[Multichapter] Love Chains (Chapter 3)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 3
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15 aja deh
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 3 ~
 cover bunda 5

^Tokyo University… current time: 9.30 AM^

“Sudah siap Sora-chan?” tanya Keito yang kini berdiri di sebelah Sora yang terlihat luar biasa gugup.

“Aku takut…” bisik Sora pada Keito.

“Tak perlu takut, kau akan baik-baik saja…” gumam Keito menenangkan sahabatnya itu, meraih tangan Sora dan menggenggamnya.

“Bagaimana kalau aku salah? Bagaimana jika aku membuat kesalahan??” rengek Sora yang kini merangkul erat tangan Keito.

Keito menyentuh kepala Sora, menepuknya pelan, “Kau akan baik-baik saja. Aku juga ada disini, jadi jangan panik.” tegurnya, membiarkan wajah Sora yang kini bersembunyi di balik bahunya.

Beberapa saat kemudian Yamada datang dengan membawa dua tas berukuran cukup besar.

“Apa itu Yama-chan?” tanya Sora melihat bawaan Yamada.

“Hanya~” belum sempat Yamada membereskan kalimatnya, seornag gadis dengan tergesa-gesa menysulnya.

“Kubilang tak usah membawakan tasku Yamada!!” teriak seseorang.

Tanpa harus melihat pun Sora tau kalau itu suara Asuka.

“Tapi ini kan berat..” jawab Yamada dengan polosnya.

“Tapi aku bisa membawanya sendiri!!” elak Asuka yang sebenarnya tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.

Yamada masih tampak bingung tapi tetap tak membiarkan Asuka membawa tasnya sendiri.

“Kau bawa banyak barang? Buat apa?” tanya Keito pada Asuka.

Yamada memandangi Asuka, “Asuka-chan bersikeras membawa semua catatan kuliahnya..”jawab Yamada polos.

Sora mengerenyitkan dahinya, “Buat apa Asuka-chan?”

Asuka tersenyum gugup, “Aku takut….membuat…kesalahan…”

Sora sudah memeluknya, menenangkan sahabatnya itu, “Kau akan baik-baik saja…”

Keito hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Sora yang pura-pura tenang. Keito sendiri tak mengerti, kenapa Sora hanya bisa memperlihatkan kelemahannya pada dirinya saja.

^Tokyo High School… current time: 09.54 AM^

Miki mengedarkan pandangannya pada deretan panjang rak buku di perpustakaan. Chinen tidak lagi datang padanya, tak lagi mengirimkan pesan yang dapat membuatnya tersenyum, mengobrol dalam suara se pelan mungkin di perpustakaan. Miki menyeka air matanya yang mulai turun lagi ketika ia mengingat Chinen, bukankah Chinen-senpai nya itu hanya akan pergi sementara? Ia menyakini itu pada dirinya sendiri.

Chinen bilang untuk menunggunya, bukan akan meninggalkannya.

“Miki-chan?”

Miki menoleh mendengar suara yang familiar ia dengar.

“Chinen-senpai?” benar dugaannya, Chinen pasti di perpustakaan.

“Ngapain kau disini?” tanya Chinen yang tampak repot dengan buku – buku tebalnya.

Miki menyerahkan kotak bento yang sengaja ia persiapkan, lalu berlari meninggalkan Chinen yang masih heran dengan perbuatan gadisnya itu.

Senpai~
Berjuanglah….Miki menunggumu…
(^^)9
Aku tahu Senpai bisa…
Jangan lupa makan…
Jangan lupa mandi…
Jangan lupa mengingat aku…
-Miki-

Tanpa disadari, Chinen tersenyum memandang pesan singkat yang Miki tulis, tapi kenapa juga ia menyerahkannya saat istirahat pertama? Ini kan belum saatnya makan siang?

Lalu Chinen ingat, Miki harus ke kantin pada istirahat kedua. Chinen merasa sedikit kesepian tanpa celoteh Miki di sampingnya, tapi ini harus ia lakukan. Agar ia berhenti di remehkan, berhenti dibandingkan dengan kakaknya.

Udara disini cukup panas, Saifu membuka flip ponselnya, menatap wallpaper itu dengan hampa. Fotonya bersama Yuya. Tapi dia sendiri sudah lupa kapan foto diambil, mungkin dulu saat kakaknya masih punya waktu untuknya. Dulu ia selalu berteriak pada kakak semata wayangnya itu.

“Yuya-nii aishiteruuu~ Jika sudah besar, aku akan menjadi pengantin Yuya-nii…”

Lalu Saifu ingat, foto itu diambil ketika ia masih kecil,  Yuya masih SMP, saat itu secara otomatis Yuya akan menjawab, “Pengantinku hanya Fu-chan saja….”

Saifu merasa kakaknya segera berubah setelah ia sekolah kedokteran, mulai sibuk dengan pekerjaan, bahkan untuk tahu adiknya sedang apapun ia tak tahu lagi. Saifu tahu, Yuya bekerja keras untuk dirinya, menanggung kehidupannya berdua dengan Saifu ketika orang tua mereka meninggal memang sulit. Yuya mati-matian belajar sambil baito saat SMA, memburu beasiswa untuk sekolah kedokterannya, lalu sekarang Yuya sudah berhasil dan membuktikan pada adiknya itu ia bisa menghidupi Saifu dengan layak. Tapi bukannya Saifu tidak menghargai pekerjaan kakaknya, ia hanya berfikir, saat uang pun banyak, tanpa Yuya di sisinya? Apa uang itu masih penting?

Saifu di kagetkan dengan kemunculan Miki yang tiba – tiba dan dengan nafas tersengal – sengal.

“Kau kenapa?” tanya Saifu.

“Dari…perpus…” Miki berusaha mengatur nafasnya, “Chinen…Senpai…”

Saifu tak perlu bertanya lebih, pasti Miki dari Perpus dan bertemu Chinen, kekasihnya. Setidaknya setelah seminggu lebih mereka putus, Miki akhir-akhir ini  selalu membawa bento untuk Chinen, memberikannya tanpa mengatakan apapun.

“Masih tidak berbicara apapun?”

“Aku tak mau mengganggunya Takaki Saifu!!” seru Miki kesal, ia mengaggap Saifu tak mengerti perasaannya.

Saifu hanya tertawa kecil, “Kau memang aneh…ngomong – ngomong, jam berapa kita akan ke Rumah Sakit hari ini?”

^ Canteen at Tokyo Hospital… current time: 10.00 AM^

Fujigaya baru saja datang, menunjukkan semnyum-merasa-tak-bersalah lagi pada Meru.

“Kau telat dan aku terpaksa menyiapkan semuanya sendiri…” keluh Meru.

Kantin ini dibuka di dalam gedung Rumah Sakit, walaupun mereka bukanlah penyedia makanan bagi pasien, mereka hanya kantin yang biasanya dipakai para dokter dan suster untuk istirahat.

“Gomen na…”, ucap Fujigaya, “ngomong – ngomong, bukankah kantin kita hanya buka setelah akan makan siang?”

Meru menatap Fujigaya dengan pandangan aneh, “Tentu saja, kenapa?”

“Ada seseorang di meja 23,” tunjuk Fujigaya ke luar.

Meru keluar dari dapur, dan mendapati seorang pria yang menurut cerita Miki selalu duduk di meja yang sama. Karena Meru jarang berada diluar dapur, ia tak pernah melihatnya sendiri.

“Maaf…tuan… kami belum buka…” kata Meru sopan.

Pria itu menoleh, tampak sedikit kaget.

“Tuan? Ini belum waktunya kantin kami buka…” jelas Meru lagi. Berjaga – jaga mungkin saja pria di hadapannya yang memandangnya dengan tatapan aneh itu tidak mendengarnya.

Pria itu menoleh ke arah jam dinding, “Aku mau mati…”

“Kau baik – baik saja tuan?” tanya Meru mulai takut.

Pria itu menggeleng, “Aku sedih sekali…sedih sekali….” katanya dengan ekspresi sangat menyakitkan sehingga bahkan Meru merasa kesakitan melihatnya.

“Tuan…”

Pria itu berdiri, melempar sebuah botol saus dari mejanya.

“Kato-san!!”

Meru menoleh dan mendapati Opi dan kakaknya, Miu, berlari ke arah mereka.

“Kato-san… kau harus kembali ke kamarmu…” pinta Opi hati – hati.

Meru mau tak mau mundur sedikit demi sedikit, merasa terancam.

“Tidak mau….Aku mau disini..” tolak Shige

“Kato-san.. aku mohon… hanya CT scan, aku janji…” Opi tampak sedikit hilang kesabaran.

Shige menoleh menatap Meru, “Aku akan datang lagi jam makan siang nanti…”

Meru hanya bisa mengagguk, kaget mengetahui itu adalah pasien. Ia tak memperhatikan adanya gelang pasien di pegelangan tangan kanan pria itu.

Miu mensejajarkan langkahnya dengan Shige, bermaksud mengantar pria itu ke ruang CT Scan.

“Dia semakin parah saja…” keluh Opi.

“Aku tak tahu dia pasienmu, Opichi…”

“Bukan…itu pasiennya Yuya… tapi dia sedang mengawasi dokter trainee yang baru, aku kaget ketika Miu-chan bilang ia keluar dari kamarnya…”

“Ia tak terlihat sakit…” kata Meru memiringkan kepalanya karena bingung.

“Tak akan terlihat seperti itu, kami curiga ia mulai behalusinasi, aku harus pergi Meru-chan…”

Meru mengambil botol saus yang sempat di lempar Shige, kenapa wajah itu begitu familiar untuknya? Meru mencoba menyingkirkan perasaan itu dan kembali ke dapur.

“Wajahmu aneh…” ucap Fujigaya ketika Meru masuk kembali ke dapur.

“Aku hanya merasa pernah melihat wajahnya… tapi bukan disini…” gumam Meru mengerenyitkan dahinya dengan bingung.

“Hmmm~ jangan-jangan dia adalah pria di masa lalu mu?” goda Fujigaya sambil masih menyiapkan bahan-bahan makanan.

Meru secara refleks melemparkan sebuah lap kering yang langsung ditangkap oleh Fujigaya.

“Baka!” umpat Meru, mencoba menghapus perasaan pernah melihat pria tadi.

=current time: 10.05 AM

Yuya menatap pesan di ponsel nya dan mulai tenang, Shige tak berbuat apapun, untungnya Opi mau menggantikannya sebentar.

“Ingat posisi kalian kan? Setiap malam mulai besok, kalian akan bergantian mengikuti Emergency Room… tidak ada kecuali,” Yuya melanjutkan perkataannya yang semat terpotong tadi.

Semua trainee yang berjumlah lima orang itu mengangguk tanda mengerti.

“Mengerti?” tanya Yuya lagi.

“Jadi untuk seminggu ini kami hanya melihat dulu kerja dokter senior?”

Yuya menoleh, menatap pria kurus yang bertanya itu dengan sedikit kesal.

Yuya mendesah pelan, “Kau tak mendengarku tadi?”

“Itu terlalu membosankan…” keluh pria itu.

“Kau tak bisa bilang begitu…Inoo-kun!!” tegur Sora dengan kesal.

Inoo menatap Sora dari balik kacamatanya, “Penurut…”.

“Inoo-kun… saya harap anda mendengarkan apa yang saya katakan sejak tadi. Anda mungkin murid paling brilian di kampus anda, tapi saya tak peduli, tolong ikuti saja apa yang saya instruksikan…” Yuya berbalik meninggalkan para trainee tersebut, menghembuskan nafas berat, Yuya tertawa simpul saat ia meninggalkan rauangan, Inoo Kei itu..mengingatkannya pada seseorang.

“Inoo!! Kau tidak sopan…” kata Sora sedikit kesal dengan perbuatan Inoo tadi.

Menatap Sora dengan kesal, Inoo memutuskan untuk meninggalkan ruangan juga.

“Sudahlah Sora…tak ada gunanya…” cegah Asuka ketika Sora berniat menyusul Inoo, mungkin ingin memarahinya lebih lagi.

“Tapi Asuka-chan….”

Keito menutup mata Sora dengan telapak tangannya, “Ayo ganti baju saja… tak ada gunanya kita berdebat dengan orang itu” dan dengan gerakan cepat menarik tangan Sora.

“Soraaaa!!Asukaaaa!!” seseorang berteriak kecil, dengan suara tertahan, namun ekspresinya sangat senang.

Suster itu berlari memeluk kedua sahabatnya.

“Kalian berdua…kenapa gak bilang kalau akan datang hari ini?” suter itu protes, padahal mereka tinggal se rumah tapi tak mendengar apapun soal kedatangan Sora dan Asuka.

“Hehehe..ini ide Sora…kami kan ingin membuat surprise untuk Rii-chan..”, jelas Asuka, disambut cengiran dari Sora.

“Maa~ Ini Keito…ini Yama-chan..” kata Sora memperkenalkan kedua teman laki – lakinya yang memang Riisa belum pernah temui.

Asuka, Riisa dan Sora memang baru-baru ini tinggal bersama. Sebelumnya Sora dan Asuka tinggal di asrama kampus mereka.

“Hajimemashite… Sakurai Yanagi Riisa desu…”Riisa membungkuk sekilas, “Aku suster disini…” jelas Riisa.

“Hajimemashite….Okamoto Keito desu….” kata Keito menimpali.

“Yamada Ryosuke desu~” kini giliran Yamada yang memperkenalkan diri.

Riisa tersenyum pada keduanya, “Pacar kalian ya?” tanya Riisa pada Sora dan Asuka.

“Chigau!!” sergah Sora cepat, “Tomodachi da yo ne~”

“Rii-chan…ini belum waktunya istirahat…” tegur seseorang.

“Iya Nishikawa-senpai…maaf…” jawab Riisa setengah mencibir ketika menoleh dan melihat Miu menghampirinya, “Gomen… aku harus pergi…jya~ nanti kita ngobrol lagi…” pamit Riisa yang segera meninggalkan mereka.

=current time: 10.30 AM

“Selamat siang… Morimoto-san…” panggil seseorang.

Sukses membuat Ryutaro yang sedang terbaring tersenyum, melihat siapa yang datang.

“Siang suster Miyako!!” wajah Ryutaro mendadak cerah.

Miyako sendiri tak mengerti kenapa pasiennya yang satu ini senang sekali mengoodanya, sejak ia mulai mengurus pasien ini dua minggu yang lalu.

“Aku akan memeriksa tekanan darahmu Morimoto-san…” kata Miyako dengan sedikit gugup.

“Mou… aku kan sudah bilang untuk memanggilku Ryuu… ne? Miyako-chan?”

Sukses membuat debaran jantung Miyako bertambah dua kali lipat dari biasanya. Namun Miyako berusaha tetap tenang menghadapi Ryutaro.

“Miyako-chaaann… jangan gugup gitu…” Ryutaro menatap wajah Miyako dari jarak yang cukup dekat, Ryutaro terkekeh pelan, “Miyako-chan mukanya merah tuh!” masih saja Ryutaro menggoda susternya itu.

Miyako tak menjawab, hanya memulai pemeriksaan tekanan darah Ryutaro.

“Miyako-chan??” panggil Ryutaro.

“Ya?” Miyako menoleh saat mengecheck infus dan monitor milik Ryutaro.

“Udara di luar itu rasanya seperti apa?”

Miyako kaget dengan apa yang ditanyakan Ryutaro, “Kenapa bertanya begitu Morimoto-san?”

Ryutaro menggeleng pelan, lalu tersenyum, “Tidak ada apa – apa… aku sudah tiga bulan penuh tidak keluar sama sekali.. terlama dari yang pernah kurasakan. Takutnya aku lupa udara luar..hehe.”

“Oh…hmmm~” Miyako tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Mau menyuapi aku Miyako-chan?? Sebentar lagi makan siang loh…” ujar Ryutaro ringan.

“Eh??!!”

“Hahahaha~ wajah mu lucu sekali Miya!!” seru Ryutari melihat ekspresi kaget di wajah Miyako, “Aku hanya bercanda…” katanya lagi.

^Tokyo Police Station… current time: 12.34 PM^

Daiki mebaca ulang berkas itu, mencoba mencari apa yang hilang dari berkas itu.

“Wajahmu jelek sekali Dai-chan…” kata Hikaru yang kini sudah duduk di sebelahnya.

Daiki menoleh, melihat Hikaru mengeluarkan kotak makan siangnya, “Bahkan ketika kalian bertengkar, istrimu memasak makan siangmu?”

Hikaru mengangguk, “Sebenarnya apa yang ia mau ya? Sudah beberapa hari ini kami bertengkar…” Hikaru menghembuskan nafas berat.

“Jangan terlalu keras pada istrimu~ dia juga pasti ingin kau ada di sisinya…” ucap Daiki mencoba bijak, walaupun ia sendiri tak tahu rasanya menikah itu seperti apa.

“Aku tahu Dai-chan…tapi dia juga harusnya tahu aku banyak kerjaan…” keluh Hikaru yang mulai memakan bento nya, “Yappari… makanan buatan istriku memang paling enak~” ucap Hikaru menyesapi apa yangs edang ia kunyah.

Daiki hanya tersenyum, “Salah sendiri kau menikah terlalu muda~”

Hikaru menggeleng lalu menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, “Tak ada kata terlalu muda untuk saling mencintai Arioka-san…”

“Baiklah baiklah~ ngomong – ngomong… sehabis makan siang ini, kita harus ke rumah sakit Tokyo, aku harus menanyakan hal ini sebelum aku penasaran…”

“Ya… dua kasus di rumah sakit yang sama… begitu mengherankan…” kata Hikaru lagi sambil masih terus makan, “Kau tidak makan?”

Daiki menggeleng, “Nanti saja…”

=current time: 01.10 PM

Daiki dan Hikaru melangkah masuk ke Rumah Sakit yang megah itu. Beberapa orang lalu lalang di tempat itu. Memang sangat ramai, jelas saja karena ini rumah sakit besar.

Daiki mendatangi meja informasi. Menunjukkan identitasnya sebagai polisi, “Kami perlu bicara dengan Yabu-sensei..” katanya mantap.

“Sebentar tuan…” resepsionis itu mendial nomor, tak lama ia berkata “dokter Yabu akan menerima anda ketika makan siang selesai..” jelas resepsionis itu.

Hikaru tertawa mengejek pada Daiki, “Ne Dai-chan…kau ini…ayo kita tunggu di kantin saja… lagipula kau juga belum makan..”

Mau tak mau Daiki menuruti kata Hikaru.

Kantin penuh dengan orang lalu lalang. Sebagian besar para suster dan dokter yang sedang makan siang. Ada beberapa orang yang menurut pandangan Daiki mungkin adalah pengantar orang yang sakit.

Hikaru menunjuk sebuah meja yang berada di sudut ruangan, Daiki mengikutinya, keduanya duduk disana.

“Pesan apa, tuan?”

Saifu kaget dengan apa yang dilihatnya.

“Kau!!” seru mereka bersamaan.

“Jadi…gadis klepto sepertimu bekerja disini?” Daiki memperhatikan Saifu yang masih berseragam di balik celemek bunga-bunga yang ia pakai.

“Aku…” Saifu dongkol. Polisi imut kurang ajar ini masih saja mengingatnya.

“Takaki Saifu… empat kali masuk kantor polisi karena mencuri…” jelas Daiki yang memang sudah menyelidiki berkas milik Saifu.

“Aku tak mencuri…aku…” Saifu tak bisa mengutarakan alasannya, ia heran, kenapa polisi ini begitu ingin mengajaknya bertengkar.

“Aku ingin segelas kopi hitam.. tidak pakai gula…” ujar Daiki pelan.

Saifu menghentakkan kakinya kesal, meninggalkan Daiki dan Hikaru.

“Hahahaha…” Hikaru tak bisa lagi menahan tawanya, “Kau ini… tertarik padanya ya?”

“Muri da yo!” elak Daiki langsung.

“ternyata selera Dai-chan anak SMA…hahaha,”

PLAK!

Daiki memukul kepala Hikaru dengan tangan kosong, menolak menatap mata Hikaru yang membuatnya salah tingkah karena perasaannya terbaca dengan jelas.

From: Yabu-senpai~
Subject: kita harus bicara

Miu-chan…
Kau tahu??
Ini saatnya kita bicara lagi…
Aku sudah mengecheck jadwalmu…
Dan malam ini bukan giliranmu ER…
Kita akan pergi makan malam…
Ngomong2.. aku tak menerima penolakan kali ini…

Miu menatap layar ponsel miliknya, menghembuskan nafas berat. Apa ini artinya sudah saatnya Yabu memintanya menerimanya sekarang juga? Bertanya tentang hatinya saat ini?

Ia berada di atap, tempat paling tenang yang bisa ia datangi di Rumah Sakit ini.

“Melamun lagi Miu?”

“Yuya~” hanya Yuya yang tahu tempat ini, selain dirinya. Ia dan Yuya berbagi tempat ini untuk saling mencurahkan masalah masing-masing. Tempat yang membuat keduanya menjadi teman dekat.

“Aku dengar polisi datang ke sini…” kata Miu.

Yuya mengagguk… “Aku tahu tak lama lagi mereka akan datang…” katanya ringan, membuka kaleng minuman ringan yang ia bawa, menyerahkannya pada Miu.

Miu menerimanya, hanya memandang ke pemandangan kota Tokyo yang cukup indah dari atas situ.

“Bagaimana trainee kali ini?” tanya Miu akhirnya, setelah keheningan yang cukup lama.

Yuya tersenyum jahil, “Ada yang menarik perhatianku…hehehe~”

Miu tertawa, “kau tak berubah ya… dulu suster…sekarang calon dokter?”

“Eh..aku kan tidak mengganggu mereka…” elak Yuya membela diri.

“Aku tahu… berhentilah main – main… kau seharusnya sudah menikah…”, kata Miu meninju pelan bahu Yuya.

“Harusnya kata itu aku alamatkan padamu Nishikawa Miu…”

“Hahahaha~”

“Selamat siang Yabu-sensei…” kata Daiki sopan, setelah mereka berhasil bertemu dengan orang yang mereka cari di ruangan dokter.

“Silahkan duduk…” ucap Yabu, “Mau minum apa? Kopi? Atau teh?” tawar Yabu sopan.

“Baiklah… aku tak ingin berbasa – basi… ini mengenai kasus…”

“Maaf… Arioka-san, kan?” kata Yabu memotong pembicaraan Daiki.

“Ya?”

“Sebentar lagi direktur akan datang… mohon tunggu hingga ia datang.”, jelas Yabu.

Daiki mau tak mau mengagguk.

Tak lama, seseorang masuk dengan setelan jas dokter pula, tapi dokter itu sudah sangat tua.

“Maaf..saya telat..” kata dokter itu.

“Baiklah… langsung saja…” kata Hikaru.

^Nishikawa’s place… current time: 06.14 PM^

“Fu-chan… kau benar – benar tidak akan pulang?” tanya Miki yang mendatangi Saifu yang sedang duduk di depan laptopnya seperti biasa.

Saifu menggeleng, “Tidak sebelum mahluk itu menjemputku sendiri…”

“Kau tak boleh memanggilnya seperti itu…” tegur Miki.

Saifu menatap Miki, “Ia hanya meneleponku sekali, menyuruhku pulang, setelah itu mana? Ia tak ada sama sekali…”

Tepat saat Saifu diam, ponselnya berbunyi.

“Halo?” angkat Saifu tanpa perl repot melihat siapa yang menelepon.

“TAKAKI SAIFU!! Kau mau membuatku mati khawatir?” seru orang diseberang.

Mata Saifu terbelalak, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Niichan tak menjemputku… mana mau aku pulang sendiri?!” balas Saifu tak mau kalah.

“Aku ada di bawah. Cepat kemasi barang – barangmu, atau aku terpaka menyeretmu keluar!!” ancam Yuya.

“Kyaaa~ Nii-chan ada dibawah…” keluh Saifu pada Miki.

Saifu segera mengemasi barang – barangnya, lalu gadis itu turun, di dapatinya Yuya dan Meru sedang mengobrol.

Yuya menyadari kedatangan Saifu lalu refleks berdiri, “Takaki Saifu… aku benar-benar tak habis pikir… kau mau membuatku jantungan?? Hah??!!”

Saifu tak mampu menjawab apapun, tertunduk.

“Sudahlah Yuya… memarahinya hanya akan memperburuk keadaan.. lagipula ia kan hanya kabur ke rumah kami…” jelas Meru menenangkan Yuya yang masih dalam keadaan emosi.

“Ayo pulang Saifu! Maaf adikku merepotkanmu terus Meru…” ucap Yuya sambil  mengambil tas milik Saifu.

“Neechan… makasih…” kata Saifu saat Yuya sudah memunggungi mereka.

Meru mengangkat jempolnya.

“Katakan kau menyesal…” kata Yuya di perjalanan pulang, di dalam mobil.

Saifu hanya diam.

“Katakan kau…”

“Aku menyesal!!!” ujar Saifu acuh.

“Aku meneleponmu, memintamu untuk pulang tapi kau mengabaikannya… kenapa?” tanya Yuya dengan nada tegas, nada yang selalu keluar saat Yuya benar-benar marah.

Saifu memperhatikan jalanan diluar, malas sekali rasanya harus berdebat soal ini dengan kakaknya yang tak pernah mau mengerti dirinya.

“Fu-chan…” suara Yuya melembut, “Aku tak bisa terus disampingmu.. kau paling tahu hal itu… jadi, maafkan Nii-chan ya…”

“Aku cuma minta waktu Nii-chan dalam seminggu itu satu hari saja…” Saifu menghapus air matanya yang mulai menetes.

“Wakatta… akan kuusahakan…” jawab Yuya membelai pelan kepala Saifu, “Gomen…”

^Restaurant…current time: 07.45 PM^

Miu berusaha tak melihat ke arah Yabu dan berpura – pura berkonsentrasi dengan makanannya. Sungguh sulit berbuat seperti itu ketika orang yang kau hindari justru memerhatikanmu dengan seksama.

“Tak usah gugup Miu-chan…”, kata Yabu, membuat Miu menoleh menatapnya.

“Aku tidak gugup…” Miu mencoba menenangkan dirinya, “Yabu-senpai~” akhirnya ia bisa berkata demikian.

Yabu tersenyum, “Makanlah yang banyak… kau tampak lebih kurus akhir – akhir ini..”

“Sedikit kecapekan..” jawab Miu yang mulai bisa mengendalikan dirinya dari kegugupan. “Kudengar tadi… polisi datang… benar Senpai??”

“Hmmm~ begitulah…sudah saatnya juga. Membuat kasus ini berlarut – larut pun tak ada gunanya..”

“Lalu?”

“Aku belum tahu pasti…. ini masih tahap penyelidikan..” jelas Yabu.

Miu mengagguk-angguk mengerti.

“Lagipula Miu-chan… aku bukan mau menceritakan itu disini..”

“Hah?” Miu tahu pasti ini akan terjadi cepat atau lambat.

“Senpai…kau pernah bilang aku boleh menjawab kapan saja aku siap..”

Yabu mengangguk pelan, “Tapi kali ini aku bukan mau meminta jawabanmu…”

Miu menatap Yabu, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Yabu.

“Kali ini aku malah membawa pertanyaan baru untukmu… karena setelah aku pikir, aku sama sekali tak perlu pacar saat ini.”

“Maksud Senpai?”

“Aku butuh dirimu sebagai istriku… bukan pacarku…”

Seketika Miu terbatuk, seakan makanan yang baru saja ia telan naik kembali membuatnya tersedak. Kini bahkan tak tahu ia harus senang atau sedih.

=====================

TBC~

KOMEN PLEASE kawan!!! ^^
Arigatou…
Saia akan melanjutkan atau gak tergantung anda sekalian…
Btw, maaf jika ada karakter yang belum keluar banyak…
Author akan berusaha bikin mereka lebih banyak muncul di chapter selanjutnya…gantian yaaa!! ^^
COMMENTS ARE LOVE
Please don’t be a silent reader… #kecup

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s