[Oneshot] Fireflies (Treasure Hunting Companion Story)

(Okay Minna… sebelumnya harap dibaca ini nya dulu… ini adalah Companion Story dari Treasure Hunting punyaan saia (Din) sebenernya authornya Nu Niimura, dan aku disini yang ngepost biar semua yang baca Treasure bisa baca juga… 🙂 Selamat Menikmati… hadiah hiburan karena author Treasure lagi gak mood nulis… #plakk)

Title : Fireflies
Author : Nu Niimura
Rating : PG-13
Genre : Romance & Angst
Fandom : JE
Starring : Inoo Kei (HSJ), Sakurai Opi (OC)
Disclaimer : Treasure Hunting dan Hideyoshi Sora milik Dinchan Tegoshi,, Inoo Kei dan Takaki Yuya berada di bawah wewenang Johnny’s Entertainment,, Sakurai Opi milik senpai saya,, Saya hanya memiliki kunang-kunang yang berpendar kuning memukau dari dalam tumbler transparan hadiah Redoxon

FIREFLIES
(Treasure Hunting Companion Story)

.oOo.

“Ketika kau menjaganya dalam toples, dalam semalam kunang-kunang akan kehilangan cahayanya. Kemudian mati di keesokan hari.”

.oOo.

Between You, Wound, and Fireflies
(sepenggal kompani untuk Treasure Hunting)

Wound


Saat itu hanya ada gelap malam, cahaya kunang-kunang, dan mereka.

“Saa, aku dan Takaki akan berjaga duluan malam ini. Kalian tidurlah.” Ucap Kei Inoo datar, pada ketiga rekan sekutunya –Hideyoshi Sora, Sakurai Opi dan Takaki Yuya.

“Tidak, tidak. Biar aku jaga duluan menggantikan Takaki.” Balas Opi.

“Ya, tidak masalah” dan “Oke” keluar hampir bersamaan dari mulut Inoo dan Takaki.

Sekarang dipersempit menjadi; ada gelap malam, cahaya kunang-kunang dan kesunyian diantara mereka –yang tengah terjaga.

“Oke, kau boleh lepas celanamu sekarang kalau kau tak mau aku membuat robekan yang lebih besar.” Ucap Opi memecah keheningan.

“Hah?!“

“Maksudku, lukanya. Aku akan merawat luka di pahamu…“

Inoo tak membalas, hanya menatapnya bingung.

“Tidak usah menutupinya. Aku tahu tadi kau terluka. Bukan luka yang terlalu besar, tapi akan tidak baik jika dibiarkan,“ balas Opi santai.

“Tidak perlu. Hal seperti ini, aku biasa mengabaikannya dan akan sembuh dengan sendirinya…“ balas Inoo, tangannya melakukan gerakan meremasi dedaunan kering tanpa disadari.

“Ayolah, jangan buat aku memaksamu. Sekarang kau adalah sekutuku dan kerugian bagi kelompok kita bila ada yang terluka.“

Dan saat itu Inoo Kei tahu, alasan Sakurai Opi memilih berjaga lebih dahulu karena ingin mengobati lukanya. Mereka berada di pihak yang sama. Entah Inoo harus merasa lega atau justru berhutang budi. Opi telah menolong Sora dihari pertama, dan itu berarti tak ada alasan baginya untuk merasa ragu. Inoo memilih untuk melepaskan celana panjangnya, menyisakan bagian bawah tubuhnya dengan boxer yang menutupi hingga bagian atas lutut. Ia pikir, dengan robekan yang lebih besar di celana akan membuat Sora curiga –atau khawatir, dan dengan keahliannya mengobati, Opi pasti sudah lebih terbiasa dengan ketelanjangan.

“Jangan khawatir, ini tidak akan sakit…“

Nada yang digunakan Opi mengingatkan Inoo pada perawat-perawat di balai pengobatan kota ketika menenangkan pasien yang akan menjalani tindakan medis. Mereka mengatakannya dengan cara yang sama. Inoo jarang sekali bisa pergi ke balai pengobatan untuk mengobati luka. Berobat membutuhkan uang, ia tak punya orang yang bisa mengobati, dan masih banyak hal lain yang harus dilakukan daripada melakukan riset mencari tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat. Jadi luka-luka yang didapat hanya dibebat, dibiarkan mengering hingga akhirnya meninggalkan bekas-bekas jelek di kulitnya yang –menurut beberapa orang-  cukup putih dan mulus untuk seorang laki-laki.

Opi punya seperangkat alat seperti jarum dan gunting di tasnya. Tapi menurutnya, luka Inoo tidak perlu dijahit, cukup diobati dengan tumbuhan. Inoo tak habis pikir bagaimana caranya hingga segenggam lumut bisa membuat lukanya terasa lebih baik. Opi menjelaskan tentang lumut, perang dan bahasa latin, untuk Inoo semuanya bagaikan masuk telinga kiri dan sekejap keluar dari telinga kanan. Tentu saja Opi bohong jika berkata prosesnya tidak akan melibatkan rasa sakit, tapi Inoo merasakan sebuah sensasi nyaman saat jemari terlatih Opi menyentuh paha telanjangnya yang terluka. Gadis itu punya bakat alami.

“Selesai. Sebaiknya kau sering mengompresnya dengan larutan antiseptik agar cepat kering.“

“Terimakasih. Untuk sarannya juga, sangat masuk akal, tapi barang-barang seperti itu harus dihemat. Luka Sora juga belum sembuh benar dan kita harus mengantisipasi untuk hal-hal yang akan terjadi selanjutnya.”

“Hey, Inoo Kei. Tidak pernahkah kau barang sekali saja mencoba untuk memikirkan dirimu sendiri?”

“Apa maksudmu?”

“Seseorang tidak perlu selamanya terlihat hebat, kan?” Sebuah retorikal diucapkan Opi.

Inoo tak menyangka bahwa gadis itu memiliki sifat yang sedemikian observatif. Dari kalimat-kalimatnya dapat disimpulkan bahwa Opi melakukan pengamatan mendalam pada Inoo –dan mungkin juga rekan-rekan mereka yang lain.

Terlihat hebat. Tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Itulah Inoo di arena ini. Bertarung, melindungi Sora, berburu, dan melakukan tugas lain untuk kepentingan kelompok kecil mereka.

Mengenakan kembali celana panjangnya dengan alasan dingin, Inoo bisa menangkap sebuah kemakluman saat Opi menghela nafas karena Inoo yakin celananya cukup longgar hingga lukanya punya cukup tempat untuk memulai penyembuhan.

Fireflies

“Hey! Kenapa aku baru sadar kalau kelap-kelip kunang-kunang itu indah sekali.” Ujar Opi ceria sambil berjalan kearah semak didepan mereka, membuat lamunan Inoo pecah seketika. “Dari tadi aku memikirkan lukamu, sih. Hahaha. Lihat, bukankah ini bagus?”

Saat itu adalah tawa lepas Opi yang pertama kali dilihat Inoo sejak mereka saling mengenal. Biasanya yang diperlihatkan gadis berrambut hitam itu adalah tatapan serius ketika merawat luka atau meneliti tanaman obat yang ditemukan di hutan.

Pemandangan itu indah. Inoo tak pernah menyukai warna kuning, tapi nyala kunang-kunang adalah hal yang lain. Ia mengingatnya sebagai gambar pada poster yang pernah dilihatnya di gedung pertujukan di kota. Seorang gadis menari ceria ditengah gemerlap kunang-kunang.

Tapi Inoo seketika tersentak setelah sesuatu melintas di pikirannya. “Menjauh dari situ! Bisa jadi mereka hewan berbahaya hasil rekayasa genetika!”

Bukannya mengikuti saran Inoo, Opi bahkan tak melangkah barang selangkah. “Mungkin pengetahuanku tentang hewan tidak sebanyak kau atau Sora. Tapi perasaanku mengatakan, ini tidak berbahaya. Satu-satunya bahaya yang bisa disebabkan adalah karena gemerlap kunang-kunang ini begitu indah hingga kita terpana dan tidak waspada jika ada peserta lain yang menyerang…”

Deg. Serasa Inoo ingin membenturkan kepalanya ke batang pohon terdekat. Saat bersama Opi, ia bahkan tidak memikirkan kemungkinan peserta lain datang menyerang mereka atau Takaki dan Sora yang tengah tertidur. Inoo menyadari bahwa ia telah mengesampingkan tiga perempat bagian dirinya, yang merupakan seorang pemburu dengan bakat alam, selalu awas dan memasang indera menghadapi kedatangan mangsa. Hanya ada Opi. Yang mengobati luka, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa gadis itu selalu mengamatinya, yang menari ditengah gemerlap nyala kunang-kunang, yang menjadi bintang gedung pertunjukan di kota –hanya dalam pikirannya.

“Lihatlah, mereka tidak berbahaya, bukan? Andai aku punya toples atau semacamnya, aku ingin menyimpannya. Sejak kecil aku suka kunang-kunang, tapi Nii-chan tak pernah mengizinkanku menangkapnya barang seekor…”

Tanpa Inoo sadari, Opi sudah berada di depannya. Membawa beberapa ekor kunang-kunang yang terus berpendar dalam tangkupan tangan. Jarak mereka begitu dekat. Inoo bisa menangkap kilapan pendar berribu kunang-kunang dalam mata coklat Opi. Kilap yang dirindukannya. Dulu pendar itu terpancar dari mata Sora kecil, sebelum waktu meredupkannya menjadi bagaikan langit mendung di penghujung bulan lima.

“Ketika kau menjaganya dalam toples, dalam semalam kunang-kunang akan kehilangan cahayanya.”

Sebelum Opi membalas, si pemuda cantik sudah menangkup wajahnya. Mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Tidak ada balasan, tapi Opi juga tidak berusaha menghentikan. Inoo sedikit menyesalkan ketika Opi menutup kelopak matanya perlahan, membuatnya tak bisa melihat cahaya kunang-kunang yang berpendar dari dalamnya. Tapi seakan pendar ribuan kunang-kunang itu melebur menjadi hangat yang mereka bagi diantara bibir-bibir keduanya.

Inoo mengklasifikasikan ciumannya dengan Opi sebagai sesuatu yang khidmat, manis, sekaligus menyakitkan.

Untuk Kei Inoo, mencintai Sakurai Opi adalah bagaikan nyala kunang-kunang. Sesaat ia merasakannya begitu indah, hangat dan menenangkan, tapi tak butuh lama hingga semuanya lenyap dan mati. Karena di arena ini, jatuh cinta bukanlah hal terlarang tapi dihindari. Semua hubungan akan berakhir dengan ending yang sudah bisa diperkirakan. Alternatif seperti; melihatnya terbunuh, dia melihatmu terbunuh, dia membunuhmu atau kau membunuhnya. Keempat hal itu saja.

Ketika kau menjaganya dalam toples, dalam semalam kunang-kunang akan kehilangan cahayanya. Kemudian mati di keesokan hari.

Tak ada “aku menyukaimu”, ciuman itu sudah mewakili segalanya. Juga air mata Opi, Inoo menterjemahkannya sebagai “aku juga menyukaimu”.

Beberapa ekor kunang-kunang masih berpendar-pendar di sekitar wajah Opi. Seakan mereka ingin membantu gadis itu mengelap air mata, tak rela ia merasakan kesedihan. Tapi mengusap lembut air mata dari wajah Opi adalah tugas Inoo.

Saat bersama Sakurai Opi, Kei Inoo bisa menjadi diri sendiri. Seperempat dirinya yang tak harus selalu terlihat hebat dan melindungi, membiarkan lukanya dirawat tanpa harus memikirkan image diri, juga bersikap egois dengan semena-mena mengklaim bibir gadis yang baru dikenalnya selama beberapa hari. Bagian itu yang membuatnya merasa utuh dan manusiawi.

Gadis itu adalah kunang-kunangnya. Memberikan cahaya sesaat dalam hidupnya yang gelap sepekat malam dan mungkin akan berakhir dalam waktu yang tak lama.

“Besok-besok, saat kau mencari tanaman obat, bilanglah padaku. Aku akan menjagamu dari serangan binatang buas ataupun peserta lain, jadi kau bisa berkonsentrasi.“ Ucap Inoo, kembali menjadi dirinya yang biasa –yang tiga perempat bagian.

“Un. Aku menganggapnya sebagai sebuah janji.“ Opi mengangguk dan tersenyum tipis, air mata yang tadi melelehi pipi sudah hampir tak terlihat bekasnya.

Langkah kaki itu cukup lembut, tapi telinga pemburu Inoo bisa mendengarnya. Bukan langkah Sora yang sudah kelewat dikenalnya.

“Takaki.“

Dan Takaki Yuya muncul dari belakang Inoo, “Selamat malam uh-pagi, Tuan Inoo, Nona Sakurai. Sekarang giliran Anda untuk beristirahat. Saya dan Hideyoshi akan berjaga.“ Kata Takaki dengan candaan garingnya, dan tak lama kemudian Sora menyusul.

“Baiklah…“ Inoo berdiri dari duduknya, mencoba berjalan senormal mungkin seperti sebelumnya. Tak ada yang boleh tahu tentang lukanya selain Opi dan dirinya sendiri.

“Apa tadi ada yang terjadi?“ tanya Sora.

“Tidak ada. Semuanya aman, kunang-kunangnya juga indah.” Jawab Inoo.

“Kunang-kunang. Sejak dulu kau menyukainya, kan?”

“Ya. Kau tahu itu.”

You

Kemudian Inoo berjalan bersama Opi menuju yang-bisa-disebut tempat perlindungan mereka. Sebelum tidur, jemari mereka saling menggenggam. Terasa janggal bagi Inoo mendapati seorang gadis di tempat tidurnya. Tapi ada pengecualian untuk Opi.

“Ne, oyasumi.”

“Oyasumi.”

Mengucapkan selamat malam jadi terasa begitu menyakitkan. Karena ketika pagi, genggaman jari mereka mungkin tak akan lagi ada. Ciuman itu akan terlupakan. Semuanya hilang bagai tak pernah terjadi. Bagai nyala kunang-kunang ketika esok menjelang.

Selesai.

.oOo.

B/A: Uwahahaha, like a boss sekali. Saya gak tau berapa lama kunang-kunang bisa bertahan hidup karena saya gak cari tau. Tapi waktu saya nyimpen kunang-kunang di tumbler, pas pagi nyalanya udah reduuup banget, terus mati sebelum malemnya lagi.
Maaf kalao Inoo Kei sama Sakurai Opi-nya kelewat OOC, tapi begitulah yang bisa saya tangkep dari mereka sepanjang chapter Treasure Hunting yang udah di-publish. orz
@senpai: nilai farmakognosi-nya bagus, ya? Saya envy, ih T^T
@bunda: update soon aja Treasure Hunting-nya. Jangan malu-malu untuk mengizinkan saya menistainya lagi XD #plakk
Anyway, thanks for reading. Jangan lupa komen atau review, jangan ragu juga kalao mau ngasih flame yang membangun.

May the odds be ever in your favor,
Nu Niimura
#eh
Comments Are LOVE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s