[Oneshot] Never Regret

Title                 : Never Regret
Author             : Dinchan Tegoshi
Type                : Oneshot, SongFic
Song                : Distance, by. Christina Perri
Genre              : Romance *I never change.. tbh.. :P*
Ratting             : PG ajaaa tapi PG-15~
Fandom           : JE
Starring           : Yamada Ryosuke (HSJ), Suzuki Saifu as Yamada Saifu (OC)
Disclaimer       : I don’t own all character here. Yamada Ryosuke is under the label Johnnys & Association. Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC. After 6 months~ Hahahaha.. it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Never Regret

“Ryo-chan… aku… hamil…”

Saat itulah. Diantara ratusan hari Saifu bersama pemuda itu, ratusan malam dan pagi yang ia bagi dengannya, wajah Yamada Ryosuke terlihat panik dan tak mampu mengungkapkan apa-apa. Ia memandang Saifu seakan gadis itu alien dari planet Mars.

“Ryo-chan…”

Yamada mengangkat tangannya, mengisyaratkan Saifu untuk diam, bahwa ia butuh waktu untuk mencerna semua ini, dan seakan tak mau kalah, Saifu melemparkan hasil tespek yang baru saja ia pakai tadi pagi.

“Kau… yakin?” setelah lima menit yang menyesakkan, Yamada akhirnya bersuara.

Saifu mengangguk.

Tiba-tiba Yamada merasa gelap, ia tak mampu berfikir dan seolah otaknya macet.

“Aku ingin anak ini…”

Kali ini Yamada benar-benar terbelalak dan menatap Saifu dengan pandangan memohon. Ia baru 21 tahun dan kariernya di dunia musik Jepang sedang diatas angin. Mana bisa ia menikah dan punya anak sekarang? Ia merasa Saifu sedang panik, ia lalu memeluk pacarnya itu.

“Kita pikirkan nanti ya, Fu-chan…”

Dan setelah beberapa bulan, Yamada sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas apa yang ia pikirkan. Benarkah menikahi Saifu? Atau haruskah mereka menggugurkan kandungan Saifu yang sudah jalan empat bulan itu?

“Maaf aku terlambat,” wajah Saifu terlihat lebih pucat dan badannya lebih kurus

Yamada menyambut Saifu ke dalam pelukannya, menepuk pelan kepala gadisnya itu, “Kau baik-baik saja?”

Dari gelengannya yang lemah, Yamada tahu Saifu tidak baik-baik saja.

“Kau sudah makan?” tanya Yamada lagi.

“Aku tidak bisa makan apa-apa. Rasanya mual sekali….” keluh Saifu sambil mengelus pelan perutnya yang mulai terlihat membuncit.

Hari ini mereka memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan, namun Saifu menolak untuk berangkat sendiri dan mengancam ia tidak akan ke dokter sama sekali jika Yamada
tidak mengantarnya, membuat pemuda itu akhirnya setuju.

Yamada langsung tahu dokter yang memeriksa Saifu kenal dirinya. Beberapa kali ia sempat melirik ke arah Yamada dan terkekeh seakan menertawakan nasibnya. Padahal dokter itu sudah paruh baya dan ubanan pula.

“Kandungannya sehat-sehat saja, tapi sepertinya sedikit kurang gizi. Apa Suzuki-san jarang makan selama empat bulan ini?”

Saifu menceritakan bagaimana ia merasa mual setiap kali akan makan dan jika ia berhasil makan, maka dalam beberapa jam makanan itu keluar lagi sehingga membuatnya sangat merasa tidak sehat. Setelah itu dokter memberikan beberapa saran dan vitamin untuk Saifu minum selama proses kehamilan, ia juga mewanti-wanti agar mereka kembali dalam sebulan untuk pemeriksaan rutin.

“Kau yakin, Fu-chan?” Yamada mengendarai mobilnya cukup pelan kali ini, ia ingin benar-benar bicara dengan pacarnya itu.

Saifu menoleh untuk menatap wajah Yamada, seakan tak percaya kekasihnya selama tiga tahun itu menanyakan pertanyaan bodoh itu. Tentu saja ia serius. Ia tidak mau ambil resiko digugurkan kandungannya. Mungkin bisa menyelamatkan wajahnya dari kedua orang tuanya yang jauh di Osaka sana, tapi ia tidak bisa menanggung rasa bersalahnya karena sudah membunuh bayinya sendiri. Saifu lebih baik mati daripada melakukannya.

“Maksudku… kita masih terlalu muda Fu… aku baru 21, kamu baru 18…”

“Apa kita pernah memikirkannya saat melakukannya? Apa Ryo-chan berfikir begitu sebelumnya?”

Seperti terkena hantaman bogem mentah Yamada merasa dirinya tak berdaya.

Setelah mengantar Saifu ke apartemen, Yamada berangkat ke studio foto. Kali ini untuk majalah Kentang dan ia sepertinya harus ngebut kalau tidak mau terlambat dan dimarahi oleh manajernya. Beruntung jalanan sedang tidak macet, ia sampai tepat pada waktunya.

“Baru saja aku akan meneleponmu…” ucap si manajer menggeleng kesal pada Yamada.
Sedikit merasa bersalah Yamada pun meminta maaf dan berkata bahwa urusannya baru saja selesai. Selama sesi pemotretan itu Yamada harus berkali-kali diingatkan untuk tidak melamun, hari ini ia benar-benar terlihat seperti seorang amatir. Beberapa kali wajahnya tanpa ekspresi dan melamun.

“Mau ikut ke bar?” tanya Yuya saat pemotretan sudah selesai.

Yamada menatap Yuya sekilas lalu menggeleng lemah. Ia sudah janji untuk ke apartemen Saifu malam ini.

“Ya sudah… kita ada di bar biasa, kalau urusanmu sudah selesai, datang saja!” ucap Yuya sambil lalu.

Yamada merasa dirinya seperti melayang. Pikirannya penuh, namun ia tidak bisa memilih apa yang baik untuknya saat ini. Mungkin bicara pada orang tuanya? Manajernya?
Mendadak Yamada mengacak rambutnya. Frustasi. Tanpa disadari ia sudah sampai di depan bangunan apartemen Saifu yang sederhana. Ia segera menepikan mobilnya, mengambil kaca mata hitam dan jaket lalu turun.

Sekali ketuk, tidak ada jawaban.

Lima kali ketuk, kamar itu bergeming seperti tidak ada penghuninya.

“Fu… ini akuuu…” teriak Yamada mulai tak sabar.

Akhirnya perlahan pintu terbuka. Wajah Saifu terlihat sangat pucat, peluh mengalir, sepertinya Saifu mual berat lagi.

Yamada segera masuk dan membimbing Saifu ke kasur. Tampaknya kasur itu sudah dibajiri keringat dan membuat Saifu tak nyaman namun gadis itu tak sanggup mengambil ganti futonnya.

Yamada menyentuh dahi Saifu, “Kau pucat sekali… pasti kau belum makan ya?”

Sepertinya Saifu enggan menjawab, ia hanya bergulung ke samping dan menggeleng pelan.
Yamada membelai pelan wajah Saifu lalu ke dapur untuk menyiapkan bubur untuk gadis itu.
Selama menunggu matang, Yamada sibuk mengganti futon dan baju Saifu agar gadis itu lebih nyaman. Agaknya peran suami siaga sudah merasuki dirinya.

Sambil menyuapi Saifu yang bersandar padanya, Yamada terus membisikkan kata
penyemangat pada Saifu. Mana mungkin ia bisa meninggalkan Saifu dalam keadaan begini? Persetan lah apa yang orang tuanya, atau orang tua Saifu bilang. Kalau Saifu sudah memutuskan untuk menginginkan anak mereka, Yamada pastikan ia akan berada di samping Saifu sebagai supporter setia.

======================

4 years after

“Aku pulang dulu,” sebelum beranjak dari sofa, Yamada merengkuh wajah Saifu dan mengecup pelan dahi Saifu, “Nanti aku telepon…”

Saifu hanya mengangguk, membiarkan ayah dari anaknya itu beranjak dan mencium pipi putrinya sebelum menghilang dibalik pintu. Tak butuh waktu lama hingga Saifu menutup wajahnya, membiarkan air mata itu mengalir hingga ia terisak hebat.

Sudah empat tahun. Walaupun mereka memutuskan untuk menikah, itu hanya sebuah surat di kantor catatan sipil setempat. Namanya sudah resmi menjadi Yamada sejak hari itu. Tapi mereka tidak pernah tinggal bersama, Saifu di mansion yang dibelikan oleh Yamada, dan pemuda itu walaupun sudah keluar dari rumah orang tua masih tinggal sendiri. Kedua orang tua mereka sudah tahu, putrinya pun tahu bahwa Yamada adalah Ayahnya. Hanya sebatas itu, selebihnya mereka tidak pernah seperti suami istri, semuanya rahasia. Terlebih lagi dari manajemen dan fans Yamada.

The sun is filling up the room and I can hear you dreaming
Do you feel the way I do, right now?
I wish we would just give up
‘Cause the best part is falling, call it anything but love

“Telat mulu sih…” ucap Daiki sewot melihat Yamada datang ke Bar malam itu sedikit telat.

Yamada tak menanggapi dan langsung duduk di sebelah Yabu.

“Minum apa?” tanya Yabu. Yamada menyebutkan minuman kesukaannya ketika sedang mumet atau pusing dengan suatu masalah, langsung dipesankan oleh Yabu.

“Tidak lebih baik kita bercerai saja?”

Kata-kata Saifu menghujam di ulu hatinya, bagai tertusuk seribu jarum dan entah kenapa Yamada rasanya ingin menangis. Jujur saja, Yamada harusnya lega Saifu tidak menuntut apa-apa, malah mau melepaskannya begitu saja. Tapi rasanya ia tidak rela. Selama empat tahun ia punya istri yang tidak pernah tinggal bersamanya, namun setiap kali Yamada datang ke mansion itu ia merasa bahagia, terutama bila melihat putrinya yang semakin lama semakin cantik dan enerjik itu.

Atas kesepakatan dua keluarga, Yamada dan Saifu menikah. Untuk menyelamatkan muka keluarga, namun keberadaan Saifu tetap hanya sebatas itu, selebihnya Yamada terus berakting bahwa ia tidak punya pacar atau bahkan istri. Ia pria single berumur 25 tahun, mapan, terkenal dengan boyband besutan Johnnys nya Hey! Say! JUMP. Saifu dan dirinya pernah merahasiakan hubungan pacaran mereka selama tiga tahun, lalu kenapa tidak merahasiakan yang satu ini juga? Begitu pikir keluarga mereka.

Namun tujuh tahun adalah batas kesabaran seorang Saifu. Ia tak kuat lagi terus begini. Toh mau menikah atau tidak juga sama saja. Ia tetap di cap sebagai gadis yang hamil diluar nikah dan tidak punya suami, bahkan harus membesarkan putrinya seorang diri pun Saifu sanggup. Ia kini sudah bekerja di sebuah toko Bakery, menurutnya pekerjaan ini sudah lumayan mapan dan bisa memberi makan Yume.

“Kau melamun terus!” Yamada merasakan tangannya disenggol, dan ketika ia menoleh,
Daiki duduk di sampingnya, “Saifu lagi?”

Daiki tahu semuanya. Mulai dari Saifu berpacaran dengannya, hingga sekarang ia sudah punya anak. Yamada mengangguk untuk menjawab pertanyaan Daiki.

“Jangan pacaran terus! Ayo turun!” seru Yuya pada Daiki dan Yamada, disambut geraman
Daiki yang kesal. Yuya sudah berumur 28 tapi sifatnya masih saja seperti anak belasan tahun.
Ponsel Yamada berbunyi.

Ternyata dari Saifu. Sebuah pesan singkat yang membuat Yamada semakin galau malam itu.

From : Saifu
Subject : (no subject)
Besok pagi aku kirim surat cerai kita.

=========================
Saifu memperhatikan wajah Yume yang masih tertidur pulas. Sudah jam tujuh pagi, ini saatnya mereka bangun untuk bersiap-siap menjalani hari. Saifu ke toko Bakery dan Yume ke tempat penitipan anak.

“Yume sayang… ayo bangun…” Saifu menepuk pelan tangan Yume yang langsung terganggu dan menggeliat. Saifu terkekeh, gaya menggeliat Yume mirip sekali dengan Yamada. Ups!
Kenapa juga dia harus memikirkan pria tak berperasaan itu?

Masih mencoba membangunkan malaikat kecilnya itu hingga akhirnya Yume mengerjapkan matanya lalu tersenyum memandang Saifu. Setelah siap-siap dan agak terburu-buru, Saifu segera meluncur dengan sepeda bersama Yume.

“Ohayou Yume-chan!!” sapa seorang guru muda yang berdiri di depan pintu masuk penitipan.

“Ohayou Opi-chan!!” Yume meloncat-loncat semangat.

“Yoroshiku ne, Opi-chan…” ucap Saifu lalu membungkuk sekilas pada Opi, dismabut anggukan pelan dari Opi.

Setelahnya Yume dipangku oleh Opi dan melambaikan tangan mungilnya untuk memberi semangat kepada Saifu.

Belum sempat ia naik sepedanya, tiba-tiba sebuah mobil parkir tepat dihadapannya, mobil sport kuning, yang ternyata ketika seseorang turun dari mobil itu, dilihatnya Daiki yang lalu menghampirinya.

“Ohayou, Fu-chan…”

Saifu tahu, kalau sampai Daiki mendatanginya, pasti ada masalah gawat dengan Yamada.
Apapun itu pasti Daiki setidaknya tahu bahwa ada masalah diantara mereka.

“Ohisashiburi…” ucap Daiki ketika keduanya sudah berada di dalam mobil. Sepedanya terpaksa Saifu titip di tempat penitipan anak. Mereka tak bisa ambil resiko berbicara di luar.

Saifu hanya tersenyum simpul, “Ryo-chan bilang apa?” ia tak bisa menyembunyikan nada sarkastis dari ucapannya barusan.

Mobil yang dikendarai Daiki meluncur tenang di jalanan menuju sebuah bukit yang Saifu tahu sebagai tempat spesial bagi Daiki, “dia tidak bilang apa-apa. Justru aku kesini mau tanya, kamu ada apa dengannya?”

Saifu membuang muka dan menatap kosong ke pemandangan diluar.

“Hanya satu orang yang bisa bikin dia frustasi dan gak fokus waktu kerja, cuma kamu Fu…”

Sesekali Saifu menghembuskan nafas berat. Ia sebenarnya dulu naksir pada Daiki. Ia dan Daiki satu sekolah waktu SMP, bahkan sempat dekat. Yang mengenalkannya pada Yamada pun, Daiki.

“Aku minta cerai…”

Mendadak mobil berhenti, Daiki menatap Saifu dengan heran.

“Cerai? Fu.. jangan bercanda deh… apa-apaan sih? Kamu siap kalau Yume nanti…”

“Hak asuh pasti jatuh ke tanganku… Ryo-chan tidak akan ambil resiko untuk membesarkan
Yume. Aku akan hilang darinya, lalu dia bisa benar-benar jadi pria single tanpa ada bayang-bayangku…”

“Apa ini karena skandalnya dengan artis pendatang baru itu?” tanya Daiki. Beberapa hari yang lalu memang sempat tersiar skandal Yamada dengan seorang artis pendatang baru.

Saifu menggeleng, “Tidak ada hubungannya dengan itu. Sekarang tolong putar balik dan antar aku ke tempat kerja, aku sudah telat satu jam…” jawabnya tegas. Membuat Daiki tak bisa menolak dan memutar bali mobil sport kuningnya.
=====================

“Sumimasen, Riisa-chan…” Saifu berkali-kali menunduk pada Riisa, seniornya sekaligus manajer di toko Bakery.

Yanagi Riisa hanya tersenyum, “Sudahlah… toh kamu sudah menjelaskan kenapa kamu terlambat…” Saifu sangat bersyukur punya manajer toko sebaik Riisa. Kalau tidak, pasti dia sudah disemprot habis-habisan karena telat hampir satu setengah jam.

Saifu segera masuk ke dapur dan memulai pekerjaannya bersama dua staff lainnya. Diantara tiga pekerja disana, hanya Saifu dan Riisa yang kerja full-time, sementara yang lain hanyalah mahasiswa yang kerja part-time. Itulah yang membuat Riisa dan Saifu menjadi dekat, sehingga Saifu bahkan mempercayakan kisahnya bersama Yamada pada Riisa.

“Minum dulu, Fu-chan…” Riisa menghidangkan segelas coklat panas dihadapan Saifu saat mereka istirahat siang itu.

Sambil menyesap minumannya, Saifu menatap Riisa, “Dia belum menghubungiku.. aku akan ke kantor pengadilan secepatnya…” jelas Saifu pada Riisa.

“Jangan gegabah, kau harus memikirkan Yume-chan..”

Saifu menghela nafas berat, “Sudah terlalu lama… aku sudah tak tahan…”

Riisa mengangguk mafhum. Dia mengerti bagaimana kecewanya seorang Saifu. Walaupun cinta, tapi siapa yang tahan terus disembunyikan? Apalagi ini menyangkut orang yang dicintainya.
=====================

“PAPAAA!!” Yume berlari menghampiri Ayahnya yang datang ke mansion malam itu. Saifu hanya mengangguk sekilas ketika Yamada menyambut Yume ke dalam pelukannya dan menggendongnya.

“Aku tadi lihat papa di TV…” oceh Yume dengan bahasa yang masih terpatah-patah.

Yamada tersenyum dan mengangguk bangga, “Papa ganteng tidak?”

Dengan bersemangat Yume mengangguk, membuat rambut lurus sebahu nya bergoyang-goyang dan matanya menyipit karena senyumanya yang lebar. Saifu mengajak Yamada makan malam, mencoba bersikap biasa dan bahagia di depan Yume.

“Mandilah dulu…” kata Saifu pada Yamada.

Suaminya itu hanya mengangguk dan mengajak Yume mandi bersamanya. Saifu masuk ofuro setelah Yamada dan Yume selesai.

“Yume sudah tidur…” kata Yamada setelah membacakan dongeng untuk Yume, ia kembali ke ruang TV tempat Saifu menonton.

“Oh…”

“Dan kita perlu bicara,” tambah Yamada tegas.

“Bicara apa lagi? Sudah jelas.” Dan tanpa aba-aba Saifu menyerahkan sebuah dokumen dari catatan sipil yang ternyata sebuah surat perceraian.

Seolah tak melihatnya, Yamada tetap fokus pada Saifu, “Sebenarnya ada apa ini? Kita selalu baik-baik saja, kan?” dahi Yamada berkerut, menahan emosinya yang sudah meluap-luap.

“Kau yang baik-baik saja. Aku tidak…”

Yamada menarik nafas, mencoba tidak terbawa emosi.

“Kau mau kita bagaimana? Mengumumkan pada publik bahwa aku sudah menikah? Punya anak? Gitu?” agaknya Yamada mulai kehilangan kontrol emosi.

Saifu mencibir, “Mana bisa? Lalu aku menghancurkan kariermu dan kau punya alasan kuat untuk terus menyalahkanku sepanjang sisa hidupmu?”

Mata Yamada terbelalak, “Aku tak pernah berfikir begitu!”

“Terus saja bohong… aku sudah tidak peduli.. aku… tak sanggup begini terus..” Saifu beranjak dan masuk ke kamar Yume, memeluk malaikat kecilnya itu, mencoba meredam tangisnya.

And I will make sure to keep my distance
Say “I love you” when you’re not listening
And how long can we keep this up?

Ketika Saifu bangun keesokan harinya dengan mata bengkak, ia tak menyangka Yamada masih disitu. Lelaki itu tertidur pulas di sofa, meringkuk masih menggunakan pakaian yang semalam ia pakai.

Saifu mundur beberapa langkah, tapi masih cukup dekat untuk memperhatikan setiap lekuk wajah Yamada. Ia masih mencintai suaminya itu. Sepenuh hatinya. Tapi menghancurkan apa yang Yamada cintai bukanlah pilihan yang tepat. Ia tahu betapa senangnya Yamada berada di atas panggung, bernyanyi dan menari. Betapa ia mencintai fansnya. Sebulan yang lalu Saifu mendapat sebuah amplop misterius, yang isinya menyatakan bahwa ia mengetahui jati diri Yamada yang sebenarnya, dan mengancam akan membeberkan semuanya di media. Saifu limbung, ia tak tahu harus berbuat apa. Lalu ide cerai ini pun terlintas. Jika ia benar-benar hilang dari kehidupan Yamada, maka lelaki itu tak perlu takut lagi. Tidak akan ada berita macam-macam lagi, tidak akan ada bukti cukup.

Beberapa menit kemudian Yamada menggeliat dan menyipitkan mata karena sinar matahari yang begitu terang masuk ke jendela. Karena kaget Saifu mundur beberapa langkah lagi, ketahuan memerhatikan Yamada membuatnya salah tingkah.

“Ohayou~” ucap Saifu gelagapan dan segera menyingkir ke dapur.

“Fu…” Yamada menyenderkan tubuhnya di kitchen set, sambil melihat Saifu menyiapkan makan pagi. Saifu hanya memandangnya, “Ayo kita mengaku saja pada publik…”

Saifu hampir menumpahkan telur goreng yang baru saja matang, “Apa sih?”

“Kita mengaku… kalau aku harus mundur dari dunia entertainment, akan kulakukan…”

“Aduh… jangan ngaco!” padahal hati Saifu sudah meleleh mendengar pernyataan itu.

“Aku gak ngaco. Aku gak bisa kehilangan Yume dan kamu… aku bisa part time, kita bisa kerja untuk Yume…”

“Tidak ada mengaku segala! Keputusanku sudah bulat…”

“Kau tidak lagi mencintai aku?”

AKU MENCINTAIMU!! SANGAT MENCINTAIMU!! Teriak Saifu dalam hati, tapi tidak bisa ia ungkapkan.

Lalu dengan berusaha dingin dan dengan tatapan kejam Saifu menjawab, “Ya.. aku sudah tidak mencintaimu lagi…” Saifu mengangkat telur gorengnya lalu beranjak ke kamar mandi, menangis lagi.

Please don’t stand so close to me, I’m having trouble breathing
I’m afraid of what you’ll see, right now
I’ll give you everything I am
All my broken heartbeats until I know you’ll understand

And I will make sure to keep my distance
Say “I love you” when you’re not listening
And how long can we keep this up?

=======================
Yume hilang. Opi mengabarkannya pada Saifu siang ini melalui telepon. Opi baru saja mengantar Yume dan anak-anak lainnya bermain di taman, ketika itu Opi masuk sebentar karena ada telepon, lalu ketika Opi kembali Yume sudah tidak ada di tempatnya.

Dengan tergesa-gesa Saifu mengambil sepedanya dan segera berangkat ke tempat penitipan dengan hati yang cemas luar biasa. Putrinya baru berusia tiga tahun. Kemana Yume sendirian?

“Gomen ne Fu-chan… aku benar-benar tidak tahu dimana Yume…” Opi sepertinya sudah menangis, ia menjelaskan bahwa staffnya dan dirinya sudah mencari ke dekat tempat penitipan, namun belum membuahkan hasil.

Lutut Saifu langsung lemas. Ia tak bisa berkata apa-apa dan mulutnya seakan terkunci rapat. Opi membawa Saifu ke dalam, membiarkan Saifu tenang terlebih dahulu.

Sementara itu Yamada yang tidak tahu apa-apa sedang ikut sesi pemotretan untuk album baru Hey! Say! JUMP. Walaupun ia sedang kalut, ia harus profesional.

“Kita istirahat dulu!!” Yamada membungkuk pada staff, lalu bergabung dengan teman-temannya.

“Masih ada beberapa shoot lagi…” kata Yabu menatap jadwal yang sedang dipegangnya,
“Aduh… aku jadi suka sakit pinggang…”

Yang lain hanya tertawa melihat Yabu, “Dasar kakek-kakek…” cibir Hikaru.

Samar-samar Yamada mendengar suara Yume, tapi ia merasa mungkin itu hanya halusinasinya.

“Papa!!”

Yamada akhirnya menoleh dan menemukan Yume berada di keramaian, bersama fans lainnya. Sedikit panik Yamada berlari ke arah Yume dan menariknya dari kerumunan, membuat fans merasa kaget dan berteriak makin kencang. Setelah berhasil mengambil Yume, tiba-tiba delapan pasang mata menatap Yamada heran. CRAP! Dia harus menjelaskan semuanya.

“Jadi apa ini maksudnya?”

Delapan member Hey! Say! JUMP dan manajer mereka duduk di hadapannya sementara Yamada akhirnya selesai menidurkan Yume di sofa dan menelepon Saifu agar tidak panik lagi. Menurut cerita Yume ia ingin bertemu Papa nya yang sudah tidak pernah datang selama seminggu. Beruntung Yamada tidak jauh lokasinya dari tempat penitipan anak itu dan Yume mengikuti segerombolan gadis yang memang mau melihat ke lokasi pengambilan foto.

Daiki tampak menatap Yamada dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara panik dan iba.

“Itu…” Yamada menoleh menatap Yume yang bergelung di sofa dengan jaket Yamada sebagai selimutnya, “Yamada Yume. Dia putriku…”

Hening.

Semuanya diam, dan menunggu Yamada menjelaskan lagi.

“Dia putriku, umurnya baru tiga tahun dan aku… juga punya istri…”

Hikaru yang sedang minum mendadak tersedak mendengar pengakuan Yamada. Akhirnya Yamada memutuskan untuk menceritakan semuanya, sejak awal hingga sekarang.

Tak ada yang bersuara hingga Manajernya berdehem cukup keras, “Ini gila! Bisa-bisanya kau merahasiakan ini dari kami? Selama 4 tahun??!!”

Yamada hanya menunduk, ia menoleh lagi, memastikan Yume masih terlelap.

“Ini semua kesepakatanku dengan istriku dan keluarga besar kami. Belum saatnya mengumumkannya…”

Yabu menggeleng frustasi, “Ryosuke.. ini gak lucu!! Kau anggap kita ini apa? Kita sudah seperti keluarga kan? Lalu kau bisa menyembunyikan ini semua? Selama ini??!!” tampaknya Yabu sudah siap naik pitam, hingga Yuya harus menahan tubuh Yabu.

“Sumimasen deshita,”

Daiki tidak ikut bicara. Ia tahu ini sedang genting, tapi bilang bahwa dirinya tahu sama saja akan memojokkan Yamada.

“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Yuto sambil menatap Yume dengan iba.

Hanya mampu menggeleng lemah, Yamada menutup mukanya dengan kedua tangannya.

“Besok pasti sudah tersebar beritanya, entah apa yang akan muncul di media massa…” ungkap Chinen diplomatis, “Kau lihat kan? Yama-chan mengambil anak itu ari gerombolan fans… paling tidak anak itu akan dipertanyakan statusnya…”

“Kau mau mengumumkannya?” tanya Inoo, menatap lurus-lurus ke arah Yamada.

“GILA!! Itu tidak mungkin!!” seru Manajernya mulai naik pitam juga.
=====================

Karena merasa kurang sehat, akhirnya Yuto menawarkan diri untuk mengantar Yamada dan Yume ke mansion Saifu. Sepanjang perjalanan Yuto tak berani mengusik Yamada, kecuali jika ia bicara duluan.

“Jahat sekali kan kalau aku tidak mengakuinya?” gumam Yamada.

“Well, tapi… kau tahu sendiri kan?” Yuto mengarah kepada peraturan paling keras yang ada di Johnnys Jimusho.

“Lalu aku harus bagaimana?” Yume masih tertidur, namun selanjutnya ia mendengar Yume bergerak, membuat Yuto tak bisa menjawab.

“Papa…”

Yamada menoleh dan menatap Yume yang masih setengah tertidur.

“Lain kali Yume tidak boleh kabur ya, Mama khawatir sekali… mengerti?” ucap Yamada sambil meraih tangan Yume yang duduk di jok belakang.

Yume hanya menatap Yamada dengan sedih, ia pasti kangen pada Yamada.

“Sialan kau Yama-chan… kau benar-benar terdengar seperti seorang bapak…” ucap Yuto yang disambut tawa berderai keduanya.

Yamada diantar hingga pelataran parkir, setelah pamit dan bilang bahwa ia akan menginap disana, Yuto pun berlalu. Yamada menggendong Yume ke mansion Saifu, yang langsung disambut Saifu dengan deraian air mata.

“Yummmeee!!” Saifu mengambil Yume dari pangkuan Yamada.

Yamada menepuk-nepuk pelan punggung Saifu, “Gomen ne.. aku tidak bisa langsung pulang… kini semua member tahu…”

“Eh?” Saifu kaget, mulutnya megap-megap kehilangan suaranya.
====================

Dan seperti sudah di ramalkan oleh Chinen, berita Yamada mengambil anak kecil dari kerumunan fans menjadi Hot Topic hari setelahnya. Kejadian heboh dan membuat semua orang bertanya-tanya. Spekulasi yang muncul adalah itu anak fans, atau keponakannya, atau bahkan Yamada melihat anak fans dan merasa iba takut terinjak-injak.

Sementara itu kini Yamada sudah ada di kantor Johnnys, bersiap menerima kemarahan eksekutif manajernya. Apapun yang terjadi tekad Yamada sudah bulat, dan Saifu juga sudah setuju.

Ketika eksekutif manajernya datang, Yamada langsung menceritakan semuanya, dan niatnya untuk menggelar konferensi pers.

“Kau tahu kan konsekuensi nya apa?”

Yamada mengangguk, “Aku siap mundur… kapan saja ketika fans marah atau memintanya…”
“Kau tahu dampaknya pada keluargamu?”

Yamada kembali mengangguk, “Saya dan istri saya sudah punya rencana.”

Lalu konferensi pers digelar, Yamada membawa serta Saifu dan Yume, menjelaskan semuanya pada media massa dan fans, serta meminta maaf.
===================

5 years after….

“Papa konser dimana lagi, Mam?” Yume merengut, sore ini dia ada resital piano, dan Papa nya lagi-lagi tak bisa datang.

“Osaka kayaknya,” ucap Saifu asal.

Yume memasukkan bekalnya dengan tidak bersemangat.

Saifu menahan tawanya. Padahal Yamada sudah berjanji akan pulang sore ini karena sebenarnya jadwal konsernya adalah besok. Tahun pertama setelah mereka membeberkan fakta mengenai pernikahan mereka adalah tahun yang berat. Banyak cibiran, makian, bahkan Yamada sempat akan mengundurkan diri. Namun dibalik orang yang membencinya, ternyata banyak fans yang mendukungnya. Walaupun Yamada sempat tidak ikut dalam beberapa kali promo dan album HSJ, namun tahun berikutnya ia kembali.

Sore itu Yamada sampai di bandara Narita, ia pun langsung menuju rumahnya, menjemput Saifu untuk menonton putrinya resital piano. Tak terasa Yume sudah hampir 8 tahun.

“Tepat waktu!” seru Saifu sambil menyimpan tasnya di jok belakang, lalu memakai sabuk pengaman.

“Mana ciuman selamat datangnya?” kata Yamada menggoda istrinya itu.

Saifu mencium pipi Yamada sekilas, lalu tertawa setelahnya.

Tepat pukul lima, resital pun dimulai. Yume naik ke panggung dengan gaun hijau toskanya, menatap sekilas ke arah penonton dan kaget melihat Papa nya yang memakai kaca mata hitam dan syal, duduk di sebelah Mamanya.

“Papa bodoh… ini kan dalam ruangan…” gumam Yume, namun tersenyum bahagia menatap kedua orang tuanya yang melambaikan tangan dengan bersemangat.

Yamada memeluk bahu Saifu, menatap Yume dan yakin ini pilihan paling tepat dalam hidupnya.

OWARI~
=============
ADDDUUUUHHHH~ ini fict apaan?? Hahahaha.
Maaf ya.. maklum udah 6 bulan gak nulis fict… /nangis bombay/
Ini request jaman JOMON alias udah lama banget dari Fu…
Baru kelar sekarang~
Mari berdo’a bersama-sama biar skripsi saya cepet beres.. amin.. 😛
COMMENTS ARE LOVE!! ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Never Regret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s