To: Inoo Kei
Subject: iie
Tidak, nanti malam aku mau menginap di rumah Saifu dan Miki saja.
 

Miki yang saat itu baru datang ke toko CupCake karena baru pulang sekolah, heran melihat Miharu yang manyum-manyun sendiri dengan handphone nya, tidak biasanya teman kakak nya itu berbuat aneh.

“Doishite? Suami neechan selingkuh?” tanya Miki jahil.

“Iie, dia sibuk kerja terus, zzz… aku bosaan” keluh Miharu.

“Memang CupCake nya sudah banyak yang jadi?” tanya Miki, ya Miharu memang bertugas membuat CupCake, dan Miki bertugas menjaga kasir. Terdiam sebentar kemudian Miharu malah berlali kelabakan kearah dapur. “Gawat!! Aku lupa!! Yaampun jangan sampai gosong!!”

Melihat itu, Miki hanya bisa menggelengkan kepalanya, cinta memang bisa membuat kita melupakan segalanya ya? Pikir Miki.

Tidak mau ikut campur soal membuat CupCake, Miki pun mulai berjaga di depan kasir bergantian dengan temannya. Kebetulan tempatnya bekerja dengan sekolah dan apartement nya juga berdekatan, jadi tak perlu repot ongkos dia datang ke toko CupCake.

Pintu toko terbuka, ternyata itu adalah senpainya, mereka sudah sangat akrab, sampai-sampai teman Miki mengira kalau mereka berpacaran, padahal tidak sama sekali.

“Chinen senpai? Mau beli apa?” tanya Miki ramah.

“Cake Capucino nya dua ya.” Pesan Chinen, setelah di rasa Miki cukup, ia pun memberikan pesanan itu kepada Chinen.

“Suka ya senpai?”

“Iie, ini titipan dari kakak ku, katanya untuk temannya”

“Sou ka.. datang lagi ya” ucap Miki ramah sambil menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum. Melihat senyuman itu entah kenapa membuat wajah Chinen memerah.

“H-hai, pastinya” lalu pria itu keluar. Miki menyadari ekspresi Chinen barusan, terlihat manis kalau wajah senpainya itu memerah, mengingat itu. Miki jadi senyum-senyum sendiri.

*****

Daiki melangkahkan kaki di koridor apartement, setelah keluar dari lift itu. Mencari kamar yang bernomor 213.

No. 213

Setelah menemukannya, Daiki pun memencet bel yang ada di dekat pintu kamar itu.

“Dai-chan, cepat sekali aku saja baru bangun tidur” omel seorang gadis yang membuka kamar apartement nya. Tanpa basa-basi lagi, Daiki pun masuk ke dalam ruangan itu. sebenarnya hampir setiap hari Daiki mampir ke apartement temannya itu, salah tapi calon pacarnya. Pikir Daiki.

“Saifu, jangan males dong, sekarang sudah jam setengah satu, pelajaran mulai jam dua. Emang masih bisa ke kampus kalau sudah jam segini?” kata Daiki sambil mendorong tubuh gadis itu ke kamar mandi.

“Eeh, chotto, masih ada satu setengah jam lagi kok, lagian Cuma setengah jam dari sini ke kampus” elak Saifu, lalu ia menuju ke kulkas dan mengambil beberapa buah di dalamnya. “makanlah ini dulu selagi menunggu ku mandi” ucap Saifu sambil melempar sebuah apel ke hadapan Daiki. Lalu sisanya ia letakkan di atas meja makan.

“Sarapan mu?”

“Nanti habis mandi aku makan, biasanya Miki sudah siapin sih” jawab Saifu cuek mulai mengambil handuk.

“Ooh, adik angkat mu itu ya?” tanya Daiki lagi, hanya anggukan yang di jawab Saifu, setelah itu gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi.

Saifu sudah cerita semua tentang kehidupannya kepada Daiki, ia adalah gadis pindahan dari Osaka, bersama adik angkatya. Adik angkat? Ya, Miki adalah tetangganya bila berada di Osaka, kedua orang tua mereka sangat akrab bagaikan saudara dekat. Namun dua tahun yang lalu kedua orang tua Miki mengalami kecelakaan hingga akhirnya mereka pun meninggal.

Dan amanah dari kedua orang tua Miki adalah, meminta agar Miki di jaga oleh kedua orang tua Saifu. Kebetulan karena mereka berdua adalah anak tunggal, jadi apa salahnya Miki menjadi adik angkat Saifu? Hingga Saifu memutuskan untuk kuliah di Tokyo pun, Miki juga ingin ikut melanjutkan SMU nya di Tokyo. Dan penghasilan Miki adalah, bekerja di toko CupCake, sedangkan Saifu, ia selalu mendapat kiriman uang untuk kuliah dari orang tua nya.

Memang Saifu sempat marah kepada Miki karena memaksakan diri untuk bekerja, tapi Miki tetap keras kepala, karena gadis itu bilang ingin mempunyai penghasilan sendiri. Apa daya? Saifu pun hanya bisa pasrah dengan keputusan adiknya itu.

Kembali sadar dari lamunan nya. Daiki pun ingat kalau ia membawa CupCake yang ia pesan dari adik sepupunya tadi, masih terbungkus rapih di dalam plastik, Daiki pun diam-diam memasukan CupCake itu ke dalam kulkas milik Saifu. “Semoga kalian suka”

*****

Sudah satu minggu ini, Hitomi di datangi oleh pria yang waktu itu berisik setengah mati karena tawaannya yang keras. Namun semakin lama pria itu malah semakin dekat dengan Hitomi, tepatnya ingin mendekat kepada gadis itu.

“Sakamoto-chan, apa di sini ada komik?” tanya pria itu sambil tersenyum, tapi tetap saja ketampanan nya tidak hilang.

“Ada, tapi sedikit” jawab Hitomi seadanya. Hal itu bukan karena Hitomi malas berbicara dengan pria itu, tapi karena….jantungnya berisik kalau dengar suara pria itu.

“Bisa tolong cariin? Aku kan tidak tahu” walau sedikit mencibir, namun Hitomi tetap saja membantu pria itu ke tempat komik-komik yang berada di perpustakaan nya.

“Kore, sudah kan? Silahkan di pilih yang mana mau kau baca tuan, saya tinggal” Hitomi berlalu dari hadapan pria itu, namun langkahnya berhenti karena pria itu menahan tangannya, sehingga membuat Hitomi berbalik lagi di hadapannya.

“Nama ku Daito Shunsuke, jangan panggil aku tuan lagi ya mulai sekarang” katanya sambil tersenyum di hadapan Hitomi, nafas gadis itu tercekat karena wajah pria yang bernama Daito itu sangat dekat dengan wajahnya.

“Ba-baiklah Shunsuke-sama” sial, Yamada lagi kuliah pula, umpat Hitomi dalam hati.

Masih mengenggam tangan Hitomi, Daito mulai mencari-cari komik yang ingin dia baca. “Habis ini temani aku makan CupCake ya?”

“Ta-tapi Shunsuke-sama”

“Tidak ada alasan… nanti aku minta izin dengan manager mu” good! Hitomi mulai tidak bisa melakukan apapun lagi.

*****

Lagi dan lagi, Miharu mampir ke apartement Miki dan Saifu, dan mereka berdua sudah tahu pasti alasan Miharu datang ke sana, pasti karena bertengkar dengan Inoo Kei. Suami Miharu.

“Mau sampai kapan kalian seperti ini? Padahal yang aku tahu senpai ku ini romantis waktu dulu sama Inoo-san” keluh Saifu kepada Miharu, ya Miharu dulu adalah senpai nya Saifu saat di masa SMU, dan mereka sudah sangat akrab karena satu tempat les pula dengan Takaki sensei yang sekarang katanya sedang mengajar juga di sekolah Miki.

Di tambah lagi sekarang Miki bekerja di tempat Miharu, dan Saifu juga sering datang ke sana sebelum pulang ke apartement, memastikan apakah Miki baik-baik saja atau tidak walau setelahnya Saifu pulang duluan karena beralasan lelah habis kuliah.

“Tanya sama dia kenapa kerja terus? Masa aku setiap malam harus tidur sendirian? Bahkan dia pulang jam satu malam setiap hari”

“Wah, aku curiga…” tambah Miki yang memang sering menjahili Miharu dengan loluconnya itu. Refleks Saifu menginjak kaki Miki.

“Itteeee” triak Miki kesakitan.

“Jangan ngomong sembarangan bodoh, yaah aku menyesal mengangkat mu sebagai adik” cibir Saifu.

“Hehe..gomenne neechan”

“Yaudahlah, tidak apa-apa, aku kekamar duluan ya” belum sempat mendapatkan persetujuan dari Miki dan Saifu, Miharu langsung saja masuk ke dalam kamar, di susul dengan Saifu yang tidak memperdulikan Miki.

Merasa di acuhkan, Miki pun hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai beranjak dari sofa untuk ke kamarnya sendiri. Namun langkah Miki berhenti karena handphone nya bergetar, tanda e-mail masuk.

By: Chinen-senpai
Subject: sekarang
Aku tunggu kamu sekarang di depan bar dekat kampus Waseda ya, tempat kakak ku kuliah. Bantu aku.
 
Sempat menimbang-nimbang sebentar untuk meminta izin dulu kepada Saifu. Namun ia pikir, kalau dirinya saja sekarang di acuhkan, untuk apa dia meminta izin dengan kakak cerewetnya itu?

“Nani?!” mata Saifu terbelalak, membuat Miharu yang tadinya hampir terlelap dalam tidurnya, kini ia kembali terbangun karena triakan Saifu.

“Nande?”

“D-daiki…” kata Saifu gugup.

“Daiki teman mu itu? kenapa dia?” tanya Miharu masih dengan gaya mengantuknya.

“D-dia  bekerja tengah malam di bar..” habis berkata seperti itu, air mata Saifu mulai mengalir membasahi pipinya, Saifu tak menyangka kalau Daiki mempunyai rahasia terhadapnya.

Karena penasaran, Miharu pun melihat laptop yang sedang Saifu lihat dan membuat gadis itu menangis sekarang.

Ternyata di laptop itu terlihat sebuah foto kalau Daiki sedang bermain DJ di sebuah bar. Dan Miharu tahu betul kalau Saifu tidak menyukai pria yang bekerja atau sering datang ke sebuah bar.

“Sabar Fuu-chan” ucap Miharu menenangkan temannya itu, namun Saifu malah beranjak keluar dari kamarnya. Berjalan menuju kamar Miki, diikuti oleh Miharu.

“Miki kemana??” heran mereka berdua saat melihat Miki tidak ada di dalam kamarnya.

*****

Malam itu, sangat dingin untuk Sora  menunggu di taman itu, kenapa dia berada di taman? Itu karena ia sedang menunggu Tegoshi yang mengajaknya ke taman itu. Beberapa kali Sora melihat jam yang melingkar di tangannya dengan manis, pukul Sembilan malam mau apa sebenarnya Tegoshi mengajaknya ke taman ini? Heran Sora dalam hati.

“Gomen menunggu lama” tiba-tiba saja Tegoshi datang di hadapannya. Dan langsung duduk di samping Sora.

“Hey, mau apa malam-malam mengajak ku ke sini?” tanya Sora, tentu saja ia takut kalau nanti ia pulang malam-malam sendirian.

“Bawel, aku ngajak kamu ke sini biar romantis aja hehe” jawabnya dengan santai.

“Romantis? Romantis apanya??” tanya Sora, karena setahunya, di taman itu hanya ada beberapa bangku biasa, dan juga di langit ada bintang-bintang berhamburan bagaikan pasir halus di atas mereka. Tiba-tiba saja Tegoshi berlutut di hadapan Sora.

“Mau menjadi pengisi hidup ku, di masa tua nanti?” tanya nya sambil menyodorkan sebuah cincin di hadapan Sora.

“Ha?” gadis itu masih tak mengerti.

“Jadilah istriku, dan lupakan kalau Takaki adalah tunangan mu” mendengar kata-kata itu, membuat Sora kebingungan sendiri. Di satu sisi, ia dan Takaki Yuya telah bertunangan karena paksaan orang tua, dan di sisi lain. Ia mencintai Tegoshi Yuya yang sekarang sedang melamarnya, namun Sora juga tidak mau melanggar janji kalau suatu saat nanti ia dan Takaki Yuya akan menikah.

“Tidak!!” tolak Sora sambil berdiri dari duduknya. “Aku tidak mau melanggar janji dengan keluarga ku, gomenne” dan setelah itu Sora pergi meninggalkan Tegoshi, yang  diam masih dengan posisi berlututnya.

To Be Continue…

Maap yah kalo gaje ceritanya XD coment di perlukan, don’t be silent rider ok?? Sampai ketemu di chapter duaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s