[Minichapter] Gomen ne Daisuki Dakara (chapter 1)

Title : Gomen ne Daisuki Dakara~
Chapter : 1
Author: Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance
Ratting: 15
Cast: Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuka (OC), Akane Miyu(OC). Dan selentingan orang lewat :p
BETA by Dinchan

P.S: fanfic ini req dari temen ku kaka Winda, akuterinspirasi sama lagu ‘gomen ne summer’ dari ske48. Aku ambil sedikit, hanyamengambil intinya aja XD. Gomen kalo gaje, gomen kalo ga sedih banget, gomenkalo ga menyentuh banget nih ff XD but, please koment minna….. couse I’m needcoment…. Good reading…
Di sini full POV Yukaya!!

Gomen ne Daisuki Dakara
Chapter 1


Berlari adalah hobi ku sedari kecil hingga aku duduk dibangku SMA kini, bahkan aku sudah mengikuti klub atletiknya. Aku senang bisa begini, aku senang bertarung di dunia berlari, seakan langkah ku tak bisa dihentikan jika sudah terlalu kencang, rasanya begitu menyanangkan.

Tapi ada juga yang tidak menyenangkan bagi ku, yaitu mengejar bayang-bayang seseorang yang aku sukai, meski aku sudah berusaha untuk menyatukan bayangan ku dengan bayangan nya, tetapi aku rasa sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa.

“Yuka-chan, kelihatannya kau sangat lelah” sebuah botol dingin tertempel di pipi ku, membuat aku tersadar dari lamunan ku tadi.

“Aku tidak apa-apa Daichan” jawab ku kepadanya, sang pelaku yang telah jahil mengagetkan ku dengan botol dingin.

“Benar? Karena.. kalau kau sakit aku tidak bisa bertanding lari lagi bersama mu. Setelah pulang sekolah” ucapnya dengan santai, dia mengajak aku bertanding berlari pulang nanti. Aku menghela nafas ku dalam-dalam, merasa lelah karena sudah setiap hari berlari dengan nya, tetapi rasanya aku tidak bisa menolak.

“Ya sudah, siapa takut? Tapi aku gak mau tanggung jawab ya kalo kamu sampai pingsan”

“Okelah….. lagian aku yang harus nya bilang begitu” sanggah Daiki. Aku refleks melotot ke arahnya.

“Mana bisa~ laki-laki itu harus tanggung jawab Daichan..”bantah ku dengan tegas terhadapnya.

“Memangnya… tanggung jawab seperti apa yang kau butuhkan?Hmm?” kini Daiki malah mendekatkan wajahnya kearah wajahku, membuat aku kaget dan terpaku.

Aku hanya diam dan langsung menggeleng.

TENG TENG.

Daiki menjauhkan wajah nya dari wajah ku, meyadari waktu istirahat telah berlalu, dan kini masuk ke waktu pelajaran selanjutnya.Ternyata Tuhan masih menolong ku untuk tidak memainkan jantungku dengan cepat seperti tadi.

Aku adalah Nakayama Yuka seorang perempuan yang bergabung di klub atletik sekolah, karena aku memang sangat menyukai berlari, dan aku telah menjadi pencetak rekor pelari tercepat untuk kategori perempuan di sekolah ku sejauh 100m. Sedangkan untuk laki-laki-nya yaitu sahabat ku sendiri sejak kecil, karena dia menyukai lari juga, dan dia sama seperti ku, pelari tercapat untuk kategori pria sejauh 100m. dia adalah Arioka Daiki. Dan sejak itu ia ingin menjadi rival ku, mengajak ku bertanding setiap hari setelah pulangsekolah. Meski aku lelah, namun aku tak bisa menolak, karena aku ingin mengejar bayangan nya itu, untuk menyatukan bayangan nya dengan bayangan ku.

++++++++++++++
“Gagal lagi!!” seru Daiki, aku memang selalu gagal untuk mendahului orang ini. Sementara aku hanya bisa ngos-ngosan, lelah setelah berlari sejauh 30m tiga kali keliling.

Daiki mendekati ku, lalu merangkul ku “tapi kecepatanmu bertambah Yuu-chan” katanya.

“Benarkah?” aku langsung menyambar stopwatch yang ada ditangan Daiki tadi. “hanya 0,5 detik” kini aku melepaskan rangkulan Daiki itu,dan duduk di bangku yang tidak jauh ditempat kami berada.

“Jangan sedih Yuu-chan…. Terus berlatih, kau pasti bisa mengalahkan ku neee?” lagi-lagi Daiki mendekatkan wajahnya kearah ku.

“Sudah hentikan, kalo ngomong tidak usah dekat-dekat” ucapku sambil mendorong tubuhnya agar menjauh dari ku.

“Malu ya~ haha yasudah sebagai gantinya aku beliin es krim deh” ucap Daiki, berbasa-basi terhadap ku. aku manatapnya sebentar. ‘YaTuhan….Kenapa aku bisa suka sama orang ini?’ pikir ku di dalam hati.

“Mau nggak?”

“Iya  Daichan, aku mau” dan lagi-lagi aku tidak bisa menolak.

________________________________

Kini waktunya untuk liburan musim panas. Meski libur tetapi ibu tetap menyuruh ku untuk mencari baito. Katanya supaya aku tidak menganggurdi rumah.

“Tapi bu, Yuka kan mau latihan lari” ucap ku kepada ibu yangkini sedang duduk di kasur bersama ku, sekarang aku dan ibu sedang berdebat tentang aku yang harus mencari baito.

“Ibu tahu Yuka… tetapi ibu takut nanti kalau kebanyakan lari terus kamu sakit bagaimana? Kamu anak ibu satu-satunya, makanya ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa” ucap ibu dengan lembut, meski aku sempat menolaknya, tapi karena kelembutan ibulah yang membuat ku luluh. Aku tidak mau membuat ibu kecewa.

“Baiklah bu, Yuka akan berusaha ya.”

……………………….

“Bagaimana? Sudah ketemu baitonya?” Tanya Daiki di sebrang sana, ia yang menelpon ku setelah beberapa hari yang lalu aku beritahu kalau aku tidak bisa ikut latihan bersama nya dan anak-anak yang lain karena aku harus mencari baito.

“Hufffttt…. Belum Daichan, susah sekali aku mencarinya,mungkin karena aku belum lulus SMA ya” jawab ku dengan lesu sambil memandang sebuah koran, yang berisi iklan untuk mencari kerja, tetapi semuanya kebanyakan mencari lulusan SMA.

“Hahaha…. Jadi itu masalahnya? Kerja di tempat ku saja, kebetulan ayah ku membuka restoran, dan aku juga ikut bantu-bantu di sana.Bagaimana?” tawaran Daiki begitu menggiurkan, selain aku memang sudah tahu tempat itu, dan aku juga lumayan suka memasak, tapi ada satu alasan lagi. Yaitu mendekati Daiki.

Apa? Aku bicara apa tadi? Ah benar-benar bodoh.

“Yuu-chan?”

“Ah, iya itu ide bagus! Kapan bisa mulai?” Tanya ku dengan semangat dan langsung melipat Koran-koran yang ada di hadapan ku, aku rasa sudah tidak dibutuhkan lagi.

“Hari ini juga sudah bisa kok”

+++++++++++++++++++++++++

Sebuah gelas tak sengaja aku jatuhkan saat aku hendak mengantarkan pesanan pelanggan. Sudah satu minggu aku bekerja di restoran ayahnya Daiki. Tetapi yang ada aku merasa, kalau aku salah memilih untuk baito disini.

“Bagaimana ini? Pelayan nya tidak becus sekali!!” ucap seorang pelanggan saat melihat aku menjatuhkan gelas tadi sehingga membuatnya pecah.

“Sumimasen, saya akan menggatinya nyonya” ucap ku sambari menunduk dan dengan cepat membersihkan gelas-gelas pecah itu, setelahnya aku cepat-cepat menuju dapur.

Saat aku kembali, Daiki sudah menunggu ku dengan tampang yang sangar, baru kali ini aku melihatnya seperti itu.

“Kau sengaja Nakayama Yuka?” Tanya Daiki dingin. Sedangkan aku hanya bisa menunduk. “sudah dua kali kau melakukan itu, bukan hanya memecahkan gelas, tapi kau sering sekali salah mengantarkan pesanan.”

“Sumimasen..”

“Kau mau aku pecat ya?” lagi-lagi dia mengatakan itu dengan dingin, aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini, memang ayahnya lah pemilik restoran ini. Tetapi ayahnya sudah menyerahkan kedudukan kepada Daiki sebagai manager restoran, jadi untuk persoalan pecat-memecat Daiki lah yang berhak memutuskan.

“Sudahlah Arioka-san, jangan memarahi Yuka, mungkin dia sedang ada masalah dengan keluarganya, dan dia kepikiran. Jangan memecat orang tanpa pikir panjang, kita sedang kekurangan pegawai sekarang ini” ucap seorang koki perempuan, ia sudah sangat lama bekerja di sini, tetapi umurnya tidak jauh dengan ku dan Daiki, hanya selisih dua tahun. Ia sengaja tidak mengambil kuliah, karena lebih suka memasak dan itu adalah impiannya sejak dulu.

Daiki menutup wajahnya untuk berfikir skali lagi, aku berharap sekali Daiki tidak memecatku karena masalah ini.

“Baiklah, kau ku beri waktu satu kali lagi, jangan sampai terulang. Yuka status sebagai sahabat kita hilangkan dulu di sini ya” ucap Daiki kini lebih melembut, perih rasa nya mengingat aku dan Daiki seperti orang lain jika berada di sini, tetapi aku juga tidak mau di pecat, sebelum libur musim panas berakhir.

+++++++++++++++

Sore pun tiba dan saatnya kini aku untuk pulang. Bersama dengan Miyu, dialah yang membela ku saat aku hampir di pecat oleh Daiki. Akane Miyu namanya. Kebetulan rumah ku dan dia berdekatan dan searah, jadi tidak ada salahnya kita pulang bersama.

“Anou,,, Miyu-san, terimakasih sudah menolong ku tadi” ucapku kepada Miyu dengan malu-malu.
Miyu menoleh, “untuk apa Yuka-chan?”. Tanyanya sambil tersenyum, Miyu-san memang orang yang sangat baik dan ramah.

“Sudah mau menolong ku dari Daiki, kalau tidak. Aku mungkin sudah tidak ada perkerjaan lagi sekarang” jelasku, memang benar. Daiki sangat galak dengan ku kalau sedang di dalam dunia bekerja. Itulah yang membuat ku tak bisa berkonsentrasi bekerja selama satu minggu ini. Selain itu ada alasan lain juga yang membuat ku tidak bisa konsentrasi sama sekali.

“Hahaha,,,, yah aku tak butuh terima kasih dari mu Yuka-chan,karena Daiki itu tidak pernah berfikir dulu kalau berbicara. Restoran sedang kekurangan pegawai, dan dia mau memecat mu begitu saja. Bagaimana  nasib restoran nanti dong! Kau bekerja di sini saja aku sudah sangat senang, meski baru satu minggu” Miyu terdiam sebentar,aku rasa dia masih mau melanjutkan.

“Justru aku yang berterima kasih kepada mu, karena sudah mau menjadi pegawai di restoran kami. Walau aku hanya sebagai koki, tetapi aku juga merasa sangat senang kehadiran mu sangat membantu” lanjutnya, setelah itu dia tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

“O ya, Miyu-san memangnya sangat menyukai memasak ya? Kenapa tidak masuk kuliah saja? Dan masuk ke jurusan koki?” Tanya ku, benarkan? Kalau memang cita-cita kenapa tidak di asah lebih dalam lagi? Dengan cara mempelajarinya lebih dalam.

Aku melihat Miyu sedikit menerawang. “karena ingin masuk kuliah-lah makanya aku bekerja sebagai koki” jelasnya. Aku hanya manggut-manggut menandakan aku mengerti.

++++++++++++++++++++++

Hampir saja aku menjatuhkan gelas skali lagi. Tetapi untungnya Daiki menolong ku untuk menjaga keseimbangan ku.

“Untung ada aku Yuka,” kata Daiki saat aku sedang berada didapur, untuk mengambil pesanan pelanggan.

“Terimakasih Daiki, kalau tidak mungkin gelas nya sudahpecah lagi” kata ku.

Daiki diam, tidak memberikan respon apapun kepada ku, aku hanya bisa menghela nafas dengan berat . “Akane-san. Tolong lihat-lihat Yuka ya, takut dia jatuh lagi” kata Daiki kepada Miyu yang sedang memasak. Dan hanya di jawabnya anggukan sambil tersenyum.

Miyu melihat kearah ku “hati-hati” katanya. Aku mengangguk.

Daiki maafkan aku. Kenapa kau berbeda sekali dengan Daiki yang selama ini aku kenal? Kau sangat berbeda daripada biasanya, aku benar-benar tidak tahan Daiki.

Sorenya, aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah,melainkan aku datang ke rumah Daiki. Aku ingin berbicara dengannya. Dan aku juga sudah lama tidak datang ke rumahnya.

…………………………………..

“Ada apa Yuu-chan?” Tanya Daiki, saat ini aku sudah ada diruang tamu rumah Daiki, kebetulan ayah nya sedang tidak ada di rumah. Kalau ditanya ibunya. Beliau sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu.

“Kenapa kau berbeda sekali saat di restoran, sangat cuek,terlihat dewasa, dan juga sangat kengacuhkan ku.” ucap ku sedikit mencibir,Daiki sedikit tertawa sambil menyuruh ku untuk duduk menyadari kalau aku masihberdiri.

“Sudah aku bilangkan? Kalau sedang bekerja status sebagai sahabat di hilangkan dulu” jelasnya. Aku masih cemberut. Terlalu sebal.

“Jadi sekarang mau apa?” Tanya Daiki mungkin mulai menyerah karena melihat ku masih marah.

“Ayo kita lomba lari?” tawar ku sambil tersenyum ‘evil’. Aku melihat ekspresi kaget Daiki, tapi kemudian dia tersenyum.

“Siapa takut” katanya dengan gaya biasanya.

Hanya 60 m, aku tidak ingin jauh-jauh mengajak nya berlari.Ini sudah sangat sore dan aku rasanya lelah sekali. Seperti biasa, aku kalah dan Daiki lah sebagai pemenangnya.

“Hey Yuu-chan, bagaimanapun aku yang akan tetap menang”Daiki bergaya sombong di depan ku yang sedang terengah-engah ini, bukannya membantu dia malah mengejek ku.

“Bagaimana kecepatan ku?” Tanya ku kepada Daiki mengalihkan pembicaraan, Daiki melihat stopwatch yang ada di tangannya.

“ Bertambah 30 detik, lumayanlah” ucapnya. Aku bernafas lega, akhirnya ada peningkatan.

Tiba-tiba aku mendengar suara Daiki mengaduh, aku melihat Daiki memegang dadanya.

Ia  sesak.

“Daiki, daijoubu?” Tanya ku khawatir, sedangkan Daiki hanya menggeleng namun kentara sekali kalau Daiki sedang kesusahan bernafas kemudian ia jatuh pingsan. “Dai!! Daiki!!” triak ku sambil mengguncangkan tubuh nya,namun tidak ada respon.

TBC~

Maaf pemirsah kalausangat sedikit, haha tadinya mau buat OneShoot. Tapi kaya nya saya ga bisa deh,dan kelanjutan nya kalau agak lama juga gomen ya ^0^ makasih sudah maumembaca~~

Baito: pekerjaan.

Sumimasen: maafkansaya (biasanya di gunakan untuk meminta maaf kepada orang yang lebih tua)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s