[Minichapter] Gomen ne, Daisuki Dakara (chapter 2)

Title: Gomen ne Daisuki Dakara~
Chapter : 2
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship.
Ratting: PG 15
Cast: Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuka (OC), Akane Miyu(OC), Tamamori Yuta (Kis My FT2)

BETA Read by. Dinchan

P.S: fanfic ini req dari temen ku kaka Winda, akuterinspirasi sama lagu ‘gomen ne summer’ dari ske48. Aku ambil sedikit, hanyamengambil intinya aja XD. Gomen kalo gaje, gomen kalo ga sedih banget, gomenkalo ga menyentuh banget nih ff XD but, please koment minna….. couse I’m needcoment…. Good reading…

Gomen Ne, Daisuki Dakara
Chapter 2

POV Yuka
+++++++++++++
Aku kini sedang duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit,menundukkan kepala ku, menyesali sesuatu hal. Hal yang sangat bodoh bagi ku.

Ya, Daiki di bawa ke rumah sakit, aku belum tau ia sakit apa, tapi aku rasa. Penyakit asma nya kambuh lagi.
“Bagaimana keadaan Daiki?” tanya ayah Daiki yang baru sajadatang dan langsung menghampiri ku.

“Saya belum tau, paman”

“Sudah saya bilangkan?, jangan ajak Daiki berlari saat dia lelah?” marahnya, aku sontak saja terdiam, iya ini salah ku.

“Gomenne…”

Daiki sejak dulu sudah mengidap penyakit asma, ya dia tidak akan sakit saat berlari. Karena tidak terlalu parah. Tetapi saat Daiki lelah,lalu di ajak berlari. Asma nya akan kumat. Dan aku lupa akan hal itu. Daiki pasti marah sekali  padaku, apalagi ayahnya. Karena hal seperti ini sudah kulakukan dua kali.

Sementara suasana hening, dokter pun keluar dari ruanganDaiki di periksa, aku melihat ayah Daiki mendekati dokter tersebut, aku punikut.

“Bagaimana dok?”

“Tidak apa-apa, Daiki hanya perlu istirahat sekarang ini,dia membutuhkan oksigen yang banyak” jawab sang dokter.

“Apa sudah boleh di besuk?” tanya ku, aku melihat kearah ayah Daiki, tampaknya ia sedikit marah kepada ku.

“Boleh, tapi hanya sebentar.”

“Tuh, sebentar” ulang ayah Daiki, yang sepertinya menginginkan aku cepat-pulang dari tempat ini.

Aku hanya mengangguk dan kemudian masuk ke kamar itu.

_____________
Daiki belum juga siuman, nafas nya masih satu-satu dan itupun di bantu oleh alat pernapasan yang ada di sekitar wajahnya. Aku bodoh telah membuat dia sakit, aku menyesal, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena hanya di beri waktu hanya sebentar. Walau aku belum mau.

Author POV

Yuka berjalan gontai sambil membawa tas tangannya, sesekali ia menendang batu, atau kerikil yang ada di dekatnya, ia sedang marah? Mungkin saja, di lihat dari raut wajahnya, sepertinya wajah Yuka sangat muram, seperti malam yang menemaninya saat ini.

TIIITT  TIIIIIITT!!!

Tiba-tiba saja ada klakson mobil yang membuat Yuka kaget dan rasanya ingin lari, gadis itu melihat ke sumber suara, mobil itu memasang lampu yang sangat terang, sehingga Yuka tidak bisa melihat dengan jelas.

“Kalo jalan hati-hati dong” semprot si empunya mobil saat iamemberhentikan mobilnya di samping tubuh Yuka yang sejak tadi mematung.

“Aku jalannya minggir kok, gak di tengah” elak Yuka, lalu ia melihat orang di dalam. Sepertinya ia kenal, karena matanya membulat saat itujuga. “Se-senpai?”

“Nani?” tanya nya sambil tersenyum.

………….

“Jadi, Daiki sakit lagi?” tanya Yuta, ya orang itu yanghampir menabrak Yuka di jalan tadi, ia adalah Tamamori Yuta senpai skaligus ketua club atletik. Jadi Yuta tau sekali sifat Daiki dan Yuka yang sudah sangat akrab dengan kedua sahabat itu.

Dengan embel-embel tidak rela membiarkan sang gadis pulang sendirian malam-malam. Yuta menawarkan gadis itu ke sebuah café untuk mengobrol. Dan untungnya Yuka mau.

“Iya, ini salah ku, sudah tau kalau dia kelelahan tidak boleh di ajak lari, aku malah melakukannya. Bagaimana kalau dia marah?”

“Aku yakin dia tidak marah” jawab Yuta sambil menyesap kopi yang ia pesan “dia sahabat mu”

“Tapi itu bisa saja terjadi”

“Dengar Yuka, kalau dia memang tulus menganggap mu sahabat,dia rela melakukan apapun asal kau tidak marah, bahkan sampai ia sakit. Kamu sendiri juga begitu kan?” tutur Yuta meyakinkan kouhai yang ada di depannya kini.

Yuka hanya bisa menunduk. Kopi yang dipesankan oleh Yuta hanya di biarkannya saja, sampai minuman itu mendingin.

“Aku tidak bisa melakukan apa-apa, tapi… bagaimana kalau besok aku menjenguknya, dan kau ikut.” ajak Yuta.

Yuka hanya memberikan respon dengan diam sambil melihatnya,seakan gadis itu masih sedikit ragu untuk datang ke rumah sakit itu lagi.

“Oke, besok ku jemput di rumah jam delapan” ucap Yutatiba-tiba memberikan keputusan.

Yuka kaget, “eehhhh?”

“Maaf nona, keputusan tidak bisa di tolak.”

+++++++++++

Beberapa kali Yuka melihat ke jam yang melingkar manis ditangannya, sudah jam delapan lewat dan Yuta belum juga datang.

Sang ibu yang melihat anaknya sedang gelisah di ruang tamu.Akhirnya mendekati anak kesayangannya itu.

“Salam buat Daiki ya, semoga dia cepat sembuh” kata ibu nya,Yuka tersenyum paksa kepada ibunya itu.

“Iya bu, nanti Yuka sampaikan”

“Lalu, Yuka di jemput siapa ini?”

“Yuta senpai, tapi entah kenapa dia belum juga datang,padahal janjiannya jam delapan”

Belum sempat Yuka kembali mengadu kepada ibunya, tiba-tiba sebuah mobil datang yang Yuka tau itu adalah mobil senpai nya.

“Yuka, gomen telat” ucap Yuta setelah turun dari mobilnya dan menghampiri Yuka.

Melihat ibu Yuka, pemuda itu langsung menunduk hormat “hahatidak perlu seformal itu, tolong jaga Yuka ya” ucap sang ibu.

“Baik tante” jawab Yuta.

++++++++++++
“Ohayou” sapa Yuta kepada Daiki yang baru saja membukamatanya. Kata dokter keadaan Daiki sudah lebih membaik daripada tadi malam,nafas nya juga sudah mulai kembali normal. Dan alat-alat yang berada di sekitarwajah Daiki sudah di lepas.

“Ohayou.. senpai” Daiki melihat gadis di samping Yuta “haiYuka…”

“Bagaimana keadaan mu sekarang?” tanya Yuta.

“Sudah membaik senpai, hahaha sepertinya aku kelelahan sekali kemarin”

“Gomenne Dai-chan” ucap Yuka sambil menunduk, ia tidak berani menatap Daiki.

“Gomen? Untuk?”

“Kamu sakit gara-gara aku, kan?” tanya Yuka dengan suara bergetarnya, sepertinya ia akan menangis, tetapi gadis itu sendiri juga bingung, mengapa ia ingin menangis?

“Baka…. Muri,,,,”

“Uso”

“Senpai, aku ingin bicara berdua dengan Yuka” ucap Daiki kepada Yuta, tidak bisa menolak, Yuta pun keluar dari kamar Daiki.

“Kamu ngomong apa sih Yuu-chan?” tanya Daiki sambil mendudukan posisi nya. Melihat ke wajah Yuka yang sudah basah karena air mata“aku sakit bukan karna kamu, kalau aku sakit, ya sakit aja. Memang kondisiku lemah.” Lanjut Daiki lagi, menghapus air mata sahabatnya itu.

“Coba aku tidak mengajak mu berlari…kau pasti..”

“Tidak akan sakit? Itu kan yang akan kamu katakan?” Yukamengangguk.

“Aku kangen sakit ini sebenernya…” kata Daiki sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya dari Yuka.

Gadis itu melihat Daiki heran “maksud mu apa?”

“Aku kangen di khawatirin sama kamu Yuu-chan, dan dengan begini, aku bisa di jagain sama kamu kan? Aku bisa cerita-cerita sama kamu.Sebab nya sewaktu kita sekolah, kita di sibukkan dengan belajar dan klub,liburan musim panas kita sibuk bekerja, jadi aku jarang cerita dengan mu.”Jelas Daiki, gadis itu hanya bisa diam, di luar dugaannya Daiki akan merasa seperti itu.

“Emang mau cerita apa?”

“Aku menyukai seseorang” senyum sumringah terlihat dari wajah Daiki, sempat saja membuat wajah Yuka memerah.

“Tapi diam-diam aja ya”

Tetapi setelah mengetahui siapa orangnya. Wajah Yuka menekuk, jantungnya terasa berhenti saat itu juga.

Kenapa?

Kenapa bukan dirinya yang di cintai Daiki?

Dua hari kemudian—

“Meja nomor tiga… memesan okonomiyaki” teriak Yuka sambi lmenempel kertas pesanan di dinding dekat dengan Miyu sang koki, agar bisa dibuat cepat dengan Miyu.

“Hati-hati gelasnya pecah” peringatan dari Daiki kembali terdengar oleh Yuka, saat ia hendak membereskan meja nomor enam.

“Siap bos!!” Yuka memberikan tanda hormatnya lalu meninggalkan sang manager.

“Keadaan mu bagaimana Daiki? Gomen tidak bisa menjengukmu kemarin..”tanya Miyu sembari memasak pesanan pelanggan. Daiki mendekat kearah Miyu sambil tersenyum.

“Aku sudah baikan kok…tidak apa-apa aku mengerti Akane-san”

“Mengerti apa? Kau belum tau pekerjaan ku selain ini hahaha”seru Miyu. Tidak menjawab, Daiki hanya tertawa kemaluan karena merasa sok tau.

Sedangkan tidak jauh dari tempat memasak, ada sepasang  mata yang melihat mereka berdua. Sadar dirinya di panggil untuk mengantarkan pesanan pelanggan, ia langsung mengambil nampan dan menyimpan Ramen untuk di antar.

Namun alih-alih pesanan sampai ke meja pelanggan nampan yang menopang makanan dan minuman itu pun terjatuh ke lantai hingga berantakan. Yuka bodoh! Geramnya dalam hati.

“YUKA!!” Daiki menghampiri Yuka yang sedang membersihkan makanan yang jatuh itu dengan panik. Yah … dia tau riwayatnya akan berakhir hari ini juga.

“Gomen..gomennasai…” segera saja gadis itu berlari sambil membawa nampan dan makanan yang sudah di bereskannya. Daiki yang melihat tingkah laku bawahannya itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat.Menahan agar amarahnya tidak keluar di depan para pelanggan. Tidak mau berlama-lama Daiki menyusul Yuka yang berada di dalam dapur.

Sesampainya di sana, Daiki hanya bisa mendengarkan tangisYuka, mungkin tangis penyesalan baginya. Padahal itu adalah kesempatan terkhir bagi Yuka agar bisa tetap bisa bekerja. Ia lalai dalam bekerja, tidak fokus.Itu lah yang ia salahkan pada dirinya sendiri.

“Tadi kesempatan terakhir, Nakayama Yuka” kata Daiki yang sudah ada di belakang Yuka, gadis itu semakin menangis mendengar perkataanDaiki. “sekarang bereskan pakaian dan barang mu, jam lima sore tunggu aku ditempat kita biasa” setelah itu Daiki meninggalkan Yuka.

Gadis itu semakin menjadi dalam tangisannya. Kini di dalam hati nya hanya ada kata ‘maaf’ untuk Daiki, ia terlalu bodoh menjadi manusia.Yah dia merasa seperti itu.

_________

Seperti janji, Yuka sudah setia menunggu di tempat mereka biasa bertemu, tempat di mana mereka biasanya berlomba untuk berlari. Namun kali ini sepertinya bukan untuk berlomba lari mereka ke sini, Yuka merasa Daiki akan memarahinya habis-habisan. Namun untuk itu, Yuka sudah menyiapkan mentalnya agar tidak menangis di depan Daiki.

“Yo!!” seru Daiki yang baru saja datang sambil melambaikantangannya kepada Yuka. Ia tidak sendiri tetapi bersama Yuta, ya Daiki juga membawa Yuta saat itu.

“Kenapa sama Yuta senpai?” Tanya Yuka kepada Daiki, namun yang di tanya tidak menjawab, ia malah melihat kearah senpai nya,

“Daiki menyuruh ku untuk lomba lari dengan mu” jawab Yuta polos, ya karna dirinya sama sekali belum pernah menjadi rival Yuka yaitu anak buahnya sendiri di club.

Yuka melihat ke arah Daiki dengan tatapan bingung “kau kanhabis di pecat oleh ku, jadi untuk menghilangkan kesedihan mu, kau pasti mau berlari kan? Yuka?” katanya “karna keadaan ku yang masih lemah, jadi aku meminta bantuan Yuta senpai”

Tidak bisa mengatakan apa-apa gadis itu hanya tersenyum dan mengeluarkan air matanya dari sebelah kanan, bertanda kalau dia senang saat ini.

Daiki POV

Hanya bisa melihat mereka berlari saat ini, berkeliling lapangan ini yang luasnya 30 meter . aku rindu untuk berlari, tetapi apa yangbisa ku lakukan? Jika aku ingin mati mungkin saja aku berlari sekuat tenaga sekarang juga tanpa henti. Sampai nafas ku tidak ada lagi.

Tetapi aku tidak bisa melakukan itu, aku masih punya keluarga, dan itu yag harus aku pertanggung jawabkan, adik-adikku, saudara,sahabat…saat aku mengingat sahabat, aku langsung melihat Yuka yang kini sedang menghampiri ku untuk ikut duduk.

“Aaaahh~ lelah sekali…. Dai-chan, masa senpai Yuta kalah dengan ku” seru Yuka kesenangan sambil menunjuk kea rah Yuta senpai.

“Iya dia curang pake dorong-dorongan tadi” elak Yuta senpai tak mau kalah, sedangkan gadis itu hanya menyebilkan lidahnya ke arah senpainya sendiri. Dasar Yuka, dia memang sangat lucu. “Eh dia malah tidur” kata Yuta senpai, sontak saja aku melihat kearah Yuka,ternyata benar dia malah bersender di bangku sambil tertidur.

“Dasar…” desis ku. “Biar aku yang antar dia ke rumah” tawarYuta senpai, aku menggeleng “aku saja senpai, lagian ada yang ingin aku bicarakan” Yuta senpai mengangguk tanda dia mengerti.

+++++++++++++++

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk dia bagun, Yuka memang bukan tipe orang yang pemalas dan sering tidur, namun saat aku melihat wajahnya,nampaknya Yuka sedang kaget.

“Ada apa Yuka?” tanya ku heran.

“Aku..pingsan?” dia kebingungan, membuat perut ku geli dan ingin tertawa terbahak-bahak saat ini.

“Baka..”

Yuka mendudukan posisinya, melihat ke sekeliling kamarnya“Kok..” dia semakin bingung, ya ampun dia lucu sekali.

“Kau tadi ketiduran hahahahaha dasar baka” tawa ku meledak saat itu juga, melihat wajahnya yang semakin mengkerut semakin membuat perut kugeli.

“Yamete~ jangan tertawa lagi…” pintanya, namun aku masih saja tertawa sepuasnya, sampai akhirnya aku melihat wajahnya ingin menangis.Aku salah mengambil tindakan.

Aku meraih tangannya “gomen sudah memecat mu tadi” ucap kulembut, Yuka mengangkat kepalanya dan melihat kearah ku. “karna, aku tidakingin kekurangan pelanggan” sambung ku lagi.

“Daijoubu desu yo~ gomen aku sudah lalai dalam pekerjaan”sesal Yuka, aku tersenyum karna dia tidak bersikap seperti anak kecil. Merasa lega, aku pun berdiri dari posisi duduk ku yang berada di sampingnya, tidak sengaja aku menjatuhkan buku diary Yuka.

“Ah gomen” segera aku berjongkok dan membereskan bukunya.Diam-diam aku melihat isinya lembar demi lembar aku buka, hingga akhirnya  ada sebuah bacaan ‘Daisuki  Arioka Daiki’ apa? Aku?! Setelah itu akuberdiri, melihatnya yang masih berada di atas tempat tidur.

“Kau menyukai ku?” tanya ku langsung, melihatnya dengan wajah penuh tanya. Tidak menjawab, gadis yang ada di depan ku ini hanya bisa menunduk.

TBC ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s