[Oneshot] Trap or Love

Title: Trap or Love
Type: OneShot
Genre: Romance (15+)
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Soundtrack: Hurry Up! (Hey Say JUMP)
Fandom: Hey Say BEST

Starring: Sato Miharu (OC), Inoo Kei, all Hey Say BEST, Suzuki Saifu (OC), Kanagawa Miki (OC), Chinen Yuri (HSJ).

Desclaimer: domo! Kanagawa Miki desu~/salah/ nadia desu~ saya author gila akan menulis lagi dan lagi ff OneShoot yang menurut aku ini gaje chara nya aku pinjem dulu ya kak Silvia a.k Sato Miharu, tadinya sih mau buat cerita koroshitsuji yang si Ciel nya lgi di skolah Weston, tapi…. Aku kurang bisa ngedapetin feel untuk si Ciel anak licik itu *heh* oke dari pada banyak bacot baca aja yang ada dulu. Douzooo!!!

TRAP OR LOVE
++Run Away Don’t Look Back! Here we go!++

Kelas ramai layaknya pasar, itu sudah biasa di sekolah mana pun, apalagi saat belum adanya guru yang datang. Ada yang bercerita, ada yang sibuk dengan bernyayi untuk menghibur diri dan masih banyak lagi. Tetapi itu tidak berlaku bagi Sato Miharu, gadis biasa yang di mata teman-temannya dia adalah gadis yang sangat pendiam dan pintar, kecuali pelajaran matematika, catat itu. Tapi itu hanya saat dengan teman-teman barunya saja, coba kalau di bandingkan dengan teman akrabnya?

“Saifu~ kau pintar matematika kan?~” tanya Miharu kepada teman sebangku nya sambil memelas, memohon agar bisa di ajarkan teman akrabnya itu, Suzuki Saifu. Iya, Miharu benci dengan matematika.

Saifu yang merasa dirinya di mintai bantuan, mencoba mengambil buku yang sudah di sodorkan Miharu kepada dirinya, melihat tulisan yang ada di dalam buku itu dalam diam. “Ah!..” seru Saifu, mata Miharu berbinar, berharap Saifu mengerti rumus yang ada di bukunya itu. “Aku tidak tahu, bagaimana kalau kau tanya Chinen” Saifu menunjukan temannya satu lagi yang duduk tepat di belakang mereka. Yaah Chinen juga pria pintar di kelas itu.

“Chii-kun…” panggil Miharu basa-basi, “kau bisa?”

“Sou ne..gomenne, aku sudah pusing, pakai rumus apa ini? kepala ku rasanya hampir pecah” keluh pria mungil itu. Chinen Yuri namanya.

“Sudah ku bilangkan? Yang ini! Kau tidak percaya” marah seorang gadis bersuara cempreng yang duduk di samping Chinen sambil menunjuk kearah buku cetak Chinen, menunjukan rumus yang benar untuk di gunakan dalam tugas itu. “…lalu, kalau hasilnya sudah dapat, pakai juga yang ini. Kan sudah di jelaskan kemarin….” Celotehnya lagi.

“Percuma, rumus yang kau gunakan selalu salah, toh akhirnya aku juga yang berfikir..” omel Chinen tak terima. Gadis yang dia ajak bicara itu Kanagawa Miki namanya.

“Chinen! Miki! Urusai no!! aku tidak konsen menghapal untuk ulangan biologi nanti!” seru Saifu merasa risih karena teman nya yang di belakang sangat berisik, Miharu yang merasa dirinya di abaikan, dia mengerucutkan bibirnya. Namun teman-teman nya itu tetap mengabaikan dirinya. Toh dia sudah belajar biologi semalam, sampai dirinya bergadang untuk menghabiskan waktu bersama buku-buku tebalnya itu. Namun tidak dengan matematika, dia juga sama seperti yang Chinen katakan tadi, otaknya seperti mau pecah.

“Aku harus bagaimana?~” keluh Miharu pelan, tiba-tiba seorang pria cantik masuk ke kelas itu. Sambil menenteng tas nya di bahu, terlihat begitu angkuh dan sangat sombong, tapi jangan kira orang seperti itu akan di jauhi. Dia malah banyak sekali penggemarnya. Melihat orang itu, Miharu langsung memiliki ide yang begitu berlian baginya. Dengan gayanya yang sok pintar, Miharu mendekati gerombolan(?) pria yang baru masuk ke kelas itu, mencoba merayu mereka. Siapa tahu saja mereka sudah mengerjakan tugas matematika.

“Anoo saa… tugas matematika … kalian sudah?” tanya Miharu kepada mereka, ada Kota Yabu, pria kurus tinggi itu hanya diam, namun melihat kearah Miharu dengan tatapan curiga, Takaki Yuya, dia malah geleng-geleng dengan bodohnya, Hikaru Yaotome, tidak ada respon, pria itu masih melipat tangan kirinya di dada dan tangan kanannya memegang pensilnya sambil menempelkan di dagunya melihat buku nya yang masih kosong hanya bertuliskan soal matematika, dan Inoo Kei.. pria cantik yang baru saja kita bicarakan tadi, dia malah mengambil earphone nya, mengabaikan pertanyaan Miharu yang di tujukan kepada mereka.

“Hey~ kok pada diam?”

“Aku dengar… namamu Sato Miharu kan? Anak murid yang menerima beasiswa dari sekolahnya, dan artinya kau di terima di sini tanpa tes, tidak bayar, dan artinya kau pintar, tapi kenapa matematika kau masih bertanya dengan kami?” singgung Yabu dengan tajam, gadis yang di ajaknya bicara itu hanya diam, memang benar sih, tapi matematika, itu adalah musuh terbesarnya.

“Anoo itu aku…”

“Apa? Kau menyontek waktu ulangan semester?” potong Yabu dengan nada sinis. Mendengar kata-kata itu yang lainnya tertawa, kecuali Inoo.

“Ssstt,,, sudah jangan kasar dengan perempuan, Kou-chan” Inoo membuka tasnya, mengambil sebuah buku lalu ia berikan kepada Miharu “ini, cepat kembalikan ya, dan ingat, jangan beritahu yang lain” kata Inoo.

Miharu dengan sedikit gugup menerima buku yang di beri Inoo “a-arigatou”

“Jangan sungkan, sudah sana cepat tulis, nanti keburu sensei Kazu datang” kata Inoo lagi memperingati, mendengar itu Miharu sedikit menunduk dan cepat-cepat kembali ke bangku nya. Yabu yang tidak terima dengan perlakuan Inoo kepada Miharu itu ingin protes, namun niatnya tidak jadi karena rupanya Satoshi sensei telah datang, beruntung itu adalah pelajaran biologi.

“Kuso, aku belum belajar!” gumam Yabu kesal.

++That’s Right++

“Kau beruntung bisa meminjam buku Inoo-san, Miharu” kata Saifu kepada Miharu saat mereka sedang berjalan menuju atap sekolah, tempat di mana biasanya makan siang di sana.

“Biasa aja”

“Tidak ada rasa suka?” tanya Miki ikut bergabung, di sampingnya selalu setia ada Chinen, sebenarnya mereka tidak berpacaran sih, tetapi orang-orang banyak yang beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Dia itu playboy” jawab Miharu enteng, ya seorang Inoo Kei memang terkenal suka menggonta-ganti pasangan.

“Tapi aku tidak kan?” tanya Daiki, Arioka Daiki adalah pacarnya Saifu, sebelumnya ia adalah temannya Inoo dan yang lainnya juga, tetapi karena jarang berkomunikasi lagi, akhirnya hubungan Daiki dengan mereka hanya sekedar saling menyapa satu sama lain.

“Tidak juga”

“Apa maksud mu dengan tidak juga?” tanya Daiki tidak terima.

“Yabai…kenapa kalian malah berantem..” elak Miki.

Chinen menjitak kepala Miki “sok dewasa kau, pendek”

“Enak saja, kau juga pendek ya! Jangan mengejekku…” Miharu yang melihat perlakuan teman-teman nya itu hanya bisa menggelang, sudah pada punya pasangan, sedangkan dirinya? Hanya sendiri, tidak, lebih tepatnya belum ada pasangan.

“Enaknya yang pacaran~” sindir Miharu.

“WHUT?! Aku pacaran dengan dia?” seru Miki dan Chinen. “tidak tidak…” lalu mereka menggeleng bersama.

“Kei, apa-apaan sikap mu tadi kepada perempuan itu?” tanya Yabu sewot, saat ini mereka berada di kantin, dan mereka pasti akan memesan makanan dan minuman yang sama.

“Perempuan itu? maksud mu Sato Miharu?” tanya Inoo meremehkan, Hikaru dan Yabu mengangguk.

“Ya, enak sekali dia, kau terlalu baik dengan perempuan itu” sahut Hikaru yang ikut tidak setuju.

“Hei…sepertinya aku tahu…ini jebakan lagi bukan?” tanya Yuya membuka suara, medengar itu Yabu dan Hikaru langsung melihat Inoo dengan tatapan menyelidik. “Ya,,bisa di katakan begitu, besok akan ku tembak dia dengan kata-kata yang meggoda” kata Inoo memasang senyum liciknya.

“Hee..kejam sekali” seru Yuya.

“Bodoh, bukan kah itu Inoo yang ku kenal? Hahaha“ kata Yabu menyetujui pendapat Inoo.

++Your Mine++

‘Sato Miharu, aku menyukai mu, sejak pertama aku melihat mu, dan perasaan itu semakin menjadi saat kau menghampiri ku dan teman-teman ku untuk meminta bantuan tugas matematika, hati ku sangat berdebar-debar saat aku melihat mu dari dekat, mau kah kau menjadi pacar ku? aku harap kau menerima ku. datanglah nanti ke dalam ruang kesiswaan saat jam istirahat, ku tunggu. Yang mencintai mu. Inoo Kei’

“…yang mencintai mu, Inoo Kei, idih… jangan-jangan aku juga yang akan menjadi korbannya” Miharu bergidik ngeri membaca surat yang ia dapatkan di dalam lokernya, meski sedikit ada rasa senang, tapi tetap saja ia harus berhati-hati terhadap pria itu. “Hai Miki, ada pr?” mengalihkan surat itu, Miharu menghampiri Miki yang ternyata sudah cukup jauh di depannya, sama-sama ingin menuju ke kelas. Tanpa ia sadari, ternyata ada sepasang mata yang menyaksikan langkah kaki Miharu.

“Bolehkan, kali ini aku serius?” gumamnya.

“Nani?! Surat cinta?” seru Saifu, Miki, Chinen dan Daiki heboh saat Miharu bercerita tentang surat itu, beruntung teman-teman nya Inoo belum berkumpul di dalam kelas.

“Hai’, apa aku datang ya nanti ke sana?” tanya Miharu sedikit gugup, jujur saja, di dalam hati Miharu ia juga menyukai Inoo tetapi tidak seorangpun yang tahu.

“Menurut ku sih, coba aja dulu” kata Miki. “tapi dia kan playboy” sahut Chinen.

“Playboy itu biasanya ahli untuk memanjakan pacar barunya” Saifu berpendapat, tidak ada jawaban, Miharu masih bingung. “Coba saja dulu, siapa tahu Inoo malah suka nya sama kamu, dan pacaran lamanya sama kamu” Daiki ikut berpendapat, di sambut dengan anggukan yang lainnya.

“Baiklah, mohon bantuannya” gadis itu menangkupkan kedua tangannya.

“HAI!!”

“Arigatou gozaimasu, sudah mau menyukai ku” ucap Miharu sambil membungkukan badannya, Inoo yang berada di depannya, hanya diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Jadi, intinya kau menerima ku?” tanya Inoo, ia mulai mendekat kearah Miharu, bermaksud untuk memepet gadis itu ke dinding, tapi Miharu malah menyingkir dari hadapannya. “Tapi ada satu syarat” kata Miharu, senyuman mulai mengembang di bibir tipisnya.

“Apa itu?”

“Berhentilah memainkan perasaan perempuan, termasuk aku” katanya dengan nada mengancam, Inoo hanya diam, tidak mampu mengucapkan apa-apa, bingung karena harus menjawab apa “Mau?”

“Baiklah, apapun akan ku lakukan” entah apa yang di pikirkan pria itu, tapi akhirnya ia tersenyum juga. Yang penting ia bisa ‘mencoba’ berpacaran dengan Sato Miharu.

++Don’t Love me run! Run away nigedasu nara ima, furikaerazu saa Hurry Up!++

==Run! Run Away Koi ga Kowai nara, Run Away Don’t Look back! Saa dousuru?==

“Tadaimaa” Miharu duduk di atas sofa, melepas sepatunya lalu menggantinya dengan sandal rumah, berdiri dan berjalan menuju kamarnya, merasa sangat lelah ia hari ini, karena di sekolah banyak sekali tugas yang di berikan oleh guru, belum lagi tugas rumah yang di berikan oleh guru lainnya.

“Okaeri, Miharu, mau makan dulu?” tanya sang ibu saat Miharu hendak masuk ke kamar, sang anak hanya tersenyum.

“Aku belum lapar kaa-san, nanti aku makan kok kalau lapar”

“Yasudah, kalau mau makan ambil di meja ya” kata ibu nya sambil tersenyum.

“Hai, wakatta” setelah masuk ke kamar, gadis itu merebahkan dirinya di atas kasur, mengingat apa yang telah terjadi di sekolah tadi, ia berpacaran dengan Inoo Kei? Merasa tidak percaya, Miharu pun mencubit, bahkan menampar pipinya sendiri, agar yakin kalau itu hanyalah mimpi.

“Bukan mimpi… yak! Aku sudah terjebak!” keluh Miharu, menyesal juga ia menerima Inoo menjadi kekasihnya. Sedang sibuk-sibuknya menyesali diri, tiba-tiba handphone Miharu bergetar, menandakan ada pesan masuk.

By: 099-xxx
Subject: ore, Inoo Kei.
Save nomor ku, karena mulai sekarang aku akan sering menghubungi mu, Miharu.

“Rasanya aku ingin bilang putus dengan mu” oceh Miharu dengan handphone nya itu, namun tak punya pilihan lain, ia pun menyimpan nomor Inoo dengan terpaksa.

+++++++++++

Pagi hari di sekolah, sudah biasa kalau melihat pemandangan murid-murid yang masih berkeliaran di luar kelas karena belum adanya bunyi bel sekolah, entah apa yang mereka lakukan, tetapi di satu sudut sedang terlihat empat murid yang sedang asik ngobrol, siapa lagi kalau bukan Inoo dan teman-temannya.

“Aku sudah pacaran dengan dia!” seru Inoo kepada teman-temannya, senyum sumringah terpancar di wajahnya.

“Lalu, dia menerima mu?” tanya Yabu.

“Tentunya”

“Aku tidak sabar, untuk melihat ekpresi sedihnya, saat kau permainkan dia Kei” Yabu merangkul Inoo karena merasa senang, dapat satu korban wanita lagi untuk menjadi hiburan mereka. Namun Inoo hanya diam. “Kei?”

“Kei-chan, aku baru kali ini melihat wajah bodoh mu itu saat mendapatkan ‘mangsa’, ada apa?” tanya Hikaru yang mulai mencurigai sikap Inoo, tidak ketinggalan Yuya juga ikut bersuara “iya, bukannya ini sudah kebiasaan mu? Huh?”

“Tidak..bukan begitu.. maksud ku..”

“Ohayou gozaimasu minna!” seru seorang guru yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelasnya, refleks empat sekawanan itu duduk di tempat masing-masing begitu juga dengan  yang lain. Namun tanpa mereka sadari ada yang mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi, dia hanya mengangguk paham dengan apa yang telah di bicarakan oleh empat sekawan itu. “Ini bahaya”

Pelajaran jam ke dua, saat pergantian guru, semestinya Kazu-sensei hari ini datang untuk mengajar pelajaran matematika, namun entah terlambat atau memang tidak datang, guru yang di gemari oleh banyak siswa karena ketampanan nya itu. Belum juga masuk ke dalam kelas mereka.

Yabu yang memang sebagai ketua kelas bertugas untuk menertibkan teman sekelasnya, mempunyai ide untuk menghilangkan jam kosong, tidak ada nya pelajaran matematika. Ia pun maju ke depan kelas, lalu menuliskan soal matematika di papan tulis yang ia salin dari buku.

“Perhatian! Karena sekarang Kazu-sensei belum datang untuk mengajar kita, aku sang ketua kelas akan mengajukan satu soal, aku mau lihat apakah materi yang telah di sampaikan oleh Kazu-sensei kemarin  sudah paham atau belum” kata Yabu “baik, soal ini akan di jawab oleh…..” mata Yabu mulai menelusuri teman-teman sekelasnya, ingin memilih salah satu teman nya yang akan menjadi korban pelajaran yang sangat sulit ini, seketika satu seringai licik terlihat di wajah Yabu.

“Sato Miharu, coba jawab soal ini” tunjutuk Yabu kepada Miharu yang tepat berada di depannya, namun orang yang di tunjuk itu hanya diam, kaget juga karena dirinya yang akan di tunjuk.

“Boleh bawa buku?” tanya Miharu, pemuda itu menggeleng “ku beri waktu lima menit untuk membaca rumus, sedangkan aku, akan mencari jawabannya juga” lalu Yabu kembali ke tempat duduknya, berusaha juga untuk menyelesaikan soal di papan tulis, tentunya untuk mencari jawaban yang benar, di bantu oleh teman-temannya.

“Kau….apa maksudnya ini?” tanya Inoo berbisik kepada Yabu.

“Ini awal jebakan kita Kei, jangan pura-pura bodoh kau”

Sesuai dengan waktu yang di beri Yabu, gadis itu pun maju ke depan kelas, menulis jawaban beserta dengan rumus yang lengkap, sedangkan Yabu, dia yang sudah selesai dengan jawabannya, hanya bulak-balik memperhatikan yang di tulis Miharu, dengan jawaban dan teman-temannya itu di kertas. Sampai akhirnya selesai, ternyata jawaban Miharu benar semua.

“Selesai” kata gadis itu meletakkan kembali spidol yang ia gunakan untuk menulis di papan ke atas meja guru, hanya diam. Kelas seketika menjadi hening karena melihat jawaban Miharu, namun tak lama kemudian satu tepukan tangan datang dari Inoo.

“Kau pintar Miharu!” serunya, kemudian pandangan yang lain pun beralih dari papan tulis kearah Inoo.

“Nani?” tanya Miharu.

“Yaa anggap saja pujian, biasanya kan kau payah sekali di matematika, tapi kali ini kau menjawabnya dengan benar, kau hebat” kagum Inoo tanpa menyadari tatapan teman-temannya itu kearah Miharu, tatapan benci, tatapan menjengelkan, itu yang terlihat di ekspresi mereka sekarang. Entah apa yang mereka pikirkan.

++++++++

Sudah dua minggu berlalu status Miharu menjadi kekasih Inoo, tetapi pria itu sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih di sekolah, yang ada pria itu malah terus saja jalan-jalan dengan wanita-wanita yang datang menggoda Inoo. Namun, setiap kali mereka berkomunikasi melalui e-mail, Inoo malah terus menggodanya dengan puisi-puisi nya yang indah, dan berkali-kali Miharu mengatakan ingin menghentikan hubungan mereka, jawaban Inoo pasti.

‘Aku tidak mau’

By: Miharu
Subject: –
Hayolah, aku lelah dengan semua tingkah mu yang terus saja bermesraan dengan perempuan lain, lebih baik kita putus, biar aku bisa tenang.

Inoo menghembuskan nafas nya berat, melihat pesan dari Miharu, tidak. Sebenarnya Inoo tidak ingin menghentikan hubungannya dengan Miharu, ingin terus mengirim kata-kata indah kepada perempuan itu, layaknya lirik lagu yang ia rangkai.

Too: Miharu
Subject:-
Ku mohon, aku tidak mau, Miharu….

Tidak ada balasan, setelah Inoo mengirim e-mail itu, sama sekali tidak ada balasan dari Miharu, bahkan sampai malam tiba. “Dia pasti sudah tidur” gumam Inoo pada dirinya sendiri, menarik selimutnya, hingga akhirnya ia terlelap ke dalam mimpi.

Inoo POV

Perkenalkan, nama ku Inoo Kei kata teman-teman ku, aku adalah pria yang berwajah cantik, hey, secantik itu kah aku? Tapi kenapa banyak wanita yang ingin menjadi kekasih ku? entahlah, aku sendiri juga bingung. Tetapi sebanyak apapun wanita yang datang menghampiri ku, dan menggoda ku, tetapi hanya ada satu wanita yang mampu membuat ku tertarik kepadanya, hanya dia yang membuat ku mau menjadi kekasih sejatinya, tingkah lakunya, pendiamnya, bahkan senyumannya, aku menyukai semua darinya. Hingga akhirnya aku memintanya untuk menjadi kekasih ku, namun sayang, teman-teman ku, sebut saja Kou-chan, Yuya dan Hika.

Mereka malah ingin menyakiti hati wanita yang aku sukai itu, meski awalnya aku menolak, tapi mereka mengatakan akan mencelakai gadis itu, hingga akhirnya akupun tidak mempunyai pilihan lain, asal nyawa gadis yang ku sukai itu selamat, aku akan melakukan apapun, meski aku tahu, dia pasti terluka.

Miharu, maafkan aku.

“Ohayou” sapa ku kepada salah satu siswi di sekolah ini dan di sambutnya dengan senyuman senang, yah itu sih sudah kebiasaan ku, menyapa dengan siapapun itu adalah berkah.

“Kei!” panggil Yabu, membuat aku berbalik yang tadinya ingin membuka loker ku, jadi beralih kearahnya.

“Doishite?” tanya ku. Pemuda kurus itu mendekat kearah ku.

“Bagaimana kalau kita mulai hari ini?” kata Yabu, terdengar nada licik dari ucapannya itu.

“Mulai? Apa maksud mu?” tanya ku sedikit tertawa.

“Hayolah, kau jangan pura-pura bodoh” mendengar kata-katanya itu, aku mencoba untuk mengingat apa yang di maksud Yabu. Dan aku ingat, kalau kami pernah membicarakan rencana untuk mengakhiri hubungan ku dengan Miharu. Tidak, aku harap ini jangan terjadi. Dan aku harap tidak akan pernah.

“Nanti sajalah…” elak ku sambil membuka loker ku untuk mengambil beberapa buku.

“Baik, lihat saja nanti” setelah itu Yabu pergi meninggakan ku, lihat saja nanti? Maksudnya? Astaga ini gawat.

Author POV

Sambil berlari, Inoo terus mengedarkan pandangan mata nya kearah yang lain sebelum masuk ke dalam kelas, tidak ada. Orang yang dia cari ternyata tidak ada. Hingga akhirnya, langkah Inoo berhenti di dalam kelas. Seketika itu juga perasaanya lega karena bertemu dengan orang yang sedari tadi di carinya.

“Miharu, pulang nanti dengan ku ya” kata Inoo to the point, sedangkan Miharu hanya diam, bingung dengan maksud Inoo.

“Maksud mu?”

“Pokoknya, tidak ada penolakan kau harus pulang dengan ku, atau kau mau celaka?” kata Inoo yang di akhiri dengan pertanyaan, gadis itu masih diam. Tidak mengerti maksud Inoo.

“Lebih baik kau pulang dengan Inoo-san Miharu, aku khawatir” kata Saifu berpendapat, Chinen dan Miki yang tidak sengaja mendengar kata-kata Inoo, akhirnya mereka pun ikut berpendapat.

“Iya Miharu, untuk jaga-jaga” kata Miki, di sambut anggukan Chinen.

“Yakinlah aku akan melindungi mu” kata Inoo. Miharu berkali-kali melihat teman-temannya, ada rasa binbang di hatinya, tapi kalau dia menolak, Miharu merasa yakin kalau ia akan celaka.

“Oke, kita pulang bersama”

Di belakang mereka ada Daiki yang sejak tadi diam-diam mendengar percakapan mereka, satu senyuman mengembang di wajah cubby nya “syukurlah” gumamnya senang.

++++++++

Lonceng pulang sekolahpun telah berbunyi. Seperti yang di janjikan Inoo tadi, ia dan Miharu akan pulang bersama, namun bukan seperti anak-anak yang lain, yang biasanya berjalan kaki untuk menuju rumah, bersama Inoo, Miharu kini merasakan nyamannya menaiki mobil pribadi.

“Anoo.. Inoo, kenapa kita jalan lewat sini?” tanya Miharu mulai merasa ada yang tida beres, sedangkan Inoo, ia hanya senyum-senyum sendiri masih berkonsentrasi dengan jalan yang ada di depannya.

“Lihat saja nanti, aku yakin kau pasti senang” baiklah, kalau itu benar Miharu pasti akan mengikuti Inoo.

Fuji-Q Highland.

Yah, berada di sanalah mereka berdua sekarang ini, tempat theme park terbaik di Jepang, banyak atraksi yang tersaji di sana, ada Fujiyama, yaitu roller coaster tertinggi di Jepang, yang bisa menjamin siapa pun yang menaiki itu, suara kalian akan habis.

Lalu, Eejanaika yaitu roller coaster empat dimensi kedua yang pernah di bagun di dunia, dan masih ada dua roller coaster lagi yang pastinya tidak kalah seru. Dan terakhir, Inoo dan Miharu memasuki Obake, yaitu rumah hantu yang di design dengan tema rumah sakit, sudah pasti di sana sangat menyeramkan, tidak heran ketika Inoo dan Miharu keluar dari Obake, mereka langsung terduduk lemas di sebuah bangku, lelah karena banyak berlari dan juga teriak tidak karuan.

“Aku capek, tadi itu seram sekali” kata Miharu sedikit lemas, tapi juga dia sedikit tertawa, karena senang. Yah meski seram, tapi ia senang karena hari ini ia bisa kalan-jalan bersama Inoo.

“Tapi senangkan?” tanya Inoo sambil tersenyum, gadis yang di tanyanya itu tersenyum, lalu mengangguk. “Aku beli minum sebentar ya” pamit Innoo saat sebelum ia melihat ada yang menjual secangkir Juice  di dekat mereka, Miharu mengangguk.

Miharu yang di tinggal sendiri oleh Inoo, hanya bisa diam sambil melihat pemandangan di Fuji-Q Highland, ia tidak menyangka akan di ajak jalan-jalan oleh Inoo.

“Permisi nona, sendirian?” tanya seorang pria yang sepertinya masih seumuran dengan Miharu.

“Oh, tidak, aku sama….teman ku” jawab Miharu sambil tersenyum.

“Souka, boleh di sini sebentar? Oh ya ngomong-ngomong nama ku Yamada Ryosuke” pria itu mengulurkan tangannya, lalu di sambut oleh Miharu.

“Sato Miharu desu” katanya, namun entah dari mana tiba-tiba saja kerah baju pria yang bernama Yamada itu telah di cengkram oleh seseorang. Orang itu ialah Inoo.

“Maaf tuan, saya bukan temannya, tapi saya pacarnya” Inoo melihat kearah Miharu dengan tatapan err…kesal? “Miharu, masuk ke mobil” kata Inoo sambil melempar kunci mobil kearah Miharu masih mencengkram kerah baju Yamada.

Miharu mengangkap kunci itu “demo Kei..”

“CEPAT MASUK!!” triak Inoo hilang kesabaran, tidak bisa menolak. Miharu pun akhirnya menuruti kata-kata Inoo.

“Ini apa-apaan? Aku tidak melakukan apa-apa dengan pacar mu” elak Yamada merasa dirinya tidak seperti apa yang di pikirkan Inoo.

“Jadi apa? Mau kenalan lalu pendekatan dan kau akan menjadi pacarnya? Begitu?!” tanya Inoo dengan nada kesalnya, perlahan Yamada melepaskan cengkraman lengan Inoo yang ada di bajunya. Lalu memperbaiki baju nya agar kembali terlihat rapih.

“Dengar, kalau kau memang pacarnya, jadi lah pacar yang baik. Jangan terlalu sensitive” setelah mengatakan itu, Yamada meninggalkan Inoo yang masih diam di tempat. Mencerna kata-kata Yamada barusan.

………..
Tidak ada percakapan apapun di antara Inoo dan Miharu selama perjalanan pulang, Inoo yang masih enggan berbiacara dan lebih memilih berkonsentrasi untuk melihat jalanan yang terhampar di depan mereka berdua, sedangkan Miharu, ia takut untuk memulai pembicaraan, ia takut Inoo kembali marah seperti tadi.

Hingga akhirnya Inoo sendirilah yang mengajukan pertanyaan, “Kenapa kau menerima ku?”

“Maksud mu?”

“Kenapa kau menerima ku menjadi kekasih mu, padahal kau tahu sendirikan? Kalau aku itu bagaimana?”

“Aku pikir… kau tida akan melanggar janji itu” jawab Miharu, ia masih mengingat pemberian janji nya kepada Inoo untuk tidak mendekati wanita-wanita lain lagi, tapi Inoo malah melanggarnya.

“Huh, kau pikir perjanjian tanpa ada sanksi aku akan menepati janji itu? tidak, aku tidak semudah itu untuk menepati janji. Sekarang, kau terjebak” kata Inoo dengan nada sinisnya, lalu memberhentikan mobilnya di tengah jalan.

“Hei, apa maksud mu ini?” tanya Miharu bingung.

“Turunlah, kau bilang ingin mengakhiri hubungan kita kan? Sekarang, pergilah dan hubungan kita selesai, Sato-sama”

“Kei, padahal…padahal aku juga menyukai mu! Aku menyukai mu jauh sebelum kamu mengajak ku untuk berpacaran, kau jahat!”

“Aku tidak perduli!!”

BLAM!

Setalah gadis itu turun, mobil Inoo langsung berjalan dan di jalan raya dengan kekuatan tinggi. Sudah malam bagi Miharu untuk jalan sendirian, tapi apa daya? Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Tanpa sengaja, Miharu merasakan ada Kristal yang menyentuh dirinya. Salju, ternyata musim salju sudah datang.

====

Inoo POV

Teman? Apa maksud Miharu berkata seperti itu kepada orang asing? Jadi aku hanya di anggapnya teman? Betapa sakitnya dada ku saat mendengar kata-kata itu. Jadi selama ini ia tidak menganggap ku sebagai kekasihnya? Kuso, keputusan ku untuk mengakhiri hubungan ku dengannya memang tepat. Karena kesal, akupun mempercapat jalan mobil ku, namun entah dari mana aku tidak sadar kalau ada sebuah truk yang kini ada di hadapan ku, aku coba membanting stir ku untuk mengelak namun.

“Aaaaa”

Brak!!

Gelap, aku tidak tahu apalagi yang terjadi, hanya merasa. Kaki ku sakit seperti ada yang menghimpitnya.

Author POV

Kembali ramai suasana kelas, itu tentu sudah kebiasaan, Miharu yang sudah lama datang ke sekolah dengan santainya berbincang dengan teman-temannya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa kemarin, Miharu hanya berbicara tentang dirinya dan Inoo yang datang ke Fuji-Q Highland.

“Di sana seru!!! Sampai suara ku habis!” kata Miharu meyakinkan teman-temannya itu.

“Aku sih pernah ke sana, tapi udah lama…tapi aku belum masuk ke Obake” kata Saifu menanggapai kata-kata Miharu.

“Katanya Obake serem ya?” tanya Miki.

“Iya, serem banget di situ, design nya rumah sakit”

“Kyaaa~” Saifu, Miki, Chinen dan Daiki begidik ngeri mendengarkan kata-kata teman satunya itu. sedang asi-asik nya mereka berbincang, tiba-tiba Yabu, Yuya, dan Hikaru masuk ke dalam kelas, Miharu yang sadar akan hal itu seketika diam. Takut akan kehadiran Kei di kelasnya, ia sendiri juga bingung harus berekspresi apa saat di hadapan pria cantik itu.

Namun, saat sudah di tunggu-tunggu lama, Inoo sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya, hal itu mengundang pertanyaan kepada seisi kelas.

“Yabu-san, Inoo mana?” tanya Chika, ia adalah perempuan yang menyukai Inoo juga, namun Chika terlalu frontal, sehingga Inoo seringkali menghindari perempuan itu.

“Inoo kecelakaan” jawab Yabu.

“Heee~?” tentu saja itu adalah respon dari teman-teman sekalas, coba lihat eskpresi Miharu, sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi air mata Miharu pasti akan jatuh.

Yabu berdiri dari duduknya dan mendekati Miharu “Sato-chan, aku tahu aku dan yang lainnya termasuk Kei sudah jahat kepada mu, tapi kali ini. Kali ini saja bolehkan aku meminta bantuan dengan mu?” tanya Yabu dengan nada lembutnya, tidak ada suara. Gadis itu hanya mengangguk “Datangilah Kei di rumash sakit, waktu belum siuman dia terus memanggil namamu, dan setelah siuman pun dia menanyakan keberadaan mu, sekarang aku tahu kalau kamu lah perempuan yang di sukai Kei seutuhnya..”

“…maafkan aku, Sato-chan” akhir Yabu sambil menunduk, dan benar saja air mata Miharu tidak bisa di bendungnya, Miharu menangis karena keadaan Inoo sekarang, meski Inoo sudah menyakitinya, tapi Miharu kini tahu kalau perasaan ia dan Inoo sama.

“Iya, aku pasti akan datang” jawab Miharu dengan suara seraknya, menahan tangis.

++Kimi wa Koi ni Ochiteru++

Miharu masuk ke dalam kamar yang di depannya tertulis kamar nomor 226, kamar dimana Inoo di rawat, diikuti dengan teman-teman Inoo dan teman-temannya juga. Terlihatlah seseorang pria sedang terbaring lemah di sana, dengan infuse yang ada di tangan kirinya, dan kedua kakinya di perban.

Ya, Inoo mengalami patah tulang tepat di kedua kaki nya, yang mengakibatkan pria itu lumpuh entah bisa di sembuhkan atau tidak.

“Kei” panggil Miharu, mendengar panggilan itu perlahan Inoo membuka matanya, dan tersenyu, saat melihat Miharu.

“Sato-san, gomenne…sebenarnya, sebenarnya aku menyukai mu.” Kata Inoo dengan sedikit lemas. Miharu menggeleng.

“Baka”

“Kalau mau, ajak Kei jalan-jalan sana biar bisa berduaan” usul Hikaru, di setujui dengan yang lainnya.

“Jadi, kita semua berteman kan?” tanya Daiki kepada yang lain. Sempat hening sebentar di kamar itu, namun akhirnya sebuah tawa terdengar juga dari Yabu.

“Tentunya”

++Your Mine++

Seperti apa yang di usul Hikaru, Miharu mengajak Inoo jalan-jalan di koridor rumah sakit itu, di temani dengan salju yang semakin lama semakin indah di pandang.

Miharu menghentikan kursi roda yang di tompangi oleh Inoo, lalu memeluk pria itu dari belakang.

“Sato-san, maukan member aku satu kesempatan lagi? Aku janji tidak akan seperti kemarin” kata Inoo sambil memandangi wajah Miharu dari samping.

“Bodoh, padahal aku tidak mau”

“Tidak mau?”

“Ya, aku tidak mau kau menjebakku seperti kemarin” kata Miharu sambil mendengus.

“Hahaha…. Kali ini aku tidak menjebak mu seperti kemarin, daisuki” mendengar itu, Miharu tersenyum, dan mempererat pelukannya.

“Daisuki mo” jawabnya, ia tahu kalau Inoo sekarang ini sedang lumpuh, namun ia tak perduli pria itu akan lumpuh seumur hidup atau tidak, yang pasti Miharu hanya tahu kalau ia menyukai Inoo apa adanya.

Owari 

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Trap or Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s