[Oneshot] That Should Be Me

That Should Be Me

Hey! Say! JUMP Yuuri Chinen

Arisa Ichigawa (OC)

By: Shield Via Yoichi

Kulangkahkan kakiku dengan berat di halaman sekolahku ini. Bagaimana hidup tidak berat karena aku, Yuuri Chinen adalah seorang pecundang. Kenapa? Karena aku hanya bisa melihat orang yang kusukai dari jauh. Dia, orang pernah kumiliki. Dan aku tak tahu mengapa dia meninggalkanku.

Bodoh.

Chinen memang bodoh! ARGGGHH!!!!

Kumasuki lorong-lorong kelas. Sendiri, itulah kebiasaanku. Tatapan dan ejekan dari murid-murid lain kuabaikan begitu saja. Aku adalah aku, mereka adalah mereka. Yang tahu tentang diriku hanyalah aku dan Sang Pencipta. Berita bahwa aku seorang pencundang karena orang yang kucintai meninggalkanku dan pergi bersama lelaki lain mulai merebak. Semua melihatku serasa tak percaya seorang Chinen yang mencuri hati semua wanita adalah orang penakut.

Arisa Ichigawa, wanita yang sangat kucintai itu. Dulu, Ichigawa sangat dekat denganku. Sangat dekat, sampai-sampai kami pun sering merencanakan masa depan yang belum tentu kami raih. Dari kedekatan itu, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan Ichigawa. Aku mencintainya, ingin memilikinya dan ingin selalu bersamanya. Disaat itu, aku mencoba memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Dan hasilnya, aku berhasil. Aku senang sekali saat dia juga mengatakan kalau dia juga mencintaiku. Begitu bahagianya masa-masa disaat itu. Namun, hancur berkeping-keping angan dan impian kami hanya karena kabar burung itu.

Setiap aku menanyakan kebenaran berita itu, Ichigawa selalu membantahnya. Awalnya, aku percaya pada perkataannya. Tetapi, suatu kejadian membuat kepercayaanku pada Ichigawa hilang.


FLASHBACK

Bel telah berbunyi, tanda untuk jam istirahat. Chinen melangkahkan kakinya menuju bangku yang di duduki Ichigawa. Gadis manis itu tengah membereskan bukunya.

“Arisa-chan, kita ke kantin bareng yuk?” ajak Chinen pada kekasihnya. Ichigawa melihat Chinen, kemudian tersenyum.

Gomen ne, Yuuri-kun. Aku ada janji dengan temanku setelah ini.” maaf Ichigawa. Chinen yang mengerti langsung mengangguk.

“Ya sudah, tidak apa-apa.” Chinen tersenyum. Ichigawa melangkah menjauhi Chinen dan melambai pada cowok imut itu dan dibalas oleh Chinen dengan senyuman lembut. Tapi, setelah Ichigawa benar-benar hilang di balik tembok, senyuman Chinen hilang seketika. Setiap kali Chinen mengajak Ichigawa untuk pergi bersama, Ichigawa selalu beralasan. Chinen yang memang bukan orang egois, membiarkan Ichigawa bebas. Tidak mengekang Ichigawa dengan berbagai peraturan. Namun, lama-kelamaan Chinen tidak kuat lagi untuk membagi Ichigawa dengan orang lain. Chinen merasa Ichigawa malah menjauh darinya karena hal itu.

Chinen pun memutuskan untuk keluar kelas. Kakinya melangkah menuju atap sekolah, tempatnya untuk menyegarkan pikirannya dengan merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya dengan lembut, memberi sensasi geli di sekitar kulitnya. Selama perjalanan ke atap sekolah, para gadis-gadis yang di lewati Chinen berteriak histeris. Walau mereka tahu kalau Chinen sudah mempunyai kekasih. Mata mereka berbinar-binar. Sesaat, Chinen mengeluarkan senyumannya yang membuatnya terlihat semakin imut. Dan para gadis itu kembali berteriak lebih histeris lagi. Setelah dekat dengan tangga menuju atap, wajah Chinen kembali murung.

Chinen menjejakkan kakinya di atap sekolah, namun baru saja merasakan lembutnya angin menyentuh kulitnya, dia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Chinen mencari asal suara itu dan terkejut saat perkiraannya akurat.

“Arioka-kun, sudah. Hentikan.” perintah Ichigawa pada seorang pemuda yang postur tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Chinen.

“Tidak mau. Panggil aku Dai-chan, baru aku melepaskanmu.” Daiki Arioka yang merupakan kakak kelas Chinen dan Ichigawa kini menggelitik leher Ichigawa. Daiki juga siswa yang terkenal karena keimutannya sama seperti Chinen. Dan dia juga terkenal mesumnya. Namun, tetap saja gadis-gadis itu berteriak histeris dan mencoba menjadi kekasih Daiki.

“Kumohon, hentikan, Dai-chan.” Daiki langsung melepaskan tangannya dari leher Ichigawa. Kemudian, membalikkan tubuh Ichigawa dan mencium bibirnya. Ichigawa diam saja. Dia sama sekali tidak melawan, malah tampaknya dia memang ingin cowok mesum itu menciumnya.

“Arisa-chan…” kata Chinen melihat pemandangan itu. Merasa dirinya dipanggil, Ichigawa langsung mendorong Daiki. Matanya terbelalak melihat orang yang memandang pemandangan ini adalah kekasihnya.

“Yuuri-kun!” seru Ichigawa. Namun sayang, Chinen lebih memilih untuk meninggalkan dua orang yang sedang bernafsu itu. Ichigawa hendak mengejar Chinen. Namun, segera dihentikan dengan tangan Daiki yang memeluk pinggangnya.

“Lupakan dia. Dia hanya pecundang.” kata Daiki dan kembali mencium gadis itu.

FLASHBACK END


Kejadian itu membuat jarakku dengan Ichigawa semakin merenggang. Saat Ichigawa mencoba mendekatiku, aku langsung menjauhinya. Sebenarnya, aku ingin kembali dekat dengannya, namun hatiku menolak. Rasa sakit itu membekas. Sakit saat melihatnya berciuman dengan orang lain. Aku saja sedikitpun belum menyentuhnya dan orang lain telah merampas yang merupakan milikku.

Aku tak mengerti, apa tindakanku untuk tidak menciumnya adalah salah? Aku sengaja tidak menciumnya paling tidak sampai usia hubungan kami satu tahun. Salahkah aku seperti itu? Apa Ichigawa berpendapat aku tidak benar-benar mencintainya karena aku tidak menciumnya? Haruskah cinta itu ditunjukkan dengan hal seperti itu?

Setelah sebulan aku menjauhi Ichigawa, berhembuslah gosip bahwa aku hanya mempermainkan perasaan Ichigawa. Entah siapa yang menyebarkan gosip ini namun, gosip ini benar-benar membuatku  kehilangan ketenaranku dikalangan siswi-siswi yang biasanya meneriakkan namaku saat mereka melihatku. Tapi, menurutku ini adalah ulah Arioka. Aku tahu, dia memang benci padaku karena menggeser kepopulerannya.

Sekarang aku benar-benar merasa sepi, sendirian. Hari-hariku yang indah bagai langit yang cerah sekarang berubah menjadi kelam bak langit mendung. Belum lagi datang gosip lain yang menerpaku. Menyatakan bahwa aku menyukai sesama jenis. Berita itu membuatku terpukul. Apakah ini yang dinamakan kehidupan? Sungguh sangat mengerikan.

Suatu hari ketika aku menuju atap sekolah untuk menenangkan diri, sayup-sayup kudengar dua jenis suara yang asing begitu asing bagiku.

“Arisa-chan, nanti malam kita jalan yuk?” suara Arioka-senpai! Aku agak terkejut mendengar apa yang dikatakannya itu.

“Memangnya mau kemana?” tanya lawan bicaranya, Ichigawa.

“Kemana pun. Mungkin ke restoran, café, bioskop atau kemana saja. Asal kita pergi berdua malam ini.” Terdengar suara tawa Ichigawa setelah Arioka selesai bicara.

“Ya sudah. Aku tunggu di jembatan dekat sekolah jam 6 nanti ya?”

“Eh? Kok kamu yang menungguku?”

“Ahahaha…” Sekali lagi aku mendengar tawa Ichigawa yang terdengar begitu lepas. Aku langsung meninggalkan tempat itu. Aku tak bisa lagi mendengar percakapan mereka lebih lanjut. Aku berlari menuju kelas dan  duduk di bangkuku. Kuraba kantong celanaku lalu mengambil keitai-ku dari sana. Mengetik e-mail dan mengirimkannya.

~~~ That Should Be Me ~~~

Chinen melirik jam tangan yang bertengger manis di tangannya itu. Masih jam 5 sore itu. Tapi, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dua orang yang sangat ingin dilihatnya itu. Sahabatnya, Ryosuke Yamada dan Yuto Nakajima yang sekolahnya berbeda dengannya. Sudah berbulan-bulan mereka hanya berkomunikasi melalui telepon dan e-mail.

“Chii-chan!” sebuah suara memanggil Chinen. Suara itu tak asing lagi baginya. Suara yang sangat dirindukannya itu.

“Yuto-kun! Sudah kukatakan, jangan memanggilku dengan panggilan itu!” marah Chinen. Namun, hanya ditanggapi tawa oleh kedua sahabatnya dan Chinen pun ikut tertawa.

Ne, Chii. Memangnya ada apa? Tiba-tiba saja kau mengirimi kami e-mail dan mengajak bertemu.” tanya Yamada khawatir. Chinen menggeleng.

“Aku hanya merindukan kalian. Nah, ayo kita ke pusat permainan! Kita main sepuasnya!!” seru Chinen senang. Yamada dan Yuto mengangguk dan mengikuti Chinen yang sudah berlari duluan.

Selama bermain, Chinen tampak sangat menikmatinya. Raut wajahnya begitu ceria, aura kebahagian terpancar darinya. Senyum tak pernah lepas darinya saat itu. Setelah bermain, Yamada mengajak ke sebuah mall untuk melihat pakaian. Chinen yang tak begitu mengerti tentang fashion hanya bisa melihat Yamada yang sibuk memilah-milah pakaian di sebuah toko pakaian. Terkadang, Yamada menanyakan ke Chinen apakah dia terlihat keren memakai pakaian yang dipilihnya. Respon Chinen hanya mengangguk.

Sedangkan Yuto, sibuk melihat celana jeans. Dia kelihatan bingung akan membeli yang ada di tangan kanannya atau tangan kirinya. Melihat itu, Chinen hanya memutar bola matanya. Hampir setengah jam mereka di toko itu, akhirnya mereka keluar dari sana setelah membayar yang mereka beli, kecuali Chinen yang tidak membeli apa-apa.

Mereka melangkahkan kaki ke sebuah tempat makan. Perut mereka yang sudah berteriak minta diisi memang harus segera diberi makan. Saat makan, mereka membicarakan banyak hal. Senyum terus membingkai di wajah Chinen. Dia benar-benar senang bisa menghabiskan waktunya dengan kedua sahabatnya hari ini.

Perut mereka kini kenyang dan saatnya untuk meninggalkan tempat itu. Baru saja menjejakkan kakinya di luar tempat itu, Chinen mendapati dua eksistensi yang membuat matanya nyaris membulat. Ichigawa dan Arioka baru saja keluar dari bioskop sambil menautkan tangan mereka.

“Chii, bukankah itu pacarmu?” tanya Yuto yang heran. Yamada langsung menyiku pinggang Yuto.

“Ssst, jangan tanyakan hal itu sekarang.” bisik Yamada ke Yuto. Yuto mengangguk mengerti. Yamada merangkul Chinen, dia tahu rasa sakit yang dirasakan Chinen saat ini. Chinen sudah menceritakan semua yang terjadi kepada Yamada. Chinen belum sempat menceritakannya pada Yuto.

Chinen terus melihat dua orang itu sampai bayangan mereka sudah tidak dapat ditangkap oleh retina-nya. Yamada menarik Chinen dan Yuto keluar dari mall tersebut. Berharap Chinen merasa tenang. Tapi, sebelum mereka benar-benar keluar dari sana, Chinen meminta agar Yamada mengantarnya pulang. Mau tak mau, Yuto menuruti Chinen dan meninggalkan dua makhluk pendek itu.

“Yama­-chan, apa aku salah terlahir ke dunia?” tanya Chinen. Yamada menatap Chinen. Tak tampak lagi secercah cahaya di mata Chinen.

“Kenapa kau bicara begitu? Seharusnya kau bersyukur bisa terlahir ke dunia ini dan masih bisa hidup sampai saat ini.” jelas Yamada, “Jangan bilang, hidupmu hampa karena gadis itu? Sudahlah, Chinen. Masih banyak gadis di dunia ini dan pasti ada gadis yang benar-benar mencintaimu.”

“Bukan itu yang kukesalkan. Tapi, karena semua rencana yang kubuat dengan Ichigawa malah dilakukannya dengan Arioka-senpai!” pekik Chinen tertahan.  Yamada terdiam, dia tak bisa menjawab lagi.

“Apa salahku, Yama-chan? Aku mencintainya dengan tulus, tapi inilah balasan darinya. Seharusnya aku yang menggenggam tangannya, membuatnya tertawa, mencium bibir merahnya, memberinya hadiah. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Dia mengkhianatiku, meninggalkanku di saat aku membutuhkannya.” Chinen meremas rambutnya, “Aku sudah tidak tahan lagi, Yama-chan. Mereka keterlaluan! Mereka menyebarkan berita palsu tentangku yang membuatku di jauhi. Ini menyakitkan, Yama-chan!”

Yamada memeluk tubuh sahabatnya itu. Pundak Chinen tampak bergetar, masih menahan tangisnya. Yamada memeluk Chinen lebih erat, mencoba meringankan beban Chinen. Chinen masih mencoba menahan tangisnya, menguatkan dirinya sendiri.

“Menangislah, Chii. Aku tahu kau ingin menangis.” Airmata Chinen langsung jatuh mendengar ucapan Yamada. Isakan tangis mulai terdengar dari bibir laki-laki imut itu. Yamada membiarkan airmata Chinen membasahi bajunya.

~~~ That Should Be Me ~~~

Hari itu Yamada mengantar Chinen ke rumahnya dan memberikan beberapa saran agar Chinen lebih dapat menghadapi hari depan. Seminggu kemudian, Chinen mulai berani menghadapi hari-harinya dengan senyum. Namun, cintanya kepada Ichigawa tidak dapat dipadamkan olehnya. Malah semakin menggebu dan ingin merebut Ichigawa kembali dari Arioka. Akhirnya, Chinen memutuskan untuk memberikan sepucuk surat untuk Ichigawa, menyatakan kalau dia masih mencintainya.

To: Arisa Ichigawa

 

Ne, Ichigawa-san

Ogenki desu ka? Ah, aku tahu kalau kau baik-baik saja. Bagaimana hubunganmu dengan Arioka-senpai? Bodohnya aku menanyakan itu.

Oh ya, aku tidak pernah melepaskanmu, Ichigawa-san. Aku masih menganggapmu kekasihku walau kau sudah bersama Arioka-senpai. Aku akan terus menjaga cinta kita dan akan merebutmu kembali dari Arioka-senpai. Aku memang pengecut, tapi itu adalah Yuuri Chinen yang dulu. Hari ini, telah lahir Yuuri Chinen yang baru. Yang akan berjuang merebut kembali apa yang menjadi miliknya. Ingat itu, Ichigawa-san. Bukan, tapi… ingat itu, Arisa-chan.

 

From: Yuuri Chinen

OWARI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s