[Multichapter] Osaka 11 (Chap 2)

B/A: Saya ngepost chapter satu waktu abis UTS Bioteknologi semester 4 dan sekarang beres UTS semester 5. It means, setengah taun! Setengah taun, pemirsa XDDD #dibakarmasa. Kalo ngelahirin bayi, berarti udah sampe tu anak bisa dikasih makan selaen ASI XD LOL
Buat yang lupa atau belum baca chapter satu, silakan klik aja OSAKA 11 (chap 1)

Enjoy!

OSAKA 11
chapter 2
|| PG-15 || action | sci-fi | post-apocalypse ||
Daiki Arioka, Kota Yabu, Yuuri Chinen and Yuya Takaki
members of Hey! Say! JUMP
belong to Johnny’s Entertainment
.
The Island belongs to
.
Saifu Suzuki is an OC belongs to Saya Fukuzawa
.
Noeru Takahashi is an OC created by me
“Kalau mati itu artinya aku tidak bisa bertemu Daiki-san lagi, maka aku tidak ingin mati.”
.oOo.
Osaka11
A romance fanfiction by Nu Niimura

Satu.

Memejamkan mata, Daiki berusaha untuk berpikir meskipun kakinya tengah berlari secepat yang ia bisa. “Ayo berpikir, Daiki. Temukan Saifu. Lari secepat mungkin sampai stasiun. Pergi dengan tenang ke Tokyo, uhh…”
Di lorong pada tikungan yang pertama ditemui, Daiki memutuskan untuk mengatur nafas sekaligus bersembunyi. Berharap lampu ide tiba-tiba bersinar terang, menyinari rencana nekat membawa Saifu melarikan diri.

“Lapangan, kerja, ya… Saifu!”

Terkadang justru keterdesakan yang menarik pelatuk kreatifitas. Serentetan rencana muncul dengan brilian di kepala Daiki. Dan tak perlu lagi menunggu, ia kembali melangkahkan kaki, berbalik menuju tempat yang mereka sebut dengan “lapangan”, tempat semua penghuni distrik melakukan aktifitas kerja. Saifu pasti ada disana.

“Saifu, ikut aku sekarang. Tidak ada pertanyaan. Hanya. Ikuti. Aku. Ini demi kebaikanmu!”

Saifu terkaget bukan main ketika Daiki menutup mulutnya saat ia berada ruangan penyimpanan steril untuk mengambil beberapa material yang dibutuhkan. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengangguk mengiyakan, selama ini Saifu mengenal Daiki sebagai orang yang tak akan berbuat jahat padanya. Begitu yang hatinya sendiri yakini.

“Da, Daiki-san, ada apa…?“

“Dengar Saifu, tidak ada pertanyaan untuk sekarang, ada banyak hal yang harus kujelaskan. Saat aku buka pintu ini, kau akan berlari secepatnya mengikutiku. Aku tidak bisa memastikan nyawamu selamat sampai besok pagi bila aku tidak membawamu pergi dari sini.“ Bisikan Daiki terdengar tegas.

“Aku… tidak mengerti apa yang Daiki-san bilang…“ kombinasi kata-kata Daiki yang tak bisa sepenuhnya dimengerti dan tatapan tegasnya membuat Saifu ketakutan dan hampir meneteskan air mata.

“Sudah kubilang, banyak yang akan kujelaskan nanti. Sekarang yang kauperlukan hanya berlari mengikutiku. Kau percaya padaku, kan?“

Saifu kembali mengangguk. Kepalanya penuh dengan tanda tanya. Tapi tak ada alasan untuk meragukan Daiki.

Seperti yang diinstruksikan Daiki, mereka berdua segera berlari ketika pintu ruangan itu terjeblak membuka. Menerobos kerumunan orang yang tengah beraktifitas. Suara histeris beberapa penghuni distrik, teriakan penjaga keamanan, peralatan kaca yang pecah dan nyaring sirine tanda keadaan darurat berpadu mericuhkan suasana.

Dan mereka terus berlari, menuju tempat yang tak lain adalah ruang mesin.

“Hey, hey, Daiki, apa yang kau lakukan…?” tanya Takaki Yuya, sahabat sesama mekanik Daiki ketika si pemuda memutar handle pintu yang tingginya tak lebih dari sekitar setengah meter. “Jangan katakan… Waw, akhirnya kau benar-benar melakukannya, dude! Membawanya pergi dari sini. Itu terdengar gila, tapi kau melakukan hal yang sangat keren. Aku mendukungmu, pejuang cinta!” seru Takaki penuh semangat.

“Aku berhutang banyak padamu, Yuya. Setelah ini mungkin aku tak bisa menemuimu lagi.”

“Kelamaan, bodoh. Jangan banyak bicara! Bisa kupastikan dalam hitungan menit para petugas keamanan akan menggeledah tempat ini. Berjanjilah untuk menemuiku di Tokyo suatu saat nanti, Daiki. Kita akan minum sake paling enak dan berpesta sampai pagi!”

“Aku berjanji, Yuya! Aku berjanji!”

Daiki mengeluarkan Saifu terlebih dahulu melalui pintu yang dibukanya, setelah itu barulah dirinya menyusul. Meninggalkan Takaki Yuya dengan keadaan tersenyum dan tangan terkepal penuh keyakinan.

Saifu hanya bisa menjatuhkan rahangnya takjub, pemandangan yang dilihatnya setelah susah payah keluar melalui pintu rahasia di ruang mesin hanyalah sehamparan padang gersang.

“Daiki-san, inikah… dunia luar?”

“Ya. Meskipun secara teknis kita masih berada di area milik Takahashi Biotech., tapi setidaknya kita sudah keluar dari sangkar memuakkan milik Takahashi.”

“Apa yang Daiki-san maksud?”

“Ah, bukan apa-apa. Yang kita perlukan sekarang hanya berjalan tak jauh dari sini menuju flat-ku, mengambil uang tunai lalu pergi ke stasiun. Dan kita akan naik kereta menuju ke Tokyo.” Ucap Daiki, melempar benda seukuran kartu kredit keatas tanah tandus berpasir.

Benda apa yang Daiki-san buang itu? Dan Tokyo itu apa?”

“Saat bersamamu, aku tak lagi membutuhkannya, Saifu. Aku akan membawamu ke dunia luar yang sebenarnya…” Setelah sekian lama, senyuman Daiki kembali terkembang untuk Saifu. Tangannya secara spontan meraih jemari gadis disampingnya yang tak tahu apa-apa itu.

“Un. Aku pasti ikut, selama itu bersama Daiki-san.” Balas Saifu mantap sementara jemarinya balas menggenggam. Genggaman itu terasa begitu hangat, meski berasal dari tangan yang banyak menyimpan bekas luka penuh cerita. Saifu tak tahu kenapa, tapi saat itu wajahnya terasa aneh dan sesuatu di dadanya berdetak lebih cepat.

.oOo.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, Kouta, dengan sangat berat hati kukatakan bahwa kau telah mengecewakanku.” Sosok yang biasanya tersenyum penuh percaya diri dari balik meja pemegang kekuasaan tertinggi itu kini hanya bisa memijat pelipis dengan hela nafas frustasi.

“Aku menyadari kelalaianku…”  Sementara si lawan bicara hanya bisa memandangi tali sepatunya sendiri.

“Kupikir kebersamaan setelah sekian lama membuatmu hafal aturan-aturan diantara kita, sekalipun yang tak tertulis.” Dirinya dan Noeru Takahashi bahkan pernah berbagi jawaban ujian saat di bangku universitas. Kota Yabu mengingatnya sebagai sosok gadis yang baik. Tapi Yabu tak pernah mengira dalam keadaan semacam ini, perkataan mantan teman kelasnya itu terdengar begitu mengintimidasi. “Aku tak pernah memasukkan orang baru tanpa menginformasikan terlebih dahulu padamu, Kouta. Kau hafal betul itu, kan?!” Terlebih ketika nada suaranya meninggi.

“Ya. Aku tahu itu, tapi…”

“Tapi kau membiarkan petugas mesin itu melihat pesan dari komputermu. Aku tahu dia selalu membagi bekalnya dengan Saifu saat istirahat siang dan sekarang dia membawa Saifu pergi!”

“Tenanglah, Noeru…”

“Saat Saifu berkeliaran di luar sana, klien kita, putri tunggal CEO Suzuki Corporation bisa mati kapan saja karena jantung Saifu tak bisa ditransplantasikan tepat waktu. Dan selain aku, kaulah yang paling tahu. Dia Saifu, Kouta! Selain jantung, tidak ada bagian lain dari dirinya yang boleh keluar dari distrik!!” Sumbu Takahashi akhirnya habis, ia meledak bersama suara keras gebrakan meja dan detik berikutnya segala sesuatu yang ada diatasnya habis tersapu dan jatuh berserakan di lantai. Menimbulkan suara yang begitu memilukan untuk seorang Yabu Kouta.

“Mum! Ada apa?!“ Yuuri berteriak panik dan menerobos masuk ruangan pribadi Takahashi yang sedari tadi hanya diisi dua orang untuk bicara empat mata. Belum pernah ia dapati ibunya sekacau ini.

“Tidak ada apa-apa, Yuuri…“

“Aku tidak mau lihat Mum marah-marah begini…“ Ucap Yuuri memeluk ibunya penuh perhatian.

“Mum hanya sedih, seseorang membawa Saifu pergi…”

“Tapi Mum akan membawa Saifu kembali, kan?” Ada ekspresi sedih yang tak dibuat-buat tertangkap dari wajah manis Yuuri.

“Tentu, secepatnya. Untukmu, Yuuri.”

“Tunggu, Noeru. Biarkan aku…” Potong Yabu, tapi yang dipanggil tak menghiraukan, hanya menenangkan diri di pelukan putra kesayangan. Dan Yuuri bisa menyaksikan pria yang biasa dipanggilnya ‘jiichan’ itu diseret paksa oleh tiga orang berbadan besar keluar ruangan.

“Urusan ini… akan kuselesaikan dengan caraku sendiri…” Hanya butuh hitungan menit hingga sisa-sisa kerusuhan selesai dirapikan dan Takahashi kembali duduk penuh wibawa di tempat kebesaran. “Yamada-kun.”

Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda dengan seragam hitam formal. Pakaian itu tak bisa menutupi usianya yang jelas masih muda. Tidak akan ada yang menyangkal bila seseorang mengatakan bahwa ia tampan, tapi ekspresi yang terpasang di wajah itu hanya milik seorang prajurit yang siap menerima perintah.

“Yamada Ryousuke. Mendapat pelatihan eksklusif di Amerika sejak usia sangat muda. Beberapa kali menyelesaikan misi sebagai mata-mata dan menjalankan berbagai misi berbahaya lain. Di usia 17 tahun, kemampuannya sudah setara dengan anggota inti satuan militer Green Baret.” Takahashi membaca tulisan yang tertera pada lembaran kertas yang dipegangnya dan mengetuk-ngetukkannya ke meja. “Waw… kau pasti seorang jenius.”
Yamada tak menjawab, tetap pada posisi dan ekspresi semula.

“Tapi aku hanya akan memintamu mengejar dua orang ini. Saifu Suzuki, kau harus membawanya kembali dengan utuh, dan Daiki Arioka, petugas mesin tak tahu diri yang membawa Saifu pergi… aku tak peduli kalaupun esok hari aku menemukan berita di surat kabar tentang mayatnya yang mengambang di sungai, apapun asalkan dia tak bisa menyentuh Saifu lagi.” Lanjut Takahashi, menyerahkan dua lembar foto pada Yamada.

“Perintah diterima.”

“Kurang dari seminggu. Tak ada waktu tambahan, tak ada keributan. I’m very count on you, Yamada-kun.”

“Anda tidak perlu khawatir, Takahashi-san.” Untuk pertama kali, Yamada tersenyum. Sebuah senyuman dari seorang berharga diri tinggi, yang bisa menandingi apa yang disunggingkan Takahashi.

.oOo.

Daiki mengepak barang secukupnya. Ia tak butuh terlalu banyak. Saat ini tujuannya hanyalah berlari, banyak barang bawaan hanya akan memberatkan. Isi kotak kayu yang disimpannya rapat-rapat dalam lemari itu menjadi hal terakhir yang ingin dibawanya. Sebuah revolver berisi satu peluru. Pada badannya tertulis Smith&Wesson. Didapatnya ketika berpesta bir kecil-kecilan –sembari saling mencurahkan keluh kesah tentang hidup yang semakin menyebalkan- tempo hari di flat milik Takaki. Empat orang pemuda mabuk memutuskan untuk bermain Russian roulette. Tiga selamat, dan ketika Daiki mengarahkan moncong senjata ke pelipis sendiri, Takaki menurunkannya dan berkata ‘Simpanlah peluru yang hanya satu itu, entah kapan kau mungkin akan membutuhkannya.’

“Saifu, berikan tangan kirimu.“ Instruksi Daiki.

“Hm?“ Saifu terlihat bingung, tetapi tak ada pertanyaan susulan.

“Selama kau masih memakai gelang ini, Takahashi bisa menemukanmu dimana pun kau berada. Aku sudah membuang ID-ku dan sekarang hanya perlu sentuhan kecil agar kita jadi benar-benar hilang.“ Ujar Daiki sembari tangannya sibuk memainkan obeng kecilnya.

“Eto… Kenapa Daiki-san ingin membawaku pergi?“ Bersamaan dengan suara jatuhnya gelang-penghuni-distrik dari pergelangan tangan Saifu, Daiki merasakan sambaran petir imajiner, gadis itu mengutarakan pertanyaan paling dasar sekaligus paling kompleks dengan tatapan polos yang seperti biasa, selalu menuntut penjelasan.

“Ng, aku…” Jujur saja, selama dua puluh dua tahun hidupnya, Daiki Arioka belum pernah melalukan hal yang berada diluar zona nyamannya. Bagai sebuah lompatan, melarikan seorang gadis klon hingga membuang ID sendiri adalah hal yang ekstrem.     “Aku… tak ingin membiarkan mereka membunuhmu, aku tak ingin kau mati, seperti itu singkatnya…” Jawab Daiki, berharap tidak ada satu katapun yang meleset.

“Bunuh? Mati? Maksudnya apa?”

Jantung Daiki mencelos. Pikiran Saifu Suzuki itu sesteril ruang laminar air flow, gadis itu bahkan tak mengenal konsep kematian.

Tak pernah ada kematian di Osaka11, mereka yang telah ‘di-order’ akan menaiki kendaraan mungil menuju shelter raksasa serupa bernama Osaka12 yang lebih sedikit penghuninya dengan alasan keterbatasan persediaan makanan di dalam distrik. Sebagai sistem independen berupa perlindungan paska bencana besar, ada kalanya timbul kendala.

‘Kami tidak ingin mengambil resiko dengan memasok bahan dari dunia luar, Anda semua pantas mendapatkan yang terbaik. Dengan pengetahuan dan kerja keras, kita pasti bisa melakukannya. Kami akan melakukan pengocokan dengan lotere dan mereka yang terpilih akan diantarkan ke Osaka12 saat pagi hari. Tentu saja ketika stabilitas telah kembali, pulang ke Osaka11 adalah opsional dan ketika Anda berada di Osaka12 pun kami memastikan Anda tetap bisa menjalin kontak dengan teman-teman di Osaka11.’ Papar Takahashi dalam pidatonya tempo hari sedang Daiki hanya melihatnya melalui video. Cara bicara Takahashi yang mengakhiri hampir semua kalimat dengan senyuman penuh perhatian sekaligus keyakinan mengingatkan Daiki pada sosok ibu di tayangan komersial yang memberi belai lembut ketika sang anak terkena flu. Tapi dibalik itu Daiki bisa melihat lidahnya bercabang dua, Noeru Takahashi adalah seorang pembohong ulung. Ia yakin Takahashi Biotech. bisa menjaga perut semua orang di lima distrik serupa tetap terisi. Tentu saja yang dimaksud dengan komunikasi pun hanyalah panggilan video fiktif dan nyatanya mereka yang pergi tak pernah kembali. Osaka12 tak pernah ada. Singkat kata, tak ada yang benar-benar bermigrasi, mereka hanya dipreteli.

“Daiki-san?” Panggilan Saifu menarik Daiki kembali dari lamunannya.

“Ah, itu… Sore hari ini harusnya kalian semua dikumpulkan di hall dan dilakukan pengocokan lotere seperti yang sudah-sudah, esok paginya mereka akan mengantarkanmu ke Osaka12. Tapi sebernarnya tidaklah seperti itu, ada orang kaya di luar sana yang membayar Takahashi untuk mengambil bagian tubuhmu, mungkin ginjal, jantung atau yang lainnya. Dan kau akan benar-benar tak pernah kembali. Aku memang tidak pintar menjelaskan, tapi ketika kita sudah punya waktu untuk duduk berhadapan dengan santai, aku berjanji akan menjelaskan semuanya dan kau boleh bertanya sesukamu, Saifu.”

“Ng, aku tidak terlalu mengerti. Tapi kalau mati itu artinya aku tidak bisa bertemu Daiki-san lagi, maka aku tidak ingin mati.” Ujar Saifu, tentu saja apa yang diucapkan gadis itu selalu spontan dan murni dari pikirannya.

Karena waktu yang tak banyak, harusnya mereka bergegas untuk segera melarikan diri, tapi rencana yang disusun sejak tadi menguap bagai minyak permen yang dibiarkan terbuka. Saat ini, Daiki hanya ingin mendekap gadis di hadapannya itu.

“Teruslah hidup, Saifu.”

Dua.

Mereka harus menempuh hampir 45 menit perjalanan dengan taksi untuk menuju stasiun.

‘Aku yakin Takahashi tak akan membiarkan publik tahu tentang larinya Saifu, perempuan itu tak mungkin menurunkan tentara-tentara pengejar yang bisa menimbulkan keributan. Karna itu, bila aku dan Saifu berhasil sampai stasiun dan naik kereta menuju Tokyo, kami aman untuk sementara. Yang harus kupikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa naik kereta tanpa ID.’ Daiki terus larut dalam pikiran sendiri sementara Saifu kehilangan kata-kata mendapati pemandangan sekitar yang didominasi daerah-daerah gersang.     Seragam penghuni distriknya telah diganti dengan t-shirt dan jaket lama milik Daiki –yang masih saja tampak kebesaran. Sekarang Saifu terlihat seperti gadis biasa, bukan lagi gadis kopian yang dipelihara dalam kubah penuh dogma.

“Jepit rambutmu, terjatuh…” Daiki membungkuk, memungut jepit rambut Saifu yang terjatuh di dekat kakinya.

Saifu menjerit. Dalam sekejap itu terdengar suara tembakan senjata api. Taksi tumpangan mereka  hampir menabrak mobil yang melintas di hadapan. Kepala si pengemudi tersungkur di pegangan stir, ada peluru bersarang di kepalanya, menembus kursinya, kursi Daiki dan jendela belakang.

“Sial.” Daiki mengumpat. Harusnya ia mati sedetik yang lalu.

Saat ia menoleh untuk melihat ke belakang, ada seorang dengan rayban dan pakaian serba hitam, diatas sepeda motor berukuran besar dengan warna serupa yang mengejar mereka. ‘Dewa –bukan, setan macam apa yang bisa membidik target bergerak dengan tepat sambil mengendarai sepeda motor?!’ Batin Daiki.

Setelah itu pada posisinya terus dihadiahkan tembakan-tembakan. Daiki berlindung sebisanya, meringkuk di kursi penumpang. Bila jarak si pengejar lebih dekat, yang akan didapatnya adalah hujan peluru. Itu hanyalah masalah waktu dan mau tak mau Daiki harus memanfaatkan waktu dalam hitungan detik untuk pindah ke kursi pengemudi dan membawa kendaraan mereka kembali melaju.

“Saifu, berlindung seperti apa yang aku lakukan tadi!“

Saifu yang sejak tadi hanya bisa mematung karena syok menuruti instruksi. Perintah Daiki terdengar perlu tak perlu karena ia yakin pengejarnya tak akan melukai Saifu.

Bagaikan dalam film aksi, ia mengemudikan mobil ‘pinjaman‘ dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan kekacauan lalu lintas termasuk beberapa tabrakan yang terjadi. Jalanan Osaka tak pernah sepi, rahasia umum saja bila ex-perfektur itu jadi tempat ‘usaha‘ yang mengharuskan lokasi jauh dari kota besar (baca: Tokyo). Ketika Daiki membanting stir ke kanan, sebuah peluru meluncur tepat di depan matanya, dengan sukses memecahkan material tempered jendela kiri. Kepalanya masih selamat. Terkutuklah orang itu dan kemampuan menembaknya yang mengerikan.

“Not good. Aku harus menghadapinya.“ Daiki menarik revolver yang sejak tadi disimpan rapat di balik pinggang. Senjata satu-satunya yang ia miliki. “Saifu, jangan bergerak! Tetap berlindung. Aku akan kembali secepatnya.“
Dengan langkah pasti, Daiki keluar dari mobil dan bersiap menghadapi pengejarnya.

“Katakan pada Takahashi, aku tidak akan membiarkan kalian berbuat sesukanya pada Saifu apapun yang terjadi! Sekarang, aku akan menghadapimu!!“ Seru Daiki menantang. Ia berlari tanpa peduli dengan mobil yang melintas. Jika bukan karena kerja adrenalin, lututnya pasti sudah lemas karena nyaris tertabrak mobil, tapi Daiki justru melopat ke bagian depan mobil yang sedang melaju dan mengarahkan senjata pada pengejarnya.

Ketika menarik trigger, ada semacam gelombang yang dihantarkan dari telunjuk, melewati lengan dan sampai di kepala. Membuat Daiki melihat film pendek berisi senyuman Saifu dan teman-teman di ruang mesin. Kemungkinan untuk menembak hanya satu perenam, tapi yang harus dilakukan adalah tetap menekan. Si pengejar bahkan tak menghentikan laju kendaraan. Tetap menembak seperti sebelumnya. Daiki bisa saja mati beberapa detik berikutnya.

Dan, CRAS! Kemeja putih Daiki ternoda merah darah dan ia jatuh terguling ke tanah beraspal. Tangan kirinya tergores peluru. Tapi apa yang terjadi pada pengejarnya, orang itu jatuh dan terlempar hingga meluncur di aspal sejauh beberapa meter. Peluru yang ditembakkan Daiki mengenai ban motor yang dikendarainya. Keberuntungan apalagi ini? Setelah kepalanya selamat dari tembakan pertama secara tidak sengaja dan revolver satu banding enamnya meledak sekali tembak, sekarang tembakan resmi perdananya berhasil membuat seorang pembunuh bayaran jatuh berguling-guling.

Saat si pengejar terjatuh dari motor dan kacamata hitamnya terlepas dari wajah, Daiki sekilas mengamati wajah orang itu. Sejak tadi, dari gerak tubuh yang bisa ditangkap, Daiki menyimpulkan orang itu laki-laki, tapi dari wajahnya ia terlihat cantik. Tubuhnya tidak terlalu besar –berlawanan dengan apa yang mereka tunjukkan dari sosok agen bayaran di film- justru pemuda (ya, pemuda) itu terlihat langsing. Jenis yang lebih cocok menjadi model daripada pembunuh bayaran. Pemuda yang menakutkan.

Daiki berjalan menuju tepi jalan dan meraih sapu tangan atau apapun  dari sakunya untuk membebat luka, tapi yang ditemukannya justru jepit rambut milik Saifu. Sempat dimasukkan ke saku ketika Daiki memungut tanpa sempat mengembalikannya.

‘Takahashi-san baik sekali, dia memberiku jepit rambut ini.’ Ingatan akan kalimat yang diucapkan Saifu tempo hari seakan menghantam Daiki.

Bila diingat-ingat, si pengejar hanya menembak ke arah tempat duduk Daiki. Tak mungkin ia bisa menebak posisi duduk dari jarak sejauh itu. Kemungkinannya hanyalah, mereka diikuti. Dekorasi cantik dari benda kecil itu bisa jadi memiliki fungsi kamera super mini yang membuat keberadaan mereka terus terlacak.

“Menyebalkan…!” Daiki membanting benda itu ke tanah dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Mencurahkan amarahnya secara tidak langsung pada Noeru Takahashi.

“Ayo Saifu, kita hanya perlu berlari tak jauh lagi sampai stasiun, sebelum sirene mobil polisi berbunyi!” Daiki menarik Saifu yang masih bergetar karena takut dari dalam mobil. “Terimakasih, Paman. Dari dalam lubuk hati, aku berdoa untuk kelapangan arwahmu, beristirahatlah dengan damai.“ Ucap Daiki sebelum mengambil ranselnya, menutup pintu taksi dan beranjak pergi.

“Da, Daiki-san… lenganmu berdarah…“ kata Saifu sedih.

“Tak masalah, hanya tergores. Aku akan membereskannya ketika sampai di stasiun.“ Mengenakan jaket untuk menutup luka, Daiki menggenggam tangan Saifu dan membawanya berlari.

Tak pernah menyangka efek adrenalin bisa membuat langkahnya jadi seringan bulu dan lukanya tak berdenyut nyeri. Meskipun Daiki tidak bisa memastikan apakah Saifu juga merasakan hal yang sama, tapi ia akan rela menggendong jika gadis itu kelelahan berlari.

“Ini, minumlah…” Saifu menerima sebotol air minum dari tangan Daiki.

Mereka beristirahat di sekitar stasiun, melepas lelah dan dahaga. Air yang diteguk terasa begitu nikmat bagaikan sudah berhari-hari tenggorokan tak dibasahi. Lengan Daiki mulai terasa nyeri dan darah merah sudah terlihat mengalir hingga lengan jaketnya. Selain berpikir tentang cara naik kereta tanpa ID, kini ada hal lain yang harus dilakukan Daiki, yaitu membersihkan diri dan merawat luka. Dan hanya ada satu tempat yang bisa dituju, kamar mandi.

Seorang pemuda yang tengah menikmati taco di tangannya melempar senyuman nakal ketika melihat Daiki menggandeng Saifu memasuki toilet pria. Nekat memang, tapi ia tak mungkin menyuruh gadis itu menunggu sendirian di luar. Beruntung saat itu tak ada orang lain sehingga Daiki bisa mengurung Saifu di ruang kotak sempit dimana toilet berada, sementara dirinya tepat di kotak sebelah, merawat lukanya. “Jangan bersuara, dan jangan buka kuncinya sebelum aku bilang buka.“

Daiki membersihkan lukanya dengan air dan meneteskan cairan antiseptik yang tersimpan di ranselnya. Kemeja putih yang tadi dikenakan dirobek untuk dijadikan bebat luka. Revolver penolongnya dimasukkan kedalam kotak diatas toilet, ia tak akan menyentuhnya lagi. Ironis, satu-satunya kenangan akan persahabatan hangat di Osaka yang gersang adalah senjata api yang berakhir tragis di toilet umum.

Kini Daiki telah memakai kaus lengan panjang yang bersih, untuk sementara tak perlu jaket untuk menutupi luka. Ketika hendak memasukkan jaket ke ranselnya, Daiki mendapat ide secara tiba-tiba.

“Saifu, buka pintunya. Aku sudah menemukan cara agar kita bisa naik kereta tanpa ID!“ Ujar Daiki bersemangat.

“Hm?“

“Pakai ini, masukkan ke balik bajumu!“ Dan Daiki menyodorkan jaketnya ketika Saifu membuka pintu.

“Ma, masukkan? Seperti… ini?“ Meski malu-malu, Saifu menurut. Memasukkan gulungan jaket ke balik t-shirt biru mudanya. Menciptakan gumpalan aneh yang canggung di bagian perut.

“Ya, ya. Kau sudah sering melihatnya di distrik, kan? Perempuan-perempuan dengan perut membesar itu…“

“Maksud Daiki-san bereproduksi? Kalau sudah kesakitan, tandanya mereka akan punya bayi. Karena bayi tidak cocok di Osaka11, maka mereka pasti dipindahkan ke Osaka12. Apa kita akan ke Osaka12, Daiki-san? Ah, bukankah Daiki-san bilang aku tak akan benar-benar ke Osaka12?“ Racau Saifu penasaran.

“Kita akan pergi, Saifu. Ke Tokyo.“

Belum semua pertanyaannya terjawab, tapi Saifu membalas dengan senyuman termanis yang bisa diberikannya hari ini.

Pemuda yang sama menyemburkan sofdrink dari mulutnya ketika melihat Daiki menggandeng Saifu keluar dari kamar mandi dengan perut membesar. Dude, that escalated quickly. If you know what I mean.

Untuk pertama kalinya pada hari ini, Daiki bisa kembali memasang senyum penuh percaya diri.

“Permisi, kami butuh dua tiket ke Tokyo, tetapi tas kami yang berisi ID dan beberapa barang lain dicuri. Saya dengar, jaman dulu orang-orang membayar dengan uang ketika akan naik kereta. Saya akan bayar berapapun agar bisa sampai di Tokyo secepatnya.” Ucap Daiki pada petugas penjaga.

“Baiklah anak muda, aku akan mendatamu untuk memastikan kalian bukan buronan atau semacamnya, hahaha…” Tawa si pria setengah baya terdengar sengau.

“Ayolah, Tuan. Tidak ada buronan yang membawa istrinya yang sedang hamil besar.”

“Anak muda, ketika istrimu hampir melahirkan harusnya kau memastikan dia selalu berada di tempat yang aman, dengan akses semudah mungkin ke rumah sakit atau sebagainya, bukan tempat dengan jarak sejauh Osaka-Tokyo…” Petugas itu melirik Saifu, tapi yang jadi objek lirikan hanya merangkul erat lengan kanan Daiki dan membenamkan wajah di lengan atas pemuda itu. “Dan lagi, sebagai warga negara ini kau tahu betul, seseorang tidak dengan mudah bertransportasi jarak jauh tanpa ID. Aku harus mendata kalian dan memastikan apa yang kalian ucapkan benar.”

ID. Sebuah benda seukuran kartu kredit dengan fungsi semua dalam satu. Identitas pengenal, tiket transportasi, kartu ATM, hingga sensor yang bisa melacakmu kalau-kalau kau tersesat, diculik atau melarikan diri. Semua warga negara dengan usia mulai 15 tahun memilikinya. Ketika seseorang kehilangan ID-nya, ia bisa melapor ke tempat pelayanan masyarakat, dilakukan pendataan untuk memastikan kesesuaiannya dan mendapatkan ID baru dengan data dan segala sesuatu yang sama seperti ketika hilang, sementara ID lamanya dinonaktifkan. Bahkan turispun mendapatkan Traveler’s ID ketika memasuki bandara sebagai tanda telah melalui sistem imigrasi yang legal. Tentu saja dengan fungsi yang tak sekumplit milik warga negara. Pada kasus kehilangan ID ketika akan bertransportasi dengan sarana umum, biasanya seorang akan ditanya nama, pekerjaan dan instansi yang terkait. Ujung-ujungnya, mereka akan mengecek ke database instansi tersebut dan memastikan kebenaran. Proses itu membutuhkan waktu (bila beruntung) sekitar setengah jam sampai akhirnya surat-izin-menggunakan-transportasi-umum diterbitkan.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Tuan. Dengan uang yang saya kumpulkan setelah bekerja di Osaka saya telah mereservasi rumah sakit terbaik di Tokyo untuk kelahiran bayi saya. Dan saya tidak ingin bayi ini harus lahir di stasiun! Apa Anda tidak bisa membayangkan apabila keadaan ini terjadi pada anak perempuan Anda?” Daiki mencoba jadi sepanik yang ia bisa, tanpa peduli dengan beberapa pasang mata yang tertarik melirik karena aktingnya.

“Baiklah, baiklah. Siapa nama kalian?” Pria itu terlihat mengelap pelipisnya dengan sapu tangan.

“Daiki. Daiki Arioka dan Sai…“ Daiki menelan ludah “Sai Arioka.“

“Tuan dan Nyonya Arioka…“ si petugas menuliskan nama mereka di kertas cetakan, surat keterangan atau semacamnya, “tunjukkan surat ini ketika kalian sampai di Tokyo. Dan, selamat jalan.“

“Terima kasih banyak, Tuan Petugas.“ Ucap Daiki seraya menyambar surat itu dan meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.

“Hey! Kami tidak menerima tip! Lagipula ini terlalu banyak untuk ongkos kereta seperti yang kau bilang!”

“Tidak masalah. Simpan itu untuk anak perempuan Anda!”

“Hh…” si pria paruh baya menghela nafas, sementara Daiki dan Saifu menghilang ditelan keramaian orang-orang di stasiun. “Aku selalu ingin punya anak perempuan…”

Tiga.

Kereta itu terlihat seperti peluru putih super panjang yang terlihat melayang. Akhirnya Daiki dan Saifu bisa duduk dengan tenang, baru menyadari ketika sore itu hujan sedang turun.

“Daiki-san, Daiki-san, kenapa dari langitnya jatuh air?” Tanya Saifu berbisik, dan Daiki tak menangkap alasan kenapa gadis itu harus berbisik.

“Itu namanya hujan, Saifu. Air jatuh dari awan-awan yang sudah tidak bisa menahan uap air. Dengan hujan… langit jadi bisa berkomunikasi dengan bumi yang tidak pernah bisa disentuhnya. Ah maaf,  penjelasanku jadi aneh…”

“Tapi di Osaka11 tidak pernah ada hujan. Apa itu artinya langit Osaka11 tidak bisa berkomunikasi?”

“Tidak, tidak. Di Osaka11 hanya ada pemandangan yang diproyeksikan ke langit-langit kubah. Pagi, siang, malam, hanya sebagai penanda waktu.” Daiki ingin membelai rambut hitam Saifu dan mengatakan semua kebenaran, tapi semuanya terasa begitu kompleks. Kau tinggal dalam sangkar emas hingga tak pernah melihat langit yang sebenarnya.

Matahari masih bersinar jingga sementara hujan turun rintik-rintik membasahi jendela kereta dan hanya terlihat seperti kilatan. Daiki hanya berharap bisa menunda kerja kapilaritas cairan darah pada bebat luka supaya tidak terlalu cepat merembesi lengan bajunya, tapi pemandangan ke luar jendela dengan segala melankolinya dan romantisme hari hujan membuat acara penculikannya terasa semanis-pahit perjalanan kawin lari. Daiki menggambarkan Osaka11 seperti hujan. Meskipun kadang terasa menyedihkan bagai tangis yang jatuh, tapi bisa mempertemukannya dengan Saifu, dimana situasi mereka bagaikan bumi dan langit yang tak pernah saling meraih.

“Ne, Daiki-san. Kenapa sekarang di langit jadi ada lengkungan warna-warni?”

“Kalau itu namanya pelangi. Sisa-sisa tetes hujan memantulkan cahaya matahari menjadi tujuh warna berbeda.”

“Sou ne… Kalau begitu, apa yang ada di seberang sana? Apa tidak ada yang terpikir untuk bermain? Kupikir akan asyik, kalau Yuuri-kun pasti sudah melompat-lompat.“ Ujar Saifu ceria.

“Ng, itu… Kau bisa baca Wizard of Oz. Dongeng sih, tapi aku akan berikan setiba di Tokyo nanti kalau kau mau.“ Jawab Daiki bingung.

“Un. Aku mau!“

Setelah makan malam dengan lahap dan ngobrol singkat, Saifu tertidur dengan kepala bersandar di bahu kanan Daiki. Malam berjalan dengan damai hingga membuat siang-bagai-film-laga seperti tak pernah ada, hanya nyeri di tangan kanannya yang terasa begitu nyata. Daiki memutuskan ikut terlelap. Dan ia bermimpi melihat Saifu dalam gaun putih bersih, Takahashi menangis haru layaknya ibu mertua dan si-pemuda-pengejarnya memakai pakaian pendeta. Mimpi yang aneh.

“Di… ngin.“ Gumam Saifu, Daiki seketika terbangun karena sejak awal tidurnya tak bisa nyenyak. Ia kemudian memasang selimut dan memberikan senyuman selamat malam yang tadi belum sempat diperlihatkan.

“He he, boleh aku bersandar di bahu Daiki-san lagi?“ Tanya Saifu malu-malu.

“Boleh.”

“Terimakasih…”

Saifu kembali meletakkan kepalanya. Rambut panjangnya terasa begitu lembut, dan Daiki teringat sesuatu…

“Eto, Saifu… Sepertinya aku kehilangan jepit rambutmu. Sempat kumasukkan ke saku, tapi ternyata tak bisa kutemukan lagi. Aku berjanji akan menggantinya nanti…”

“Tidak masalah, aku masih punya pasangannya. Selamat tidur, Daiki-san…”

Mata Daiki terbelalak. Sepertinya ia tak akan bisa melanjutkan tidur.

To be continued to Chapter 2: The Runaway ep. 4

Chapter 2 episode 4 leaks

“Ka, kau! Saifu Suzuki. Tak mungkin salah. Aku menulis artikel tentangmu dua minggu yang lalu. Kenapa kau ada disini? Bukannya kau digosipkan sedang dirawat intensif di rumah sakit karena sakit jantung?!“

“Okaerinasai, Daiki-san. Hari ini aku dan Sora-neesan belajar masak lagi…“

“Tempat tinggal yang nyaman, Arioka-kun. Kuharap Saifu tidak merepotkan…”
“Ano, Takahashi-san…” Daiki melongok ke luar pintu, menyusuri tiap sudut sejauh lapang pandangnya “dimana Yuuri-kun? Aku tidak melihatnya…”

B/A 2: Uwahahahaha. Ada yang bila chapter ini gak ada scifi-nya? Ato actionnya fail? Gak denger, gak denger XD
Yang jelas, kepanjangan. Niatnya mau bikin 3 chapter aja; The Home, The Runaway sama The Homecoming. Tapi baru aja mau runaway udah 14 page ms word, jadi chapter 2 dipotong separo-separo. Maafkan, maafkan. Maaf juga karena lama update ato jarang eksis orz orz orz. Kadang saya kepikiran pengen kayak Takahashi, biar punya alesan kerja, penelitian, sambil ngurus Chinen, jadi gak aneh kalo ficnya banyak mandek XPPP #ditabokBatman
Afterall, ditunggu cuap-cuap fangirlingan, review atau sekedar komen lewatnya, minna-san. Flame yang membangun juga diterima dengan lapang dada.

Thanks for reading,
Nu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s