[Minichapter] Gomen ne, Daisuki Dakara (chapter 3)

Title : Gomen ne Daisuki Dakara~
Chapter : 3
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship.
Ratting: PG 15
Cast: Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuka (OC), Akane Miyu (OC). Tamamori Yuta (Kis My Ft2) Dan selentingan orang lewat :p

BETA Read by. Dinchan

P.S: fanfic ini req dari temen ku kaka Winda, aku terinspirasi sama lagu ‘gomen ne summer’ dari ske48. Aku ambil sedikit, hanya mengambil intinya aja XD. Gomen kalo gaje, gomen kalo ga sedih banget, gomen kalo ga menyentuh banget nih ff XD but, please koment minna….. couse I’m need coment…. Good reading…

Gomen ne, Daisuki Dakara
Chapter 3

+++++++++++++
Daiki POV

“Ah gomen” segera aku membereskan bukunya. Diam-diam aku melihat isinya, lembar demi lembar aku membukanya, hingga akhirnya ada sebuah bacaan ‘Daisuki  Arioka Daiki’ apa? Aku?! Setelah itu aku berdiri, melihatnya yang masih berada di atas tempat tidur.

“Kau menyukai ku?” tanya ku langsung, melihatnya dengan wajah penuh tanya. Tidak menjawab, gadis yang ada di depan ku ini hanya bisa menunduk.

….

Keheningan terjadi sejenak, dengan posisi ku yang masih berdiri, melihat nya dan Yuka yang masih menunduk.

“Pfft” aku geli dengan keadaan ini “suka sebagai sahabat, bukan?” tanya ku memecahkan keheningan, sudah cukup berdiam seperti ini, membuat ku risih. Melihat Yuka masih dengan posisinya menundukan kepala, aku berinisiatif duduk di sampingnya. “iya kan?” tanya ku lagi.

Yuka segera saja mendongakkan kepala nya, seakan aku memecahkan lamunannya tadi, menatap ku teduh “iya” jawab Yuka, yang singkat dan padat bagi ku, meski aku melihat keraguan di dalam matanya.
Aku meletakkan kembali buku diary Yuka diatas meja samping ranjangnya, sebenarnya belum ku baca sama sekali isi buku itu, bagi ku itu adalah privasi Yuka dan aku tidak mau mengetahui rahasianya. Hanya karena iseng dan kebetulan tulisan ‘Daisuki Arioka Daiki’ begitu jelas dan tak sengaja aku baca.

“Kita kan sahabat, Dai-chan~” ucap Yuka dengan manja, aku rasa Yuka ingin mencairkan suasana yang sempat tegang tadi, gadis itu tersenyum melihat ku “iya sahabat” ulangnya lagi.
Refleks.Tangan ku terangkat, seperti ingin membelai lembut rambutnya, namun keinginan itu ku batalkan dan ku alihkan memukul kepalanya. “Kau aneh!”

“Aiihh” ringisnya sambil mengelus kepalanya sendiri “kau ini, main pukul kepala orang saja!” kesal Yuka.
Seakan tanpa dosa dan bersalah aku berdiri, baru ku sadari. Di kamar, berdua, atas ranjang. Tidak, ini buruk. Pikiran ku mulai kacau. Sadar Daiki…sadarlah…

“Heh! Penguin, tidak pulang?” tanya Yuka kepada ku sambil melipat kedua tangannya di depan dada “tidak sopan di kamar ku, hanya berdua. Perasaan ku tidak enak..” ucap Yuka sambil bergidik. Dasar dia, baka!

“Iya, aku pulang. Aku hanya ingin bil..”

“Pulang!!”

BRUGH!!

Sebuah bantal sukses mendarat di tubuh ku yang asalanya di lempar oleh Yuka, aku mengerti sepertinya dia ingin aku cepat-cepat pulang. “Iya..iya cerewet!” ucap ku berpura-pura sebal, tidak ada jawaban. Aku pun keluar dari kamarnya.

“Pengu bakaa!!” tanpa sengaja aku mendengar rengekan Yuka dari dalam kamar saat aku baru saja keluar.

Aku baka? Apa maksudnya?

Tidak mau ambil pusing, aku pun memutuskan pulang sebelum berpamitan dengan ibu Yuka.

…..

Kembali bekerja, kembali menjadi manager di Resto Arioka. Tidak ada kehadiran Yuka membuat beberapa pelayan menagalami kesulitan, sama hal nya seperti sebelum tidak adanya Yuka, berantakan, pelanggan banyak protes karena pesanan yang lama di antar ke meja mereka. Menyesal juga aku memecat Yuka, kalau tau akan seperti ini, mungkin aku harus menjaga lagi semosi ku. Cih, benar kata Yuka. Aku baka.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahu ku, membuat ku kaget dan sadar dari lamunan ku “kenapa, Arioka?” tanya sosok itu, Akane-san. “Kau menyesal tidak, Yuka tidak ada di sini lagi?” tanya nya kemudian, yaampun dia tau isi pikiran ku, apa kami jodoh? Tidak, kau menghayal Daiki. “hey!!” lagi-lagi Akane-san mengagetkan ku.

Aku mengelus dada ku karena kaget “i-iya, semesti nya aku tahan emosi ku” jawab ku akhirnya, seakan pasrah dengan keadaan. Aku melihat Akane-san sedikit menyungging bibirnya.

“Aku bilang juga apa, jangan mengambil keputusan dengan keadaan emosi, Arioka” sambil menepuk bahu ku Akane-san mengambil tas nya yang berada di dalam loker “Aku pulang”

“Cepat sekali” kaget ku, karena jujur saja, sedari tadi aku hanya diam dan tidak melihat sama sekali jam arloji yang menempel di dinding bahkan jam yang berada di tangan ku.

Sedikit tertawa, Akane-san melepas ikatan kuda nya itu, membuat rambutnya tergerai dan…astaga dia cantik “ini sudah waktunya pulang, kau mau menginap di sini?” sambil menggeleng, Akane-san  menginggalkan ku di dalam ruangan ini, ruangan tempat para pekerja menyimpan barang mereka. Bukan untuk mengganti baju, tetapi hanya tempat menyimpan tas mereka di dalam loker yang sudah di sediakan.

Sedangkan aku hanya duduk di sudut ruangan sambil melamun di dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan di luar sana.

Aku melihat jam tangan ku. Jam enam sore, dan artinya restoran sudah tutup. Merasa menyesal aku menepuk kening ku, Yuka kau benar, aku baka.
..

Saat aku keluar dari restoran dan mengunci pintu, tak sengaja  aku melihat Akane-san yang sudah mulai berjalan jauh. Tapi sebentar, dia tidak sendirian, aku menyipit kan mata ku. Memastikan kalau aku tidak salah lihat, dan ternyata itu Akane-san. Tapi  sama siapa ya? Sepertinya laki-laki. Ah mungkin kakak nya.
Ucap ku dalam hati menepis keraguan ku.

Setelah itu aku berjalan menuju rumah, yah jarak rumah ku dan restoran ini tidak terlalu jauh sebenarnya.

Jadi untuk apa naik mobil? Kalau dengan berjalan kaki pun masih bisa ku jangkau.

“Daiki baka!!” seru seseorang dari belakang ku, ku tebak itu suara Yuka. Tidak berbalik, namun aku hanya menghentikan langkah ku.

TAP…TAP..

Aku mendengar derap langkah kaki seseorang menghampiri ku, seketika itu saja aku berbalik. Dan, BINGO! Aku benar, itu Yuka.

Ia berlari tergopoh-gopoh karena membawa kantung belanja yang nampaknya berat di kedua tangannya.
Jangan-jangan dia habis belanja di Supermarket.

“Hey, kau ini datang-datang langsung memanggil ku baka” kesal ku terhadapnya, namun tangan ku langsung mengambil salah satu kantung belanja yang ada di tangannya saat Yuka di dekat ku.

“Hmm, itu kenyataan kan? Kau baka..baka” ulangnya lagi, cukup..aku tahu aku baka.

“Lalu, kenapa kau menghampiri ku? hanya mau mengatai  aku baka?” tuduh ku tak kalah serunya seperti yang ia ucapkan tadi. Yuka terkekeh pelan.

“Bercanda~ aku tadi habis belanja, tidak sengaja melihat mu, ya aku sapa saja, salah ya?” tanyanya dengan tampang bocah yang tanpa dosa. Yaampun selalu saja begitu.

“Iya boleh kok, tapi berhenti memanggil ku baka”

“…”

“Yuka?” panggil ku, melihatanya hanya berjalan diam dan sesekali menendang kerikil yang ada di dekatnya,

“Baka” ucapannya kecil, tapi terdengar di telinga ku.

JDUK!

“Aw!!” Yuka meringis kesakitan karena ternyata dirinya menabrak beton yang ada di berbelokan, bukannya belon dia malah jalan lurus samba menunduk, yaa jelas saja dia akan tertabrak tembok. Untung bukan mobil.

Sambil menggeleng aku mendekatinya “gak hati-hati sih” aku mengambil rambut halus nya yang panjang, lalu aku tiup rambut itu agar sedikit hangat dan menempelkan di tempat yang sakit. Kata orang tua ku dulu, cara inilah yang bagus untuk menghilangkan rasa sakit saat habis terbentur. “Masih sakit?” tanya ku, masih mengusap rambut di kepalanya.

Yuka menggeleng, ku rapikan kembali rambutnya karena sudah merasa diri Yuka membaik.  Baru aku sadari, jarak kami sangat dekat, hanya beberapa senti saja, Yuka bersadar di tembok sedangkan aku sedang menghimpitnya. Jika di lihat orang, mungkin kami seperti akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Aku coba menjauh dari tubuh Yuka.

GREP!

Gadis itu kembali menarik bahu ku hingga aku kini lebih dekat dengannya, terdengar deru nafas Yuka yang memburu dan bunyi detak jantungnya yang sudah mulai tak beraturan, mata kami saling bertemu. Hey, kenapa dengan dia?.

“Dai-chan, kau masih meyukai, Miyu-chan?” tanya Yuka, melihat ku serius dan seakan ingin menangis, ingin aku katakan yang sejujurnya, tapi kenapa. Kenapa dalam hati aku tidak tega untuk mengatakannya?.

“Dai-chan jawab aku” desak Yuka.

“Iya, aku masih menyukai Akane-san” aku melihat, mata Yuka sedikit mengeluarkan cairan bening dari mata coklatnya. Maafkan aku Yuka, kalau aku melukai hati mu.

“Souka” Yuka tersenyum, mengambil kantung belanja nya yang ada di tangan ku. “Yokatta” gadis itu menjauh dari ku, berjalan berlawanan arah, aku tebak ia ingin ke tempat aku dan dia sering bertanding lari.

….

Semut-semut  yang  ada di pohon ini menganggu ku saja, sudah tahu aku sedang mengintip, yah mengintip. Seperti yang aku bilang tadi. Aku mengikuti Yuka dan ternyata benar, dia sekarang berada di tempat kami biasanya berdua. Berlari sebagai rival. Ah, rasanya aku rindu untuk lari di sana.

Di sana? Aku kini sedang mengendap-endap, lebih tepatnya aku berada di balik pohon tempat Yuka duduk. Tidak sendiri, dia bersama Yuta-senpai. Maka dari itu aku tidak berani medekati Yuka, ingin tahu apa yang mereka bicarakan, di bilang aku ini menguping. Bisa jadi.

“Perasaan tidak terbalas?” tanya Yuta-senpai menanggapi pertanyaan Yuka, aku lihat gadis itu mengangguk.

“Ya, rasanya sakit senpai. Aku menyukainya, tetapi dia menyukai orang lain”

JLEB!

Seketika aku melohok mendengar perkataan Yuka, menyukai seseorang? Tapi orang itu menyukai orang lain? Mengapa itu sepertinya tertuju pada diri ku? masih merasa penasaran. Akupun kembali memasang kuping ku, mendengar percakapan mereka selanjutnya.

“Jadi kau menyukainya?” Hah? Siapa? Sial kenapa aku pake acara bengong segala…sesal ku.

Merasa aku terlambat untuk tahu siapa yang Yuka sukai, aku pun memutuskan untuk pulang. Aku lelah. Aku ingin segera tidur di ranjang  nyaman ku. Kasur, aku datang~

….

Hari-hari terus berlalu, musim panas terasa begitu lama karena tidak ada nya Yuka, ya sejak kejadian sore itu aku sama sekali tidak dapat kabar apapun dari Yuka meski satu kali, beberapa kali aku mengirim nya e-mail. Tapi sama sekali tidak di balas. Menelponnya, sia-sia saja tidak di angkat, bahkan terkadang handphone nya tidak aktif.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon Yuta-senpai, siapa tahu Yuka sedang bersamanya.
Panggilan ku tersambung, tak lama kemudian aku mendengar sambungan itu di angkat “Moshi-moshi”

“Senpai” girang ku.

“Ya?”

“Apa senpai sedang bersama Yuka? Karena sudah lima hari aku tidak mendapat kabar” jelas ku kepada
Yuta-senpai.

“Loh, bukannya Yuka kerja di restoran mu?” astaga, jadi Yuta-senpai tidak tahu Yuka sudah di pecat. Lalu, kemana gadis itu?

Tidak sanggup lagi aku bicara, langsung saja aku memtuskan sambungan itu. Perasaan ku campur aduk saat ini. Panik. Rindu. Bercampur menjadi satu. Haruskah aku datang ke rumahnya?

====

Keraguan ku terhapus sudah karena rasa rindu dan rasa panik ku terhadap Yuka lebih besar daripada rasa gensi ku. Kini aku ada di depan kamar  Yuka, kenapa aku barada di sini sekarang? Karena aku di izin kan ibu Yuka masuk ke kamarnya, ibu nya percaya kalau aku tidak akan melakukan apa-apa terhadap Yuka.
Aku sahabat Yuka, dan Yuka adalah sahabat ku.

Perlahan namun pasti aku memutar kenop pintunya, membuka sedikit pintu itu karena ingin memastikan gadis itu ada di dalam atau tidak. Ternyata ada, hanya duduk berdiam diri di atas kasur di selimuti dengan selimut biru mudanya.

“Yuka..” panggil ku pelan, masih berdiri di dekat daun pintu. Mendengar pangggilan ku, ia menoleh ke arah ku. “Apa kabar?”

“Baik” jawab nya sambil tersenyum, merasa Yuka tidak akan marah kalau aku masuk, akupun mulai melangkahkan kaki ku ke dalam kamarnya “stop!” seru Yuka. “lebih baik kau pulang”

WHAT?!

Apa-apaan ini?

“Memang kenapa?” tanya ku kebingungan, ada apa sebenarnya dengan Yuka?

“Aku bilang pulang, ya pulang baka!”

BRUGH!

Lagi-lagi hal yang sama terjadi seperti waktu itu, Yuka melempar bantalnya kearah ku. Baik, aku mengalah, kali ini aku tidak mengerti perasaan Yuka.

“Gomen” ucap ku sebelum keluar dari kamarnya, banyak pertanyaan yang ada di benakku tentang Yuka, mengapa dengan dia? Siapa yang dia suka? Mengapa dia menjauhi ku? apa dia membenci ku?

Tapi.

Apa sebabnya?

….

Saat aku sampai ke ruang tamu, ibu Yuka mengahampiri ku, aku melihat wkecemasan di wajah yang seditik tua itu.

“Bagaimana dengan Yuka?” tanya ibu paruh baya itu khawathir, tersenyum akupun enjawabnya dengan jujur.

“Bibi, Yuka menyuruh ku pulang, aku pamit ya”

“Souka, Arioka. Tolong bantu bibi, bujuk Yuka agar mau keluar dari kamarnya.” Ucap ibu Yuka kepada ku seakan memohon, keluar dari kamar? “beberapa hari ini Yuka tidak mau keluar dari kamarnya, kecuali ke kamar mandi” seperti tahu maksud pertanyaan di dalam hati ku, ibu Yuka menjawab salah satu pertanyaan ku. Dengan tulus, aku tersenyum.

“Baik bibi, percaya pada ku”

====

Sambil berjalan menuju rumah, sejuta pertanyaan terhadap Yuka masih terngiang di dalam otakku, sepeti kaset yang terus di putar berulang kali.

“Hari ini tidak ke Supermarket?”

O’ow, tanpa sengaja aku mendengar suara laki-laki yang bertanya kepada orang di sampingnya, merasa penasaran akupun refleks bersembunyi di balik tembok yang menghalangi ku, melihat dua manusia itu.
Betapa terkejutnya aku, kalau ternyata orang itu adalah Akane-san.

Akane-san menggeleng “hari ini aku off” jawabnya terdengar manis.

“Kalau begitu, selamat malam. Miyu” kata laki-laki itu, siapa dia? Beraninya memanggil Akane-san dengan nama kecil nya, baru saja aku mau melangkah mendekati mereka. Tiba-tiba..

CHUP~

Mata ku terbelalak melihat adengan itu, mereka berciuman, di depan ku, tanpa mereka sadari. Jangan-jangan…mereka sepasang kekasih?

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s