[Multichapter] Love Chains (Chapter 5)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 5
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : Masih PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 5 ~
 cover bunda 6

^Tokyo Hospital… current time : 07.10 AM^

“Ngantuk!!” keluh Sora yang matanya setengah tertutup.

“Huwaaa!!” teriak seseorang sambil memegang bahu Sora, membuatnya kaget.

“Rii-chan!!” balas Sora kesal.

“Tsukareta?” tanya Riisa lalu duduk di sebelah Sora.

Sora mengangguk lemas, “Sudah lama  tak begadang. Di tambah dua pasien tadi malam..menyebalkan..” kata Sora lalu menguap.

“Dokter aneh..” sela Riisa sambil membereskan beberapa berkas yang ada di ruangan itu.

“Apa yang aneh?” tanya Sora bingung.

“Semua dokter senang jika ada pasien…deshou?” jelas Riisa.

Sora menggeleng, “Berarti ada yang sakit…itu tidak menyenangkan,” jawab Sora. Hanya ditanggapi senyuman oleh Riisa.

“Kau sudah mandi?” tanya Riisa.

Sora mengangguk, “Tadi pagi – pagi sekali..” jelasnya.

“Hmmm…kupikir belum…” kata Riisa masih saja berniat menggoda Sora.

“Lapar…sarapan apa ya??” tanya Sora, setelah itu ponselnya bergetar, tanda e-mail masuk.

From: Keito
Subject : sarapan
Aku belikan kau sup..
Sebentar lagi aku kesana..

Sora menutup ponselnya, tersenyum pada layar karena baru saja memikirkan sarapan, Keito ternyata malah sudah membelikannya sarapan.

“Siapa?” tanya Riisa herna melihat Sora tersenyum ke ponselya, lalu berdiri mengambil berkas pasien.

“Keito,” jawab Sora singkat.

“Oh…dia itu pacarmu ya?” tanya Riisa.

Sora menggeleng, “Ia lebih terasa seperti ayah daripada pacar…dan kami tak punya hubungan seperti itu. Kami tak mungkin pacaran…” kata Sora lalu menguap.

“Masa? Kulihat ia sangat memperhatikanmu..” kata Riisa lagi.

Kembali Sora menggeleng, “Kita seperti… hanya terasa aneh jika ia tidak memperhatikanku, begitupun sebaliknya… tapi aku tak bisa bilang aku mencintainya atau apa.. karena aku tak punya perasaan seperti itu padanya. Kurasa ia juga begitu…” kata Sora lagi.

Riisa masih tak percaya dan melirik Sora dengan pandangan curiga.

“Terserah jika kau tak percaya…” kata Sora cemberut.

“Jangan marah…” sela Riisa lalu tertawa melihat ekspresi Sora.

Sora hanya mengangkat bahu, tak lama Keito datang.

“Eh…ada suster Yanagi…” kata Keito sambil menyerahkan semangkuk sup hangat pada Sora.

Riisa tersenyum, “Ohayou..”

Keito mneyodorkan soup hangat pada Riisa, “Buat kau saja… aku sudah sarapan tadi…”

Sora dengan cueknya makan soup yang diberi Keito tadi, “Ambil saja Rii-chan…” seru Sora yang sukses membuat Keito mengacak rambutnya.

“Keito!!” protes Sora.

Riisa tersenyum lalu mengambil soup yang masih panas itu, “Arigatou na..”

“Sama – sama…” jawab Keito yang lalu beranjak.

“Mau kemana?” Sora setengah berteriak pada Keito.

“Aku siap – siap tugas dulu…kau makan saja dulu…” kata Keito.

Duduk di sebelah Sora, Riisa ikut memakan soup yang diberi Keito.

“Ia tampaknya…”

“Berhenti jika kau masih percaya ia menyukai aku..” potong Sora.

Dahi Riisa berkerut, bingung kenapa sahabatnya itu tiba – tiba berkata seperti itu. “Maksudmu?”

“Aku bahkan tak berani memimpikannya…” sambil berkata begitu, Sora beranjak, “Aku harus gosok gigi lagi..hehehe..aku duluan Rii-chan!!” seru Sora lalu melambaikan tangannya pada Riisa. Membuat Riisa semakin heran dengan alasan yang dikemukakan Sora tadi.

= current time : 09.17 AM

Daiki tersadar dari tidurnya, merasa sedikit pusing karena tampaknya kepalanya terbentur. Sial sekali dirinya, berniat mengejar seorang pencopet, ia malah tertabrak mobil.

Sekelilingnya hanyalah ruangan putih dan tirai hijau, serta bau familiar, Rumah Sakit. Seorang suster menghampiri tempat tidurnya.

“Selamat Pagi Arioka-san… sarapan anda sudah siap..”

“Hmm??” Daiki yang masih setengah sadar itu bingung.

“Anda mau saya suapi? Atau..?”

“Tidak perlu…tidak…” tolak Daiki.

“Baiklah Arioka-san…. jika ada yang diperlukan, panggil saja saya, Nishikawa Miu…” kata Miu lalu meninggalkan tempat tidur Daiki dan beralih ke tempat tidur sebelah.

Daiki memandangi makanan Rumah Sakit yang tentu saja, tidak terlihat enak. Hanya piring – piring putih dari plastik dan pastinya rasanya sedikit hambar.

“Dai-chan…” panggil seseorang, suara yang familiar buatnya.

“Hikaru!!” menyadari itu adalah partnernya.

“Pagi…bodoh…” sapa Hikaru.

Daiki tak menjawab.

“Kau akan makan makanan ini?” Hikaru mengeluarkan sebuah bungkusan, “Aku bawa kue ini…makan ini saja…” kata Hikaru sambil mengeluarkan sebuah cake coklat.

Tirai tiba – tiba terbuka.

“Maaf… pasien dalam masa pemulihan, saya harap anda tidak memberi makanan macam – macam pada pasien kami.” kata Miu tiba – tiba.

“Ini bukan makanan macam – macam, ini cake..chocolate cake… kau tahu?” protes Hikaru kesal.

“Tapi…saya harap anda bisa sopan di tempat ini, dan saya tahu itu cake, tapi pasien tidak diperbolehkan makan makanan dari luar…” Miu menngambil kue coklat yang ada di atas meja pasien, “Ini saya ambil…”

Hikaru tak terima lalu mengambil kembali bungkusan itu dari tangan Miu, “Dengar suster….” Hikaru berjalan mendekati Miu, melihat badge yang Miu pakai, “Nishikawa… saya…”

“Selamat pagi…suster Nishikawa..ada apa ini?” Yabu yang sedang memeriksa pasien pun menghampiri mereka berdua.

“Ini…dokter…”

“Sudahlah…. maaf… Yaotome-san, yang suster kami beritahu memang benar…jadi saya harap, tidak ada lagi kegaduhan…” kata Yabu lalu meninggalkan tempat itu.

Miu lalu merebut paksa bungkusan itu dari tangan Hikaru, “Jangan macam – macam denganku!!” serunya kesal sambil berlalu.

“Wow… wanita yang menyeramkan…” kata Hikaru sedikit kesal.

“Well, Hikka…dia benar soal makanan itu…”

“Tapi wajahnya itu sama sekali tak bersahabat… mengerikan..hahaha..” Hikaru tertawa.

Daiki sedikit ikut tertawa, “Hikaru…kasus kemarin?”

“Berhenti memikirkan pekerjaan saat kau sedang sakit… dan… pencopet itu sudah diamankan.. tapi Dai-chan… kuharap kau bisa mengorek sebanyak mungkin informasi… selama kau disini…” kini suara Hikaru sedikit merendah.

Daiki mengangguk.

^Tokyo High School.. current time: 10.22 AM^

Sejak pagi Saifu merasa dirinya sedikit pusing, namun ia hiraukan rasa pusing itu, dan tetap berangkat ke sekolah.

“Fu-chan…kau tampak pucat…” kata Miki menghampiri sahabatnya di tengah – tengah pelajaran olahraga kali ini.

Saifu menggeleng, “Aku tak apa – apa…”

“Anemia mu kambuh?” tanya Miki lagi. Ia tahu persis sahabatnya itu punya penyakit anemia yang cukup parah jika kambuh.

Kembali menggeleng, ia tak merasa ada yang salah pada dirinya.

“Takaki, Nishikawa, Kanagawa… masuk ke lapangan…” seru guru olahraga mereka.

Kali ini mereka bermain bola voli, Saifu dan Miki satu tim.

“Kau yakin??” tanya Miki, muka Saifu terlihat lebih pucat dari biasanya.

Saifu mengangguk.

Karena tidak berkonsentrasi, tiba – tiba sebuah bola keras menghantam kepala belakang Saifu. Tidak sampai setengah menit, gadis itu tersungkur dengan kepala jatuh terlebih dahulu.

“Fu-chaaaannn!!” seru Miki kaget dan menghampiri tubuh Saifu yang tidak bergerak.

^Tokyo Hospital… current time : 10.30 AM^

Yuya sedikit berlari ke arah ruang emergency. Opi bilang ia butuh bantuan karena Yabu sedang melakukan operasi besar dengan dokter lain. Opi hanya dokter senior sendiri, ditemani dua dokter trainee. Sementara ada dua pasien yang harus ditangani.

“Ambil lagi banyak perban” perintah Opi pada Miyako yang membantu di ER.

“Iya dokter…” Miyako segera mencari barang yang diminta, ketika Yuya masuk ke ruangan.

“Jelaskan singkat…” kata Yuya yang seharusnya istirahat hari ini.

“Satu pasien wanita, 17 tahun, kepala terbentur,kecelakaan di sekolah, wajahnya sedikit membengkak, dan aku tak tahu apa ada pendarahan dalam atau tidak… satu lagi pria, berumur 45 tahun, jatuh dari gedung berlantai lima, ia tidak sadarkan diri.. maka aku prioritaskan.. kau urus wanita itu..” perintah Opi.

“Baiklah… Sora… bantu aku…” kata Yuya melihat Sora masih disebelah pria yang jatuh itu.

Sora mengangguk dan pindah ke kasur sebelah, sementara Yuya mempersiapkan diri dibantu seornag suster.

Yuya menghampiri pasien itu.

Terdiam.

Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Dokter..” panggil Sora bingung karena Yuya malah bengong melihat pasien itu.

“Fu-chan….” panggil Yuya lirih.

^Canteen at Seoul Hospital… current time : 12.20 PM^

“Miki…berhenti menangis..” kata Meru yang bingung karena Miki masih terus menangis di sela – sela pekerjaannya.

“Bagaimana jika Fu-chan kenapa – napa??” kata Miki menyusut air matanya dengan celemek yang ia pakai.

Meru menghampiri Miki, “Percaya saja..ia akan baik – baik saja.. lagipula ada Yuya kan??”

“Huwaaaa~ aku takut Nee-chaaannn…” air matanya mengalir lagi.

Fujigaya bergerak melewati Miki, dan mengambil pesanan yang ada di nampan.

“Biar aku yang mengantarkan ini… kau sebaiknya melihat keadaan Saifu…” seru Fujigaya.

“Taipi-nii…” gumam Miki lirih.

“Cepatlah… Meru… biarkan dia melihat Saifu… melihatnya menangis membuatku iba…” kata Fujigaya sambil berlalu keluar dari dapur.

“Baiklah Miki… pergi sana… aku tak mau kau terus menangis seperti ini…” kata Meru akhirnya.

Miki segera beranjak dan membuka celemeknya, “Maaf Nee-chan…”

“Sudahlah…”

Miki kembali menyiapkan pesanan selanjutnya. Alasan Miki sangat khawatir adalah karena Yuya belum juga muncul di ruang makan ini. Padahal Miki yang ingin tahu keadaan Saifu tak dapat konsentrasi sejak tadi, bahkan ia sudah memecahkan lima gelas hari ini. Membuat Meru sedikit marah padanya.

“Jangan terlalu keras pada adikmu sendiri Meru-chan,” kata Fujigaya setelah kembali membawa nampan berisi piring dan gelas kotor.

Meru tak mau menjawab, ia berkonsentrasi dengan makanan yang ia buat.

“Aku tahu kau merasa harus mendidiknya lebih disiplin… tapi kau juga tahu Meru.. dia lebih membutuhkan sosok kakak pada dirimu…”

Meru hanya mengagguk, Fujigaya memang selalu memberikan nasehat pada Meru, dan ia juga tahu kalau apa yang dikatakan Fujigaya itu benar. Namun terasa seperti orang tua tunggal baginya ketika orang tuanya meninggal, dan Miu sibuk dengan pekerjaannya. Miki yang manja pada dirinya, membuatnya harus lebih ekstra mendidik adiknya itu untuk jadi lebih disiplin.

“Meja 23…” kata Meru yang langsung keluar mengantarkan pesanan.

Tak salah, di meja itu tentu saja Shige. Meja yang selalu sama, pesanan yang selalu sama.

“Ini… Kato-san..”, kata Meru sambil menyimpan pesanan Shige di meja.

Shige menengok, tersenyum pada Meru, “Arigatou…”

Meru hendak pergi ketika tangan Shige menahannya.

Meru menoleh, “Ya?”

“Hmmm…tidak…kau sibuk?”

Tentu saja, ini jam makan siang.

“Ada apa Kato-san??” tanya Meru heran.

“Tidak…aku akan menunggumu hingga kau selesai bertugas…”

Meru masih bingung namun akhirnya mengangguk, “Baiklah…” Meru pun berlalu dari meja itu.

^Tokyo Hospital… current time : 12.34 PM^

Miki mencari tempat Saifu di rawat sambil berurai air mata. Ia yakin kalau Saifu masih dirawat di ER, tapi ia juga belum tahu.

Dengan tergesa – gesa Miki berlari ke arah ER, matanya sedikit kabur karena tertutup oleh air matanya.

BRUKK!

“Miki-chan…” panggil orang itu.

Miki mendongak dan ternyata orang yang ditabraknya adalah Yuya.

“Yuya-nii… Fu-chan…” Miki terisak pelan.

“Ia masih di ER, aku masih mengurus kamar untuknya… kau temani dia saja dulu…”

“Ia tak apa – apa?”

“Masih harus tes MRI dan CT… aku tak yakin ia baik – baik saja… pendarahan terjadi di kepalanya, namun aku sendiri belum yakin…” kata Yuya.

Miki hanya mengagguk, walaupun tak yakin mengerti sepenuhnya dengan apa yang Yuya katakan.

“Ia belum sadar,” kata Yuya masih saja terlihat tenang.

“Hmmm..” Miki tak mengerti kenapa Yuya masih bisa terlihat tenang di saat seperti ini.

“Sora!!” panggil Yuya, lalu menoleh ke arah Miki, “Langsung kesana saja.. aku harus ke ruang 10 C…” katanya pada Miki.

Mengagguk, Miki berlalu dari situ, sedangkan Sora menghampiri Yuya.

“Ya Dokter?”

“Aku ingin kau mengurus kamar adikku… ada hal yang lebih penting harus aku urus…”

Sora mengangguk dan melihat Yuya berlalu dari tempat itu.

= current time : 03.47 PM

Riisa keluar dari ruang operasi dengan sedikit pusing. Berdiri selama lima jam di dalam ruang operasi sangat tidak nyaman. Untung tadi pagi ia sempat sarapan.

“Capek?” tanya Keito yang muncul tiba – tiba disampingnya.

Riisa mengagguk, “Sangat… aku sudah lama tidak ikut OP…” katanya lagi lalu membuka masker dan sarung tangannya.

Keito pun sedang membersihkan diri di sebelahnya.

“Ini pengalaman pertama ku malah…” kata Keito lagi.

“Hahaha~ walaupun hanya melihat dan sedikit membantu… itu sangat berguna loh…” kata Riisa.

“Iya.. aku tahu… laparnyaaa~” keluh Keito tiba-tiba.

Asuka yang ikut di dalam ruang operasi pun ketika muncul langsung duduk di kursi depan ruang OP.

“Capeeeekkkk~” keluhnya kesal.

Keito tertawa, “Mau ikut makan tidak?” katanya menoleh pada Asuka.

“Duluan…” kata Asuka yang langsung berlalu dari ruang operasi.

“Kau?” tanya Keito pada Riisa.

“Boleh… ayo makan…” jawab Riisa lalu mengeringkan tangan dan mensejajarkan diri dengan Keito.

“Kuharap Meru-chan masih mau menerima kita di kantinnya..” kata Riisa sambil berjalan di sebelah Keito.

“Hahaha~ atau kita terpaksa keluar mencari makanan..” kata Keito lagi.

Riisa mengangguk, “Di jam seperti ini? Tak yakin kita dapat keluar…”, katanya.

Meru keluar dari kantin, jam segini kantinnya sudah sepi. Jarang sekali ada yang datang. Memang kantinnya buka hingga jam 4, tapi biasanya jam segini pun sudah jarang yang datang.

“Meru-chan…” panggil Riisa.

“Rii-chan…” sapa Meru heran.

“Kita mau makan…bisakah?” tanya Riisa yang mengira Meru mau menutup kantinnya.

“Tentu saja…” kata Meru lalu mempersilahkan mereka berdua masuk, “Aku mau ke depan sebentar.. ada Taipi di dalam..” kata Meru lagi.

Keito dan Riisa mengagguk, dan duduk di salah satu meja. Hanya ada satu orang pengunjung di dalam situ.

Riisa mengenalnya sebagai Shigeaki Kato, pasien kamar 10 C yang terkenal suka mengamuk.

“Jadi, kalian mau pesan apa?” tanya Fujigaya yang sudah berada di samping mereka berdua.

“Fujigaya-kun… mengagetkan..” kata Riisa.

Setelah pesan, Riisa melihat Meru keluar bersama Shige. Tapi ia tak bisa menebak kemana mereka akan pergi.

“Hey!! Jangan melamun…” tegur Keito melihat Riisa begitu heran memperhatikan Shige dan Meru.

“Hehehe..” Riisa hanya nyengir.

“Kau sudah lama ya kerja disini?” tanya Keito.

“Tidak juga.. baru setahun… hampir setahun setengah mungkin…kenapa?”

“Karena dokter senior mempercayai kau ada di ruang OP..” jelas Keito.

“Maa~ Semua suster pasti harus merasakan berada disana.., apa lagi karena aku memang ingin jadi suster di ruang OP,” kata Riisa menanggapi.

“Hmmm…”

“Ngomong – ngomong… kau pacaran dengan Sora ya?” tanya Riisa.

Walaupun sudah mendengar cerita versi Sora, tapi Riisa penasaran dengan versi Keito. Kenapa sepertinya ada hal yang Sora tutup-tutupi.

Menggeleng, Keito tersenyum sedikit muram, “Bukan… dan tak akan pernah…”

“Kenapa?” tanya Riisa masih penasaran.

“Hanya… tak bisa..” kata Keito sepertinya enggan menjelaskan.

“Baiklah….” Riisa menyerah dan bingung kenapa kedua orang ini sepertinya menyembunyikan sesuatu.

Asuka melepaskan penatnya berada di ruang operasi selama lima jam di ruang tunggu rumah sakit. Hari semakin sore, tidak banyak lagi pasien yang datang.

Ia memejamkan matanya, menengadahkan mukanya dan sekejap kemudian menatap langit-langit Rumah Sakit itu. Jika terlalu lama diam, Asuka pasti memikirkan Ryuta. Itulah kenapa ia selalu memilih untuk sibuk, bergerak cepat mengerjakan banyak hal.

Di Rumah sakit ini nyawa Ryuta melayang, ia sendiri sulit membayangkan kejadian waktu itu, tapi cukup membuatnya selalu merasa sesak di dada.

“Asuka-chan…” panggil seseorang, sukses membuat lamunan tentang Ryuta buyar.

Yamada berdiri di hadapannya, dengan sebuah buket bunga.

Asuka menghela nafas berat, ia belum bisa memaafkan sikap Yamada tempo hari.

“Hontouni gomenasai…” ucapnya sungguh-sungguh.

Asuka mendorong bunga itu dari hadapannya, beranjak dan meinggalkan Yamada, “Lebih baik anda kembali ke ruang ER, Yamada-sensei… bukankah itu sedang jadi tugasmu?” ungkap Asuka pelan, berjalan menjauh meninggalkan Yamada.

= current time : 05.20 PM

“Kau tidak ke ruang tempat adikmu di rawat?” tanya Miu yang bersiap akan pulang pada Yuya yang tampaknya masih sibuk di depan laptopnya.

“Nanti saja..masih ada berkas yang harus aku urus.”

“Yuya… kalau aku jadi kau.. aku pasti akan berada di samping adikku saat ini.” keluh Miu pada Yuya yang tidak Miu mengerti mengapa masih saja cuek dalam keadaan seperti ini.

“Aku…” kalimat Yuya menggantung, “Aku tak bisa memprioritaskan dia hanya karena dia anggota keluargaku..” kata Yuya lalu beranjak. “Aku harus ke ruang pasien..” pamitnya pada Miu yang masih terheran-heran dengan ucapan Yuya.

“Sudah siap Miu?” tanya Yabu yang sudah siap pulang.

“Iya Senpai…” Miu menghampiri Yabu.

“Yuya itu… aku bisa menangis jika aku jadi dia…” kata Yabu.

“Entahlah… ayo pulang~” kata Miu lalu pergi dari tempat itu.

^Nishikawa’s place… current time : 08.54 PM^

Meru masih penasaran dengan wajah Shige yang begitu familiar. Sore tadi mereka mengobrol lagi. Entah dengan alasan apa, Shige mendatanginya dua kali hari ini.

Well, bukannya Meru tak suka, namun rasanya dia sedikit aneh dengan Shige. Kerusakan otak, tapi Shige sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit, ia juga menyenangkan saja diajak berkomunikasi.

“Neechan…” Miki menghampiri Meru di ruang tengah.

“Ya?”

“Aku khawatir pada Fu-chan…” mata Miki masih sembab karena menangis seharian.

“Jangan khawatir, aku yakin dia baik – baik saja,” kata Meru menenangkan Miki.

“Tapi Neechan…”

“Baiklah…kau tidur denganku malam ini..” putus Meru.

Karena seperti itulah Miki. Jika ada sesuatu yang sangat membuatnya khawatir, Miki akan gelisah semalaman, tak akan bisa tidur. Saat itulah Miki akan minta Meru tidur bersamanya, dan kakaknya itu hapal benar kebiasaan Miki.

Suara mesin mobil terdengar di luar. Meru beranjak dan mengintip keluar. Terlihat Yabu membukakan pintu untuk Miu. Kakaknya itu sudah beberapa kali diantar langsung oleh dokter Yabu. Apa hubungan mereka sudah resmi? Meru tak tahu karena kakaknya itu jarang sekali bercerita tentang dirinya sendiri.

Ooops.. Meru berbalik karena saat itu Yabu mengecup bibir Miu. “Huwaaa…” batin Meru lalu menutup gorden kembali.

“Kenapa Neechan??” tanya Miki bingung dengan reaksi kakaknya.

Meru menggeleng, “Tidak ada apa – apa..” jawabnya gugup.

Tak lama Miu masuk ke dalam rumah.

“Tadaima…”

“Okaeri…Neechan” Meru penasaran dengan Miu.

“Ya?”

“Eeerrr… kau..dengan Yabu-sensei… ituuu??”

“Yabu-sensei kenapa???” tanya Miki bingung.

“Aku bertunangan dengannya,” jawab Miu dengan santai.

“EEEHHHH???” Meru dan Miki sama – sama kaget.

^Tokyo Hospital… current time : 09.00 PM^

Saifu mengerjapkan matanya, dirinya merasa sedikit pusing. Mengetahui keadaan sekelilingnya tidak familiar baginya.

“Hufft.. dimana aku?” keluh Saifu ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh tirai hijau.

Suara grasak – grusuk di sebelah membuatnya penasaran, namun tak mampu ia bergerak dari situ.

Sementara itu Daiki sedang berkutat dengan dirinya sendiri. Ia tak pernah suka Rumah Sakit. Kenyataan bahwa kakinya yang patah itu cukup parah, dan membuatnya tak bisa pulang membuatnya kesal setengah mati.

Entah baru pukul berapa, tapi para perawat dengan menyebalkannya menyuruh dia tidur. Pukul sembilan untuk seorang Daiki adalah waktu tidur untuk bayi, ia tak pernah tidur jam segini.

Ditambah lagi ia tak boleh membawa handphone dan laptopnya. Sehingga untuk beberapa hari ini praktis seluruh pekerjaannya ia tinggalkan.

“Siapa itu?” suara disebelah mengagetkan Daiki.

“Ya?” jawab Daiki.

Tadi siang memang seorang pasien dipindah disitu. Menurut seorang perawat, masih akan disitu hingga ia dipindahkan di ruang VIP. Sementara ini, ruang VIP di Rumah Sakit itu sedang penuh.

Daiki meraih alat bantu jalannya, penasaran karena suara itu cukup familar.

“Kau?!” seru Daiki cukup keras.

“Hah?” Saifu bingung.

“Kau sakit apa hah?? Atau kau cuma pura – pura??” seru Daiki lagi. Kali ini ia memelankan suaranya. Takut pasien lain terganggu.

“Aku? Kau….siapa?” tanya Saifu dengan dahi berkerut.

^Sora, Riisa, Asuka’s apartement… current time : 10.21 PM^

“Asuka-chaaann, suruh dia pulang…” kata Sora yang kembali mengintip keadaan di luar lewat pintu.

“Tidak mau… aku menolak bicara dengannya,” seru Asuka tak peduli.

Seharian ini, setelah pulang Yamada sama sekali tak beranjak dari depan apartemen mereka. Asuka tak mau bicara pada Yamada, tak mengangkat teleponnya, tak membalas e-mailnya.

“Ayolah…” Riisa ikut membujuk Asuka, dan ikut mengintip  sementara Asuka dengan cueknya menonton TV.

Riisa menghampiri Asuka, “Jangan begitu Asuka-chan… kau tega padanya?” kata Riisa lagi.

Asuka menggeleng, “Tidak…Ia yang cari gara – gara…” jawabnya cuek.

Kehabisan kata – kata. Riisa akhirnya duduk di sebelah Asuka. Sora menghampiri kedua sahabatnya itu, tapi tak sanggup juga membujuk Asuka yang sangat keras kepala jika sudah menyangkut hal seperti ini.

“Asuka-chan…” panggil Sora.

“Ya?”

“Kurasa Yama-chan ada benarnya juga…” ucap Sora takut-takut.

“Soal apa?” tanya Asuka.

“Soal….” Sora melirik Riisa, meminta bantuan, tapi Riisa langsung menghindari tatapan Asuka, “Ryuta-Nii… kakakku juga pasti tak mau kau terus seperti ini…” kata Sora akhirnya.

Ryuta Hideyoshi adalah kakak dari Sora.

Asuka terdiam, “Aku harus menjadi apa yang ia inginkan. Sebelum hal itu terjadi, aku tak akan membuka hatiku untuk siapapun…”

“Tapi… Asuka-chan…” Riisa akhirnya buka suara, “Tidak berarti kau harus mengacuhkan perasaanmu kan?”

“Aku tak ada perasaan padanya!” sanggah Asuka yang kemudian beranjak masuk ke kamarnya.

“Aduh Rii-chan… kita salah ngomong gak ya?” kata Sora takut.

Riisa hanya diam, lalu menambahkan, “Yama-chan..itu… bagaimana?”

“Wakaranai yo..” jawab Sora.

“Kau kan kenal dengannya, ayo bicara padanya… sebelum ia diusir satpam disini…” kata Riisa.

Berfikir bahwa apa yang dikatakan Riisa memang benar, Sora akhirnya mau keluar menemui Yamada.

“Sora-senpai…” panggil Yamada.

“Pulanglah Yama-chan…” kata Sora menghampiri Yamada.

“Tidak sebelum Asuka memaafkanku…” keluh Yamada.

Sora menepuk bahu Yamada pelan, “Percayalah.. ia akan memaafkanmu… tapi tidak sekarang. Ia masih marah, dan butuh waktunya sendiri.. percuma jika kau terus memaksanya,” kata Sora.

“Senpai benar…tapi…”

“Tidak ada tapi… kau akan sakit jika terus diluar seperti ini. Pulanglah.. ok? Aku akan bicara lagi pada Asuka..” jelas Din.

Yamada akhirnya mengagguk, “Baiklah senpai… Maafkan aku..”

“Sudahlah…sana pulang sebelum kau kena flu..”

Yamada akhirnya mau beranjak, namun ia tak ingin menyerah sebelum Asuka benar – benar memaafkannya.

^Chinen’s place… current time : 10.30 PM^

Chinen masih berkutat dengan soal-soal eksak yang memusingkan. Ujian kelulusan dan ujian masuk universitas sebentar lagi. Ia tak boleh kalah dengan kemalasannya.

“Ini Yuuri… Ibu bawakan snack untukmu…” ucap Ibu sambil membuka pintu kamarnya.

Chinen tersenyum, “Sankyu Kaa-chan…”

“Ibu yakin kau pasti bisa masuk kedokteran juga seperti kakakmu… maka sempurnalah keluarga kita… Ayahmu, kakakmu, dan kini kau…”

“Iya bu…” jawab Chinen tersenyum miris kepada Ibunya.

Ini bukan kemauannya, tapi sebagian dirinya juga merasa tertantang atas kemauan kedua orang tuanya ini. Untuk mengalahkan kakaknya yang sering meremehkan dirinya.

Chinen memandangi fotonya bersama Miki di sebuah frame coklat di atas meja belajarnya. Ia biasanya menari bersama Miki, gadisnya yang kini ia tinggalkan demi obsesi orang tuanya.

Cita-cita Chinen menjadi seorang penari kontemporer terkenal harus ia kubur jauh-jauh. Demi Ibunya, demi kebanggan Ayahnya, demi mengalahkan kakaknya yang sekarang menjadi dokter yang hebat.

Sebuah pesan masuk di ponselnya, Chinen menelepon si pengirim pesan, “Arigatou na… teruslah menjaganya, Yuto… aku tak bisa lagi bersamanya…” ucap Chinen lirih.

^Tokyo Hospital… current time : 11.45 PM^

Opi melangkah keluar dari ER. Malam ini cukup menyebalkan dengan kehadiran trainee yang paling ia benci, Inoo Kei. Kenapa juga ia harus bertugas bersama orang menyebalkan itu?

Terdengar suara tepukan pelan, Opi menoleh dan mendapati Inoo lah yang bertepuk tangan.

“Apa kau?” tanya Opi galak.

“Hebat sekali… Chinen-sensei… aku terkesan denganmu,” ucap Inoo.

Tadi Opi terpaksa membedah seorang pasien di tempat karena pasien kesulitan bernafas dan terkena serangan jantung. Ia berhasil melakukannya hanya dengan bantuan Inoo dan Miyako.

Opi tak menggubris perkataan Inoo dan berlalu untuk membersihkan diri dari bekas bedah tadi.

“Sombong sekali dokter satu ini…” godanya lagi.

“Berisik Inoo-kun…” seru Opi pada Inoo yang kini berada disebelahnya.

“Kenapa kau begitu galak? Aku kan hanya ingin mengajakmu bicara..” kata Inoo sambil ikut mencuci tangannya.

“Karena kau begitu menyebalkan….” jawab Opi lalu meninggalkan Inoo.
Inoo hanya tertawa sekilas, “Opi-chan… kapan – kapan kita makan malam berdua ya?” ajak Inoo.

“In your dream!!” seru Opi menyahut cepat.

= current time : 12.00 AM

Miyako merasa sangat lelah. Setelah beberapa kali jaga ER, malam ini pasien cukup banyak. Ia masih tak terlalu terbiasa dengan etos kerja tinggi di Rumah Sakit ini. Sebelumnya ia hanya bertugas di sebuah Klinik kecil di sebuah desa. Sehingga ia tak pernah sampai tak tidur, selain itu, tampaknya persaingan kerja di sini pun sangat tinggi, sangat berbeda dengan di desa dulu.

Tokyo ternyata cukup mengerikan. Itu yang Miyako pikirkan sambil duduk, ketika ponsel Rumah Sakitnya berbunyi.

“Ya?”

“Suster Miyakoooo…” kata orang di telepon itu.

Miyako segera berlari ke ruang paviliun. Ryutaro lah yang tadi menelepon. Ia khawatir terjadi sesuatu hingga ia harus menelepon Miyako.

“Ada a…pa?” Miyako kaget mendapati Ryutaro yang sedang tersenyum di atas kasurnya.

“Hmmm…” Ryutaro menatap Miyako, “Tak ada…aku hanya ingin ketemu suster..”

“Ya ampun Morimoto-san.. kau menelepon karena itu?”

Ryutaro mengagguk.

“Lagipula Morimoto-san, ini sudah tengah malam… kau harus tidur,” kata Miyako mengingatkan.

Ryutaro menggeleng, “Tidak mau sebelum kau membacakan dongeng untukku,” ucap pemuda itu lagi.

“HAH?” Miyako tak habis pikir. Ini kan bukan bangsal penyakit anak, kenapa ia merasa merawat seorang anak balita ketimbang orang dewasa.

“Ya…suster…” kata Ryutaro sedikit manja.

“Aku tak punya buku cerita…” jawab Miyako akhirnya.

“Karena aku ingin cerita tentang suster Miyako saja…”

Sukses membuat Miyako terdiam, tak mengerti kenapa jantungnya dag dig dug tak karuan. Apa ia bisa kena serangan jantung juga?

———————

To Be Continued~

Tentu saja masih TBC…
Maap kalo gaje… 😛
COMMENTS ARE LOVE~
Please don’t be a silent reader.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s