[Ficlet] Antologi Pagi Hari (Dua : Daiki Arioka)

Didedikasikan untuk yang sedang dalam proses menuju, tengah menikmati, baru saja melalui atau sekedar merindukan masa-masa kelulusan sekolah.

Summary: Dan si pemuda menjadi portrait pertama diantara deretan lansekap. Satu-satunya obyek manusia yang diambil melalui mata kamera oleh seorang Saifu Suzuki.
||  i n t r o  ||
            Tahun ketiga, pertengahan semester pertama. Seorang teman kelas meminta Daiki Arioka bertukar tempat duduk karena alasan pandangan mata yang memburuk. Yang menyapanya adalah senyuman gadis manis yang selalu duduk tanpa banyak bicara, di dekat jendela. Tak ada makna, hanya keramahan kawan semata.
            Saifu Suzuki, murid yang menduduki bangku dekat jendela, barisan paling belakang di kelas tiga-dua. Aktif dalam satu klub fotografi sejak tahun pertama dan baru beberapa bulan kebelakang mereka belajar di kelas yang sama.
            Untuk beberapa alasan, Daiki tertarik pada Saifu. Bukan hanya karena senyum dari wajah juteknya yang langka dijumpai, tetapi karena sikapnya yang tenang dan karyanya yang banyak dipuji.
            Mereka tak pernah mengobrol lama, bukan karena enggan menyapa, kikuk atau tak ada ide untuk membuka topik bicara. Kenyataannya, Daiki selalu hilang kata-kata.
            Dua hari
            Lima hari
            Tujuh belas hari
            Keluar dari kelas dan berjalan bersama menuju ruangan klub fotografi membuat Daiki merasa punya teman baru untuk diskusi. Tapi yang paling dinanti adalah senyuman Saifu yang menyapa di pagi hari.
–           s e l a m a t  p a g i –
      “Ohayou,” cukup singkat namun hangat.
            Dari sudut itu sosoknya bagai dimandi cahaya mentari. Daiki mencatat secara mental, pemandangan itu adalah masterpieceberjudul malaikat pagi. Kalau saja ia tak pernah dianugerahi abstraksi  bernama rasa malu, ia pasti sudah mengeluarkan kamera dan beberapa kali menjepret tanpa ragu.
.
| PG-13 | romance | school life | angst |
.
.
Daiki Arioka is officially a member of Johnny’s Entertainment’s Hey! Say! Jump
Saifu Suzuki OC credit by Saya Fukuzawa
.
Antologi Pagi Hari
Dua: Daiki Arioka
Fanfic by Nu Niimura
===
||  s a t u  ||
            Perasaan tertarik naik tingkat jadi menyimpan hati.
            Saifu selalu sampai di kelas lebih pagi. Jujur saja, Daiki sama sekali bukan makhluk yang bisa dengan mudah bangun pagi dan sekalipun dengan konyolnya Daiki berangkat ke sekolah dengan berlari, kedatangannya selalu didahului.
Etoo, Saifu… kenapa kau selalu datang lebih cepat? Menginap di sekolah, ya?“
“Ha ha, mana mungkin. Itu sih, hanya karena aku datang lebih cepat dari matahari—
“Hah? Apa maksudnya? Untuk apa datang kesekolah selagi masih gelap?“ tatapan bingug bercampur tak percaya
            Keesokan hari. Saifu membawa Daiki ke bukit belakang sekolah jauh sebelum bel masuk berbunyi. Saat tanda kehidupan orang disekitar belum terasa sama sekali. Gelap, hanya ada mereka berdua dalam sepi dan udara yang membuat bulu-bulu halus berdiri.
“Jadi kau sering kesini?“
“Ya, hampir setiap hari.“
“Hmm…“
“Rasanya sejuk saat menghirup udara yang belum tercemari…“
“Tapi kan dingin. Kau boleh peluk aku kalau mau. Gratis, kok.“
            Dan Saifu, pipinya menggembung tanda tak suka digoda, tapi Daiki bisa menerka dalam hatinya bermekaran bunga lusinan warna.
Klik. Tanpa perlu hitungan mundur, gradasi hitam mulai luntur. Diganti nuansa jingga yang memanjakan mata.
Klik.
“Yang terpenting dari melihat matahari pagi berarti memulai hari baru. Merasa bersyukur karena dihari inipun kita masih diberi kehidupan.” Tersenyum, tapi matanya tak lepas dari view finderkamera di tangan.
Agak melankolis memang, tapi Daiki tak bisa mengingkari.
Klik. Klik.
Saifu sudah punya beberapa tambahan foto di memori kameranya.
            Saat dingin yang sedari tadi menusuki berganti hangat yang perlahan menjalari, Daiki baru menyadari dialah satu-satunya yang ketinggalan pemandangan cantik disini.
            Indah. Secara makna maupun harfiah.
Klik.
Gadis itu sudah beberapa kali berganti posisi. Mencari sudut pandang yang paling serasi
“Eto, Arioka, kau tak akan menyesal datang kesini…“
            Saat cakrawala diulas semburat cemerlang dengan artistiknya, untuk Daiki, Saifu-lah yang membuatnya indah.
Berbalik karena sejak tadi membelakangi. “…ya, kan?“
Senyumnya yang selalu hangat kembali mekar.
            Dengan latar belakang sinar mentari. Jingga dan terang dan hangat. Dialah Si Malaikat Pagi. Apa yang ditatap tak bisa jadi lebih indah lagi.
–          k  l  i  k   –
Kali ini suara itu milik Daiki.
Satu-satunya gambar yang diambil pagi ini.
“Hey, kenapa jadi potret aku?“
“Soalnya, kalau yang berdiri disana Emma Watson, aku tak bisa dengan mudah dapat posenya!”
“Sini, berikan!”
“Tidak akan. Kecuali bisa mengejarku sampai ke kelas. Ha ha ha!”
===
||  d u a ||
            Semester dua tahun ketiga. Kelas merencanakan sebuah album kenangan untuk beberapa bulan terakhir mereka sebelum kelulusan, dengan tegas menghapus ide video karna lebih sering didominasi oleh beberapa koloni yang haus atensi. Kali ini biarkan saja fotografer dan editor yang bekerja berdasarkan sense mereka.
            Dan siapa lagi yang jadi sukarelawan kalau bukan Daiki dan Saifu. Satu-satunya –ralat dua-duanya aktifis klub fotografi di kelas.
Ne, Saifu, kau setuju, kan? Aku tahu, sekarang kita lumayan sibuk dengan bimbingan belajar untuk test universitas. Tapi ini untuk kelas kita…“
Bagi Daiki, proyek itu berarti lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Tapi lain lagi apa yang dikata si lawan bicara “Ng, aku…“
“Ayolah… Saifu kan suka fotografi, ini bisa jadi kesempatan kita sebagai anggota klub.“
“Preferensiku fotografi bentang alam, jadi tidak suka memotret manusia.“
            Fotografi. Bagi Saifu, menangkap keindahan alam jauh lebih bermakna. Selalu indah dan menyimpan cerita tanpa perlu banyak kata. Berbeda dengan manusia, terkadang palsu, terkadang terlalu menyilaukan dan terkadang terlalu menyedihkan di waktu yang sama.
            Merutuki diri. Kenapa sejak dulu Daiki tak menyadari. Bahwa isi galeri yang diperlihatkan Saifu semuanya berisi pemandangan alam. Dari menara Tokyo di senja hari sampai danau biru di awal bulan Januari. Begitu juga dengan pagi hari di bukit belakang sekolah. Tapi Daiki tak sudi menyerah hanya sampai disini.
Onegai, kalau bukan sekarang, kapan lagi….“
            Gestur tubuh cerminan kegalauan, tapi tak perlu waktu lama untuk menjawab, “Baiklah, aku akan coba.“
“Terimakasih. Mohon kerjasamanya!“
===
||  t i g a  ||
            Bagi Saifu, preferensi menggambarkan jati diri, bukan hanya kebiasaannya bangun pagi, tapi juga keahlian dibalik sikap juteknya yang kadang penuh misteri. “—Foto lansekap bisa saja diambil siang hari, hanya akan jadi kurang optimal. Pada waktu terbit dan terbenamlah matahari ada pada kemiringan yang tepat, pencahayaan alami yang paling pas untuk ditangkap.“
            Tapi Daiki, fotografi-lah yang mengajarinya berkomunikasi. Potraiture. Fotografer dan modelnya. “—Aku senang memotret kebahagiaan. Mungkin di masa depan nanti, aku akan membuka studio dimana pasangan-pasangan pre-wedding banyak meminta jasaku.“ Bukan hanya anak gadis yang boleh banyak bermimpi.
===
||  e m p a t  ||
            Keadaan kelas jadi berbeda, dimana semua siswa menjadi model sementara Daiki dan Saifu petugas dokumentasinya. Nama keduanya selalu dipanggil untuk mengabadikan setiap peristiwa jenaka.
            Atau justru merekalah sentris dari seluruh cerita.
===
||  l i m a  ||
            Tiga minggu berlalu. Saifu tak ada mau perlihatkan hasil jepretan. Sedang ratusan milik Daiki telah berpindah ke komputer siap menerima editan.
Daiki memaksa. Saifu tetap pada pendiriannya.
“Sebenarnya hanya aku yang serius dalam proyek ini, kan?! Seharusnya sejak awal aku tak usah memaksa.“
            Daiki memvonis Saifu harus belajar tentang konsistensi. Saifu mengatakan Daiki tak memberinya independensi.
            Adu argumentasi, tak saling bicara akhirnya jadi solusi.
===
||  e n a m  ||
            Bagaikan cuaca meredup, tak ada pagi cerah untuk Daiki Arioka. Karna sang mentari palingkan muka, enggan sinari pagi harinya.
–          t o l o n g  j a n g a n  b e n c i  a k u –
===
||  t u j u h  ||
            Puluhan hari tanpa sapa terlewati, tapi Daiki selalu mencatat dalam hati. Hingga beberapa hari setelah ujian akhir resmi diakhiri, bangku paling belakang dekat jendela kosong tak berpenghuni.
            Kemanakah perginya si malaikat pagi?
===
||  d e l a p a n  ||
            Hari kelulusan. Beberapa bulan lalu Daiki Arioka memimpikan melalui momen bertabur kelopak merah muda ini bersama Saifu Suzuki. Kenyataannya, hingga detik ini ia sendiri.
Hari kelulusan. Kalau saja Saifu ada dihadapan, ego bisa disingkirkan, mengucap maaf dan memaafkan. Daiki dan Saifu bisa berhaha-hihi mengomentari karya terakhir yang mereka berdua ciptakan.
–          a k u  t a k  p e r n a h  m e m b e n c i m u  –
||  s e m b i l a n  ||
 “Daiki, lihatlah. Hari ini diantar dari percetakan.” album cukup tebal diterima dari seorang teman, sekilas memberi senyum simpati yang sulit diartikan.
a l b u m  k e n a n g a n
            Membuka dan mengamati tiap panel satu persatu. Kaleidoskop. Tiap panel bagaikan mata kamera yang membawa mata menyusuri cerita. Catatan masa muda berbentuk visualisasi dua dimensi.
Itu Yamashita atau yang lebih sering disapa ‘Nocchi’ –dengan warna seragam tim basketnya yang menyala. Kepuasan untuk Daiki, karna berhasil menangkap senyumannya yang langka.
Yoshitaka dari klub manga –walaupun malu-malu, tapi fotonya selalu tampak manis.
Taiyou dan Shoon. Biang onar kelas tiga-dua, tapi mereka populer. Kelas serasa tak hidup tanpa mereka.
Kalau soal pasangan ehm— panel beralih ke dua orang burung cinta. Menghabiskan waktu istirahat dengan makan bekal di atap sekolah. Tersenyum ceria mengacungkan dua jari membentuk huruf ‘v’ tipikal.
Dua sejoli tak harus selalu asli. Terbukti untuk Kota Yabu si ketua kelas dan Kei Inoo –cowok cantik dari klub musik. Foto merekalah yang paling terkesan unik. Keduanya berdiri bersampingan dengan latar belakang papan tulis. Berada dibawah kedua bagian panah raksasa dengan dekorasi motif hati disini-sana. Hasil karya para siswi yang dengan porsi imajinasi luar biasa.
Masih banyak yang lainnya. Semua nampak gembira.
            Baru menyadari sesuatu, semuanya adalah gambar yang diambil Daiki. Benarkah Saifu tak mengambil satupun foto karna masalah preferensi, atau idealisme? Tak masuk akal.
Halaman demi halaman dibuka dengan cepat hingga mencapai beberapa lembar di belakang.
u n t u k  D a i k i
Saat itulah Daiki pertama menemukan protet dirinya. Duduk menunggu saat jam olahraga.
Itu Daiki. Dalam gambar, seragamnya masih mengkilat baru, ingat betul saat itu ia baru kelas satu.
Itu Daiki. Menggendong anak kucing tersesat di jalan dekat sekolah.
Itu Daiki. Menikmati bekal makan siang di kantin.
Itu Daiki. Memperkenalkan diri sebagai anggota baru klub fotografi.
Itu Daiki. Kerepotan membawa tumpukan buku dari perpustakaan.
Itu Daiki. Siap memotret dengan kamera berwarna hitam ditangan.
Daiki, Daiki dan Daiki.
Beberapa halaman hanya berisi potret dirinya ssendiri. Diambil secara diam-diam oleh teman kelas bernama Saifu Suzuki.
[“Preferensiku fotografi bentang alam, jadi tidak suka memotret manusia.“]
Ralat, diambil diam-diam sejak dulu.
Bersama air mata yang mengalir deras, Daiki menyadari perasaannya bukan tak terbalas.
===
||  s e b e l a s  ||
            Semua anggota kelas bisa ditemukan fotonya. Tak adil bila tak ada barang satu yang memunculkan Saifu. Daiki terus mencari diantara halaman yang dibuka.
D a i k i  A r i o k a
            Akhirnya senyum sehangat mentari itu bisa dilihat lagi, walau hanya dalam gambar dua dimensi. Ceria, menguasai satu panel untuk sendiri.
Panel pertama, Saifu berdiri di depan restoran sushi dengan pose memiringkan kepala yang maksudnya sulit dimengerti. Tapi dengan sekali pandang Daiki bisa meneliti, foto itu diambil bukan oleh Saifu sendiri, mungkin orang yang sedang lewat walaupun tak dikenal yang penting pertolongannya bisa dimintai. Daiki ingat, restoran itu tempat yang pernah diceritakan Saifu, “Kalau kita sudah punya waktu luang setelah ujian, kita harus makan disini, Dai Sushi-nya terkenal paling enak.”
Begitu juga pada panel kedua, Saifu justru membelakangi kamera, melihat poster dengan tulisan ‘SHIBUYA ga suki’ pada salah satu tembok di distrik pertokoan. Hal itu pula yang kembali memutar balik ingatnya, “Bagaimana ya, perasaan orang yang bernama Shibuya saat melihat tulisan ini?”
            Kembali meneliti dari panel pertama, semua posenya agak janggal. Daiki memperkirakan foto-foto itu diambil oleh sembarang orang yang kebetulan melintas dan dimintai tolong mengambil gambar.
            ANATA GA DAI SUKI, begitu bila semua kata digabungkan
            Anata ga daisuki. Kalimat itulah yang sangat ingin didengar Daiki dari Saifu, jauh sejak sebelum berhenti menyapa bagai tak saling mengenali.
Sebuah ‘aku-menyukaimu’. Sangat sederhana.
Sebuah pernyataan cinta.
Dari dia yang telah tiada.
            Saat itu dukanya tumpah, melihat senyuman dari orang tercinta. Daiki hanya bisa mendekapnya, lembaran album yang basah oleh airmata.
===
||  s e p u l u h  ||
            Walaupun sedang berada di koridor sekolah, Daiki nekat berlari, membuka pintu ruang guru tanpa permisi, pandangan berkeliling untuk menemukan sosok yang dicari.
           Wali kelasnya, yang memberi tatapan simpati dan tak butuh waktu lama hingga ia menyampaikan berita duka, tentang Saifu.
“Sebenarnya Suzuki sudah lama sakit, karna itu pihak sekolah memberinya keringanan untuk tidak ikut pelajaran olahraga…”
Daiki berusaha tenang, tapi perasaannya berkata lain.
            “Mauna Kea, bukit bersalju Austria, Rocky Mountain. Kau memotret semua ini?! Sering keliling dunia, ya? Sugee!”
            “Bukan. Kakak laki-lakiku yang mengambil foto-foto itu. Aku sendiri, jarak terjauh yang bisa kutempuh hanya seluas kota Tokyo, tak lebih.”
Daiki tiba-tiba teringat percakapannya tempo hari dengan Saifu.
“Beberapa waktu ini Suzuki memang tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Menurut penuturan keluarganya, ia dirawat secara intensif di rumah sakit pusat…” lanjutnya.
“Jadi Sensei, bagaimana keadaan Saifu sekarang?“
“Kami… ikut berduka, Suzuki sudah pergi. Berita kematiannya baru kami terima pagi ini, kami hanya menunggu saat yang lebih tepat untuk menyampaikannya pada para siswa, teman-temannya…“
            Saat itu, Daiki bahkan tak bisa meneteskan air mata atau sekedar berkata-kata. Keluar dari ruang guru setelah memberi hormat pada walikelasnya.
            Di lantai koridor, Daiki kembali terduduk sendiri, kontras dengan suasana suka cita diluar sana. Bersandar pada tembok dingin yang seakan siap dengarkan cerita.
Pikiran Daiki galau dan berduka. Saat melankolis yang membuat album ditangan kembali dibuka. Mencari apa-apa yang mungkin tersisa, dari seorang Saifu Suzuki.
===
||  epilogue  ||
            Saat ini, sama dengan ketika itu, kelopak merah muda bunga sakura berguguran, siswa sekolah berbahagia rayakan kelulusan.
            Untuk Daiki, waktu terasa terlalu cepat berjalan. Hari kelulusan sudah hampir delapan tahun terlewatkan. Suasana seperti demikian membuatnya merasa sakit, membuka memori akan kehilangan.
            Daiki tidak pernah benar-benar merasa kehilangan. Saifu selalu mengunjunginya, ditengah waktu terlelap dan terjaga –saat Daiki merindukannya, terutama saat mentari baru muncul di waktu pagi, Daiki bisa merasakan senyuman Saifu yang hangat menyemangati hari. Ia tak pernah merasa sendiri.
            Hari ini, adalah saat yang sangat dinanti. Pembukaan galeri foto milik Daiki Arioka. Hari ini, akan jadi nostalgia, karna Daiki tak lupa mengundang teman-teman saat di SMA.
            Daiki punya foto yang jadi favoritnya. Dipajang dalam bingkai berukuran besar diruang bagian tengah galeri, masterpiece-nya. Daiki secara pribadi bisa memandangnya lama-lama tanpa mengedipkan mata.
“Kami juga merindukannya….“ sapa seseorang dari balik punggung Daiki.
“Sora-chan!“ yang disapa kontan berbalik dan memberikan pelukan. “Aku tahu kalian pasti datang,“ Daiki melirik pria yang juga berdiri didekatnya bersama si penyapa, tak lain adalah Takaki Yuya. Sudah jauh lebih dewasa, tapi dimata sahabat lama, mereka tetaplah siswa SMA.
“Aku yakin, dia juga senang melihat ini…“ Takaki berkomentar.
“Tentu…“ balas Daiki tersenyum, memandang foto yang dipajangnya. Didalam bingkai, seorang pemuda tersenyum, memegang kamera, mengenakan seragam SMA dengan pemandangan mentari pagi di bukit belakang sekolah yang jadi latar belakangnya.
Daiki memberinya judul ‘Di Pagi Hari‘.
END
A/N: Ada yang bingung sama beberapa adegan terakhir? Silakan baca ulang dengan memperhatikan judul berupa angka XD #trollface #dicekekramerame
Afterall, saya mau minta maaf karena; satu, kalo-kalo angstnya gak dapet; dua, gak banyak masukin unsur fotografinya, kurang referensi, saya bukan anggota club XP #alesan
Makasih banyak buat yang udah baca dan vote, motto motto arigatou, sekarang vote lagi ya, yang banyak, biar authornya semangat! XD #desh
Advertisements

One thought on “[Ficlet] Antologi Pagi Hari (Dua : Daiki Arioka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s