[Oneshot] Cafe Love Story

Author : Gita_YamaJima
Genre: Friendship, Romance
Rating : G
CAST  :
  • Okamoto Keito
  • Minami Kaori a.k.a Siapa saja yang mengaku istri si Keito atau fansu Keito
  • HSJ
  • Author a.k.a Na-chan
Inspiration :
   Aku pernah baca di Asian Star yang page Asian Talk-na, mereka bahas kira – kira naq seven kalau main drama kisah cinta, kira – kira gimana… nah salah satunya ngusulin untuk Keito gimana kalau kisah cinta yang bermula dari pertemuan di Café… dari sinilah aku menerka – nerka… gimana ya bagusnya ceritanya…. Sebuah Café Love Story buat si baik Okamoto Keito???
And here it is…. I hope you enjoy it! sorry ya rada gaje, maklum saja Authornya saia… hahahaha…. XDD #plaaaaakk
CAFE LOVE STORY

****
   Aku menyusuri trotoar disebuah jalan yang tidak jauh dari rumahku. Masih memakai seragam sekolah, dan aku menyandang tas sekolahku. Hari ini mood ku sedang buruk. Yang ada di pikiranku saat ini adalah bagaimana caranya agar aku segera sampai dirumah.
Tetapi, tiba – tiba saja sesuatu mengusikku. Saat aku melewati sebuah café, hatiku terusik akan sesuatu. Akhirnya setelah cukup lama berdebat dengan batin ku sendiri, aku memutuskan untuk mampir sebentar.
Sebuah tempat dipojok ruangan, dekat sebuah jendela, yang menghadap ke taman belakang, menjadi pilihanku. Aku bisa melihat taman belakang café tersebut yang dipenuhi dengan bunga, juga ada sebuah kolam ikan yang cantik. Melihat pemandangan ini, entah kenapa aku merasakan ketenangan.
“Permisi, anda ingin pesan apa?” tanya seseorang. Aku mengalihkan pandanganku ke asal suara. “Sorry! Sir, would you like to order something?” tanyanya lagi.
Kenapa dia berubah menyapaku dalam bahasa inggris? Apakah karena seragamku ini? Baiklah….
“Yes! A café latte one and a fondant cream one, please!” kataku menyebutkan pesanan ku.
Setelah mencatatnya maid tersebut langsung kembali ke belakang – alias dapur – meninggalkanku kembali menikmati pemandangan ini sendiri. Tak lama kemudian, pesanan ku telah disajikan. Sambil menyesap perlahan café latte ku, dan sambil menikmati pemandangan taman itu, membuatku sedikit lebih tenang. (author : *berusaha ngebayangin… sungguh siluet yang sempurna….* *gak sadar, udah mimisan aja*).
   Tiba – tiba….
BRUUUUKK!!! PRAAAAANNGG!!!

Cessssss…..

“Go…gomen… hontou ni gomen nasai!!” kata seorang maid yang barusan terjatuh dan sekarang sedang membungkuk ke pelanggan yang ditabraknya.

“Aaaaaa…..” pekikku tanpa sadar sambil memandangi seragamku yang ketumpahan latte yang dibawa maid tersebut. Gawaaaat… seragam ini akan ku pakai juga besok. Pikirku sambil mencoba mengelap noda diseragamku itu.

“Go…gomen… hontou ni gomen nasai… gomen nasai…” kata maid tadi lagi. Kali ini padaku. Tapi sebelum ku jawab, seorang maid lain dan manajer nya datang menghampiri kami.
“Minami-chan! Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu ceroboh?” marah maid yang satunya pada maid yang bernama Minami ini. Kurasa dia seniornya.
“I’m very sorry, sir! We will exchange it!!” kata sang manajer padaku. “Minami-san! Cepat minta maaf kepada tuan ini!” kali ini manajer itu berkata pada maid yang bernama Minami itu lagi.
“A… I’m so…sorry…” katanya gugup sambil membungkuk dalam padaku. Dengan Eigo yang terpatah – patah.
Melihat rupa maid yang bernama Minami ini membuatku iba. Tetapi kenapa atasannya begitu keras padanya? Pastinya juga dia tidak melakukannya dengan sengaja. *tau kan ni orang baiknya gimana… suka banget gak tegaan*

“Never mind…” kataku. “Gak apa – apa kok…tidak perlu diganti…” kali ini aku memakai bahasa jepang. Kasian Minami-san yang tidak mengerti Eigo. Dia pasti akan terus merasa bersalah nantinya.

“A…anda juga bisa Nihon-go?” tanya manajer itu untuk meyakinkan.
“Iya… sudahlah… kalian tidak perlu merasa bersalah begitu. Tidak apa – apa…” kataku lagi. Lalu kali ini aku mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetku dan meletakkannya diatas meja. “Ini biaya latte dan kuenya… sungguh lezat… terima kasih! Saya permisi dulu…” kataku lagi, kemudian membungkuk dan akhirnya keluar dari café itu.
Dalam pikiranku yang ada adalah bagaimana caranya agar aku cepat sampai dirumah dan segera mencuci seragam ini. Tanpa kusadari sesuatu terjatuh dari saku celanaku dan seseorang memungutnya.
***Author POV***
“Sumimasen…” sapa kami, aku, Yamada, dan Yuuri-nii, bersamaan didepan pintu rumah Okamoto.
“Eh, kalian? Ayo masuk… Keito ada di studionya dengan Yuto-kun..” ajak ibu Keito dengan ramah menyambut kedatangan kami.
“Hai, obasan, arigatou…” balas kami ramah.
“Pasti tu orang sedang nge-band…” kataku.
Tiba – tiba saja kepalaku sudah dijitak dari belakang, “Mana ada orang nge-band cuma berdua! Na-chan BAKA!” kata Yamada padaku.
“Ryo BAKA!! Jangan pake jitak – jitak kenapa?” kataku sambil membalas jitakannya.
“Ma…ma… Yamachan, Nachan, mo yameru! Kalian ini seperti anak kecil saja.” kata Yuuri-niichan sambil merangkul kami berdua.
“Niichan, lepaskan, aku geli dirangkul begitu, rangkul saja Ryo sana, tapi jangan aku..” kataku sambil melepaskan diri dan segera menjauh.
Tak lama kemudian kami sudah sampai di depan studio pribadi Keito. Tampak didalam sana Keito sedang memainkan gitarnya di depan Yuto. Dan mereka tampak tertawa dengan riang.
“Mengapa mereka terlihat begitu mesra?” celetukku tanpa sadar dari balik dinding kaca di luar.
“Sepertinya kedatangan kita hanya akan mengganggu.” canda Yuuri-nii.
“Sama saja dengan yang sedang berdiri disebelahku ini..” kataku lagi. Kali ini disambut dengan dua jitakan.
“Itte.. Niichan, Ryosuke, URUSHAI!! Gak bisa ya, kepalaku ini gak jadi korban kekerasan kalian berdua??” kataku sambil mengelus kepalaku.
Ternyata suaraku terdengar sampai kedalam studio. Karena Yuto langsung keluar, dan menyapa kami.
“Kenapa masih berdiri disana, ayo masuk!” ajaknya.
“Ha,,hai..” jawabku lalu segera masuk ke dalam studio. Dari pada kepalaku jadi korban lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Konbanwa Keito-kun,,” sapa ku. Lalu mengambil tempat di sofa yang ada di sudut ruangan.
“Konbanwa, Nachan, minna mo…” katanya sambil tetap memetik senar gitarnya sambil tersenyum.
“Jadi, kapan mulai belajarnya?” kataku sambil membolak – balik majalah yang kutemukan di lemari kecil yang ada di samping sofa yang tengah ku duduki.
“Nanti dulu, kita baru sampai,,,” kata Yamada.
“Kau memang malas!” kataku. Dan dibalas lemparan bantal kursi dari Yamada. Tetapi kulempar balik dia. *wkwkwkwkwk….XDD*
“URUSHAI !!” kata Yuuri-nii. “Kalian ini, berantem terus! Kapan akurnya sih?” kata Yuuri-nii lagi.
Keito dan Yuto hanya tertawa melihat aku dan Yamada dimarahi.
“Sampai sekarang aku masih bingung loh, kok bisa Yamachan dan adikmu itu pacaran, ne Chii-chan?” celetuk Yuto dan disambut anggukan oleh Keito. (Author >> *dihajar bini ayam sekampung*)
Aku menyembunyikan wajahku di majalah yang sedang pura – pura kubaca. Tiba – tiba Yamada menggeser duduknya kesisiku lalu merangkulku dengan tiba – tiba.
“Dakara, boku wa Nachan no daisuki de, ne Nachan?” katanya.
Dan langsung ku sambit kepalanya dengan majalah tadi. Dan disambut tawa menggoda dari penghuni ruangan itu selain aku dan Yamada. Kemudian aku pun berdiri dari dudukku dan berjalan kepintu.
“Hei, kau mau kemana?” tanya Yamada sambil mengelus kepalanya yang ku pukul.
“Aku mau ke toilet. Kenapa? Kau mau ikut?” kataku.
“Tentu saja, jika boleh…” katanya dengan nada jahil.
Sebelum sempat ku cari benda untuk melemparnya, Yuuri-nii sudah duluan melemparnya dengan tasnya. “Jangan berani – berani kau, Yamachan!” ancamnya. *hahahaha…..Chinen cemburu…. Wkwkwkwkwkwk XDD* *hujan basoka*
Aku lalu keluar dari ruangan itu tanpa mendengar lebih lanjut pertengkaran itu.
Saat aku keluar dari toilet, aku mendengar suara dari pintu depan. Sebenarnya ini bukan hal yang baik, tetapi suara seorang gadis dan suara Keito menarik perhatianku.
***Keito POV***
Bukankah ini gadis yang tadi menjadi maid di café tadi? Kalau tidak salah, namanya Minami.. Ada apa dia datang kerumahku malam – malam begini? Kenapa dia bisa tau rumahku?
“Aa…anoo… apakah ini punya anda?” kata gadis itu sambil menyerahkan sesuatu. Aku mengenalnya. Itu dompetku. Tapi, kenapa… “Aa… aku menemukannya di depan café tadi sore. Jadi aku datang untuk mengembalikannya…” kata gadis itu lagi.
“Arigatou… kau baik sekali, Minami-san…” kata ku sambil menerima dompet itu.
Gadis itu tampak sedikit terkejut saat aku memanggil namanya.
“Eee… darimana kau tau namaku?” tanyanya ragu.
“Tadi, manajermu memanggilmu Minami. Oh ya, kita belum kenalan, Hajimemashite Okamoto Keito desu. Kimi wa?”
“Wa…watashi wa Minami desu. Minami Kaori.” Katanya sambil membungkuk sebentar lalu bangkit dan membetulkan letak kacamatanya.
Aku tersenyum melihatnya. Wajah gadis itu semakin terlihat lucu.
“Aa…anoo… sebenarnya aku datang untuk satu keperluan lagi. Mengenai seragam mu…” katanya ragu.
“Aaa.. masalah itu. Tidak apa – apa, tidak usah dipikrkan lagi..” kata ku sungguh – sungguh.
“Demo… aku masih tetap merasa bersalah. Karena itu… tolong terima ini… onegaishimasu…” kata gadis itu membungkuk sambil menyerahkan sebuag bungkusan.
Mau tidak mau aku menerimanya. Tapi belum sempat aku mengucapkan apa – apa, gadis itu telah berlari pergi.
Aku hanya menatapnya bingung sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk.
***Author POV***
Aku melihat pemandangan itu sembari tersenyum. Sepertinya gadis tadi menyukai Keito. Dari gelagatnya saja sudah bisa kupastikan. Tapi melihat Keito, apakah dia juga menyukai gadis tadi? Entahlah…. Bukankah Keito tipe orang yang bisa baik kepada siapa saja? *ditimpuk Keito* Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu…
“Hei, kau sedang apa disini?”
Suara seseorang dari belakang mengejutkan ku. Dan pastinya dia adalah Yamada. Dari suaranya saja aku sudah tahu.
“Kau bikin kaget, tahu?” kataku sambil berbalik memandang sosoknya.
“Sedang lihat apa sih? Sampai gak balik – balik..” katanya sambil menyentuh hidungku.
“Tadi, waktu baru keluar dari toilet, aku mendengar suara Keito dari pintu depan, karena penasaran ya aku lihat. Memang kenapa?” kataku membela diri.
“Dasar tukang nguping…” katanya lagi sambil memukul jidatku.
“RYO-chan! Bisa tidak tangan mu berhenti memukulku?” kataku kesal.
Yamada tersenyum lalu merangkulku. Lalu berkata sambil berjalan kembali ke studio Keito. “Gomen… habisnya kamu ngegemesin tau gak?” katanya sambil tersenyum dan kembali menyentuh hidungku. *merasakan hawa pembunuh disekitar* *liat sekeliling*
“Hufftt….” aku menghela napas tanda menyerah. “sudahlah…sepertinya kau tidak akan berhenti. Oh ya, kenapa kau menyusulku kebawah?” tanyaku.
“Karena kau tidak kembali. Ku kira kau tenggelam di dalam toilet..” katanya jahil. Tapi kemudian dia melepaskan rangkulannya dan berlari karena melihatku yang sudah membungkuk, mengambil sandal rumah yang sedang kupakai untuk menimpuknya.
***
***Keito POV***
Keesokan harinya…
Aku kembali menyusuri jalan kemarin dan kini kembali berhenti di depan café kemarin. Sebenarnya aku ingin masuk, tetapi hatiku sedikit bimbang.
“Keito-kun…” panggil seseorang.
Aku melihat kesebrang jalan. Tampak seorang gadis dengan seragam Horikoshi melambai kearahku. B
ukan kah itu Na-chan, adiknya Chinen? Aku melihat Nachan berjalan kearahku. Dan berhenti tepat disebelahku.
“Baru pulang?” tanyanya.
Aku mengangguk singkat dan menyunggingkan senyumku. “Kau sendiri? Kenapa tidak bersama yang lain?” tanyaku.
“Aku juga baru pulang……. Yuuri-nii. Yuto-kun, dan Ryo mau pergi. Katanya mau berbelanja keperluan pria. Ya sudahlah…” katanya.
Aku tersenyum melihat ekspresinya yang sedikit kesal. “Kebetulan aku ingin mempir ke café ini sebentar, kau mau menemaniku? Tenang saja, aku yang traktir…” tawarku.
“Eeee… Ii no?”
Aku jawab dengan anggukan yakin.
“Baiklah, selama kau yang traktir, ayo kita masuk!” katanya bersemangat.
***Author POV***
“Kau mau pesan apa?” tanya Keito.
Aku melihat – lihat menu untuk memilih. Enak – enak semua…. Gimana mau milih???
“Sepertinya semuanya enak,,, ne Keito-kun, ada rekomendasi menu?” tanyaku bingung.
“Bagaimana kalau Café latte dan fondant cream?” tawar Keito.
Aku menimbang sebentar sebelum akhirnya aku menutup daftar menu yang sedang ku pegang. “Baiklah.. a
ku pesan itu saja.” Putusku.
“Baiklah…” kata Keito. Kemudian tangannya terangkat untuk memanggil pelayan.
Seorang maid datang menghampiri kami. Mataku membulat saat melihat sosoknya. Lho? Bukankah ini gadis yang kemarin mampir kerumah Keito? Dia bekerja disini? Euhm… begitu ternyata…
“Café latte dua, fondant cream dua. Yang satu pakai strawberry.” Kata Keito menyebutkan pesanan kami.
“Ba…baik, segera diantar…” kata maid tersebut dengan gugup kemudian membetulkan letak kacamatanya sebelum akhirnya kembali kebelakang.
“Strawberry?” tanyaku heran saat sudah tinggal aku berdua Keito.
“Yamachan yang mengatakannya padaku. Kalian berdua penggila strawberry, iya kan?” jawab Keito.
“Ternyata begitu….” gumamku, “Ne Keito-kun, apa kau sering datang kesini? Sepertinya kau seudah mengenal tempat ini..” tanyaku lagi.
“Tidak terlalu, ini kali kedua aku kesini. Saat mengunjunginya pertama kali, aku merasa nyaman di café ini. Kau lihat taman yang ada disana? Aku merasa sangat nyaman jika memandangnya.” Jelas Keito.
Aku memperhatikan taman yang tunjuknya. Ya benar, café ini memberikan suasana yang sangat nyaman. Ah… kapan – kapan aku akan mengajak Ryo kesini. *pikiran sangat melantur, wkwkwkwkwk XDD*
“I…ini pesanan anda…” kata maid tadi dengan gugup sambil menghidangkan pesanan kami.
Gadis ini lucu. Pikirku.
“Arigatou..” kataku.
“Arigatou, Minami-san !” kata Keito dengan ramah sebelum akhirnya maid itu pergi lagi.
Chotto… Minami-san? Tadi Keito memanggil gadis itu begitu? “Minami? Kau kenal?” tanyaku bingung.
“Ah itu, hari pertama aku kesini, terjadi insiden kecil. Sebenarnya aku tidak begitu mempersalahkannya, t
api dia merasa sangat bersalah padaku. Dia gadis yang menarik juga sangat baik..” kata Keito.
“Dan kau suka padanya?” tanyaku tiba –tiba.
Aku tidak tau bagaimana, tapi aku yakin begitu saat melihat dan mendengar Keito tadi.
“Apa? Tidak…tidak….bagaimana kau…? Tidak tentu saja…” kata Keito dengan gugup berusaha menghindar.
“Semakin kau menghindar, semakin terlihat bahwa kau suka padanya.” Goda ku. “Hah… baru kali ini aku melihat seorang Okamoto Keito jatuh cinta..” tambah ku lagi.
“NA-CHAN ! URUSHAI !!” katanya.
“Ne Keito-kun, kenapa tidak kau ajak saja dia kencan?” tawarku.
“Kau gila! Kalau ketahuan Kitagawa-sensei bagaimana? Aku tidak berani coba – coba membuat skandal…” tolaknya. *kan Keito anak yang baik… ^^v*
“Ya benar,,, aku melupakan satu hal kecil itu. Dasar sia Tua Bangka! Kau menyusahkan orang saja…” rutukku.
“Kau ini….” kata Keito sambil tertawa.
“Lupakan lah… oh ya, fondant ini enak sekali…” kataku
***Keito POV***
“Arigatou, Keito-kun… for everything…” kata Na-chan dengan riang. *siapa yang gak riang dapat makan enak, gratis pula, XDD*
“You’re welcome… langsung pulang?” tanyaku.
“Un… kaasan pasti sudah khawatir. Ja ne….” katanya lalu berlari pergi.
Kini aku kembali bimbang. Apakah aku harus pulang sekarang atau…. Sebaiknya ku tunggu saja dia disini. Putusku kemudian. Tidak lama kemudian aku melihatnya keluar. Wajahnya masih tetap terlihat lucu dengan kacamatanya.
“Minami-san…” panggilku tanpa sadar.
Gadis itu langsung berhenti dan berbalik memandangku. Aku melihat guratan kaget diwajahnya.
“K..kau?” tanyanya kaget.
“Sudah pulang?” tanyaku santai. Aku menjejeri langkahnya dan kami ngobrol sambil berjalan bersama.
“Ya… kau sendiri?”
“Iya, aku juga mau pulang. Tapi, mendadak aku ada keperluan..” kataku.
“Ke..keperluan?”
“Iya… denganmu…” jawabku.
“Eeeee….?” Tanyanya kaget.
“Seragam ini, aku ingin berterima kasih padamu.” Kataku.
Gadis itu langsung mengibaskan tangannya. “Ti..tidak perlu… ini juga karena salahku… ti..tidak perlu repot…” katanya.
“Tetap saja, aku ingin berterima kasih padamu… dan kau tidak boleh menolak…” kataku tegas.
“Ba…baiklah… a..apa yang bisa ku lakukan…” katanya menyerah.
Aku memandangnya sambil tersenyum. “Hari jumat jam 2 di Taman Hiburan… ku tunggu…” kataku.
Gadis itu tampak kaget mendengarku. “Ta…taman hiburan?” tanyanya gugup.
“Un… sudah ya, aku pulang dulu… Ja…” kataku lalu berlari meninggalkannya.
***Author POV***
“Dasar kau Keito, tadi kau bilang tidak mau membuat skandal, tapi kau lakukan juga…”
Aku merapatkan tubuhku ke tembok saat Keito berlari melewati tempatku bersembunyi. Tiba – tiba ponselku berbunyi dengan nyaring. Segera ku angkat panggilan itu sebelum ada yang menyadari.
“Moshimoshi…” jawabku, tapi segera ku jauhkan ponsel itu dari telingaku karena suara diseberang sana sedang berteriak. “Iya, niichan, ini aku sedang dijalan… katakan pada kaasan aku mau pulang….disana ada siapa saja?…. Yuto-kun dan Ryo juga?…. ada Dai-niichan juga?…. oh ya, jangan biarkan mereka pulang dulu, ada yang ingin ku katakan pada kalian semua…. Ini juga aku dijalan mau pulang…Ja…”
Ku tutup ponselku dan kumasukkan kembali di saku seragamku. Yooossshhh… Na, kau pasti bisa! Zettai !! Ganbate!!
***Jumat, 1 April, 05.15 pm waktu setempat***
“A…arigatou… Okamoto-kun…” kata seorang gadis dengan kacamatanya.
Kali ini dia tampak sangat manis dengan baju berwarna biru laut dan sebuah cardigan putih. Berjalan berjejer dengan Keito yang saat itu tak kalah tampannya.
“Tidak, justru aku yang seharusnya berterima kasih…” kata Keito sambil tersenyum.
“Eeeee… kenapa harus kau?” tanya gadis itu bingung.
“Iie, nande mo nai… ayo ku antar kau pulang…”
“Ti…tidak perlu… cukup sampai di stasiun saja… aku bisa pulang sendiri nanti.” Tolak gadis itu halus.
“Heh…” Keito mendesah pelan. “Baiklah, terserah kau saja…” katanya.
Di stasiun…
“Domo arigatou, Okamoto-kun…” kata Minami dungan tulus sambil membungkuk sedikit.
“Doita…” balas Keito.
Gadis itu lalu berjalan meninggalkan Keito untuk masuk kedalam stasiun kereta api. Namun, tiba – tiba… beberapa sosok pria datang dan menyergap Minami, lalu membawanya masuk kedalam mobil. Tepat didepan mata Keito sendiri.
Keito hanya bisa berlari mengikuti mobil itu sambil meneriakkan nama Minami. Tapi sia – sia saja, mobil tadi langsung pergi menjauh meninggalkan Keito.
“MINAMI….” Teriak Keito putus asa.
Tapi, tiba – tiba saja, ponsel Keito berdering, dari nomor yang tak dikenal olehnya. Dengan hati yang masih kalut, Keito mengangkat panggilan itu.
“Moshimoshi…ini siapa?” tanyanya.
“Okamoto-san…” jawab suara diseberang dengan suara parau. “gadismu ada pada kami…” kata suara itu lagi.
“Si…siapa ini? Apa mau kalian sebenarnya?” kata Keito emosi.
“Hahahahaha….” Tawa diseberang. “Kau tidak perlu tau siapa kami… jika kau mau gadismu ini kembali… datang ke taman kota segera…jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada gadis ini…” sambungan langsung diputus seketika.
“Moshimoshi? Moshimoshi?” kata Keito dengan emosi. “Sial…!!” rutuknya.
Mau tidak mau, Keito harus segera ke taman kota. Karena dirinya, Minami harus menjadi korban. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menyelamatkan Minami. Tekad pria itu.
Keito segera berlari menyusuri jalanan untuk pergi ke taman kota. Tidak peduli bahwa hari sudah sangat sore, matahari hampir tenggelam, saat ini hanya satu yang ada dipikiran pria itu. Minami harus selamat.
Tapi, sebelum dirinya mencapai taman, tampak olehnya Yuto. Keito segera menghampiri sahabatnya itu.
“Yuto..” katanya dengan napas satu-dua-nya.
“Keito-kun, kebetulan bertemu denganmu disini… doushita? Kenapa kau terlihat kelelahan?” tanya Yuto.
“Apa kau melihat seseorang mencurigakan disekitar sini?” tanya Keito serius.
“Tidak. Aku kesini karena ingin membeli takoyaki di sana… ini dia..” kata Yuto sambil memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. “Kau mau? Kita bisa makan di kursi itu bersama… sekalian kau ceritakan padaku, apa yang terjadi..” ajak Yuto.
Setelah berpikir beberapa saat, Keito menerima ajakan sahabatnya itu. *namanya juga orang yang baik* dia merasa tidak tega menolak kebaikan hati sahabatnya itu. Mungkin dengan bercerita, dirinya dapat sedikit pencerahan.
“Jadi… apa yang terjadi?” tanya Yuto sambil menawarkan takoyaki pada Keito.
“Temanku diculik… tepat didepan mataku… aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Tadi penculiknya menelponku, dan menyuruhku datang ketaman ini, tapi hingga sekarang tidak ada tanda – tanda keberadaan mereka…” kata Keito uring-uringan.
“Kenapa bisa? Apa kau mempunyai musuh atau kau pernah membuat seseorang marah padamu?”
“Aku tidak ingat, apa yang harus kulakukan sekarang? Bantu aku Yuto…” kata Keito dengan nada putus asa.
“Sebaiknya sekarang kau hubungi keluarganya. Hari sudah malam, mereka pasti sangat khawatir…” usul Yuto.
“Keluarganya? Aku tidak punya nomor keluarganya…” kata Keito bingung.
“Kau bisa tanya kesekolahnya, tempat kerjanya, pasti kau tau kan dia sekolah dimana? Kau bilang dia teman mu…?”
“Ya, aku tau tempat kerjanya… sebaiknya aku kesana sekarang…” putus Keito kemudian.
“Mau kutemani?” tawar Yuto.
“Kau baik sekali, terima kasih… tapi aku ingin menyelesaikan ini sendiri…aku tidak ingin kau terlibat masalah karena aku…” kata Keito.
“Hei, kita ini teman… kau bisa mengandalkan aku kapan saja kau membutuhkannya…” kata yuto lagi.
“Terima kasih… tapi aku ingin menyelesaikannya sendiri, kau akan kuhubungi jika terjadi masalah…” kata Keito lagi.
“Baiklah kalau begitu… berhati – hatilah…” kata Yuto akhirnya. Dan dibalas anggukan oleh Keito.
Walau saat itu langit telah berubah menjadi gelap, Keito masih melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kota Tokyo yang ramai. Hingga jam sudah menunjukka jam delapan malam, saat Keito tiba di depan sebuah café yang sangat familiar untuknya. Dari luar tampak kursi – kursi sudah dinaikkan. Sepertinya café itu akan segera tutup. Sepertinya mau tidak mau, Keito harus segera masuk kedalam. Akhirnya setelah menetapkan hatinya, Keito membuka pintu café itu.
“Maaf, kami sudah mau tutup…” kata salah satu pelayan di café itu. Tapi saat dia tau, sosok tamu yang datang, “a…anda?”
“Maaf, mengganggu, bisa saya berbicara dengan manajer anda?” tanya Keito ramah. Tampak sedikit guratan kelelahan di wajah pria itu.
“Tunggu sebentar…” kata pelayan itu lalu masuk kedalam. Mungkin untuk memanggil menejernya.
Keito mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan… suasana café pada malam hari benar – benar membuat nyaman. Lebih nyaman dibanding siang hari. Tapi pikirannya kembali melayang ke kejadian sore tadi. Bagaimana keadaan Minami saat ini. apakah dia baik – baik saja?
“Bisa saya bantu?” suara nge-bass seorang pria membuyarkan pikiran Keito.
Manajer café kini telah berdiri didepannya. Inilah saatnya. Dia akan menerima apa pun yang akan terjadi nantinya.
“Manajer, maafkan saya. Karyawan anda, Minami Kaori-san, diculik seseorang saat pergi bersama saya tadi sore. Tolong maafkan saya. Hontou ni Gomennasai !!” ucap Keito tulus sambil mebungkuk dalam.
“A…APA? Ba…bagimana ini bisa terjadi?” tanya manajer tersebut kaget.
“Ini semua kesalahan saya…Mohon maafkan saya! Saya akan berusaha mencarinya… Maafkan saya… Hontou Gomen…” jawab Keito lagi. Dia sama sekali tidak punya kekuatan untuk mengangkat kepalanya.
“Aku disini…” suara seseorang mebuat pria itu kaget. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak semakin cepat. Kepalanya terangkat untuk mencari asal suara.
Tak jauh darinya. Berdiri seorang gadis. Gadis itu terlihat sangat cantik. Keito hampir tidak mengenalinya… tetapi saat gadis itu menyunggingkan senyumnya, melihat raut wajahnya… Keito yakin satu hal… gadis yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah gadis yang sedang dicarinya, Minami Kaori.
“Aku tidak kemana – mana, Okamoto-kun. Aku disini…” kata gadis itu sambil tersenyum.
Keito segera berlari menghampiri gadis itu. Melihatnya dari dekat. Dan menyentuh pundaknya untuk meyakinkan diri bahwa itu memang dia.
“Bagaimana mungkin…bukankah kau…. Apa yang terjadi sebenarnya…?” tanya Keito bingung.
Tepat saat itu…
“SURPRISE!!!!!!” terdengar teriakan dari belakangnya.
Tampak disana, selain seluruh maid and buttler di café itu, juga sang manajer dan… asli membuat Keito mangap…. Teman – temannya di JUMP plus Na-chan tentunya. Dan tentu saja, Yuto juga ada. Nachan memegang sebuah kue Ulang Tahun dan anak-anak JUMP lainnya menghujani Keito dengan pita – pita.
“April Fool, Keito-kun… Tanjoubi Omedeto, mo!!” kata Nachan dengan senyum liciknya.
“Kaliaaaaaaaannn…” kata Keito. Tak bisa berkata – kata lagi.
“Tiup dulu dong lilinnya… don’t forget, make a wish before…” kata Nachan.
Keito menutup matanya sejanak kemudian meniup lilin berbentu angka 18 diatas kue yang dipegang oleh Nachan.
“Ini kerjaan siapa?” tanya Keito setelahnya.
Dan semua tangan langsung mengarah pada si pelaku. Nachan.
“Kau…” kata Keito pura – pura marah.
“Gomen ne, tapi ini bukan hasil kerja ku saja, mereka juga membantu. bagianku hanya yang mempunyai ide dan mendandani Minami-chan, yang menculik dan menelponmu itu adalah mereka…” kata Nachan membela diri dan menunjuk anak – anak BEST yang sedang memasang wajah tanpa dosa.
“Aku yang menelponmu…” kata Hikaru dengan jujurnya.
“Dan kau, Yuto? Berani – beraninya kau tidak memberitahuku tadi??”
“Gomen, tugasku hanya mengarahkanmu ke café ini, bukan memberitahumu apa yang terjadi..” kata Yuto dengan polosnya.
“Tapi, Keito-kun benar – benar menjadi seperti orang gila saat Minami-chan kita culik.” Kata Yabu sambil mengerjap jahil.
“Sepertinya kita akan mendapat double traktiran hari ini…” tambah Inoo.
“Aku minta cake strawberry, ice cream strawberry, dan fondant cream strawberry…” kata Nachan bersemangat.
“Buat jadi dua…” tambah Yamada sambil merangkul kekasihnya itu.
Dan itu membuat mereka mendapat hujan jitakan dari anak JUMP lainnya. Keito langsung mengambil cake dari tangan Nachan dan mengambil sedikit cream dari kue itu lalu mengolesnya ke wajah Ryutaro, orang dengan wajah polos yang hanya senyam senyum dari tadi. Dan selanjutnya terjadilah perang kue…
Over all, bagi Keito, ulang tahun hari itu adalah yang paling berkesan dalam hidupnya… sebuah tangan kini selalu digenggamnya, dan dia berharap tidak akan pernah melepaskannya….
***
OWARI~
Advertisements
This entry was posted in Hey!Say!JUMP, Johnnys and tagged on by .

About yamariena

Doumo ^0^)/ Koizumi Arina is my fictions name,,, but you can call me Gita :D I'm Indonesian Fangirls, and love ALL ABOUT JAPAN & EUROPE. My main Fandom on JE for debuted group are Hey!Say!JUMP, KAT-TUN, and Kis-My-Ft2. Johnny's Jr... I think Six Tones and... maybe Snow Man :) I think that's all... saa... Yoroshiku Onegaishimasu (_ _)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s