[Oneshot] I’m Yours

Senyum itu…. aku memang tidak sengaja melihatmu tersenyum atau mungkin takdir yang sengaja membiarkanku melihatnya agar bisa bertemu denganmu. Jadi, apakah takdir akan menyatukan cintaku padamu? Aku pun tidak tahu.

I’m Yours
Hey! Say! JUMP Arioka Daiki
Suzuki Saifu (OC)
dan segelintir orang-orang yang menghiasi cerita. *laughs*
By: Shield Via Yoichi

I'm yours

Saifu tertunduk lesu dan duduk di teras rumahnya. Menatap langit senja yang indah hari itu. Sepupunya, Sato Miharu menatapnya heran lalu menghampiri gadis berambut karamel itu kemudian mengeluarkan catatan kecil dan menulis di sana. Miharu memberikan catatan itu pada Saifu.

‘Saifu, ada apa? Mukamu jelek sekali.’ Saifu kemudian tersenyum ke arah Miharu yang masih melihatnya dengan penuh tanda tanya. Lalu, Saifu menulis di catatan kecil itu. Menjawab pertanyaan Miharu.

‘Daijoubu.’

Miharu kembali bertanya, ‘Kau masih memikirkan pemuda manis yang kemarin kita lihat itu ya?’ Saifu hanya diam setelah membaca itu. Ya, dia merindukan pemuda yang tak sengaja dilihatnya ketika selesai berbelanja dengan Miharu. Suzuki Saifu, gadis cantik yang pada kenyataannya dia seorang tuna rungu dan tuna wicara. Dia memang tidak terlihat cacat secara fisik. Tapi, dia tidak bisa mendengarkan lagu maupun menyanyikannya seperti kebanyakan gadis seusianya. Dia sering rendah diri dan berpikir dia tidak akan mendapatkan pasangan hidup. Namun, senyum pria itu merubah pemikiran tololnya. Walau senyum pemuda itu bukan tertuju padanya, tapi senyum manisnya tidak bisa Saifu hapus dari ingatannya.

Miharu kembali memberi catatan yang sudah ada coretan tangannya, ‘Kalau kau mau, aku akan mencari tahu tentang pemuda itu pada Kei. Siapa tahu Kei mengenali pemuda itu.’ Mata bersinar Saifu melihat mata cokelat gelap Miharu. Dia mengangguk-angguk senang.

Miharu tersenyum melihat sepupunya yang berkekurangan ini. Dia sebenarnya sedih melihat Saifu yang cacat sejak lahir. Andai saja gadis itu tidak cacat, dia pasti terkenal di kalangan pria. Saifu yang bersekolah di sebuah sekolah luar biasa ini sehari-harinya hanya pergi sekolah dan berdiam diri di rumah. Dia takut bergaul dengan orang di sekitar rumahnya. Sementara, Miharu baru hampir tiga tahun menemani Saifu. Miharu bukan orang yang mudah mengingat semua bahasa isyarat untuk berbicara dengan Saifu, lantas membuatnya harus membawa catatan kecil agar dia bisa berbicara dengan Saifu.

Saifu kembali menatap langit senja dengan penuh senyum bahagia. Dia berharap, langit senja itu bisa menghubungkannya dengan pria yang sudah membuatnya berbunga. Pemuda yang entah siapa namanya, dari mana asalnya itu. Mungkin suatu keberuntungan, itu yang dipercayai Saifu.

Saifu beranjak menuju kamarnya, mengambil secarik kertas dan menggoreskan tinta hitam disana. Kata ‘Who are you?’ tercetak besar di kertas itu. Kemudian dia menempelkannya di dinding kamarnya sambil terus tersenyum. Miharu mengintip dibalik pintu kamar Saifu, tersenyum dan berharap kekasihnya mengenal pria yang mencuri hati Saifu itu.


Miharu berlari melewati lorong rumahnya. Mencari dimana Saifu berada. Ingin rasanya dia berteriak memanggil nama Saifu tapi itu hanya membuatnya terlihat seperti orang gila mengingat Saifu tidak akan mendengar panggilannya itu. Matanya terus mencari keberadaan Saifu dan mendapati Saifu di ruang santai sambil membolak-balikkan halaman pada bacaannya. Miharu sesegera mungkin menghampiri Saifu.

‘Aku menemukannya! Aku menemukannya!’ Saifu menatap Miharu yang tersenyum senang. Perasaan bahagia terpancar dari wajah itu.

‘Siapa dia, Miharu?’

Miharu menulis kalimat-kalimatnya dengan cepat, ‘Dia teman Kei. Teman satu band dengan Kei. Kau beruntung sekali, Saifu.’

Saifu menatap Miharu tidak percaya. Baginya, ini seperti takdir Tuhan untuk mempertemukan mereka berdua. Miharu mengambil buku kecil yang masih di genggam Saifu dan kembali menulis dengan cepat.

‘Kau harus ikut denganku kalau ingin menemuinya. Nanti aku akan ke tempat mereka latihan, kau harus ikut ya?’ Saifu menatap Miharu kaget, bibirnya seakan mengatakan ‘eh’ saking kagetnya. Bagaimana bisa dia yang tidak bisa beradaptasi itu pergi menemui pria itu.

‘Ada apa, Saifu? Jika kau menyukainya, kau harus bisa mengatasi kekuranganmu. Tenang, aku akan membantu.’ Miharu tersenyum lembut pada Saifu membuat gadis itu merasa sedikit lega. Kemudian Saifu mengangguk.

Saifu terdiam melihat orang-orang yang sibuk di depannya. Sementara Miharu menggoyangkan badannya sambil menggumam entah apa. Mata gadis itu kembali terpaku pada pria yang memegang microphone dan bernyanyi dengan riang. Sesekali pria itu menggerakkan badannya–menari–mengikuti lantunan lagu. Seandainya aku bisa mendengar suaranya, batin Saifu.

Daiki melepaskan microphone-nya kemudian ber-high five dengan teman-temannya. Senyumnya mengembang. Jantung Saifu berdegup kencang melihatnya. Dia memegang dadanya. Terlihat guratan bingung di wajahnya. Miharu yang sudah mendekati mereka memberikan botol berisi air pada masing-masing kemudian berbisik pada kekasihnya, Inoo Kei. Inoo mengangguk dan menghampiri sang vokalis lalu mengajak teman-temannya–Miharu juga– keluar kecuali Daiki, si penyanyi.

“Ah, halo.” kata Daiki menghampiri Saifu yang terlihat bingung. Saifu mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia masih tak percaya pria ini mendekatinya. Saking tidak percayanya, dia bahkan tidak mengerti apa yang dibilang Daiki. Ya setidaknya, dia bisa mengerti dari membaca bentuk bibir. Daiki menepuk jidatnya bodoh, dia lupa kalau Saifu tidak bisa mendengar suaranya. Daiki mengeluarkan buku kecil serta pena yang tadi diberi Inoo.

‘Halo.’ tulisnya. Saifu mengangguk kecil tanda dia juga menjawab halo. Daiki berpikir sejak, ‘Kau mencariku?’

Miharu dan Inoo mengintip di balik pintu studio, “Miharu, kenapa harus mengintip sih?” Inoo terlihat bosan. Tidak ada yang menarik dari Daiki dan Saifu lakukan. Miharu membalikkan badannya kemudian memukul kepala Inoo pelan.

“Aku ingin membuat buku ‘Perjalanan Cinta Daiki dan Saifu’,” Inoo hanya menggeleng tidak mengerti namun dia tetap melihat dua manusia itu dari kaca pintu itu, “Kenapa sih kau tidak pernah bilang kalau punya band? Kalau aku tahu, mungkin ini sudah lama terjadi.” marah Miharu. Inoo tidak merespon gadis itu.

Miharu mengambil Instax–biasa disebut polaroid–miliknya, memotret yang masih diam di posisinya sambil menukar catatan-catatan. Miharu menyenggol Inoo, “Kei, kau punya foto Daiki? Kalau ada, kirim ke email-ku ya.”

Inoo menghela napas, “Kau seperti stalker,” Inoo membuka handphone-nya memencet tombolnya dengan cepat, “Sudah kukirim.” Miharu hanya mengangguk.


Saifu berjalan pulang dengan riang. Kakinya melangkah dengan ringannya. Hari ini senyumnya terus mengembang di wajahnya. Dia puas melihat senyum Daiki selama latihan dan juga menatap pria itu dari dekat. Senyum itu terlihat lebih manis dari pertama yang dilihat Saifu. Kalau saja dia bisa berteriak, mungkin sekarang dia sudah berteriak sampai suaranya habis. Yang bisa dilakukan hanya menari-nari di trotoar menggambarkan kegembiraannya.

Miharu mengikuti dari belakang. Dia hanya melihat dan tersenyum. Jarang dia melihat Saifu begitu senang. Oh Tuhan, biarkanlah Daiki dan Saifu berjodoh, doa Miharu dalam hati. Miharu menarik Instax-nya dari tasnya kemudian berlari ke depan Saifu lalu mengambil gambar Saifu. Miharu mengambil hasil jepretnya kemudian mengkibas-kibaskannya. Saifu memelototinya kaget, Miharu hanya menyengir lalu lari sebelum Saifu merobek fotonya.

Sejak hari itu, Saifu sering menemui Daiki di studio latihan mereka bersama Miharu atau terkadang sendirian karena Miharu harus bekerja part time. Saifu juga sudah sering menerima maupun mengirim email pada Daiki. Kertas di dindingnya juga sudah banyak. Mulai dari nama Daiki sampai hobi Daiki pun ada di sana. Lebih istimewa lagi, semua ditulis oleh Daiki sendiri. Sementara Miharu bekerja sama dengan Inoo untuk memotreti Saifu dan Daiki diam-diam. Sebenarnya Inoo menolak, tapi Miharu malah ngambek dan tidak ingin bicara padanya lagi. Akhirnya Inoo mengikuti apa kata Miharu.


Suatu sore, setelah Daiki selesai latihan. Dia mengajak Saifu ke sebuah taman. Entah kenapa, gadis itu terasa menarik baginya.

‘Aku antar kau pulang ya?’ Daiki yang sudah bisa menguasai bahasa isyarat yang diajarkan Saifu mulai mengunakan bahasa itu untuk berbicara pada Saifu, ‘Tapi sebelumnya kita jalan-jalan ke taman ya?’

Saifu mengangguk senang, ‘Aku bilang Miharu dulu.’ Saifu beranjak menemui Miharu. Namun tangannya di pegang Daiki, dia menggeleng.

‘Tidak usah. Dia sudah tahu. Aku sudah bilang padanya.’ Saifu tersenyum lalu mengangguk. Daiki membalas senyum gadis itu. Daiki menatap gadis itu sejenak. Akhir-akhir ini gadis itu membuat jantung dan otaknya kurang sehat. Bayangkan saja, dia bisa menghapal bahasa isyarat dengan mudah. Mengingat Miharu saja tidak bisa menggunakan bahasa isyarat dengan lancar dan lebih memilih tulisan. Jantungnya juga seperti tersengat aliran listrik setiap melihat mata Saifu. Gadis itu seperti sedang menghipnotisnya atau mengguna-gunainya.

Daiki dan Saifu menjejakkan kaki ke sebuah taman. Tangan Daiki terus menggenggam tangan Saifu seperti takut Saifu akan hilang. Saifu menarik tangan Daiki.

‘Kita mau ngapain disini?’ Daiki hanya tersenyum. Tetap melangkahkan kakinya ke arah kursi yang ada di sana.

Daiki mengangkat tangannya menunjuk dan tangan yang lain sibuk menulis sesuatu. Daiki memberikan tulisan itu pada Saifu, ‘Lihat, kita sebentar lagi akan melihat matahari terbenam.’ Saifu melihat ke arah yang di tunjuk Daiki. Langit sore berwarna jingga terlihat begitu indah bagi Saifu. Senyumnya terlukis indah di bibirnya.

Tiba-tiba Daiki menarik tangan Saifu untuk berdiri, ‘Aku ingin berdansa disini.’ Daiki meletakkan tangan Saifu di pundaknya dan tangannya di pinggang Saifu. Daiki mulai menggerakkan kakinya dan Saifu hanya mengikuti sambil menatap pemuda itu. Wajahnya….. dekat sekali, bisik Saifu dalam hati.

“Wah! Mereka mesra sekali!” teriak Miharu dari persembunyiannya bersama Inoo saat melihat mereka berdansa. Dia juga sudah mengabadikan momen itu dengan kameranya. Daiki terdiam saat mendengar suara teriakan dan menoleh pada Miharu. Namun yang didapatinya malah sepasang kekasih yang sedang berciuman.

‘Ada apa?’ tanya Saifu heran. Daiki kembali tersenyum dan menggeleng lalu dia melanjutkan dansanya. Daiki menundukkan wajahnya dan menemukan Saifu juga melihatnya. Tanpa sadar, Daiki sudah mendaratkan bibirnya di bibir Saifu sambil menutup matanya. Sedangkan Saifu membelalakkan mata terkejut. Pemuda itu sudah mencuri hatinya sekarang malah mencuri ciuman pertamanya.

Daiki menyudahi ciumannya kemudian menatap Saifu. Lalu dia terkekeh pelan melihat ekspresi kaget Saifu. Dia melepaskan pelukannya pada pinggang Saifu lalu meraih buku catatan yang tergeletak di kursi taman.

Daisuki..’ Daiki mengangkat buku itu di depan kepala Saifu kemudian membuka lembar baru.

I love you…’ Saifu tercekat melihat tulisan ucapan perasaan Daiki namun Daiki masih menulis di lembar-lembar berikutnya menyatakan rasa sukanya pada Saifu dalam berbagai bahasa dan Saifu semakin kaget saat Daiki menulis, ‘Would you be my girlfriend?’

Saifu menatap Daiki yang sedari tadi tersenyum dan membutakan Saifu karena itu. Daiki sengaja tersenyum agar rasa gugupnya hilang. Didalam hati dia menggumam doa kepada Tuhan, dewa atau apapun yang Daiki percaya bisa menolongnya. Saifu mengangguk, Daiki langsung menghela napas lega. Daiki memeluk Saifu segera, Saifu membalas pelukan itu dan menangis bahagia. Tuhan mengabulkan doanya selama ini. Rasa bahagia membuat mereka lupa akan momen matahari terbenam dan terus berpelukan.


“Hah… Tadi itu berbahaya sekali. Kalau Daiki tahu kita menguntit mereka, dia pasti marah besar.” kata Inoo yang sedang mengantar Miharu pulang, “Hei, kau kenapa?”

Miharu hanya menggeleng. Tatapannya terlihat seperti orang yang terkejut. Inoo memegang tangannya, “Micchan, kau kenapa? Kau marah karena tidak bisa mengambil foto waktu mereka berciuman?”

Deg. Ciuman?, tanya Miharu dalam hati. Dia sendiri sudah tidak mengingat kalau dia sedang mengikuti Saifu dan Daiki sejak dia berteriak lalu Inoo menariknya kemudian menutup mulutnya dengan bibir pria itu.

“Miharu, ada apa denganmu?” tanya Inoo frustasi, heran melihat Miharu menjadi pendiam seperti itu. Sekali lagi Miharu hanya menggeleng, “Oh, ayolah. Bicara padaku, Miharu.” Tapi sampai mereka di rumah Miharu pun gadis itu hanya diam, menunduk pengganti salam tanpa melihat Inoo kemudian masuk ke rumah. Inoo melihatnya bingung.


Saifu membuka mata saat cahaya matahari berhasil masuk ke kamarnya. Dia menatap kalender kemudian tersenyum. Hari ini adalah hati ulang tahunnya. Dengan tidak sabar Saifu membuka ponselnya berharap ada email dari Daiki, tetapi nihil. Saifu menghela napas. Tenang, Saifu. Mungkin dia sedang sibuk, Saifu menyemangati dirinya sendiri. Dia keluar dari kamar takut-takut ada kejutan dari Miharu namun tidak ada juga.

Saifu melangkah ke dapur untuk minum dan mendapat pesan singkat dari Miharu yang di tempel di lemari es.

Saifu, aku pergi cepat. Maaf tidak membangunkanmu. Hari ini aku kerja full. Sekali lagi, maaf. -Miharu-

Saifu mengangkat alisnya sebelah. Apa tidak ada yang mengingat hari ulang tahunku? Saifu segera menggeleng. Hari ini belum selesai, tanggal 21 baru akan dimulai. Saifu mengangguk lalu tersenyum. Dengan semangat dia membersihkan rumah kemudian mandi.

“Ah…. cake seperti apa yang dia suka?” tanya Daiki pada Miharu yang sudah berada di toko kue.

Miharu menggeleng, “Kau ini ribet sekali. Sampai-sampai kau membangunkanku pagi-pagi sekali.”

“Iya… Katakan apa yang dia suka. Ayo cepat, Miharu-chan.” rengek Daiki. Miharu menghela napas, dia masih sangat mengantuk.

“Belikan saja dia Strawberry Cake. Dia suka semua cake sih.” Daiki mengangguk lalu memesan Strawberry Cake serta lilin ulang tahun tentunya.

Arigatou, Miharu-chan.” Daiki menunduk ke arah Miharu.

Miharu mengibas tangannya, “Ah, tidak… Tidak apa-apa. Aku juga senang kalau kau mau membuat Saifu senang.”

Sou ne…” Daiki tersenyum, “Kau mau pulang? Biar kuantar.”

“Tidak. Aku sudah mengirim pesan ke Saifu kalau aku kerja full hari ini,” Miharu ikut tersenyum, “Lagipula aku ada urusan dengan Kei. Jadi, jyaa…”

“Un, nanti aku kirimi email saat acara ulang tahun Saifu akan dimulai.”

Miharu mengedipkan matanya sebelah, “Okay desu!”


“Wah!! Kau dapat foto ini dari mana?” Miharu menatap hasil jepretan Inoo saat mengekor Saifu dan Daiki.

Inoo menguap, “Saat Daiki mengajak Saifu ke taman kan?”

“Eh? Kok aku tidak tahu?” Miharu masih menatap foto itu, “Berarti ini foto mereka di halaman terakhir ya.”

“Ya, ya, ya. Aduh, aku masih mengantuk.” Inoo bergelung di sofanya, “Oyasumi..” Sementara Miharu tidak menghiraukannya dan sibuk menata buku perjalanan itu.


Saifu menatap jam dinding sambil terus membolak-balikkan majalah kesayangannya. Sudah jam tiga sore dan tidak ada satu orang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dia mulai merasa orang-orang yang dia sayangi sudah lupa hari bahagianya ini. Sedetik kemudian, handphone-nya bergetar.

From: Dai-chan

Fu-chan, nanti temui aku di taman satu jam lagi. Oke? Suki desu~ ♥

Saifu menghela napasnya–untuk kesekian kalinya hari ini– lalu membalas email dari kekasihnya itu.

Saifu berjalan kaki menuju taman. Diliriknya jam tangannya, 3.45 PM. Lima belas menit waktu yang cukup untuk sampai ke taman. Tiba-tiba matanya di tutup sesuatu, begitu gelap. Badannya juga terasa seperti diangkat. Saifu meronta, dia memukul-mukul orang yang sedang menggendongnya itu.

“Miharu, pukulannya sakit.” rintih Inoo yang sedang membawa Saifu di bahunya.

Miharu mencibir, “Baru segitu sudah bilang sakit. Sini bilang aku yang bawa Saifu.”

“Eh? Iya, iya. Aku tahan. Dasar tukang ngambek.” Inoo melihat Miharu yang memanyunkan bibirnya. Sementara Saifu terus saja meronta. Seandainya dia bisa teriak, dia akan meminta tolong saat itu.

Sekarang Saifu, Miharu dan Inoo sudah sampai di taman. Daiki juga sudah siap dengan cake-nya. Teman satu band mereka seperti Yuto, Hikaru, Keito dan Yabu juga sudah ada di sana. Daiki mengangguk pertanda Saifu di turunkan dari gendongan Inoo dan membuka ikatan matanya. Miharu sudah siap-siap di depan Saifu.

Ikat penutup mata Saifu sudah dibuka. Saifu baru saja membuka matanya tapi Miharu sudah melemparinya dengan confetti. Matanya juga melihat banner yang dipegang Inoo, Keito, Yabu, Yuto san Hikaru bertuliskan, ‘Happy B’day, Suzuki Saifu.’

Saifu tersenyum, matanya sudah berair karena terharu. Dia menutup mulutnya kaget. Daiki menghampirinya sambil membawa Strawberry Cake yang sudah tertancap dua lilin di sana, ‘Tiup lilinnya.’ Saifu membaca bibir Daiki yang berbicara.

Saifu menutup matanya, membuat permohonan. Membuka mata lalu meniup lilin itu. Terlihat semua orang bertepuk tangan dan tersenyum tidak kalah bahagia dengannya.

Saifu duduk di kursi taman. Senyum masih tersungging di wajahnya. Dia merasa bahagia setelah membuat prediksi buruk tentang orang-orang yang merayakan ulang tahunnya ini. Birthday Cake-nya juga sudah habis. Miharu menyalahgunakan krim kue sebagai mainan, semua wajah sudah dia hiasi dengan krim terlebih dengan wajah Inoo yang sudah berubah menjadi cake saking banyak krim yang diolesi Miharu. Hari ini benar-benar berkesan bagi Saifu.

Daiki duduk di sebelah Saifu lalu memberikan sebuah kotak ke tangan Saifu, Saifu menatap Daiki bingung, ‘Buka saja.’ Saifu membuka kotak itu dan melihat isinya yang ternyata sebuah kalung. Daiki mengambil kalung itu dan memakaikan ke leher Saifu. Saifu melihat liontin kalung itu yang bertulis, ‘Daiki & Saifu’. Saifu memeluk pemuda itu sementara Daiki mengelus kepala Saifu sayang.

“Kei, mereka lagu berdua tuh. Kasih kadonya sekarang aja ya?” Miharu mengeluarkan buku perjalanan itu setelah Inoo mengangguk.

“Ini.” kata Miharu bersama Inoo memberikan buku itu Saifu terlihat bingung dengan buku itu.

Daiki mengambil buku itu, “Apa ini?”

“Lihat saja. Lihatnya berdua ya.” Inoo mengapit tangan Miharu, “Kami tidak akan mengganggu kalian jadi sampai jumpa.” Daiki dan Saifu melihat Inoo dan Miharu yang pergi menjauh dari mereka.

Daiki membuka lembar buku itu, dia melihat fotonya serta biodatanya. Dia juga membuka lembar kedua, ada foto Saifu dan data diri Saifu. Mereka terus membuka tiap lembar buku itu dan mengeluarkan ekspresi berbeda setiap lembarnya. Terkadang mereka tertawa, terkadang wajah mereka memerah melihat itu.

Sampai di akhir halaman buku itu. Ada foto Daiki mencium Saifu. Juga ada tulisan, ‘taken by Inoo. Ah…. see, Saifu said, “I’m yours.” and Daiki said, “You’re mine.” So sweet…. ><‘

Daiki dan Saifu terdiam. Mereka menutup buku itu lalu saling menatap, melihat wajah pasangannya yang sudah memerah itu. Inoo dan Miharu memang pintar sekali menggoda mereka. Daiki mendekatkan wajah, Saifu memejamkan matanya dan bibir mereka pun bersentuhan.

THE END

Happy birthday to you~
Happy birthday to you~
Happy birthday, dear Saifu~
Happy birthday to you!!
お誕生日おめでとう!!!
This fiction only for you, Saifu. I hope your wishes will be true. Last time, Happy birthday! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s