[Multichapter] Jumping To My Heart (chapter 11) ~Runaway~

Title        : Jumping To My Heart ~Runaway~
Author    : Dinchan Tegoshi
Type          : Multichapter
Chapter     : Eleven~
Genre        : Romance *yeah I love it! #plakk*
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE
Starring    : Nakajima Yuto (HSJ), Sawatari Mika (OC), other HSJ member~
Disclaimer    : I don’t own all character here.  Nakajima Yuto is belong to Johnny’s & Association, Sawatari Mika is Fasha’s OC yang aku pinjam. Hahaha~ it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^
P.S : Saia sumpah gak tau gimana cara pemilihan di Horikoshi, bagaimana bentuk sekolana dan tetek bengeknya, jadi ini semua murni fiksi buatan saya soal Horikoshi…ahaha~ 😛 COMMENTS ARE LOVE as usual peoples!! 🙂

JUMPING TO MY HEART
~Chapter 11~
~Runaway~

“Mikaaaa!! Mikaaaa!!” Saifu berteriak sambil mengetuk pintu kamar Mika dengan tak sabar.

Mika memperlihatkan wajahnya sedikit dari balik pintu kamar, “Berisik Fu! Ada apa sih?”

Saifu tersenyum lebar lalu memperlihatkan sebuah surat dengan ekspresi wajah sangat gembira.
Mika memiringkan kepalanya, “Hmmm… sumpah aku tak mengerti maksudmu…”

“Tadi saat aku kesini, Ibumu menyuruhku untuk memberikan ini kepadamu…maaf aku tak sengaja membacanya…hehehe,”

Rumah Saifu dan Mika memang berdekatan. Keduanya juga sudah berteman sejak kecil, sehingga Saifu bebas masuk ke rumah Mika, begitu juga sebaliknya.

Mika mengambil amplop yang dipegang oleh Saifu dan mulai membaca isi surat itu.

“Eeehh? Usooo…” ucap Mika sambil menutup mulutnya tak percaya.

“Kita satu sekolaaahhh!!” Saifu memeluk sahabatnya, berloncatan gembira karena mereka akhirnya bisa satu sekolah lagi di SMA.

Padahal Mika ingat, hari seleksi beasiswa hari itu ia tidak dalam keadaan yang baik. Sedikit sakit dan tubuhnya tidak fit. Tapi mungkin inilah nasibnya, apalagi ia sudah berjanji pada Saifu untuk masuk ke sekolah itu jika ia mendapatkan beasiswa. Untuk Mika, sekolah di tempat itu terlalu merepotkan, apalagi bayarannya yang sangat mahal.

==============

Mika melangkahkan kakinya di halaman depan sekolah itu. Bangunan megah serta beberapa mobil yang berseliweran keluar-masuk membuatnya sedikit takjub dengan keadaan ini. Dalam hatinya ia berharap selama tiga tahun ini ia akan bersabar karena beasiswa penuh seperti ini sulit sekali didapat.

“Ohaaa!! Mikaaa!” panggil Saifu ketika keduanya sudah sampai di depan papan pengumuman.

“Ohayou…” jawab Mika sedikit kaget karena sahabatnya tiba-tiba muncul.

“Ayo cepetan kesini!!” Saifu menarik-narik tangan Mika dengan tidak sabar, membawa Mika ke depan sebuah papan pengumuman yang cukup besar.

“Kita di kelas 1 B…lihat!!” Tapi sebenarnya tujuan utama Saifu bukan memperlihatkan nama mereka, namun bergeser ke daftar nama kelas 2 D.

“Hah?” Mika bingung namun akhirnya menurut, berdesakan dengan banyak orang.

“Kita satu sekolah dengan Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuuri, Kamiki Ryonosuke…” lalu Saifu kembali menarik tangan Mika ke kertas lain disitu tertulis kelas 1 D, “Ada juga Morimoto Ryutaro, Tanaka Juuri!! Uwaaaaa!!!” seru Saifu heboh.

“Jadi kau mau menunjukkan itu?”

“Ih Mika!! Lihat itu!! Nama mereka terpampang jelas, keren ya!!”

Mika menyipitkan matanya, menatap Saifu dengan ekor matanya, “Fu-chan… sepertinya lebih baik kita masuk kelas saja…” ajak Mika sambil menarik tangan Saifu yang tampak tak rela.

===============

Setelah hampir setahun menjalani hari-hari di SMA Horikoshi, Mika sudah terbiasa dengan euforia murid-murid disana ketika membicarakan kakak kelas mereka, atau teman satu angkatan yang termasuk artis atau aktor di Jepang.

Sebagai orang yang tak begitu mengerti perasaan macam itu, Mika hanya ikut tertawa atau mengangguk-angguk dalam pembicaraan macam itu. Selebihnya ia harus belajar keras agar nilainya sama sekali tak tergoyahkan dan beasiswa masih terus menopangnya belajar di sekolah ini.

“Eh…Mikaa… denger gak? Katanya sebentar lagi akan ada pemilihan ketua OSIS yang baru…” ucap Saifu yang menghampiri Mika yang sedang belajar, seperti biasa.

“Hmmm… jadi kita ikut milih?” tanya Mika.

Saifu mengangguk bersemangat, “Katanya sih gitu… kabarnya lagi, Nakajima Yuto akan ikut pemilihan loh!! Keren, yaaa?!” seru gadis itu bersemangat.

Mika menaikkan alisnya sebelah, “Dia gak takut keteteran apa? Kan dia lebih sering diluar sekolah?” tanya Mika.

Saifu hanya mengangkat bahu tak peduli.

Lalu seperti dugaan Mika, Nakajima Yuto tampil sebagai pemenang di pemilihan ketua OSIS tahun ini. Selama beberapa minggu pembicaraan soal program kerja yang dilakukan oleh Yuto pun tersebar dan menjadi buah bibir setiap siswa di Horikoshi. Termasuk siapa saja yang akan menjadi staf pengurus baru.

“Nama-nama berikut yang dipanggil, harap menuju ke ruang OSIS…” sebuah pengumuman terdengar di setiap penjuru sekolah.

“Buat apa ya?” tanya Mika yang saat itu sedang makan siang bersama Saifu di kantin.

“Ihh~ Mika… itu kan buat pengurus baru…biasanya sih diambil dari kelas tiga atau kelas dua yang berprestasi… jangan-jangan namamu masuk, lagi?”

“Hah? Muri da yo!!” elak Mika.

“Sawatari Mika, kelas dua B…”

“Tuh kaaaannn~” Saifu mengguncang-guncang tubuh Mika dengan keras.

“Aduh…Fu-chan!”

“Ii na…bisa bertemu Yuto secara langsung…” keluh Saifu.

“Mau tukeran tempat? Huuhh~” Mika pun beranjak menuju ruang OSIS dengan ogah-ogahan.

Ketika masuk, beberapa orang sudah ada di dalam ruangan. Semuanya wajah-wajah yang tidak Mika kenal, walaupun beberapa ada yang ia pernah lihat di layar kaca, sepertinya artis juga.

Yuto masuk beberapa saat kemudian, mengangguk sekilas ke arah orang-orang yang duduk di ruangan itu.

Mika akui pemuda jangkung itu cukup tampan.

Tidak.

Sangat tampan jika Mika mau jujur, selain itu ia tak menyangka Yuto sangat ramah dan mungkin berbeda jika dilihat dari layar kaca dengan dilihat secara langsung.

“Terima kasih sudah datang ke rapat perdana ini…”

Mika mengerenyitkan dahi, rapat perdana? Seingatnya ia tak pernah mendaftar sebagai anggota OSIS.

Seorang gadis membagikan sebundel kertas yang cukup tebal, Mika membacanya ‘Agenda Rapat’. Mika mebolak-balik halaman tersebut dan menemukan alasan dirinya ada di ruangan ini, ‘Setiap siswa beasiswa secara otomatis menjadi anggota OSIS’.

“Hummm…” gumam Mika menyadari ini adalah salah satu tugasnya ketika mendapatkan beasiswa itu.

“Bisa kalian baca beberapa susunan pengurus yang telah saya tunjuk dari kelas tiga,” ucap Yuto membuka bundelan kertas itu, menunjukkan halaman berapa yang ia baca.

“Ini sekretaris OSIS tahun ini, Shida Mirai…” Yuto menunjuk seorang gadis yang Mika tahu sering muncul di beberapa drama yang pernah ia tonton di televisi. Walaupun Mika jarang sekali menonton.

Shida menunduk sekilas dan tersenyum manis.

“Hmmmm….” Yuto menelusuri daftar nama pengurus tahun ini dan berhenti di sebuah nama, “Sawatari Mika?!” panggilnya.

“Hai!!” secara refleks Mika mengangkat tangan dan berdiri dari kursinya.

“Hai! Kau sekretaris dua…”

Mika hanya bisa mematung tak berdaya, menerima nasibnya yang tiba-tiba saja diserahi tugas seberat itu di tahun pertamanya sekolah.

==============

“Eeeehhh?? Kau jadi sekretaris dua??!! Waaahh~ Sugooiii!!” seru Saifu ketika Mika menceritakannya sore itu di rumah Saifu.

“Yabai yo ne… Shida-san pasti jarang masuk, intinya sih aku lah sekretaris utamanya…hufft…”

“Tapi pikirkan Mika… saat rapat internal kau akan ikut, lalu bertemu Yuto, lalu bertemu Shida, lalu bertemu anak-anak lain di kelas tiga D… huwaaaa~ keren sekali pastinya!!” Saifu membayangkan hal tersebut sambil terus memakan kudapan yang disediakan Ibunya saat Mika datang tadi.

“Demo…hufft~ waktuku sudah tersita buat belajar… ngapain sekarang aku harus ngurusin sekolah?” keluh Mika.

Dan seperti dugaan Mika, sebagian besar pekerjaan sekretaris dipegang oleh dirinya. Beberapa kali guru memanggilnya untuk mengerjakan laporan yang harusnya dikerjakan oleh Yuto atau Shida.

Seperti sore ini, ia masih mengerjakan laporan di ruang OSIS.

“Eh? Ada orang…” ucap seseorang membuat Mika menoleh dari laptop itu, menatap seorang Yuto yang tiba-tiba masuk ruangan.

“Otsukaresama deshita… Sawatari-san, kan?” katanya dengan ceria.

Mika hanya mengangguk-angguk.

“Hmmm… laporan perlombaan kelas kemarin, ya?” tanya Yuto menghampiri Mika.

Mika kembali mengangguk-angguk.

“Tidak…. syuting?” Mika tak bisa menyembunyikan nada sinis dari suaranya.

Yuto menggeleng cepat, “Tidak…kenapa?”

“Betsu ni…” jawab Mika cepat.

Tiba-tiba Yuto merasakan ponselnya menyala, “Ah Yabee! Harus menghadap kepala sekolah untuk festival bulan depan…ayo ikut!” ajak Yuto pada Mika.

“Eh? Nande?”

“Kau kan sekretarisku…” Yuto meraih tangan Mika dan menariknya dari tempat duduk.

“Hah? Bukan!! Shida-san…”

“Tak ada waktu mencarinya!! Ayo!!” Yuto menarik Mika dan berjalan cepat ke ruang Kepala Sekolah tanpa melepaskan pegangannya pada Mika.

Sementara Mika hanya bisa memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Yuto. Jenis genggaman ketika kau pergi kencan dengan pacarmu yang terburu-buru ingin sampai tempat tujuan.

Tangan dengan tangan.

Bukan tangan dengan lengan seperti orang menarik kebanyakan.

Kepala Sekolah membicarakan beberapa hal yang diperlukan untuk festival Horikoshi tahun ini. Mika mencatatnya, sementara Yuto terus mengutarakan beberapa hal penting.

“Arigatou ne… Mika-chan…”

Mika terdiam sesaat, sepertinya panggilan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Yuto, ‘Mika-chan’. Padahal beberapa waktu yang lalu ia masih memanggil dirinya, ‘Sawatri-san’.

“Sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau aku mentraktirmu minuman kaleng… mau?”

Mika tak menjawab, hanya memandangi Yuto.

“Sebentar ya!” Yuto meninggalkan Mika dan menuju mesin penjual minuman, mengambil dua jus jeruk. Satu untuknya, satu lagi untuk Mika.

“Haaiii!” Yuto menyodorkan minuman kaleng itu di hadapan Mika, “Mika~n… cocok sekali dengan namamu…” ucapnya sambil terkekeh pelan.

“Hah?”

“Iya… Mikan… Jeruk… Mika~n,” katanya lagi.

Mika tak mengerti selera humor Yuto, lalu hanya tersenyum bingung.

“Araaa~ senyummu manis juga…”

Mika membulatkan matanya tak percaya dengan yang dikatakan Yuto.

“Iya…sejak tadi kau cemberut dan menekuk mukamu…ini pertama kalinya aku melihat senyummu…” jelas Yuto, lalu meneguk jus jeruknya.

“Hmmm…” gadis itu mendadak canggung dan tak bisa menjawabnya.

Yuto kembali merasakan ponselnya bergetar, “Ah…aku harus segera pergi… Otsukare Mika~n…hehehe.. sampai jumpa nanti!! Kita akan sibuk lho…sebentar lagi festival!” katanya lalu melambai menjauh dari Mika yang hanya bisa memandangi punggung itu berjalan menjauh.

===============

Sejak hari itu, persiapan festival pun dimulai. Panitia mulai sibuk rapat dan mencari sponsor untuk acara yang dilakukan setahun sekali itu. Yuto, sebagai ketua OSIS menyempatkan diri untuk beberapa kali ikut rapat dan mengatur hal-hal yang harus diperhatikan oleh semua panitia.

Imbasnya Mika juga ikut sibuk mengurusi banyak hal. Terutama soal perizinan dan proposal yang memang menjadi tugas seorang sekretaris. Shida juga ikut membantu walaupun tidak bisa sepenuhnya.

Bahkan malam ini Mika hampir-hampir harus menginap di sekolah karena beberapa properti harus segera diselesaikan. Walaupun tugasnya sebagai sekretaris sudah beres, tapi ia harus membantu persiapan dekorasi juga.

“Ah…sudah jam delapan…sepertinya aku harus pulang…” gumam Mika, lalu membereskan beberapa properti dan membawa sisanya yang belum diselesaikan.

Saat berjalan keluar, tiba-tiba ia mendengar alunan piano dari ruang musik.

“Huwaa!!” seberani apapun dirinya, jika menghadapi hal seperti ini pasti bulu kuduknya meradang karena takut.

Namun rasa penasaran terhadap suara indah itu pun membuat Mika ingin melihat siapa yang memainkannya. Mika menyandarkan tubuhnya ke pintu dan berjinjit melihat ke kaca kecil yang berada di bagian atas pintu ruang musik. Tanpa sadar ia malah mendorong pintu itu hingga terbuka.

Alunan piano itu berhenti, si pemain piano itu menatap Mika yang tampak salah tingkah karena ketahuan mengintip.

“Mika~n… kau belum pulang?”

Itu Nakajima Yuto.

Mika menggeleng.

“Sudah malam loh… tak baik anak cewek pulang malam-malam…” kata Yuto lagi.

Mika berjalan menghampiri Yuto, “Aku tak tahu…Nakajima-kun bisa bermain piano…kukira kau hanya bisa main drum…” kata Mika dengan polosnya.

Yuto tersenyum, “Tak sangka kau memperhatikan aku…”

Beruntung penerangan di ruangan itu tak cukup terang untuk memperlihatkan seberapa merahnya pipi Mika sekarang.

“Itu.. aku tahu dari Fu-chan!! Iya!!” seru Mika cepat.

“Hmmm… Sou da ne…” Yuto kembali memainkan piano itu, “Aku bisa sedikit-sedikit, tidak terlalu mahir…” katanya lagi.

Yuto memandangi Mika yang berdiri di sebelah piano, “Kau mau duduk?” katanya sambil bergeser memberikan tempat untuk Mika.

Mika duduk dan menekan tuts piano itu, meresapi suaranya. Sejak kecil ia suka main piano, Ibunya memberikan kesempatan untuk Mika belajar piano namun saat ia masuk SMA, otomatis les itu pun berhenti.

“Kau bisa main piano?” tanya Yuto.

Mika menjawabnya dengan memainkan tuts piano itu dengan lincah. Bahkan membuat Yuto sendiri kaget melihatnya.

“Waaa!! Sugooii!!” seru Yuto lalu bertepuk tangan untuk Mika.

“Eh…gomen…” Mika menyadari kelancangannya yang tiba-tiba mengganggu seorang Yuto. Ia pun segera beranjak, namun Yuto menahannya.

“Mainkan lagi…” ucap Yuto lirih.

Mika memainkan lagi piano tersebut, tiba-tiba ia merasa Yuto merebahkan kepala di bahunya. Membuat Mika berhenti.

“Anou… Nakajima-kun…” bisik Mika yang mulai merasakan jantungnya berdetak tak karuan.

Tapi Yuto tidak menjawab, Mika pelan-pelan melihat ke arah Yuto dan ternyata pemuda itu tertidur.

“Nakajima-kun…” bisik Mika lagi.

Mika bergerak dan saat itulah badan Yuto tumbang dan kepala Yuto bersandar di paha Mika membuat gadis itu kaget namun tak bisa melakukan apapun.

Mika masih berusaha membangunkan Yuto, namun ketika itulah Mika sadar bahwa Yuto terlihat pucat dan tak sehat. Mika merasakan dahi Yuto yang panas dan mulai berkeringat karena demam.

“Aduh…gimana nih…” Mika dengan cepat meraih tasnya, dan memberikan Yuto minum yang ia bawa dari rumah yang untungnya sempat ia isi kembali tadi siang di ruang OSIS.

Ia tak bisa berfikir banyak, lalu mengeluarkan sapu tangannya, membasahi sapu tangan itu dan mengompres dahi Yuto. Lalu Mika membuka jas sekolahnya, menyampirkannya di tubuh Yuto.

Ia lakukan berulang-ulang mengompres dahi Yuto hingga ia merasakan panasnya tak lagi seberapa.

Perlahan mata Mika mulai terasa berat, ia pun bersender pada Piano yang ada di depannya, ikut memejamkan mata sambil memegangi kepala Yuto, mencegah pemuda itu terjatuh.

Yuto merasakan dirinya sedikit merasa aneh, badannya pegal dan ia merasa sangat haus. Ia ingat semalam ia begitu pusing, mungkin efek dari kecapekan membuatnya merasa tak enak badan.

Yuto perlahan membuka matanya, menyentuh tangan yang memegangi dirinya dengan erat. Lalu mencoba melepaskan diri, namun tubuh si gadis lalu bergeser dan hampir jatuh, Yuto memeganginya.

“Eh… Mikan…” bisik Yuto pelan.

Si gadis merasa tidurnya terganggu lalu menggeliat terbangun.

“Gomen…” kata Yuto ketika Mika sudah sepenuhnya sadar.

Mika segera melepaskan diri dari pelukan Yuto dan merasa dirinya sungguh canggung. Apalagi Yuto memandanginya dengan tatapan yang bahkan tak bisa Mika artikan sepenuhnya.

“Semalam…Nakajima-kun…itu…” Mika berusaha menjelaskan, namun tak ada kata-kata yang mampu ia utarakan.

“Arigatou na…Mikan…” kata Yuto dengan lembut.

Mika bingung tak mampu bergerak apalagi setelahnya Yuto mencium pelan dahi Mika membungkam gadis itu dan saat itu pun Mika mulai tahu arti debaran jantungnya belakangan ini ketika mengingat seorang Nakajima Yuto.

===============

“Mika…kumohon ya…berikan ini pada Nakajima-kun…” seorang gadis bernama Kanon yang Mika ketahui sebagai siswa kelas sebelah, meminta Mika memberikan coklat beserta surat cinta.

Hari ini hari valentine. Tanpa ia sadari, waktu berjalan cukup cepat, dan jabatan sebagai sekretaris sama sekali belum berubah.

Setelah kejadian malam itu, entah kenapa Yuto jadi sering menghubungi Mika. Apalagi statusnya sebagai sekretaris OSIS yang lebih aktif dari Shida Mirai yang merupakan sekretaris 1 di kepengurusan itu.

Yuto sering memintanya untuk menghadiri rapat bersamanya, atau meminta menggantikannya. Karena itulah otomatis Mika sering bertemu dengan Yuto, teman-temannya mengetahui hal itu dan sering memintanya untuk membawakan macam-macam barang untuk diberikan pada Yuto. Namun Mika sendiri selalu mengelak jika dibilang ia menyukai si pemuda. Bahkan Mika terang-terangan tidak menyukai kebiasaan Yuto yang mangkir dari tugas gara-gara kesibukannya sebagai idola.

Mika masuk ke ruangan OSIS dengan membawa satu kantong besar yang berisi coklat-coklat yang diberikan oleh teman-temannya atau gadis kelas sebelah yang tak mau memberikan coklatnya secara langsung. Selain itu ada juga titipan untuk teman-teman Yuto, seperti Yamada atau Chinen.

“Ohayou~” sapa Mika.

“Ohayou Mikan~” sapaan Yuto yang tak pernah berubah sejak ia memberikan jus jeruk tempo hari.

“Tumben pagi-pagi ada disini…” kata Mika.

“Karena aku tak akan ada seharian ini…”

“Ah sou da…” lagi-lagi mangkir, tambah Mika dalam hati.

“Apa itu?” tanya Yuto sambil memperhatikan kantong plastik yang dibawa Mika.

“Coklat untuk Nakajima-kun…dari penggemarmu…ada juga untuk Yamada-kun dan Chinen-kun… ah ya… Fu-chan nitip untuk Arioka-san juga…” jelas Mika panjang lebar sambil menyimpannya di meja kerja Yuto.

“Lalu dari Mikan mana?” tanya Yuto tiba-tiba.

“Hah? Kau bercanda?” Mika membuka laptopnya di sebelah Yuto, cuek dengan pekerjaannya.

“Aku ingin coklat dari Mikan!!” seru Yuto lagi.

“Merepotkan…aku tak pernah buat coklat untuk siapapun…” jawab Mika.

“Ayolah Mikan….” rayu Yuto lagi.

Semakin lama bersama dengan Yuto, Mika semakin melihat sisi manusia dari Yuto yang kadang-kadang menyebalkan atau manja dan terkadang menyenangkan atau menunjukkan sifat-sifat tak terduga.

Mika melepaskan tangan Yuto dari lengannya, “Baiklah…besok kubawakan coklat, oke?”

“YATTA!!! Dadah Mikan…aku harus berangkat kerja!!” seru Yuto sambil membawa kantong itu dengan wajah cerianya seperti biasa.

===============

“Ini…” Mika menyodorkan sebatang coklat yang kemarin akhirnya ia beli di toko 24 jam sebelum ia pulang.

Yuto memandangi coklat itu, “Untukku?”

“Un…” Mika mengangguk dan menyimpan coklat itu diatas meja.

Seperti biasa Yuto sudah ada di ruangan OSIS pagi-pagi sekali.

“Kukira Mikan akan memberikanku coklat buatan tangan…” keluh Yuto sambil memandangi coklat itu.

Mika kembali berdiri, “Kembalikan! Kalau tak mau biar aku saja yang makan!!” serunya dengan kesal.

Yuto menarik coklat itu menjauh dari tangan Mika, “Gak bisa!! Ini sudah punyaku!!”

“Ya sudah jangan protes…” ucap Mika lagi.

Wajah Yuto berubah ceria, lalu memasukkan coklat itu ke dalam tasnya.

“Ne~ Mikan…” panggil Yuto.

“Hmmm?”

“Sebentar lagi aku lengser loh… setelah itu aku akan lulus…” Yuto berkata dengan lirih, memandangi sekeliling ruangan.

“Sore de? Lalu?”

“Tapi… sebelum aku lulus aku ingin bilang sesuatu padamu…”

“Apa?”

“Aku menyukai seseorang, tapi sepertinya orang itu tak menyadarinya…” katanya lagi.

Mika mengerenyitkan dahi. Satu sifat aneh lagi dari seorang Yuto, ia sangat random dan tiba-iba curhat padanya.

“Utarakan saja padanya.. kau kan tampan, populer, pasti gadis itu mau denganu,” jawab Mika yang tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“Ah sou ka…baiklah…aku akan melakukannya…” kata Yuto, “Kalau yang kusukai itu… Mikan? Bagaimana?”

Berhasil membuat Mika berhenti mengetik dan memandang Yuto dengan heran.

“Jangan bercanda…ini tak lucu…”

“Aku kan hanya bertanya ‘jika’…” sanggah Yuto cepat, “Gadis yang kusukai itu sama sepertimu…bukan murid kelas khusus…dan dia….”

“Aku akan menolakmu…” jawab Mika sebelum Yuto berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Eh? Nande?”

“Kau populer, kau aktor hebat dan penyanyi terkenal… siapa yang bisa tahu kau berbohong atau tidak? Kau akan sibuk dan aku akan diterlantarkan…hubungan seperti itu, apanya yang menarik? Membuat hati tidak tenang saja…” jelas Mika panjang lebar.

Yuto terdiam, seketika ia merasa hatinya sakit sekali. Mendnegarnya langsung dari mulut gadis yang ia sukai sama saja Mika menolaknya secara tidak langsung.

“Aku harus kembali ke kelas…jya!” Mika keluar dari ruangan OSIS karena hatinya berdebar tak karuan.

Ia takut jika terus di dalam, ia akan menangis atau melakukan hal bodoh lainnya. Mika menjawab seperti itu karena mengetahui kenyataan bahwa Yuto menyukai gadis lain. Bukan dirinya. Mika sering tak mengakuinya, tapi ia sebenarnya tahu bahwa ia sudah menyukai Yuto tanpa ia sadari sebelumnya.

===============

“Besok trio tampan lulus ya…huwaaa~ pasti sekolah jadi sedikit membosankan…” keluh Hanako yang duduk di sebelah Mika. Mereka sedang merapatkan acara kelulusan yang akan dilaksanakan esok hari.

Selama beberapa minggu Yuto sama sekali tak kembali ke ruangan itu. Ia memang sudah turun jabatan, dan tak lagi menjadi pengurus. Apalagi setelah itu ujian menanti dan kelulusan pun akan segera dilaksanakan.

Seluruh pengurus kelas dua yang akan segera naik kelas pun membuat acara kelulusan bagi kakak kelas mereka. Apalagi tahun ini cukup spesial, mengingat ketua OSIS nya adalah seorang Nakajima Yuto.

“Sotsugyou Omedetou!!!” seru pengurus OSIS kepada Yuto dan beberapa teman kelas tiga yang sore itu setelah kelulusan kembali ke ruangan OSIS untuk perpisahan.

Mika memandangi Yuto dari jauh, pemuda itu sedang asik berbicara dengan beberapa anak laki-laki kelas dua. Namun beberapa saat kemudian Yuto keluar ruangan.

“Ne…ne… sudah dengar gosip soal Nakajima-senpai?” bisik-bisik itu terdengar oleh Mika.

“Gosip apa?” tanya gadis yang lain.

“Kabarnya dia nembak cewek, tapi ditolak…”

“Bohonnngg!! Mana mungkin ada gadis sebodoh itu menolak seorang Nakajima Yuto?!” seru mereka.

Mika segera beranjak dan mengejar Yuto. Ia tahu dimana Yuto berada.

“Nakajima-kun!!” seru Mika sambil membuka pintu ruang musik.

Yuto berhenti dan memandangi Mika, “Ada apa Mikan? Kenapa rusuh sih?” Yuto terkekeh dan kembali bermain piano.

“Anou…aku dengar…kau…ditolak oleh gadis yang kau sukai itu?” tanya Mika tanpa sempat berpikir apa yang ia tanyakan.

“Bukankah kau memang sudah menolakku?” jawabnya cuek.

“Hah?” Mika bergerak cepat mendekati Yuto, “Maksudnya?”

“Maksudnya ya begitu…”

“Hah? Coba jelaskan lebih….” Mika mencari kata yang pas, “Sederhana…”

Yuto berhenti bermain piano, lalu memandang Mika, “Lebih sederhana? Aku menyukaimu…itu dapat kau mengerti?”

Mika melotot kaget, “Tapi…tempo hari kau bilang soal kau menyukai gadis…itu…??” kini Mika duduk di sebelah Yuto.

“Itu kau…Mikan tak pernah menujukkan kalau kau suka padaku, aku diberi banyak coklat lalu kau tidak protes… beberapa kali aku menunjukkan bahwa aku menyukaimu, tapi Mikan seakan tak pernah menyadarinya…” jelas Yuto panjang lebar, “Lagipula Mikan bilang tak mau berpacaran dengan orang sepertiku kan?”

“Eh? Tapi aku mengatakan hal itu karena kupikir… Nakajima-kun akan menyatakan perasaannya pada gadis lain…” ucap Mika lirih.

“Hah? Chotto…maksudnya?”

“Aku…aku juga menyukai Nakajima-kun,” ucapan Mika sangat pelan, namun terdengar jelas oleh Yuto.

“Eh?! Hontou?!” seru Yuto.

Mika mengalihkan pandangannya karena merasa canggung dan deg-degan dengan tatapan Yuto kali ini.

Yuto meraih tangan Mika, menggenggamnya dengan kedua tangannya, “Tapi aku sudah lulus…” keluhnya.

“Memangnya kalau sudah lulus Nakajima…tidak… Yuto-kun tidak menyukaiku lagi?” tanya Mika.

Yuto menggeleng, “Bukan begitu! Tapi aku akan semakin sibuk dan mungkin sulit bertemu denganmu… Mikan bilang… tak mau punya hubungan seperti itu, kan?”

“Kalau Yuto-kun…aku percaya aku akan bisa bertahan… lagipula aku mengatakan hal itu kan asal saja…” protes Mika.

“Yatta!!” Yuto meloncat dari kursi piano itu lalu berlari mengelilingi piano, “Yabai!! Aku terlalu senang…bagaimana ini…”

Mika tertawa lalu memainkan piano dengan nada ceria. Yuto berhenti untuk mendengarkan dan menatap Mika, langkahnya berhenti saat Mika berhenti bermain piano, dan mendongak menatap Yuto dengan senyumnya.

Yuto menunduk dan mencium lembut bibir Mika, membuat gadis itu kaget. Yuto menarik tubuh Mika hingga gadis itu berdiri, tanpa melepaskan ciumannya. Mika menutup matanya, merasakan kehangatan dari Yuto yang kini memeluknya erat.

“Sukida…” bisik Yuto setelah ciuman itu berakhir, “Yang kau lakukan selama ini hanya berlari menjauh dariku…jangan lari lagi…” bisiknya lagi, Mika mengangguk menyambut pelukan Yuto.

=================

Jumping To My Heart ~Runaway~ END
OWARI~

It’s means this fanfic is over!! AYEYYYY!!
*tebar kembang tujuh rupa*
Akhirnyaaaa….
Akhirnyaaaaa~ #lebay
Maafkan kalau yang chapter ini agak aneh…
Makasih buat yang masih ngikutin…hahaha :))
Please Don’t Be A Silent Reader…
COMMENTS ARE LOVE… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s