[Multichapter] Treasure Hunting (chap 5)

Title        : Treasure Hunting
Type          : Multichapter
Chapter     : 5
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-15 *naek rating* 😛
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~ 

TREASURE HUNTING
~Chapter 5~

Malam semakin pekat, Yoko masih terus menangis sambil terus menyeret tubuh Yabu yang sudah tak berdaya itu. Suara lolongan serigala menambah kekelaman malam itu, bahkan Yoko tak lagi memikirkan keselamatan dirinya lagi. Apakah daerah itu berbahaya atau ada binatang buas. Ia terus berjalan dengan bantuan senter yang bahkan nyalanya sudah tidak terang.

“Kumohon bertahaaannn…” bisik Yoko tak lagi sekuat biasanya, tak lagi menunjukkan wajah dinginnya.

Ketakutan akan kehilangan seorang Yabu semakin menghantuinya ketika dilihat tubuh Yabu sepertinya tak bergerak lagi.

“Kou?! Kou!?” ketika akhirnya Yoko menemukan tempat berlindung, sebuah patahan tebing yang menyerupai gua kecil.

Gadis itu mengguncang tubuh Yabu dengan keras, berharap si pemuda akan kembali sadar. Tangis Yoko semakin berubah menjadi tangis putus asa, Yoko mencengkram baju Yabu, mengguncangnya semakin keras.

Katana milik Sora mengenai Yabu malam itu. Mereka memang berhasil mengambil sebagian besar makanan milik kawanan itu, tapi Yabu mengeluarkan banyak sekali darah dari perut bagian kanannya.

Lama kelamaan Yoko merasa kelelahan, ia hanya memandang ke hutan lebat yang kini terguyur hujan yang tak kunjung berhenti. Tangannya menggenggam tangan Yabu yang terasa makin dingin.

Namun Yoko merasakan tangan Yabu meremas tangannya beberapa saat kemudian. Yoko tersentak dan serta merta menoleh menatap Yabu.

“Kou-chaann!!” seru Yoko dengan mata membulat tak percaya.

Yabu terbatuk beberapa kali, merasa tubuhnya kaku dan tak berdaya.

Yoko kembali menangis, tapi kali ini tangisnya tangis lega karena Yabu masih bernafas.

Mata Yabu mengerjap-ngerjap, campuran antara perih dan sakit luar biasa yang muncul dari perutnya membuat seolah-olah otaknya kosong, tapi ia bersyukur gadisnya masih hidup, bertahan.

“Yo…ko…” akhirnya kata itu keluar dari mulut Yabu.

Yoko berbaring di sebelah Yabu, memeluk tubuh kurus Yabu yang semakin bergetar hebat.

“Jangan disitu…” ucap Yabu lirih, “Aku ingin menatap wajahmu…” keluh pemuda itu lagi.

Yoko menunjukkan wajahnya dihadapan Yabu, “Kita harus segera dapat obat…” isak tangis Yoko semakin menjadi.

Yabu menggeleng, “Tak perlu…cukup kau disini saja…” kata Yabu memeluk Yoko semakin erat.

“Tapi…lukamu…”

Dalam hatinya, Yabu sudah tak lagi merasa ia akan selamat. Tapi satu hal belum ia sampaikan pada Yoko, dan itu membuatnya tak bisa pergi begitu saja.

“Yoko…dengarkan aku baik-baik…” kata Yabu dengan nafasnya yang satu satu, Yoko memandangi wajah Yabu dengan seksama, tapi Yabu tak kunjung mengatakan sesuatu.

“Ada apa Kou?” hati Yoko rasanya sakit sekali melihat keadaan Yabu.

Yabu menarik nafas panjang, menarik Yoko hingga bibirnya tepat berada di telinga Yoko, “Sekarang pergilah… berlari sejauh mungkin….”

Yoko mencengkram baju Yabu dengan keras, gadis itu terus menggeleng tak rela, “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian… tidak mau!!”

“Pergilah! Cari perlindungan sebelum yang lain datang menemukan aku!” nada suara Yabu semakin meninggi.

Sambil masih menangis, Yoko berlari menembus malam, ke dalam hutan yang berbahaya.

===============

Langit di arena tampak mendung, cuaca hari ini bisa dipastikan akan sedikit basah. Setidaknya itu yang dipikirkan Riisa sambil menengadah melihat langit. Gadis itu duduk menghadap laut yang terlihat begitu indah di subuh seperti ini.

Keito juga terjaga, tangannya terus menggenggam tangan Natsuki yang tertidur di bahu pemuda itu. Sementara Yuto tertidur dengan pulasnya di sebelah Riisa. Seperti biasa Yuto memang tenang dan cuek atas segala sesuatu, begitulah yang Riisa rasakan selama menjadi teman Yuto di sekolah.

“Kau tidak tidur?” Riisa menoleh karena mendengar suara Keito.

Riisa hanya menggeleng.

“Masih ada waktu hingga pagi tiba… kau bisa tidur, aku akan berjaga…” ucap Keito.

Riisa tak mengerti, tapi Keito menolak bergantian berjaga dengan Yuto. Sementara itu dalam hati Keito tak mengizinkan Yuto berjaga karena takut terjadi sesuatu pada Natsuki. Entah dengan alasan apa ia percaya bahwa Yuto punya niatan jahat pada Natsuki.

“Tak perlu…aku sudah tidur kan semalam saat Yuto berjaga denganmu…” ungkap Riisa.

Keito tak menjawab namun akhirnya mengangguk.

Riisa beranjak, dan mulai menyiapkan api di dalam gua itu, ia harus memasak makanan kalengnya menjadi empat bagian sekarang.

Yuto bangun ketika mencium bau ikan kalengan, perut laparnya membuat ia terbangun.

“Makanan sudah siap ya?” tanya Yuto sumringah.

Riisa hanya tersenyum ketika Yuto bangun dan menghampiri dirinya, ia sekilas menatap Keito yang tiba- tiba terlihat awas.

“Kau tahu anak kaya sombong, aku akan pastikan tidak akan menyerangmu selama Natsuki masih ada disini!” seru Yuto dengan cueknya.

Natsuki merasa genggaman tangan Keito pada dirinya semakin menguat.

“Keito…” panggil Natsuki sambil sedikit meringis.

Keito menatap Natsuki, “Kenapa?”

“Tanganku sakit…” keluh Natsuki.

“Gomen!” Keito mengendurkan genggamannya, “Kita makan dulu, ya?”

Tepat saat Keito berbicara begitu, Yuto menghampiri Natsuki, memberikan sekaleng makanan dihadapan Natsuki, “Makan ini sebelum dingin…” ucapnya menyerahkannya di depan gadis itu.

Keito menatap tajam pada Yuto.

“Lebih baik kau juga makan… kita akan jalan jauh hari ini…” ucap Yuto pada Keito.

Riisa hanya mendesah pelan dan menggeleng tak percaya pertengkaran macam ini harus terjadi di depan matanya.

===============

“Setahu aku, Inoo, Sora, Yuya dan Opi bergerak bersama…” ucap Yamada.

Terakhir kali ia melihat kawanan itu setelah berjalan bersama Daiki dan Saifu. Namun memutuskan untuk tidak mendekati mereka, karena terlalu berbahaya jika mereka diserang.

“Sou ne… check GPS mu nona Natsuru…” kata Hikaru pada Natsuru.

Natsuru yang duduk disebelah Yamada pun akhirnya mengerjakan apa yang Hikaru suruh.

“Ada tiga kelompok yang berjalan berempat…” ucap Natsuru dengan heran.

“Tiga?” Hikaru berjalan mendekati Natsuru, mengintip ke layar kecil berkedip-kedip itu, “errr… mereka bergerak cukup cepat ya..” komentar Hikaru.

Natsuru mengangguk, “Yang ini diam saja…lalu yang ini bergerak namun pelan, yang ini juga bergerak, menuju kita…” kata Natsuru.

“Itu pasti mereka!” Yamada mengatakannya setengah tak yakin, tapi seingatnya mereka memang tak jauh dari tempat ini.

“Ayo gerak…jangan melakukan hal bodoh!” kata Hikaru ketika dilihatnya Natsuru menggandeng tangan Yamada.

“Cerewet!” Natsuru hanya merasa ia perlu bersenang-senang sedikit. Bagaimanapun juga jika ia beruntung ia masih bisa hidup, kalau tidak ia terpaksa harus tidak pulang dari arena ini. Jadi menggandeng tangan pria tampan macam Yamada bukanlah dosa baginya sekarang.

Hikaru menatapnya dengan tajam, tak perlu mengatakan apapun untuk membuat gadis itu seketika terdiam.

“Baiklah…baiklah…” jawab Natsuru sambil menggerutu namun mengikuti langkah Hikaru dan Yamada.

Hikaru mengintip sebentar di belakang pohon besar, mengisyaratkan pada Yamada dan Natsuru untuk diam.

Yamada lega ketika dilihatnya yang berjalan di depan mereka benar-benar Opi, Inoo, Yuya dan Sora. Keempatnya berjalan cukup cepat, Inoo terlihat paling depan, disusul Opi, Sora masih berjalan sedikit terseok, tapi tangannya dan matanya sangat awas pada sekitar.

“Chotto…” Sora berbisik pada teman-temannya, Inoo tak berhenti tapi berjalan lebih perlahan sementara Sora menghampirinya.

Sora berjalan dibelakang Inoo, berbisik dengan kalimat yang hanya mereka yang bisa mengerti. Bersama salama bertahun-tahun, menjalani ratusan hari berburu membuat mereka sangat mengerti satu sama lain.

“Aku rasa ada yang mengintai kita…” bisiknya.

Inoo menangkap perkataan itu dengan sangat jelas, “Aku juga merasakannya… pastikan kita tidak kecolongan, kau di depan, aku dibelakang…” bisik Inoo cepat.

Inoo bergerak makin melambat, Sora menarik Opi agar tetap berjalan dibelakangnya, sementara Inoo berjalan dibelakang Yuya.

“Kenapa?” tanya Yuya bingung.

“Lebih baik kau memegang pistolmu, kita diintai…” bisik Inoo sepelan mungkin dan berharap Yuya mengerti.

Sora merasa gerakan pihak lain itu semakin mendekat, sehingga ia benar-benar berhenti, “Kei…” Sora memberi isyarat dengan matanya.

Inoo berjalan perlahan ke arah sebaliknya, matanya awas, menoleh mencari sumber suara bergerak yang mulai ia rasakan juga.

Hikaru sendiri yang bergerak dari pohon ke pohon, memerhatikan bahwa Inoo sama sekali tak bersenjata, sementara Sora berada cukup jauh dari Inoo, jadi pasti ia bisa menghabisi Inoo terlebih dahulu.

Ketika Sora berjalan cukup jauh bersama Opi, Hikaru keluar dari persembunyiannya dan berlari menyerang Inoo.

“MATI KAU!!” serunya sambil mengarahkan trisulanya pada Inoo.

Inoo menghindar dan berusaha menjauhkan dirinya dari Hikaru yang terlihat kesetanan.

“LARII!! Sora!! Lariii!!” seru Inoo membuat Sora segera menarik Opi menjauh dari tempat itu, berlari secepat mungkin ke dalam hutan.

Inoo masih saja dikejar oleh Hikaru, sementara itu Yuya baru sadar apa yang terjadi dan segera mengejar Hikaru dan Inoo. Ia benar-benar kaget karena kejadiannya begitu cepat dan tidak bisa ia prekdisikan.

Ketika Yuya mengejar mereka, Inoo terlihat sedang melawan Hikaru, menghindar dari sabetan trisula Hikaru.

“Tembak dia!!” seru Inoo masih mencoba melawan Hikaru yang seperti orang kesetanan.

Yuya membidik Hikaru, namun sulit karena si pemuda terus bergerak, ditambah jaraknya dengan Inoo sangat dekat. Satu lagi masalahnya, ia belum pernah menembak orang. Kalau binatang buruan mungkin pernah, tapi ini manusia.

Inoo berguling ke arah Yuya yang masih membidik Hikaru namun tak kunjung menarik pelatuknya. Ia merebut senapan itu, membidik cepat ke arah Hikaru.

DOR!

Sebuah peluru menembus tepat di kepala Hikaru. Membuat pemuda itu seketika lumpuh.

Inoo menyerahkan kembali senapan itu pada Yuya, nafasnya satu-satu, seluruh tubuhnya berkeringat.

“Kita kehilangan Sora dan Opi-chan…” ucap Inoo lalu menghampiri tubuh Hikaru yang sudah tak bernyawa, mengambil trisula milik Hikaru.

Yuya masih kaget dengan apa yang terjadi di hadapannya.

“Kau…membunuhnya…” ucap Yuya lirih, tak sangka seorang Hikaru kini terbaring dihadapannya, tak berdaya, tak bernyawa.

Inoo berbalik ke arah Yuya, “Korban manusiaku yang pertama…” ucapnya dingin, “Kita harus menemukan para gadis sebelum malam tiba…” mau tak mau Inoo memang merasa khawatir terhadap dua gadis itu. Walaupun Sora bisa dibilang handal berkelahi, tapi dia tetap saja hanya seorang gadis.

Yuya berjalan mengekor pada Inoo, “Lebih baik kau yang bawa pistol ini…” Yuya menyerahkan pistol miliknya dan mengambil trisula yang dipegang oleh Inoo.

Ia tidak bisa pulang ke rumah lagi jika ia menjadi pembunuh sungguhan, tunangannya akan sangat sedih.

=============

Untuk seorang Takahashi Nu, peserta kali ini cukup sulit diburu. Beberapa tempat ia datangi tak kunjung mendapatkan hasil. Nu mencoret-coret tanah, mencoba menghitung peserta yang masih tersisa.

Setelah masuk arena setahun yang lalu, ia kehilangan segalanya. Terutama perasaannya sendiri. Baginya, tak ada yang bisa dipercaya lagi selain dirinya sendiri. Pada awalnya, Nu punya teman yang selalu bersamanya, hingga gadis itu mengkhianatinya. Mengumpankannya pada peserta lain, sehingga setelahnya, Nu rasa tidak ada yang bisa dipercaya di arena ini.

“Urgh…” sebuah suara membuat Nu seketika awas.

Ia megedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba menangkap kembali suara tadi. Gadis itu berlari ke arah suara itu setelah cukup yakin dengan instingnya. Seorang gadis mengerang kesakitan dengan darah mengering di sekitar perut kanannya.

“Tolong aku…” erangnya ketika melihat Nu menghampirinya.

Nu mendekatinya, melihat pandangan si gadis yang semakin memelas, pandnagan mata redup dan hampir menutup.

“Kau mau aku membantumu?” cibir Nu.

“Ku…mohon…” erangnya lagi.

“Baiklah….” Nu mengambil panahnya, beberapa detik kemudian panahnya menancap tepat di bekas luka yang sudah mengering itu.

Teriakan memilukan yang membahana di arena setelahnya membuat Nu tersenyum simpul, “Aku membantumu untuk pindah ke alam yang lebih tenang,” cibir Nu lalu menghampiri tubuh gadis yang sudah tak bernyawa itu, memeriksa barang berharga apa yang dibawa si gadis.

“Kau membuat usahaku sia-sia, bodoh!” cibir Nu ketika menyadari bahkan sebuah peta saja tidak ada di tubuh gadis itu.  Tebakannya ia habis dirampok salah satu peserta, mungkin Sora dan Inoo yang punya insting sama tajam dengan dirinya.

Nu membuka jaket gadis itu dan menutupi jasadnya, “Kau pasti lebih tenang disana…” ucap Nu sambil meninggalkan tubuh yang tak bernyawa itu.

Tiba-tiba Nu ingat sesuatu dan menyimpan sekuntum bunga layu di atas jaket bertuliskan, ‘Sugawara Ichiko’.

=============

Ryutaro masih berjaga di seelah Miyako, malam tiba dan dingin kembali menyerang tempat itu. Hujan turun sepanjang hari membuat mereka kelelahan dan memutuskan untuk tidak bergerak kemanapun.

“Ini makanan kalian…” kata Miki menghampiri Ryutaro dan Miyako yang masih saja belum sadar.

“Miki-chan… aku tak tahu berkata apa lagi, aku sangat berterima kasih padamu..” ucap Ryutaro sungguh-sungguh.

Miki hanya tersenyum simpul dan kembali duduk di sebelah Chinen.

“Menurutmu siapa yang meninggal?” tanya Chinen.

Miki menggeleng, “Yang jelas aku tak ingin ada korban,” keluh gadis itu terlihat sedih.

Chinen mengelus kepala Miki pelan, “Jika semua peserta sepertimu, aku jamin tidak akan ada korban… masalahnya, tidak ada yang berfikiran sama denganmu…”

Miki terlihat kaget, “Bahkan Chinen-kun?”

Chinen menggeleng, “Aku tak berfikir akan kembali pulang, Miki-chan…” tiba-tiba saja ia terlihat sedih.

Miki meraih lengan Chinen dan menggeleng, “Kita akan pulang, ne??”

“Kalau begitu kita harus melawan mereka semua?” tanya Chinen lagi.

Miki kembali terdiam, tak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.

Tiba-tiba sebuah kembang api melesat ke angkasa, disusul satu lagi kembang api membuncah angkasa.

“Dua??” seru Miki kaget.

“Selamat malam para peserta Treasure Hunting!!!” suara Shingo menggema di seluruh arena, seperti malam sebelumnya.

Miki terlihat sangat sedih sehingga Chinen meraih tangan Miki untuk ia genggam.

“Dua orang peserta tewas malam ini…” suara ceria Shingo yang menyebalkan, disusul sebuah foto hologram terlihat di angkasa, “Yaotome Hikaru, pukul sebelas siang ini… dan…” sebuah foto hologram lain muncul, “Sugawara Ichiko, pukul dua…”

“Selamat menikmati sisa permainan selanjutnya!! Mulai besok kalian harus lebih berusaha! Malam Peserta!!!” bersamaan dengan itu suasana kembali menjadi hening. Menyisakan kesedihan dan kemuraman.

==============

Yoko tak bisa percaya apa yang ia dengar. Nama Yabu tidak tersebut, berarti pria itu masih hidup? Ia tak bisa percaya hal itu. Sementara itu Yoko tak mungkin kembali ke tempat tadi, ia tak hapal jalan kesana.

“Kou-chan… “ keluh Yoko, ia tak yakin pemuda itu akan bertahan esok jika sendirian.

Sementara itu Yabu tertolong tadi siang ketika ia bertemu dengan dua gadis yang berlari dari suatu arah. Sora dan Opi bertemu dengan Yabu.

Opi menolak keras untuk membunuh Yabu walaupun pria itu sekarat, ia malah ingin membantu Yabu dan mengobatinya. Sora mengalah dan membiarkan si pemuda di selamatkan.

“Kau lihat pemuda itu kini tidur dengan nyenyaknya…” keluh Sora sambil memakan makan malam yang disiapkan Opi.

“Kenapa kau begitu ingin membunuhnya, Sora?” tanya Opi bingung.

Sora mencibir, “Kau tak tahu sekarang Yuya dan Inoo selamat atau tidak…”

“Mereka selamat,” potong Opi, “Mereka tidak muncul di pengumuman malam ini…”

Sora malu karena melupakan kenyataan itu, akhirnya terdiam.

“Kita akan mencari mereka?” tanya Opi ketika keheningan membuatnya tidak nyaman.

“Tidak…kita akan diam disini hingga mereka menemukan kita…”

“Kenapa?” tanya Opi bingung.

“Karena lebih baik mereka yang bergerak, kita menunggu… jika kita sama-sama bergerak, kemungkinan bertemu akan lebih sedikit…” ucap Sora lagi.

Opi hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Tidurlah… aku akan berjaga…”

“Sendiri? Tidak!! Aku akan menemanimu…” seru Opi kaget.

“Ada kau atau tidak tidak berpengaruh bagiku saat berjaga, lagipula kau butuh istirahat…”

Opi bergerak menjauh dari Sora. Heran betapa gadis itu selalu ingin terlihat kuat di depan semua orang. Maka Opi memutuskan untuk tetap berjaga sambil berbaring, setidaknya Sora akan percaya bahwa dirinya berjaga sendirian.

“Opi..” panggil Sora tiba-tiba.

Opi tak menjawab, hanya bergumam menandakan ia belum tidur.

“Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang… suka tidak suka aku akan membunuh orang selanjutnya yang kita temui…” kata Sora tegas, “Semakin banyak yang ikut berarti semakin banyak beban kita…”

=============

“Kau tidak lelah?” tanya Daiki ketika malam semakin pekat dan si gadis bernama Saifu itu sama sekali tidak ingin berhenti untuk beristirahat. Seharian ini mereka berjalan menjauhi hutan yang lebat, sesuai dengan keinginan Daiki. Karena tujuan Daiki bukanlah kemenangan, ia ingin menemukan markas dari presiden Akanishi dan tentara bonekanya.

“Aku tidak apa-apa…” ucap Saifu lirih.

Daiki menarik tangan Saifu dan membawa si gadis ke sebuah gua kecil yang setidaknya bisa membuat mereka kering semalaman setelah berjalan dibawah hujan seharian ini.

“Buka jaketmu… aku akan menyalakan api,” Daiki membuka tas milik Ichiko yang ternyata membawa perlengkapan yang cukup lengkap, walaupun beberapa barang sepertinya tidak berguna juga.

Saifu akhirnya menurut juga. Kalau boleh jujur kakinya sejak tadi berdenyut-denyut minta ampun, ia harus segera makan obat antibiotik atau apapun itu karena lututnya mulai mati rasa, dua jam terakhir ia harus menyeret kakinya lebih berat karena rasanya sudah tidak bisa ia pakai berjalan lagi.

Daiki menyalakan api yang sengaja ia letakkan dekat batu, agar ia bisa menjemur jaket mereka yang benar-benar basah. Pemuda itu menarik Saifu ke dekat api, “Keringkan dirimu, Fu-chan…” ucap Daiki, ia lalu berlutut membuka celana Saifu yang memang sudah bergantian dengannya sehingga kini celana yang dikenakan Saifu masih baru sedangkan yang Daiki pakai sudah terkoyak.

Lutut Saifu memar dan masih kadang-kadang berdarah. Daiki mengambil air bersih dan mengompres lutut Saifu yang mulai terlehat lebih mengerikan dari sebelumnya.

“Kita harus dapat obat… kenapa tak bilang kalau kakimu sakit?” protes Daiki menatap wajah Saifu yang menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari memar kakinya itu.

Saifu mendesah pelan, “Aku tak apa-apa Dai-chan…”

“Kau apa-apa… besok kalau masih hujan kita tidka akan kemana-mana, kita akan menunggu obatmu atau kita pergi dengan aku menggendongmu,” nada itu begitu tegas keluar dari mulut Daiki.

Saifu menggeleng, “Aku tidak…”

“Pilihannya hanya dua, jadi jangan protes lagi!” Daiki mengambil tas mereka dan mengeluarkan makanan kecil dari dalamnya, memberikannya pada Saifu, “Makan lalu tidur…”

Saifu tak mau berdebat lagi, ia memakan snack itu dalam hening sementara Daiki menggelarkan satu-satunya kantung tidur yang mereka punya.

“Lalu Dai-chan bagaimana? Cuma ada satu, kan?” tanya Saifu bingung.

“Aku akan berjaga… tidurlah…” Daiki membantu Saifu berdiri dan masuk ke kantung tidur tersebut, sebelumnya Daiki membebat kembali luka Saifu.

Daiki membuka tiga peta yang ia dapatkan, membaca semuanya dan sepertinya tidak berurutan, bentuknya tidak menyatu. Ia bukan ahli membaca peta, tapi ia rasa markas tidak digambarkan di peta walaupun ia mendapatkan ke 22 potongan peta, hal itu tidak akan banyak membantu pencariannya. Ia tidak mau menang, harta keluarganya tidak akan habis hingga tujuh turunan sekalipun. Ia ingin presiden Akanishi mati ditangannya, seperti kakaknya, dan kematian jiwa ibunya.

“Dai-chan…” lamunan Daiki buyar, ia menatap Saifu yang belum juga tertidur.

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa tidur…” rengek Saifu.

Daiki berbaring di sebelah Saifu setelah membereskan petanya, menggenggam tangan Saifu, “Tidurlah…” ucap pemuda itu pelan sambil merengkuh tubuh Saifu ke dalam pelukannya, menenangkan si gadis.

================

Pagi berikutnya langit tampak sedikit bersahabat. Chinen bangun terlebih dahulu, disusul dengan Ryutaro yang juga terjaga setelah tertidur ketika semalam ia bilang akan berjaga.

“Aku ketiduran…” keluh Ryutaro yang merasa dirinya tidak berguna.

Chinen tertawa, “Tidak apa-apa… toh tidak terjadi apa-apa, kan?” kata Chinen lalu mengguncang tubuh Miki perlahan, akhirnya gadis itu juga terbangun.

“Miya-chan masih belum siuman?” tanya Miki yang menghampiri tubuh Miyako. Semalam ia sudah memberikan tanaman obat yang menurutnya sudah paling cocok dengan penyakit Miyako.

Beberapa menit setelah Miki berkata demikian, Miyako terbatuk dan membuka matanya perlahan, “Aku dimana?”

“Miyaaa!!” Ryutaro histeris dan memeluk kakak kembarnya itu seakan mereka sudah terlalu lama terpisahkan.

“Ryuu…sakit…” keluh Miyako karena pelukan Ryutaro terlalu erat.

“Gomen Miya…” Ryutaro mengendurkan pelukannya, tersenyum senang.

Chinen dan Miki ikut tersenyum melihat keduanya bahagia, setidaknya Miyako sudah siuman sekarang.

“Kita akan pergi dari sini, hari ini?” tanya Chinen pada Miki.

Miki tampak ragu-ragu, “Tapi kita akan kemana?” tanyanya bingung.

Chinen menggeleng, “Aku juga tak tahu…”

Setelah berunding, ke empatnya memutuskan untuk berjalan mencari apa yang disebut dengan harta karun tersebut. Keempatnya tidak tahu arah, hanya bermodalkan insting saja. Semakin lama mereka berjalan, hutan semakin lebat dan membuat mereka merinding karena dingin menjalar walaupun matahari bersinar cukup terang.

“Kita berjalan tanpa arah, bagaimana ini?” tanya Miyako tampak takut, berpegangan erat pada tangan Ryutaro.

Tiba-tiba terdengar gemuruh yang mendekat pada mereka, keempatnya mundur beberapa langkah, lalu geraman juga terdengar mendekat.

“Sebaiknya kita lari…” Chinen menarik tangan Miki berlari menjauh, Ryutaro dan Miyako juga melakukan hal yang sama.

Sekawanan binatang aneh berbentuk hampir mirip serigala dengan wajah jahat dan taring runcing, matanya merah berlari cepat ke arah mereka. Keempatnya berlari secepat yang mereka bisa ketika salah satu binatang buas itu menerkam Miyako dari belakang, cakarnya menancap pada bahu Miyako, Chinen mengambil batu dan melemparkannya, mengenai kepala si binatang buas yang terlepas dari Miyako.

Miki berteriak pada yang lain, “Panjat pohon!! Sekarang!!” Miki dan Chinen segera naik ke pohon sementara Miyako dan Ryutaor susah payah ingin memanjat.

Ryutaro mengangkat tubuh Miyako agar bisa naik ke pohon sementara beberapa detik kemudian kaki Ryutaro tergigit binatang buas itu.

“Aaaagghh!!” erangan Ryutaro menandakan ia kesakitan, Miyako bersusah payah menarik tangan Ryutaro agar bisa naik ke pohon, Miki berteriak seram, Chinen menariknya agar tak melihat kejadian selanjutnya, kaki Ryutaro terkoyak dan putus di pergelangannya, membuat darah segar mengalir, namun ia berhasil naik ke pohon.

==============

Yamada bangun dari tidurnya, ia tak peduli apapun yang menderanya saat malam dan sendirian seperti itu, ia lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga mentalnya. Ia menggenggam pisau yang ia ambil dari Hikaru malam sebelumnya, hanya itu yang ia punya, ia belum minum sejak kemarin dan mulai hilang akal sehat karena lapar dan dahaga yang menyerangnya.

Yamada bangkit dari tanah basah tempatnya berbaring, matanya terasa berkunang-kunang, namun ia tak ingin berdiam diri ia ingin pergi dari tempat itu. Ia berjalan semakin cepat ketika melihat sebuah danau berlari ketika tahu itu adalah sumber air, bukan hanya sebuah danau.

Air itu terasa seperti surga baginya, ia minum sebanyak yang ia bisa hingga perutnya terasa kekenyangan hanya karena air saja. Yamada berbaring di tanah basah sekitar sumber air tersebut. Ia berbaring menatap langit yang semakin terang, matahari cukup masuk dan menerangi tempat ia berbaring.

Dimana Saifu?

Pikirnya.  Apa gadis itu baik-baik saja? Ia sudah berjanji untuk menjaganya. Tapi kini ia malah kehilangan jejak si gadis.

Puk.

Sebuah bungkusan tiba-tiba jatuh diatas perutnya. Yamada langsung ambil ancang-ancang dan mengacungkan pisau lipat yang sejak tadi ia genggam.

“Tak usah berlebihan… makan itu…” seorang gadis bermata biru berdiri dihadapannya.

“Kau…?” Yamada berusaha mengingat siapa yang ada di hadapannya itu.

“Sakamoto Yoko,” jawab si gadis lalu membuka tempat minum yang sudah kosong, mengisinya dengan air.

Yamada mengangguk dan memakan makanan ringan itu seperti orang kesetanan, “Ngomong-ngomong aku Yamada Ryosuke,” kata Yamada tersenyum pada Yoko.

Yoko tak menjawab dan hanya memandangi Yamada yang makan dengan lahap.

==============

Riisa, Yuto, Keito dan Natsuki juga memutuskan untuk berjalan mencari harta karun yang harusnya ada di suatu tempat, walaupun mereka belum tahu dimana tempatnya. Beberapa jam berjalan tanpa petunjuk sama sekali membuat Yuto kesal.

“Oy Keito! Kau sebenarnya mau membawa kami kemana? Tujuanmu ingin membawa kabur Natsuki saja kan?” seru Yuto pada Keito yang memang berjalan di depan, memimpin mereka.

Keito berhenti dan berbalik berjalan ke arah Yuto, “Tuan-merasa-paling-benar, kau sendiri tahu jalan yang benar?! HAH?!” darah Keito seakan mendidih, dendamnya terhadap Yuto yang sepertinya sudah menarik perhatian Natsuki membuatnya ingin segera meluncurkan pukulan ke wajah Yuto.

Yuto mendorong bahu Keito dengan kasar, “Kau mau bernatem disini?!” tantang Yuto kesal.

Keito mendorong balik bahu Yuto dengan tak kalah kasar.

Natsuki menarik-narik baju Keito agar berhenti, “Keito-kun…” bisiknya, takut-takut mereka benar-benar baku hantam.

Riisa yang sejak tadi diam tiba-tiba maju dan mendorong keduanya.

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di wajah Yuto.

PLAK! Satu tamparan kini di wajah Keito.

Keduanya merupakan tamparan keras dari Riisa.

“Sekarang putuskan kalian mau saling membunuh, mau saling berpisah atau bagaimana?!” bentak Riisa.

Keduanya terdiam menatap Riisa tak percaya.

“Kita tak bisa melanjutkan perjalanan dengan keadaan begini…”

Yuto menatap Keito dan Natsuki yang berada di belakangnya. Mata Natsuki berkaca-kaca, sepertinya gadis itu takut sekali.

“Aku yang pergi…” ucap Yuto lalu melemparkan kacamata yang ada di saku jaketnya pada Natsuki, lalu berbalik berjalan menjauh dari Keito, Riisa dan Natsuki.

“Yuto-kun!!” seru Natsuki kaget, tak menyangka Yuto akan pergi meninggalkan mereka.

Yuto tak berbalik lagi, ia berjanji akan membunuh Keito ketika saatnya tiba. Tidak sekarang. Tidak saat Natsuki melihatnya.

=============

Natsuru mencoba membaca plat nama berkarat di sebuah bangunan berbentuk kubah aneh yang ada disitu. Setelah berjalan cukup jauh ia menemukan tempat itu. Namun ia tak berhasil membacanya. Ia menyerah dan memutuskan untuk masuk saja ke bangunan berkarat itu.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah mesin-mesin yang tertutup oleh kain berdebu warna abu-abu, ruangan besar yang penuh dengan mesin dan dan tabung besar berisikan cairan aneh, beberapa mahluk aneh juga di dalamnya.

Natsuru menebak ini adalah markas dahulu yang sudha tidak berfungsi lagi. Mungkin presiden menemukan mesin-mesin yang lebih canggih. Natsuru berjalan semakin jauh dan menemukan sebuah pintu, yang tulisannya lagi-lagi tidak jelas. Ketika Natsuru hendak membukanya, ia mendengar suara pintu depan terbuka, Natsuru segera menyelinap ke dalam dan mengintai siapa yang datang.

“Ah! Dua ikemen!” seru Natsuru dalam hati, ia terkekeh pelan melihat Yuya dan Inoo melangkah ke dalam rauangan, sama-sama melihat ke segala arah.

“Siapa disana?!” seru Inoo yang merasakan keberdaan seseorang, ia membidikkan senapannya ke arah pintu dimana Natsuru berada, “Keluar atau aku akan menembakkannya sekarang,” ancam Inoo.

Natsuru melangkah keluar dari persembunyiannya, sambil mengangkat tangan ke udara tanda ia menyerah, “Jangan galak-galak dong!” seru Natsuru.

Inoo menurunkan senapannya, “Berikan kami alasan untuk tidak membunuhmu sekarang!”

Sekali lagi Natsuru bersyukur punya GPS di tangannya.

==============

TBC~

Aduh failed ya chapter ini…
Maafkan saia setelah menunggu lama (?)
Next chapter mudah-mudahan cepet…
Doakan saya ditengah-tengah kegalauan mahasiswa tingkat akhir,,
LOL
Comments are LOVE LOVE LOVE
Please comments don’t be a silent reader…
😀

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s