[Minichapter] Gomen ne, Daisuki Dakara (chapter 4)

Title : Gomen ne Daisuki Dakara
Chapter : 4
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship.
Ratting: PG 15
Cast: Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuka (OC), Akane Miyu (OC). Tamamori Yuta (Kis My Ft2) Dan selentingan orang lewat :pBETA Read by. Dinchan

P.S: fanfic ini req dari temen ku kaka Winda, aku terinspirasi sama lagu ‘gomen ne summer’ dari ske48. Aku ambil sedikit, hanya mengambil intinya aja XD. Gomen kalo gaje, gomen kalo ga sedih banget, gomen kalo ga menyentuh banget nih ff XD but, please koment minna….. couse I’m need coment…. Good reading…

Note: di sini ada bagian flashback nya, kalau bingung baca yang Part 3 ^^b

Gomen ne, Daisuki Dakara
Chapter 4

+++++++++++++

Yuka POV

Cahaya matahari begitu menerangkan ruangan kamar, ketika ibu membuka tirai kamar ku, dan itu membuat aku terbangun. Menggeliat sebentar untuk merenggangkan tulang ku yang terasa sangat pegal.

“Ohayou Yuka, ini sudah jam delapan, kamu tidak ke restoran?” tanya ibu, duduk di samping ranjangku, sedangkan aku masih mengucek mata, merasa sangat ngantuk.

“Tidak”

Loh, kenapa memang?”

“Aku di pecat bu..” ucap ku dengan sedikit lesu, karena aku masih dalam keadaan setengah sadar. Yah begitulah. Sebagai orang tua ibu pastinya sangat shock, sampai aku menceritakan semuanya, barulah ibu mengerti.

“Kamu sih, salah sendiri…yaudah gak apa-apa kok, sekarang mandi, dan turun untuk sarapan” ibu menarik ku untuk bangun, oh aku masih sangat mengantuk. Tapi akhirnya akupun menuruti kata-kata ibu untuk mandi.

Hari sudah berganti menjadi siang, sambil memakan snack yang ada di tangan ku dan remote tv juga yang ada di tangan ku. Duduk santai di sofa rasanya sangat jarang aku melakukan ini.

CTEK, CTEK

Sial, gak ada acara yang bagus. Menyerah. Akupun melepaskan remote itu dari genggaman ku, lalu beralih mengambil Handphone ku. Kini aku sedang melihat foto ku dan Daiki yang sengaja ku pasang sebagai wallpaper.

“Suka sebagai sahabat, bukan?”

Pertanyaan itu masih terngiang di otak ku, dia tidak menyadari perasaaan ku. Bukan sahabat Dai-chan tapi lebih. Itulah yang ingin aku bilang waktu itu, tapi lidah ku terasa kelu untuk mengatakannya.

DRRT  DRRT

Mata ku membulat, saat aku menerima e-mail dari Yuta-senpai. Tumben dia mengirim ku e-mail, merasa heran aku pun membuka pesan itu.

BY: Yuta-senpai
Too: Nakayama Yuka
Sekarang aku tunggu di lapangan yang waktu di ajak Daiki itu ya, anak-anak lain juga ikut. Kau bisa kan?

Melihat pesan itu, alis ku saling bertautan, mau apa?

By: Nakayama Yuka
Too: Yuta-senpai
Mau ngapain?

SEND! Tidak lama kemudian, Handphone ku kembali bergetar.

By: Yuta-senpai
Too: Nakayama Yuka
Lomba lari

Ooh, baiklah aku suka ini. Kalau Yuta-senpai tanya mengapa aku tidak bekerja. Bilang saja aku sedang libur. Bohong sedikit tidak apakan?

Oke, semuanya sudah ku kalahkan. Yamada, Chinen, Yuta-senpai bahkan Taisuke-senpai yang menjadi rival ku skaligus. Semuanya aku kalahkan. Haha aku merasa senang.

“Yuka memang T.O.P  B.G.T!! aduh aku kewalahan” kagum Taisuke-senpai kepada ku sambil mengatur nafas nya. Dia kembali membuka mulut “selain Yuka, Daiki juga hebat kan? Mana dia?”

“Oh, dia—dia menemani ayahnya pergi” jawab ku asal, takut Yuta-senpai curiga kepada ku. sepintas, aku meliriknya.

“Yuka nee… aku lapar~” rengek Chinen sebagai Kouhai (adik kelas) sekaligus teman satu klub ku.

“Iya, beli makanan apa minuman kek, jangan lama-lama yah” timpal Yamada, ia sama seperti Chinen. Dua manusia itu menunjukan senyuman memohonnya. Baik…baik aku tahu.

“Kalo gitu, aku ke Supermarket sebentar ya” kata ku, mereka mengangguk, termasuk Yuta-senpai dan Taisuke-senpai juga. Dasar, raja makan semua. Rutukku.

Belanjaan ku sepertinya sangat banyak. Kalian jangan pikir ini adalah untuk mereka semua yang ada di lapangan berlari. Tapi ini juga ada pesanan dari ibu ku sebelum aku pergi.

BRUGH

Tanpa sengaja aku menabrak seseorang karena aku sedang sibuk mengatur barang belanjaan.

“Ah, sumimasen” aku menengadah “Miyu-chan” girang ku saat melihatnya, tapi aku kaget saat melihat laki-laki yang ada di sampingnya. Siapa dia?

“Yuka! Banyak banget belanjaannya?” tanya Miyu-chan, lalu membantu ku membereskan belanjaan ku yang berserakan di aspal, karena insiden tadi.

“Ini ibu ku yang nitip” kata ku, lalu aku berdiri. Mata ku kembali melihat laki-laki yang ada di samping Miyu-chan “dia..siapa?”

“Oh, pacar ku” Miyu-chan tersenyum mengenali laki-laki yang ia sebut sebagai ‘pacar’nya. Mata ku kembali menelisik penampilan laki-laki ini, melihat dari atas sampai ke bawah. Hmm,,dewasa, lumayan tampan dan sepertinya ia baik.

“Ada apa ya, nona?” suara itu membuat ku terkejut. Oh mungkin dia risih dengan sifat ku yang melihatnya seperti itu. “Ada yang salah?” tanya nya lagi.

Aku menggeleng. “Tidak kok, semoga langgeng ya pacarannya” kata ku sambil tertawa hambar, ya aku tahu ini tidak ada yang lucu.

“Hmm nama ku..”

DRRT

Ucapan laki-laki itu terpotong karena aku langsung menghentikan kata-katanya dengan kode dari tangan ku “sebentar ya” kata ku, ia mengangguk.

Ternyata e-mail dari Yuta-senpai. Katanya aku terlau lama dan membuat yang lain merasa bosan. Setelah itu aku pamit dengan dua manusia itu, tanpa ingin mengetahui siapa nama pria yang sedang di gandeng Miyu-chan, ya aku tidak minat sebenarnya.

Aku melihat lurus ke depan. Dan apa yang aku dapat? Aku mendapatkan pengu baka itu, dengan sendirinya bibir ku tertarik. Menunjukan senyum ‘evil’ ku.

“Daiki baka!!” seru ku dan langsung berlari menghampirinya.

Oh, jadi begitu. Setelah aku bicara dengan Daiki tadi, ternyata dia masih menyukai Miyu-chan, aku kira setelah melihat tulisan ku yang ada diary, dia bisa mengerti. Ternyata tidak, aku bodoh. Ah tidak Daiki yang bodoh.

“Yuka, kau lama sekali, yang lain sudah pulang deh” protes Yuta-senpai saat aku baru saja sampai, yah sudah pulang semua.

“Padahal ini aku sudah beli banyak” aku menunjukan barang belanjaan ku. Sambil mengerucut kan bibir ku. Aku sebal. Pertama karena Daiki, kedua karena diri ku sendiri yang terlalu lama belanja. Yuta-senpai terkekeh pelan, lalu duduk di bangku yang ada di dekatnya, merasa lelah akupun ikut duduk di sampingnya,

“Gomen” gumam ku menundukan kepala.

“Sini, biar aku yang makan” Yuta-senpai mengambil salah satu kantung yang ada di tangan ku, lalu mengoreknya untuk mengambil sesuatu, hingga akhirnya ia menemukan es krim.

“Anoo, bagaimana menurut senpai dengan..” aku menelan ludah ku sejenak “Perasaan tidak terbalas”

“Perasaan tidak terbalas?” ia malah balik bertanya, tidak mau mengajaknya ribut. Akupun hanya mengangguk.

“Ya, rasanya sakit senpai. Aku menyukainya, tetapi dia menyukai orang lain” jelas ku, berharap mendapat solusi untuk menghapus perasaan sakit ku ini.

“Memang orang yang kau sukai siapa?” tanya Yuta-senpai.

Aku menunduk, rasanya muka ku memanas dan aku yakin saat ini sangat merah “D-Daiki” jawab ku hampir berbisik.

“Jadi kau menyukainya?” aku kembali mengangguk malu. Namun setelah lama, hanya keheningan yang menyelimuti kami. Apa Yuta-senpai tidak bisa menjawab, atau..dia bingung mau bicara apa?

“Senpai?”

“Kita pulang yuk” Yuta-senpai berdiri, lalu mengulurkan tangannya kearah ku. “Es krimnya enak, mau ku antar pulang?”

Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu Daiki. Aku sebal, dia tidak peka terhadap perasaan ku. ‘Kau kemana saja sih?’ Atau ‘sudah makan siang?’ dan hal-hal lain yang menurut ku tidak penting selalu Daiki kirim ke e-mail ku. Total sudah dua puluh kali ia mengirim ku e-mail selama lima hari ini, dan delapan massage call yang sengaja tidak ku angkat. Rasakan, siapa juga yang menyuruh mu bodoh?!.

CEKLEK

Aku menoleh kearah daun pintu ku yang sedikit terbuka, melihat kepala Daiki yang sedikit timbul, akupun kembali melihat lurus.

“Yuka..” ia memanggil ku, refleks aku menoleh kearahnya “Apa kabar?”

“Baik” jawab ku yang akhirnya bisa tersenyum walau selama ini aku berada di dalam kamar. Selama lima
hari ini. Ya, aku mengurung diri ku sendiri  dari dunia luar. Aku melihat Daiki melangkahkan kaki nya memasuki kamar ku. Tidak, dia tidak boleh masuk kamar ini “Stop!” seruku, “Lebih baik kau pulang”

“Memang kenapa?” tanya Daiki kebingungan, tidak menjawab aku hanya siap-siap mengambil bantal untuk di lempar kearah nya.

“Aku bilang pulang, ya pulang baka!”

BRUGH

Sukses aku melempar bantal itu ke tubuh Daiki. Aku sebal! Sangat sebal, coba kau mengerti perasaan ku. Daiki.

“Gomen” ucapnya sebelum ia keluar dari kamar ku. Ku benamkan kepala ku di bawah bantal. Oh Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada ku?

By: Daiki
Too: Yuka
Hey, hari ini cerah ya. Coba kau keluar dari kamar dan jalan pagi.

By: Daiki
Too: Yuka
Kamu kenapa sih Yuka? Sudah makan siang? Kalau lapar, lihat foto ku saja ya, hehe kidding~

By: Daiki
Too: Yuka
Besok sekolah?

Aku mendesis sebal, baru kali ini dia mengirim e-mail yang penting dan harus ku jawab. Sebenarnya malas sekali untuk ku balas.

By: Yuka
Too: Daiki
Iya

Tidak lama kemudian, Handphone ku kembali bergetar.

By: Daiki
Too: Yuka
Akhirnya kau membalas pesan ku. Mau ku bawakan bentou besok?? Hey kau ini tangannya sudah sangat pegal apa ya? Sampai menulis pesan untukku saja singkat sekali, ih pelit sekali kau dengan ku.

Aku memutar bola mata ku melihat pesan dari Daiki, langsung saja aku melempar Handphone ku ke kasur, lalu menyambar handuk ku yang ada di jemuran dekat kamar mandi. Rasanya badan ku sangat lengket habis bermain Play Station sebaiknya aku bergegas untuk mandi.

Hari yang cerah, hari pertama aku masuk sekolah, setelah libur musim panas. Huwaaahh rasanya aku sangat rindu sekolah ini, semuanya berjalan seperti biasanya, kegiatan belajar, istirahat, dan belajar lagi. Aku sempat bertemu dengan Daiki, tapi aku menghindarinya, karena aku masih sebal terhadapnya. Oh ya aku dan Daiki berbeda kelas.

“Hari yang cerah~ kembali latihan lari!” seru Yamada saat kami berada di tempat latihan, kegiatan rutin ku setelah pulang sekolah.

“Oh ya, aku tidak melihat Daiki dari tadi” heran Mayuyu teman ku di kelompok para perempuan, aku hanya menggeleng.

“Aku tidak tahu dia kemana” jawab ku cuek, mengendikan bahu ku.

“Coba kau cari Yuka-chan…” pinta Mayuyu dengan nada khawatir, kalian tahu? Mayuyu adalah salah satu fans nya Daiki, jadi yah wajarlah dia heran tidak ada Daiki. Meski sebal, tapi aku juga merasa ada yang kurang kalau tidak ada Daiki.

“Baiklah, tunggu sini yah”

Tanpa basa-basi lagi akupun langsung berlari menuju ke tempat yang biasanya aku dan Daiki datangi di sekolah ini. Atap sekolah, ya aku yakin dia pasti di situ.

“Daiki!!” panggil ku saat mendapatinya tengah tidur celentang di sana, aku tidak salah dia ada di atas atap. Berlahan akupun menghampirinya dan duduk di samping tubuh yang sedang tidur itu.

“Awan nya bagus yah” kagum Daiki, tersenyum sambil melihat ke atas. Aku menengadah, memang benar awan nya sangat bagus. “Aku merindukan mu” ucap Daiki, seketika membuat wajah ku memanas karena malu. Akupun menundukan kepala ku menyembunyikan wajah ku yang sudah merah padam.

Daiki mendudukan posisinya di samping ku “kau kenapa sih? E-mail tidak di balas, telepon, semuanya. Aku hampir tidak mengetahui kabar mu”

“Apa perlunya kau mengetahui kabar ku?” desis ku “Kau tidak peka Daiki! Kau sama sekali tidak peka terhadap perasaan ku” dan, yah air mata yang selama ini aku tahan tumpah juga, setelah aku selesai berbicara. Aku coba menghindarinya, tapi perlakuan ku itu berhenti karena tangan ku di tahan oleh Daiki.

“Lepas!”

GREP

Daiki memelukku “Aku ingin selalu di samping mu, Yuka” bisiknya, membuat air mata ku kembali tumpah membasahi pipi ku, menangis di dalam pelukan Daiki yang begitu hangat. Maafkan aku, karena aku menyukai mu.

“Apa? Berhenti dari klub atletik?!” aku dan Yuta-senpai histeris. Setelah acara(?) aku menangis tadi, aku dan Daiki langsung menemui Yuta-senpai karena ada yang ingin Daiki bicarakan, tapi ternyata pembicaraan buruk yang aku dengar saat ini.

“Iya, ayah yang menyuruh ku, itu karena ada alasannya. Pertama, ayah meminta ku menjadi manager tetap di restoran, kedua, ayah takut kalau nanti asma ku kambuh lagi…” Daiki menghela nafas nya berat “padahal akupun tidak mau berhenti dari klub. “ akhir Daiki sambil menunduk. Aku tahu ini pasti keputusan yang berat.

“Yah, mau bagaimana lagi” Yuta-senpai mengangkat bahunya “Kalau ini sudah di atur orang tua, aku tidak berani mencabut surat berhentinya” kata Yuta-senpai terdengar kecewa. Sejenak aku mendengar anak-anak yang lain ribut kearah kami.
.
.
“Daiki-saaannn~~~ jangan berhentiii onegaiiii” rengek Kento, dan di susul dengan yang lain.

“Klub jadi sepi~~”

“Yaahh… aku tidak bisa melihat wajah si Baby Face lagi…”

“Masa Yuka-chan saja nanti yang hebat sih??? Aaa gak asik~”

Yah begitulah keluhan mereka yang seketika Daiki jadi banyak di hampiri oleh anak-anak klub atletik, mau Koihei, Senpai. Semuanya sama saja. Hanya aku dan Yuta-senpai yang melongo melihat adegan itu. Sedangkan Daiki? Dia malah senyum-senyum keasikan karena merasa dirinya jadi tenar.

“Sudah berhenti!”  Yuta-senpai coba melerai, membuat anak-anak yang tadi nya ribut minta ampun, kini menjadi diam semua.

“Senpai nyebelin!” Ryutaro mengerucutkan bibirnya kearah Daiki, aku tahu itu bujukannya agar Daiki tidak jadi berhenti dari klub. Mengabaikan seruan dari Yuta-senpai barusan,

“Hahaha….tapi tidak bisa, aku harus berhenti” suasana hening sejenak. “Oke, hari ini semuanya ke Restoran ku, kita makan bersama. Gratis!!”

“Horeee!!” sorak gembira mereka membuat tempat ini menjadi ribut seperti sebelumnya, termasuk aku juga sih, makan gratis, siapa yang menolak?.

Aku lihat Daiki menepuk bahu Yuta-senpai yang sepertinya masih memasang wajah ‘melongo’nya. “Bayarin yah” bisik Daiki kepada Yuta-senpai.

“Nani?!”

====

Daiki POV

Kini aku sedang duduk di samping Yuka, di antara para tamu undangan yang menunggu pengantin wanita memasuki altar. Kalian tahu siapa wanita itu? Dia adalah Akane Miyu, yah Akane-san menikah dengan seorang pria yang bernama Tatsuya Ueda, setelah kejadian malam itu. Aku jadi bisa merelakan Akane-san menikah dengan pria itu.

Flashback.

“Kalau begitu, selamat malam. Miyu”

CHUP~

Mata ku terbelalak melihat adegan itu. Mereka berciuman. Di depan ku. Tanpa mereka sadari. Jangan-jangan…mereka sepasang kekasih?

Sementara laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan Akane-san di depan rumahnya, aku masih mematung dengan posisi semula ku. Hingga akhirnya Akane-san melihat ku. “Arioka?”

Sadar, akupun langsung menghampirinya “Dia…siapa?”

Aku melihat senyum Akane-san yang begitu manis “Pacar ku, oh ya dua minggu lagi aku dan dia mau menikah lo”

Seperti sebuah petir yang menyambar ku, perkataan nya tadi membuat hati ku sangat sakit rasanya. Menikah? Itu..itu bukan sebuah permainan untuk mengikat sebuah hubungan. Merasa tidak tahan akupun langsung memeluk tubuh mungil itu.

“Daisuki” ucap ku lirih. Aku merasa Akane-san memberontak untuk melepaskan pelukan ku, tapi aku semakin memeluknya erat. “Ugh Arioka..”

“Hontou daisuki…” ulang ku.

“Gomen, tapi aku lebih mencintainya” tubuh ku merasa lemas setelah mendengar kata-kata itu, hingga
Akane-san berhasil melepaskan pelukan ku. “Masih ada Yuka” Akane-san menepuk bahu ku. “Coba kau lihat dari cara Yuka memandang mu, lihat ke matanya dalam-dalam. Kau pasti akan mengerti” ucapnya lembut lalu masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan aku yang masih diam mematung. Perasaan kesal, cemburu, bahkan perasaan benci terhadap diri ku kini semuanya menjadi satu. Ku cengkram kuat kerah baju ku ini. Menahan rasa sakit yang ada di dada. Gejolak ini, sangat menyakitkan.

Flashback End.

Kini, Akane-san telah resmi menjadi seorang istri Tatsuya. Yang aku juga belum mengetahui betul tentang laki-laki itu, tapi aku merasa rela melepaskan perasaan ku. Asal Akane-san bahagia, akupun akan bahagia.

“Daiki” Yuka memanggil ku, akupun menoleh kearahnya yang berada di samping ku “Habis ini pestanya, ada pesta dansa juga loh~”

“Mau berdansa dengan ku?” goda ku kepada Yuka, tapi dia malah menunduk. Menyembunyikan semburat merah yang ada di pipi nya. Lucu sekali~. Tiba-tiba para tamu semuanya bubar, bukan untuk pulang. Tetapi mereka pindah ke gedung lain untuk melaksanakan pesta yang meriah.

Tempatnya sangat luas, megah dan begitu banyak makanan yang tersedia di dalam sini. Aku rasa keluarga Tatsuya itu sangat kaya. Tiba-tiba terdengar suara dengingan yang berasal dari microfon yang berada di atas panggung, karena di pegang oleh seseorang. Masih mengenggam erat tangan Yuka. Aku dan tamu yang lainnya melihat kearah pangggung itu.

“Test,,,oke semua para tamu undangan, terima kasih sudah mau datang ke acara pernikahan Akane Miyu dan Tatsuya Ueda. Panggil saja Miyu sekarang nyonya Tatsuya ya” candanya “sekarang waktunya pesta dansa, music klasik akan mulai sesaat lagi” selesai berbicara, perempuan yang sebagai host dalam acara ini menjentikan jarinya. Seketika itu juga gedung ini menjadi gelap romantis.

Lagu klasik yang sangat cocok untuk berdansa pun, kini mengalun dengan indah. Dan membuat aku ingin berdansa dengan Yuka sekarang juga.

“Mau berdansa dengan ku?” ku uluran tangan ku kepada Yuka. Sedikit malu, Yuka menyambut tangan ku. Berdansa dengan nya membuat perasaan ku sangat damai. Perasaan sakit saat aku mengetahui Akane-san akan menikah, hilang sudah saat aku melihat matanya. Indah, damai.

“Kau tidak peka Daiki! Kau sama sekali tidak peka terhadap perasaan ku”

Teriakan Yuka saat itu kembali terngiang di otakku, kini aku sadar. Di dalam mata nya, ia hanya melihat ku, dan aku yang bodoh telah mengabaikan perasaannya terhadap ku selama ini. Kau menyukai ku Yuka.
Dan apa kini aku boleh katakan, aku juga menyukai mu? Ah, bukan tapi.
Aku mencintai mu. Yuka.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s