[Ficlet] Antologi Pagi (Satu : Yaotome Hikaru)

A/N: Awalnya ini project saya (Nu) bareng @suzusaifu21, tapi berhubung yang bersangkutan sudah keburu sibuk,  saya kembali menggaet partner kolab yang biasa XD #regard

| PG-13 || Romance || Hurt-comfort |
.oOo.
.oOo.
Yaotome Hikaru is officially member of Johnny’s Entertainment’s Hey! Say! Jump
Asuka Yoshitaka OC credit by Dewi Megayanti
.oOo.
Antologi Pagi Hari
Satu: Hikaru Yaotome
Fanfic by Din Tegoshi & Nu Niimura
Awalnya Hikaru Yaotome tak merasakan satupun hal spesial tentang perjalanan pagi dengan kereta
            hingga ketika harum aroma bunga lotus bercampur lily diterbangkan udara menuju penciumannya.
            Aroma itu berasal dari rambut gadis yang berdiri di depannya. Rambutnya panjang dan dibiarkan terurai dengan keadaan sedikit basah.
Hikaru menyukai aroma itu.
            Esok hari, lusa, esok setelah lusa, Hikaru tak menghitung sudah berapa perjalanan pagi yang dilaluinya bersama si gadis di peron kereta.
            Ia menjadi terbiasa. Ada perasaan manis ketika ia menghirup aroma itu. Hikaru memperhatikan gadis itu, dan ia berpikir ‘Sepertinya aku menyukainya’. Hikaru memperhatikan ujung jemarinya yang kemerahan menekan keyboard ponsel, caranya menutupi senyuman ketika menemukan sesuatu yang lucu terlihat di layar ponselnya, meskipun gadis itu tersenyum untuk dirinya sendiri, tapi Hikaru ikut merasa bahagia.
            Dari semua detail kecil yang bisa diperhatikan, Hikaru paling menyukai aroma rambutnya.
            Gadis itu turun setelah Hikaru (entah di stasiun berikutnya, atau berikut-berikutnya). Dan Hikaru merasakan kupu-kupu aneka warna beterbangan di perutnya tiap kali menjejakkan kaki turun dari kereta, meskipun mereka tak pernah saling menyapa.
Hikaru jatuh cinta pada aroma itu.
            Terkadang waktu kepingin iseng memberi kejutan pada jalan cerita seseorang. Saat itu Hikaru (seperti biasa) berdiri di belakang si gadis wangi bunga. Sibuk dengan imajinasinya sendiri, Hikaru hampir tak menyadari ditengah penumpang yang berdesakan, ada tangan pria paruh baya yang mampir ke rok kelabu milik gadis-wangi-bunga-nya. Tidak, pria itu tidak sedang mengagumi sulaman motif bunga di rok itu, tidak juga mengincar dompet si gadis –dia bahkan tak punya saku di belakang roknya. Ini sekuhara.
            “Maaf, Tuan…” Hikaru mencoba menghentikan aksi pria tak dikenal itu.
            Gadis itu seketika berbalik, menatap Hikaru dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah itu matanya berkaca-kaca. Kereta berhenti, dan si gadis menerobos keluar kereta secepat yang ia bisa.
            “Tunggu!“ Cegah Hikaru.
            Si gadis telah berada di luar kereta, begitu juga Hikaru. “Ini bahkan bukan stasiun tempatmu turun.“ Kata Hikaru. Gadis itu tak berbalik menghadapnya, tapi dari punggungnya yang bergetar, Hikaru tahu ia terisak.
Setengah jam kemudian, Hikaru mentraktirnya milkshake.
            “Eto… Aku Yaotome Hikaru. Kau bisa memanggilku Hikaru, atau Hikka.”
            “Asuka, Yoshitaka Asuka…“ Balas gadis itu malu-malu “…terimakasih sudah mentraktirku, ng… untuk menemaniku duduk disini, dan untuk menolongku di kereta tadi juga…”
            “Ano…“
            “Aku sering melihat Yaotome-san saat di kereta, tapi tak pernah menyangka Yaotome-san sampai hafal tadi itu bukan stasiun tempatku turun…“ Asuka berusaha tersenyum, bekas air mata masih terlihat di ujung matanya.
            “Ah!“ Wajah Hikaru memerah. Bukan karena tersipu, tapi karena merasa canggung telah ketahuan menguntit. “Itu… hehehe…“ Ia tak bisa menjawab.
            “Ternyata Yaotome-san orang yang ramah. Kalau aku punya keberanian, pasti aku sudah menyapa Yaotome-sansejak kemarin-kemarin dan kita bisa ngobrol…“
            “Ng, tentang keberanian… kenapa tadi kau diam saja waktu…”
            “Maaf,“ balas Asuka sebelum Hikaru menyelesaikan pertanyannya “tapi aku tidak bisa. Sering kali pelaku sekuhara di kendaraan umum justru tidak mengaku dan bilang bahwa korbannya yang menuduh macam-macam. Saat seperti itu rasanya pasti akan jadi malu sendiri. Aku… bukan jenis orang yang bisa mencegah hal-hal semacam itu dengan suara tegas dan lantang…“ Asuka menunduk.
            Saat menempatkan dirinya di posisi Asuka, seorang gadis pemalu, Hikaru tak bisa menjawab. Terlebih, melihat ekspresi terluka dari wajahnya.
            “Eh, ya! Sekarang kita ada disini, terlambat untuk aktifitas tujuan kita semula. Jadi apa yang akan kita lakukan?“ tanya Hikaru.
            “A, ah!“ Asuka bangun dari duduknya dan membungkuk dalam-dalam “Maaf! Gara-gara aku, Yaotome-san jadi ikut terlambat!“
            “Bu, bukan itu maksudku. Tapi sudahlah, lagipula tak masalah sesekali bolos kuliah. Apalagi kalau itu bersama gadis manis seperti Asuka…“
            “Ya, yamette kudasai!“ Asuka menutupi wajah dengan tas yang sejak tadi dipegangnya. Sayang sekali, padahal Hikaru ingin melihat ekspresinya ketika tersipu.
Hikaru jatuh cinta pada gadis itu
            dan hari itu membawanya ke taman hiburan, bermain seharian. Lebih banyak tertawa, banyak bercerita, lebih jauh mengenal satu sama lain.
            Asuka berteriak kaget, seorang wanita tiba-tiba terjatuh di dekatnya, anak laki-lakinya menangis histeris. Sang wanita mengerang kesakitan, tangis anak laki-lakinya terdengar semakin keras.
            “Asuka, tolong jaga anak ini, tenangkan dia! Aku akan panggil tim medis.”
            “Ha, hai!
Hikaru berlari secepat yang ia bisa, mencari pos medis yang terdekat. Dan saat Hikaru kembali, ia bisa menemukan anak laki-laki itu, masih menangis keras, Asuka menuntun tangannya.
            “Hey, jagoan,” Hikaru berlutut, menyetarakan posisinya dengan si bocah. “Mereka akan menolong mamamu, dan setelah ini papamu juga akan datang menjemput. Jadi, jangan nangis lagi, oke?” Ucapnya, tersenyum.
            “Ta, tapi Ibu… Huwaaaaa!”
            “Hey, hey! Anak laki-laki harus berani kan? Anak berani itu nggak nangis.”
            “Ng?”
            “Ibumu pasti akan cepat sembuh dan ia akan senang kalau tahu anak laki-lakinya sudah menunggu dengan baik dan berani.”
            Si anak akhirnya berhenti menangis, tetapi masih sedikit sesenggukan, “Apa… kalau aku berani, aku bisa jadi anak keren?”
“Tentu saja, kau jagoan!”
“Aku… akan jadi anak yang berani!” Balas anak laki-laki itu, tersenyum cerah bak model iklan pasta gigi.
Hikaru membalas dengan senyuman dan membiarkan anak itu meninju kepalan tangannya, “Janji? Berikan aku brofist. Hahaha!“
Dan Asuka ikut tersenyum menyaksikan pemandangan itu.
Hikaru berharap hari itu tak cepat-cepat berakhir.
            Ketika hari hampir gelap, Hikaru mengantar Asuka pulang, dengan taksi (Hikaru sedikit bersyukur Asuka habis-habisan menolak dibayari).
            “Aku ingin jadi seperti Hikaru-san.“ Ucap Asuka tiba-tiba.
            “E?”
            “Yaotome-san orang yang ceria dan berani. Apa yang dirasakan pasti akan langsung dikatakan. Seseorang tidak dengan mudah jadi seperti itu…”
            “Kalau itu adalah tentangmu, maka kau tak akan jadi seperti aku.”
            “Ah. Kenapa?“
            “Kau harus menjadi berani dengan caramu sendiri, Asuka. Sebagai dirimu.“
            Asuka tertawa pelan, “Yaotome-san keren, aku sepertinya jadi mengagumi Yaotome-san.“
            “Ehehehe… Kau berlebihan, Asuka.”
            “Setelah ini, mungkin aku tak akan lagi pergi dengan kereta. Aku akan menyewa tempat tinggal di dekat kampus.”
            “Sou…“
Taksi yang mereka tunggu akhirnya tiba. Hikaru membukakan pintu untuk Asuka dan mengucap selamat malam.
            “Sampai jumpa, Yaotome-san. Terimakasih untuk semuanya.“
            “Sampai jumpa, Asuka. Lain kali, kau cukup memanggilku Hikaru.”
            Asuka hanya tersenyum. Manis. Pemandangan terakhir untuk Hikaru sebelum pintu menutup dan mobil itu pergi menjauh.
            Gadis itu salah. Hikaru tak cukup berani. Jika ia punya keberanian seperti yang dikatakan Asuka, harusnya Hikaru akan menarik Asuka, memeluknya, mengucapkan kata cinta. Hikaru terdiam. Mengutuk dirinya sendiri karena lupa tak meminta alamat surel Asuka. Tapi Asuka bilang sampai jumpa, bukan selamat tinggal.
Hikaru berharap masih ada lain kali.
            Esok harinya, Hikaru kembali pergi dengan kereta. Ia tak menemukan Asuka di peron manapun. –pagi pertama tanpa aroma shampo wangi bunga. Hikaru merasa hampa saat menjejakkan kaki turun dari kereta.
Pagi kedua tanpa aroma shampo wangi bunga, Hikaru masih berharap bisa menemukan wajah tersenyum Asuka di peron kereta.
Pagi keempat tanpa aroma shampo wangi bunga, Hikaru merindukan Asuka.
Pagi ketujuh tanpa aroma shampo wangi bunga, Hikaru melamun hingga stasiun tujuannya terlewat.
Pagi ke lima belas tanpa aroma shampo wangi bunga, saat latihan band, leader mengomeli Hikaru karena banyak membuat kesalahan.
Pagi ke enam belas tanpa aroma shampo wangi bunga, Hikaru membiarkan makanannya tak tersentuh.
Pagi ke tujuh belas tanpa aroma shampo wangi bunga, leader band berkesimpulan Hikaru keracunan makanan hingga jadi pendiam, ia diijinkan tidak ikut latihan dan pulang untuk istirahat.
Pagi ke dua puluh tanpa aroma shampo wangi bunga, bagai mendapat suntikan serotonin dosis tinggi, Hikaru menghirup aroma bunga lotus bercampur lily di kereta pagi. Berakhir dengan kecewa, pemilik aroma itu bukan Asuka.
Pagi ke dua puluh empat tanpa aroma shampo wangi bunga, Hikaru memasuki Walmart. Berdiri selama hampir tiga jam di depan rak shampo wanita. “THOREAL smooth and shiny. Fresh scent. Akhirnya, aku temukan!“ Ucap Hikaru bangga.
Pagi ke tiga puluh, Hikaru memasang wajah tidak peduli ketika seorang teman berkata ‘Rambutmu baunya seperti shampo perempuan.’
Pagi ke tiga puluh sembilan, seorang teman memergoki Hikaru yang melamun dan hampir menenggak isi botol shampo.
Jika subjeknya adalah Yaotome Hikaru, galau dan hilang akal jarak perbedaannya tak ada sejengkal.
Pagi ke lima puluh lima, Hikaru pergi dengan kereta seperti biasa. Yang tidak biasa, ia bisa merasakan anggota tubuh bagian bawahnya diremas (ya, kau tahu, bagian yang lumayan privat –silakan bayangkan sendiri, terimakasih). Tapi Hikaru tak bisa melakukan apapun. Perasaannya adalah perpaduan kesal, malu dan terancam. Pikirnya ‘Seperti inikah rasanya jadi korban sekuhara? Aku jadi mengerti kenapa Asuka tak bisa berbuat apa-apa…’
            “Maaf. Tapi Tuan tak seharusnya berbuat seperti itu pada teman saya.”
Suara itu mengagetkan Hikaru, seraya aksi pelecehan terhadap dirinya dihentikan.
            “Bi, bicara apa kau…?” Elak pria itu gugup, tapi sia-sia karena seorang gadis yang tak lain adalah Yoshitaka Asuka memegangi pergelangan tangannya. Jika ini adalah permainan catur, maka Asuka adalah sosok yang dengan bangga mengucap ‘Skakmat.’
            “A, Asuka… ” Hikaru masih tak bisa berkata-kata.
            Tak lama hingga akhirnya pelaku kejahatan itu dibawa oleh petugas keamanan kereta. Kini disamping Hikaru, berdiri Asuka yang sedang tersenyum.
            “Eto… Terimakasih sudah menolongku…“
            “Iya, iya.“ Asuka menggeleng “Hikaru yang membuatku jadi lebih berani…“
Deg. Hikaru merasakan sesuatu dalam hatinya berteriak bahagia ketika Asuka memanggil namanya.
Hikaru jatuh cinta pada gadis itu. Sejatuh-jatuhnya.
            Kereta berhenti. Stasiun tujuan Hikaru.
            “Ah. Aku harus turun. Sampai jumpa lagi, Asuka. Semoga harimu menyenangkan!“
            “Semoga harimu menyenangkan juga, Hikaru.“ Balas Asuka tanpa lupa menyertakan senyumannya. Hikaru menyadari betapa ia merindukan senyuman itu.
            Melangkahkan kaki menuju pintu keluar, Hikaru berpikir bahwa ia kembali mendapat kesempatan menyampaikan perasaannya pada Asuka, menjadikan gadis itu miliknya.
Hikaru menimbang-nimbang
            seberapa banyak keberanian yang diperlukan untuk ia bisa berbalik dan berjalan ke peron menemui Asuka atau justru melangkah keluar kereta. Pintu itu adalah batas.
            Saat kakinya menjejak keluar, Hikaru merelakan semuanya kembali seperti semula. Berjalan keluar stasiun sambil memikirkan Asuka, mengikuti kuliah –berhayal Asuka adalah salah satu dari teman kelasnya, latihan band –mendapat omelan karena kebanyakan melamunkan Asuka, pulang ke rumah dan tidur memimpikan Asuka.
            “Tunggu Hikaru Yaotome.“ Asuka berlari kecil kearah Hikaru, “Aku menyukai Hikaru. Suki da.“ Wajah Asuka berubah semerah tomat Spanyol, suaranya sedikit bergetar tapi ia masih berusaha tersenyum.
            “A, Asuka…“
            “Hikaru yang mengajariku untuk jadi berani. Dan aku merasa belum cukup berani bila belum bisa mengatakan apa yang aku rasakan…“
            “Tidak, Asuka.“
            “Eh?“
             “Harusnya aku yang mengucapkannya duluan. Maafkan aku karena tak cukup berani, tapi aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu.“
Hikaru menarik gadis itu kedalam pelukan.
            “Ng, Asuka, kita jadian, ya?” Tanya Hikaru sedikit canggung.
            “Un.” Balas Asuka, kembali pada ekspresinya yang semula.
            “Untuk merayakannya, bagaimana kalau kita bolos kuliah lagi dan pergi ke taman hiburan?”
            “Okay~” Jawab Asuka, balas menggenggam jemari Hikaru yang menyilang diantara jemarinya.
SELESAI
A/N2: Berhubung ini ficlet dengan banyak karakter, maka kami minta partisipasi dari reader yang tertjintah untuk mem-vote karakter mana yang ceritanya akan dipost pada chapter selanjutnya. Silakan vote melalui komen, karakter dengan suara terbanyak ceritanya akan dipost di chapter selanjutnya. Aturannya mudah, tinggal pilih nama member HSB atau HS7 yang diinginkan (kecuali Hikaru XP) bisa dalam format, contoh “VOTE: DAIKI” atau seperti apapun terserah Anda, yang penting nge-vote.
Doumo arigato *bow
Advertisements

One thought on “[Ficlet] Antologi Pagi (Satu : Yaotome Hikaru)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s