[Minichapter] Watashitachi (Chapter 1)

Title           : Watashitachi
Type          : Minichapter
Chapter    : One
Author        : Dinchan Tegoshi(sebagian ide dari Nu Niimura)
Genre         : Romance
Ratting        : PG-15
Fandom      : JE
Starring        : Ikuta Toma (Johnnys), Sakurai Sho (Arashi), Yamashita Opi (OC), Yamashita Hiro (OC), dan orang-orang lain yang lewat termasuk Hideyoshi Sora (OC)… 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. Ikuta Toma and Sakurai Sho are belongs to JE, Opi saia pinjem dari yang request… 🙂
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

Watashitachi
~Chapter 1~


Pagi berawan yang cukup cerah. Sebuah apartemen mungil yang berpenghuni dua orang itu sibuk menyiapkan hari yang akan mereka lewati. Yang satu harus pergi ke sekolah, sementara yang satu harus bekerja.

“Hirooo!! Bekalmu!! Bekal!!” seru wanita itu heboh memasukan bekal ke tas.

“Okaa-chan… cepetan!! Nanti aku terlambat!!” keluh si anak melihat Ibunya kelimpungan karena pagi ini mereka telat bangun.

“Baiklah…semua sudah siap… ayo berangkaaatt!!” seru wanita itu sambil mengeluarkan sepedanya, dan menaikkan Hiro ke boncengan sepeda.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan taman kanak-kanak. Wanita itu menurunkan Hiro dan mengantarnya hingga ke depan halaman sekolah itu.

“Ohayou Sho senseiii!!” sapa Hiro kepada seorang pria yang berdiri di depan lengkap dengan celemek dan senyumnya yang selalu ia berikan kepada semua muridnya yang baru datang.

“Giri-giri save…. sebentar lagi masuk loh… Hiro-kun…” ucap Sho sambil membungkuk menatap Hiro.

“Okaa-chan kesiangan lagi!!” lapor Hiro pada gurunya itu, bocah lima tahun itu merajuk menatap Ibunya.

“Sumimasen Sakurai-sensei… biasa…lembur…” kata si wanita menjelaskan mengapa ia bisa kesiangan.

Sho tersenyum, “Tak apa Opi-chan… yang penting Hiro tepat waktu…” katanya, lalu menatap Hiro, “Ayo masuk!! Pelajaran segera dimulai…” ucap Sho lembut.

“Haaaiii!! Jya Okaaa-chaaann!!” Hiro masuk ke dalam kelas sambil berlari-lari kecil dan melambai pada Opi.

“Mou… Sho-chan… panggilnya Yamashita-san saja kalau ada Hiro…”

“Kau tetap adikku walaupun kau Ibu dari Hiro…”

“Baiklah…aku berangkat kerja dulu!!” pamit Opi sambil menunduk sekilas pada Sho.

Bagi Yamashita Opi, inilah kesehariannya. Bangun pagi, mengantarkan anak ke sekolah TK, lalu berangkat kerja di sebuah majalah. Itu pun masih sebagai pegawai magang.

Padahal umurnya baru 22 tahun. Beberapa kali Opi selalu merasa sedikit iri jika melihat gadis seumurannya masih bisa kuliah dan menikmati masa muda dengan teman-temannya, tapi jika ia menatap Hiro, maka keraguan akan keputusannya pun terhapus sudah. Ia harus berjuang hidup juga demi anaknya.

“Ohayou!” sapa Opi ketika dirinya masuk ke dalam kantor.

Suasana kantor sudah ramai seperti biasanya. Opi segera meletakkan tasnya dan membuatkan kopi untuk beberapa pekerja, itu adalah salah satu tugasnya.

Opi membawakan kopi itu ke meja pimpinan redaksi, “Ini kopinya Ohno-san…” ucapnya gugup, tau ia akan dimarahi.

Ohno menatapnya dibalik kacamatanya, “Ah! Yamashita-kun!! Tepat sekali kau kesini. Saya ingin kau mewawancarai seseorang, ia akan jadi sampul depan untuk dua bulan berturut-turut!!” serunya dengan sumringah, “Kita akhirnya mendapatkan kata Ok darinya!! Hahahaha…” ucapnya dengan gaya bak seorang pemain teater.

“Anou… Ohno-san… hontou desu ka? Saya bisa mewawancarai? Huwaaaa~” wajah Opi berubah bahagia. Sudah ia tunggu kesempatan ini selama berbulan-bulan.

Ohno mengangguk, “Kimi shika inai!!” lalu ia memberikan sebuah kertas dengan profil orang yang harus Opi wawancarai.

“Uso…” wajah bahagia berubah seketika.

Ikuta Toma.

Salah satu aktor terbaik di Jepang, film terbarunya pun sedang diputar di seluruh bioskop, iklannya bertebaran hampir tiap menit. Sayangnya dia juga dikenal dengan watak tak baik dan sikap playboynya.

“Selamat!! Kau harus segera menghubunginya…” Ohno menepuk pundak Opi lalu kembali menatap layar laptop dihadapannya.

================

“Haaaa??!! Ikuta Toma?? Ikuta Toma??!!” seru Sora sambil menunjuk foto Toma yang ada di sebuah majalah yang ia pegang sejak tadi.

Opi mengangguk lesu. Siang ini ia bertemu dengan sahabatnya, Hideyoshi Sora, mereka selalu satu sekolah hingga Opi memutuskan untuk bekerja dan berhenti sekolah waktu itu. Sora hanyalah sedikit temannya yang tetap menjadi teman setelah peristiwa yang menimpa Opi, tidak banyak yang mau tahu tentang dirinya setelah ia punya anak di usia belia.

“Huwaaa!! Lucky!! Kalau aku jadi kau, aku pasti pingsan di depannya!!” seru gadis itu heboh.

“Soraaa~ kau tahu sikapnya kan? Lihat kan beberapa waktu lalu dia di wawancara lalu tiba-tiba keluar studio karena emosi? Huwaaa~ nanka… menyeramkan sekali harus berurusan dengan pria macam dia…” keluh Opi sambil mengaduk-aduk tehnya.

“Tapi dia tampan…tam-pan…” ucap Sora memperlihatkan foto Toma di hadapan Opi.

Opi menepisnya, “Ugh!! Doakan aku berhasil saja…”

“Un!! Mintai aku tanda tangannya yaaa!” kata Sora masih saja bersemangat.

“Sora…” kata Opi menatap Sora dengan kesal.

“Ehehehe… aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong, kau sudah dapat undangan reuni?” tanya Sora.

“Reuni? Reuni apa?” Opi tak mengerti.

“Yappari… mungkin kau baru saja pindah, jadi suratnya tak sampai. Ini suratnya… dilaksanakan akhir minggu ini,” Sora menyerahkan sebuah amplop.

Opi membacanya, “Ah… reuni SMA… huwee.. takaii… mahal sekali, tidak bisa, Hiro harus bayaran sekolah,” tolak Opi sambil mengembalikan suratnya pada Sora.

Sora manyun, “Ayolah… datang yaaa…” rayunya sambil menggoyang-goyangkan tangan Opi.

“Kau pikir… dia akan datang?” bisik Opi pelan, namun terdengar jelas oleh Sora.

Seketika gerakan Sora terhenti, “Dia…maksudmu…” Sora menelan ludahnya, menatap Opi penuh arti, “Dia?” Sora menekan kata ‘dia’ dengan pelan-pelan.

Opi mengangguk, “Ah…sudahlah…”

“Justru itu Opi…aku ingin kau memastikannya. Sebagai sahabat, aku terus berharap kau bahagia dengan Hiro, dan dia…” kini Sora benar-benar serius di setiap kata-kata yang ia ucapkan.

Opi menghela nafas, “Aku bahagia hanya dengan Hiro saja…” imbuhnya tak peduli.

“Tapi, pernahkah Hiro bertanya soal Ayahnya? Sampai kapan kau berbohong padanya? Hmm?”

Opi menggeleng pasrah, “Entahlah, Sora…”

“Kalau begitu, kau harus bertemu dengannya!! Ya?”

Opi beranjak, “Aku sudah harus kembali bekerja… nanti kupikirkan dulu!”

==============

“Huweeeee!!! Senseeeiiii!!” seorang anak terjatuh dan menangis.

Sho segera berlari ke tempat anak-anak itu sedang bermain, “Ada apa Kento-kun?” tanyanya sambil membantu Kento berdiri.

“Itu! Hiro mendorongku!!” Kento mengadukan Hiro yang sudah berlari ke belakang sebuah perosotan, mengintip ketakutan.

Sho menyerahkan Kento kepada guru lain, lalu berjalan menuju Hiro.

“Hiro-kun… kenapa mendorong Kento-kun? Hmm?” Sho berbicara dengan nada lembut, mensejajarkan diri dengan Hiro.

Hiro menggeleng, tak mau menjawab, air mata sudah menggantung di pelupuk matanya.

“Ayo beritahu sensei. Tidak baik mendorong temanmu sendiri…” bujuk Sho, menyentuh pundak Hiro dengan sabar.

“Kento bilang Hiro tak punya Ayah,”

Deg.

Sho terdiam sesaat, lalu menepuk pelan kepala Hiro, “Tapi Hiro punya Mama yang hebat, kan?”

Hiro mengangguk pelan, “Tapi…kenapa Hiro gak punya Ayah?” Hiro masih menuntut penjelasan lebih.

“Karena Hiro adalah anak yang spesial…” kata Sho menenangkan, “Sekarang minta maaf pada Kento-kun, ya?”

Hiro mengangguk dan ikut dengan Sho yang menggandeng tangannya menuju Kento.

Sho tak tega, namun ia tak bisa menceritakan apapun pada Hiro. Ini bukan kewenangannya untuk menjelaskan, namun Opi sendiri tampaknya belum siap untuk memberitahukan kebenarannya.

=================

“Yosh!” Opi mengetuk pintu ruangan itu dengan mantap, “Sumimasen.. Ojamashimasu…” katanya sambil masuk ke dalam.

Di dalam ruangan itu, seorang Ikuta Toma sedang bersantai menunggu syuting dimulai. Ia memang sudah meminta izin kepada manajer Toma untuk mewawancarai Toma.

“Saya Yamashita Opi dari majalah The Life.” Opi menyerahkan kartu namanya.

Seorang pria yang Opi tebak sebagai manajernya berdiri dan menyambut kartu nama itu, “Hai! Saya sudah menunggu kedatangan anda,” katanya lalu menyerahkan kartu nama miliknya.

“Kawaguchi-san…” baca Opi.

“Yukito desu… panggil saja Yuki-chaaann!!” serunya.

Opi mengangguk-angguk canggung.

“Oii! Yuki! Kata siapa aku mau wawancara sekarang?!” Toma beranjak hendak meninggalkan ruangan itu.

“Mou… Toma-chaann…” Yukito berlari kecil mengejar si aktor.

Opi ikut berbalik dan berjalan cepat disebelah Toma, “Saya sudah mengantongi izin dari manajer anda, jadi kumohon… wawancara ini tidak akan lama,” ucapnya cepat.

Toma tiba-tiba berhenti, lalu menatap Opi, “Kalau begitu tunggu hingga syutingku kelar… aku tidak mau di ganggu selama syuting…”

“Chotto matte kudasai!! Ikuta-san!! Onegaishimasu!!” Opi membungkuk cepat.

Terdengar cibiran dari mulut Toma, “Cih~ mengganggu saja…kubilang juga tunggu sampai syutingku selesai!”

Tanpa memerdulikan Opi, Toma pun berlalu dari tempat itu. Opi tahu tak akan mudah mendapatkan sesi wawancara dengan Ikuta Toma. Apalagi majalah mereka bisa dibilang bukan majalah untuk idol atau semacamnya.

“Gomen ne Opi-chan…tunggu saja disini…” Yukito berkata demikian sambil mengejar Toma.

Maka Opi meminta izin pada atasannya untuk menunggu Toma selesai syuting. Ternyata hingga petang tiba, Toma baru selesai dan ia kaget melihat Opi masih berada di dalam kamar gantinya.

“Are? Kau masih disini? Kupikir Yuki sudah mengusirmu…” ucapnya sinis.

“Kumohon Ikuta-san…ini hanya wawancara ringan…” kata Opi serta merta berdiri ketika melihat Toma masuk ke ruangan.

“Hmmm… aku harus pergi ke gym sekarang… kalau kau mau ikut kesana, akan kupertimbangkan wawancara ini…” katanya sambil mengambil tasnya.

“Hah? Tapi kau bilang tadi…hanya sampai syutingmu selesai?!” Opi hampir saja marah.

Toma mengangkat bahu, “Aku lupa bilang begitu…”

Opi menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah Ikuta-san…” Opi setuju dan berjalan berdampingan dengan Toma.

“Ini…bawakan… Yuki sedang rapat, aku sendirian… tak biasa bawa barang berat…” katanya acuh sambil menyerahkan kantongnya pada Opi.

“Uwaaa~” tapi Opi tak sempat protes, ia hanya berusaha sabar demi tugas pertamanya ini.

Sesampainya di tempat gym, Toma asik berolahraga, sementara Opi hanya duduk menunggu si aktor menyebalkan itu dengan hati dongkol. Kalau bukan karena ia penting sekali untuk majalah The Life, Opi tak akan sudi untuk menunggu seperti ini.

Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, Opi menatap layar ponselnya yang bertuliskan ‘Taman Kanak-Kanak Sakura’.

“Ah! Moshi-moshi…” angkat Opi.

“Sakurai Sho desukedo… Opi-san?”

“Sho-chan? Ada apa?”

“Aku hanya bertanya-tanya kapan kau akan menjemput Hiro? Dia sudah menunggu lama… dan sekarang malah tertidur di ruangan bermain…”

Opi melihat jam tangannya dan baru sadar sekarang sudah pukul enam.

“Yabai! Aku kelupaan!! Aku segera kesana…” putus Opi.

Ia mengingat jarak dari Gym ini ke sekolah Hiro tentu sangat jauh. Apalagi tugas me wawancarai Toma sama sekali belum terlaksana.

“Kenapa kau seperti orang kesetanan gitu?” ternyata Toma sudah selesai berolahraga dan sekarang berdiri di hadapannya sambil meminum sebotol air mineral.

Opi menatapnya dengan galak, “Kau setannya!! Huh!”

“Apaaaa??!!” Toma menatap Opi dengan kesal, “Apa maksudmu?!”

“Dou shiyo…” Opi kelabakan dan segera turun ke lantai bawah, ia harus mencari taksi dengan segera.

“KAU!! Diam di tempat!” seru Toma memberhentikan langkah Opi.

“Minta maaf!!” serunya, “Minta maaf sekarang juga!!!” bentak Toma.

Opi berjalan cepat ke arah Toma, menarik kerah baju Toma yang jelas lebih tinggi darinya, “Kau! Jangan mentang-mentang kau tampan, punya segalanya… kau bisa mempermainkan orang seperti ini!! Huh!!”

Opi segera berbalik dan memberhentikan sebuah taksi, lalu naik ke taksi itu tanpa memikirkan apa resiko dari perbuatannya. Kini di otaknya hanya mengkhawatirkan Hiro.

“Gomen Sho-chan…. aku dapat tugas pertamaku, tapi kelupaan waktu karena mengejar sumber berita kemana-mana…” ungkap Opi sesaat setelah sampai di sekolah.

Sho terkekeh pelan, “Lain kali kau beritahu aku dulu, ya… kasian Hiro terus bertanya-tanya kemana Ibunya?”

Opi mengangguk mantap.

“Ini… lebih baik jangan dibangunkan. Dia tertidur nyenyak sekali,” Sho menggendong Hiro lalu membantu Hiro digendong oleh Opi di punggungnya.

Sepeda yang biasa ia pakai ke kantor tertinggal di kantor karena ia ke tempat Gym tadi. Berarti ia harus berjalan kaki menuju rumah sambil menggendong Hiro.

“Gomen… maafkan Okaa-chan…” bisik Opi selama perjalanan pulang. Selama ini ia tak pernah seteledor ini hingga melupakan Hiro di sekolah.

Tiba-tiba terasa olehnya gerakan Hiro menggeliat, sepertinya Hiro terbangun.

“Areee.. Okaa-chaaann..” katanya pelan lalu mengalungkan tangannya di leher Opi dengan sikap protektif.

“Gomen na Hiro… Okaa-chan terlambat…”

Hiro mengangguk-angguk cepat, “Okaa-chan kerja kan? Kata Sho-sensei, pasti Okaa-chan sibuk, aku harus mengerti…”

Opi tersenyum, ia terharu mendengar omongan yang keluar dari bocah berusia lima tahun itu.

“Ne…Okaa-chan..”

“Hmmm?”

“Kenapa Hiro gak punya Ayah?”

Deg.

Pertanyaan itu muncul lagi. Hiro dulu tak pernah menanyakannya, tapi beberapa minggu ini, Hiro selalu ingin tahu mengenai hal ini. Biasanya Opi akan mengelak atau mengalihkan pembicaraan. Tapi sampai kapan ia harus terus berbohong pada Hiro. Sementara anaknya ini punya hak mengetahui siapa Ayahnya.

“Tadi siang Kento mengejekku karena aku gak punya Ayah…” pelukan Hiro terasa makin erat.

Opi terdiam, ia tak mampu menjawab.

“Neee…Okaa-chaaannn…” panggil Hiro lagi.

“Hiro tak punya Ayah…mengerti?!”

“Kenapa? Ne?? Kenapa?? Anak lain punya Ayah…kenapa Hiro gak punya?!” rengek Hiro masih merajuk.

“Hiro…Hiro hanya tak punya Ayah!!” tanpa sadar Opi sedikit membentak Hiro, “Gomen…” ucapnya pada Hiro.

Sesampainya di rumah, Opi langsung menghubungi Sora lewat telepon.

“Sora…aku akan ikut reuni…” putusnya.

==================

Keeseokan harinya, Opi masuk kerja dengan perasaan campur aduk. Tidak salah lagi, pihak manajemen Toma pasti sudah melaporkan perbuatannya dan ia harus siap dengan konsekuensi terburuk dari apa yang sudah ia lakukan.

“Bravo!! Yamashita-kuuunn!!” seru Ohno ketika Opi mendatanginya seperti biasa untuk menyerahkan secangkir kopi.

Opi memiringkan kepalanya karena bingung, “Hah? Ada apa Ohno-san?!”

“Ikuta Toma menghubungiku semalam… ia bilang ingin bertemu lagi denganmu karena ingin berterima kasih… hehehe… kau mewawancarainya dengan sukses, bukan?” Ohno merangkul Opi dengan bangga.

“Hah?! Sukses?”

“Yap! Nanti siang ia menunggumu di kantor manajemennya… omedetou!! Omedetou!!”

Jadi seperti itulah Opi kini berada di kantor manajemen yang menaungi nama besar Ikuta Toma. Sesaat setelah sampai, ia langsung diantar ke lantai empat, menurut resepsionis namanya sudah tercantum sebagai tamu untuk seorang Ikuta Toma.

“Ojamashimasu…” Opi masuk ke ruangan itu, tampak Toma sedang membaca sebuah majalah, sementara manajernya entah kemana.

“Ah!! Kau datang juga!!” katanya sambil menampakkan wajah sumringah. Sungguh berbeda dengan apa yang ia tunjukkan kemarin.

“Maaf Ikuta-san… saya…hmmm… bingung kenapa Ikuta-san memanggil saya kesini?”

Toma seketika terkekeh lalu berdiri di hadapan Opi, menunduk menatap gadis itu, “Suki dakara…suki…”

“HAAAAA??!!” Opi secara refleks mendorong bahu Toma dengan kasar, “Uso da yo?! Kemarin kan aku…itu…aku…” Opi hendak menjelaskan, namun tak mendapatkan kata-kata yang pas.

Toma tersenyum, “Kau menarik… belum pernah ada seorang wanita memarahiku seperti itu… kebanyakan memuja karena ketampananku, yah~ tidak salah juga sih, tapi kau berbeda…”

Opi melotot kaget, lalu berbalik meninggalkan ruangan itu, “Jangan bercanda!! Dasar orang aneh!!”

“Jadi kau menyia-nyiakan kesempatan untuk mewawancaraiku dengan ekslusif?”

Gerakan Opi berhenti seketika, urung keluar dari ruangan.

“Bagaimana? Tawaranku menarik, kan? Asal kau mau jadi pacarku, aku bisa memberikan informasi apapun…hehehe,”

Opi benar-benar berbalik lalu menghadap langsung ke depan muka Toma,

PLAKK!

Tamparan itu benar-benar ia layangkan kepada si pemilik wajah tampan.

“Baka jyanai?!! Kau tidak tahu siapa aku!! Jangan asal bicara!!” Opi pun meninggalkan ruangan itu tanpa berbalik lagi.

“Itte…” Toma mengusap pipinya yang kemerahan karena tamparan tadi, “Yukiii!!”

Yukito berlari masuk ke ruangan ketika mendengar Toma memanggilnya, “Eh? Doushita no Toma-chaann?”

“Cari tahu soal Yamashita Opi… kutunggu informasinya hingga sore ini,”

===============

“Sora!! Kau tak bisa melarikan diri terus tinggal disini,” kata Opi malam itu saat Sora tiba-tiba muncul di apartemennya.

“Otou-san ribut sekali soal pernikahan… aku masih terlalu muda untuk menikah!!” Sora manyun lalu meneguk jus yang diberikan oleh Opi.

“Mungkin ia khawatir. Biasalah karena kau selalu seenaknya, pasti Otou-san khawatir padamu,” imbuh Opi.

“Aku masih dua puluh dua, bahkan kuliah saja belum lulus. Menikah terlalu jauh dari pikiranku sekarang!” jawab Sora lagi.

Opi menghela nafas, “Sora… hadapi masalahmu! Kalaupun kau melarikan diri, Otou-san tidak akan mengerti perasaanmu, lagipula calon suami itu sudah mapan, kan? Berapa umurnya tadi? Tiga puluh tahun?”

“Un! Tapi tetap saja…”

“Baiklah…pikirkanlah, aku mengizinkanmu menginap semalam ini saja. Mengerti?” kata Opi dengan tegas.

Sora hanya mengangguk-angguk.

“Ngomong-ngomong Opichi… kenapa di rumahmu gak ada bir?” keluh Sora.

“Karena hanya ada aku dan Hiro… aku tidak butuh bir,” jawab Opi acuh tak acuh.

“Oba-chaann!!” Hiro yang baru selesai mandi menghampiri Sora.

“Horaaa! Sudah kubilang panggil Sora-chan… So~ra-chan… bukan Oba-chan!” Sora mengacak pelan rambut Hiro.

“Ne~ Oba-chan sudah lama berteman dengan Okaa-chan?” tanya Hiro sambil duduk di sebelah Sora.

Sora mengangguk, “Lamaaa sekali~ sejak kita sama-sama pakai baju seragam sekolah…”

“Hai! Hai! Ini makan malam…” kata Opi sambil meletakkan makanan di atas meja makan.

Opi juga ikut duduk dan mereka pun mulai makan.

“Okaa-chan…” panggil Hiro.

“Hmmm?”

“Kenapa Hiro gak punya Papa?” mata Hiro membulat ingin tahu, menatap Opi.

“Uhuk!!” Sora terbatuk dan langsung meneguk jusnya, ikut menatap Opi.

“Sudahlah Hiro… jangan bertanya pertanyaan itu berulang-ulang! Habiskan makanmu, lalu gosok gigi dan tidur! Mengerti?!”

Hiro terlihat kecewa, namun akhirnya mengangguk pelan.

================

Sambil berbaring, Toma menatap kertas yang diberikan Yukito tadi sore. Terbayang olehnya kata-kata Yukito yang menggambarkan secara jelas siapa wanita yang sedang membuatnya penasaran itu.

“Yamashita Opi, dua puluh dua tahun, keluarganya seorang ibu dan kakak laki-laki yang kini bekerja di luar negeri. Enam tahun lalu Opi berhenti sekolah dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yamashita Hiro…”

“Seorang anak?!!” Toma mengerenyit tak percaya.

“Un! Tapi aku tak bisa mendapatkan informasi soal Ayah dari anak ini… menurut pihak Rumah Sakit, Opi hanya ditemani Ibunya dan seorang gadis seusianya ketika melahirkan… Kakaknya datang keesokan harinya, sama sekali tak ada informasi soal Ayah dari anak ini. Bahkan nama keluarganya juga masih tetap Yamashita,” jelas Yukito panjang lebar sore itu.

“Apakah karena ia punya anak? Lalu ia tak mau punya hubungan denganku?” Toma mendesah pelan, tiba-tiba ia merasa aneh dengan perasaan yang tidak biasa rasakan pada seorang gadis.

Opi berbeda. Itu yang ia rasakan.

“Aku harus menemuinya besok…” bisik Toma pelan.

“Haaaii!! Semua sudah siap! Ayo berangkat!!” seru Opi sambil memasukkan bekal Hiro ke tas.

“Ne… okaa-chan, Sora-chan masih tidur…” kata Hiro sambil menusuk-nusuk pipi Sora yang dalam posisi terlentang, masih sulit dibangunkan.

Opi tersenyum. Setelah usaha keras Sora membuat Hiro memanggilnya ‘Sora-chan’ akhirnya berhasil juga.

“Biarkan saja! Okaa-chan sudah meninggalkan pesan untuknya… Ayo Hiro! Nanti terlambat!!” seru Opi.

Hiro mengangguk lalu berlari kecil mengikuti Opi.

“Ohayou Sho-senseii!!!” sapa Hiro ketika melewati gerbang sekolah.

“Yosh! Hiro-kun hari ini tidak terlambat lagi…” Sho tersenyum sambil menepuk pelan kepala Hiro.

“Un!!” Hiro pun mengangguk bersemangat.

“Aku berangkat dulu Sho-chan!! Ittekimasu!!” pamit Opi sambil melambai pada Sho.

“Itterasshai!!”

Baru beberapa meter dari kawasan sekolah, ia merasa dirinya diikuti seseorang. Namun ia berusaha tak memerdulikannya, Opi mengayuh sepedanya lebih cepat ketika ia merasa seseorang berlari dibelakangnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, membuatnya harus mengerem mendadak.

“Siapa kau?!!” seru Opi sambil turun dari sepeda, dan secara refleks melepaskan tendangannya pada orang dibelakang.

BUGH!

“Ittee~!!!” keluh orang itu. Syal dan kacamata yang ia pakai melorot seketika.

“Eeehh? Ikuta-saaannn??”

“Anou… sumimasen deshita!” ucap Opi tulus ketika mereka sudah berada di sebuah kafe yang menurut pengakuan Toma adalah kafe langganannya.

Opi terpaksa meminta izin pada Ohno, berkata bahwa ia ada urusan dengan si mega bintang yang kini duduk di hadapannya.

Toma hanya memandanginya lama, sesekali menyeruput kopi hitam yang terhidang di hadapannya. Membuat Opi sedikit risih dengan tatapan Toma yang terlalu intens.

“Kalau aku mengatakannya sekali lagi, kau mau mempertimbangkannya?” pertanyaan Toma sepertinya terlalu aneh, membuat Opi mengerenyitkan dahinya.

“Chotto… apa maksudnya?”

“Soal aku ingin menjadi pacarmu?” Toma bersumpah lidahnya bergerak sendiri, otaknya terasa macet karena euforia perasaan yang kini ia rasakan.

Opi menghela nafas, “Aku tidak punya waktu untuk bermain-main Ikuta-san…” tapi kali ini Opi bertahan, ia harus mendapatkan wawancara dengan Toma bagaimanapun caranya.

Toma menunjukkan wajah kesal, lalu menggeser kursinya hingga wajahnya tak menatap Opi, ia memilih untuk melihat ke arah luar kafe itu.

“Bisa tidak kita buat hal ini jadi lebih sederhana? Misalnya… aku bisa mewawancaraimu…itu saja? Bagaimana?”

Toma mengangkat bahu tanda tak perdulinya. Bagi Opi ini seperti berbicara dengan Hiro, anaknya sendiri, ketika bocah itu sedang merengek minta mainan.

“Baiklah Ikuta-san…saya akan menghubungi anda kembali nanti…” Opi menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan si ‘bocah besar’ itu tanpa memberikan apa yang ia minta.

Tapi tangan Opi seketika dicegah oleh Toma, “Baiklah…bagaimana kalau makan malam saja? Hanya makan malam…dan kau boleh mewawancarai aku…” ucap Toma.

Opi mendesah pelan, namun ia memang butuh wawancara ini, “Baiklah…”

“Nanti kujemput kau… besok malam, jam tujuh…” putus Toma yang menunjukkan wajah sumringah.

================

Toma menatap wajahnya di cermin, yakin polesan make-up nya sudah sempurna sebelum ia mengambil gambar untuk majalah kali ini.

“Yukii…” panggil Toma pada manajernya yang sedang sibuk berbicara pada staf disana.

Yukito berjalan cepat menghadap Toma, “Ya? Ada apa Toma-chan??”

“Kau bisa carikan identitas gadis yang katamu mengantar Opi saat melahirkan? Aku butuh bertemu dengannya…” kata Toma sambil membereskan kembali pakaiannya, dan berjalan menuju tempat pemotretan.

Yukito mengangguk dan segera menghubungi orang-orang yang bisa mencari informasi semacam itu.

Sora berjalan menuju halte bis terdekat. Hari ini hanya ada dua mata kuliah, dan ia bisa pulang cepat. Tapi tujuannya bukan rumah, melainkan rumah Opi atau rumah siapa saja yang bisa menampungnya. Ia tak mau pulang, tak mau dijodohkan dengan pria yang umurnya delapan tahun diatasnya.

Sejak setahun lalu, Ayahnya bersikeras menjodohkan dirinya dengan anak buahnya di perusahaan. Membuat Sora malas berhadapan dengan keluarganya, apalagi Ibunya sangat mendukung pernikahannya ini.

“Yo!”

Lamunan Sora seketika buyar, dan seseorang yang tak pernah ia sangka akan ada di hadapannya berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.

Mata Sora bergerak ke arah kanan si pria, wajah yang sama, senyum yang sama. Foto itu menunjukkan sebuah iklan pasta gigi ternama yang dibintangi si pria yang kini berdiri di hadapannya.

“Ikuta… Toma?” Sora tergagap-gagap tak percaya.

“Bisa aku bertanya sesuatu padamu?”

Sora hanya menatap Toma tak percaya, namun akhirnya berhasil mengangguk. Toma membawa Sora ke kafe yang biasa ia datangi, kafe yang sama dengan yang ia datangi bersama Opi.

“Kau kenal Yamashita Opi?” tanya Toma membuka pembicaraan.

Sora mengangguk, “Tentu saja… ia sahabatku, kenapa?”

“Mungkin ini sedikit aneh terdengar, tapi aku menyukainya…”

“Uhuk!” Sora terbatuk karena kagetnya mendengar pernyataan sejujur itu dari Toma, apalagi ia sedang meminum teh nya, “Lalu?” Sora berusaha menguasai dirinya.

“Dan aku juga tahu soal ia…dan…masa lalunya….”

Toma berjalan melalu beberapa lorong rumah sakit. Berbekal informasi dari Sora, ia pergi ke tempat itu. Walaupun pada awalnya Sora tak mau memberi tahu, tapi dengan meyakinkan Sora, akhirnya Toma berhasil mendapatkan informasi yang sangat ingin ia ketahui.

Soal Ayah dari Hiro, anak Opi.

Ia membuka sebuah pintu, setelah yakin nama yang tertera di depan kamar, sama dengan nama yang diberikan oleh Sora.

Seorang pemuda yang apsti seumuran dengan Opi, sedang membaca sebuah buku di sebuah ranjang. Kamar ini memang bukan kelas VIP, sehingga bersatu dengan dua pasien lainnya.

“Hajimemashite…” ucap Toma pada si pemuda yang terheran-heran melihatnya.

“Hmmm… siapa ya?” tanyanya.

“Ikuta Toma desu…anda… Inoo Kei, kan?”

Lalu si pemuda mengangguk. Toma tidak salah orang, ia sudah menemukan Ayah dari Hiro, pemuda yang Sora sebutkan tadi.

=================

TBC~ alias To be Continued

Gak mungkin kubikin jadi oneshot~
Thanks a lot buat Nuy yang ngasih ide…
Mau nulis chap selanjutnya??hahaha…
😛
Ini request Opi~
Maap jadi berchapter…
COMMENTS ARE LOVE…
Please don’t be a silent reader… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s