[Multichapter] Treasure Hunting (Chap 4) ~Masih Awal Pertarungan~

Title        : Treasure Hunting ~Masih awal pertarungan~
Type          : Multichapter
Chapter     : 4
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Fantasy, a little bit romance 😛 *teuteup* #Plakk
Ratting    : PG-15 *naek rating* 😛
Fandom    : JE, HSJ, Sexy Zone
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Nakajima Kento (Sexy Zone), Morimoto Miyako (OC), Suzuki Saifu (OC), Sakurai Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yajima Natsuki (OC), Yanagi Riisa (OC), Sakamoto Yoko (OC), Kanagawa Miki (OC), Sakura Natsuru (OC), Sugawara Ichiko (OC).
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members and Nakajima Kento are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Natsuki charanya Vina, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Yoko charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Natsuru pinjem juga punya Irene, Ichiko punyaan Ucii Pradipta. I just own the plot!!! Yeeeaahh~ usaha saia ngajak orang buat gila juga… 😛 COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
And saia banyak meniru Hunger Games novelnya…jadi, jangan protes kalo banyak mirip…karena emang ini inspired dan banyak niru dari tu novel… 🙂 sudah di disclaimer yaaa~

Treasure Hunting
~ Chapter 4 ~
~ Masih Awal Pertarungan ~


“Mau dihabisi langsung apa kita bersenang-senang dulu?” tanya Nu pada Kento.

Kento tak menjawab dan masih sempat mencibir ke arah Nu dengan tatapan terserah-kau-saja.

Nu menatap Yamada yang merepetkan punggungnya ke pintu belakang, memandang ke sembarang arah lalu menyadari sesuatu.

“Kau membiarkan orang lain pergi dari sini ya?” tanya Nu yang menyadari adanya tanda-tanda aneh di ruangan.

Kento memandang Nu, “Orang lain?”

“Wah… ada pahlawan disini… ii yo ne?” seru Nu mendekati Yamada, namun setelahnya berbalik menatap Kento, “Main-main dulu sepertinya menyenangkan… naaa?”

Kento menarik Yamada namun pemuda itu melawan dan mendorong Kento hingga terjatuh, senjata api yang dibawa Kento terjatuh dan terpelanting ke tempat lain. Ruangan itu cukup gelap sehingga Kento tak repot-repot mencarinya, ia berkonsentrasi menangkap Yamada. Pemuda itu berusaha melarikan diri saat merasakan gerakan Nu yang lihai membidik panahnya. Yamada menunduk tepat ketika suara desingan panah terdengar dan panah itu menyerempet bahunya.

Kento beranjak dan berlari mengejar Yamada.

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat di muka Yamada. Tapi pemuda itu belum menyerah, ia berbalik dan membenturkan kepalanya ke kepala Kento.

Sesaat Kento kelimpungan, namun ketika Kento bermaksud menangkap Yamada, sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Kento.

Nu membidik lagi panahnya, namun Yamada berkelit, hasilnya Kento terkena panah itu tepat di punggung sebelah kiri.

“OMAAEE!!” Kento berbalik kesal pada Nu, sedetik kemudian Nu kembali melesatkan panahnya, tepat di kepala Kento.

“Sayonara… partner…” Nu mencibir, sejak awal ia tak pernah punya rencana berpartner dengan siapapun. Baginya di arena ini semua sama, hanya lawannya untuk mendapatkan hadiahnya. Nu sadar ia kehilangan satu korbannya, saat menoleh ia tak melihat jejak Yamada yang sepertinya sudah melarikan diri, “Sial!!”

Nu menghampiri tubuh Kento yang terbaring di lantai, ia mencabut panah yang ada di punggung Kento, “Masih bisa dipakai…” ucapnya sambil terkekeh, sementara panah di kepala Kento patah saat pemuda itu terjatuh.

Lalu dengan gerakan cepat Nu mengambil peta dan rantai yang dipegang oleh Kento.

Yamada merasa sangat pusing karena pukulan Kento tidak main-main kerasnya. Selama hidupnya, baru kali ini ia melihat seseorang terbunuh tepat di depan matanya, dan sensasi itu membuatnya semakin pusing saja.

Tiba-tiba Yamada merasa dirinya ingin muntah, darah Kento yang mengenai dirinya berbau amis dan memuakkan.

Yamada berhenti di dekat sebuah sungai, mulai muntah tak karuan sambil memegangi perutnya yang bergejolak tiada henti. Bulan kali ini sangat terang sehingga ia bahkan bisa melihat bayangan dirinya terpantul di sungai yang airnya jernih itu.

Bercak-bercak darah di wajahnya membuatnya seakan seperti pembunuh, ia segera membersihkan bekas darah di wajahnya, namun hal itu tak bisa ia lakukan di kaosnya, apalagi cuaca malam ini sungguh dingin. Sementara jaketnya sudah ia berikan pada Saifu. Jaket beserta peralatan yang ia kumpulkan di lapangan, kini ia sendirian dan tanpa apapun melekat di tubuhnya.

==============

“Ohayou~” sapa Opi.

Opi memberikan setangkup makanan berbentuk aneh pada Takaki dan Sora, menurut Opi, Inoo sedang mencari makanan untuk siang ini, karena mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari peta lainnya.

“Tenang saja… aku yakin itu tidak beracun…” ucap Opi pada Sora yang memandangi makanan itu dengan sedikit heran.

“Aku tidak merasa begitu..” kata Sora selanjutnya mengunyah makanan itu dan baru tahu tanaman bentuk seperti ini jika dimasak bisa terasa enak.

Opi hanya tersenyum lalu beranjak untuk membereskan peralatan mereka.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yuya sedikit berbisik pada Sora.

Sora tak ingin memikirkannya, namun ketika si pemuda mendekat dan bibir Yuya hanya beberapa senti di depan mukanya, pipinya mendadak terasa panas. Walaupun tak ingat sepenuhnya, ia ingat Yuya menciumnya. Ciuman pertamanya.

Keseluruhan hidup Sora yang hampir dua puluh dua tahun ini tak pernah dihabiskan dengan tetek bengek soal romantisme. Seluruh hidupnya adalah berfikir bagaimana esok hari bisa makan dan bertahan hidup. Bersama Inoo ia tak memikirkan sedikitpun kemungkinan menikah atau berpacaran sekalipun. Hubungan mereka hanya sebatas sahabat, panah, tombak, jerat, dan binatang buruan. Lalu tiba-tiba Yuya yang baru beberapa hari ini ia temui, memberikan pengalaman baru untuknya. Ciuman, kelembutan dan detak jantung yang dua kali lipat dari biasanya. Sora tak bisa mendreskripsikan perasaan apa ini sebenarnya.

“Sora… kau baik-baik saja?” Yuya kembali bertanya karena si gadis malah terpana melihatnya.

Tangan Yuya bergerak menyentuh dahi Sora, “Sepertinya tidak panas…” tambahnya.

“Ini mungkin cukup sampai malam,” suara Inoo membuat Yuya melepaskan telapak tangannya dari dahi Sora.

Sora berdiri menghampiri Inoo, “Kenapa kau tak mengajakku berburu?”

Inoo tahu seorang Sora paling benci dianggap lemah, “Gomen… kau tadi masih tidur, dan kupikir kakimu…”

“Aku baik-baik saja…” potong Sora.

Inoo tak menjawab lalu menyerahkan kantong buruannya pada Sora, “Ayo berangkat…”

Inoo memimpin perjalanan bersama Opi yang berjalan tepat di belakang Inoo. Mereka tak berkata-kata, namun Sora bisa merasakan perubahan pada keduanya. Seakan keheningan yang mereka ciptakan sambil berjalan adalah harmoni dari perasaan mereka.

Sora tak pernah melihat Inoo selembut ini. Ia bisa merasakan perubahan sekecil apapun pada diri Inoo, karena mereka sudah bersama selama hidup mereka.

Tiba-tiba lamunan Sora buyar saat ia merasa kantong buruannya ditarik, tak salah lagi itu Yuya.

“Tak perlu…” ucap Sora.

Yuya hanya tersenyum tak perlu kata untuk menenangkan si gadis. Sora tak mengerti kenapa, tapi saat berhadapan dengan Yuya kali ini ia merasa menjadi lemah sedikit tidak apa-apa.

===============

Natsuru bangun dengan keadaan tangannya yang terasa sangat sakit.

Terikat ke batang pohon saat tertidur memang bukan ide yang bagus. Ini ulah Hikaru, apa pria itu menyadari keinginannya melarikan diri jika pemuda itu tertidur?

“Hei Hikaru!! Lepaskan aku!!” Natsuru menendang si pemuda yang duduk di depannya.

Hikaru seketika berdiri dengan mata awas, trisulanya mengarah tepat ke Natsuru, sepertinya pemuda itu tertidur dan saat Natsuru menendangnya, Hikaru kaget dan radar awasnya mendadak aktif.

“Sialan kau!” keluh Hikaru.

“Kau tak perlu mengikatku macam ini!” protes Natsuru sambil mengacungkan tangannya yang terikat di batang pohon.

Hikaru mendesah pelan lalu membuka ikatan di tangan Natsuru.

“Ayo kita harus bergerak!!” ajak Hikaru.

“Makan dulu…” Natsuru meraih tasnya dan mengambil dua bungkus camilan dari dalamnya, melemparkannya satu kepada Hikaru.

Hikaru menangkapnya ogah-ogahan, namun akhirnya memakan camilan itu. Sambil makan, Hikaru memerhatikan gadis yang sedang membenarkan kunciran rambutnya itu, gadis mungil dengan rambut coklat tua yang selalu dikuncir. Sebuah tahi lalat terlihat di telinga kiri si gadis. Sikap Natsuru yang cuek dan sedikit sembrono membuat gadis itu sepertinya mudah mendapatkan teman, karena ia selalu ceria walaupun mereka tahu mereka harus saling membunuh untuk bertahan hidup. Itu yang selalu membuat Hikaru penasaran dengan sikap Natsuru.

“Ne… ne… Hikaru!” tiba-tiba saja gadis yang sedang dipikirkannya itu mendekatinya, memperlihatkan sebuah alat yang kemarin gadis itu sebut sebagai GPS.

“Apa?”

“Aku tak bisa menebak ini siapa saja… tapi sepertinya mereka bergerak dengan kelompok masing-masing…”

Natsuru menyentuh layar itu dan memperbesar titik yang nampak diam di satu tempat, “Ada orang di dekat sini… ini posisi kita…” katanya menunjuk satu buah titik biru, dan satu titik merah, “Ini aku…” katanya pada si titik biru, “Dan ini kau…” menunjuk titik merah yang dekat dengan titik biru yang tadi.

“Dan ini… hanya berjarak beberapa meter…” kata Natsuru, menoleh ke arah kanan, “Sebelah sana…”

Hikaru menyiapkan trisula nya dan berjalan ke arah yang Natsuru tunjukkan. Sementara gadis itu mengekor dibelakang Hikaru.

“Eh? Itu…” Hikaru mendapati seorang pemuda berlumuran darah, berbaring tak jauh dari pandangan mereka.

“Hmmm… Yamada kah?” gumam Natsuru dari balik punggung Hikaru.

===============

“Fu-chan… makan dulu…” Daiki menyodorkan sepotong roti yang ia temukan di tas milik Yamada.

Saifu menggeleng, pikirannya kosong hanya dipenuhi bagaimana keadaan Yamada. Ia merasa ada yang salah ketika pagi ini ia bangun di dekapan Daiki. Yamada tak nampak, dan bahkan ia memakai jaket milik pemuda itu.

“Apakah… Yamada….” gumam Saifu lirih.

Daiki menggeleng, “Aku juga tak tahu… tapi malam ini kita akan tahu… pengumuman selalu terjadi malam hari, kan?”

Saifu menatap Daiki, “Tapi…”

“Kau yang akan mati duluan jika kau tidak makan terus…” Daiki menyimpan roti itu di genggaman Saifu.

“SAIFU!!” Daiki menarik Saifu untuk menunduk ketika sebuah bumerang tiba-tiba menghampiri mereka, berdesing dengan kecepatan tinggi.

“SIAPA KAU?!!” Daiki mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka ketika terlihat seorang gadis muda dengan rambut sebahu, menatap tajam pada keduanya dengan cukup menantang, padahal iris coklat tua nya itu bisa meneduhkan jika saja gadis itu memilih untuk tersenyum.

“Serahkan peta kalian… dan aku tak akan menyakiti kalian!!” serunya masih dari jauh.

“Hmmm?” Daiki masih tak mengerti.

“Ichiko kalau ingin tahu namaku!” seru si gadis yang masih menjaga jarak dengan Saifu dan Daiki.

Apapun bisa terjadi di arena ini, dan siapa tahu Daiki bisa menghabisinya dengan cepat jika ia terlalu dekat.

“Serahkan peta kaliaann!! CEPAT!” perintah Ichiko lagi.

Saifu mengeluarkan peta miliknya dan melemparkannya pada Ichiko, “Itu!”

“Kalian berdua… jadi serahkan juga punyamu!” kata Ichiko pada Daiki.

“Kami hanya punya satu… semalam kami di rampok juga!” seru Saifu.

“Seperti aku bakal percaya saja!!”

Saifu hanya diam, lalu memandang ke arah Daiki dengan tatapan penuh arti. Sementara Daiki hanya diam mematung, merogoh ke dalam sakunya dan mendapati dua peta lain. Pasti miliknya dan milik Saifu, sementara yang tadi Saifu lemparkan adalah peta milik Yamada.

Dia tak bisa menyerahkannya. Daiki butuh peta itu untuk menemukan pos penjaga, siapa tahu presiden Akanishi berkunjung menemui mereka.

Saifu berdiri, lalu menoleh ke Daiki, membisikkan sesuatu melalui gerakan bibirnya. Daiki mengerti dan secara perlahan memunguti bekas-bekas makanan mereka, bergerak sangat lambat sementara Saifu berjalan ke arah Ichiko.

Saifu menyeret kakinya yang masih terasa perih, namun sudah lebih baik dan sudah bisa dipakai berjalan.

“Ini… akan kuserahkan semuanya padamu… dua peta, kan?” kata Saifu sambil menyimpan tangannya di saku jaket milik Yamada.

Ichiko menatap Saifu dengan awas, menjaga jarak amannya, “Lemparkan saja!” seru Ichiko.

Sesaat setelah Saifu merasa jaraknya sudah tepat, Saifu menoleh ke Daiki yang sudah siap. Lalu dengan gerakan cepat Saifu berlari, memungut peta yang tadi ia lemparkan lalu menerjang Ichiko dengan sebuah pisau lipat yang ia temukan di saku jaket milik Yamada.

“Ugh!” Ichiko tak sempat melawan, dengan cepat Saifu merobek perut sebelah kanan Ichiko, menarik ransel gadis itu dan melepaskan tubuh Ichiko hingga gadis itu terjembab jatuh di tanah.

Daiki sendiri sudah berlari menjauh. Saifu mengikutinya dari belakang setelah berhasil mengoyak perut Ichiko. Saifu yang bergerak mendekati Ichiko karena kondisinya sepertinya rapuh dan tak akan macam-macam. Jika Daiki yang maju, maka rencana mereka akan tercium sejak awal.

“Darah…” keluh Ichiko ketika Saifu dan Daiki sudah menjauh.

Ia melihat banyak darah keluar dari perutnya, ia tak sanggup berlari mengejar keduanya. Padahal Saifu hanya berlari kecil karena kakinya tampaknya terluka.

Tapi shock yang ditinggalkan atas pergerakan Saifu yang tiba-tiba itu melumpuhkan Ichiko.

=================

“Sampai kapan kita akan diam disini?” tanya Keito memandang ke sekeliling gua yang semalam ternyata membuatnya sangat kedinginan.

Riisa menggeleng, “Tidak tahu… terlalu menyeramkan diluar sana…” jawabnya sambil memasak sebagian makanan kaleng mereka dengan beberapa tanaman yang ia temukan di dekat gua. Tanaman yang ia pelajari di tempat pelatihan tentu saja, beberapa tanaman bisa dimanfaatkan untuk makanan mereka di arena.

Riisa melakukannya agar makanan mereka lebih awet dan bisa dimakan berkali-kali.

“Tapi, kalau tidak bergerak…” Keito memikirkan Natsuki. Bagaimanapun juga ia harus mencari gadis itu.

“Kenapa?”

“Kita tidak akan pernah menemukan harta karun itu…” jawab Keito. Berbohong tentu saja. Sejak kapan seorang Keito Okamoto membutuhkan harta lagi? Seumur hidupnya dan bahkan hingga cucunya nanti masih akan hidup enak walaupun tanpa menemukan harta karun.

Riisa memandangi Keito, “Aku tidak butuh… aku hanya ingin pulang…” tiba-tiba dada Riisa terasa sesak, ingin sekali ia menangis.

“Tapi disini dingin sekali, bagaimana kalau kita cari tempat lain? Kulihat di peta ada pantai…”

“Pantai?” Riisa merogoh saku jaketnya, mengeluarkan peta miliknya, “Berbeda! Peta kita beda!!” seakan baru menyadarinya Riisa meminta Keito mengeluarkan petanya, “Yabai yo ne… dengan begini…” Riisa menggeleng tak percaya.

“Kita saling memburu peta…” bisik Keito seakan menjawab apa yang dipikirkan Riisa.

Selama beberapa menit kemudian hanya ada keheningan di antara keduanya. Sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.

“Tapi Riisa…kupikir kita tetap harus bergerak…” ucap Keito pada akhirnya.

Riisa memandangi Keito dengan pandangan tak percaya.

“Kalaupun kita bertahan disini, tak ada jaminan Nu atau Kento atau mungkin peserta lainnya tidak memburu kita hingga ke tempat ini… dan berdiam diri di satu tempat bukan ide yang bagus menurutku…”

Akhirnya Riisa setuju untuk mereka bergerak ke tempat lain. Setelah makan siang, keduanya berangkat menuju pantai yang ada di peta milik Keito.

Perjalanan yang dipimpin oleh Keito ternyata tidak salah, setelah beberapa jam mereka sampai di sebuah pantai landai yang pemandangannya sungguh indah.

“Waaa..pantaaaiii!!” seru Riisa, kini senyumnya mengembang.

Keito memandangi sekeliling pantai yang pasirnya putih itu, dan sesaat kemudian ia merasa tempat ini sama sekali tidak indah.

============

“Gomen…” Natsuki sama sekali tak menyadari kalau sejak tadi ia tertidur di pelukan Yuto.

Yuto menggeleng pelan, “Daijoubu…kau terlihat sangat gelisah semalam, sehingga aku…itu…aku…” tiba-tiba seorang Nakajima Yuto kehilangan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi semalam.

“Ah sou ka!” Natsuki melepaskan diri dari Yuto, mukanya sudah semerah kepiting rebus.

Hanya satu orang yang selama ini memberinya pelukan hangat, membiarkannya menjadi manja dan lemah.

Keito Okamoto. Sepupu sekaligus orang yang paling ia sayangi. Natsuki tak pernah berpikir ia bisa dipeluk oleh orang lain.

Natsuki berjalan menjauh karena merasa dadanya akan meledak saking cepatnya jantungnya berdetak saat ini.

Tiba-tiba Natsuki merasa seseorang memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di leher Natsuki, “Bolehkah seperti ini sebentar saja?” Yuto membisikkan kata itu tepat di telinga Natsuki.

Natsuki kaget setengah mati dan tak mampu bergerak.

“Anou..Nakajima-kun…”

“Berhenti!!”

Natsuki menoleh dan mendapati Keito berlari ke arah mereka. Yuto sedikit kaget dan melepaskan pelukannya.

“Kau berencana membunuh Natsuki, kan?!!” teriak Keito lalu menarik tangan Natsuki, menyembunyikan gadis itu dibelakang tubuhnya.

Secara refleks Yuto mengangkat tangannya tanda menyerah, walaupun ia sendiri tak begitu yakin mengapa ia melakukannya.

“Mengaku saja!!” teriak Keito.

“Aku…tidak bermaksud melakukannya!!” seru Yuto, ia bahkan tak pernah berfikir untuk melukai gadis itu.

Natsuki masih bingung dan kaget dengan semua peristiwa ini ketika seorang gadis terengah-engah berlati mengikuti Keito.

“Ada apa sih?” tanya Riisa, nafasnya satu satu karena kecapekan berlari.

“Dia…”

“Yuto!!!” Riisa seakan baru sadar yang ada di hadapannya adalah teman satu kotanya, Nakajima Yuto.

“Kau kenal?” Keito mengerutkan dahinya heran.

“Iya! Dia teman satu kota ku!!” jawab Riisa bersemangat.

“Rii-chaaannn!! Ku kira kita tidak akan bertemu!” dalam hitungan detik Yuto kembali berwajah ceria seakan tak terjadi apa-apa tadi.

“Aku melihatmu memeluk Natsuki! Aku yakin kau akan mencekiknya!!” Keito masih tak mau kalah, ia memegangi tangan Natsuki dnegan erat.

“Mou… kau berlebihan deh…” seru Riisa memukul pelan bahu Keito, “Tak mungkin Yuto-kun seperti itu!!”

Sesaat setelah itu Yuto hanya memandangi Riisa, tersenyum mengiyakan pernyataan tersebut.

================

“Kenapa kita tidak dapat obat apapun?” keluh Yoko, memandangi pelipis kiri Yabu yang semakin terlihat jelek karena lukanya tak juga kering, lebih dalam dari yang mereka kira.

Yabu menggeleng, “Hanya belum saatnya, sayang… kau tak perlu khawatir…” ucap Yabu sambil mngelus pelan rambut Yoko.

Tanpa Yoko sadari, perasaan Yabu tak sekedar berbohong di depan kamera lagi. Ia tulus, ia memang tertarik pada gadis keturunan Amerika yang berambut coklat dan bermata biru itu. Ia sendiri tak terlalu memikirkan kapan awalnya perasaan itu muncul, tapi semakin mereka sering bersama, Yabu mulai merasakan ia ingin melindungi gadis itu.

“Biskuit kita juga hampir habis…” Yoko yang biasanya dingin, ternyata gentar juga melihat persediaan makanan mereka menipis.

Yabu kini tak mampu menjawab, menarik si gadis dalam dekapannya, menenangkannya.

“Kau yakin kita masih akan berjalan? Hari hampir malam, dan lukamu tak kunjung kering, selain itu… peta kita juga tak lengkap…” sepertinya kesabaran gadis itu sudah habis, ia mulai menangis sesenggukan di pelukan Yabu.

“Kita akan tetap berjalan sampai menuju sumber air, mengerti?!” ucap Yabu tegas.

Yabu mengendurkan pelukannya, mengusap air mata Yoko dan menggenggam tangan gadis itu, menuntunnya, mencoba memberikan kekuatan dari genggamannya.

“Coba kalau kita bisa berburu…” keluh Yoko.

“Aku akan mencobanya…” jawab Yabu cepat.

“Kita tidak punya senjata…” sahut Yoko.

“Kita mempelajarinya di latihan kemarin, dan aku akan mencoba apapun agar kau tetap hidup…” ucap Yabu lagi, namun beberapa saat kemudian Yabu berhenti membuat Yoko yang jalan sambil menunduk itu menabrak punggung Yabu.

“Kenap~” belum sempat Yoko bertanya, Yabu berbalik, menarik tubuh Yoko ke balik dahan pohon yang cukup besar.

“Inoo, Sora…” bisik Yabu sambil sedikit mengintip, “Eh… ada Yuya juga!!” namun Yabu tak bisa mengingat nama gadis yang berambut hitam pendek yang berjalan tepat di belakang Inoo.

“Kenapa mereka?” tanya Yoko ikut berbisik-bisik.

“Persediaan makan mereka banyak,” Yabu melihat kantong yang dibawa Yuya, “Aku yakin itu hasil buruan Sora atau Inoo…”

Yoko memiringkan kepalanya tak mengerti.

“Kita ikuti mereka, saat mereka tidur, kita ambil kantong buruan mereka…”

“Yakin mereka tidak akan menjaganya?” bisik Yoko kesal, karena tubuhnya terhimpit oleh tubuh Yabu dan batang pohon, membuatnya tak nyaman.

“Pasti mereka akan lengah…” Yabu merasa jarak mereka sudah aman, lalu menarik Yoko untuk mengikuti keempat orang itu.

================

Langit makin gelap, suara guntur menggelegar dan rintik hujan mulai turun. Ryutaro yang menggendong Miyako di punggungnya segera berlari ke gua yang cukup besar itu. Tak ada pilihan lain, hujan akan segera turun.

“Miya-nee…bertahan yaaa…” Ryutaro membuka jaketnya, menyampirkannya di tubuh Miyako yang makin menggigil.

Mereka belum makan apa-apa, hanya sebotol minuman yang menemani mereka berjalan seharian ini. Tubuh Miyako semakin lemah, sebenarnya Ryutaro juga tidak kuat lagi, ia sangat lapar. Tapi ia paksakan berjalan demi mereka tidak bertemu musuh.

Terdengar suara perut Miyako berbunyi, disusul dengan suara perut Ryutaro.

“Neechan… apa kita harus mati seperti ini?” Ryutaro terisak pelan, menatap Miyako yang semakin tak berdaya.

BRUGH!

Terdengar suara hantaman ke tanah, beberapa saat kemudian seorang gadis mungil yang berambut coklat, menghampiri Ryutaro. Mata coklatnya membulat, seiring dengan uluran tangannya.

“Siapa kau?!”

“Ini… kau lapar, kan?” ucapnya.

“Miki!! Jangan buru-buru!!” seru orang lain dibelakang, kini seorang pemuda imut yang sepertinya mengejar Miki.

“Maaf Chinen-kun…”

Miki menatap Ryutaro, “Aku Miki. Kanagawa Miki… ini enak kok… kami sudah makan ini seharian…” ucap Miki mengulurkan sebuah tanaman yang tampak tebal, mungkin seperti lidah buaya, namun Ryutaro tak juga mengambilnya.

“Ambil saja… diluar masih banyak… nanti kalau hujan berhenti, kita ambil lagi!!” kini Chinen yang menyahut, “Di kotaku semua orang makan tanaman ini, makanya aku langsung mengenalinya tadi. Ngomong-ngomong, aku Chinen Yuuri,”

“A-a-arigatou…” ucap Ryutaro terbata-bata, mengambil tanaman yang masih juga disodorkan oleh Miki, “Aku…”

“Morimoto Ryutaro-kun, dan itu kakakmu, kan?” jawab Miki lalu tersenyum.

“Miki hapal semua peserta… sampai nama dan biodatanya,” jelas Chinen pada Ryutaro.

“Ah… sou ka…”

“Ayo dimakan! Kau pasti lapar kan?” seru Miki.

Ryutaro mengangguk, lalu menopang kepala Miyako di pahanya, memotong tanaman itu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, “Neechan… bangun sebentar..” bisik Ryutaro, mengguncang pelan badan kakaknya.

Chinen menghampiri, “Biar kubantu…” kata pemuda itu sambil mengambil tanaman itu, memotongnya dan saat Miyako terbangun, Chinen menyuapi makanan itu.

“Terima kasih… aku tidak tahu apakah masih bisa bertahan jika tidak ada kalian…” kata Ryutaro lirih.

Miki memandang ke arah luar gua yang kini dipenuhi tetesan air hujan yang berlomba-lomba menuju ke tanah.

“Aku tak mau ada yang mati di pertandingan ini…” Miki menunduk, air matanya jatuh lagi.

=================

Hujan masih saja mengguyur arena ketika Sora, Inoo, Yuya dan Opi memutuskan untuk berhenti sejenak. Sebuah kembang api meluncur ke angkasa.

“Ada yang gugur…” gumam Sora.

“Selamat malam para peserta Treasure Hunting!!!” suara Shingo menggema di seluruh arena, seperti malam sebelumnya.

Sora memandangi rintik hujan yang semakin lama semakin menipis, lalu berhenti.

“Satu orang tewas… Nakajima Kento, tewas pada pukul sebelas kemarin…” seru Shingo yang masih dengan suaranya yang ceria, walaupun ia mengumumkan soal kematian.

“Kento?!” Inoo berseru kaget, membuat Sora terpaksa memukul kepala Inoo agar pemuda itu diam.

“Kemungkinannya hanya ia dibunuh Takahashi, kan?” sahut Sora mengingatkan.

“Berarti sekarang Takahashi bergerak sorang diri…” gumam Inoo menyimpulkan.

“Kita harus tidur, besok pagi kita lanjutkan karena kondisi tidak memungkinkan…” setelah berjalan hampir empat jam dibawah guyuran hujan, pasti siapa saja akan merasa kelelahan.

“Aku dan Sora akan berjaga duluan…” ucap Yuya, mengingat malam kemarin mereka berjaga setelah Inoo dan Opi.

“Baiklah…”

Keadaan malam ini sungguh berbeda jauh dengan malam sebelumnya. Tak ada bintang atau bulan yang membantu mereka. Kondisinya benar-benar gelap gulita.

Inoo dan Opi berjalan ke belakang, berbaring di tanah yang basah oleh air hujan tadi.

“Kau lelah?” tanya Inoo pada Opi.

Opi mengangguk, “Tak pernah berjalan sejauh ini… dan kita tak menemukan siapapun…” gadis itu menguap, menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

“Tidurlah… dalam keadaan tidur pun aku bisa awas, kok…” Inoo menggenggam tangan Opi dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bersiap dengan sebuah belati. Sebagai seornag pemburu, ia dan Sora sangat peka terhadap suara sekecil apapun. Bahkan saat tertidur, indera pendengarannya bekerja seperti biasa sehingga tak jarang ia terbangun tiba-tiba hanya karena angin yang behembus terlalu kencang.

Inoo menatap Opi yang ternyata sudah tertidur di sebelahnya, sesaat ia kembali teringat ciuman yang ia berikan semalam pada Opi. Ciuman yang singkat, namun berbekas lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

Kepala Opi terkulai, Inoo menariknya agar bersandar ke bahunya. Beberapa menit kemudian, karena nyamannya ia berada di samping gadis itu, Inoo pun ikut tertidur.

Sementara itu Sora mencoba membiasakan diri dengan kegelapan, katana nya tergenggam mantap di tangan kanannya.

“Tak usah tegang begitu, Sora…” nada bicara Yuya seperti biasa sangat ringan dan ramah.

“Hanya berjaga-jaga…” Sora mengendurkan pegangannya pada katana itu, mendadak salah tingkah.

“Seorang gadis biasanya tak ingin terlihat terlalu kuat… tapi kau berbeda…” ucapan Yuya ini sederhana, namun baru pertama kali Sora dengar.

Inoo bukan pria dengan perasaan macam ini. Segala yang mereka bicarakan tidak pernah sedalam ini. Pasti jika tidak mengkritik presiden Akanishi, berdebat soal cara berburu adalah alternatif pembicaraan mereka. Intinya Inoo dan Sora tak pernah berbicara personal tentang diri mereka.

Sora tak ingin selalu membandingkan Yuya dengan Inoo. Tapi sepanjang hidup Sora, hanya Inoo lah laki-laki yang paling dekat dengannya. Ia tak ingat wajah Ayahnya, meninggal sebelum Sora dilahirkan katanya. Setelah itu ketika umurnya baru menginjak empat tahun, ibunya pun meninggal. Sora menjadi anak pemurung yang tinggal di panti asuhan. Satu-satunya temannya hanyalah Inoo, karena ibu seorang Inoo Kei adalah salah satu pengurus panti asuhan itu.

Setelah berumur tujuh belas, Sora memutuskan untuk keluar dari panti. Inoo membantunya mendapatkan sebuah gubuk mungil dekat hutan yang nyaris setiap hari menjadi tempatnya berbagi hasil buruan bersama Inoo.

“Aku tak punya pilihan lain. Tak ada pilihan menjadi gadis manja sejak aku dilahirkan…” jawab Sora.

“Kau… mirip seseorang, walaupun sedikit berbeda,”

Sora menoleh ke arah Yuya, walaupun samar ia bisa melihat Yuya tersenyum.

“Namanya Reika. Ia adalah kekasihku, ia juga gadis yang kuat, tapi ia tidak bisa beruburu sih… Ia bisa bernyanyi, sangat lembut dan senang anak-anak kecil mengelilingnya ketika ia membacakan dongeng,” sambil berkata, Yuya ingat dengan jelas air mata yang Reika jatuhkan saat namanya terpanggil, “Kami berencana menikah bulan depan. Tapi semuanya kacau…”

Sora tak mengerti, tapi mendengar Yuya menerawang dengan nada kerinduan yang tampak jelas di suaranya membuat Sora kesal dan tak rela.

“Apa dia marah kalau dia tahu… kau… itu… kemarin…” kata ‘ciuman’ tak dapat keluar dari bibir gadis itu.

Yuya tersenyum, “Ia akan mengerti… lagipula, aku belum tentu pulang lagi..”

Sora mendengar gerakan di sampingnya, seketika Sora berdiri, katana nya sudah ia siapkan. Ia mengeluh karena tidak bisa mendapatkan panah. Ia paling jago dengan panah, bukan dengan katana. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

“Jangan menembak sembarangan… biar aku yang bergerak!” Sora tahu kemampuan Yuya menembak tidak buruk, tapi dalam kegelapan adalah hal yang berbeda.

Sora berkonsentrasi, mendengarkan gerakan sekecil apapun.

Ia merasa seseorang bergerak di pinggir kanannya, Sora menebas katana nya, seseorang mengerang dan berlari menjauh.

Sora memegang ujung katananya, mengusapnya dan membaui cairan lengket yang ia yakin adalah darah.

“Manusia… tapi siapa ya? Aku tak bisa melihat jelas wajahnya…” ucap Sora.

Yuya masih kaget dengan gerakan tiba-tiba itu.

“Tapi pasti dia terluka cukup parah…”

==================

Yamada berbaring di dahan pepohonan, akhirnya setelah bertemu Hikaru, ia berhasil merayu pemuda itu untuk bergabung. Walaupun barternya cukup mahal, ia harus bisa menunjukkan dimana kelompok Inoo dan Daiki bersembunyi.

Padahal ia tak tahu dimana mereka berada. Yamada berbohong dengan berkata bahwa ia bisa menunjukkan jalan.

“Jaketmu mana?” tanya Natsuru yang kini duduk di sebelah Yamada.

Suasana gelap di sekitar mereka dikalahkan oleh nyala alat bernama GPS yang kini berada di tangan Natsuru.

“Tidak ada…”

“Dipakai pacarmu, ya? Saifu itu?”

Yamada tak menjawab, kini pikirannya benar-benar mengingat gadis itu. Ia hanya berdoa Daiki membawa Saifu cukup jauh agar tak ketahui oleh Nu.

“Sisa dua puluh satu…” Natsuru memandnagi titik-titik merah yang tersebar di arena. Beberapa berkelompok, kebanyakan menjadi empat orang atau dua orang.

“Besok pagi kita akan bergerak ke tempat yang paling dekat! Yang mana katamu tadi?” Hikaru tiba-tiba menghampiri keduanya.

“Kurasa ini…” Natsuru menunjuk dua titik merah yang bergerak lambat menuju ke arah mereka, namun beberapa saat kemudian mereka berhenti.

“Baiklah… aku akan berjaga…”

“Aku juga bisa berjaga…” Yamada menawarkan diri pada Hikaru.

“Jaga saja gadis itu!!”

Natsuru mencibir ke arah Hikaru. Ia bahkan tak berfikir untuk melarikan diri. Terlalu riskan dan berbahaya apalagi jika ia sendiri, kemungkinan mendapatkan harta karun sudah pasti nol besar.

“Asik! Aku ditinggalkan berdua dengan ikemen!!” Natsuru seperti biasa terlihat ceria.

Yamada hanya tersenyum simpul.

“Kau kedinginan, kan? Bagaimana jika kita berpelukaaann…” ucap Natsuru bersemangat. Dan sebelum Yamada sempat menjawab, Natsuru melingkarkan tangannya di tubuh Yamada.

Jenis pelukan yang Yamada rasakan berbeda saat Saifu yang memeluknya. Jika Saifu meminta perlindungan dari dekapannya, Natsuru justru memberikan sebaliknya.

================

TBC~

Maap lama… author mengalami se nge stag an berkepanjangan…
Plus real life memanggil saia… hahaha~
Ayeeeyyy~
Silahkan di komen… mari kita berdoa chapter selanjutnya gak akan lama.. 🙂
Please leave some comments..
COMMENTS ARE LOVE…
Please Don’t Be A Silent Reader… #kecup 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s