[Oneshot] Usakuma Mari-chan?!

Title : Usakuma Mari-chan?!
Type : Oneshoot
Author : Arisanya
Genre : Fantasy
Rating : 13+
Cast : All member Sexy Zone (Nakajima Kento, Kikuchi Fuma, Sato shori, Matsushima So & Marius Yo), Haniuda Amu (Sexy Boyz), Kuramoto Kaoru (Sexy Boyz), Mizutani Haruna (OC), Mizutani Asako (OC)
Usakuma Mari-chan?!
Jan.Ken.Pon!” suara teriakan yang ramai itu terdengar jelas di kediaman keluarga Sato, tepatnya di kamar Shori. Kento, So, Fuma, Shori dan Marius melihat satu dengan yang lain. Mereka tersenyum, kecuali Marius. Bisa ditebak, Marius kalah janken. Wajahnya cemberut seketika itu juga.
“Karena Mari-chan kalah, kita beri hukuman!” ujar Kento senang, “Hukumannya apa?” tanya Shori. Mereka semua terdiam dan memikirkan hukuman yang akan diberikan.
Tiba tiba Fuma mengangkat tangannya. “Bagaimana kalau Mari-chan mentraktir kita? Aku ingin es krim baru rasa vanila mint yang ada di supermarket dekat stasiun!”
“Aku ingin dango rasa dorayaki yg pernah muncul di TV!” timpal So.
“Memang ada dango yang begitu?” tanya Kento dengan nada sinis. So mengangguk pelan, “Aku lihat iklannya pas bangun tengah malam…” ujarnya polos.
“Itu kan Cuma igauanmu, baka!” tukas Fuma disambut gelak tawa kento. “Ah, kupikir itu benar ada! Kalau begitu akan kupikirkan yg lain” kata So.
“Seberapa keras usahamu untuk memikirkan itu, nyatanya Mari-chan sudah kabur” ujar Shori tiba tiba.
“Apa?!” jerit Fuma, Kento dan So tiba tiba, “Kenapa tidak bilang dari tadi?!”bentak Fuma pada Shori yang bermuka datar, “Aku-pun baru menyadarinya” jawab Shori. Kento dan Fuma loyo seketika itu juga.
“Sudahlah. Kita pulang saja, yuk!” ajak So. Mereka-pun pamit pada keluarga Sato dan pulang.
***
Kento baru saja selesai latihan piano saat keitai-nya berbunyi. Ia segera menatap layar keitai-nya. Sebuah panggilan masuk dari So. Langsung saja ia menjawab panggilan tersebut.
Moshi moshi
“Ke… Kento-san. Gawat!” ujar So. Nada suaranya terdengar panik.
Doushita no? Daijobu?
Eto…. Mari-chan”
“Ya?”
“Mari-chan menghilang!” jerit So. Kento terbelalak kaget.
Ho, hontou ni? Kamu tidak bercanda kan?” selidik kento dengan rasa tidak percaya.
“Aku tak begitu yakin. Lebih baik kau ke stasiun. Aku, Shori dan Fuma sudah menunggu di peron”
Hai! Aku akan segera ke sana!” Kento menutup keitai-nya. Tanpa basa basi lagi ia segera berangkat ke stasiun yang dimaksud So.
Tak butuh waktu lama untuk Kento sampai di stasiun karena jarak antar rumahnya dengan stasiun tak begitu jauh. Kento segera menghampiri So dan yang lain begitu melihat sosok tersebut.
“Kenapa Mari-chan bisa hilang?!” sembur Kento tiba tiba.
“Tenanglah. Saat ini Shori sedang memastikannya” sahut Fuma.
Meskipun begitu, Kento tak bisa tenang. Ia terus bertanya dalam hati. Kenapa Marius bisa menghilang? Padahal kemarin Marius masih ada bersamanya dan yang lain saat bermain jan-ken-pon. Apa ia ngambek dan tak bisa dihubungi? Memang kemarin ia kabur. Tapi, apa separah itu?
“Mari-chan menginap di rumah Amu” lapor Shori, membuat pertanyaan yang dipikirkan Kento buyar seketika.
Hontou ni?” sambut Fuma, So dan Kento serempak.
“Kalau begitu, kita ke rumah Amu!” sorak Kento riang. Spontan saja yang lain meng-iyakan sorakan Kento. Dengan perasaan sedikit lega dan juga sedikit harapan mereka berangkat menuju rumah Amu.
***
“Mari-chan tidak di sini” jawab Amu begitu ditanya mengenai keberadaan Marius di rumahnya.
Ee?!” jerit So, “Berarti benar kalau Mari-chan itu menghilang”
“Belum tentu! Mungkin saja dia ada dirumah Kaoru. Akhir akhir ini mereka sering latihan dance berdua. Mereka juga cukup akrab, kan?” duga Amu.
Mendengar itu, So langsung kabur tanpa pamit disusul Kento, Fuma dan Shori. Amu mengelengkan kepalanya keheranan.
“Apa sebegitu paniknya hingga tak bilang terima kasih? Tak sopan!” kata Amu sebal.
***
Sore ini rasanya hangat. Angin lembut menghembus daun daun pepohonan hingga menimbulkan suara suara gemerisik. Bunga bunga musim semi pun ikut bergoyang ditaman. Kento, Fuma, So dan Shori akhirnya beristirahat di taman setelah seharian berkeliling mencari Marius. Mereka tampak lelah. Untuk bernafas saja, mereka agak kesulitan karena berlari kian kemari.
“Hah… rasanya aku sudah sangat lelah. Kemana sih perginya Mari-chan?” tanya Fuma setelah menghela nafas.
“Aneh. Apa ibunya tak curiga begitu?” timpal Kento. So mengangkat bahunya.
“Uhm… apa kalian ingat cerita Kaoru tadi?” tanya Shori menatap Fuma, So dan Kento satu persatu, “Mari-chan sempat curhat pada Kaoru… akhir akhir ini ia sering diikuti seorang gadis tak dikenal. Ia merasa sering diintip gadis itu dimanapun dan kapanpun. Bahkan gadis itu masuk dalam mimpinya…”
“Shori-san, jangan menakut-nakuti begitu. perasaanku jadi tidak enak…” ujar So.
“Sering mengintip. Sering diikuti…” gumam Fuma. “Jangan jangan, gadis itu stalker!”
“Lupakan soal itu! Lebih baik kita pulang. Aku sudah sangat lelah!” pinta Kento. Mereka akhirnya pulang ke rumah masing masing.
Saat diperjalanan pulang, Shori terus memikirkan cerita Kaoru tadi. Memang beberapa hari ini Marius terlihat lesu dan memikirkan sesuatu. Ia pun terlihat was was ketika mereka pergi ke taman bermain maupun jalan jalan ditengah kota.
Tiba tiba Shori merasakan tatapan tajam dari belakang punggungnya. Ia menoleh ke belakang. Tak ada satu orang pun. Saat ia berbalik, ia melihat seorang gadis berdiri tegap didepannya. Ia terlonjak kaget. Gadis berambut lurus warna coklat tua itu menatapnya lesu. Shori segera menenangkan dirinya yang mulai panik.
“Kamu… kehilangan?” tanya gadis itu pelan. Gadis itu mendekat. Shori mundur beberapa langkah.
“Kehilangan seseorang?” gadis itu terus menatap dan mendekati Shori. Shori mengangguk sambil terus menatap wajah gadis itu. Bola mata itu berwarna coklat jernih. Mulutnya tipis dan berwarna peach. Pipinya kemerah merahan. Jika diperhatikan disela sela poninya, ada bekas luka didahi gadis itu.
“Tenang saja. Dia baik baik saja…” ujar gadis itu. Ia tersenyum lembut. Lalu gadis itu berjalan memasuki taman tadi.
Shori mematung. Bukan karena pesona gadis itu. Tapi, kenapa gadis itu bisa berkata seperti itu. Apa dia tadi membicarakan Marius? Shori tersentak. Ia mengejar gadis itu ke taman. Setibanya di taman, gadis itu seperti tak mengunjungi taman. Hilang. Tak ada jejak apapun yang ditinggalkannya. Tapi samar samar ia menghirup aroma lavender. Aroma yang rasanya pernah ia hirup sebelumnya.
Matahari semakin merunduk. Shori ingin sekali mencari gadis itu untuk menyelidiki keberadaan Marius. Tapi, percuma. Disetiap sudut taman ia tak menemukan gadis itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
***
Kota hari ini lumayan padat. Beberapa orang lalu lalang diluar cafè menjadi pemandangan yang menarik perhatian Shori. Sesekali ia melirik jam tangan ataupun Kento yang asyik dengan keitai-nya. Kadang ia masih terpikir tentang keberadaan Marius atapun tentang gadis yang ia temui didekat taman beberapa hari yang lalu. Dan juga, ia masih mengingat aroma lavender yang ia hirup. Aroma itu menghipnotisnya. Memaksanya untuk merindukan aroma itu.
Tiba tiba matanya tertarik pada sesosok yang berjalan ditengah kerumunan. Gadis itu! Batinnya. Spontan Shori bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar dari cafè. Jeritan Kento yang memanggilnya tak ia hiraukan. Shori terus mengejar gadis itu dan akhirnya menggenggam lengan gadis itu. Gadis itu terbelalak kaget dan menoleh pada Shori. Wajahnya terlihat diantara keheranan dan ketakutan.
“Kamu… kamu tahu dimana Marius?!” sembur Shori. Lagi lagi ia menghirup aroma lavender. Kali ini disekitar gadis itu.
“A. Apa yang kau ka.”
“Jawab pertanyaanku!” bentak Shori membuat gadis itu menggigil ketakutan.
“Aku tak mengerti, apa yang… kau katakan….” suara gadis itu bergetar.
Tiba tiba Kento sudah ada diantara mereka dan melepaskan genggaman Shori dari gadis itu.
Gomen. Temanku ini agak temperamen sejak ditimpa masalah. Mohon dimaafkan. Nah, sekarang bersantailah dalam keramaian kota ini. Oh ya, cuaca hari ini cerah. Jadi mungkin kamu bisa bersenang senang di taman bermain atau sekedar menikmati teh di cafè. Kami permisi dulu” ujar Kento dengan senyum lembutnya. Kemudian ia menyeret Shori kembali ke cafè.
“Apa yang kau lakukan, Shori? Membentak gadis tak berdosa itu” tanya Kento keheranan.
“Entahlah. Tiba tiba tubuhku bergerak dan tanpa sadar aku membentak gadis itu” jawabnya sambil mengacak acak rambutnya, “Tapi aku pernah bertemu dengannya didekat taman”
“Mungkin itu perasaanmu. Lihatlah, Fuma dan So sudah menunggu kita di cafè…”
Setibanya di cafè, Shori menyaksikan Fuma dan So yang tampak panik. Ia segera menghampiri meja dimana mereka berdua merada dan duduk menghadap Fuma. Kento-pun duduk disampingnya.
“Aku sangat cemas hari ini. Bahkan untuk bertemupun aku sangat ketakutan!” celoteh Fuma dengan ekspresinya yang tetap cemas.
“Aku juga. Kadang aku menoleh ke kiri, ke kanan ataupun ke belakang. Rasanya ada seekor boneka beruang mengikuti dan mengintipku!” timpal So.
“Kalau aku, saat mandi dan didapur, aku melihat dijendela ada kuping kelinci yang bergerak gerak. Kadang ada ekor beruang disudut taman belakang” tambah Fuma.
“Mungkin itu ilusi kalian” komentar Kento santai.
“Ini serius! Bahkan ini lebih buruk dari stalker. Masa’ kelinci itu mau mengintipku dikamar mandi?! Ini gila!” jerit Fuma.
“Saat tidur aku juga merasakan sesuatu dibawah selimutku. Ada bulu yang menggeliat geliat” tambah So. Suasana hening seketika.
“Akhir akhir ini aku merasakan tatapan tajam dibelakang punggungku” kata Shori memecahkan suasana, “…Aku juga bertemu seorang gadis didekat taman dengan aroma lavender disekelilingnya. Gadis itu sepertinya tahu keberadaan Mari-chan” sambung Shori.
“Gadis itu adalah gadis yang kau bentak tadi?” tebak Kento.
“Mungkin saja. Tapi, aku merasa itu bukanlah gadis yang kumaksud. Tak ada bekas luka didahi gadis itu…”
“Apa kau yakin gadis itu tahu dimana Mari-chan? Mungkin saja dia ingin menjahilimu” tanya So. Shori mengangkat bahunya.
“Kita kembali saja ke taman! Kita cari gadis itu dan kita pastikan keberadaan Mari-chan!” usul Fuma.
Mereka menatap satu dengan yang lainnya. Awalnya mereka ragu, tapi Fuma terus memaksa. Akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke taman itu kembali.
Sesampainya di taman, mereka segera berpencar ke setiap sudut taman untuk mencari gadis itu. Beberapa kali mereka mengelilingi taman, tetap saja hasilnya nihil. Bahkan petunjuk berupa aroma lavender pun tak mereka temukan. Akhirnya mereka berkumpul kembali disebuah bangku di taman itu.
“Gadis itu tak ada!” lapor So pada Shori.
“Aku tak menemukannya!” timpal Kento. Shori menoleh pada Fuma. Fuma pun menjawab dengan gestur tubuhnya.
“Fu~, kemana lagi kita mencari Mari-chan. Petunjuknya hanya ada pada gadis itu!” keluh Shori. Shori-pun menunduk kesal. Fuma, So dan Kento-pun menatapnya sedih.
Angin pun berhembus lembut. Menggoyangkan dedaunan. Disemak semak, terdengar gemerisik daun. Diantara itu terdengar bunyi lompatan kecil dari arah semak semak. Shori mendongakkan kepalanya. Fuma dan So terlonjak kaget. Sementara itu Kento melangkah mundur ke belakang. Bunyi lompatan itu semakin mendekat. Fuma dan So yang ketakutan spontan memeluk erat Kento yang berada diantara mereka.
“Oi, apa apan sih kalian? Kalian berdua itu Maho ya?” protes Kento yang merasa geli.
“Iie! Jangan jangan itu kelinci yang mengikuti kita!” jerit So.
“Dia ingin mengutuk kita!” sahut Fuma. So menjerit sekuat tenaganya.
Sosok itu melompat dari semak semak dan mendarat didepan mereka berempat. Mereka terkesiap. Ternyata sosok yang ditakuti itu… kelinci! Mereka berempat menghela nafas lega.
“kalian lebay! Itu kan kelinci biasa! Kawaii lagi” komentar Shori datar.
“Eh… i.iya…. haha…” tawa Fuma, “Baka! Ayo pergi!” ajak Kento.
“Bukan!” jerit sumber suara tiba tiba. Mereka mencari asal suara tersebut.
“Itu Cuma ilusi kita tadi… hahaha” ujar So mengalihkan perhatian.
“Aku Usakuma Mari-chan!” bentak suara itu lagi.
“Ee?!” jerit mereka serempak begitu mendengar kelinci didepan mereka berbicara. Rasanya mereka bermimpi indah. Mereka mencubit pipi mereka masing masing, memastikan bahwa ini adalah nyata.
“Mana mungkin kamu Mari-chan?!” ejek Fuma.
“Ini aku, Mari-chan, nyu~. Aku dikutuk tau, nyu~!” aku kelinci itu keras kepala.
Kento mengangkat kelinci itu. Ia mengmeriksa tubuh kelinci itu. Kelinci itu ternyata bukanlah makhluk hidup, melainkan boneka! Ditambah lagi dengan keanehan boneka itu. Boneka itu berbadan kuma tapi ber-usagimimi.
“Ba. Bagaimana bisa?!” tanya Shori keheranan.
“Ceritanya panjang, nyu~! Pokoknya temukan aku dengan gadis bernama Mizutani Harunya, nyu~. Dia seumuran denganku, nyu~” pinta kelinci yang mengaku sebagai Marius.
“Nggak mau! Aku tak mau diperintah oleh kelinci jadi jadian seperti kau!” cegat Fuma.
“Ee?! Aku ini dikutuk jadi boneka usakuma, nyu~! Bukan usagi, nyu~!” ralat kelinci,eh,boneka usakuma itu, “Sudahlah, tolong aku menemui gadis bernama Mizutani Harunya, nyu~. Kalau tidak kutukan ini nggak akan hilang nyu~” pinta boneka usakuma itu memaksa. Kento menatap Shori, So dan Fuma dalam dalam.
***
So memencet bel rumah seseorang. Terdengar sorakan meng-iya dari dalam. Namun belum juga pintu rumah dibuka oleh sang empu-nya.
“Apa kau yakin alamat yang tertulis di… ehm… di.pan.tat.mu itu?” tanya Kento berhati hati.
“Su. Sudahlah nyu~ itu memalukan! Di. Dikutuk.. seperti ini saja sudah memalukan, nyu~” ujar boneka usakuma itu malu malu. Pipinya memerah.
Tak sengaja ia menangkap suara cekikikan yang menahan dari sampingnya. Ia melirik 2 orang yang menahan ceikikikan itu, Fuma dan Shori.
“kalian berdua, kalau ingin tertawa, tertawa saja nyu~. Tak usah ditahan nyu~” ketus boneka usakuma.
“Hihihihi… habisnya kamu kawaii!” ujar Shori sambil berusaha menahan tawa, “Kalau kamu berwujud seperti ini, kamu moe-tsundere…”
“Diamlah!” pinta So.
Cklek! Pintu rumah dibuka. Dari dalam, muncul sesosok gadis bercelemek dan memegang centong. Gadis itu, gadis yang ditemui Shori ditengah kota! Gadis itu terbelalak kaget begitu melihat sosok Shori. Ia panik dan berusaha menutup pintu itu. Namun cepat cepat dicegat So.
“Eh, eh. Tunggu. Jangan tutup pintunya dulu!” pinta So. Gadis itu terdiam. Lalu perlahan kembali membuka pintu. Ia menundukkan kepala.
“A. Ada apa? Kalian siapa?” tanya gadis itu ketakutan.
“Ko…Konbanwa. Apa disini ada Mizutani Harunya?” tanya So ramah. Gadis itu tampaknya agak mulai tenang. “Maksudnya, Haruna?” gadis itu balik bertanya.
“Ya, ya. Mizutani Harunya, nyu~. Tolong aku nyu~” Gadis itu kembali terkejut dan ketakutan karena boneka usakuma itu memelas.
“Mizutani-san jangan takut. Dia manusia biasa kok!”
Gadis bernama Haruna itu menghela nafas dalam dalam. Kemudian ia menenangkan dirinya dan mulai bertanya, “Apa yang bisa kubantu?”
“Tolong maafkan aku nyu~. Selama ini aku sibuk dengan urusan pribadiku hingga aku lupa tentang piket kelas. Catatanmu pun sudah nyaris 1 bulan tak kukembalikan nyu~. Kamu pasti sangat kewalahan sekali karena bingung bagaimana harus bersikap denganku nyu~”
Boneka usakuma itu melompat ke kepala Haruna. Haruna hampir saja kehilangan keseimbangan kalau saja lengannya tak segera digenggam So dan Kento. Haruna terdiam. Lalu ia mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat sekaligus mencerna situasi ini.
“Jangan jangan… kamu Marius Yo-kun?” tebak Haruna. Kento, Fuma, So dan Shori kembali kaget, “Duh, kan udah kujelaskan dari tadi. Kenapa kalian kaget lagi, nyu~”
“Lalu, kenapa kamu bisa begini, Yo-kun?” selidik Haruna.
“Akhir akhir ini aku merasa selalu diikuti oleh gadis aneh nyu~. Wajahnya mirip kamu. Hanya saja poninya sedikit berbeda nyu~. Dalam mimpiku, dia selalu memakiku nyu~ dan 3 hari yang lalu aku bertemu gadis itu…” boneka usakuma menghela nafas sebentar.
“Gadis itu mencegatku dijalan setelah kabur dari rumah Shori. Lalu dia mengutukku jadi seperti ini nyu~. Dia bilang, jika ingin kembali seperti semula, minta maaflah padamu. Makanya aku menguntit Fuma, So dan juga Shori untuk minta tolong…” sambung boneka usakuma itu.
Gadis itu mengernyitkan dahinya kembali. Ada beberapa kata yang susah untuk ia cerna.
“Gadis itu, mungkin kembaranku. Tapi, 2 minggu yang lalu dia meninggal karena tabrak lari…” ujar Haruna polos. Semuanya terlonjak kaget.
Tiba tiba dari belakang mereka muncul sesosok gadis yang mirip Haruna. Hanya saja, poninya agak berbeda dan ada luka di dahinya, persis seperti cerita Shori.
“A. Asako-chan…” gumam Haruna.
“O genki desu ka, Haru-chan?” tanya sosok itu dengan wajah lembutnya. Asako berlari menghapiri sosok itu dan memeluknya erat. Saat itu juga tangisan pecah diantara mereka.
“Aku rindu padamu…” ujar haruna sesegukan. Asako, mengelus punggung Haruna.
“Haruna” panggil Asako lembut. Kemudian melepaskan pelukannya dari Haruna, “Meskipun kita dialam yang berbeda, aku akan selalu ada disampingmu…” kemudian Asako menghapus air mata yang mengalir dipipi merah Haruna.
“…buktinya aku mengutuk Yo-kun demi kamu” sambung Asako.
“Ini ya, kekuatan siscon?” bisik Fuma melihat keadaan ini, “Aku juga ingin bertanya begitu” sahut Kento.
“Yo-kun…” panggil Haruna lembut. Marius yang berada diatas kepala Haruna tersipu malu. “Aku sudah memaafkanmu. Jadi, Asako, lepaskanlah kutukanmu dan pulanglah…” pinta Haruna. Asako mengangguk.
Tubuh boneka usakuma diselubungi kabut putih. Perlahan tubuh boneka itu berubah menjadi sosok Marius. Saat itu juga, sosok Asako melayang dan perlahan lahan menghilang.
“Terima kasih, Asako-san!” teriak Marius. Asako tersenyum.
“Kalau kau begitu lagi, akan kukutuk!” ujar Asako, “Tidak, aku janji!” lalu Marius mengacungkan jari kelingkingnya. Asako juga mengacungkan jari kelingkingnya dan sosoknya menghilang.
***
“Tak kusangka, ada kejadian begini” ujar Kento saat diperjalanan pulang. “Aku tak mau ada kejadian ini lagi. Sangat repot dan melelahkan” sahut Marius.
“Tapi, tulisan di pantatmu itu boleh juga! Akan ku tulis di blog, ah!” ejek Fuma.
“TIDAAAAKK!!!” pekik Marius.
“Jangan percaya, Fuma kan tidak punya blog” timpal So, “Benar!” ujar Shori yang berjalan paling belakang menyetujui.
Setangkai bunga lavender tiba tiba jatuh tepat didepan Shori. Shori mendongak ke atas langit malam. Kemudian ia memunguti bunga itu. Samar samar tercium aroma bunga yang tampaknya masih segar itu.
“Shori, cepat! Hari ini makan malam dirumahku. Kalau tidak, nanti kau tak dapat bagian!” sorak Fuma. Shori berlari mendekat dan berkumpul bersama mereka. Dan mereka pun pulang dengan perasaan lelah sekaligus lega…
***
Note :
my first ff.  Fiuh~ nggak nyangka bakal di publish. Kalau ada salah dan kekurangan, mohon diberitahu. Karena saya masih baru. Ja, ne~!
Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Usakuma Mari-chan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s