[Multichapter] Love Chains (Chapter 7)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 7
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 7 ~
cover bunda 2

^Nishikawa’s place… current time : 05.30 PM^

Fujigaya menyodorkan segelas teh hangat untuk Meru. Keadaannya sudah membaik walaupun dengan wajah sembab serta mata bengkak karena terlalu banyak menangis.

“Sudah Taipi… kau pulang saja…” kata Meru pada Fujigaya yang masih saja disitu.

Seharian ini kerjaannya hanya menangisi ibunya dan ayahnya saja.

“Sudah Meru… sudah dua hari kau begini…” kata Fujigaya masih menenangkan Meru.

“Iya Taipi… maaf ya… bahkan kau harus menghandle pekerjaanku di dapur… maaf ya..” bisik Meru lirih.

Fujigaya tak menjawab. Di kepalanya masih teringat jelas apa yang Meru ceritakan walaupun di sela isak tangis yang hebat. Kejadian tentang orang tua nya, dan Shige. Yang mengejutkan, Fujigaya justru menemukan bahwa Meru sebenarnya jatuh cinta pada Shige.

“Taipi.. sebentar lagi juga Miki pulang…” kata Meru kembali mengulang kata – katanya karena kelihatannya Fujigaya sedikit melamun.

“Ah… iya… aku akan memasakkan sesuatu untukmu dulu… oke?” kata Fujigaya sambil beranjak ke dapur.

“Tak usah Taipi… aku..”

“Sudahlah… kau diam saja..” ucap Fujigaya sambil mengacak pelan rambut Meru.

Fujigaya menoleh, menatap Meru yang matanya sembab dan tampak tak bersemangat. Disentuhnya cincin yang ia jadikan liontin kalung yang ia kenakan.

Cincin itu sepasang.

Hasilnya bekerja paruh waktu selain di rumah sakit. Cincin yang awalnya ia maksudkan untuk melamar Meru.

^Tokyo Hospital… current time : 10.00 AM^

“Kau sudah bangun?” tanya Daiki pada gadis dihadapannya yang terlihat mengerjapkan mata, baru saja bangun dari mimpi indahnya.

“Hmmm…” gumamnya tak jelas.

“Mau jalan – jalan pagi? Fu-chan?” tanya Daiki lagi.

Saifu mengangguk dan turun dari ranjangnya. Ia merasa sangat sehat, tapi ia tak diperbolehkan pergi kemanapun. Bahkan sebentar lagi menurut dokter Opi ia akan dipindahkan ke tempat khusus syaraf. Sudah berkali – kali ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya, namun hasilnya sia – sia. Hanya meninggalkan sakit kepala untuknya saja.

“Kau sudah sembuh?” tanya Saifu ketika melihat Daiki sudah mulai bisa berjalan.

“Sedikit lagi… aku akan bisa berjalan normal..” jawabnya santai.

“Hmmm.. aku sebentar lagi dipindahkan ke bagian syaraf… hufft~ menyebalkan…” keluh Saifu.

“Bukannya bagus?? Kau ingin bisa mengingat semuanya kan?” tanya Daiki.

Saifu mengangguk, “Tapi bukankah itu tempat orang gila?? Aku kan tidak gila!!” protes Saifu lagi.

“Hahaha…” Daiki tak mampu menjawab hal seperti itu.

“Kau tahu dokter Yuya?” ucap Saifu pelan.

“Hmmm? Takaki Yuya?” ujar Daiki memastikan, Saifu mengangguk, “Tahu… kenapa?”

“Katanya ia kakakku loh… aku sedikit kaget ketika mendengarnya…” kata Saifu menjelaskan.

“HAH?! Takaki? Takaki-sensei?” seru Daiki sedikit lantang.

“Sssshhtt~ jangan teriak – teriak!!” bisik Saifu sambil menutup mulut Daiki.

“Gomen.. hehehe..”

Buat Daiki jika saja Saifu bisa mengingat, maka perkerjaannya akan lebih mudah. Ia bisa menanyakan segalanya tentang Yuya pada Saifu. Sayangnya memori Saifu tentang kakaknya itu malah hilang entah kemana

= current time : 12.03 PM

“Senpai… kumohon… ini bukan saatnya kita membicarakan hal ini…” keluh Miu tanpa sedikitpun menatap tunangannya itu.

“Kenapa? Karena kasus? Itu tak ada hubungannya dengan pernikahan kita..” seru Yabu mulai kesal.

Miu berbalik menatap Yabu yang terlihat gusar.

“Senpai… kenapa sih sikapmu malah jadi penuntut seperti ini? Aku sudah menjawab iya atas permintaan menikah… tapi bukan berarti kita harus menikah secepat ini kan?” nada suara Miu semakin meninggi, ia sangat marah.

Yabu yang dulu sangat sabar sepertinya sudah tertelan bumi. Ini bukan Yabu yang ia kenal dulu bahkan bisa menunggu jawaban Miu lebih dari dua tahun. Tapi sekarang, Yabu yang satu ini sangat terburu – buru dan gegabah.

“Sudahlah… aku harus kerja..” kata Miu sambil keluar dari ruangan Yabu membawa beberapa berkas.

Yabu menghela nafas berat, “Karena aku tak ingin kehilanganmu lagi,  bodoh..” bisik Yabu lirih, ia yakin hanya dirinya saja yang bisa mendengarnya.

=current time : 12.45 PM

Miyako melangkahkan kakinya ke ruangan paviliun. Ia memang di tugaskan oleh Miu untuk memberi obat baru pada Ryutaro.

Ryutaro yang hingga kini belum juga sadar.

Miyako mencoba sedikit bersabar, walaupun menurut Yabu donor jantung Ryutaro akan segera datang, ia mulai mencoba menyadari bahwa pemuda itu belum tentu bisa diselamatkan.

Ruangan itu seperti biasanya sangat sunyi. Hanya bunyi alat – alat penopang hidup Ryutaro yang berbunyi dan selebihnya begitu sunyi.

Mau tak mau Miyako merasa sedikit iba pada Ryutaro. Kedua orang tuanya tak sering mengunjunginya. Hanya beberapa kali saja Miyako sempat bertemu dengan orang tua Ryutaro.

“Mereka kan punya anak lain yang harus diurusi…” begitu kata Ryutaro suatu hari padanya.

Seakan sudah terbiasa dengan keadaan tersebut, Ryutaro jarang sekali terlihat bersedih akan keadaannya itu. Miyako sendiri baru menyadari bahwa Ryutaro tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada Miyako.

“Suster Nakashima… kau kenapa?” tanya seseorang membuat Miyako tersadar dari lamunannya.

“Yabu-sensei…” seru Miyako kaget.

“Sudah selesai” tanya Yabu sambil menatap monitor di sebelah tempat tidur Ryutaro.

Miyako mengangguk, “Sudah dok..” jawabnya pelan.

Sebelum meninggalkan ruangan itu, Miyako agak heran mengapa dokter Yabu berada di situ.

“Dokter… itu… aku…”

“Besok check up nya akan dilaksanakan… kalau tak ada halangan, harusnya donor kali ini cocok…” kata Yabu menjelaskan pada Miyako.

Tanpa sadar air mata Miyako meleleh.

Ia begitu lega.

Tak hentinya ia berdo’a semoga saja ini semua bukan hanya harapan kosong sementara dari Yabu.

= current time : 03.05 PM

“Lalalala… lalalala…” Sora bersenandung asal karena sedikit bosan. Sejak tadi pekerjaannya hanya memeriksa berkas pasien.

Ia sama sekali tak beranjak membantu teman – temannya baik di ruang operasi maupun di ruang emergency.

“Bosaaaannn~” keluh Sora sambil sedikit menguap lalu menggeliatkan badannya.

“Sora… hari ini kau kebagian ER ya..” kata Miu sambil duduk di sebelah Sora.

“Eh? ya… perubahan jadwal?” tanya Sora, seingatnya hari ini ia tak ada jadwal ER.

Miu mengangguk, “Dokter Opi tidak bisa ER malam ini… ia ada urusan dengan Rumah Sakit lain… jadi kau menggantikannya.”

“Wakatta…” jawab Sora, resiko jadi dokter trainee memang harus mau menggantikan dokter senior yang berhalangan.

Ia kembali mengambil berkas pasien, menelitinya dengan seksama.

“Nishikawa-san!! Eh… suster Miu!!” panggil Sora.

Miu menoleh, “Ya?”

“Siapa saja yang ER malam ini?”

Miu mengambil catatan yang ia bawa sejak tadi, “Kau, Takaki-sensei, Suster Yanagi, dan Okamoto-kun…” sahut Miu membaca catatannya.

Sora otomatis tersenyum ketika mendengar nama Yuya dibacakan.

“Arigatou suster Miu…” kata Sora lagi.

Miu mengangguk dan berlalu dari tempat itu.

“Senyum-senyum sendiri… kau baik-baik saja?” ternyata Keito yang datang, ia menyentuhkan telapak tangannya ke dahi Sora yang sejak tadi tersenyum – senyum sendiri.

Sora melepas tangan Keito, “Aku baik-baik saja.. hehe..”

“Kenapa sih?” Keito jadi penasaran, karena tak biasanya Sora punya rahasia, terlebih padanya.

“Sora-chan… bisa gantikan aku di ER? Ada berkas yang harus aku periksa…” kata Asuka yang baru saja datang dan langsung duduk di mejanya.

“Wakatta…dadah Keito!!” seru Sora sambil menjulurkan lidahnya pada Keito.

“Hey!! Kau kenapa??!!” seru Keito, namun Sora tak menggubrisnya dan berlalu dari tempat itu.

^Tokyo High School… current time : 03.45 PM^

“Sudah kubilang kau tak usah membantuku…” kata Miki kesal.

“Tak apa… aku kasian melihatmu bekerja sendirian…” jawab Yuto sambil masih mengepel bagian depan kelas.

Miki mencibir. Seingat dirinya, Yuto tak pernah sekalipun peduli ia bekerja sendirian atau tidak selama ini. Kenapa sekarang ia jadi peduli?

“Terserah kau…” seru Miki kesal.

Hingga kelas menjadi bersih Yuto masih saja berada di dekat Miki. Membantu gadis itu. Tapi seperti biasa Miki tak menggubris Yuto, ia malas menghadapi cowok tinggi itu.

“Yah…hujan…” keluh Miki sedikit menyesal tak mendengarkan Miu yang menyuruhnya membawa payung pagi tadi.

“Ini…” tiba – tiba saja Yuto sudah berdiri di sebelahnya, menyodorkan sebuah payung.

“Hah? Kau masih disini?” Miki heran padahal tadi ia sudah sempat ke ruang janitor untuk menyimpan alat kebersihan.

“Sudah… ini…” kata Yuto lagi.

Miki berusaha tak menggubris, lalu menoleh tak peduli.

“Kau mau menunggu sampai kapan? Sudah sore loh… di sekolah juga sudah tidak ada siapa – siapa…” kata Yuto lagi.

Miki masih dengan keras kepalanya berusaha tak menggubris Yuto walaupun sebenarnya ia tentu saja takut, apalagi sekolah sudah tak berpenghuni seperti sekarang.

“Ayo…” ajak Yuto sambil menoleh menatap Miki, “Ya sudah.. aku duluan ya…” Yuto pun membuka payungnya.

Tak lama Miki menoleh pada Yuto lalu menarik ransel yang dipakai pemuda jangkung itu.

“Huwaaa..” keluh Miki.

“Makanya.. ayo…” Yuto menarik lengan Miki dan melindungi tubuh gadis itu dengan payung.

Mereka berdua tak berbicara sepatah katapun selama perjalanan pulang itu, sampai mereka tiba di halte bis.

“Kau pulang ke sana?” kata Yuto sambil menunjuk sebuah arah.

Miki mengangguk, “Baiklah… aku akan mengantarmu…”

“Tak usah… terima kasih sudah mengantarku ke halte…” tolak Miki pelan.

“Baiklah…” jawab Yuto pelan terdengar tak rela.

Yuto tak beranjak dari tempat itu hingga bis yang akan mengantar Miki datang.

“Terima kasih Nakajima-kun…” kata Miki lalu naik ke Bis itu.

Yuto menyerahkan payungnya, “Ini…”

Belum sempat Miki mengembalikannya, Yuto sudah menjauh dari halte itu, menerobos hujan tanpa payung.

“Baka…” bisik Miki pelan, kesal namun sebuah senyum terkembang di bibirnya.

^Tokyo Hospital… current time : 05.30 PM^

“Aku pulang duluan…” kata Miu sambil membereskan peralatannya, “Semoga beruntung ER malam ini…” katanya lagi.

“Un… arigatou…” jawab Riisa seadanya, sambil menyeruput teh nya, “Eh… tak pulang dengan dokter Yabu?” tanya Riisa sebelum Miu pergi.

Miu mencibir malas, “Tidak… sudah ya…”.

Miu melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, pikirannya sedikit kacau, ia malas berdebat dengan Yabu karena itulah ia pulang lebih dulu dari tunangannya itu.

“Suster Nishikawa!!” panggil seseorang.

Miu menoleh dan kaget melihat siapa yang ada di hadapannya, “Kau? Ada apa?” jawabnya sambil masuk ke dalam lift.

Pria itu mengikutinya masuk ke dalam lift, “Kau ada waktu hari ini?” tanyanya tanpa basa – basi.

“Yaotome-san… saya sibuk.. maaf…” tolak Miu lagi.

Beberapa hari ini Hikaru selalu berusaha mengajaknya pergi, atau makan malam, entah apa alasannya.

“Tapi kulihat kau sudah mau pulang… ya kan? Aku hanya mengajakmu minum.. tak ada yang lain…” kata Hikaru lagi.

“Arrgh… baiklah…” jawab Miu akhirnya menyerah.

=current time : 09.23 PM

Malam ini suasana ruang ER tak begitu ramai. Hanya ada dua pasien dan semuanya sudah tertangani. Sora hanya duduk-duduk sambil akhirnya menelungkupkan wajahnya di meja.

Ia merasakan sebuah tangan menepuk kepalanya pelan.

“Ah… Cuma Keito…” kata Sora kembali menelungkupkan kepalanya.

“Sudah makan malam?” tanya Keito yang terlihat menyimpan beberapa file di hadapannya.

Sora mengangguk, “Sudah pak dokter…”, jawabnya.

“Hahaha… kau kenapa?”

“Tadi seharian hanya memeriksa file… masa sekarang juga?? Aku bosaaann…”, keluh Sora.

Keito hanya tertawa, “Jadi kau ingin ada pasien lagi malam ini?” tanyanya.

“Hmm… iya…” jawab Sora asal.

“Baka…” seru Keito sambil mencubit pipi Sora pelan.

“Huuuu… sudah ah… kau mau kopi? Aku mau ambil kopi…” kata Sora pada Keito sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Boleh… gak terlalu manis ya…” jawab Keito jahil.

“Iya Okamoto-sensei….” kata Sora sambil mengacak pelan rambut Keito dan berlalu dari ruangan itu.

Seperti yang sudah Sora duga, di tempat itu ada Yuya. Sora tahu kebiasaan Yuya ketika akan menenangkan diri, ia pasti ke tempat itu.

“Malam dokter…” kata Sora menyapa Yuya yang sedang memainkan ponselnya.

“Malam…” jawab Yuya lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.

Sora menyibukkan diri membuat kopi, walaupun sebenarnya hatinya berdebar – debar dekat dengan Yuya.

“Kita sepertinya sering sekali ER bersama…” kata Yuya pada Sora.

“Ya… aku juga heran…” jawab Sora sambil berbalik.

Ia kaget karena ternyata Yuya sudah ada di belakangnya, Yuya bermaksud menyimpan gelas kosongnya.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Yuya menunduk menatap Sora yang kini hanya beberapa senti saja jaraknya dengan dirinya.

Sora tak bisa berkata apapun, dadanya berdebar – debar tak keruan karena Yuya menatapnya lama. Tak makan waktu lama, Yuya menunduk dan menyentuh bibir Sora dengan bibirnya.

Entah dorongan dari mana, tapi Yuya seperti sudah menunggu waktu ini.

Sora kaget dan selama beberapa saat hanya bisa memejamkan matanya menyambut ciuman lembut itu. Yuya menarik pinggang Sora dan memeluknya, menciumnya lebih dalam.

Beberapa saat kemudian Yuya melepaskan ciumannya, menatap Sora lama.

“Dokter…” panggil Sora pelan.

Yuya menarik Sora ke dalam pelukannya. Mereka tak butuh kata – kata, tapi mereka berdua sudah tahu perasaan masing – masing, mereka tahu mereka saling membutuhkan satu sama lain.

“Hmmm…” Keito bergumam dibalik tembok. Niatnya menyusul Sora seketika ia urungkan ketika melihat kejadian itu.

Melihat Sora dengan pria lain, Keito sedikit banyak merasa cemburu.

“Okamoto-sensei?sedang apa?” panggil Riisa mendekati Keito.

“Mau kemana?” tanya Keito sambil menahan lengan Riisa.

“Mau ambil kopi… kenapa?” tanya Riisa bingung.

“Hmm… kesana saja yuk…” kata Keito sambil menarik lengan Riisa menjauhi tempat itu.

“Okamoto-sensei?? Ada apa? Di situ kan lebih dekat…” kata Riisa lagi.

Keito tak menajwab dan membawa Riisa ke tempat lain.

“Ada apa sih?” tanya Riisa bingung.

Keito membuatkan dua gelas kopi. Untuknya dan untuk Riisa, lalu setelahnya duduk di sebelah Riisa. Mesin pembuat kopi ini cukup jauh dari ER. Tentu saja tidak biasanya di datangi oleh dokter ER.

“Arigatou…” kata Riisa menerima kopi yang dibuatkan oleh Keito.

“Riisa…” panggil Keito pelan, “Kalau aku masih cemburu bila Sora bersama orang lain… wajar tidak sih?” tanya Keito lalu menopang dagunya.

Riisa berfikir sejenak. Setahunya, Sora tidak pernah bercerita tentang pria manapun kecuali Keito.

“Mungkin kau masih menyukainya?” tanya Riisa lagi.

Keito menggeleng, “Kan aku sudah pernah bilang, itu tidak mungkin…” jawabnya.

“Atau.. kau takut ia tak lagi menganggapmu paling penting? Maksudku… kalian sekian lama saling bergantung satu sama lain kan?” ujar Riisa lalu meminum kopinya.

Keito terpekur. Ia baru sadar apa yang Riisa katakan memang benar. Selama bertahun – tahun, ia menutup mata akan keberadaan orang lain di sekitarnya. Saat Sora dan dirinya akhirnya menyadari bahwa mereka tak bisa jadi lebih dari sekedar teman, Keito juga menolak kenyataan itu. Ia masih saja berada di sekitar Sora, begitu juga dengan Sora.

Saat ini Sora sudah menemukan orang lain, apakah ia takut kehilangan Sora? Ia takut Sora meninggalkannya, ia takut maju untuk menyambut orang lain juga.

“Okamoto-sensei??” panggil Riisa membuyarkan lamunan Keito.

“Maaf Riisa… aku hanya sedang berfikir…ngomong-ngomong, kau ada orang yang disukai?” tanya Keito mengalihkan pembicaraan.

Riisa mengangguk, “Aku akan memberi tahu mu karena kau sudah mau memberi tahuku soal rahasiamu…”

Keito mengangguk, “Siapa?”

“Takaki-sensei…” jawab Riisa sambil tersenyum.

^Bar… current time : 09.56 PM^

“Kau tahu… aku ini wanita biasa saja… kenapa ya dia seperti itu padaku??” keluh Miu sambil menelungkupkan wajahnya di meja bar.

“Ya…ya… orang biasa seperti kita memang terkadang bingung bersikap.. ne??? istriku terus saja tak mengacuhkanku… hahaha…” Hikaru juga tak kalah mabuk dengan Miu.

Keduanya menghabiskan waktu cukup lama di bar. Bahkan hingga mereka tak ingat sekarang sudah pukul berapa. Awalnya hanya membicarakan hal – hal remeh, hingga bicara tentang macam – macam hal tak berguna seperti tadi.

“Haaa~ aku capek seperti ini terus…” keluh Miu lagi.

Hikaru hanya mengangguk – angguk dengan wajah memerah karena alkohol.

“Tambah…” kata Miu pada seorang bartender di tempat itu.

“Anda sudah terlalu mabuk nona…” tegurnya.

Miu beranjak dengan limbung. “Wah… tidak menarik… ayo kita pergi Hikaruuu-kuuunn..” serunya sambil mengambil tasnya sembarangan.

Hikaru ikut berdiri lalu mereka berdua keluar dari bar tersebut setelah Hikaru membayar bill mereka yang cukup banyak itu. Setelah naik taksi, Hikaru yang masih setengah sadar mengambil tas Miu, lalu memberi tahu supir taksi kemana mereka harus pergi. Tentu saja Hikaru mengantar Miu ke kediaman Nishikawa.

“Hati-hati Miu-chaann..” seru Hikaru sambil memapah Miu yang benar-benar limbung.

“hihihihi…” kikiknya tapi lalu tiba – tiba jatuh padahal mereka sedang naik tangga.

Hikaru menunduk untuk mengangkat tubuh Miu lagi ketika tiba – tiba Miu menarik wajah Hikaru, menempelkan bibirnya pada bibir Hikaru. Beberapa saat mereka menikmati ciuman itu hingga Miu benar-benar tertidur dan Hikaru terpaksa membawa Miu ke apartemen dalam keadaan tak sadar.

^Tokyo Police Station… current time : 08.32 AM^

“Ohayou…” sapa Hikaru ketika masuk ke ruangan itu.

Ia menyadari Daiki sudah ada di sana.

“Pagi Hikka… wajahmu jelek sekali…” kata Daiki yang masih memakai alat bantu jalan itu.

Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali mabuk seperti semalam. Hingga rasanya pagi ini ketika ia terbangun di sofa ruang tengah apartemennya ia merasa kepalanya akan meledak karena efek dari alkohol itu.

Hikaru memukul – mukul kepalanya, “Aku butuh kafein…” katanya lalu beranjak mengambil kopi.

“Kau mabuk?” tanya Daiki yang masih sibuk di depan laptop.

“Sangat… ukh… rasanya kepala ini akan meledak..” keluhnya lalu duduk di sofa sambil memijat-mijat kepalanya, “Ngomong – ngomong… kau sudah sembuh?” tanyanya lagi.

Daiki menoleh, “Lumayan… aku sudah bosan disana… tapi aku harus tetap check up…”

“Check up atau kau ingin bertemu gadis SMA yang sering kau temui itu?” goda Hikaru.

Daiki seketika terdiam, malas menjawab Hikaru.

“Aku sudah dapat beberapa bukti… dan sepertinya tak lama lagi kita bisa membawa kasus ini ke pengadilan…” jelas Daiki.

Hikaru mengingat – ingat pembicaraannya dengan Miu semalam. Ia juga dapat beberapa pernyataan dari Miu.

Ingat Miu, ia jadi ingat kalau gadis itu meninggalkan sebuah cincin emas di taksi. Beruntung ia menemukannya, itu berarti ia harus mengembalikannya pada Miu.

“Hikka….” panggil Daiki yang memerhatikan Hikaru seperti sedang melamun.

“Ya? Oh, iya… tentu saja… dan itu..kasus yang satunya lagi juga…” kata Hikaru lagi.

“Ok…” Daiki beranjak dari tempat itu.

Keheningan membuat Hikaru kembali mengingat kejadian semalam. Kenapa juga ia harus memikirkan ciuman semalam? Hikaru mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Rumah Sakit itu, mengatakan ia akan datang secepatnya kesana.

^Tokyo Hospital… current time : 09.00 AM^

“Ini…” kata Yamada sambil menyerahkan sebuah syal pada Asuka.

“Hmm?” Asuka menatap Yamada lama.

Sesaat Asuka sedikit bingung dengan ekspresi wajah Yamada yang aneh.

“Kenapa?” tanya Yamada.

“Tidak… itu buat kau kok..” kata Asuka lagi.

“Bohong… ini kan buatan tangan kan? Kau benar-benar memberikannya padaku?” tanya Yamada lagi.

Asuka hanya mengangguk lalu kembali menunduk pada buku yang sedang ia baca. Yamada duduk di sebelah Asuka lalu memakai syal tersebut.

“Apa?” tanya Asuka karena menyadari mata Yamada tidak lepas dari dirinya.

Yamada menggeleng, “Makasih… aku senang sekali..” katanya sambil tersenyum hingga sekarang mata Yamada hanya terlihat segaris saja.

“Kau buat ini sendiri?” tanya Yamada menyentuh syal itu.

Asuka mengangguk, “Begitulah…” tentu saja Asuka tidak akan mengakui kalau syal itu sebenarnya memang buatan tangannya, tapi untuk Ryuta. Ia tak pernah sempat memberikannya pada kekasihnya itu.

“Hahaha… kau membuatnya untukku?” tanya Yamada lagi.

Asuka mendelik, “Tidak… aku buat hanya karena iseng…” jawabnya.

Tapi senyum Yamada belum hilang, “Tak apa – apa.. yang penting buatan Asuka-chan…” serunya lagi.

Asuka hanya mencibir berusaha berkonsentrasi dengan buku yang ia baca.

“Asuka-chan… kau sudah suka padaku ya??”

“Tidak.” jawab Asuka singkat dan cepat.

“Hmmm.. kau tidak suka padaku atau belum suka padaku?” tanyanya lagi.

Asuka terdiam sesaat, dirinya tentu saja malas menjawab pertanyaan seperti itu.

“Beda loh… tidak suka.. dan belum suka… iya kan??” tanya Yamada lagi.

“Entahlah…” jawab Asuka padahal dadanya sudah berdebar-debar akibat pertanyaan tersebut.

“Yama… ayo ke ER…” seru Keito yang baru masuk ke ruangan.

“He?? Aku dapat ER lagi…” keluh Yamada.

“Sudahlah.. ayo…” ajak Keito lagi.

“Asuka… aku pinjam Yama-chan nya dulu ya…” seru Keito.

Asuka tak menjawab dan menatap Yamada yang semakin menjauh.

“Kau apa – apaan sih pakai syal gitu?” tanya Keito menatap Yamada dengan heran.

Yamada tak menjawab hanya tersenyum – senyum sendiri menikmati kebahagiannya sendiri.

=current time: 11.20 AM

“Tak usah… aku kan disini hanya check up…” kata seorang pria yang duduk di kursi roda itu meyakinkan orang yang dihadapannya itu.

“Tapi kau ingin bertemu Opi-chan kan?” tanya orang itu lagi.

“Gak bu… sudahlah… aku tak mau ganggu dia…”

“Ada yang bisa saya bantu?” Riisa menghampiri kedua orang yag tampak sedang berdebat itu.

“Kami mencari Chinen-sensei…” kata sang Ibu pada Riisa.

“Oh… sepertinya Chinen-sensei masih di ruang operasi… mungkin sebentar lagi keluar…” jelas Riisa sambil tersenyum ke arah pria yang duduk di kursi roda itu.

“Sudah kubilang bu… kita pulang saja…” protes si anak kemudian.

“Baiklah… bilang saja kami mencarinya..” kata wanita paruh baya itu.

“Siapa nama anda? Biar saya sampaikan nanti…” kata Riisa lagi.

“Bilang saja… Sakurai Sho mencarinya..”

“Baik…akan saya sampaikan..” ucap Riisa sambil pamit.

“Hufft…” Opi mengelap keringatnya sambil membuka baju operasinya, “Cukup sulit…” kata Opi lagi.

“Hmmm..” jawab Yuya yang menuju ke tempat mencuci tangannya.

“Kenapa kau?? Masih memikirkan polisi yang akan datang?” cibir Opi.

“Berisik…” balas Yuya malas menanggapi Opi.

“Bravo Chinen-sensei… kau memang keren…” puji seseorang yang Opi tahu itu pasti Inoo.

“Tenang saja Yuya… kau tahu kan tetap saja pihak Rumah Sakit yang akan memenangkan kasus ini..” Opi tak menggubris perkataan Inoo.

Yuya tak menjawab. Pikirannya penuh dengan hal – hal yang rumit yang sangat sulit ia ungkapkan. Bagaimana perasaannya dan apa yang harus ia lakukan setelahnya.

Yuya, Opi dan Inoo yang baru saja keluar dari ruang operasi menuju ke lift, mereka bermaksud kembali ke ruang dokter.

“Eh… dokter…” sapa Riisa yang ternyata ada di dalam lift juga.

“Siang suster Yanagi…” sapa Yuya.

Sesaat mereka semua dalam keheningan, sibuk dengan pikiran mereka masing – masing.

“Ah iya… dokter Opi… tadi ada yang mencarimu… tapi kau sedang di ruang operasi tadi…” kata Riisa pada Opi.

“Oh ya? Siapa?”

“Hmmm.. sepertinya pasien… dia pakai kursi roda… Namanya Sakurai Sho..” seru Riisa mencoba mengingatnya.

Yuya yang berdiri di depan Riisa seketika berbalik melihat gadis itu, lalu ke wajah Opi yang juga tampak kaget.

“Opi…” panggil Yuya lagi.

“Oh… ya…” jawab Opi berusaha bersikap biasa saja.

“Kenapa kau begitu kaget? Dia pacarmu?” tanya Inoo tiba – tiba, yang bersender pada dinding lift karena kesal sejak tadi tidak di gubris oleh Opi.

Opi menunggu hingga pintu lift terbuka lalu menjawab dengan tegas, “Ya… dia pacarku..”, katanya sambil berlalu.

Riisa menutup mulutnya kaget, begitu pula dengan wajah Inoo yang tidak percaya.

= Doctor’s room… current time : 11.30 AM

Opi masih memikirkan apa yang Riisa tadi katakan. Sakurai Sho mencarinya? Untuk apa lagi? Nafasnya terasa sedikit sesak. Ia tak bisa berkonsentrasi pada laporan yang sedang ia buat.

“Hufft…” keluhnya, kejadian empat tahun lalu kembali merasuk ke otaknya.

-Flashback-

“Hey… melamun saja?” Opi menoleh memandang seseorang yang ikut ke atap bersamanya.

“Eh? dokter… aku hanya sedikit pusing… kecapean mungkin…” jawab Opi.

“Hmm… butuh ini?” pria itu seketika memeluk Opi dari belakang. Tangannya melingkar di leher dan bahu Opi.

“Sho-chan…” bisik Opi sambil tersenyum.

Tentu saja ia bahagia. Seunghyun adalah kekasihnya, mereka sudah bersama sejak kuliah dulu.

“Sudah baikan?” tanya Sho.

“Hmmm..” Opi hanya bergumam membiarkan Sho masih saja memeluknya.

“Opi-chan…. Ini…” Sho melepaskan pelukannya, lalu mengambil sesuatu di saku jas dokternya.

“Ya?”

Ternyata sebuah cincin bertahtakan berlian, siapapun bisa lihat itu cincin yang sangat indah.

“Sho-chan…” Opi kaget dan tak mampu berkata apapun.

“Hmmm… aku tak bisa berkata – kata romantis… tapi.. mau menghabiskan sisa hidupmu denganku?” tanya Sho.

Tanpa ragu Opi mengangguk, membiarkan Sho menyematkan cincin itu pada jarinya.

“Arigatou Sho-chan…” Sho tersenyum lalu memeluk Opi erat.

Ponsel Rumah Sakit milik keduanya seketika berbunyi. Sho mengangkatnya terlebih dulu.

“Baik… wakatta.. dokter Opi bersamaku… kita segera kesana…” kata Sho di telepon.

“Ada apa Sho-chan?”

“Emergency call… kita harus segera ke bawah…” kata Sho sembari menarik tangan Opi.

Ternyata sebuah kecelakaan besar terjadi di sebuah pabrik. Kebakaran itu menyebabkan banyak sekali korban jiwa dan luka – luka. Beberapa dokter dari beberapa Rumah Sakit di kerahkan untuk membantu evakuasi serta pengobatan di tempat.

“Baiklah.. hmmm..” seorang dokter senior memperhatikan satu persatu anggota team Emergency nya.

“Sakurai, Yabu, Takaki… segera ke tempat kejadian.. kalian akan ikut mobil ambulance..” dokter senior itu melihat jamnya sekilas, “tiga menit lagi… Nishikawa siapkan peralatannya..” Miu mengangguk dan langsung bergerak dengan beberapa suster lain. “Sisanya disini menunggu pasien datang….”

Semuanya sibuk hari itu. Pasien yang masuk ke Rumah Sakit itu terus bertambah hingga mau tak mau semua dokter lembur dan bekerja keras demi membantu para korban.

“Gawat!! Gawat!!!” seru seorang suster masuk dengan seorang pasien.

Yuya yang ikut datang berwajah pucat dan terlihat shock.

“Ada apa?” tanya seorang dokter senior.

“Sho… Sho…” Yuya seakan tak mampu berbicara apapun.

Opi memandang pria yang saat itu berbaring tak berdaya di ruang emergency. Kekasihnya yang baru saja melamar dirinya. Tubuhnya penuh darah, beberapa bagian tubuhnya terlihat memar dan bahkan sebuah besi menancap pada bagian kaki kanannya. Tangan kanannya pun tak luput dari kecelakaan itu.

“Takaki… kembali ke lokasi… Sakurai akan kami tangani..” seru seorang dokter senior.

“Tapi… dokter..” Yuya yang tampak pucat itu seakan tak percaya rekannya mengalami kecelakaan.

“PERGI!!! Masih banyak orang yang membutuhkanmu… Chinen… gantikan Sakurai!! Sekarang!!!” perintahnya.

Opi tak mampu berbicara apapun. Air matanya tak mampu ia bendung lagi. Ia sangat ingin tetap berada disitu, memastikan Sho akan baik-baik saja, tapi ia juga harus pergi sesuai perintah dokter.

“SEKARANGG!!” perintah dokter itu lagi.

Yuya menarik tangan Opi, “Ayo… Opi-chan…”.

-Flashback end-

Opi meregangkan badannya yang kini terasa sangat pegal. Ia masih bisa ingat setiap detail kejadian empat tahun lalu itu. Yuya bilang, Sho gegabah masuk ke lokasi kebakaran. Karena pekatnya asap, Sho tak menyadari sebuah besi akan jatuh tepat di atasnya.

Ia masih terus mendampingi Sho yang berhasil di operasi. Namun, ia kehilangan kemampuan berjalan, yang berarti akan lumpuh, selain itu, tangan kanannya juga mengalami hal yang sama.

Pada awalnya Sho optimis ia bisa pulih, namun beberapa saat kemudian, ia tahu itu sangat kecil kemungkinannya. Seorang dokter bedah tanpa tangan sama saja seperti pelari tanpa kaki atau pemain piano tanpa tangan kan?

Dia menyerah pada keadaan, merasa tak berguna setiap harinya. Opi yang awalnya terus mendukung Sho lama kelamaan capek karena pria itu tak kunjung menjadi baik, tak juga punya semangat untuk sembuh. Sejak itu pertengkaran pun terus terjadi, sehingga Opi tak kuat lagi, dan memutuskan untuk meninggalkan Sho.

Air mata Opi mengalir lagi, ia tentu saja tak bisa bohong kalau hatinya masih di penuhi oleh sosok Sho. Berapa kali pun ia coba melupakannya.

“Opi-chan… sudah berapa lama kau tak menangis?” tanya seseorang.

Opi menoleh, dan ternyata itu Yabu.

“Dokter…” Opi berusaha menahan air matanya.

Yabu memberikan sebuah sapu tangan pada Opi, “Menangislah…”, katanya sambil berlalu dan menutup pintu ruangan tersebut.

Ia terus menangis hingga kelelahan.

^Sora, Riisa, Asuka’s Apartemen…. Current time : 03.21 PM^

“Mou… Mama…Papa… kenapa harus datang hari ini sih?” keluh Sora melihat kedua orang tuanya yang baru saja tiba di Tokyo.

“Kau tak suka melihat kami?” tanya Ibunya melihat anak gadisnya itu.

Sora memanyunkan bibirnya. Tentu saja karena seharusnya malam ini ia ada kencan dengan Yuya, tapi gagal total karena Mama dan Papa nya tiba – tiba saja datang. Sampai – sampai ia harus mengambil libur siang ini.

“Kami kan ingin tahu… apa anak gadis kami baik-baik saja?” kata Papa sambil merangkul Sora.

“Huuu… alasan…” kata Sora lagi.

“Sudahlah…kenapa sih? Kau ada kencan yaaa??” goda Ayahnya.

“Iya… anakmu ini juga punya pacar…” jawab Sora.

“Waaah… anak Papa sudah besar ya… ya sudah pergi saja nanti malam… bisa kan?” kata Papa lagi.

“Boleh?” mata Sora membulat senang.

“Mou… Papa… jangan manjakan dia terus…” kata Mama sambil membereskan pakaian yang mereka bawa.

“Kalau bukan dia… siapa lagi yang kita manjakan?” dan perkataan itu sukses membuat baik Sora maupun Mama tak mampu menjawab.

Ayahnya pun merasa menyesal telah berkata seperti itu. Karena pembicaraan itu akan membawa mereka ke sebuah pembicaraan tentang Ryuta, anak kebanggaan ayah dan ibunya, anak laki – laki yang selalu mereka banggakan.

“Jadi… aku boleh kencan ya??” seru Sora mencoba mencairkan suasana yang tiba – tiba terasa canggung itu.

Papa tersenyum dan mengangguk, “Tapi tak boleh pulang malam – malam…” kata Ayahnya mengingatkan.

“Wakatta!! Tak usah khawatir, Asuka-chan akan ada di sini juga… malam ini… Rii-chan ada tugas malam ini..” jelas Sora pada kedua orang tuanya.

“Asuka-chan ne… gadis baik itu apa kabarnya?” gumam Ibunya.

^Tokyo Hospital… current time : 04.45 PM^

Hikaru mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Ia mencari – cari sosok Miu karena cincinnya tertinggal di taksi semalam. Ceroboh sekali wanita itu, pikirnya.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Hikaru menoleh dan mendapati seorang dokter bertanya padanya, itu kan dokter yang pernah ia temui untuk membicarakan kasus.

“Ah… officer Yaotome… ada apa?” tanya Yabu.

“Ini..aku mencari suster Nishikawa Miu… ada barangnya yang tertinggal..” jelas Hikaru.

“Tertinggal? Suster Nishikawa sedang di ER, biar aku sampaikan barangnya…” kata Yabu.

Hikaru terlihat tak curiga dan langsung mengeluarkan cincin milik Miu, “Ini…” katanya sambil menyerahkannya pada Yabu.

Dahi Yabu berkerut, bagaimana bisa cincin tunangannya tertinggal? Lagipula tertinggal dimana? Pikiran Yabu terus menebak – nebak sebenarnya ada hubungan apa Hikaru dengan Miu.

“Dokter…” panggil Hikaru karena melihat Yabu sedikit melamun.

“Ah..iya.. akan saya sampaikan pada suster Nishikawa…” jawab Yabu lalu tersenyum pada Hikaru.

“Terima kasih… sekalian aku mau memberitahu… besok pertemuan bisa dilakukan pukul sembilan kan?” tanya Hikaru menambahkan.

“Tentu saja… pihak Rumah Sakit sudah siap… baiklah… aku duluan..” pamit Yabu.

“Miu-chan…” panggil Yabu.

Miu yang sedang membaca berkas pasien pun mendongak melihat Yabu yang tiba – tiba datang menghampirinya.

“Ya?”

“Cincinmu mana?” tanya Yabu to-the-point sambil meraih tangan kiri Miu.

“Itu… Senpai…” ia juga setengah mati mencari cincin itu, tapi tidak juga ketemu, “Itu… aku lupa pakai tadi pagi… karena buru-buru..” jawab Miu asal. Yang penting Yabu tak tahu kalau ia kehilangan cincin itu.

Yabu makin curiga ada apa – apa dengan Hikaru dan Miu, karena Miu menutupi apa yang terjadi.

“Oh…baiklah…jangan lupa lagi ya…” kata Yabu sambil meninggalkan meja itu.

Sementara itu Miu hanya bisa terdiam dan berfikir keras bagaimana caranya ia menemukan cincin itu, sementara tak mungkin ia membelinya, karena cincin itu hanya ada satu di dunia, Yabu membuatnya secara khusus dan tentunya akan sangat mahal sekali harganya.

“Aduh… bagaimana ini?!” gumamnya pada diri sendiri, ia ingat memang semalam ia pulang dengan Hikaru, tapi apa iya cincin itu ada di Hikaru? Lagipula ia tak tahu nomor ponsel Hikaru.

============

TBC~ oh To Be Continued….

Publish sebelum paket abis… #nasib
hahahaha…
COMMENTS ARE LOVE!!! ^^
Please Don’t Be A Silent reader…
da balageur… komen yaaa.. 😛

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s