[Multichapter] Love Chains (chapter 4)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 4
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15 aja deh
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 4 ~
 cover bunda 8

^Tokyo Hospital… current time: 10.30 AM^

“Selamat Nishikawa-kun…” kata seorang suster senior padanya.

Miu hanya tersenyum. Berita pertunangan antara dirinya dan dokter Yabu memang sudah tersebar luas sejak tiga hari yang lalu.

Miu akhirnya menerima pinangan Yabu. Ia menerima ajakan Yabu untuk menikah. Sejujurnya Miu belum yakin 100 %, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya ia menerima ajakan Yabu untuk menikah.

“Melamun di jam kerja?? Apa Nishikawa-senpai sudah berubah ya?” goda Riisa jahil, membuyarkan lamunan Miu.

Miu seketika menatap Riisa yang tertawa kecil, membuatnya sedikit jengkel.

“Kapan pernikahanmu?” tanya Riisa lagi.

Beranjak dari kursinya, Miu menggeleng pelan, “Aku tidak membicarakan masalah pribadi saat bekerja.” jelas Miu lalu meninggalkan Riisa.

“Prefeksionis!!” keluh Wii lalu mengecheck ponselnya.

From: sora.hid3@mail.com
Subject : Onegai
Malam ini pertama kalinya aku ER…
Kowaii yo…T.T
Kau dimana?

To: sora.hid3@mail.com
Subject : re:Onegai
Aku juga bertugas malam ini…
Santai saja Sora-chan…aku akan menolongmu..
😛
Jangan terlalu gugup.

Balas Riisa lalu meutup flip ponselnya, berjalan menuju kamar pasien. Riisa melewati ruang dokter dan berusaha melirik apakah Yuya-sensei masih di ruangannya?

“Cari siapa?” suara itu mengagetkannya.

“Eh…”

“Keito… kalau kau lupa namaku,” sahut Keito pelan.

“Ah iya.. temannya Sora, kan?” seru Riisa.

“Ya…” Keito lalu keluar ruangan, “Jadi… cari siapa?” tanya si pemuda itu lagi.

“Tidak ada..hanya kebetulan lewat,” jawab Riisa pelan. Tentu saja bohong, tai ketahuan menyukai Yuya-sensei bukanlah pilihan yang bagus. Apalagi ia baru saja mengenal Keito.

“Oh…hmmm.” Keito hanya ikut berjalan tanpa tahu apa yang harus mereka bicarakan.

“Kau teman Sora… sejak SMA ya?” tanya Riisa.

Keito mengangguk, “Ya…kau teman SMP nya kan? Ia banyak menceritakan tentangmu..” tambah Keito.

“Hmm.. ia pindah setelah kelulusan SMP…” jelas Riisa. “Aku dan Asuka akhirnya ke Tokyo. Ia tak pernah mau kembali ke Hokkaido, walaupun orang tuanya kembali ke sana tiga tahun lalu.”

“Ya… aku tahu…” Keito tersenyum pada Riisa, bagaimanapun Keito paling tahu keadaan Sora sejak tiga tahun lalu, ia selalu bersama Sora, “Bagaimana kalau kau juga menceritakan tentang dirimu juga?” ungkap Keito berusaha mencaikan suasana yang tiba-tiba terasa canggung.

“Hah?”

“Ya… cerita tentang Sora… aku tahu ia bagaimana…hahaha” suara Keito terdengar sedikit canggung, “Jadi…kenapa kau tak menceritakan tentang dirimu saja?”

Riisa hanya tertawa kecil, lalu saat keduanya mencapai ruangan suster, Riisa berbelok, “Aku duluan… Okamoto-sensei..” katanya sambil berlalu dari koridor itu.

=current time : 11.00 AM

Asuka menunduk berkonsentrasi dengan apa yang sedang ia baca, ia merasa seseorang mengikutinya, namun tak merasa repot harus melihat siapa yang mengikutinya, karena tak ada orang lain.

“Asuka-chan…” panggil pria itu.

Asuka menoleh, Yamada kini duduk di sebelahnya.

“Berhenti mengendap – endap…”, tegur Asuka pelan, bagaimana pun juga ini di Perpustakaan.

Yamada tertawa kecil, “Kau tahu?”

“Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mengikuti aku…” protes Asuka, matanya masih terpaku pada jurnal yang sedang dibacanya.

“Hehehehe…”

“Ssshhht…ini Perpustakaan..” sela Asuka mengingatkan.

“Aku tak akan berhenti sebelum kau menyetujui ajakanku…” kata Yamada keras kepala.

Semalam Yamada memang akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Asuka berkencan. Selama ini Asuka selalu menolaknya, memberikan tanda-tanda enggan berhubungan dengan laki-laki manapun.

“Sudah kubilang aku tak bisa…” tolak Asuka lagi.

“Kumohon…hanya nonton dan makan malam..apa itu menyakitkan?” tanya Yamada dengan setengah berbisik.

Mata Asuka beralih dari jurnal ke wajah Yamada, menatapnya agak lama. Asuka melihat kesungguhan di mata pemuda itu. Asuka menghembuskan nafas panjang, “Baiklah…aku setuju…” jawab gadis itu pada akhirnya.

Sukses membuat Yamada hampir berteriak.

“Sekarang aku mau baca…jadi…bisakah kau berhenti menatapku?” kata Asuka yang menyadari sejak tadi mata Yamada tak beralih sedetik pun dari wajahnya.

“Ok…” kata Yamada lalu beranjak, “Aku tak suka perpustakaan…”

“Aku tahu…” jawab Asuka asal, tanpa menoleh dari buku yang ia baca.

^Canteen at Tokyo Hospital… current time: 11.21 AM^

Meru merasa dirinya sedikit pusing hari ini. Efek begadangnya mungkin masih terasa. Selama ini dirinya sangat jarang sakit, menolak untuk terjaga semalaman karena itu tak sehat, tapi hari ini rasanya ia ingin istirahat saja.

“Kau pucat Meru-chan… baik – baik saja?” tanya Fujigaya yang sibuk mendaftar ulang bahan makanan di kantin.

“Aku baik – baik saja…” jawab Meru pelan.

“Tak biasanya kau bersuara sepelan itu…” protes Fujigaya.

“Ah berisik!! Jangan buat aku semakin pusing!!” keluh Meru, lalu beranjak keluar, bermaksud mencabut papan bertuliskan CLOSED.

Fujigaya tertawa, “Jangan marah Meru-chan…relaks sedikit,” katanya.

Meru kaget karena pasien bernama Shige itu ternyata ada disitu. Sudah duduk dan memandang keluar jendela lagi. Masih di meja yang sama, tapi kali ini ia datang tidak pukul sepuluh.

“Maaf..Kato-san??” panggil Meru hati – hati.

Shige menoleh, lalu tersenyum. Meru malah kaget melihat pria itu tersenyum, karena biasanya ia muram, jarang sekali tersenyum.

“Aku datang lagi..kuharap tak mengganggu..” kata Shige yang kini tersenyum padanya.

Senyum Shige yang membuat Meru ikut tersenyum, bagaimanapun juga dia adalah pelanggan tetap kantin ini. “Ya…tidak apa – apa kok…kau tidak mengganggu…”

“Yuya selalu saja mengganggu ku pada jam sepuluh, ia membuatku tidur dan tidak bisa kesini, sehingga aku memutuskan untuk pergi setelahnya.” kata Shige lagi.

“Ah…begitu ya…” bahkan Meru tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Shige tiba – tiba berdiri, “Kato Shigeaki desu!” serunya lalu menyodorkan tangannya, bermaksud berjabat tangan dengan Meru.

“Oh..” Meru menyambut tangan Shige, “Nishikawa Meru desu…”.

“Nama yang bagus…” kata Shige tanpa melepaskan tangannya dari tangan Meru, membuat gadis itu salah tingkah.

“Hmm…” Meru akhirnya melepaskan tangan Shige, “Terima Kasih.. Kato-san..” katanya pelan.

Shige tersenyum, ia terlihat lebih stabil daripada biasanya.

Yuya masuk ke dalam kantin, “Kato-san… kantin belum buka…kau tahu?”, katanya lalu menghampiri Shige dan Meru.

“Kau baru bisa pesan setengah jam lagi…” sambung Yuya lagi, “Ya kan Meru-chan?” Yuya menatap Meru.

Meru mengagguk, “Iya…Kato-san…”

“Aku tahu…aku bosan di kamar..” balas Shige tak mau kalah. “Ah..aku ke kamar mandi dulu..” katanya setelah melirik jam dinding di tempat itu.

“Sedikit stabil…ia pulih kemarin, walaupun masih sering histeris…” kata Yuya menjelaskan pada Meru.

“Hmmm.. sayang sekali dia sakit… padahal dia tampan..” kata Meru lalu tertawa kecil.

Yuya menyentuh bahu Meru, “Sembuhkan dia kalau kau mau..aku sudah capek berurusan dengannya.. hahaha..” ujarnya dengan nada bercanda.

“Sial kau Yuya!! Tapi yang aku heran, kenapa dia tidak ditangani oleh Psikiater saja?” tanya Meru heran.

“Tentu saja team kami termasuk psikiater di dalamnya, tapi tubuhnya juga rusak sejak kejadian lalu… ia membunuh dirinya secara perlahan,” kata Yuya.

“Kejadian lalu?” Meru ingin bertanya lebih jauh.

Belum sempat Yuya menjawab, pintu kantin terbuka. Miki dan Saifu masuk, Saifu kaget melihat kakaknya ada disitu.

“Nii-chan??” panggil Saifu, sedikit berlari mendekati Yuya.

“Hey Nishikawa Meru!! Kau menyuruh adikku bekerja disini?” tanya Yuya sambil menatap Meru.

Meru mengangkat bahu, “Tanyakan pada adik tersayangmu itu..”

“Tidak Nii-chan..aku yang ingin…aku ingin dekat dengan Nii-chan…” jelas Saifu pada Yuya.

Yuya menatap Saifu, separah itukah kesepian yang diderita adiknya?

Yuya menyentuh kepala Saifu pelan, “Gomen ne… maafkan Nii-chan…” kata Yuya.

Baru saja Yuya akan bicara, seseorang yang berpakaian dokter, namun tampaknya baru, karena Meru belum pernah melihatnya, berlari dengan rambut tergerai, tergesa – gesa menghampiri Yuya.

“Dokter Takaki!! Dokter Takaki!!” serunya panik.

“Hideyoshi-san…berhenti membuat kegaduhan..” keluh Yuya.

“Itu…itu…”,wajahnya cukup panik, malah membuat Yuya heran.

Yuya segera menangkap bahu Sora, “Tenang sedikit…ada apa?”

“Pasien di kamar 12 A mengamuk…aku tak tahu harus bagaimana…” kata Sora akhirnya.

“Baiklah…” Yuya menoleh pada Saifu, “Aku harus pergi… dan aku tak pulang malam ini…kau boleh ke rumah Miki kalau mau..” jelas Yuya.

“Dokter….” Sora yang masih panik terus menarik lengan Yuya.

“Nii-chan!!” panggil Saifu ketika Yuya menjauh.

“Dokter trainee..” kata Meru sedikit tertawa.

“Hah? Apa itu Nee?” tanya Miki yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya.

“Ya…calon dokter.. biasanya memang suka panik jika menangani pasien..”, jelas Meru.

“Ah!! Ia menyela pembicaraanku dengan Nii-chan…” keluh Saifu.

Meru menatap Saifu, “Resiko..haha..sudahlah..ayo beres – beres!! Kantin akan segera buka…” perintah Meru lalu kembali ke dapur.

Disambut rutukan Saifu pada Meru.

^Tokyo Hospital… current time: 12.11 PM^

“Kau tak perlu berlari – lari seperti tadi Hideyoshi-sensei… aku bisa mengangkat teleponmu jika mau,” kata Yuya seraya mengeluarkan ponsel rumah sakitnya.

Mata Sora terbelalak, mulutnya terbuka karena kaget, gadis itu tampak baru sadar, mukanya tampak memerah.

Yuya terkekeh melihat ekspresi Sora yang menurutnya sangat lucu.

“Aku lupa..dokter…” gumam Sora pelan.

“Hahaha..” Yuya menyentuh kepala Sora pelan, “Tak apa…lain kali, tak perlu membuat kegaduhan seperti itu… mengerti? Hideyoshi-sensei?” katanya lagi.

Yuya segera melepaskan tangannya, menyadari gerakannya terlalu akrab.

Untunglah pasien tadi sempat tertangani. Seharusnya Sora tetap di tempat, lalu menelepon Yuya, sehingga pasien tidak ditinggal begitu saja.

“Dokter…” panggil Sora pelan.

“Ya?”

“Jangan panggil sensei… panggil saja Sora..” kata Sora lagi.

“Baiklah.. Sora? Begitu?”

Sora mengangguk cepat, “Lagipula…aku kan belum jadi dokter!!” protesnya lagi.

Yuya kembali tersenyum, “Aku tahu…tapi kau hampir jadi dokter..jadi biasakan diri dipanggil seperti itu. Mengerti?”.

Sora kembali mengangguk.

Yuya masuk ke ruangannya, meninggalkan Sora sendirian di koridor. Tak lama, Keito datang, bersama Inoo, sepertinya mereka baru dari ruang MRI.

“Sora? Kau terlihat gugup…” tanya Keito yan melihat ekspresi Sora berbeda dari biasanya.

Sementara Inoo berlalu begitu saja.

Sora menggeleng, “Aku baik – baik saja…” jawabnya, lalu menangkap lengan Keito yang hendak pergi, “Kau tak tugas malam ini ya?” rengek Sora.

Keito menggeleng, “Aku kan kebagian besok…” jelas Keito.

“Huwaaa!! Aku ingin bareng sama Keito aja…” keluh Sora manja.

“Jangan pasang tampang seperti itu…” kata Keito setelah melihat wajah Sora yang memelas.

“Kumohon…”

“Karena bukan aku yang buat peraturan disini, tentu saja itu tidak bisa..” kata pemuda itu menepuk pelan kepala Sora, “Kau akan baik – baik saja… mengerti? Telepon aku jika terjadi sesuatu..” tambah Keito lagi.

Sora mengagguk, Keito melepaskan tangan Sora dari lengannya, lalu menggenggam tangan gadis itu, menarik Sora untuk pergi ke kantin, “Kau harus makan banyak..nanti malam kau akan terjaga semalaman..” kata Keito menarik Sora dari tempat itu.

=current time : 12.22 PM

Pintu kamar Paviliun terbuka, Miyako kaget ketika melihat Ryutaro tersenyum di atas kasurnya, tampak menunggu.

“Suster Miyako sudah janji hari ini…” katanya ceria.

Miyako ikut tersenyum, lalu mengangguk pelan, “Setelah aku memeriksamu… sebentar.. kalau kau tak sehat, aku tak bisa membawamu.” jelas Miyako.

Miyako sudah berjanji pada Ryutaro untuk membawa pemuda itu keluar kamar, mereka akan makan di taman Rumah Sakit. Janji itu Miyako berikan setelah Ryutaro tak lelah terus memintanya membawanya keluar.

“Aku tidak akan merepotkanmu..aku janji…” kata Ryutaro kesal.

Tapi tetap menurut ketika Miyako memeriksa tekanan darah dan reaksi matanya.

Miyako mengambil kursi roda yang ada di samping ranjang milik Ryutaro. Membantunya turun dan keluar dari kamar itu.

“Harusnya kau membawaku keluar dari rumah sakit ini…bukan hanya dari gedung ini..” keluh Ryutaro.

Miyako hanya diam, tak menjawab. Ia masih mendorong kursi roda itu menuju ke taman.

“Miyako-chan…” panggil Ryutaro.

“Ya? Morimoto-san?”

“Bisakah kau membawaku keluar dari rumah sakit ini?” tanya Ryutaro lagi.

Miyako menggeleng, “Kau harus menunggu sampai donor jantungmu ada kan?” kata Miyako lagi.

“Ah…menyebalkan…” kata Ryutaro tampak kesal.

“Kalau kau mau keluar, pastikan kau sudah sembuh, setelah itu aku pasti bisa membawamu kemanapun…” kata Miyako yang lalu terkejut dengan perkataannya sendiri.

“Hehehe…Miyako-chan bisa jadi manis juga…” kata Ryutaro yang langsung membuat jantung Miyako tak keruan.

“Ma…maksudmu?”

“Biasanya Miyako-chan serius dan jarang tersenyum…” protes Ryutaro.

Miyako tak menjawab, mereka berhenti di dekat

“Peraturannya gampang… jangan jatuh cinta pada pasienmu sendiri…”, suara Nishikawa Miu menggema di pikiran Miyako sekarang ini.

^Tokyo Police Station… current time: 02.34 PM^

Suasana di kantor polisi saat itu cukup lengang. Daiki mencari berkas yang ia tinggalkan sebelum makan siang tadi, yang ternyata dipegang oleh Hikaru.

“Kau yakin kita bisa menjeratnya dengan bukti sekecil ini?” seru Hikaru pada Daiki.

“Aku tak yakin… tapi pihak korban memintaku untuk segera mengusutnya.. tak tahu lah…” kata Daiki lalu mengambil berkas itu sedikit memaksa.

Hikaru diam, lalu duduk dengan wajah muram.

“Bertengkar lagi kah? Bisakah kau tak membawa mood mu di rumah kemari?” ujar Daiki yang kini sudah duduk di belakang meja kerjanya.

“Begitulah…” sahut Hikaru singkat.

Rasanya ia tak perlu banyak menjelaskan keadaannya pada Daiki.

“Akhir – akhir ini kau sering sekali bertengkar?” tanya Daiki lagi.

“Well, hanya salah paham, dan aku sendiri tak tahu harus bagaimana…” keluh Hikaru lagi.

Hikaru beranjak, hari ini wajahnya tampak muram dan tak bersemangat.

“Hingga tak ada makan siang hari ini?” tanya Daiki lagi.

“Begitulah…ayo… komandan sudah memanggil… pekan olahraga yang sepi sejak istriku tidak disini menyemangati aku…” keluh Hikaru.

“Ya ampun Hikaru~” seru Daiki lalu ikut beranjak menuju halaman belakang.

Tempat pelaksanaan pekan olahraga bagi satu kantor itu. Hanya tiga bulan sampai empat bulan sekali dilaksanakan, tapi cukup untuk membuang stress para penegak hukum itu.

^Tokyo High School… current time: 03.15 PM^

“Aku pulang dulu Miki!!” seru Yuki, teman sekelasnya.

Miki mengangguk dan melambaikan tangan pada Yuki. Ia harus piket sendirian lagi, teman-temannya yang harusnya piket hari ini mendadak memiliki acara masing-masing. Sementara Saifu akan pulang dulu, karena akan menginap di rumahnya.

Menghela nafas panjang, Miki bingung kenapa dirinya masih mau melaksanakan piket sementara teman – temannya malah meninggalkan dia.

Miki memulai pekerjaannya dengan menghapus papan tulis.

Rasanya ada yang kurang, biasanya ketika hari piket, Chinen pasti datang ke kelasnya, menjemput dirinya.

“Miki-chan… kau harusnya tidak piket sendirian…”

“Chinen-senpai…” saat itu tentu saja ia tersenyum, menyambut kekasihnya.

“Aku bantu ya…setelahnya kita bisa makan es krim bersama…” tawar Chinen, dan selalu tak bisa Miki tolak.

Miki sadar hari ini tak mungkin Chinen-senpai nya datang lagi ke kelas itu, memberikan senyum terbaiknya itu, karena Chinen sudah memutuskan untuk menghindar darinya sementara waktu ini.

“Lupakan…ayo lupakan Miki…” rutuk Miki pada dirinya sendiri.

Piketnya sudah hampir selesai, Miki keluar dan menuju ke ruang peralatan, ia hendak mengambil kapur baru untuk kelasnya. Ketika ia kembali, sebuah cake tersimpan di atas meja, lengkap dengan sebuah notes kecil di atasnya.

Aku tak bisa membantumu hari ini..
Semangat Miki-chan!!
Sudah saatnya kau bilang pada teman – temanmu,
Kau tak suka diperlakukan seperti itu…
^_^

Semburat jingga dari jendela kelasnya, sangat indah, begitu juga dengan perasaan Miki. Ia tahu, surat itu pasti dari Chinen, Chinen-senpai nya tak akan meninggalkannya.

Yuto mengintip Miki yang masih membersihkan kelas seorang diri. Ia ingin sekali membantu si gadis, namun ia masih belum berani membantunya.

“Paling tidak ia membaca suratku…” ucap Yuto meninggalkan kelas itu sambil tersenyum.

^Tokyo Hospital… current time: 05.19 PM^

Suasana ruang Emergency cukup padat. Lima kasus sejak makan siang, tampaknya membuat para dokter dan suster sedikit kelelahan.

“Miu!! Sediakan lagi betadine dan obat penenang..” seru Opi sambil membuka sarung tangannya, disambut anggukan Miu.

“Inoo-kun… saya harap anda tidak membuat suasana disini lebih tidak menyenangkan, harap jangan mengganggu kinerja kami..” tegur Opi pada calon dokter yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

“Aku mengerti Chinen-san…atau harus kupanggil… Chinen-sensei?” katanya lagi.

Sejak tadi, karena seharusnya dokter trainee belum boleh menyentuh pasien, setidaknya hanya seminggu ini, tapi Inoo sejak tadi selalu ikut merecoki dokter seniornya.

“Sudahlah Opi…” kata Yabu tenang.

Telepon di ruang emergency itu berbunyi. Yabu segera mengangkatnya, tak lama, ia menoleh.

“Pasien baru… Opi…” setelah itu Yabu menoleh menatap dua trainee yang kini berada di situ, “Asuka… dan suster Nishikawa… kalian yang ke depan. Yang lain siapkan peralatan, korban tabrak lari… pasien tiba dalam 4 menit,” jelasnya singkat.

“Ya!” seru Opi lalu berlari ke depan, disusul Asuka dan Miu.

Inoo menatap Yabu dengan tatapan kesal. Yabu memutuskan untuk tidak terlalu menggubris si pemuda itu karena merasa bahwa Inoo masih terlalu egois dan terlalu memikirkan kepentingan pribadinya dibanding keselamatan pasien.

=current time: 07.34 PM

“Aku pulang dulu…” pamit Yabu pada Yuya yang malam itu gilirannya di ER.

“Aku mengerti…pasien Arioka Daiki itu polisi yang kemarin kesini kan?”, tanya Yuya disela kesibukan Yabu yang bersiap – siap untuk pulang.

Yabu mengangguk, “Ia tertabrak mobil, tapi kini kondisinya sudah membaik, karena untungnya tidak terlalu parah…” jelas Yabu.

“Seorang polisi tertabrak mobil…ironis…” kata Yuya lagi.

Hanya disambut anggukan pelan dari Yabu.

“Pulang dengan Miu-chan?” tanya Yuya.

“Tentu saja… ia calon istriku sekarang, Yuya…” kata Yabu dan tertawa pelan seraya meninggalkan ruangan itu.

Yuya mengecheck kembali jadwal ER malam itu. Yang bertugas dokternya ia, Sora, dan Opi. Yuya beranjak karena hendak mengambil kopi, teman setianya ketika ER berlangsung.

“Iya…aku baik – baik saja.. hanya sedikit kesepian…” kata Sora berbicara di telepon, entah dengan siapa.

“Menelepon pacarmu?” tanya Yuya yang kini sudah tiba di mesin otomatis penjual minuman.

Sora menggeleng, “Bukan…ini Keito…” jawabnya polos.

“Kukira ia pacarmu…” Yuya memasukkan koin dan memilih minuman kopi.

“Bukan…” jawabnya singkat.

“Mau kopi?” tawar Yuya pada Sora yang masih juga menatapnya.

Sora hanya mengangguk. Sebenarnya tadi ia kesini juga ingin beli kopi, tapi berhubung Keito meneleponnya, ia mengurungkan niatnya sejenak.

Yuya menyodorkan kopi hangat itu pada Sora, lalu memasukkan koin lagi, membeli untuk dirinya sendiri.

“Arigatou..” kata Sora pelan.

“Sama – sama..”

“Ne…dokter.. apa kejadian emergency malam hari juga banyak?” tanya Sora setelah mereka duduk di bangku sekitar situ. Suasana rumah sakit malam hari memang cukup seram, sehingga Sora tak mau berjauhan dari Yuya.

Yuya menggeleng, “Tak pernah pasti…kita bisa sangat sibuk, atau tak ada pasien sama sekali…” jelas Yuya.

“Hmm…”  Soramengagguk tanda mengerti, “Lalu…kalau pasien di sini sakit? Maksudku pasien rawat inap… kita juga yang menangani?”

“Terkadang iya.. kan ada dokter jaga juga.. Sora…” jawab Yuya, ia merasa kepolosan Sora sangat lucu, lalu tangan Yuya bergerak ke kepala gadis itu, mengacak pelan rambut Sora.

Sora merapihkan rambutnya dengan tampang pura – pura kesal, “Sensei…”, keluhnya.

“Kau lucu juga…” kata Yuya lalu beranjak dari temat itu.

Meninggalkan debaran aneh yang baru kali ini Sora rasakan setelah lama ia tak pernah merasakan perasaan macam itu lagi.

^Nishikawa’s Place… current time: 10.32 PM^

“Fu-chan…kau belum tidur?” protes Miki yang merasakan Saifu masih grasak – grusuk di sekitarnya, padahal Miki sudah etrtidur sejak tadi.

“Aku menunggu orang itu… kenapa belum muncul juga ya?” keluh Saifu sambil masih menatap layar laptopnya.

“Siapa?” tanya Miki setengah tertidur, namun duduk mendekati Saifu.

“Dia itu…kayak advicer…”

“Maksudnya?” tanya Miki tak mengerti.

“Iya… jika aku chatting dengannya, ia memberikan banyak ilmu padaku… atau nasihat… ia baik sekali..” kata Saifu.

“Kalian kenal dimana?”

Saifu menunjuk layar laptopnya.

“YM?” tanya Miki lagi.

“Yup…aku bertemu dia di forum..dan kami mulai chatting sebulan lalu.. seharusnya ia sudah muncul jam segini…” keluh Saifu.

“Dia siapa? Kau tahu namanya?” kembali Miki bertanya.

Saifu menggeleng, “Tidak pernah tahu nama aslinya..tak tahu wujudnya… tapi berbicara dengannya cukup membuat aku tenang…”

“Hmm.. tapi dia kan orang asing??”

“Ya, tapi aku bisa percaya dengannya… tak selalu apa yang tak bisa kita lihat itu buruk…” kata Saifu membela diri.

“Jadi, kau mau tak tidur sampai kapan?”

“Aku akan tidur sekarang… ia tak akan muncul sepertinya,” kata Saifu lalu meng close semua aplikasi yang ia pakai.

^Jalanan Tokyo… current time: 10.45 PM^

“Yamada…ayo pulang…kita mau kemana lagi sih?” keluh Asuka melihat Yamada sejak tadi hanya berjalan tanpa arah.

Mereka sudah nonton, sudah juga makan malam, tapi Yamada belum juga mengantarnya pulang.

“Yamada Ryosuke!!!” panggil Ari lagi.

Yamada menoleh, “Aku belum mau pulang…”

Sebenarnya Yamada ingin mengatakan itu. Sebenarnya, ia tak mau pulang, berusaha mengulur waktu karena sejak tadi belum menemukan momen yang pas untuk mengatakannya.

Asuka duduk di bangku taman, malas menghadapi Yamada yang sedang kekanakan itu. Memandang layar ponselnya yang sudah lowbatt. Malam ini kedua teman se apartemennya ada di rumah sakit, itulah juga kenapa Asuka akhirnya menerima ajakan Yamada untuk jalan – jalan.

Tanpa Asuka sadari, kini Yamada sudah duduk disebelahnya.

“Kenapa Asuka-chan?” tanya Yamada tiba – tiba.

“Kenapa apa?” Asuka balik bertanya, walaupun sudah tahu arah pembicaraan ini.

“Tak bisa sedikit berubah?”.

Asuka menggeleng, “Aku belum siap…” keluh gadis itu.

“Masih belum siap?? Sudah tiga tahun kan? Sudah tiga tahun sejak kematian nya!!” kini nada suara Yamada sedikit meninggi.

Asuka berdiri. Ia tak suka Yamada mengungkit dan membicarakan kekasihnya seperti ia tahu siapa dia.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Yamada.

“Jangan bicara seperti kau tahu siapa dia??!!!” bentak Asuka.

“Asuka-chan…kau harus melupakannya…kau..”

“Kau tak berhak mengaturku!!!”

Asuka meninggalkan Yamada dengan perasaan terluka. Kini ia malah kembali teringat pada kekasihnya, orang yang juga cinta pertamanya, orang yang mengajarkannya banyak hal. Tiga tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu di Tokyo Hospital, ia harus menerima kenyataan pahit, pacarnya, Ryuta Hideyoshi, meninggal karena kecelakaan.

Ia kembali ke Tokyo, menjadi dokter di Tokyo, untuk Ryuta, bukan yang lain.

—————

TBC lagiiii~

Maap kalo tak memuaskan… 🙂
Silahkan di komen-di komen…
COMMENTS ARE LOVE
Please don’t be a silent reader…
#kecup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s