[Oneshot] Promise You

Promise You
Hey! Say! JUMP Inoo Kei
Fujimoto Michiyo
dan segelintir tokoh berlalu-lalang
By: Shield Via Yoichi

Michiyo berjalan pelan memasuki kampusnya, tempat baru baginya untuk menimba ilmu. Rasa gugup dan kagum berkecamuk didalam hatinya tatkala saat dia sudah resmi menjadi mahasiswi di universitas ternama ini.

“Michi, hayaku!” Gadis seumurannya menarik tangannya agar berjalan lebih cepat lagi.

“Tapi, Miharu…”

Miharu tersenyum, “Daijoubu. Kita akan kuliah disini, deshou? Tidak perlu takut. Hora, Kouchan pasti sudah menunggu kita.” Michiyo akhirnya mengikuti Miharu yang kelewat semangat itu. Tampaknya dia senang sekali karena bisa satu universitas dengan kekasihnya. Mereka menelusuri kampus itu sampai terlihat pria jangkung berambut kecokelatan sedang menunggu mereka. Dia tampak sibuk melirik jam tangannya.

“Kouchan!” panggil Miharu, pria itu membalikkan badannya lalu tersenyum manis kearah Miharu dan Michiyo, “Sudah lama? Maaf ya..”

“Tidak. Aku malah khawatir kalian tersesat di kampus ini.” Dia mengacak pelan rambut Miharu. Michiyo hanya melihat sepasang kekasih itu dalam diam, “Michiyo-chan, kau tahu jalan ke kelasmu?”

“Um.. tidak.” Dia menggeleng. Universitas ini begitu besar dan lebar, lagipula dia juga baru pertama kalinya menginjakkan kakinya ditempat ini. Rasa kagumnya juga sedari tadi tidak lepas sepanjang menapaki lantai kampus. Dia masih tidak percaya bisa kuliah ditempat sebagus ini.

“Kalau begitu, biar kuantar.” Miharu tersenyum mendengar ucapan Yabu lalu mengangguk.

“Ayo, Michi.” Miharu menarik tangan Yabu dan Michiyo.

“A-ah, iya.”

“Nah, disini. Memang agak jauh dari kelas Micchan.”

“Memangnya kelasku dimana, Kouchan?”

“Nanti kita lihat ya?” Yabu tersenyum, Miharu mengangguk, “Ah, ada sesuatu yang perlu kau ingat, Michiyo-chan.”

“Eh?” Michiyo mengangkat alis matanya sebelah, “Apa itu, Yabu-kun?”

“Tolong jauhi orang yang bernama Inoo Kei jika kau masih ingin hidup.”

“Memangnya dia siapa? Pembunuh?”

Yabu memegang bahu Michiyo, matanya terlihat begitu serius, “Aku sudah memperingatkanmu. Makhluk apapun Inoo Kei itu, kau harus menjauh darinya.”


“Kau sudah siap?”

Sebuah anggukan pasti dari seorang gadis cantik berambut panjang yang tergerai indah, “Ya, aku siap.” Jawaban itu membuat si pemuda menyinggungkan senyumnya, bukan lebih tepatnya sebuah seringai yang menampakkan gigi taringnya yang mulai memanjang. Pria itu mendekatkan bibirnya dengan bibir gadis itu, kemudian menancapkan taring di bibir gadis itu.

“Ukh…” rintih gadis itu saat rasa sakit menyerang bibirnya dan darah pun mulai mengalir dari sana. Pemuda itu menjilati darah segar itu.

“Darahmu… manis sekali.” Dia menutup matanya merasakan sensasi dari darah tersebut, “Sekarang, biarkan aku mencicipi jiwamu itu.” Gumpalan-gumpalan hitam keluar dari mulut gadis itu sementara si pemuda menghirup semua gumpalan yang keluar itu sampai tubuh gadis itu memutih dan terjatuh ke pelukan pria itu.

“Terimakasih. Jiwamu lezat sekali.” Dia menyinggung seringai lebarnya melihat tubuh gadis yang tak bernyawa itu di dekapannya.


Sudah seminggu Michiyo berada di kampus ini, namun tak seorang pun di kelasnya maupun di jurusannya yang bernama Inoo Kei. Dia hanya penasaran seperti apa wajah pemuda itu sampai-sampai Yabu berpesan yang cukup janggal baginya itu. Setidaknya setelah mengetahui wajahnya, Michiyo bisa menjaga jarak dengannya.

“Hei, boleh aku duduk disini?” tanya seseorang membuat lamunan Michiyo buyar. Michiyo melihat ke asal suara dan mendapati seorang pemuda sedang tersenyum. Dia baru kali ini melihat mahasiswa berwajah tampan selain Yabu di universitas ini, apalagi di jurusannya yang penuh dengan wajah serius, “Hei, bolehkah…”

Michiyo mengangguk cepat, “Iya, boleh. Silakan.” Dia tersenyum dan dibalas senyum oleh pemuda itu.

Setelah mahasiswa itu duduk, semua orang yang ada disekitar mereka tiba-tiba menjauh dari mereka. Sebagian berbisik-bisik, menatap nanar ke arah Michiyo dan langsung meninggalkan kantin yang ramai itu. Suasana gaduh dengan anehnya langsung berubah hening.

“Eh? Kok sepi?” kata Michiyo melihat sekelilingnya. Dia kembali melihat ke arah pemuda yang sibuk menyeruput minumannya santai.

“Ada apa?” tanyanya.

“T-tidak.” Michiyo langsung mengubah arah pandangnya ke piring yang sudah kosong di hadapannya. Bodohnya dia bisa ketahuan sedang memperhatikan pemuda tampan itu. Pria itu kembali meneguk minumannya hingga habis kemudian menatap Michiyo lekat.

“Kau manis juga ya..” katanya setelah puas menatap Michiyo, “Bagaimana kalau kita pacaran?”

“Eh?”

“Siapa namamu?”

“M-michiyo. Fujimoto Michiyo.”

Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Michiyo, “Baiklah, Michi-pyon. Mulai hari ini, kau adalah pacarku.”

“E-eh?” Michiyo nyaris mengeluarkan bola matanya saking kagetnya. Baru kali ini ada cowok ganteng yang tak dikenalnya mengajaknya berpacaran, “S-siapa kau? Jangan seenaknya!”

Dia mencium bibir Michiyo sekilas dan tersenyum, “Aku Inoo Kei. Sampai jumpa, Michi-pyon.” Dia mengedipkan matanya sebelah lalu pergi meninggalkan Michiyo yang mematung. Dijilatnya bibirnya dan mengeluarkan seringainya, “Hm, bibirnya manis juga.”

Bola mata Michiyo terus melihat Inoo yang pergi dari hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa orang yang seharusnya dia jauhi menjadi pacarnya sekarang?


“APA?” Yabu dan Miharu menatap Michiyo tidak percaya kemudian saling adu pandang dan kembali melihat Michiyo yang agak frustrasi.

“J-jadi bagaimana, Yabu-kun? Aku kan tidak tahu kalau dia itu Inoo Kei.” Michiyo bingung. Wajahnya terlihat begitu kesal, bingung dan sedih.

“Kau tidak kenal cowok populer itu? Inoo Kei, jurusan arsitektur. Dia pandai menjerat wanita yang dia dekati.” Miharu membuka buku catatan kecilnya, “Usut punya usut, banyak mahasiswi yang menjadi pacarnya itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Beberapa lainnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah karena malu hamil di luar nikah.” Michiyo menatap buku catatan Miharu yang penuh dengan tulisan tentang Inoo Kei dan sebuah foto pria yang menjadi pacarnya itu. Michiyo menelan ludah, sekarang apa yang harus dia lakukan?

Yabu menghela napas berat. Dia berusaha berpikir, “Sebaiknya kau ikuti saja permainannya. Kalau kau memberontak….”

“Kau akan mati dibuatnya, Michi.” Michiyo mengangkat alis matanya sebelah, haruskah dia melakukan itu?

“Apa tidak ada cara lain?” tanyanya penuh harapan. Yabu dan Miharu menggeleng, “Bagaimana mungkin…..”

“Pokoknya kau tidak boleh gegabah, Michi. Kalau ada apa-apa, beritahu langsung padaku, aku akan menjagamu.” Miharu menepuk pundak Michiyo sambil tersenyum. Michiyo menatapnya ragu.

“Siapa yang memperbolehkanmu bertindak sesukamu, Micchan?” Yabu menatap tajam kekasihnya.

“T-tapi…”

Wajah garang Yabu tiba-tiba berubah manis karena senyumnya mengembang, “Aku akan melindungi kalian.” Michiyo melihat Yabu dan Miharu bergantian. Rasa takut hinggap dihatinya tapi melihat senyum teman-temannya ini membangkitkan rasa yakinnya.

“Sekarang, kita mulai latihannya.” Yabu beranjak dari duduknya. Miharu tertawa kecil seperti tahu maksud pacarnya itu.

“L-latihan….. apa?”


“Tidak. Tidak seperti itu, Michiyo-chan.” Yabu menggeleng dan menghela napas. Michiyo melihat Yabu salah tingkah. Baru kali ini dia dimarahi oleh Yabu, “Anggap aku ini Inoo Kei, bisa kan?”

Ganbatte ne, Michi!” Michiyo melihat Miharu kemudian mengangguk, “Yang perlu kau lakukan hanya jangan gugup dan jangan melihat matanya lebih dari tiga detik saat dia berbicara.”

“Un.”

“Ayo kita mulai.” Michiyo menutup matanya membayangkan Inoo ada dihadapannya sedang berkencan dengannya, “Bagaimana makanannya? Enak?” kata Yabu berusaha meniru Inoo.

Michiyo tertegun, dia sedang mengimajinasikan Inoo tersenyum manis dihadapannya. Sesaat dia tersenyum seakan-akan membalas senyum Inoo, “Michiyo?” Bahkan dia bisa mendengar suara Inoo memanggil namanya, “Michiyo! Michiyo-chan!!”

“Eh?” Yabu mengendus kesal mendengar jawaban Michiyo, “M-maaf. Ayo kita lakukan lagi. Kali ini pasti berhasil. Maafkan aku.” Yabu menatapnya malas tapi Michiyo membalas dengan cengiran khasnya, “Ah, dia memanggilku Michi-pyon. Mungkin kau bisa memakainya.”

“Baiklah.” Yabu memperbaiki raut wajah malasnya, “Jadi, apa kau senang menjadi pacarku, Michi-pyon?” Yabu tersenyum manis sementara Michiyo memantapkan hatinya, menganggap Inoo yang sedang berbicara padanya. Lalu dia mengikuti arahan dari Miharu, menatapnya sebentar kemudian melihat piring penuh makanan dan menjadikan makanan adalah satu-satunya pusat perhatian.

“Menurutmu sendiri bagaimana?” tanya Michiyo balik sambil sibuk dengan peralatan makannya. Dia menyinggung senyumnya.

“K-kau berhasil, Michiyo-chan! kau berhasil!” teriak Yabu kesenangan. Senyum Michiyo semakin mengembang. Jikalau memang sekarang dia bisa seperti ini, mengapa tidak di depan Inoo, kan?

“Latihan pertama sukses, latihan kedua segera menanti.” Yabu bangkit dari duduknya, berjalan menuju tempat duduk Michiyo. Secara tiba-tiba dia menarik dagu Michiyo dan menatapnya menggoda.

“A-apa yang kau lakukan, Yabu-kun?” Michiyo menatap Yabu nanar. Yabu mengeluarkan seringainya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Michiyo. Sementara Miharu memutar matanya dan melihat itu dengan ekspresi datar. Sepertinya dia tidak tahu akan ada latihan yang membuat pacarnya harus berakting mesra itu.

“Silakan lanjutkan, aku ada urusan.” Miharu meninggalkan mereka berdua.

“Y-yabu-kun, hentikan. Lihat, Miharu sedang cemburu.”

Yabu tertawa, “Dia akan semakin marah jika aku tidak bisa membantumu melawan semua godaan Inoo.” Michiyo menatap sayu Yabu. Benar juga kata pemuda ini, Miharu pasti berusaha akan membunuh Inoo bagaimana pun caranya kalau terjadi sesuatu padanya. Michiyo juga tidak ingin terpengaruh oleh Inoo Kei yang entah siapalah itu, “Jadi, bagaimana?”

“Lanjutkan saja. Aku akan berusaha!” tekad Michiyo. Yabu tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan.


“Fujimoto Michiyo, ne…”

“Huh? Itu nama siapa, Kei?” Seorang wanita bergelayut di leher pemuda yang di panggil Kei yang sedang duduk di sofa panjangnya. Inoo segera merubah air mukanya menjadi cerah dengan senyumannya.

Nanimonai. Ne, apa kau sudah bisa menjawab pertanyaanku kemarin?” Dia melihat wanita yang begitu nyaman di pelukannya.

Wanita itu berpikir sejenak, “Ah, tentang permintaanku ya?” Dia meletakkan jari telunjuknya di bibir, “Aku belum tahu. Hehe..”

“Ya sudah, tidak masalah. Aku akan menunggu jawabanmu.”

“Apa itu penting buat di jawab?” Inoo mengangguk. Tentu saja penting untuk kelangsungan hidupnya, “Kalau aku minta kau selalu disisiku sampai permintaanku yang lain sedang aku pikirkan, bagaimana?”

“Tentu saja aku selalu bersamamu.” Selama nyawanya belum dia hisap tentunya. Inoo memeluk erat gadis itu dengan wajah datar. Tampaknya dia kembali ‘lapar’.


Michiyo menatap handphone-nya yang bergetar hampir setiap menitnya. Dia begitu yakin kalau Miharu mengirimnya ratusan email secara terus menerus. Dia membaca salah satu email yang masuk:

From: Miharu

Ingat semua yang diajarkan Kouchan! Jangan buat aku sampai jadi pembunuh, ingat itu.

“Akan kulakukan semampuku, Miharu. Tenang saja.” Michiyo menyimpan telepon genggamnya di dalam tasnya, berharap getaran-getaran yang berasal dari handphone itu bisa diredam. Kemudian mengambil buku dan alat tulisnya. Tugasnya juga harus dia selesaikan, bukan? Dia membuka tiap lembar buku yang menjadi panduan belajarnya, membacanya sekilas, membuka halaman lain lagi dan sesekali mencatat yang berhubungan dengan tugasnya. Michiyo pun tenggelam dengan aktivitasnya.

“Michi-pyon..” panggilan itu mengusik sedikit kesibukan Michiyo, dia melihat orang yang memanggilnya sesaat kemudian menatap buku catatannya. Dia terlalu pusing untuk di ganggu saat ini. Yang memanggilnya menatap bingung, “Eh? Aku sedari tadi mencarimu dan setelah bertemu malah seperti ini? Ckck..” keluhnya. Michiyo membuang napas pasrah.

“Ah, Inoo-kun. Gomen, aku sedang mengerjakan tugasku.” Michiyo membaca bukunya walau sejujurnya dia juga sudah lelah membaca buku-buku tebal itu.

“Kau mengerjakan tugas apa sih? Sampai-sampai kau tidak melihatku.” Inoo duduk di samping Michiyo dan meletakkan sebelah tangannya di pinggang gadis itu.

Michiyo melepaskan tangan Inoo karena merasa sangat terganggu, “Kumohon, jangan ganggu aku sekarang. Tugasku masih banyak.” Dia kembali menulis inti sari dari buku itu.

“Oke. Tapi biarkan aku duduk disini, aku merindukanmu.” Michiyo mengangguk tanpa melihat pria itu. Inoo tersenyum melihat Michiyo yang sudah jauh tenggelam dengan tugasnya.


“Michi, Daijoubu ka?”

“Eh?” Michiyo melihat Miharu yang sedang menatapnya cemas, “Memangnya aku terlihat sakit?” Dia menyentuh pipinya pelan.

“Tidak. Tapi sedari pulang kuliah kau melamun. Ada masalah?” Miharu mendudukkan diri di sofa yang tidak jauh dari tempat Michiyo berdiri lalu melahap roti yang sedang dipegangnya. Michiyo menatap sahabatnya ragu kemudian dia melihat kembali ke arah jendela.

“Kau yakin Inoo Kei itu bukan orang baik?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Miharu balik dengan mulut penuh dengan roti. Michiyo berjalan mendekati Miharu dengan wajah yang sulit untuk dibaca. Menarik napasnya dalam dan duduk di depan Miharu, “Kan sudah kubilang waktu itu. Ah, kau mau?” Miharu menyodorkan roti miliknya yang langsung ditolak Michiyo.

“Tapi…. kalau dia jahat, dia tidak akan mengantarku pulang tadi.”

“Hei, hatimu mulai meragu? Jangan-jangan kau mulai menyukainya.”

Chigau! Yabu-kun saja tidak pernah mengantarmu pulang, siapa yang lebih jahat?”

“Heh… aku yang menyuruhnya untuk tidak repot-repot lagipula aku bukan anak kecil yang tidak tahu jalan pulang.”

Uso da!”

“Terserah~ dan, kenapa kau malah menggodaku, heh?” Miharu menyipitkan matanya yang kecil membuat wajah jadi lucu. Michiyo tertawa terbahak-bahak melihatnya, “Hei, apa yang lucu?” Michiyo hanya menggeleng sambil menahan tawanya.


Inoo menenggelamkan seluruh tubuhnya didalam bath up besar miliknya. Pikirannya entah kenapa dikuasai oleh wajah Michiyo. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada tubuh dan pikirannya.

“Hah….” Dia mengeluarkan kepalanya karena membutuhkan oksigen. Sementara tangannya sibuk meremas rambutnya gusar. Bagaimana bisa makhluk setengah manusia sepertinya bisa mengalami bimbang karena mangsanya? Dirabanya dadanya, memejamkan matanya dan merasakan sesuatu. Perasaan tenang melingkupinya saat menyebut nama Michiyo, membayangkan wajah gadis itu membuatnya tersenyum. Oh tidak, inikah cinta? Apakah dengan cinta, dia bisa menjadi manusia seutuhnya?

“Michi….-pyon..” pria itu kembali memasukkan kepalanya kedalam bath up sambil memejamkan matanya.


Michiyo menyeruput strawberry juice miliknya. Wajahnya terlihat kusut sama seperti pikirannya selama sebulan ini. Dia terus berpikir bagaimana cara untuk menjauh Inoo atau pun merubah pemuda itu. Sudah sebulan dia menjadi pacar pemuda itu dan belum tampak sesuatu yang mencurigakan dari Inoo. Michiyo yang melamun tiba-tiba tersentak saat dipeluk dari belakanng.

“Inoo-kun! Kau membuatku kaget!” Inoo tertawa lalu duduk disamping gadis yang sedang menatapnya malas itu.

“Kan sudah kubilang, panggil aku Kei.” Tangan Inoo bergerak mengacak rambut Michiyo, “Lupa lagi ya? Kebiasaan.”

Michiyo memutar matanya, “Gomen, gomen. Memangnya kenapa kalau aku punya kebiasaan lupa?” Michiyo mengalihkan perhatiannya dari Inoo, terkadang pemuda ini membuat tidak bisa mengekspresikan perasaan yang sesungguhnya. Dia ingin sekali seperti orang lain, bermanja-manja dengan kekasihnya. Tapi hatinya yang bimbang membuatnya tidak tahu harus bagaimana. Haruskah menjauhinya atau mengikuti rasa suka Michiyo pada Inoo?

“Tidak, kau lucu kalau lupa begitu.” Inoo mencubit pipi Michiyo pelan kemudian memeluk gadis itu erat, “Hari ini ada waktu? Temani aku jalan-jalan, bisa?” Inoo melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu penuh harap. Michiyo memandang Inoo sejenak, lalu mengangguk menjawabnya.


“Setelah ini kita mau kemana, Kei?” Michiyo bersandar pada tiang listrik. Kakinya sudah begitu lelah mengelilingi kota bersama pemuda yang tampaknya tidak pernah lelah itu, “Kei, jawab aku.” Tapi tak ada suara yang menyahut. Michiyo melihat ke belakangnya dan matanya menangkap gambaran Inoo yang diam mematung memegang dadanya seperti menahan kesakitan. Gadis itu mendekatinya lalu menguncang tubuh pemuda itu, “Kei, daijoubu ka?”

Inoo membuka matanya dan melihat Michiyo tajam, “Ayo!” Dia menarik tangan Michiyo kasar. Dengan kaki yang diseret karena sakit, Michiyo mengikuti Inoo. Dia begitu ketakutan saat melihat mata yang berubah warna, seketika Michiyo seperti sedang melihat iblis atau monster apa yang menguasai tubuh pemuda itu.

“Argh!” pekik Michiyo saat tubuhnya dihempaskan ke dinding. Sepinya jalanan saat itu membuat suaranya tidak ada yang mendengar. Entah dimana dia sekarang dibawa Inoo, tempatnya begitu asing bagi Michiyo, “Kei, apa yang–”

“Kau sudah siap?” Inoo menatap gadis itu seperti sedang kelaparan. Matanya mengkilat membuat Michiyo menelan ludah karena takut. Inoo memperkecil jaraknya dengan gadis itu, menjilat bibir Michiyo dan mengeluarkan taringnya yang sudah memanjang itu. Dia sudah begitu haus dan lapar.

“Tidak! Kei, apa yang kau lakukan!” Michiyo mendorong tubuh Inoo susah payah, “Ada apa denganmu, Kei?” Dia memeluk pemuda itu saat Inoo kembali mendekatinya. Dia memeluk erat Inoo yang sudah hilang kendali itu, “Sadar, Kei! Kau bukan Kei yang kukenal!”

Michiyo menangis karena takut dan bertanya-tanya dalam hatinya apa inikah ajalnya, “Kemana Kei yang manja? Yang selalu bilang padaku kalau dia merindukanku? Hei, kembalikan Kei pacarku!” Michiyo tetap memeluknya dan menangis mencoba menyadarkan Inoo. Sementara Inoo terdiam. Cahaya matanya meredup dan kembali berwarna normal. Kukunya yang panjang dan hitam sudah kembali seperti semula. Begitu juga dengan gigi tarinya yang sudah tidak panjang dan menyeramkan. Tiba-tiba Inoo merasa tidak ada tenaga. Dia terjatuh di pelukan Michiyo, “Kei?”

“Michi-pyon, arigatou na…” Inoo tersenyum lalu memejamkan matanya. Dia sudah tidak sanggup untuk membuka matanya saat ini.

“Y-yokatta!” Michiyo semakin menangis saking senangnya bisa mengembalikan Inoo seperti semula.

“Hei, aku tidak menyuruhmu untuk menangis…”

“Diam dan istirahatlah.” Michiyo menyandarkan tubuh Inoo di dinding, “Aku akan mencari bantuan, tunggulah disini. Aku akan segera kembali.” Michiyo berlari meninggalkan Inoo yang masih tersenyum.

Arigatou…”


“Maaf untuk kejadian tadi. Bukan maksudku un–”

Michiyo menggeleng, “Iie.  Jadi, bolehkah aku tahu apa yang terjadi padamu? Kau begitu…”

“Mengerikan, deshou? Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Yang kuingat aku merasa begitu marah, lapar dan haus akan tubuh manusia.”

“Tidakkah ada penangkalnya? Mungkin sesuatu yang bisa menahannya untuk tidak keluar?”

Inoo menyunggingkan senyumnya, “Bukankah kau yang tahu jawabannya?”

“Eh? Aku?” Michiyo menunjuk dirinya sendiri, Inoo mengangguk, “Aku cuma memelukmu saja kok. Apa seperti cerita Snow White yang bila dicium akan bangun?”

Inoo tertawa, “Baka! Bukan itu maksudku! Bukankah kau memelukku karena sayang?”

“C-chigau! Itu karena takut!”

“Ahahahaha… Uso! Mana ada orang ketakutan memeluk yang dia takuti..” Inoo tertawa terbahak-bahak. Michiyo mengembungkan pipinya, mungkin bisa menghilangkan semburat merah dipipinya, “Ah, kawaii~~” Inoo memegang pipi kembung Michiyo lalu mengecup bibir gadis itu pelan membuat Michiyo kaget dan pipinya mengempis, “Daisuki desu..”

“Eh?”

“Ah, tidak ada siaran ulang!”

“Eh? Chotto! Ulangi sekali lagi, kumohon…”

Inoo memeletkan lidahnya, “Tidak mau!” Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Michiyo.

“Hei, Kei! Ah, kau pelit sekali..” Michiyo mengejar pemuda itu segera mungkin, “Beritahu aku sekali, kumohon..”

Inoo menyeringai, “Janji tidak akan melamun?” Michiyo mengangguk cepat. Inoo membalikkan badannya dan berjalan mendekati Michiyo. Dia bergerak menuju telinga Michiyo, “Cari surat berwarna biru didalam tasmu.” bisiknya.

CUP! Lagi-lagi dia mencuri ciuman dari Michiyo. Michiyo diam mematung memandang pemuda itu yang pergi menjauh, “Sialan kau, Inoo Kei!” marahnya kemudian mencari surat yang dibilang Inoo tadi, “Ah!” Dengan tidak sabaran Michiyo membuka surat itu.

Michi-pyon, terimakasih sudah menyadarkanku saat itu. Sekarang aku tahu apa yang kucari darimu. Selama ini aku hanya mengikuti keinginan hatiku, mencari sesuatu yang tidak pernah kudapatkan. Kau tahu apa itu? Jawabannya gampang sekali, cinta. Tapi aku tidak bisa mengatakannya secara langsung. Ahahaha, bodoh ya? Aku ingin selalu bersamamu dan menjadi manusia biasa, bisakah? Kuharap permintaanku terpenuhi dan aku akan meninggalkan semua kehidupan lamaku. Janjiku padamu.
Michi-pyon, daisuki desu!

Michiyo tertawa, “Baka!”

“Sudah dibaca?”

“Eh?” Michiyo menoleh ke belakang dan melihat Inoo berdiri dibelakangnya, “Bagaimana bisa.. tadi kau.. dan.. kau sekarang..”

Inoo mengacak rambut gadis itu, “Siapa yang baka sekarang? Kau terlalu menghayati membaca surat itu dan tidak melihatku. Kejam sekali~” Dia memeluk gadis itu erat dan dibalas Michiyo, “Suki da..”

Boku mo.. Aku akan membuatmu menjadi manusia normal, aku janji.”

Inoo tersenyum senang, “Arigatou.” Dia mempererat pelukannya pada gadis itu, membiarkan rasa cinta dan sayangnya mengalir melalui pelukan itu. Cinta bisa mengubah apapun, deshou?

OWARI

Hisashiburi da ne~
Nah, this fiction dedicated to @melisagresiana. Gomen ne to late post your fiction. (>_

~Shield Via Yoichi~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s