[Minichapter] Gomen ne Daisuki Dakara~ (chapter 5)

Title: Gomen ne Daisuki Dakara~

Chapter : 5
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship.
Rating: PG 15
Cast: Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuka (OC), Akane Miyu(OC). Tamamori Yuta (Kis My Ft2) Dan selentingan orang lewat :p
BETA READ by. DINCHAN
P.S: fanfic ini req dari temen ku kaka Winda, aku terinspirasi sama lagu ‘gomen ne summer’ dari ske48. Aku ambil sedikit, hanyamengambil intinya aja XD. Gomen kalo gaje, gomen kalo ga sedih banget, gomenkalo ga menyentuh banget nih ff XD but, please komen minna….. couse I need comments…. Good reading…
Gomen ne, Daisuki Dakara
chapter 5
+++++++++++++
Yuka POV
Mungkin takdir sedang adil dengan ku, yah walau pun aku sedikit di permainkan oleh takdir, tapi setidaknya aku bersyukur, bahwa takdir cinta ku tidak susah untukku cari, yaitu orang yang selama ini ada di dekat ku,yang selalu ada di saat aku sedih ataupun senang, yang mau menceritakan tentang isi hatinya walau itu membuat ku sakit hati dan kecewa. Tetapi aku sanga tbahagia saat melihat senyum nya saja, senyum untukku yang begitu terlihat menawan di wajahnya.
Kalian bingung, mengapa aku mengatakan bahwa takdir ku adadi dekat ku? dan mengapa aku begitu yakin? Dan sejak kapan aku menemukan takdiritu? sekarang akan ku beritahu, sejak aku berada di kelas satu SMA, aku dan‘dia’ mengikuti klub atletik, karena kami berdua memang menyukai lari, dan suatu ketika kami di suruh untuk berlomba, untuk mengetahui siapa yang paling hebat. Dia antara anak perempuan dan anak laki-laki.
Bersedia!
Ku bungkukan badan dengan topangan kaki kanan di depan dankaki kiri di belakang, sedangkan kedua tangan ku, ku letakkan di tanah menahan badan ku agar tidak terjatuh.
Siap..
Ku condongkan sedikit badan ku, agar mudah untuk berlari.
Mulai!
Ku ayunkan langkah ku dengan cepat, di samping ku sudah ada lawanku, dia sedikit lebih maju dari ku. Tidak mau terkalahkan, aku punmempercepat langkah kaki, namun alih-alih menyusulnya, seketika itu aku hilang keseimbangan. Dan..
BRUKK!
“Aw!” ringis ku saat merasakan sakit di sekitar lutut ku,ternyata terluka. Jelas saja, karena aku hanya memakai aju olahraga yang celananya pendek di atas paha, jadi kalau terjatuh seperti ini pasti lutut ku akan terluka.
Entah karena aku terlalu pusing atau apa, aku merasa ada seseorang yang menggendong ku, membuat tubuh ku terasa ringan, walau harus menahan rasa sakit di kaki ku yang amat sangat
“daijoubu ka?” tanya seseorang yang menggendong ku, tidak sanggup menjawab, aku hanya menunduk menandakan bahwa aku tidak baik-baik saja “sumimasen, apa boleh di tunda pertandingannya?teman ku cedera”
“Baiklah, setidaknya, tunggu dia sembuh dulu”
“Baik, terimakasih”
“Cepat sembuh Yuka” itulah kata-kata dari anggota klub atletik yang lain, entah apa yang mereka lakukan, aku hanya bisa menutup mata, menahan sakit di kaki ku.
=
“Lain kali hati-hati, Yuka…” ceramahnya, aku tidak begitu fokus dengan apa yang dia katakan, karena aku masih kesakitan di kaki ku ini,hanya mengangguk itu lah jawaban ku.
“lagian kau terlalu memaksakan diri tadiuntuk menyusul ku, segitunya kah mau menang?”
“Iya, aku mau menjadi pelari terhebat” jawab ku dengan suara tercekat.
“Kalau begitu, banyaklah berlatih, jangan ulang yang sepertitadi” ia sedikit mengacak rambut ku dengan gemas.
“Kau cerewet Dai-chan” cibir ku tak terima, dia bersifat seperti itu, seolah-olah aku akan jatuh lagi nanti. Masih mengobati luka ku,Daiki tersenyum kearah ku. “itu karena aku sayang kepada mu”
DEG!
Bagaikan ada panah cinta #lebaydikitlahXD yang menancap kedada ku, aku hanya bisa diam, menunduk, bukan karena rasa sakit di kaki ku. Bukan.Tapi. Karena ada yang lebih sakit lagi dari pada itu, yaitu dada ku, sekarangini sangat berisik tepat setelah Daiki mengatakan kalimat itu. ‘Itu karena aku sayang kepada mu’  WHAT THE?! Tanpa ku sadari, aku mencengkram erat dada ku, agar suara dag-dig-dug ku ini tidak terdengar. Tapi masih terdengar juga, sial.
“Yuka, masih sakit?” tanya Daiki yang melihat gelagat anehku, ia pikir aku masih merasakan sakit di lutut ku, tapi itu sudah berkurang sekarang, ada yang lebih sakit lagi, yaitu dada ku yang berisik ini, kalau dada ini ada tombol on offnya inginsekali aku memencet tombol off agar tidak bersuara lagi.
“Iie, d-daijoubu”
“Yosha! Aku beli minuman dulu ya, tunggu di sini” sebelum meninggalkan ku di ruang UKS, Daiki mengacak rambut ku, dan tersenyum. Aku melihat punggung nya yang menjauh dari ku, rasa suka…rasa suka terhadapnya kini sudah tumbuh di hati ku, tapi dia sahabat ku. Apa boleh aku mempunyai perasaan ini terhadapnya?
“Gomen ne” gumam ku menunduk.
….
Itu sudah berlalu, namun sekarang, detik ini, nyatanya aku sedang berdansa di temani dengan music yang begitu indah dan keadaan yang mendukung di sebuah pesta (inget part 4). Bersama Daiki, entah apa yang ia perhatikan dari ku, tapi sedari tadi, mata ku dan matanya tidak saling lepas,terus bertatapan tanpa ada jeda sedetik pun. Hingga akhirnya, musik berakhir,ia menarik ku ke dalam pelukannya.
“D-daiki?” tanya ku heran, dan kaget karena sikapnya.
“Biarkan seperti ini, hanya sebentar” ucap Daiki terdengar lirih, tentu saja aku tidak menolak, karena pelukannya adalah perwakilan untukmenyampaikan perasaan ku, aku harap Daiki sadar akan perasaan ku saat initerhadapnya. Yaitu menyukainya.
AUTHOR POV
Setelah beberapa lama mereka diam dalam pelukan, tanpa peduli ada yang memperhatikan atau tidak, Daiki melepaskan pelukannya dari Yuka, kembali memperhatikan wajah gadis yang ada di depannya kini, namun oknumyang di perhatikan itu, hanya menunduk, diam seribu bahasa.
“Kalian romantis sekali~” suara itu datang secara tiba-tiba,membuat Daiki sedikit menjauh dari Yuka karena salah tingkah, Miyu dan Ueda mendekat kearah mereka. “cocok menjadi pasangan” tambah Ueda yang memang baru bertemu dengan Daiki, sedangkan dengan Yuka ia rasa sudah.
“Ah, ne chigau! (bukan begitu)” bantah Daiki semakin salah tingkah, ia sedikit melirik kearah Yuka yang ternyata sedang tertunduk malu. ‘Bukanbegitu’ kata Daiki bukan maksud dia tidak memiliki perasaan terhadap Yuka, tapihanya membantah kalau mereka belum menjadi pasangan.
“Ah ya! Chigau yo ne, aku dan Daiki hanya sahabat” jawabYuka akhirnya tersenyum, mendengar perkataan itu, hati Daiki menjerit,mengatakan kalau ‘suatu saat hubungan kita akan berbeda, menjadi lebih dekat’tapi ia pikir belum waktunya sekarang, ini masih terlalu cepat.’
Ueda menepuk bahu Daiki dengan kuat “jadi cowok harus gentle… ganbatte” ucapnya menyemangati, seperti nya pengantin baru ini tahu apa yang di rasakan Daiki sekarang, sedangkan Yuka yang sedari tadi memperhatikan, hanya bisa melihat heran apa yang di maksud dengan Ueda.
Miyu menepuk bahu Yuka dengan pelan “kau juga, kalau suatu saat kerja lagi, jaga konsentrasi mu” sindir Miyu tepat sasaran. Yuka yang menyadari sindiran temannya itu, hanya bisa tertawa, benar juga apa yang dikatakan Miyu-chan. Batin Yuka.
“Kalian pengantin baru, kenapa ada di sini?” tanya Yuka mulai bersuara, pasangan yang di maksud Yuka itu-pun hanya saling bertatapan.
“Kami juga ikut berdansa tadi..”
“Ah, soune..” Yuka dan Daiki, menjawab secara bersamaan,author ulang YUKA dan DAIKI. Kaget akan apa yang barusan terjadi, keempat orang itu akhirnya tertawa bersama, mereka merasa ada kedekatan yang lebih, terutama dengan Ueda, karena dia juga baru saja ngobrol dengan pasangan keka- ups sahabat Yuka dan Daiki ini. Ada ketertarikan sendiri bagi pria itu dengan mereka berdua, yang menurutnya kedua sahabat itu memiliki sifat yang sama.Sama-sama menyembunyikan perasaan masing-masing.
“Bentou mu enak sekali~, minta lagi” Daiki mencomot telur dadar yang Yuka bawa sebagai bentou (bekal) nya ke sekolah, meski telur itu asin,namun bagi Daiki rasanya sangat nikmat jika berada di dalam mulut. Yuka yangmerasa makanan nya semakin lama semakin sedikit karena terus di ambil Daiki,akhirnya ia berinisiatif untuk mengambil sekotak pocky yang memang Daiki bawa saat itu. Melihat itu Daiki sewot.
“Itu punya ku” dengan cekatan Daiki menyambar cemilankesukaan nya itu.
“Aku rasa sedari tadi ada yang mengambil makanan ku secara berulang kali, aku tidak sewot tuh,” sindir Yuka dan dengan santainya memakan telur dadar asinnya. Pemuda itu seketika merasa tidak enak dengan perkataan Yuka, ia akhirnya merasa bersalah juga karena perlakuannya sendiri. “Gomen” ucap Daiki menyesal.
“Daijoubu yo, aku hanya bercanda Dai-chan, kau ini serius sekali” Yuka tertawa, merasa geli karena Daiki yang terlalu serius akhir-akhir ini, Daiki lah yang mengajaknya memakan bentou mereka di atas atap, hanya dengan alasan, ingin menghirup udara segar. Tapi sebenarnya berbeda di dalam hati Daiki, seperti yang ia katakan sebelumnya, ingin selalu di sisi Yuka. Yah,kebanyakan orang lain di hati, lain yang di mulut kan?
Melihat Daiki yang hanya diam saja, gadis itu mencurisebatang pokcy Daiki yang memang sudah di buka oleh pemuda itu. “jadi, kalau aku minta juga tidak apa-apa kan?”
“Siapa yang melarang?, ambil saja sepuas mu, tapi ingat jangan lupakan pemilik cemilan ini” ucapnya. Mereka berdua hanya bisa kembali tertawa karena kata-kata Daiki barusan.
.
.
“Ne~ hari ini mulai musim semi ya..”
“Sou, nande?” tak biasanya Yuka meributkan masalah musim semi, merasa aneh Daiki hanya bisa melihat Yuka, yang ternyata gadis itu sedang menatap awan cerah di langit.
“Berarti, ketua klub kita sudah mau lulus..” ucap Yuka terdengar kecewa, Daiki yang mendengarkan itu, dahi Daiki mengkerut.
“Memang kenapa kalau sudah lulus?” tanya Daiki penasaran,memakan sebatang pocky miliknya.
“Klub sepi….tidak ada senpai Yuta-senpai lagi….”
DEG!
Bagai sebuah tinjuan, dada Daiki sakit mendengar kata-kata itu, kenapa harus Yuta-senpai? Kan masih ada Yuya-kun, yang juga senpainya, Taisuke-senpai?Kenapa harus nama orang itu yang ia sebut? Dumel Daiki dalam hati.
Yuka yang merasa terganggu karena sahabatnya itu melihatnya dengan tajam, akhirnya membuka suara lagi “nande?”
Daiki berdiri dari duduknya “Aku mau ke kelas, duluan ya”
“Hey chotto!” tapi terlambat, Daiki sudah lebih dulu turun untuk menuju ke kelasnya.
Saat menuju ke rumah pun, Daiki tidak menunggu Yuka dulu.Biasa nya Daiki yang menunggu gadis itu di depan gerbang sekolah, dan saat Yuka datang Daiki menyambutnya dan mengajak sahabatnya itu untuk pulang bersama,tapi kini tidak, Daiki ingin sendiri, menenangkan pikirannya. Agar dia bisaberfikir positif lagi.
Kono mama SUMMERfutari ni teritsukete iru taiyou
Tetaplah SUMMER kita berdua di sinari terangnya matahari
Pemuda itu tersentak, saat dirinya tidak sengaja mendengar nada merdu seseorang di belakangnya, bila mengingat kata-kata apa yang ia nyanyikan,Daiki hanya bisa diam mematung.
Omoi wa zutto tsudzukuno darou nani ga ate mo
Perasaan ku ini akan terus berlanjut apapun yang terjadi
Semakin lama, perasaanya semakin terhenyak akan kata-kataitu, karena itulah yang ia rasakan sekarang ini.
Kono mama SUMMERharuka na suiheisen no Kanata he
Boku wa hitori deashiato tsukeru suki to iezu ni
Kono mama SUMMER
Tetaplah Summer lebih jauh menuju cakrawala ujung sana
Akupun sendirian menatap langkah kaki, tak mampu bilang suka
Tetaplah SUMMER (SKE48-Gomenne SUMMER *translate*)
Penasaran akan siapa menyanyikan lagu itu, lagu yang mungkin sekarang ia sukai, lagu yang sangat pas dengan perasaannya saat ini, dan juga suara yang menyanyikannya sangat bagus. Daiki pun membalik badannya untukmelihat sosok merdu itu, dan ternyata.
“Yuka” gumamnya, melihat gadis itu berjalan sambil menunduk,sesekali menendang kerikil yang ada di dekatnya. Kebiasaan. Dan masih sedikit bersenandung, menyanyikan lagu  tadi.“lagu siapa tadi?”
Tanya Daiki mendekati Yuka yang secara tidak sadar sudah adadi hadapan tubuh Daiki, merasa kaget. Gadis itu menongak kearah Daiki yang lebih tinggi darinya. “lagu SKE48, nande?”
“Kau mau bilang suka ke siapa?” tanya Daiki seakan mengintropeksi kepada Yuka, jika sedang dalam permainan monopoli. Sekarang ini Yuka sedang mendapatkan kartu yang bertuliskan ‘masuk penjara’. Tidak bisa menjawab, walau tidak melakukan kesalahan, tetap saja ia akan terperangkap kedalam penjara.
“Etto…ano..” Yuka gugup, semakin membuat Daiki naik darah.
“Yuta-senpai kah?” tuduhnya, sukses membuat Yuka melongo.Melihat ekspresi Yuka yang seperti itu, Daiki berpikiran kalau tuduhannya benar. Hatinya semakin terasa terobek jika mengingat itu. Dirinya lelah, tapitidak tahan untuk berlari. Cara menghilangkan pusingnya.
“Dai-chan,,, mau kemana?” protes Yuka karena tangannya tiba-tiba saja di tarik oleh Daiki dengan kasar.
“Ayo kita lomba lari”
.
.
“Terima kasih atas bantuannya senpai…” kata Yamada kepada Yuta yang baru saja bergegas pulang dari rumah nya. Setelah pulang sekolah tadi, Yamada minta di ajari tugas matematika nya kepada senpai nya itu, tidak hanya sekali, tapi Yuta sudah seperti guru privat bagi Yamada, dalam arti kata,hampir setiap hari Yuta datang ke rumah Yamada untuk mengajari adik kelasnya itu.
“Ahaha…jangan sungkan, kau sudah cukup pintar Yama-chan”puji Yuta sambil menunjukan jempolnya kepada Yamada, mendengar pujian itu,Yamada sedikit tertawa. “Soune, yokatta”
Setelah cukup jauh meninggalkan rumah Yamada, pemuda itu berjalan santai sambil menikmati angin musim semi. Mengingat musim semi,artinya dirinya akan menginggalkan sekolah nya itu. Teman satu klub nya, dan meninggalkan Yuka. Hah? Yuka? Mengingat gadis itu entah kenapa membuat wajahYuta sedikit memerah.
Yah, Yuta menyukai adik kelas nya itu sebenarnya, cara gadisitu tersenyum, semangatnya, seakan menjadi ambisi nya untuk bertahan sebagaiketua di klub atletik.
‘Memang orang yang kausukai siapa?’
‘D-Daiki’
Namun, saat mengetahui kalau orang yang di sukai Yuka itu adalah Daiki, dirinya bukannya menyerah untuk mendapatkan Yuka, bohong jika ia tidak kecewa. Tapi justru ini adalah tantangan untuknya, tantangan untuk mendapatkan Yuka. ‘ya, rasanya sakit senpai. Aku menyukainya, tetapi dia menyukai orang lain’. Toh Daiki sekarang sedang mengincar gadis lain. Pikirnya.
Masih diam mengingat kenangan-kenangan nya di sekolah, tanpa sengaja pemuda itu melihat Daiki dan Yuka, mereka sepertinya sedang bertengkar.
“Kau mau bilang suka ke siapa?”
“Etto..anoo..”
“Yuta-senpai kah?”
JLEB!
Apa-apaan ini? Mengapa nama ku di bawa-bawa? Rutuk Yuta dalam hati, karena merasa penasaran, pemuda itu pun akhirnya mengikuti langkah kaki Daiki dan Yuka, yang Yuta tahu itu adalah jalan menuju ke lapangan, tempatdi mana biasanya mereka lari bersama.
“Masaka…”
…..
Ternyata, Daiki dan Yuka benar-benar bertanding lari. Ada kecemasan di dalam diri Yuta terhadap Daiki, yaitu takut adik kelasnya itu akan sesak nafas lagi, dan berakhir di rumah sakit, lalu Yuka kembali kena marah oleh ayah Daiki. Membayangkan nya saja sudah membuat Yuta bergidik ngeri.Kasihan Daiki, pikirnya.
“FINISH!!” seru keduanya, ternyata mereka tidak ada yang lebih dulu, atau di belakang. Posisi mereka sama. Refleks Yuta menutup mulutnya menahan agar tidak berteriak kaget.
“He?” Yuta bingung melihat posisinya sendiri, sama dengan Daiki. Merasa senang, dirinya hanya bisa tersenyum semanis mungkin. “Aku bisa menyusul mu Daiki~”
“Curang, ayo kita ulang lagi”seru Daiki tak mau kalah,melihat Daiki akan kembali berlari, sontak Yuka menarik baju Daiki, membuat posisinya kembali ke semula.
“Dame” ucapnya tercekat, tangan Yuka masih mengeggam erat baju bagian bawah Daiki
“…aku ingin ada di posisi mu, ingin menyatukan bayangankita…”
“…aku tak ingin pisah dengan mu, ku mohon Daiki, aku ingin kita menjadi satu..”
“Daisuki…” Daiki memotong kata-kata Yuka barusan, membuat gadis itu kaget.
“Kau ingin mengatakan itu kan?” tanya Daiki dengan tampang datarnya, tepat sasaran. Yuka menunduk dan mengangguk dengan malu.
Yuta mendengarnya, pemuda itu mendengar apa yang di katakan Yuka kepada Daiki, dan juga pengakuan Daiki kepada Yuka, meski samar, namun pemuda itu bisa mendengar sebagian percakapan kedua orang itu.
“Selamat Yuka, perasaan mu terbalaskan, semoga perasaan kujuga bisa terbalaskan” setelah itu, Yuta meninggalkan Yuka dan Daiki. Yaah meski kedua orang itu tidak menyadari keberadaan Yuta.
Kembali kepada Daiki dan Yuka, melihat reaksi gadis didepannya itu mengangguk, Daiki tersenyum senang. Meski di wajahnya terlihat rasa kesal dan sebal, namun di dalam hatinya ia sedang berteriak senang saat ini. “Ore mo…ugh~” Daiki mengeluh sambil memegang dadanya.
Sadar Daiki sedang tidak baik-baik saja, Yuka dengan cekatan membantu Daiki duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka. “Kau bawa obat?” tanya Yuka panik.
“Di tas,, uhuk aku—sesakhh…” celingukan sebentar, baru lahYuka menemukan tas Daiki dan dengan cepat membongkarnya. Ia menemukan tabung gas kecil yang biasa Daiki pakai saat ia sesak. Namun percuma, setelah berusaha Daiki menyemprotkan gas di daerah pernapasanannya. Gas itu tidak keluar,bertanda benda itu sudah tidak ada isinya lagi.
TBC
Sumimasen~ aku tadinya mau buat ini jadi chap terakhir, tapikarena waktu,,,yaah aku sibuk skrg/ngek tapi aku janji, chap selanjutnya ygterakhir. Hontou gomennasai minna~~~ maap juga kalo susulannya lama…(>/\
Advertisements

2 thoughts on “[Minichapter] Gomen ne Daisuki Dakara~ (chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s