[Minichapter] CRUSH (01)

Title        : CRUSH?
Author    : Opi Yamashita
Type          : Minichapter
Chapter    : Satu
Genre        : Romanchiku~
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE
Starring    : Kei Inoo, Yabu Kouta (Hey!Say!JUMP), dan cast kejutan lainnya (sok misterius)
Disclaimer    : I don’t own all character here. Kei Inooi and Yabu Kouta are belongs to Johnnys & Association. it’s just a fiction, read it happily, and we do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^
Makasih untuk Din yang udah nyari judul #sampe ngesot dulu….

Sebelumnya, maaf kalau aneh dan kaget sama ceritanya. Tapi tetep nikmati saja. nama nya juga fanfic..imajinasi terlalu tinggi ahahaha…
Douzo~

 CRUSH
01

“Kau yakin akan pergi?” tanya laki-laki bertubuh tinggi dan kurus itu pada laki-laki berkulit putih di hadapannya.

“Hanya sebentar, Kouta. Jangan terlalu khawatir.”

“Tapi Kei. Kau akan mendapat masalah jika pergi secara mendadak seperti ini,” kata Kouta cemas.

Kei menghela nafas lalu berkata “Daijoubu. Itu masalahku.”

Kouta tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap sahabatnya itu sedang berkemas dengan perasaan yang tidak tenang.

“Kau akan pergi berapa lama?” tanya Kouta lagi.

“Sekitar 5 sampai 6 bulan.”

“Itu lama, Kei. Sebenarnya kau akan pergi kemana?”

Kei tersenyum sebentar dan menjawab “Indonesia.”

========

Bandung, Indonesia

“Jadi Mel, besok kamu harus ke rumah aku,” ucap gadis yang bernama Tara pada gadis yang ada di hadapannya.

“Aku gak mau, Ra. Aku gak bisa kayak gitu sama Tio. Kamu kan tau, Tio itu sahabat aku dari kecil. Masa aku harus bohong sama dia kalo besok kita pergi padahal jelas-jelas kita gak kemana-mana,” jelas Melly enggan.

Tara cemberut. Ia tahu Melly pasti tidak mau. Tapi kenapa dia tidak mau menolongnya sekali ini?

Melly mendengus. Tio yang merupakan satu-satunya cowok yang berteman dengannya sejak lama, hampir seumur hidupnya mungkin, harus bernasib sial karena menyukai cewek yang adalah salah satu cewek populer di SMA Fehling. Ia sangat tahu sifat Tio yang tidak pernah menyerah. Sama seperti jika ia menghadapi berbagai pelajaran di sekolah.

“Kenapa sih kamu gak terima aja? Tio kan engga jelek-jelek amat,” ucap Melly membela.

Tara melotot pada Melly. “Tapi masalahnya, dia itu kutu buku, Mel. Aku gak mau.”

“Kenapa kalo kutu buku?”

“Keliatan banget bodohnya aku.”

Melly nyaris tertawa mendengar jawaban Tara jika ia tidak mengingat dihadapannya itu adalah sahabatnya.

“Makanya belajar. Jadi gak keliatan bodoh,” timpal Melly yang disambut cubitan Tara di tangannya.

“Sakit tau,” keluh Melly sambil mengelus tangannya yang terkena cubitan Tara. “Udah jangan cemberut. Ayo kita ke kelas. Pelajaran pertama Bu Gina nih. Kalo telat bisa 2 kali aku kena cubitan.”

Tara terpaksa menyengir. Walaupun dalam hatinya masih sebal.

Sesampainya di kelas, Melly merasa ada yang aneh karena sebagian besar murid perempuan mengobrol histeris. Malah sampai ada yang loncat-loncat kegirangan. Ia sempat berpikir, apa Bu Gina tidak masuk kelas? Karena itu adalah satu-satunya alasan kenapa murid-murid terlihat senang.

“Ada apa sih?” tanya Tara pada salah satu teman sekelasnya dan Melly .

“Ah kalian. Ada berita bagus. Ada anak baru masuk ke kelas kita. Dari Jepang,” jawab gadis berjepit yang bernama Welly dengan semangat.

“Anak baru? Dari Jepang? Trus?” Melly belum menemukan alasan yang bisa membuat teman-temannya bahagia.

“Dia cowok. Cakep banget. Beruntung cowok itu masuk ke kelas kita,” lanjut  Welly.

Tara sepertinya sudah mulai tertarik karena terlihat dia ikut histeris. Berbeda dengan Tara, Melly sepertinya tidak peduli.

“Paling anak bule gagal kayak James,” celetuk Melly.

Semua anak cewek di kelas lalu melirik James yang sedang mengobrol dengan beberapa anak cowok. James memiliki perawakan yang lumayan tinggi. Rambutnya yang dulu pirang, sekarang berwarna hitam tanpa celah. Tapi yang membuat semua orang kaget adalah logat Jawa nya yang sangat kental.

Setelah memperhatikan James, anak-anak cewek lalu menatap Melly dengan sinis. Seolah mengutuknya yang sudah menghancurkan harapan mereka.

“Enggalah. Dia asli Jepang. Dan logatnya logat Jepang. Aku ngeliat sendiri kok,” ucap Ayu yakin.

“Kok kamu tau?” tanya Tara.

Ayu nyengir. “Apa sih info yang engga aku tau?” ucapnya bangga.

Semua orang mengangguk-angguk termasuk Melly. Mereka tidak pernah meragukan kemampuan Ayu dalam mengumpulkan info-info dan gosip-gosip seputar sekolah.

Tak berapa lama setelah bel masuk, ada guru yang masuk ke kelas. Tapi itu bukan Bu Gina yang akan mengajar seperti biasa. Tapi Pak Johan yang merupakan kepala sekolah SMA Fehling.

“Selamat pagi, anak-anak. Saya masuk sebelum Bu Gina mengajar untuk memberikan pengumuman. Hari ini di kelas kalian akan ada murid baru,” kata Pak Johan di depan kelas.

Secara serempak anak-anak langsung heboh. Ternyata berita tentang murid baru itu benar. Setelah Pak Johan memberi perngumuman itu, banyak anak perempuan yang tiba-tiba merapikan rambutnya agar terlihat cantik saat di depan si murid baru sampai ada yang terlihat biasa saja tapi wajahnya tegang memikirkan bagaimana menghadapi si murid baru.

“Kei..” Pak Johan memanggil seseorang yang ada di luar.

———————————

Melly POV

Oke…aku sekarang mengerti kenapa orang-orang sekelas heboh sekali membicarakan si murid baru. Setelah aku lihat-lihat, penampilannya tidak buruk. Tidak seperti bayanganku saat melihat orang Jepang di televisi. Rambut pirang dengan penampilan yang bisa membuat ibuku jatuh pingsan jika aku memakainya di kota Bandung ini. Tapi rambut cowok itu hitam dan penampilannya sangat biasa. Hanya ada satu pertanyaan yang terlintas di otakku, kenapa dia terlihat cantik sekali? Dan apa-apaan itu? Jarinya lentik sekali seperti kakak perempuanku yang memang seorang pianis.

“Nama saya….Kei Inoo….Salam kenal…” ucap cowok itu dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata dan logat Jepangnya yang kental.

“Keren….” seru Tara dan beberapa murid cewek.

“Apanya yang keren?” timpalku pelan sehingga Tara yang duduk di depanku tidak mendengarnya.

“Kei hanya sementara di sini. Sekitar 5 – 6 bulan. Tapi kalian tetap harus memperlakukannya dengan baik. Dia masih belum lancar berbahasa Indonesia. Jadi kalian harus membantunya.”

“Baik, Pak” jawab anak-anak kompak.

“Baiklah. Terima kasih. Selamat pagi.”

Pak Johan membisikkan sesuatu pada murid baru itu. Lalu cowok itu mengangguk dan berjalan ke arahku. Di belakangku memang ada kursi kosong.

Aku mendesah. Aku harap dia tidak merepotkanku.

Baru saja aku mengatakannya agar dia tidak merepotkanku. Tapi baru saja beberapa jam, tempatku sudah dikuasai oleh cewek-cewek yang berebut untuk berkenalan dengan Kei.

“Harusnya dia engga duduk di belakang aku,” ucapku saat Tio datang menghampiriku.

“Kamu engga ikutan minta kenalan?” tanya Tio mengejek. Dia tahu aku tidak suka melakukan hal yang merepotkan dan memalukan seperti itu.

“Kamu harus tunggu sampai 100 tahun lagi,” balasku.

Karena kerubunan cewek-cewek tidak juga berkurang –karena ternyata banyak dari kelas lain yang sengaja ke kelasku untuk berkenalan dengan Kei- , aku memutuskan untuk ke kantin sampai bangkuku benar-benar kosong.

—————-

Kei POV

Aku tidak menyesal datang ke Bandung. Sekolah ini menyenangkan. Dan mereka sangat senang dengan kehadiranku. Pilihan Yuya memang tidak salah.

“Melly..”

Aku menoleh saat terdengar seorang gadis menyebutkan sebuah nama. Di kejauhan aku melihat dia. Gadis yang duduk di depanku.

Kebiasaanku melihat orang dengan sangat teliti, tidak terkecuali dengan gadis itu. Dia tinggi. Memiliki wajah yang khas.
Sepertinya dia orang yang punya teman banyak. Ceria pula. Tapi kenapa saat aku datang dia sama sekali tidak ramah padaku?

“Kei, kenapa sendirian?” tanya seorang laki-laki padaku.

“Anou…..”

“Namaku Tio,” ucapnya dalam bahasa Indonesia. Aku mengerti apa yang dia katakan. “Sedang apa sendirian di sini?”

Aku menggaruk-garuk kepala memikirkan kata-kata yang tepat. “Saya tidak ada kegiatan.”

Tio mengerutkan keningnya. Apa dia mengerti apa yang kukatakan?

“Oh…aku mengerti. Kamu mau ikut? Ke kantin?”

“Kantin?” yah…aku tahu tempat itu.

“Makan. Lapar. Kantin,” Tio mengeja agar aku mengerti. Melihat wajahnya saat mengeja ingin sekali aku tertawa.

“Wakatta. Ikou…aku lapar.”

“Oia Kei, kenapa kamu pindah ke sekolah ini?” tanya Tio saat kami sudah berada di kantin.

“Tidak ada alasan. Saya ingin mencari sesuatu yang baru,” jawab Kei.

“Kamu lumayan bagus berbahasa Indonesia. Pernah belajar sebelumnya?” tanya Tio lagi.

Aku mengeluarkan buku kecil dari dalam sakuku. “Aku hanya belajar dari sini saja,” jawabku sambil menunjukkan buku padanya.

Tio terlihat kaget. “Kamu luar biasa. Sudah selancar ini hanya dengan bermodalkan buku saku seperti ini.”

Aku mengangkat bahu. Bahasa Indonesia mudah kupahami. Jadi tidak heran aku mudah mempelajari dalam 2 bulan.

Tio mengangguk. “Tapi kalau kamu perlu sesuatu, tanya aku saja.”

Aku mengangguk. Aku mendapatkan teman pertamaku.

“Tio..” Aku menoleh saat Tio dipanggil dan yang memanggilnya ternyata gadis itu lagi. Gadis yang duduk di depanku.

“Sebentar..”

Tio menghampiri gadis itu. Selagi mereka mengobrol, aku terus memperhatikan gadis itu. Cara senyumnya menarik dan sangat menyenangkan.

“Siapa dia?” tanyaku saat Tio kembali.

“Dia teman sekelas kita. Bukannya dia duduk di depan kamu?”

“Maksudku nama..”

“Oh….namanya Melly.”

“Meri?”

“Kei, kamu duluan aja ke kelas. Aku ada perlu dulu.”

Tio lalu pergi tanpa mendengar jawabanku dulu. Mungkin dia sibuk. Tapi biarlah. Dengan begini aku dapat berkeliling melihat sudut-sudut lain dari sekolah ini.

Dan sekolah ini sangat luar biasa luas. Aku tidak mungkin menghabiskan waktu sehari untuk mencapai semua tempat di sekolah ini. Selain lapangan-lapangan besar, aku masih sempat menemukan perpustakaan. Tempat favoritku jika aku ingin sendirian.

Aku mencoba masuk ke dalam perpustakaan dan tercengang karena luasnya ruangan itu. Buku-buku tersusun dengan rapi di setiap rak. Berbagai macam buku ada di sini. Termasuk buku arsitektur favoritku.

Entah berapa lama aku berdiri sambil melihat berbagai isi buku arsitektur dengan senang. Sampai aku menyadari suara keluhan di sampingku.

Are? Gadis yang duduk di depanku lagi? Aku tidak tahu itu kebetulan atau tidak. Tapi sepertinya gadis itu selalu ada di sekitarku. Tanpa kusadari aku kembali memperhatikannya.

Gadis itu, yang kuketahui bernama Melly, sangat serius membaca sebuah buku. Perhatiannya tidak teralihkan. Mungkin terdengar konyol, tapi wajah itu membuatku terpesona.

“He? Kei?” gadis itu memanggilku. Sepertinya dia menyadari aku memperhatikannya.

“Aku tadi ingin memanggilmu. Tapi melihat kau sangat serius, aku tidak jadi,” jelasku berbohong. Aku memang tidak ada niat untuk memanggilnya. Aku hanya ingin menatapnya saja.

“Maaf..” ucapnya singkat. Dia hampir saja pergi sampai aku menarik tangannya mencegah gadis itu pergi.

“Sebentar…” ucapku menggantung. Aku menatap Melly lekat tanpa mengucapkan apapun.

“Apa?” tanya Melly.

Aku tidak menjawab. Dengan cepat, aku meraih pinggang Melly lalu menariknya mendekat. Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat aku mencium bibirnya dengan tiba-tiba.

——————–

Melly POV

Pikiranku kosong saat kejadian itu tiba-tiba menimpaku. Sejak awal bertemu dengan Kei, aku merasa akan mengalami kesialan. Dan ternyata firasatku benar.

Plakk…

Aku menampar pipinya setelah bibirku terlepas dari bibir Kei. Genggamannya tadi sangat kuat. Dan perlahan melemah dan saat itu juga aku melepaskan diri.

“Apa yang kamu lakukan?” ucapku kesal.

“Menciummu,” jawab Kei santai.

Rasanya aku ingin meninju wajah mulus Kei saat dia mengatakannya dengan santai. Tapi kuurungkan karena dia yang merupakan seorang warga baru di sini.

“Dengar..ini Indonesia. Bukan Jepang yang beberapa hari yang lalu kamu tinggali. Kamu tidak bisa seenaknya melakukan itu. Mengerti?” jelasku berusaha mengerti dengan keadaan Kei.

“Aku tahu..”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin menciummu saja, Meri..”

Tunggu? Apa yang dia katakan?

“Hah?”

“Aku hanya ingin menciummu saja, Meri..” ulangnya.

“Sebentar. Namaku Melly. Bukan Meri, “ ralatku.

“Meri..” ucap Kei.

“Melly..”

“Meri..”

“Agh~ ada apa dengan lidahmu itu? Sudah kubilang namaku Melly. Bukan Meri,” ucapku kesal.

“Aku sudah mengucapkan dengan benar. Apa yang salah?” tanya Kei polos.

Aku menarik napas untuk menenangkan diri. Tidak akan berhasil jika dibalas dengan kekesalan.

“Terserah kau saja..” ucapku menyerah.

“Jadi kita berteman?” tanya Kei sambil tersenyum. Senyuman yang sangat indah membuatku silau karenanya.

“Berteman?” ulangku dengan nada sedikit tinggi. Aku masih sadar diri kalau aku berada di perpustatakaan yang dilarang berisik. “Setelah apa yang kamu lakukan, kamu bisa bilang kita berteman?”

“Aku hanya menciummu. Apa itu masalah besar?”

Aku kembali geram. “Ya. Itu masalah besar. Karena itu ciuman pertamaku.”

Aku melihat Kei tersenyum. Kali ini senyuman menyebalkan yang membuatku ingin melemparnya ke laut.

“Menarik. Kalau begitu kamu harus memastikan tetap di dekatku atau aku akan memberitahukan pada semua orang apa yang kita lakukan di sini,” kata Kei. Lebih tepatnya mengancam.

“Kamu mengancamku?”

“Terserah kau saja..”

Setelah mengucapkannya, lalu Kei pergi meninggalkanku dengan berbagai perasaan kesal dan marah yang campur aduk. Ternyata dia bukan manusia. Dia adalah setan yang dikirim untuk mengganggu kehidupan tenangku.

==========

TSUZUKU~~~~
yang merasa cerita ini aneh, put your hands up!!!!!! #gaje…
yah..pokoknya komen dah…
mau aneh, mau bagus, mau jelek
tetep komen~~~~~ X)

Advertisements

3 thoughts on “[Minichapter] CRUSH (01)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s