[Multichapter] Love Chains (Chapter 1)

Title        : Love Chains
Type          : Multichapter
Chapter     : 1
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13 aja deh
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE CHAINS
~ Chapter 1 ~
 cover bunda 9

“Sora!!! Bangun!!! Bangun!!!” teriak Riisa dengan suara setengah serak. Entah kenapa teman sekamarnya ini malah sama sekali tak bergerak.

“Hmm~” jawab Sora tampak enggan membuka matanya. Alih-alih bangun, Sora malah menggeliat, meneruskan tidurnya.

Riisa kembali menggoyang tubuh Sora, “Kau sudah telat!! Cepat bangun!!!!”, teriaknya lagi.

“Iya da~ Iyaaaa~” katanya, Riisa pasrah dan membiarkan sahabatnya itu bergelung di kasur.

“Cepat bangun!! Bukankah kau ada kuliah pagi?? Sora..Ah!! Aku harus segera pergi..” kata Riisa setelah melihat ke jam tangannya, “Semoga kau cepat bangun.”, katanya lalu membereskan seragam putih – putihnya. Meninggalkan Sora sendirian.

Sementara itu Sora menatap ke meja sebelah kasurnya, merasa sedikit pusing karena begadang semalam membereskan tugas-tugasnya yang menumpuk.

Sora akhirnya mampu bergerak, matanya segera menemukan sebuah tulisan dari Riisa.

Aku meninggalkan sarapanmu di meja…
🙂 Ganbatte ya hari ini!!

-Riisa-

Sora tersenyum, sosok Yanagi Riisa memang lebih dewasa darinya. Mungkin karena Riisa lebih lama tiggal sendiri daripada dirinya.

^Tokyo Police Station^

“Kau mengaku saja!! Sudah berapa kali kau mencuri?” teriak Daiki dari balik meja interograsi.

Daiki Arioka, polisi muda yang cukup berprestasi dan disegani di Tokyo. Merasa kerepotan harus mengurusi gadis muda pencuri di mini market. Sungguh bukan hal yang ia inginkan.

Seorang wanita muda yang ditanyai hanya menggeleng tak ingin menjawab apa yang ditanyakan Polisi itu. “Sudah kubilang..aku tak mencuri…” gadis itu tak merasa takut sama sekali, apalagi tampilan luar si polisi yang sama sekali tidak sangar, malah terkesan imut.

Daiki menggeram tanda tak sabar, “Kau masih mengelak??? Hah??!!”

“Tapi aku tidak mencuri… aku berniat membayarnya kok…” elak wanita muda itu lagi.

“Membayar artinya membawanya ke kasir.. kau memasukkannya ke dalam tas mu!!!” teriak Daiki lagi.

Ia tak mengerti kenapa pagi ini sudah ada yang mencoba mencuri di mini market, seorang gadis pula.

“Pagi!!” teriak seseorang yang membuat Daiki memalingkan muka.

“Hai~” jawab Daiki pelan.

Pria yang juga partnernya itu tersenyum, “Sudah ada kriminal pagi seperti ini?” katanya lalu duduk.

“Yah..dan dia belum mengaku…” Daiki kembali menatap gadis dihadapannya, “Ah ya~ Hikaru… berkas kasus kemarin aku taruh di sana…” kata Daiki menunjuk sebuah meja di sudut ruangan.

Hikaru beranjak, “Ya terima kasih…” katanya lalu menghampiri gadis itu, “Mengaku sajalah… kau memperberat pekerjaan kami.. tahu??!!”.

Gadis itu mendengus kesal dan tak menggubris perkataan Daiki.

“Siapa namamu tadi?” tanya Daiki yang berada di depan PC, mengetik data gadis itu.

“Takaki Saifu…”

^Tokyo hospital… current time: 07.45 AM^

“Selamat pagi Dokter…” sapa Riisa ketika masuk ke lift, dan menemukan dirinya satu lift dengan dokter Yuya.

“Pagi suster…” jawab Yuya seadanya.

Riisa merasa dirinya sedikit gugup ketika keluar dari lift itu. Sejak lama dirinya memang menyukai dokter Yuya. Ia bahkan tak berani menatap Yuya yang kini berjalan beriringan dengannya.

“Ah ya~ hari ini aku jaga ER… kau juga ya suster Yanagi?” tanya Yuya mengecheck PDA nya yang berada di saku jas putihnya.

Riisa mengangguk, “Iya dokter…”

“Hmmm~ Yoroshiku ne..” katanya lalu tersenyum dan berbelok ke kantornya.

“Hai sensei…” ujar Riisa masih sempat menjawab.

Riisa tahu kesempatannya bersama Yuya dibawah tiga puluh persen. Tidak pernah ada yang bisa tahu Yuya berpacaran dengan siapa. Diantara dokter lainnya, Yuya yang termasuk salah satu dokter senior memang sedikit misterius. Tapi itu justru yang membuat Riisa penasaran padanya.

^Tokyo University… current time: 8.20 AM^

“Kyaaaaa~” Keito berteriak ketika seseorang menabraknya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya orang yang menabraknya itu.

Keito memonyongkan bibirnya, “Kau yang harusnya ku tanya… ngapain kau lari – lari gitu?” tanyanya kesal.

“Aku sudah telat… sudah telat….” katanya panik.

Keito menarik lengan gadis yang sedari tadi tampak panik, “Jadwal kuliah anatomi di pindah…lihat…” katanya menunjukkan sesuatu di papan pengumuman.

Gadis itu tampak kesal, “Kenapa kau tidak memberitahuku? Kalau tahu begini, aku kan bisa tidur dulu..” serunya kesal.

Keito memukul pelan kepala gadis muda itu, “Sora…handphone mu tidak nyala semalaman… bagaimana aku bisa menghubungimu?”

“Hah??” Sora segera sadar dan mengeluarkan ponselnya yang ternyata mati, ia lupa mengcharge baterai nya. “Hehe…” tawa Sora menatap Keito yang masih menyentuh kepalanya.

“Bodoh… ayo sarapan saja dulu…” ajak Keito menarik lagi lengan Sora.

Sora hanya pasrah mengikuti sahabatnya itu.

“Lalu kenapa kau juga ada di kampus pagi – pagi begini?” Sora heran juga, kalau memang tidak ada kuliah pagi, kenapa Keito sudah ada di kampus sepagi ini.

“Aku ada perlu di perpus, dan aku malas berkutat dengan banyak orang jika perpustakaan sudah penuh,” jawabnya tanpa melepaskan tangannya.

Keito dan Sora yang sudah bersama sejak mereka SMA, tampak tidak canggung sama sekali untuk berpegangan tangan atau saling merangkul. Mereka sudah terlalu sering bersama, hingga mereka sama – sama masuk jurusan kedokteran, sehingga rasanya sudah seperti saudara sendiri.

“Keito…kau sudah memikirkan akan mengambil spesialis apa?” tanya Sora.

“Hmmm… entahlah..aku masih belum yakin… Sora-chan sendiri?” Keito menggandeng tangan Sora memasuki kantin kampus yang masih sepi.

Sora menggeleng, tampak bingung dan serius, “Apa aku benar harus ambil bedah? Aku tak yakin…”

Inilah dilemma mahasiswa tingkat tiga yang sebentar lagi harus mengambil spesialisnya. Sebentar lagi mereka akan di tempatkan di sebuah rumah sakit untuk trainee sementara, dan untuk mereka, seharusnya mereka akan ditempatkan di Tokyo Hospital.

“Ah… aku bingung… bagaimana ini?” keluh Sora yang masih mengaduk – aduk makanannya tanpa ia makan. Pandangannya kosong, pikirannya melayang kemana-mana.

Keito menghentikan gerakan tangan Sora, “Berhenti…kau membuatku pusing…makanlah yang benar…”

“Kau dengar aku tidak? Bagaimana ini?? Huhu~” Sora masih mengeluh.

“Kau mau aku menyuapimu? Hah?” Keito tidak menggubris perkataan Sora.

“Okamoto Keito!!!” teriak Sora akhirnya, “Kau mendengarkan aku atau tidak?”

“Dengar Sora… kurang dari dua minggu kita akan berada di Rumah Sakit sebenarnya, saat itulah kita mungkin akan tahu kita ingin ada di mana…” jawab Keito akhirnya.

“Berhenti mengacuhkan aku!!” protes Sora, mengerucutkan bibirnya kesal.

“Hanya bila kau makan dengan benar.. mengerti??” balas Keito menatap Sora dengan tajam.

Sora akhirnya memakan sarapannya itu, “Jahat…” bisiknya lebih untuk  dirinya sendiri.

“Kapan aku baik padamu?” kata Keito lalu tersenyum pada Sora yang masih saja cemberut.

“Huuuu~ dasar Keito!” serunya tambah kesal.

Keito mengusap pelan sudut bibir Sora, “Makan pun tak bisa tenang ya?” cibir si pemuda.

Siapapun yang menatap keduanya pasti berasumsi bahwa keduanya merupakan sepasang kekasih. Tapi ada rahasia dibalik keduanya yang membuat mereka tak mungkin jadi pacar.

^Tokyo Hospital… current time: 12.05 PM^
“Saifu… bisakah kau tidak meneleponku saat aku bertugas?” kata Yuya sedikit kesal dengan telepon siang – siang seperti ini.

“Nii-chan kan sedang istirahat siang?” balas Saifu tak sabar.

“Tapi aku banyak kerjaan…” balasnya lagi, “Kita kan bisa berbicara saat aku pulang nanti…”

“Kapan Nii-chan?? Kau selalu pulang setelah aku tidur dan pergi sebelum aku bangun,” keluh Saifu kesal, suaranya tertahan seakan air matanya sebentar lagi akan tumpah.

“Jadi apa maumu?” kini suara Yuya melembut, bagaimanapun ia sayang pada adik semata wayangnya itu.

“Aku di kantor polisi….” jawabnya lalu mematikan teleponnya dengan kesal.

Yuya melepaskan nafas berat. Adiknya itu kembali ada di kantor polisi? Apa lagi yang ia lakukan?

“Siang dokter…” sapa seorang Suster.

“Suster Nishikawa… bisa tolong aku? Hari ini ada operasi, dan tak mungkin aku tinggalkan..” Yuya menimbang – nimbang ketika dilihatnya suster yang sangat ia percayai berdiri di sebelahnya.

“Iya dokter.. ada yang bisa saya bantu?”.

“Jemput Saifu di kantor polisi… lagi…” Yuya mengeluarkan suara sangat kecewa.

“Lagi?”

“Miu-chaannn… tolong aku ya…”

Suster yang dipanggil Miu itu tersenyum, “Baiklah Yuya… serahkan padaku..”

Ya, Yuya dan Miu yang sudah berteman ketika mereka baru masuk ke Rumah Sakit ini, tak pernah memakai panggilan formal lagi. Walaupun Yuya memang lebih tua dari Miu, mereka sudah menganggap satu sama lain sahabat. Terlebih sejak kejadian waktu itu.

^Tokyo Police Station… current time: 12.15 PM^

“Sudah? Pastikan kakakmu datang kesini.” kata Daiki yang sudah lelah dengan segala bungkam nya gadis klepto itu.

Saifu tak menjawab dan  hanya menunduk menatap pada ubin putih di kantor itu. Ia sedih, sejak kapan kakaknya tak memperhatikannya lagi? Saifu pun sudah tak ingat kapan terakhir kali mereka makan bersama.

“Kau sudah makan siang Dai-chan?” itu suara Hikaru.

Daiki menggeleng lalu menerima lemparan roti dari Hikaru dan menyodorkannya pada Saifu,  “Makan ini…” katanya.

Saifu mengalihkan pandangannya, “Tidak butuh,” jawabnya singkat.

“Biarkan saja dia Dai-chan… “ kata Hikaru mencibir pelan, “Ia hanya anak manja yang berusaha meminta perhatian dari kakaknya. Iya kan?” mata Hikaru langsung menatap Saifu.

Hikaru memberikan berkas yang sedari tadi ia baca lalu menyerahkannya pada Daiki, “Aku mau makan siang dulu…”

Hikaru keluar hendak mengambil bekalnya itu, ketika seseorang tanpa sengaja menabrak dirinya.

“Gomen…” ucap wanita itu.

Miu berhenti dan menatap wajah orang yang menabraknya.

‘Sial… kenapa polisi ini begitu tampan?’ batinnya.

“Tak apa… silahkan masuk.. Suster Nisikawa Miu?” jawab Hikaru lalu tersenyum.

‘Senyumnya lebih lucu lagi…’ batin Miu lagi, ‘Eh, bagaimana ia bisa tahu namaku?’ Miu mengerenyitkan dahinya tanda kagetnya ia.

“Aku bisa membacanya…” kata Hikaru menunjuk bet nama yang Miu kenakan.

“Ah…ya…terima kasih..” jawab Miu gugup. Masih terasa harumnya parfum pria itu ketika Miu masuk ke ruangan dimana Saifu ditahan.

“Kau, siapa?” tanya Daiki ketika Miu masuk dengan tampang sedikit bingung karena masih terpesona sosok Hikaru tadi.

“Ah! Nishikawa Miu desu… saya yang akan menjemput Takaki Saifu…” jawab Miu ketika sudah berhasil mengendalikan dirinya dari euforia sesaat tadi.

“Fu-chan… stop berwajah masam…” kata Miu ketika mereka sudah berada diluar kantor polisi.

Setelah menandatangani perjanjian dan meminta maaf pada pihak toko, Saifu dibebaskan dan dibolehkan pulang.

“Mana Nii-chan?!” seru Saifu kesal, ia benar-benar marah.

“Yuya ada operasi besar yang tak bisa ia tinggalkan…” jawab Miu masih mencoba menenangkan gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Terlebih ia sendiri punya adik yang seumuran dengan Saifu.

“Lebih penting dari adiknya sendiri?!” Saifu berjalan mendahului Miu, menendang-nendang pasir dihadapannya.

“Fu-chan…” Miu mengehmbuskan nafas berat, “Operasi ini bukan main-main, dan hanya bisa ditangani olehnya…”

“Terserahlah… aku tahu sejak dulu Nii-chan sudah tak sayang padaku lagi!” seru Saifu, kini ia merasa matanya mulai berat, ingin rasanya ia menangis.

Miu merangkul pelan bahu Saifu, “Yuya selalu sayang padamu… ia hanya sedikit sibuk… kumohon kau mengerti…”

Saifu memeluk Miu, melepaskan tangis yang sejak tadi ia tahan. Rasa sedih ditinggalkan, rasa takut selama ada di kantor polisi, semuanya tumpah ruah.

^Canteen at Tokyo Hospital… current time: 12.44 PM^

“Miki!! Jangan melamun saja!! Antar pesanan itu kesana!!” teriakan itu tentu saja keluar dari Meru yang sedari tadi ada di dapur.

“Iya Nee-chan!! Tak usah berteriak – teriak!!” protes Miki yang tak terima dimarahi kakaknya itu.

“Apa masalah cintamu itu lebih penting dari pekerjaanmu?”

Miki cemberut mendengarnya. Tentu saja penting, seharian ini, Chinen, kekasihnya sama sekali tidak menghubunginya, bahkan satu e- mail pun tidak datang.

“Nee-chan bawel!!” kata Miki namun segera mengambil pesanan itu.

French Fries dan milk shake rasa strawberry? Miki melirik nomor meja yang akan ia antarkan. Ah~ dia lagi… kenapa dia selalu memesan hal yang sama, duduk di tempat yang sama dengan jam kedatangan yang hampir selalu sama.

“Ini pesananmu tuan..” kata Miki sambil menyimpan makanan itu.

Miki tak pernah tahu siapa pria itu, pria aneh yang selalu menatap kosong pada jalanan di luar kantin, hanya satu yang Miki tahu, namanya Shigeaki Kato. Begitu nama yang tertera pada gelang di pergelangan tangan kanannya.

“Ya~ Miki-chan… kau ini masih kecil… pikiranmu itu terus saja diisi dengan cinta..” protes seseorang setelah Miki kembali.

“Opi-neechan tak usah sewot… aku tetap melaksanakan tugasku..”, protes Miki smabil manyun dan hendak masuk kembali ke dalam dapur.

Opi hanya tertawa, membereskan pakaiannya dan berdiri.

“Yuuri hanya sedang sibuk.. jangan berlebihan…” ucapnya, “Bye… aku harus kembali ke tempatku…”

^Tokyo Hospital… current time: 04.57 PM^

“Kau mencoba membunuh pasien itu? Prosedur yang kau lakukan tadi salah Yuya…”

Yuya tidak menjawab, dirinya hanya melakukan sebaik mungkin apa yang harus ia lakukan, walaupun beresiko, tapi ia tahu perbuatannya tadi bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.

“Maaf Yabu-senpai..” jawab Yuya tanpa berani melihat seniornya itu.

“Aku tahu kau ingin menunjukkan kemampuanmu, tapi kumohon Yuya… aku dokter kepala untuk bedah kali ini, jadi aku harap kau mau mendengarkan apa perintahku.” ujar Yabu setelahnya meninggalkan Yuya yang masih mencuci tangannya.

“Ditegur Yabu lagi ya?” tanya Opi yang kini sudah berada tepat disampingnya.

Yuya tak menjawab.

“Mungkin ia hanya tak ingin jatuh korban lagi,” kata Opi dengan nada merendahkan.

Mata Yuya menatap Opi dengan tajam, “Kau tak tahu apa – apa Chinen-san…”  segera setelah itu Yuya meninggalkan Opi dengan hati yang masih kesal setengah mati.

“Makan yang banyak Morimoto-san…”

Ryutaro menatap Riisa yang membawakan makanan ke kamarnya.

“Ah bosan.. kenapa suster Yanagi yang selalu datang kesini?” ucapnya sambil mencibir ke arah Riisa.

“Hush!! Kenapa kau bilang begitu??” tegur Riisa lalu menyimpan makanan itu di samping tempat tidur Ryutaro.

Pemuda itu tampan, berbadan tegap dan pasti banyak gadis yang menyukainya, sayang hidupnya tak seberuntung itu.

Ryutaro memandang makanan itu dengan malas, “Iya… aku ingin suster lain…” rengeknya.

Tanpa mendengarkan omelan itu, Riisa mengambil lengan Ryutaro, memeriksa tekanan darahnya.

“Yup… normal..”

“Aku kan sudah bilang pada dokter Chinen… aku ingin suster laiiinnn…” rengekan itu terus saja keluar dari mulut Ryutaro.

“Jangan ribut Morimoto-san…aku mau kau makan dan makan obatmu… atau kau mau aku menyuapimu??”

“Hiyaaaa~ Suster Yanagiiii!!!”

Riisa tertawa dan meninggalkan Ryutaro lagi. Sebenarnya Riisa ingin lebih lama di kamar pasien itu. Sudah sejak umur lima tahun, menurut suster lain di sana, sudah sering di opname, penyakit jantungnya sudah lama ia derita. Bagi Ryutaro, rumah sakit adalah rumah kedua baginya.

“Riisa!! Tolong ambilkan file disana…” tunjuk seorang suster senior, membuyarkan lamunan Riisa sejak tadi.

Riisa memandang file itu, “Ah… suster baru… Miyako??” bacanya pelan.

^Sora’s apartemen… curent time: 06.00 PM^
“Asuka-chaaannn!!!” Sora menghambur ke pelukan Asuka yang berada di depan apartemennya. “Datang juga akhirnya…hehehe..”

Koizumi Asuka baru saja datang dari Sendai, sempat harus pulang karena ada urusan keluarga. Asuka, Sora dan Riisa menempati satu apartemen yang mereka bagi bertiga.

“Yah..begitulah..” jawab Asuka.

“Yama-chan…mau masuk?” tanya Sora pada Yamada yang kini berdiri di belakang Asuka, penjemput setianya.

Yamada menggeleng, “Tak usah Hideyoshi-san..aku pulang saja…”

“Aku sudah mengingatkanmu memanggilku Sora…” protes Sora.

Asuka tertawa, “Kau…ada – ada saja..”

“Baiklah Sora-senpai.. aku pulang!!”, katanya lalu melambaikan tangan pada kedua gadis itu.

=================

TBC~

Entahlah..bagaimana menurut kalian??xP
Hahahaha~
Aku entah kenapa ingin ini diganti jadi versi JUMP…
Yeah~
COMMENTS are LOVE
Please don’t be a silent reader… 🙂

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s