[Multichapter] Love Chains (Chapter 6)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 6
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : Tetep PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 6 ~
 cover bunda 3

^Tokyo Hospital… current time :  10.21 AM^

Yuya melangkahkan kakiknya di lorong itu, setelah beberapa hari ini melarikan diri Yuya akhirnya masuk ke kamar itu. Tempat Saifu di rawat.

“Ohayou Yuya-sensei…” sapa seorang suster yang ada di ruangan itu.

Yuya mengangguk pada suster itu dan “Ohayou…” sapa Yuya yang melihat Saifu sudah bangun.

Yuya mencoba tersenyum pada Saifu. Beberapa hari ini dia keluar kota untuk seminar, sehingga praktis ia tak bertemu dengan Saifu dan menyerahkan semuanya pada Opi.

“Maafkan aku Fu-chan… aku ada acara di Osaka beberapa hari kemarin..sehingga aku tak bisa kesini…” Yuya mempersiapkan diri dari amukan Saifu ketika gadis itu terlihat bingung.

“Maaf… anda siapa?” tanya Saifu.

Mata Yuya terbelalak tak percaya.

“Saifu… jangan bercanda…” kata Yuya beranjak dan mendekati Saifu.

“Kau dokter disini juga?” tanya Saifu polos.

Yuya menoleh, mendapati suster tadi masih berdiri disitu.

“Iya Takaki-sensei. Saifu-san hilang ingatan.”

Yuya segera beranjak meninggalkan Saifu dan setengah berlari menuju ruangan Opi. Memang Opi yang menangani Saifu selama ia tak ada.

“Opi!!” tanpa sadar Yuya setengah berteriak pada Opi.

Opi ternyata tak ada disitu. Yuya kalap dan berlari – lari di lorong rumah sakit tanpa peduli peringatan yang tertempel pada dinding Rumah Sakit.

“Sora!!” Yuya melihat sosok Sora dan berlari mendatanginya.

“Ya Dokter?” tanya Sora heran melihat Yuya begitu terburu – buru.

“Opi mana?? Opi mana??!!” serunya sambil mengguncang bahu Sora.

“Itu dokter…hmm…sakit dok…” kata Sora karena Yuya memegang bahunya terlalu kuat.

“Gomen… Opi mana??” tanya Yuya ketika ia sudah berhasil menguasai diri.

“Sebentar…” Sora mengambil ponsel Rumah Sakitnya dan menghubungi Opi.

Sesaat Yuya merasa terlalu bodoh karena berlarian tanpa ingat kalau mereka sedang di Rumah Sakit.

“Ayo…” kata Sora lalu menggamit lengan Yuya dan membawanya ke sebuah ruangan pasien, “Disini dokter…” Sora lalu mengeluarkan ponselnya, “Kau lupa kita punya ini??” Sora sedikit tertawa lalu meninggalkan Yuya.

^Doctors’ office…. Current time : 10.45 AM^

“Ya… dia hilang ingatan…” kata Opi lalu duduk di hadapan Yuya.

“Kenapa kau tidak meneleponku saat kau tahu ia begini?” seru Yuya.

Opi mencibir pada Yuya, “Jawabannya sangat simple… karena kau sedang seminar dan seminar itu penting untuk Rumah Sakit ini, dan aku tak mau merusak konsentrasimu…” jawab Opi datar.

“Opi!!! Adikku hilang ingatan…. Ini bukan masalah sepele!!!” bentak Yuya.

Tak menjawab, lalu Opi beranjak mengambil berkas milik Saifu.

“Syarafnya mendapat benturan sangat keras, mengakibatkan fungsi ingatannya mengalami gangguan. Aku sudah menghubungi bagian syaraf, dan Saifu akan ditangani mereka ketika siap dan setelah kondisinya stabil… ini bisa bersifat sementara atau bisa selamanya… kami belum tahu pasti,” jelas Opi.

“Opi…”

“Kau yang mengajarkanku untuk tak berbelas kasihan… jadi ia keluargamu atau bukan… aku tak terlalu peduli. Ia pasien… itu saja…” kata Opi lalu meninggalkan Yuya.

Yuya sedang mempelajari berkas milik Saifu ketika seseorang tiba – tiba menyodorkan sekaleng kopi hangat di pipinya. Ia mendongak dan menemukan Sora yang ada di hadapannya.

“Semangat dokter!!” katanya tersenyum lalu meninggalkan Yuya.

Sora keluar lagi dari ruangan dokter senior itu ketika Keito juga lewat disitu.

“Dari mana bodoh?” tanya Keito menggamit lengan Sora.

“Rahasia….” jawab Sora lalu tertawa.

Keito menggenggam tangan Sora, membawanya ke ruangan trainee yang bersatu dengan ruangan para suster disana.

“Ah iya… kemarin ayahku baru pulang dari Jerman… sebentar…” Keito meraih tasnya lalu menyerahkan sekotak besar coklat, “Buatmu..”

“Waaa~ Okamoto keito!! Kau mau membuatku gemuk hah??!!” seru Sora kesal.

Keito terbahak lalu mengacak rambut Sora, “Aku tak bilang kau harus menghabiskannya sendiri kan??” sahut Keito.

Sora mengambil kotak itu, “Arigatou~” kata gadis itu lagi.

“Wah… ini jam kerja loh…” seru seseorang. Keito dan Sora serentak menoleh pada sumber suara.

“Inoo-kun…” panggil Sora pelan.

“Ya…. Kalian tahu… selama jam kerja dilarang pacaran…” katanya sambil membenarkan letak kaca matanya.

“Kami tidak pacaran…. Aku hanya menyerahkan oleh – oleh padanya…” protes Keito, merasa dituduh yang tidak-tidak.

“Ckckck… terserahlah…pantas kalian tak pernah bisa melampaui nilaiku… hahaha…” seru Inoo lalu meninggalkan tempat itu.

“Cih!!! Aku ingin memukulnya!!!!” seru Keito terlihat sangat gusar.

“Sudahlah…. Percuma melawan dia…” kata Sora tak kalah gusar.

^Canteen at Tokyo Hospital… current time : 11.21 AM^

Meru mendongak dari tempatnya memasak, lalu benar – benar menemukan sosok Shige yang sudah duduk di tempat biasanya, meja nomor 23. Shige seperti yang sudah – sudah selalu datang tepat pada waktu yang sama.

“Pasien itu tepat waktu ya…” kata Fujigaya yang baru saja masuk ruang dapur.

“Fujigaya Taisuke…kau bisa lihat sekarang jam berapa??” seru Meru mengindahkan perkataan Fujigaya soal Shige.

“Hehehe..maaf.. tadi aku bangun kesiangan…” jawab Fujigaya ringan.

“Kau tahu…lama – lama aku selalu melakukan persiapan masak seorang diri terus…. Kau bisa tidak telat lagi?” serunya lagi.

Fujigaya meraih apron nya, “Maaf Meru-chan…aku ada urusan…” katanya lalu masuk bersiap.

“Lain kali jangan telat…” seru Meru.

“Ya!! Aku mengerti!!” seru Fujigaya sambil memberi hormat.

“Itu tidak lucu Taipi!!” balas Meru lagi. Tapi Fujigaya tahu ketika Meru memanggilnya Taipi, berarti gadis itu sudah tak marah lagi.

“Jangan terlalu serius Meru-chan…” kata Fujigaya sambil mulai mengambil beberapa peralatan masaknya.

“Akhir – akhir ini kau telat terus… kemana saja kau?” tanya Meru.

“Hanya ada sedikit urusan… hehe..” jawabnya sekenanya.

“Hmmm…” mata Meru masih melihat keluar tempat Shige duduk.

“Kau itu kenapa sih? Sejak kemarin bahkan jalan dengannya?” tanya Fujigaya yang masih memotong sayuran.

Meru terkesiap dan menatap Fujigaya, “Tidak… aku tidak jalan dengannya… ia hanya minta aku antar ke kamarnya…” jawab Meru gugup.

Fujigaya memandangnya curiga, “Kau benar – benar tidak ada apa – apa dengannya? Hah?” tanyanya lagi.

Meru menggeleng, “Sudahlah… cukup mengobrolnya…” seru Meru mengalihkan pembicaraan.

“Dia menunggumu tuh…” kata Fujigaya karena melihat Shige terus melihat ke  arah dapur.

“Tidak mungkin…” elak Meru terus mencoba konsentrasi pada apa yang sedang ia buat.

“Mungkin…karena sekarang dia berjalan kesini…” kata Fujigaya lagi.

Meru berbalik, dan benar saja Shige sudah berada di dekat dapurnya.

“Meru-chan…” panggilnya.

“Ah… Kato-san…” jawab Meru gugup.

Entah mengapa saat itu wajah Shige terlihat lebih sedih daripada biasanya.

^Tokyo Hospital… current time 11.30 AM^

“Dai-chan… kau dapat banyak info kah?” tanya Hikaru sedikit berbisik.

“Ya… begitulah. Aku bertanya pada beberapa suster yang sudah lama bekerja disini, tapi beberapa dari mereka menolak menjawab pertanyaanku tentang kasus ini… cukup aneh kalo dipikir – pikir…” jelas Daiki.

Hikaru mengangguk – angguk.

“Baiklah Arioka-san.. kita akan periksa sebentar…” kata seorang suster sambil membuka tirai tempat Daiki di rawat.

Hikaru sedikit kaget, “Waaw~ Suster.. menganggetkan saja..”

Miu hanya tersenyum tak menggubris perkataan Hikaru lalu mulai memeriksa Daiki.

“Bagus.. kau baik – baik saja Arioka-san… setelah ini harus istirahat..” kata Miu memandang Hikaru, maksudnya agar pria itu meninggalkan Daiki untuk istirahat.

“Suster itu bagaimana?” tanya Hikaru setelah Miu beranjak.

“Dia sama sekali tak mau bicara soal kasus itu… padahal setahu ku, dia ada di tempat kejadian saat itu…” jelas Daiki, “Aku mendengarnya dari suster lain..”

“Hmmm~” Hikaru beranjak dari tempat itu, “Serahkan padaku…” katanya.

“Suster Nishikawa!” panggil Hikaru pada Miu yang sudah ada di lorong rumah sakit.

“Maaf tuan.. jangan berisik di rumah sakit!” tegur Miu.

“Namaku Hikaru, Yatome Hikaru…” katanya sambil menyodorkan tangannya.

“Maaf… aku sibuk…” jawab Miu meninggalkan Hikaru.

Hikaru kembali mengejar Miu.

“Bagaimana Daiki? Dia kapan akan sembuh?” tanya Hikaru lagi.

“Arioka-san baik – baik saja. Dia akan sembuh setelah perawatan intensif, dan terapi.. kakinya harus di terapi sebelum ia benar – benar sembuh…” jelas Miu.

Hikaru mengangguk – angguk, “Aku cukup kerepotan kalau ia tak ada…”.

“Oh…begitu…” Miu tak tahu apa yang harus ia bicarakan.

“Nishikawa-san… mau makan siang bersama?” tanya Hikaru sambil tersenyum.

Miu memandang Hikaru kaget, “Hah?!”

“Miu-senpai!! Tolong Yabu-sensei di kamar 4 D!!” seru seseorang.

“Ada apa Rii-chan??” tanya Miu pada Riisa yang tadi memanggilnya.

“Aku harus membantu Chinen-sensei di ER… jadi kau yang ke kamar 4 D.. onegai…” kata Riisa terburu – buru.

“Baiklah.. aku mengerti…” kata Miu, lalu memandang Hikaru, “Maaf Yaotome-san.. saya sibuk..” kata Miu sambil berlalu ke ruangan yang Riisa maksud.

“Sial..” umpat Hikaru.

=current time : 10.56 PM

“Yuya-sensei!?!” panggil Sora karena melihat Yuya melamun di hadapan mesin pembuat kopi.

Yuya tak mendengar, masih melamun.

“Dokter… kopi mu sudah jadi…” tegur Sora sambil mengguncang bahu Yuya.

“Ah iya!” Yuya seakan tersadar lalu tersenyum.

Yuya duduk di sekitar tempat itu, sedangkan Sora membuat kopinya. “Melamun saja dokter…” kata Sora pada Yuya.

“Hmmm~ begitulah…hahaha…” Yuya terlihat canggung.

Sora duduk di sebelah Yuya.

“Kau terlihat murung… ada apa?” tanya Sora lalu menyeruput kopinya.

“Kau pernah kehilangan seseorang yang berharga?” tanya Yuya tiba – tiba.

Sora teringat kakaknya yang tiga tahun lalu meninggal karena kecelakaan, saat itu ia sangat kehilangan.

“Pernah dokter… kakakku meninggal tiga tahun lalu…” jawab Sora.

“Hmmm…” Yuya bergumam, menengadah melihat langit – langit rumah sakit, “Kenapa aku merasa kehilangan walaupun ia masih hidup…adikku..” kata Yuya lirih.

Sora menatap Yuya yang terlihat sangat sedih, “Dokter…”

“Aku sibuk, tak pernah memperhatikannya, dulu ia sangat menyayangi aku, tapi beberapa tahun belakangan aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku… Aku bekerja keras agar ia bisa hidup layak, walaupun kami tak punya orang tua…” Yuya menarik nafas panjang.

Sora tak berkata apapun, hanya mendengarkan Yuya.

“Saifu pernah bilang ia benci dokter, ia sangat membenci pekerjaanku ini karena pekerjaan ini aku sering meninggalkannya sendiri… kadang – kadang aku berfikir, Opi memang benar… aku bukan orang yang punya hati… pasien hanyalah pasien… bahkan ketika itu anggota keluargaku, aku tak peduli…”

“Dokter… maksudmu?” Sora sedikit heran.

“Pekerjaan ini selalu segalanya untukku… meningkatkan kualitas dan teknik ku sebagai dokter selalu lebih penting dari apapun… bahkan adikku…” jelas Yuya.

“Hmmm…” gumam Sora mengerti.

“Menyedihkan ya… aku baru menyadarinya ketika adikku bahkan tak bisa mengingatku lagi… ketika semuanya sudah terlambat…” Yuya kini menunduk, seakan ingin menangis.

“Menangislah dokter… bahkan seorang pria pun harus mengeluarkan air matanya ketika itu diperlukan…” kata Sora sambil berdiri, “Aku tak akan melihatnya…” kata Sora memunggungi Yuya.

Yuya menarik lengan Sora, dengan posisinya duduk, dan Sora berdiri ia memeluk pinggang gadis itu, merebahkan kepalanya pada Sora.

“Dokter…” panggil Sora lirih.

Yuya tak menjawab, menangisi apa yang sudah ia lakukan, penyesalan memang selalu datang terlambat. Sora merengkuh bahu Yuya yang kini memeluknya, menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.

^Tokyo High School… current time : 11.30 AM^

Miki merebahkan kepalanya di meja, sekolah terasa sepi ketika Saifu tak ada. Dirinya nyaris lebih sering sendirian karena biasanya ia bersama Saifu. Setiap hari Miki menjenguk Saifu untuk memastikan ia baik – baik saja, walaupun Saifu tidak mengenalnya, Miki mencoba kembali membuat Saifu berteman dengannya. Dan tampaknya hal itu sedikit membantu Saifu lebih ceria daripada biasanya.

Karena bosan, Miki memasang headset pada telinganya, mendengar lagu bukan hal buruk dalam keadaan seperti ini, pikirnya. Sambil bergumam mengikuti lagu, Miki mulai hampir tertidur ketika ponselnya bergetar, tanda e-mail masuk.

From : Chinen-senpai 🙂
Subject : Kau baik – baik saja?

Aku baru dengar soal Saifu..
Kau baik – baik saja?
-Chinen-

“He?!” seru Miki yang kantuknya hilang seketika.

Tanpa pikir panjang ia segera membalas e-mail itu.

To : Chinen-senpai
Subject : Re: Kau baik – baik saja?

Aku baik – baik saja Senpai..
Fu-chan hilang ingatan, tapi syukurlah ia masih hidup.
Bagaimana dengan ujianmu?
-Miki-

From : Chinen-senpai
Subject : ^^

Ujianku akan datang dua bulan lagi..
Do’akan aku ya~
Syukurlah kau baik – baik saja..
🙂
-Chinen-

Miki tersenyum melihat e-mail tersebut. Beberapa kali ia baca kembali. Miki sangat lega ternyata Chinen masih memerhatikannya dan menanyakan keadaannya.

“Senyum – senyum sendiri… kau baik – baik saja Miki?” tanya seseorang di hadapannya.

“Tentu saja aku senang…” Miki menjulurkan lidahnya dan tak menggubris temannya itu.

“Tak apa… senyum lebih cocok untukmu..” katanya kembali menghadap ke depan.

“Apaan sih…” cibir Miki, “Rayuanmu tak mempan untukku… Nakajima-kun…” balas Miki, “Ngomong-ngomong ngapain kau disini?” mereka kan tidak sekelas, tambah Miki dalam hati.

Yuto kembali menoleh, “Aku tidak main – main… beberapa hari ini kau murung terus.. jadi tersenyum menurutku lebih cocok untukmu…”

Miki menjulurkan lidahnya lagi pada Yuto, “Rayuanmu jelek..” katanya lalu kembali merebahkan kepalanya di bangku.

Beberapa hari ini Yuto memang sering mengajaknya mengobrol, kadang-kadang menunggu Miki pulang sekolah untuk mengantarnya ke halte walaupun Miki menolak, Yuto tetap melakukannya.

“Hahaha~ dasar gadis aneh..” kata Yuto lagi.

^Nishikawa’s place…. Current time : 11.45 AM^

Meru berusaha tak terlalu terpengaruh atas kejadian kemarin, tapi bahkan untuk sekedar beranjak dari tempat tidurnya saja ia tak bisa. Ponsel Meru berbunyi nyaring, sesaat ia enggan melihat siapa yang menelepon, namun akhirnya ia mengambil ponselnya.

Taipi calling~

LCD ponsel itu terus berkedap – kedip, sampai akhirnya Meru mengangkatnya.

“Taipi?” angkat Meru menahan air matanya, ia tak suka menangis di hadapan orang lain.

“Meru-chan??!! Kau kemana?! Kenapa belum datang?!!” serunya panik di seberang sana.

“Maaf Taipi… aku..aku..” Meru tak sanggup berkata apapun, tangisnya semakin sulit ia bendung.

“Meru-chan…” panggil Fujigaya pelan, “Ya sudah… kau istirahat saja di rumah. Aku akan ke sana saat makan siang sudah selesai. Mengerti?!” Fujigaya memang selalu tahu jika Meru sedang ada masalah, atau sakit, dan sebagaimanapun sibuknya ia, Fujigaya akan sempat untuk menjenguk Meru.

“Senpai…” Meru terisak pelan.

“Sabarlah sampai jam makan siang selesai… mengerti…” bujuk Fujigaya pelan, lalu menutup teleponnya.

Meru terisak pelan, ia ingat kembali kejadian kemarin.

-Flashback-

“Dia menunggumu tuh…” kata Fujigaya karena melihat Shige terus melihat ke arah dapur.

“Tidak mungkin…” elak Meru terus mencoba konsentrasi pada apa yang sedang ia buat.

“Mungkin…karena sekarang dia berjalan kesini..” kata Fujigaya lagi.

Meru berbalik, dan benar saja Shige sudah berada di dekat dapurnya.

“Meru-chan…” panggilnya.

“Ah… Kato-san..” jawab Meru gugup.

Entah mengapa saat itu wajah Shige terlihat lebih sedih daripada biasanya.

“Maaf Kato-san… ada apa?” tanya Meru pelan.

“Ikut aku…” katanya dengan ekspresi sedih yang membuat Meru bingung.

Meru menggeleng, “Tak bisa sekarang Kato-san… aku sedang sibuk…” tolak Meru.

“Kumohonnn~” Shige menangis, tampak sangat sedih.

“Pergilah Meru…” ucap Fujigaya pelan.

“Tapi…”

“Pergi… telepon aku jika terjadi apa – apa…” katanya cepat.

Meru akhirnya mengikuti Shige pergi. Sepanjang menuju ke gerbang depan Rumah Sakit itu, Shige sama sekali tak melepaskan pegangannya pada Meru.

“Kato-san… kita mau kemana? Kau tak boleh ke luar Rumah Sakit…” kata Meru mencoba melepas pegangan Shige.

“Aku harus mati…kau harus ikut mati denganku…” kata Shige dingin.

“APA??!! Kato-san!! Jangan bercanda!!! KATO-SAAANNN!!” teriak Meru panik, terlebih karena genggaman Shige semakin keras mencengkram tangannya.

Dengan sisa kekuatannya Meru meraih ponsel di saku celananya, menghubungi nomor yang ia kenal.

Yuya meraih ponsel pribadinya, melihat nama yang tertera di situ.

Meru-chan calling~

Meru?” gumam Yuya pelan.

Yuya mengangkatnya namun Meru tak menjawab.

“Meru??!! Ada apa?!” angkatnya.

Suara di seberang tak jelas, namun samar – samar ia mendengar.

“KATO-SAN!! Kita mau kemana??!! Kau tak boleh keluar dari Rumah Sakit!! KATO-SANNN!!!”

Seakan tersadar sesuatu, Yuya segera berlari ke ruang 10 C, ternyata benar Shige tak ada disitu. Yuya kembali berlari menuju ruang dokter.

“Pasien ruang 10 C melarikan diri!!” seru Yuya pada beberapa dokter disitu.

Yabu berdiri dan mengikuti Yuya yang sudah berlari duluan menuju gerbang Rumah Sakit. Yuya terus menempelkan ponselnya, mencoba mencari tahu kemana mereka akan pergi.

“Kato-san!!!lepaskan!!lepaskan!!” mereka masih di jalan raya, entah Shige akan membawa Meru kemana.

Untungnya tak lama kemudian Yabu muncul dari sebuah jalan kecil, ternyata ia memotong jalan.

“Kato-san… anda harus kembali ke Rumah Sakit,” kata Yabu menarik Shige.

Shige mengamuk dan bersikeras ingin mati bersama Meru. Dengan perasaan panik, Meru menangis karena tak tahu harus berbuat apa.

Yuya muncul beberapa menit kemudian.

“MERU??!! Kau tak apa – apa?!!” seru Yuya.

Yabu masih bergulat dengan Shige yang tetap bersikeras. Yuya menghampiri mereka, mengeluarkan sebuah suntikan, dan langsung menyuntikkannya pada Shige yang lama kelamaan menjadi lemas.

“Meru-chan? Kau tak apa?” tanya Yuya menyerahkan segelas teh hangat pada Meru yang terlihat masih kaget dan trauma.

Meru menggeleng, “Aku tak apa – apa Yuya… terima kasih..” ucapnya lirih.

“Mania nya kembali kumat… entah bagaimana kami harus mengatasinya…” jelas Yuya.

Meru menatap Yuya, “Ia baik – baik saja?”.

“Ia baik – baik saja…sudah teratasi. Dia dulu tak begini… dokter berbakat saat itu… lulus di usia muda, menjadi dokter yang sebenarnya diperhitungkan…” Yuya menggeleng mengingat Shige.

“Hah?! Dulu dia dokter?!” seru Meru kaget.

Yuya mengangguk, “Calon dokter tepatnya. Calon dokter yang sangat berbakat.”

“Lalu kenapa ia jadi seperti itu?” tanya Meru bingung.

“Ia bukan dokter di Rumah Sakit ini, tapi di Rumah Sakit lain. Malam itu ia menerima pasien dengan serangan jantung, tidak ada dokter senior, ia hanya bersama dengan trainee lainnya,” Yuya diam sebentar, “Seharusnya dalam keadaan seperti itu, ia tak boleh menerima pasien, namun dengan kesombongannya saat itu, ia merasa bisa menanganinya sendiri. Pasien itu seorang ibu, datang bersama suami dan anaknya yang masih sangat kecil.”

Meru mengangguk – angguk.

“Shige bukannya menyelamatkan ibu itu, malah membuat pasien itu meninggal di tempat. Ia salah diagnosa, keluarga pasien itu berdatangan setelah Ibu itu meninggal, ketiga anaknya menangis karena kehilangan ibunya. Shige mendapat sangsi dari Rumah Sakit, seorang dokter trainee yang bahkan belum lulus kuliah, harusnya tidak boleh mengoperasi sendiri. Shige mendapat tekanan luar biasa sejak saat itu. Pihak keluarga, terutama suami pasien itu bersikeras bahwa ini malpraktek, dan menuntut Shige, namun setahun kemudian suaminya juga meninggal,”

“Saat itulah Shige mulai merusak dirinya sendiri, banyak minum obat penenang, dosisnya semakin tinggi hingga ia mengalami kerusakan otak, ditambah dengan mania depresi yang di deritanya,” tambah Yuya.

Meru merasa kasihan dengan keluarga itu, karena kisahnya mirip dengan kisah keluarganya.

“Shige sejak saat itu tertekan dan jatuh sakit tak lama setelah kejadian itu.. Ia tak pernah lulus dari sekolah kedokteran nya…” jelas Yuya.

“Hmmm~” gumam Meru mengerti.

“Rumah Sakit itu sebenarnya masih cabang dari Rumah Sakit Tokyo ini, itulah kenapa polisi menyelidikinya ke sini.”

“Rumah Sakit apa?” tanya Meru.

“Rumah Sakit Miracle, masih daerah Tokyo kan?” kata Yuya.

“HAH?!! Miracle?! Kapan? Kapan? Kapan Yuya?!” teriak Meru panik.

“Tenang sedikit Meru… lima tahun lalu…” jelas Yuya.

Bayangan – bayangan lima tahun lalu kembali teringat oleh Meru. Ibunya meninggal, Ayahnya yang meneriaki seorang dokter yang menunduk dalam karena merasa bersalah, Miki yang tak berhenti menangis, mata Meru masih bisa menangkap bayang orang itu. Itulah jawabannya kenapa ia selalu merasa pernah melihat Shige sebelumnya, karena Shigeaki Kato lah orangnya, karena dia yang membunuh Ibunya lima tahun lalu.

-Flashback end-

Meru menutup kepalanya dengan selimut, berusaha melupakan apa yang Yuya katakan kemarin. Ia menangisi keadaannya sekarang, jatuh cinta pada orang yang menurutnya membunuh ibunya, adalah hal terburuk yang pernah Meru rasakan.

^Tokyo Hospital… current time : 02.34 PM^

Saifu mengerjapkan matanya. Kebanyakan tidur malah membuatnya capek. Saifu duduk di ranjangnya, yang masih di tempat umum. Dokter yang bernama Opi kemarin bilang akan membawanya ke ruang VIP nanti. Entah siapa yang membuatnya bisa masuk ke ruang VIP, tapi ia senang – senang saja jika itu terjadi.

Kepalanya masih terasa sedikit pusing, namun ia ingin sekali berjalan – jalan karena kakinya terasa kaku setelah lama tak kemana – kemana.

“Mau kemana kau?” tanya seseorang ketika ia mencoba turun dari ranjangnya.

“Aku ingin jalan – jalan, aku bosan…” keluh Saifu.

Pria itu membantu Saifu  turun dari ranjang, walaupun dirinya sendiri pakai alat bantu jalan.

“Kau siapa?” tanya Saifu.

“Arioka Daiki desu…” ia sudah mendengar kalau Saifu hilang ingatan.

Saifu menyambut tangan Daiki, “Aku… katanya aku Saifu, Takaki Saifu…” jelas gadis itu lalu tersenyum.

Mereka pun berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan pelan.

“Kakimu kenapa?” tanya Saifu.

“Aku tertabrak mobil, resiko jadi polisi…” kata Daiki.

“Wah.. kau polisi ya…” Saifu mengangguk – angguk.

Mereka menuju kursi tunggu, Saifu membantu Daiki duduk di sebelahnya.

“Aku tak ingat diriku siapa? Rasanya aneh sekali… otakku terasa kosong, selain itu aku ingin mengingat, namun jika aku bersikeras, kepalaku malah sakit sekali…” kata Saifu sambil memukul kepalanya pelan.

“Bukankah enak kau bisa hilang ingatan?” kata Daiki tiba – tiba.

“Eh? Kenapa?”

“Karena kau bisa melupakan segala sakit hatimu dulu. Hidupmu kembali ke titik nol dimana kau bisa memulainya sekali lagi…” jelas Daiki memandang Saifu yang kini menunduk.

‘Sial! Ternyata kalau diperhatikan gadis ini manis juga..’ rutuk Daiki yang merasa mukanya kini panas.

“Tapi aku juga tak tahu apa yang kulewatkan? Siapa saja orang yang yang penting dalam hidupku? Aku sangat berharap bisa mengingat itu semua…” keluh Saifu.

Daiki tertawa, “Ya… itu masalah juga ya… padahal aku juga ingin hilang ingatan…”, katanya.

“Kalau begitu kita bisa tukeran gak? Aku lebih memilih patah tulang daripada hilang ingatan…” seru Saifu.

“Hahaha… bodoh!” Daiki mengacak rambut Saifu pelan.

= current time : 05.45 PM

Suasana ruang locker sudah sepi sejak tadi. Banyak dari suster sudah pulang, Riisa pun bersiap – siap pulang ketika mendengar pintu ruang itu terbuka.

“Eh.. suster Yanagi..” kata Keito ketika masuk ke ruangan itu.

“Okamoto-sensei…” Riisa pun tersenyum.

“Aku belum jadi dokter…” kata Keito yang juga sepertinya akan pulang.

“Tidak tugas ER?” tanya Riisa lalu mengunci kembali lockernya.

Keito menggeleng, “Giliranku besok…” jawabnya, “Kau?”.

“Aku juga besok..hehe..” jawab Riisa.

“Sudah mau pulang?” tanya Keito lagi.

Riisa mengangguk.

“Mau makan malam bersama?” tawar Keito yang juga sudah mengunci lockernya.

“Eh… hmmm~ boleh…” jawab Riisa sedikit kaget dengan ajakan itu, namun akhirnya mengikuti Keito.

^Italian Restaurant…. Current time : 06.30 PM^

“Sering kesini?” tanya Riisa sambil melihat – lihat restaurant sederhana namun terkesan nyaman ini.

“Lumayan… karena pasta disini enak… Sora yang membawaku kesini..” jelas Keito, “Suasana nya nyaman…”.

Riisa mengangguk, “Aku perhatikan ya Okamoto-san… selalu ada Sora-chan di tiap pembicaraanmu…hahaha..” ujar Riisa.

Keito kaget, menatap Riisa, “Itu…ya… begitulah…” jawabnya gugup.

“Sebenarnya ada apa sih diantara kalian?”

“Maksudmu?”

“Aku tak pernah mendapat jawaban, baik dari kau, maupun Sora…” kata Riisa.

Pembicaraan mereka terpotong ketika pelayan membawakan pesanan mereka.

“Tidak ada apa – apa…” jawab Keito.

“Hmmm~ ya sudah kalau belum mau cerita. Hehehe..” kata Riisa sambil memakan pasta yang ia pesan.

Keito melihat Riisa, menimbang – nimbang apakah dirinya akan menceritakan hal ini pada Riisa. Sejauh ini yang tahu ada apa dengan dirinya dan Sora hanyalah mereka berdua. Sora memang tidak pernah bilang jangan menceritakannya pada siapapun, namun Keito sendiri tidak mau menceritakannya selama ini. Rahasia antara mereka berdua hanya mereka yang tahu.

“Sebenarnya… aku pernah menyatakannya pada Sora…” kata Keito tiba – tiba.

Riisa rasanya hamoir tersedak, memandang ke arah Keito, “Hah?! Pernah?”

Keito mengagguk, “Aku senang sekali ketika Sora bilang mau mencoba punya hubungan lebih dari sekedar sahabat, kita bisa jadi kekasih saat itu…”

“Hooo? Kapan?” tanya Riisa kaget.

“Hmmm~ dua tahun lalu…” jawab Keito mengingat-ingat.

“Lalu? Kenapa kalian putus?” tanya Riisa bingung.

“Karena pada akhirnya kita hanyalah sahabat. Sora mungkin memang selalu bisa menceritakan segalanya padaku, ia bisa membuatku menajdi sandarannya setiap ia butuhkan, tapi pada akhirnya perasaan Sora hanyalah sebagai sahabat padaku… dan aku juga menyadari hal itu saat kami berciuman, perasaan itu bukan cinta sebagai pacar, hanya sebagai sahabat…” jelas Keito panjang lebar, “Setidaknya begitulah yang Sora katakan dan aku juga mengiyakannya…” tambah Keito.

Riisa hanya mengangguk – angguk.

“Kami mulai merasa aneh jika mengikrarkan diri sebagai pasangan. Lalu Sora  membicarakan semuanya, aku juga, dan beginilah…kita akhirnya tetap akan jadi sahabat… bahkan malah terasa seperti saudara…” kata Keito lagi.

“Sou… itulah kenapa Sora-chan selalu bilang kalian tak mungkin berpacaran ya…” kata Riisa akhirnya mengerti.

Keito mengangguk.

“Ngomong – ngomong… terima kasih sudah menceritakannya padaku..” ujar Riisa lalu tersenyum.

“Ah!! Ahhaha..” Keito sendiri aneh ia bisa menceritakannya pada Riisa semudah itu.

^Sora, Riisa, and Asuka’s Apartement… current time : 07.34 PM^

“Asuka-chaaannn~ onegai ne… bicara pada Yama-chan… sebentar saja.. aku tak tega melihatnya setiap hari di depan situ…” kata Sora sambil mengguncang – guncang bahu Asuka yang masih saja keras kepala.

“Aku tak mau…” jawab Asuka dingin.

Sora beranjak mengintip kembali keadaan di luar, Yamada masih saja berdiri di luar sesekali memakai ponselnya, sepertinya menghubungi Asuka.

Ponsel Sora tiba-tiba berbunyi, Yama-chan calling~

“Ya? Yama-chan??” angkat Din.

“Sora-senpai… bagaimana ini?? Kenapa ia tetap tak menemui aku??”, keluhnya.

“Aduh… gimana ya Yama-chan… aku juga bingung..” balas Sora sambil menoleh mencari sosok Asuka, “Baiklah.. tunggu sebentar… aku akan mencoba membujuknya lagi..”

Sora masuk ke kamar Asuka, ia sedang tiduran sambil membaca sebuah buku kedokteran.

“Asuka-chan… tahu kan almarhum kakakku juga tak akan senang melihatmu seperti ini…” kata Sora pelan.

“Apa maksudmu?!” Asuka tampak kaget dan segera duduk menghadap Sora.

“Kau harus bisa memaafkan orang.. maksudku, bukan berarti kau harus menerima Yama-chan atau apapun itu… tapi dia juga kan gak salah – salah banget… Cuma ia sedikit egois mengatakan hal seperti itu, tapi toh, orang jatuh cinta memang biasanya egois kan?” kata Sora.

Asuka tak menjawab, namun beranjak dari kasurnya, mengambil mantel dan menuju keluar.

“Asuka…” panggil Yamada lirih sambil berdiri karena kaget Asuka benar – benar keluar.

“Pulang sana… kau mau dianggap sebagai stalker? Hampir tiap hari kau kesini..” kata Asuka melipat tangan di depan dadanya sambil  berdiri di hadapan Yamada.

Yamada pun kini berdiri, “Tapi… aku mau kau memaafkan aku…” katanya.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama…”

“Benarkah??!! Huwaaa!!” Yamada menghambur ke pelukan Asuka, yang disambut pukulan di kepala Yamada oleh Asuka.

“Jangan coba – coba!!” serunya kesal.

“Eh… maaf – maaf…” Yamada mundur, tapi lalu tersenyum, “Maaf… aku akan tetap menunggumu… bagaimanapun juga..” ucap pemuda itu pelan.

“Aku tak tahu aku bisa memberimu harapan atau tidak, tapi yang jelas… untuk saat ini aku tak bisa… dan…” Asuka memandang Yamada tegas, “Jangan sekali – kali kau bicara soal Ryuta seperti yang kau kira kau mengenalnya… aku tak suka kau begitu…” katanya.

Yamada mengangguk, “Iya… kemarin aku keterlaluan… aku tahu itu.. Mianhe…”

Asuka mengagguk, “Aku mengerti… jadi sekarang, pulanglah… kau harus tetap sehat, masa trainee kita masih lama,” jelas Asuka lalu memakaikan sebuah syal pada Yamada.

“Ini? Apa?” tanya Yamada gugup.

“Syal… kau belum pernah lihat hal seperti itu? Bodoh!” seru Asuka yang kini mukanya memerah.

“Maksudku… kenapa?”

“Karena aku tak mau kau sakit. Sudah sana pulang!” Asuka mendorong punggung Yamada.

“Baiklah… baiklah… besok aku jemput ya…” kata Yamada sebelum masuk lift.

Asuka hanya mengangguk.

Sora yang melihat kejadian itu dari dalam apartemen pun tersenyum, melihat foto kakaknya yang masih ada di sudut ruangan itu, sengaja ia bawa.

“Ryuta-nii… Asuka akan bahagia…” bisik Sora sambil tersenyum.

^Tokyo Hospital… current time : 10.23 PM^

Malam ini ER belum dapat pasien, Opi merebahkan sebentar punggungnya di sebuah sofa di ruangan dokter senior itu. Dirinya cukup lelah hari ini, operasi yang memakan waktu cukup lama menghabiskan energinya.

“Hai… dokter Opi…” sapa seseorang.

Opi sontak bangun dan kaget melihat siapa yang datang, “Ah.. Cuma kamu…” kata Opi malas, “Ada apa?” berani sekali trainee itu memanggilnya seperti mereka sudah kenal lama.

“Kau masih saja jutek padaku… salahku apa sih?” tanya orang itu.

“Dengar saya… Inoo-kun… saya tidak punya waktu bermain – main dengan anda…” kata Opi kesal.

Inoo duduk di sebelah Opi, “Ini.. aku bawakan kopi…” katanya sambil meletakkan segelas kopi di meja.

Opi tak menjawab, berusaha menjauh dari Inoo.

“Kenapa sih? Dokter Opi? Ada yang salah denganku?” tanya Inoo lagi.

“Banyak sekali yang salah denganmu…sudahlah… Inoo, percuma kau mendekatiku…” kata Opi sambil berdiri.

Inoo menarik lengan Opi hingga kembali duduk, “Wow~ ada apa ini? Kenapa? Kau sudah punya pacar?!” teriak Inoo, menyudutkan Opi.

Opi menampar keras pipi Inoo, “Ada!! Tapi dia… sudah mati…”

Inoo kaget, melepaskan Opi, sementara itu Opi beranjak dari tempat itu, “Tolong ya… Inoo-kun… jangan harap dengan kau mendekati aku… kau bisa mendapat nilai lebih baik…” kata Opi sambil berlalu dari tempat itu.

=current time : 10.45 PM

Miyako menatap kembali catatan kesehatan yang sedang ia pegang. “Morimoto Ryutaro” tertera di sampul depan catatan itu. Ia kembali tersadar, waktu Ryutaro tak lama lagi.

Beberapa hari ini kesehatannya menurun dengan cepat. Donor jantungnya belum saja ditemukan. Berbagai operasi sudah dilakukan untuk mencegah Ryutaro kehilangan detak jantungnya, dan bagaikan orang mati, Ryutaro tergolek tak berdaya hingga hari ini.

Miyako menyeka kembali air matanya ia berusaha tegar, namun rasanya ia tak rela kehilangan Ryutaro. Walaupun menurut Miu, Ryutaro hanyalah pasiennya, tapi bagi Miyako, dia lebih dari sekedar pasien.

“Miya… suntikkan ini pada Morimoto-san…” seru seseorang.

Miyako segera menutup catatan itu, lalu menengadah, “Suster Nishikawa…” Miyako kaget tertangkap basah oleh Miu.

“Sudah kubilang Miya… jangan jatuh cinta pada pasienmu sendiri…” kata Miu tenang.

“Tapi… aku…” Miyako kembali merasakan air matanya jatuh.

Miu beranjak, “Aku pernah, dan aku kehilangan dia… rasanya lebih menyakitkan, karena aku hanyalah suster, aku tak bisa berbuat apa – apa untuknya… aku bukan dokter yang bisa mengusahakan penyembuhannya…” Miu bicara sambil memunggungi Miyako.

Miyako menatap Miu kaget, “Eh?!”

“Sudahlah… laksanakan tugasmu sekarang…” kata Miu sambil berlalu dari tempat itu.

Ryutaro tak tampak seperti manusia lagi. Berbagai kabel dan selang memenuhi tubuhnya, berbagai alat mengelilinginya, seakan jika satu saja dicabut, maka Ryutaro akan kehilangan nyawanya.

Miyako menyuntikkan obat itu masih dengan tangan bergetar, mendengar Miu, membuat dirinya makin takut kehilangan Ryutaro.

“Kau bisa bertahan kan Ryuu??!!” kata Miyako sambil terisak menggenggam tangan Ryutaro, “Kumohon.. bertahanlah… aku yakin donormu akan segera datang… aku dengar kemarin dari Yabu-sensei…” isak tangis Miyako semakin keras, menggenggam tangan Ryutaro lebih keras, “Kumohon… bertahanlah…”

==============

TBC alias To Be continued!!!!

Kembali to be continued yaaaa~
Maap kalo mengecewakan…dan karakter gak bisa keluar banyak..:P
COMMENTS ARE LOVE…
Please leave some comments after you read it…
Please don’t be a silent reader…
THANKS A LOt!!! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s