[Multichapter] Love Chains (Chapter 2)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 2
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13 aja deh
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 2 ~
 cover bunda 4

^Sora’s apartement… current time: 07.30 PM^

“Yah…Rii-chan tak akan pulang sepertinya malam ini,” keluh Sora sambil bergelung di depan TV, Asuka yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Sora.

“Maa~ dia ER lagi??”

“Iya…” jawab Sora singkat, “Asuka-chan… sudah memikirkan akan ambil spesialis apa?” tanya Sora yang kini sudah duduk.

Asuka ikut duduk sambil masih mengeringkan rambutnya.

“Hmmm..apa ya? Spesialis anak? Entahlah.. aku sama sekali tak yakin,” jawab Asuka, “Kau sedang bingung kah? Bukannya bedah itu keinginanmu?”

Sora mengangguk cepat, namun tampak tak yakin.

Ponsel Asuka berbunyi, gadis itu segera mengambilnya dan menyadari sudah ada dua pesan baru.

“Asuka-chan enak sudah punya Yama-chan…” keluh Sora manyun menatap Asuka yang sibuk dengan ponselnya.

“Loh? Apa hubungannya?” Asuka mengerenyitkan dahi, terkadang sahabatnya itu sangat sulit ditebak, “Lagipula aku dan Yamada hanya sahabat.”

“Tak ada hubungannya sih.. aku hanya merasa kesepian, tidak ada lagi Nii-chan yang bisa mendnegarkan curhatku” jawab Sora memeluk lututnya, matanya belum berpindah dari TV.

Asuka terdiam sesaat, Sora menyadari ia telah salah ucap lalu tersenyum canggung pada Asuka, “Gomen…” bisik Sora cepat.

Asuka mendesah pelan, “Kan punya Keito..” godanya sambil tertawa, mencoba menetralkan suasana.

“Yeah~ andaikan dia memang punyaku,” jawab Sora asal.

^Tokyo Hospital.. current time: 09.37 PM^

Riisa menguap lebar, kemarin saja ia sudah terserang insomnia, malam ini malah harus jaga di ER, tubuhnya terasa sangat lelah, tapi ia merasa tidak akan bisa tidur.

“Rii-chan!!” tegur seseorang, Riisa menoleh dan mendapati Miu yang menyapanya.

“Nyuu~ kau membuatku kaget!” Riisa mengucek matanya, mencoba terjaga selama sisa malam ini.

“Melamun malam – malam seperti ini tidak baik,” ujar Miu yang kini memeriksa file yang ia bawa.

“File siapa?” tanya Riisa pelan – pelan.

“Pasien di ruang paviliun..”

“Morimoto-san?”

Miu mengangguk, “Setengah kehidupannya ia habiskan disini..” jelas suster itu, selama ia bertugas cukup lama disini beberapa kali Ryutaro harus bulak-balik untuk perawatan.

“Aku sudah pernah mendengarnya…” jawab Riisa.

“Semuda itu, dan harus terbaring di rumah sakit…”

Riisa tak menjawab, ikut melihat file milik Ryutaro, “Ia selalu protes jika aku masuk ke kamarnya..”

“Tenang saja.. aku sudah menggantimu dengan suster lain. Kau akan mengurusi orang lain,” kata Miu lalu menutup file tersebut, beranjak ke ruangan lain.

“Kemana Miu-san?”

“Yuya ingin bicara denganku…” jawabnya sambil menyimpan file itu kembali di tempatnya, mengambil file lainnya dan berjalan ke arah ruang dokter.

Riisa heran, semalam ini dan dokter Yuya ingin bicara dengan Miu? Ada hubungan apa mereka sebenarnya?

“Maaf…tadi aku sibuk dengan operasiku,” kata Yuya sesaat setelah Miu masuk ke ruangannya.

“Iya… aku tahu. Saifu baik – baik saja..” jelas Miu sambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

“Terima kasih… kau sudah banyak membantuku…” Yuya menghembuskan nafas berat, meninggalkan adiknya di rumah sendirian, bukanlah keinginannya, tapi ia juga tak bisa berbuat apapun, tugas memaksanya melakukan itu.

“Fu-chan hanya kesepian Yuya…” ujar Miu menambahkan, menjelaskan keadaan gadis itu.

“Tapi, apa dia harus jadi berandalan seperti itu?” keluh Yuya menopang dagunya, menatap kosong ke layar laptop yang sejak tadi menyala.

“Ia bukan berandalan… ia adikmu…” potong Miu.

“Yah…aku tahu…” jawab Yuya pelan.

“Ia akan segera dewasa, kau tak perlu terlalu mengkhawatirkannya,” ucap Miu yang kini beranjak ke pintu.

“Kuharap demikian…” Yuya menatap Bel ER yang semalaman ini tidak berbunyi, “Tidak ada kasus malam ini…” kata Yuya tiba – tiba.

Miu tertawa kecil, “Bodoh kau!!! Bukankah bagus jika begitu?”

^Nishikawa’s place… current time: 10.45 PM^

“Fu-chaaann??!!” Meru kaget kedatangan tamu tak diundang selarut ini.

“Meru-nee!!!” teriak Saifu memeluk wanita yang ia sebut Neechan itu.

“Seharusnya kau tidak disini malam – malam begini??!!” tegur wanita itu.

Saifu menggeleng, “Aku tak mau pulang!!” setelah seharian di kantor polisi Saifu pulang bersama Miu tapi lalu kembali keluyuran hingga larut malam.

Langkah cepat terdengar, “Fu-chaaannn?!!” seru Miki kaget.

Saifu masih menangis, Miki menemaninya.

“Sudahlah Fu-chan…kau jangan nangis terus.. aku juga jadi ingin nangis…” kata Miki sambil menggenggam lengan sahabatnya itu.

“Tapi…tapi Miki…bahkan ia tidak menjemputku saat aku di kantor polisi tadi pagi??!!” serunya kesal, mengingat bagaimana ia harus menunggu di kantor polisi begitu lama, lalu yang muncul malah Miu, bukan Yuya.

“Fu-chan…kenapa kau melakukan itu?” kali ini ucapan itu keluar dari Meru.

“Tapi Neechan…”

“Tapi kau tak perlu melakukannya… kau tahu kan kakakmu itu sibuk sekali?”, potong Meru lalu duduk di samping Saifu, menyerahkan secangkir teh hangat.

“Iya Fu-chaaann…” kata Miki ikut menimpali.

“Untukmu enak Miki-chan… Meru-nee selalu ada untukmu, Miu-nee pun tak pernah sampai mengacuhkanmu kan?” protes Saifu pada Miki.

Miki tak bisa menjawab. Dia memang beruntung di kelilingi dua kakak wanitanya yang selalu ada untuknya walaupun mereka sibuk, tak menjadikan kedua kakaknya itu mengacuhkan dirinya.

“Apa aku harus jadi sakit jika ingin Yuya-nii mengkhawatirkan aku?!” rengek Saifu tiba-tiba.

PLAKK!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Saifu.

“Meru Neechan…” ucap Saifu tak menyangka, matanya membulat menatap Meru dengan kaget.

“Kau tahu Fu-chan…kau tak pantas berkata seperti itu!!” serunya kesal lalu meninggalkan Saifu bersama Miki.

“Fu-chan…kau jangan menyebutkan apapun tentang sakit….” ucap Miki setengah berbisik, “Kau tahu kan kakakku itu sangat sensitif dengan hal – hal seperti itu.”

Tentu saja mengingat Ibu mereka, meninggal karena sakit, Ayahnya yang tak tahan tanpa keberadaan Ibu mereka, ikut jatuh sakit setelahnya, meninggal juga setelah tak kuat dengan penyakitnya. Meru selalu ada disana ketika orang tuanya menderita, Miu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sementara Miku saat itu masih kecil.

^Tokyo University.. current time: 09.45 AM^

“Ohayou~” sapa Sora pada Keito.

“Mukamu jelek sekali…” kata Keito menyentuh pelan pipi Sora.

Sora tiba-tiba menguap, “Ngantuknyaaaa~”

Keito secara refleks menutupi mulut Sora, “Gadis macam apa kau, jam segini masih mengantuk??”

“Bawel…” protes Sora setelah berhasil menyingkirkan tangan Keito dari mulutnya.

“Sora-senpaaii!!” panggil seseorang, Sora tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya.

Asuka sedang berjalan bersama Yamada menghampiri mereka berdua.

“Asuka-chaaaannn~” Sora menghambur memeluk Asuka dengan mata setengah tertutup.

Keito menarik jaket yang Sora kenakan, “Berhenti seperti itu… kita harus masuk kelas,”

“Keito-kuuunnn~” protes Sora menatap Keito dengan kesal.

Yamada tertawa melihat kelakuan Sora yang berlebihan seperti itu.

“Sora-senpai…kau terlihat berantakan sekali..” ucap Yamada sambil berjalan menuju kelas.

Sora tak menjawab, kepalanya masih pusing, matanya setengah tertutup, membuat Keito harus menggandengnya menuju kelas.

“Kau tahu Yamada… Asuka itu hebat sekali…” katanya sambil berbisik yang dibuat-buat, padahal semua orang bisa mendengarnya.

“Hah?” Asuka bingung.

“Yah… kau bisa membangunkan cewek aneh ini, itu sudah luar biasa…” ucap Keito dengan santai, lalu mencoba menjauh dari Sora.

“Okamoto Keitoooo!!!!” teriak Sora lalu berlari mengejar Keito yang sudah duluan melarikan diri.

“Asuka…chan??” panggil Yamada pada Asuka, Yamada belum terbiasa dengan panggilan itu. Yamada memang seharusnya bukan mahasiswa tingkat akhir, dilihat dari umurnya, Yamada satu tahun dibawah mereka. Namun saat SMA, karena kepintarannya pemuda itu hanya memerlukan waktu dua tahun, maka kini mereka berada di angkatan yang sama.

“Ya?” jawab Asuka refleks.

“Siang ini ada acara?” Yamada terlihat sangat gugup. Demi apapun, Yamada mungkin ber IQ tinggi, tapi dalam masalah seperti ini ia merasa sangat bodoh.

Asuka terdiam, mengambil ponselnya, “Aku harus bimbingan siang ini… ada apa?” tanyanya.

Yamada menggeleng, segala kata-kata yang sudah ia siapkan kembali tertelan tak berbekas, “Tidak ada apa – apa…” kata Yamada pada akhirnya.

Sesampainya di kelas, Yamada dan Asuka segera menghampiri tempat Sora dan Keito sudah duduk. Sora terlihat masih sibuk mengacak – acak rambut Keito dan Keito masih sempat menarik rambut sebahu milik Sora.

“Bisa tenang sedikit?!” kata seseorang di bangku depan.

Sora berhenti, melihat siapa yang bicara padanya.

“Hah?”

“Kalian terlalu berisik… ini ruang kuliah… bukan TK…” protesnya lagi.

Cowok berkacamata itu sedang membaca buku tebal di hadapannya.

“Sumimasen deshita…” ucap Sora lalu melepaskan tangannya dari kepala Keito.

“Kubilang juga jangan berisik…” ucap Keito, disambut cubitan keras di pipi oleh Sora yang membuat pemuda itu menjerit tertahan.

^Tokyo hospital… current time: 10.03 AM^

Nakashima Miyako menarik nafasnya dalam – dalam. Ternyata bekerja di Rumah Sakit besar seperti ini sangat melelahkan, sejak pukul setengah delapan pagi tadi, ia sama sekali belum duduk, terus bulak – balik di sana. Jauh berbeda dengan klinik kecil yang dulu ia tempati.

Miyako menutup matanya, dan meyakinkan dirinya sendiri kalau ini adalah keputusannya, kesempatannya untuk berkarier di tempat yang bagus, dengan gaji yang bagus pula. Pengalamannya juga semakin bertambah, sehingga Miyako meyakinkan dirinya kalau ini belum seberapa, baru dua jam saja ia disana.

“Huaaaa~” Miyako menoleh, didapatinya seorang suster dengan wajah kusut.

“Nakashima Miyako desu…” kata Miyako segera membungkukan badan pada suster itu.

Suter itu menguap, “Yanagi Riisa desu~” jawabnya pelan.

“Rii-chan!! Tolong bantu Takaki-sensei di kamar 10 C…” perintah seorang suster lain.

“Haiii~ wakatta!!” jawab Riisa cepat.

Riisa menepuk pipinya dengan keras beberapa kali, seperti menampar diri sendiri.

“Kau Miyako…ikut dengan Riisa…”

“Iya suster Nishikawa!!” jawab Miyako cepat, menyusul Riisa yang sudah duluan berlari.

“Mohon bantuannya suster Yanagi…” kata Miyako.

Riisa memandang Miyako sekilas, “Maa~ iya… baiklah…”

Sesampainya di ruang 10 C, seorang pasien mengamuk, Yuya sedang memegang tangan pasien itu, yang coba berontak.

“Kato-san… dengar saya? Anda harus tenang…” seru Yuya menekan tubuh Shige yang berada di atas kasur itu.

Pasien bernama Shige itu terus berontak, tenaganya cukup kuat untuk hampir melepaskan genggaman Yuya di lengannya.

“Ambilkan obat penenang…” perintah Yuya.

Riisa bergerak cepat memasukkan cairan obat tersebut pada suntikan dan menyuntikkannya pada infus Shige. Miyako hanya bisa mematung, tak siap dengan keadaan seperti ini.

Badan Shige semakin lemas, tak lama obat penenang itu menunjukkan reaksi terhadap tubuhnya. Yuya berbalik, wajahnya terdapat luka sayatan kecil di wajahnya sepertinya terkena infus milik Shige yang tadi sempat hampir terlempar dari tempatnya.

“Dokter…” Riisa menghampiri Yuya, khawatir melihatnya.

“Aku tak apa – apa…” elak Yuya sambil menjauh dari Riisa dan Miyako, “Bereskan semuanya…” ucap Yuya lirih.

Miyako masih diam, tak berani bergerak dari tempatnya, sementara Riisa membereskan kamar itu yang tampak berantakan setelah peristiwa mengamuknya Shige.

Miyako melirik ke data pasien yang terdapat di ranjang pasien. Tertulis rapi di situ ‘Kato Shigeaki…Obsessive-Complusive & Mania-Depresi…’

^Tokyo High School…current time: 10.30 AM^

Saifu yang mengantuk karena semalaman tidak tidur menelungkupkan wajahnya di meja. Ia tahu semalam kakaknya tidak pulang, sehingga ia sendiri tidak merasa aneh jika kakak semata wayangnya itu tidak mencarinya sama sekali.

“Fu-chan!! Jangan tidur~” bisik Miki yang duduk di sebelahnya, mencoba membangunkan Saifu yang setengah tertidur.

“Hmm~” gumam Saifu lalu menengadahkan wajahnya.

“Kau chatting lagi ya semalam?” tanya Miki yang sudah hapal kelakuan sahabatnya itu.

Saifu mengangguk, lalu menguap lagi.

“Setidaknya jangan tidur selama pelajaran matematika…kau mau dimarahi hah?” bisik Miki lagi.

“Miki-chan,” ucap Saifu pelan, Miki menatap Saifu bingung, “Kau ditunjuk tuh…” sela Saifu.

Miki menoleh, dan mendapati gurunya di sebelah bangkunya, “Nishikawa-kun… selesaikan soal itu di depan…”

“Huwaaaa~” seru Miki kesal.

=Current time: 12.05 PM

Masih melihat ke arah ponselnya, Miki yakin e-mail itu bilang kekasihnya akan menemuinya.

From: Chinen-senpai

Subject: (no subject)

Miki-chan~

Tunggulah di perpus…aku segera kesana..

Chinen Yuuri memang kakak kelasnya. Kini Chinen sudah kelas tiga, sedangkan dirinya baru kelas dua, mereka bertemu di Rumah Sakit Tokyo. Saat itu Miki yang memang rutin membantu kakaknya, terkadang jika makan siang seperti sekarang, bertemu Chinen yang datang menemui kakaknya, dokter Opi.

Miki melirik lagi jam tangannya, ia harus segera ke kantin kalau tak mau Meru marah lagi. Kebetulan memang sekolahnya dekat dengan Rumah Sakit Tokyo, sehingga ia bisa membantu kakaknya.

“Gomen…aku telat..” suara itu kontan membuat Miki tersenyum.

“Senpai~” panggil Miki dengan manja.

“Miki-chan…aku ingin bicara sesuatu…” kata Chinen memulai dengan sedikit gugup.

Miki tak menjawab, hanya memandang Chinen dengan antusias.

“Aku…kau…hmmm~”

Tak pernah Miki melihat Chinen se gugup ini.

“Bisakah kau menungguku?” kata pemuda itu akhirnya, meraih tangan Miki, menggenggamnya.

“Hah?” Miki tak mengerti apa itu maksudnya. Gadis mungil itu mencoba bertanya lewat matanya.

“Maksudku…kita jangan saling menghubungi dulu…aku butuh waktuku sendiri,” ucap Chinen.

“Eh?” Miki yakin ia tak salah dengar, tapi ia berharap sekarang ini hanyalah mimpi di siang bolong. Mimpi buruk yang ketika ia bangun semuanya ternyata hanya sekedar bunga tidurnya.

Chinen menggenggam tangan Miki dengan lebih erat, “Jangan salah sangka, bukan berarti aku tidak mencintai Miki-chan… tapi, aku butuh waktuku sendiri untuk saat ini…”

Miki tertunduk, air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya. Chinen menarik Miki ke dalam pelukannya, “Gomen….” bisiknya pelan.

Miki masih terus mengusap air matanya ketika ia meninggalkan perpusatakaan. Ia tahu Chinen hanya bilang untuk menunggunya, tapi entah kenapa rasanya sangat sedih. Selama ini Chinen selalu berada di dekatnya tiba-tiba harus menjaga jarak rasanya pasti aneh sekali.

“Nishikawa-san, kan?”

Miki berhenti, menatap si sumber suara yang ternyata jauh lebih tinggi darinya sehingga ia perlu mendongak untuk menatap wajahnya. Matanya tak terlalu fokus karena banyaknya air mata yang mengalir dari matanya.

“Aku Nakajima Yuto…masih ingat aku?”

Miki tak bisa mengingat siapa pemuda jangkung itu ketika tangan si pemuda refleks mengusap pelan air mata Miki, “Nanka atta no?”

Miki menggeleng dan meninggalkan pemuda bernama Yuto itu dengan perasaan aneh. Ia tak merasa kenal dengannya.

^Canteen at Tokyo Hospital… current time: 12.22 PM^

Meru kembali mengecheck pintu masuk kantin, adiknya Miki sama sekali belum kelihatan batang hidungnya. Meru mulai ingin mengamuk, bagaimana ini? Jam makan siang kan sangat ramai, kenapa pula adiknya itu belum datang?

“Berhenti membuat muka seperti itu Meru-chan!!”, seru seseorang.

Meru menatap orang itu, “Miki belum datang Taipi!! Kita tak bisa melayani orang sebanyak itu hanya berdua kan?” seru Meru kesal.

“Smile…smile Meru-chan…tenang saja… aku bisa multi-tasking kok…” Fujigaya masih tersenyum, sambil memasak.

“Huaaa~ menyebalkan…” Meru tak habis pikir, Fujigaya masih bisa tertawa dalam keadaan seperti ini.

Meru keluar dari dapur untuk mencatat pesanan, ketika Miki masuk dengan mata sembab, ditemani Saifu.

“Kau telat!!” seru Meru melipat tangannya di dada, ia tahu ada sesuatu yang terjadi pada Miki, tapi untuk saat ini, ia harus mengutamakan pekerjaannya.

“Gomen Neechan…”

“Ngapain kau disini Fu-chan?” tanya Meru, seakan baru sadar ada yang ganjal ketika Saifu datang.

“Mulai hari ini, aku juga akan ikut bantu – bantu disini Neechan…” kata Saifu mantap. Keputusannya kali ini, demi kakaknya, ia ingin bertemu kakaknya.

=current time: 12.30 PM

Miu masuk ke kantin, saatnya makan siang, dari malam ia sama sekali tak menyentuh makanan.

“Miki-chan??” Miu mendapati adiknya itu melamun di pinggir meja dapur.

Miki menoleh, memandang kakaknya.

“Kau baik – baik saja? Kau tampak pucat…” kata Miu.

“Aku baik – baik saja Neechan…” satu hal yang tak pernah Miki lakukan, ia tak mau membuat kakak pertamanya itu khawatir.

Miu membiarkan Miki berlalu, ia tak mengerti, tapi sepertinya Miki memang tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada dirinya. Miu mengangkat bahu, menghampiri Meru.

“Makananku seperti biasa Meru…” katanya pada Meru.

“Iya Neechan…” jawab Meru lalu masuk ke dapur.

“Makanan biasa?Boleh ku tahu apa itu?” sebuah suara membuat Miu refleks menoleh.

Saat menoleh, Miu mendapati Yabu Kota berdiri di sebelahnya.

“Ah dokter…selamat siang…” sapa Miu dengan canggung.

“Selamat siang suster Nishikawa… tak usah memanggilku se formal itu…” kata Yabu terkekeh pelan.

Setelah mengambil makanan, mereka duduk di satu meja. Miu tak bisa menutupi kegugupannya. Yabu yang juga dokter berbakat itu pernah menyatakan perasaan padanya, Miu saat itu belum bisa menjawab apapun, sehingga saat ini, justru mereka sering canggung ketika bertemu.

“Yabu-kun~ panggil aku Yabu-kun seperti dulu Miu…” kata Yabu menatap Miu yang kini hanya bisa menunduk.

“Gomen…” Miu hanya bisa berkata begitu karena kegugupan menguasai dirinya.

“Kau tak perlu minta maaf… lagipula ingat perkataanku dulu? Jawablah ketika kau sudah yakin bisa menjawabnya… Aku tak ingin membuatmu terbebani dengan perasaanku..” kata Yabu masih memandangi Miu dengan intens.

Miu akhirnya tersenyum memandang Yabu, sejak awal ia datang ke rumah sakit ini, ia selalu diperhatikan oleh dokter itu.

Ponsel di saku kiri jas dokter Yabu berbunyi, ponsel itu dimiliki semua dokter dan suster di rumah sakit itu. Bukan ponsel pribadi, tapi khusus untuk saling menghubungi di rumah sakit.

“Opichi…bisakah kau menghandle dia sebentar? Aku segera kesana…” katanya sesaat setelah mengangkat telepon itu.

“Maaf Miu-chan…”

Yabu bergegas meninggalkan Miu tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Ini salah satu hal yang membuat Miu ragu menerima Yabu. Pria itu terlalu sibuk.

^Tokyo Police Station… current time: 06.30 PM^

Daiki semakin mengerenyitkan dahinya, ia tak habis pikir dengan kasus ini. Seharusnya kasus ini masih harus di usut, tapi entah kenapa kasus ini ditutup dua tahun lalu.

“Hei Dai-chan~ kau tahu… aku fikir ini masalah biasa, bukan pembunuhan seperti yang keluarga korban katakan…” kata Hikaru.

“Sebentar Hikaru…ini tidak benar. Seakan data ini telah dimanipulasi,” kata Daiki masih memandang kertas itu.

“Kita harus mencari tahu…” putus Hikaru, “Itu kan tugas kita?”

“Yah~ kita bisa ke rumah sakit itu jika kau mau,” sambung Hikaru lagi.

“Kita harus bisa menemukan dokter dan suster yang bertanggung jawab saat itu…” kata Daiki lagi.

“Baiklah…” Hikaru berdiri, mengambil jaketnya.

“Kuharap tidak lebih dari seminggu, kita sudah bisa ke Rumah Sakit itu.”

“Sabar Dai-chan… kasus kita masih banyak..” tunjuk Hikaru pada berkas yang ada di mejanya.

“Iya aku tahu..” Daiki memandang Hikaru yang sedang beres – beres, tampak akan pulang, “Pulang?”

“Ya…Istriku ulang tahun…” jawabnya singkat lalu melambai meninggalkan Daiki.

===================

To Be Continued~

Maaph chapter dua juga masih gaje…hahahaha~
Komen please…^^
COMMENTS ARE LOVE~
Please Don’t Be A Silent Reader….
Aku cinta komen… BANZAI!! hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s